Pancarona Dansa
22.9
4
175

Keraguan, perdebatan dan konflik itu sirna. Di tengah anggunnya gerakan tarian Acara festival budaya kampus Jendra memberikan kenangan terbaik untuk Aina. Sebuah kenangan bernama Pancarona Dansa.

No comments found.

Pancarona Dansa

 

“Dalam rangka hari kemerdekaan Indonesia yang ke 77 tahun maka akan diadakan Festival budaya tingkat fakultas dan masing-masing kelas harus menyumbangkan acara.” Suara itu membaca dengan pelan tulisan pada brosur ditangannya dengan langkah kaki teratur tanpa mempedulikan suasana sekitar.

“Hei Aia!” teriak seseorang dari atas motor menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan menatap kearah sumber suara. Dengan langkah pelan dirinya menghampiri seorang pemuda yang tengah tersenyum lebar.

“Ada apa?”

“Sendirian?” tanya pemuda itu dan dijawab anggukan oleh gadis didepannya dengan wajah datar.

“Yasudah. Ayo naik!” ucap pemuda itu menunjuk bangku belakang motornya.

“Tidak usah! Nanggu-

“Tidak ada penolakan! Jarak fakultas kita satu kilometer lagi dan kamu bilang itu nanggung!?” seru pemuda itu kesal terus ditolak oleh gadis didepannya.

Gadis itu tetap diam ditempat menatap wajah kesal pemuda didepannya. Bukan tanpa alasan dirinya terus menolak ajakan pemuda itu dirinya hanya ingin menjaga jarak agar tidak baper dan larut dalam hal perasaan yang tid-

“Ayo Aia! Kenapa malah melamun!” panggilan pemuda itu kembali menyadarkannya.

“Cerewet sekali kamu,” gumam gadis itu dan mulai menaiki motor sang pemuda. Pemuda itu hanya tersenyum dan mulai menjalankan motornya.

Kawasan kampus mulai ramai dengan kendaraan mahasiswa lainnya. Terlihat beberapa mahasiswa yang berjalan atau sekedar bersandar gurau satu sama lain. Gadis itu memandang semuanya datar sambil membenarkan hijabnya yang berkeliaran karena angin.

Motor segera parkir di tempat yang disediakan. Gadis itu turun sambil kembali membenarkan hijab dan pakaiannya. Sedangkan pemuda didepannya hanya memandang gadis itu dengan senyum diwajahnya.

“Kenapa? Kamu sakit ya senyum-senyum sendiri?” tanya gadis itu heran.

Pemuda itu hanya menggeleng dan ikut melangkah turun dari motor hitam kesayangannya. Melepas helm hitam yang menutupi wajahnya sembari mengibaskan beberapa poni yang menutupi dahinya.

“Tidak usah tebar pesona,” ucap gadis dengan mata coklat terang itu melangkah menjauh.

“Bilang saja aku ganteng! Ya kan?” balas sang pemuda tertawa sambil mengikuti langkah gadis didepannya.

Keduanya berjalan beriringan menuju ruang kelas  yang berada di lantai tiga sembari tenggelam dalam lautan hening. Pintu ruangan dibuka dan keduanya disambut dengan kericuhan.

“Ada apa lagi ini?” gumam gadis bermata coklat terang itu menatap kesal keributan didepan matanya.

“Oh Aia! Kita sedang diskusi!”

“Diskusi?”

“Ya. Mengenai festival budaya. Apa kalian ada ide?” tanya seorang pemuda dengan surai hitam dan kemeja batiknya.

“Aku perlu berpikir dulu. Bukankah lebih baik kalau kita diskusi setelah jadwal pagi ini?” jawab pemuda dibelakang Aia.

“Jendra benar. Kalian bisa memikirkan idenya dari sekarang,” tambah pemuda lainnya sambil mengunyah permen yang dibawanya.

Keributan itu segera padam dan beberapa mahasiswa kembali menuju tempat masing-masing. Kelas pagi itu berlangsung dengan tenang meski ada sedikit keributan saat seorang mahasiswa ketahuan tertidur. Yang langsung disuguhi tawa oleh yang lainnya. Kelas yang cukup luas dengan jumlah dua puluh lima mahasiswa/i. Kelas yang cukup menarik perhatian dengan tingkah orang-orang didalamnya.

“Baiklah kita mulai diskusinya!” seru ketua kelas dari depan meminta perhatian. Pemuda dengan seragam batik itu menatap tegas mata-mata yang mulai tertuju kearahnya.

“Sebentar lagi hari kemerdekaan dan kampus akan mengadakan festival budaya. Apa kalian tau acara apa yang harus kita tampilkan?” tanya sang ketua.

Suara riuh dan percakapan kecil kembali pecah. Beberapa orang tampak berdiskusi dan yang lainnya tampak sibuk dengan urusan masing-masing mulai dari foto selfie, bermain hp atau mendengarkan musik dan bahkan menonton drama. Sang ketua hanya memperhatikan semuanya dari depan. Tetap menunggu inisiatif atau ide-ide lannya muncul.

“Bagaimana kalau kita membuat film dokumenter?” sebuah usulan datang dari sudut depan kelas membuat beberapa perhatian teralihkan padanya.

“Film dokumenter? Dengan keadaan sekarang?”

“Biayanya juga besar kan? Belum setting tempatnya. Aku tidak setuju!”

“Kita bisa menghemat biaya yang ada. Tidak semua harus dibeli bukan?” Sanggahnya berusaha menguatkan pendapat.

“Hei tenanglah kalian! Angkat tangan jika ingin bicara!” seru ketua kelas saat menyadari situasi diskusi mulai memanas. Beberapa orang kembali diam namun hal itu tidak menghentikan bisik-bisik suara yang terus bermunculan. Salah seorang mahasiswa mengangkat tangannya dan mulai berbicara tentang dirinya yang menolak tegas usulan film dokumenter.

“Lalu apa idemu? Kenapa menolak ide orang terus!” seru seorang gadis berkemeja kotak.

“Gue hanya menyampaikan pendapat! Kenapa marah?” jawab pemuda itu terus mengunyah permen karet dimulutnya.

“Aku tanya idemu! Jawab pertanyaanku bodoh!” seru gadis itu bangkit berdiri dari kursinya.

“Hei! Jaga mulut lo ya! Jangan sampai gue mukul wajah lo itu!” ucap pemuda itu tetap duduk meski dengan wajah penuh amarah.

“Diam! Apa kalian tidak menghargaiku disini! Sudah cukup! Duduk!” seru ketua kelas menggebrak papan tulis disampingnya membuat suasana kembali hening.

“Sudahlah ketua! Apa gunanya kita berdiskusi kalau pendapat yang didengar hanya dari pihak-pihak tertentu saja.”

Semua orang berbalik dan memandang seseorang yang berdiri disudut belakang kelas. Matanya menatap tajam dan tanpa takut seolah tak terusik dengan tatapan yang tertuju kearahnya.

“Apa maksudmu Jendra?” tanya ketua kelas tenang.

“Bukankah sudah jelas? Saat ada pendapat baru dalam setiap diskusi kita selalu dipatahkan dan berakhir dengan keputusan sepihak yang disampaikan melalui grup. Apa itu adil?” jawab Jendra panjang lebar.

Ketua kelas hanya diam sedangkan beberapa mata menatap tajam Jendra. Seorang pemuda yang memakai jaket levis berdiri dan melangkah menuju Jendra yang tetap tenang.

“Hei! Jaga mulutmu!”

“Kenapa? Apa kamu tersinggung dengan pernyataanku?” tanya Jendra dengan senyum miring diwajahnya.

Tinju pemuda itu segera terangkat dan hendak meninju wajah Jendra namun terhenti saat pintu ruangan terbuka. Beberapa pasang mata menatap seorang gadis yang juga terdiam diambang pintu masuk saat melihat keributan didepannya.

“Hei kalian sedang apa?” tanya seseorang dari luar kelas saat melihat keributan dari celah pintu masuk.

“Oh kita sedang latihan drama ya kan?” tanya gadis itu menatap beberapa pasang mata di dalam kelas yang segera diangguki oleh yang lainnya.

Mahasiswa yang berada didepan pintu kelas itu hanya mengangguk dan segera pamit menuju kelasnya. Pintu kelas kembali ditutup oleh gadis bermata coklat terang itu dan menatap kearah penjuru kelas dengan jengkel.

“Kalian masih ribut? Ada apa lagi?” tanya gadis itu sambil berjalan dan berdiri disamping ketua kelas. Ketua kelas hanya menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya.

“Kamu dari mana Aia?” tanya seorang pemuda dengan setelan kemeja navy dan tak lupa kacamata hitam bertengger diatas kepalanya.

“Ke ruang dosen karena masalah ribut kemarin.”

“Kenapa kamu? Bukankah harusnya ketua yang pergi?” tanya pemuda itu kembali membuat gadis didepannya tersenyum mengejek.

“Abaikan dulu itu sekarang kita bahas festival budaya dulu dan kalian berdua pemuda-pemuda tampan disana silahkan duduk ketempat masing-masing!” ucap Aia dengan senyum yang mereka tau itu artinya gadis itu sedang menahan amarahnya.

Diskusi kembali berjalan namun tetap tidak menemukan keputusan yang tepat. Hingga keputusan sementara, mereka diminta kembali memikirkan ide yang tepat dan menyampaikannya saat diskusi esok hari.

“Hah… Melelahkan,” gumam Aia merenggangkan badannya menatap kelas yang kosong. Gadis itu memilih untuk tetap tinggal di kelas saat jam istirahat sedangkan yang lainnya bertebaran entah kemana.

Pintu kelas kembali terbuka dan seorang pemuda masuk dengan kantong plastik berisi berbagai jajanan. Tak lupa dengan senyum sumringah pemuda itu saat menatap orang yang dituju ada didalam kelas.

“Aia!”

Gadis itu hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan novel yang sempat dibawanya sambil mendengarkan musik melalui headaset. Pemuda itu membalikkan kursi di meja depan menuju Aia dan menatap gadis bermata coklat terang itu intens membuat sang gadis merasa tak nyaman.

“Ada apa Jendra?”

“Tidak ada. Hanya menatap bidadari,” jawab Jendra dengan senyum lebar mempelihatkan lesung pipit dikedua pipinya.

“Gombalanmu tidak berguna untukku,” jawab Aia datar dan kembali fokus.

Jendra hanya tersenyum sambil membuka plastik jajanan yang dibawanya dari kantin kampus. Mengeluarkan sebuah roti goreng coklat dan langsung menyerahkanya pada Aia yang menolak dengan cepat. Tentu saja bukan Jendra namanya yang pantang ditolak. Pemuda itu dengan cepat meletakkan roti di meja Aia tak lupa tatapan yang mengatakan jika ditolak dirinya akan marah. Alhasil Aia hanya bisa mengalah dan mengucapkan terimakasih pada pemuda berlesung pipit itu. Jendra hanya mengangguk dan kembali tersenyum seraya mulai membuka jajanan yang dibawanya.

“Kenapa kamu seperti itu?” tanya Aia melirik Jendra sambil menghabiskan roti coklat ditangannya membuat Jendra menoleh dan menatapnya.

“Yang mana?”

“Diskusi tadi,” jawab Aia.

Jendra yang ada didepannya diam dan berdecak kesal. Pemuda itu kembali menatap Aia yang tetap menunggu jawabannya.

“Tidak ada.”

“Berbohong itu dosa Rajendra,” ucap Aia menyebut nama panjang pemuda itu.

“Bukan urusanmu untuk tau,” jawab Jendra membuat gadis itu diam dan sedikit terkejut dengan jawaban ketus yang dilontarkan sang pemuda. Jendra yang baru sadar dengan apa yang diucapkannya tanpa sadar menggebrak meja membuat Aia kaget dan menatapnya tajam. “Ada apa lagi Jendra?”

“Maaf. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu,” jelas pemuda itu menunduk.

“Kenapa minta maaf? Itu kan fakta,” jawab Aia santai membuat Jendra tersentak.

“Hahaha… Kamu benar.” Tawa Jendra menggema di sekitar ruangan membuat Aia menatapnya heran.

“Ada apa denganmu?”

“Tidak ada. Lupakan saja! Apa kamu punya ide untuk acara festival budaya?” tanya Jendra tanpa menatap Aia.

“Masih ngambang,” jawab gadis itu menutup novelnya. Jendra melirik gadis itu sekilas sebelum menatap kerumunan mahasiswa lain di luar kelas.

“Kuharap diskusi selanjutnya berjalan lancar,” ucap Jendra yang diangguki oleh Aia.

Sayangnya semua harapan tidak harus terkabul kan.  Diskusi yang berjalan keesokan harinya itu kacau balau dan hampir berujung kekerasan.

“Lo ada masalah ya sama gue? Kenapa nyolot terus dari tadi ha?” seru seorang mahasiswi dengan rambut sebahu.

“Lo itu yang baperan Putri!” balas pemuda berkemeja kotak sambil mengunyah permen karetnya.

“Mereka berdua lagi!” ucap ketua kelas yang lelah.

“Memangnya apa yang salah dari pendapat gue ha? Coba jelaskan!” seru Putri.

“Bukankah sudah jelas? Jika lo tetap ngotot dengan usul film dokumenter tidak akan sempat! Waktunya sudah dekat! Kita bisa gunakan opsi lain! Tari misalnya,” balas pemuda itu.

“Tari!? Memangnya di kelas kita ini ada yang bisa nari? Lo mau mempermalukan kelas kita ya Vano?!”

“Tentu saja ada, banyak yang menguasai tarian dari kelas kita. Lo aja yang gak tau. Dan lagi gue juga tau alasan lo tetap teguh dengan usul itu,” tambah pemuda itu dengan senyum miring membuat gadis bernama Putri itu menatap heran.

“Bisa jelaskan lebih mudah Vano!” ucap ketua kelas berusaha sabar.

“Dia hanya ingin terkenal. Kalau usulannya diterima ya dia bisa jadi salah satu pemeran disana. Dia bahkan menghasut temannya yang lain untuk mengusulkan hal yang sama kemarin. Benarkan Putri?” tanya Vano tersenyum menatap Putri yang sudah dipuncak amarah.

Emosi yang sudah berada dipuncak membuat gadis itu membanting kursi yang didudukinya membuat suasana kelas hening seketika. Beberapa mahasiswa berseru takjub tidak menyangka dengan kekuatan gadis itu.

“Putri tenanglah!” seru ketua kelas mulai mendekat kearah gadis itu.

“Lama-lama lo minta pelajaran ya Vano!” ucap Putri mendekat dan mulai ditahan oleh beberapa temannya. Pemuda bernama Vano itu hanya tersenyum miring dan kembali memprovokasi gadis itu.

“Salah gue apa sih? Dari dulu lo selalu tidak terima dengan pendapat gue! Lo bisa kan menghargai orang lain!” seru Putri.

“Menghargai? Lo minta gue menghargai lo sedangkan lo sendiri tidak menghargai orang lain!” balas Vano menatap tajam Putri membuat suasana kelas semakin dingin.

“Apa maksud lo?”

“Oh sudah lupa? Ingat saat diskusi acara tahun lalu? Lo dengan mudahnya mematahkan pendapat Dewi? Ingat kan?” tanya Vano melirik Dewi yang hanya diam.

“Dan lo tau sejak itu Dewi bahkan yang lainnya tidak mau berdebat pendapat lagi dengan lo karena mereka malas! Pendapat mereka selalu dipatahkan dan diremehkan! Itu alasan gue! Puas lo Putri mematahkan pendapat teman-teman lo?!” seru Vano tetap dengan tatapan tajamnya.

Putri yang mendengar itu melirik Dewi yang hanya memalingkan wajahnya enggan menatap matanya. Gadis itu hanya menunduk dan menahan tangis.

“Nangis kan lo! Gimana rasanya pendapat lo dipatahkan? Sakit kan? Wajar kalau dalam diskusi ada perbedaan pendapat tapi tidak harus dipatahkan dan diremehkan seperti itu!” tambah Vano santai. Putri mulai terisak sedangkan orang-orang disekitarnya hanya bisa menenangkan dengan menepuk pelan punggung gadis itu.

“Maaf,” ucapnya terdengar pelan.

“Jangan minta maaf ke gue. Sana minta maaf ke Dewi dan yang lainnya,” ucap Vano kembali duduk dengan gayanya.

Putri langsung menghampiri meja Dewi dan menyampaikan permintaan maafnya. Gadis dengan nama Dewi itu hanya mengangguk dan tersenyum sembari menenangkan Putri dari tangisannya.

“Hebat juga ya lo,” ucap Jendra yang duduk dibelakag Vano.

“Gue hanya ingin mengembalikan suasana nyaman dalam kelas ini,” jawab Vano menatap kearah ketua kelas.

“Jadi ada lagi yang mau menyampaikan uneg-unegnya? Sebelum kita melanjutkan diskusi kita?” tanya ketua kelas menatap seisi kelas. Hening sesaat sebelum Jendra mengangkat tangannya.

“Ya Jendra? Ingin menyampaikan apa?” tanya ketua kelas. Pemuda dengan lesung pipit itu maju dan memandang seisi kelas.

“Gue ingin menyampaikan hal yang selama ini dipendam tentang keadaan kelas ini. Gue harap kedepannya diskusi dan kebersamaan kita berjalan lancar tanpa ada perselisihan seperti ini. Berdebat itu biasa dalam diskusi tapi gue harap kita bisa terima apapun hasil keputusannya. Jangan marah dan dendam jika pendapat kalian tidak diterima dan jangan meremehkan pendapat yang lain. Kita negera demokrasi bukan? Ingat lagi pelajaran Kewarganegaraan semeter 1 kemarin,” ucap Jendra panjang lebar.

“Bisa juga ya si Jendra Ai,” ucap seorang mahasiswi disamping Aia yang hanya diangguki oleh gadis itu sambil tersenyum tipis.

“Saling menghargai satu sama lain kalau ingin dihargai, hargai juga orang lain. Jika ingin dimengerti maka mengertilah orang lain. Orang akan memperlakunkamu seperti apa kamu memperlakukan orang lain. Gue harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya. Sekian dari gue Rajendra yang ganteng undur diri,” ucap Jendra membungkuk dan berjalan santai sambil senyum menuju kursinya.

Sementara mahasiswa lainnya menatapnya dengan tersenyum dan beberapa lainnya bertepuk tangan.

“Hebat ya Jendra! Beri tepuk tangan untuknya!”

“Sok cool sekali bro!”

“Terimakasih sudah mewakili bro!”

Aia hanya memandang kejadian didepannya dengan tersenyum dan menatap ketua kelas yang juga menatapnya. Gadis itu mengangguk dan memberi kode untuk melanjutkan diskusi mereka. Saat ketua kelas kembali membuka obrolan penting mereka diskusi itu berjalan dengan lancar tanpa ada keributan. Semua pendapat diterima dan disampaikan secara baik serta tertib.

“Jadi keputusannya adalah gabungan tarian daerah dalam satu menit. Apa ada yang keberatan?” tanya ketua kelas menatap seisi kelas yang menggeleng.

“Baik. Kalau begitu keputusan diterima oleh semua, Terimakasih atas partisipasi dan ketertiban dalam diskusi kali ini. Kalau ada kata yang salah mohon dimaafkan. Terimakasih,” ucap ketua kelas menutup diskusi.

Hari-hari mereka selanjutnya dihabiskan dengan persiapan untuk acara. Mulai dari persiapan gerakan tari, alat-alat yang dibutuhkan, tempat yang pas, kostum dan keperluan lainnya.

“Jadi ini kita rekam dan kirim ke panitia?” tanya Aia pada ketua kelas.

“Iya. Dan beberapa perwakilan akan berpakaian tari saat acara festival budaya nanti,” tambah ketua kelas. Aia hanya mengangguk dan segera menyampaikan pada yang lainnya.

Persiapan acara berjalan lancar meski ada sedikit perdebatan tentang tempat yang tepat untuk perekaman tarian namun semua berhasil diputuskan. Sesekali mereka akan bersenda gurau menghilangkan penat atau mengerjakan tugas bersama agar cepat selesai.

Tarian daerah yang ditampilkan oleh empat penari yang menggabungkan berbagai tarian dari daerah Indonesia dalam waktu satu menit. Semua itu mereka pelajari dari media sosial. Berlatih bersama dan mempersiapkan semuanya bersama. Dan tibalah hari yang mereka tunggu.

Hari festival budaya.

“Wah….”

“Suasananya terasa sekali.”

“Ayo semangat untuk penampilan kita!” seru Jendra yang baru sampai.

“Hahaha… Semangat juga untuk misimu Jendra,” ucap beberapa mahasiswa lainnya pada pemuda berlesung pipit itu.

“Misi apa?” tanya Aia yang kebetulan mendengarnya.

“Nanti kamu akan tau kok,” jawab Dewi yang berdiri disampingnya tersenyum lebar.

Mereka segera menuju aula fakultas yang ramai dan padat. Layar videotron tengah menampilkan opening acara disusul dengan lagu-lagu kebangsaan lainnya. Hingga tibalah saat penampilan video dari kelas mereka.

“Semangat ya kalian!” teriak yang lainnya saat perwakilan serta ketau kelas maju menyampaikan acara dari kelas mereka.

Aia menatap semuanya dengan takjub dan tak menyadari Jendra yang berdiri disampingnya. Suara tepuk tangan para audiens membuka penampilan video mereka.

“Wah… Keren…”

Hingga akhir video terlihat para penari membentuk formasi melingkar secara tiba-tiba asap muncul dan terlihat siluet seseorang mendekat. Saat asap itu hilang terlihatlah Jendra yang berdiri dengan setelan baju adat dari daerah minangkabau. Sontak hal itu mengundang kehebohan dari seisi aula.

Ehem… Izin untuk menyampaikan sesuatu. Halo perkenalkan nama gue eh namaku Rajendra dan ya sesuai pakaian adat ini aku berasal dari daerah minangkabau. Gimana? Gantengkan? Gue eh aku tau kok. Ehem… Berdiri disini aku ingin menyampaikan rasa yang terpendam untuk seorang bidadari yang telah lama singgah di hatiku. Seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatiku dengan tingkah dan kebijakan hatinya. Aku ingin membuat wanita itu menjadi milikku seutuhnya secara sah dan halal,” ucap pemuda dalam video itu dengan wajah tegas dan tampak sedikit semburat merah.

Semua audiens dalam aula itu segera memandang kearah belakang aula. Dimana Jendra tengah berlutut dan memandang seorang gadis bermata coklat terang yang juga memandangnya terkejut.

“Jadi Ayudiya maukah kamu menerima cincin lamaran ini? Menerima diriku menjadi orang yang akan membimbingmu menuju arah yang lebih baik. Jika kamu menerimanya terimalah bunga mawar merah ini!” ucap Jendra dengan wajah yang merah padam. Aia yang berada didepannya juga tak kalah merah.

Gadis itu dengan wajah merah padam berusaha menghilangkan debaran didalam dada. Mata coklat terangnya memandang wajah Jendra yang tampak gugup.

“Harus kujawab sekarang?” tanya gadis itu menatap Jendra yang mengangguk.

Seisi aula menanti jawaban yang diberikan gadis itu termasuk Jendra yang gugup.

“Aku tidak bisa…”

“Apa? Apa?” bisik-bisik terdengar.

“Dia menolak?”

“Hei lihat dia belum selesai!”

“Menolaknya,” tambah gadis itu sambil menarik bunga mawar merah dari tangan Jendra dengan air mata haru.

Seisi aula langsung heboh bahkan lagu tradisional minang dengan judul Baralek Gadang – Ria Amelia langsung diputar seolah sedang berpesta. Jendra yang mendengar itu menatap Aia tak percaya dan menunduk mengucap syukur.

“Wuahh… Selamat Jendra!”

“Pj guys! Pj!”

“Wohhh… Selamat kalian!”

Dan banyaknya ucapan selamat lainnya. Kedua insan yang dimaksud hanya tersenyum malu. Bahkan panitia acara juga mengucapkan selamat. Hari itu disamping suka cita acara kemerdekaan mereka juga merayakan suka cita atas bangkitnya kabar subrata seorang insan.

“Jadi ini mereka pasangan hot hari ini!” ucap wartawan kampus mendekat kearah keduanya membuat kedua muda mudi itu menoleh.

“Selamat ya untuk kalian. Ditengah acara bahagia ini kalian juga saling mengungkapkan rasa. Jadi tuan Jendra sang puitis sejati?”

“Ya saya.”

“Jadi anda akan mengenang hari ini dengan sebutan apa?” tanya sang reporter tersenyum.

Jendra tersenyum dan melirik wajah memerah Aia. “Pancarona Dansa.”

 

#lovrinzpublisher

#lovrinzwacaku

#Keberagaman tanpa kekerasan

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!