Parity in Diversity
15.3
8
106

Serratia Marcescens adalah seorang wanita yang berjuang dalam karier di militer dan hukum. Namun karena ia memiliki penampilan yang berbeda dari orang kebanyakan, ia harus menerima berbagai hal yang membuat hatinya membeku.

No comments found.

Diam, tetapi tidak sunyi. Waktu terasa membeku, biarpun keadaan di sekitar justru berjalan terasa sangat cepat. Terdengar suara teriakan, derap kaki yang cepat, tembakan, dan ledakan. Manusia yang tadinya bernyawadalam sepersekian detiktelah bersilih menjadi onggokan mayat.

Seorang prajurit dengan helm di kepala mengarahkan senapan ke lawan-lawannya yang berkulit cream kemerahan dan menembaki dengan cepat, tepat pada titik vitalnya. Pada seragamnya, terdapat tanda tiga belah ketupat di kedua sisi kerah seragam. Itulah dirimu, sosok prajurit wanita yang tak pernah gentar di medan perang. Kau selalu membuat para petinggi terkesima dan tidak ada pria yang berani mencari masalah denganmu. Kau dianggap sebagai titisan dewi perang karena warna matamu yang merah menyala dan rambut berwarna hitam legam karena kau dikenal bengis, tak memandang bulu dan memberikan ampun kepada musuh-musuhmu.

Kau tersenyum puas, kemudian kau melanjutkan membidik ke lawan lain yang masih banyak. Kendatipun begitu, kau bukannya merasa lelah, justru merasa adrenalinmu semakin berapi-api layaknya kobaran yang berada di sekitarmu. Lalu saat pelurumu telah habis dan kau ingin mengisi kembali, ada sosok yang menempelkan moncong ke kepala belakangmu.

“Menyerahlah, Sacchar! Bangsa kecil sepertimu takkan bisa mengalahkan kami, Vaccanic! Apa kalian lupa kalau kami telah menguasai bangsa kalian selama 670 tahun lamanya, ha?”

Kau menyengih, lalu tertawa keras. Lawanmu merasa kesal, ia berkata lagi, “Ternyata kau wanita? Bisa-bisanya kau meremehkan medan perang!”

“Aku? Meremehkan medan perang?” Kau memutar badanmu 180 derajat. Kali ini, moncong senapan tepat di antara kedua alismu. “Bukankah kau yang meremehkan medan perang?”

“Apa maksudmu?” Pria di depanmu mengernyit. “Tunggu, penampilanmu tidak seperti orang Sacchar

Kau menendang organ vital yang menjadi titik kelemahan pria di hadapanmu. Kau segera merebut senapan yang terlepas dari tangannya dan segera menembak tepat di jantung musuh.

“Andaikan bukan keadaan genting perang, aku ingin menyiksamu perlahan-lahan,” ujarmu sembari meninggalkan musuh yang ternyata merupakan pemimpin pasukan Negara Adidaya Vaccanic.

“Hei! Letnan Jenderal Gerald Massiver dibunuh!” teriak prajurit lawan.

Pasukan Vaccanic yang jumlahnya jauh lebih banyak mulai kucar-kacir, sedangkan pasukan yang dipimpin olehmu mulai merasakan secercah harapan.

Akhirnya, prajurit musuh menyatakan mundur dan prajurit-prajuritmu bersorak kegirangan.

“Hidup Kolonel Serratia Marcescens!” sorai prajurit-prajurit Negara Sacchar.

 

 

“Karena jasa perjuanganmu di medan perang, kau dianugerahi kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal.”

Dalam sejarah dunia, hanya kau satu-satunya wanita yang mendapat kenaikan pangkat tercepat dan berhasil menduduki posisi perwira tinggi. Kau berdiri tegap dengan seragam resmimu, lalu jenderal menyematkan tanda pangkat di seragammu. Usai diberikan tanda, kau hormat kepada jenderal dan dibalas hormat singkat dari jenderal.

“Saya berharap, dengan prestasi gemilang dari Mayor Jenderal Serratia Marcescens, semua prajurit lebih bersemangat untuk membela negara, terlepas dari suku, kepercayaan, ras, dan budaya.”

Kau memberikan hormat kepada semua prajurit di bawah panggung yang memberikan tepuk tangan meriah kepadamu. Hampir semua prajurit di sana memiliki penampilan yang mirip: memiliki kulit berwarna cream kecokelatan dengan mata berukuran besar berwarna cokelat muda. Rambut mereka berwarna kuning kecokelatan. Inilah penampilan umumnya orang-orang Sacchar, terutama dari suku Dexter. Kau juga dapat melihat beberapa orang dengan warna rambut dan mata yang sama tetapi memiliki warna kulit cokelat gelap terlihat: mereka termasuk suku Furan yang masih dianggap penduduk pribumi dari bangsa Sacchar.

 

 

“Memang benar-benar gila wanita itu,” bisik seseorang yang melihat berita di ponsel, “padahal dia wanita, lalu dia keturunan Pessein

“Berani-beraninya kau mengatainya ‘gila’? Kau tidak tahu kalau dia benar-benar tak kenal ampun?”

Kau yang memakai topi cap hitam dengan masker kain hitam serta jaket, kaus, dan celana long cargo berwarna senada tak mengacuhkan perkataan orang-orang. Kau bahkan tak menganggap itu hinaan, kau menyadari memang kau ini gila dan tidak normal seperti wanita pada umumnya. Kau memang menyukai tantangan, kau ingin menaklukkan hal-hal yang sulit diraih. Kau ingin menggebrak stereotipe jika wanita adalah sosok lemah yang seharusnya bekerja di rumah dan mengurusi keluarga. Bagimu tidak ada perbedaan antara pria dan wanita selain fisiknya. Oleh karena itu, seharusnya semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan hukum dan masyarakat, yang berarti wanita pun boleh melakukan apa yang sewajarnya dilakukan pria dan sebaliknya.

“Bu, kenapa mata wanita itu merah?” Seorang anak laki-laki yang berusia sekitar empat tahun menunjuk ke arahmu. Kau menatap lama anak itu, hingga anak itu menjadi ketakutan dan bersembunyi di belakang ibunya.

“Kau jangan lihat mata itu. Itu mata iblis,” larang ibu itu sambil membawa pergi anaknya.

Kau termenung dan memasukkan tanganmu ke dalam saku jaket. Kau menengadah ke langit yang kelabu temaram, hingga perlahan air hujan menetes membasahi kulitmu yang seputih susu.

 

 

“Mengapa kau ke sini?” tanya seorang pria berotot dengan banyak tato menghiasi sekujur kedua lengannya. Meskipun sudah malam, penampilannya terlihat karena sinar purnama. Penampilannya tidak seperti orang Sacchar pada umumnya: kulitnya berwarna putih seperti susu, netranya terlihat tipis dengan selaput pelangi berwarna kuning cerah, dan rambutnya berwarna merah semerah batu ruby. Ia memegang pistol dan di bawahnya ada lima orang yang tewas karena tembakan. Tampak di sana ada empat orang Dexter dan seorang Furan. Kau yang memakai kacamata hitam hanya mengamati jenazah tersebut cukup lama.

“Kau ingin menghakimiku?” tanyanya lagi. “Apa karena kau memiliki jabatan ganda di pihak militer dan hukum, jadi kau mendatangiku dengan tingkah pongah seperti itu?” Ia terkekeh. “Tembak saja. Tembak aku. Aku tahu kau sangat membenciku, apalagi karena apa yang kuperbuat pada keluargamu di masa lalu, terutama ibumu yang paling kausayangi itu.”

“Paman benar-benar terang-terangan membunuh banyak warga asli Sacchar,” ucapmu, “padahal kita sendiri tinggal di Negara Sacchar.”

“Memang kita tinggal di Sacchar,” balas pria preman yang merupakan pamanmu, “tapi kita tidak dianggap sebagai warga negara Sacchar.” Ia memerintahkan bawahannya yang memiliki warna rambut dan kulit yang sama dengannya untuk menyingkirkan jenazah-jenazah itu.

“Bukankah Paman bisa lari ke Pessein, daripada membunuh cecunguk-cecunguk tak berguna ini?” ujarmu.

“Kau kira aku bakal diterima di sana?” Paman bertanya balik. “Aku tidak bisa berbahasa Pessein, apalagi kita yang memiliki darah Amolop ini dianggap hina di sana.”

“Tapi mereka mana tahu kalau Paman punya darah Amolop?” tambahmu. “Wajah Paman tidak ada bedanya dengan orang Pessein asli. Mengenai bahasa, Paman bisa belajar lebih dahulu bahasa dasarnya.”

“Kenapa tidak kau saja yang ke sana?” Pamanmu tampaknya sebal dengan segala ocehanmu. “Kau bisa berbahasa Pessein dan Vaccanic, tentunya kau lebih mudah berkomunikasi dengan mereka.”

Kau bergeming. Kemudian kau membuka kacamata hitammu, membuat pamanmu dapat melihat matamu dengan jelas. “Apa Paman kira dengan mata dan rambutku yang berwarna seperti ini, aku akan diterima dengan baik di sana?”

Pamanmu terdiam. Kau kembali memakai kacamata hitam dan melenggok pergi dari tempat yang gelap dan mencekam itu. Hingga kau tiba di rumahmu yang cukup besar, kau segera ke kamar mandi dan menanggalkan pakaianmu. Kau dapat melihat bekas luka yang tak terhitung di sekujur tubuhmu: ada bekas luka bakar, luka sayat, dan luka robek yang memiliki bekas jahitan cukup banyak. Kau mengamati pergelangan tangan kirimu yang penuh dengan luka sayat, lalu kau mengambil silet dan kembali menyayat pergelangan tanganmu hingga darah menetes menodai wastafel berkeramik putih.

“Katanya keberagaman bukanlah hambatan bagi terciptanya persatuan. Tapi kenapa aku harus selalu dianggap berbeda?”

 

 

“Kau tidak makan scropor?” tanya seorang pria yang terlihat seperti keturunan Pessein kala melihat dirimu yang tidak menyentuh scropor sama sekali. Padahal kalian sengaja mereservasi restoran ini karena daging scropornya dikenal sangat enak dan rasanya persis seperti di Pessein.

“Tidak,” sahutmu, “aku diet scropor.” Kendatipun, itu hanya alasanmu belaka.

“Apa kau sekarang berkeyakinan Levulos?” tanya seorang wanita yang juga terlihat seperti keturunan Pessein.

“Tidak,” jawabmu lagi dengan sikap tenang.

“Kau mirip pribumi, ya. Kau juga tidak bisa berbahasa Pessein, kan?”

Kalimat itu. Kalimat yang sudah lama tidak pernah kau dengar. Kalimat yang paling kau benci itu lantas membuatmu berdiri dan menggebrak meja. Lantas semua yang duduk bersamamu di meja lingkar besar tersentak.

“Maaf,” ujarmu ketika mengetahui emosimu mulai meledak, “aku mau ke toilet dulu,” seraya membawa tas selempangmu dan meninggalkan ruang makan.

Kau masuk ke toilet wanita dan segera membasuh wajahmu. Bagimu, wajah yang dipenuhi mekap adalah wajah yang penuh kepalsuan. Kau merasa bahwa mekap hanyalah alat yang menutupi kebenaran, sama halnya dengan dunia yang kautinggal tampaknya indah, tetapi keindahan itu kebanyakan hanyalah keburukan yang sengaja ditutup-tutupi.

Dalam hati, kau pasti menyesal untuk datang ke reuni SMA-mu. Seharusnya lebih baik kau berada di markas dan menyortir berkas-berkas yang harus kaubaca, kautelaah, dan kautandatangani. Kaupikir kau hanya menghargai undangan tersebut karena kau juga ingin mengetahui bagaimana kabar teman-temanmu setelah sepuluh tahun lamanya tak bersua. Namun kau malah mendengar kalimat yang sangat kaubenci semasa hidupmu.

“Semua ini salah mereka …,” gumammu, “semua ini salah Levulos sialan itu!”

 

 

“Letjen! Pasukan SPSM menguasai wilayah sekitar Palagan Perjuangan!”

“Letjen! Bagaimana ini, semakin banyak SPSM yang memberontak!”

Kau mendapatkan pesan, telepon, dan laporan tiada henti dari berbagai pihak. Di saat jenderal dan letnan jenderal kebetulan sedang menghadiri pertemuan militer di luar negeri, tiba-tiba Satuan Pessein Sacchar Merdeka atau SPSM memberontak di hampir seluruh penjuru negeri.

“Mereka benar-benar gila! Penjajah seperti mereka memang harusnya enyah sejak lama!” Bawahanmu marah-marah sendiri, tanpa menyadari keberadaanmu yang jelas-jelas mendengar cercaan itu.

“Diam!” peringat temannya, sambil menunjuk ke belakang. Lalu pria yang mengumpat itu ketar-ketir mengetahui kalau letnan jenderal mereka yang jelas-jelas keturunan Pessein mendengarkan mereka sedari tadi.

“‘Penjajah seperti mereka memang harusnya enyah sejak lama’.” Kau mengulang kata-kata itu. “Itukah yang Anda ucapkan tadi, Kolonel Figo?”

“Hormat, Letnan Jenderal Serratia Marcescens!” Kolonel Figo dan rekannya segera memasang hormat dengan badan tegap.

“Apa perlu saya mengulang pertanyaan saya?” tanyamu dengan nada dingin.

“Iya! Benar! Saya meminta maaf atas kelancangan saya!” ucapnya dengan nada lantang.

“Turunkan tangan kalian,” titahmu, “tidak. Kau tidak lancang. Keturunan Pessein seperti mereka yang mengganggu kedaulatan Sacchar harus dimusnahkan.”

 Lalu kau tersenyum.

 

 

“Semua yang menentang kedaulatan Negara Sacchar harus diadili dengan hukuman seberat-beratnya!” teriakmu dengan toa. Namun para aktivis SPSM tak mengacuhkanmu, mereka malah semakin menggunakan kekerasan. Mereka menggunakan senjata tajam untuk menyerang pasukanmu dan orang-orang Sacchar lain yang tak bersalah, dengan berkedok revolusi.

“Sacchar bedebah sialan!” umpat salah seorang aktivis. “Mau kami berbuat benar, mau kami tidak berbuat apa-apa, mau kami berbuat salah, semuanya dianggap salah oleh hukum!”

“Padahal kami sudah lama menjadi warga negara Sacchar, kenapa kami masih dianggap penjajah?”

“Pemerintah Sacchar membunuh anakku! Padahal anakku sedang sakit, tapi mereka menolak kami hanya karena kami keturunan Pessein.”

“Apanya yang ‘Meskipun berbeda tapi tetap satu kesatuan’? Itu cuma omong kosong, seperti tahi cabra!”

“Hei! Kau bukannya Letjen Serratia! Kau juga keturunan Pessein, kan?”

“Astaga, dia malah berpihak ke para Sacchar bedebah itu?”

“Dasar pengkhianat!”

Mereka semua berbondong-bondong menyerangmu dengan berbagai senjata. Bawahanmu segera melindungimu dari para pemberontak yang mengganggu kedaulatan dan ideologi Negara Sacchar itu.

“Seharusnya kau mati saja!”

“Lihatlah dia! Meskipun kulitnya seperti Pessein, tapi warna mata dan rambutnya seperti iblis!”

“Bunuh dia! Bunuh kepalanya, pasti bawahannya bakalan tak berkutik kalau kepalanya dibasmi!”

“Minggir,” titahmu kepada bawahan yang melindungimu. Kau melewati mereka dan menghunuskan sebuah senjata tajam yang sudah lama tidak digunakan dalam militer modern. Pedang panjang yang dahulu digunakan oleh leluhur Pessein untuk menaklukkan banyak negeri di dunia.

“Pedang itu … pedang Kaorki, kan?”

“Kenapa Pessein gadungan sepertinya punya pedang yang hanya boleh dimiliki prajurit Pessein?”

Kau berlari dan segera menebas semua pemberontak yang sudah membunuh banyak warga yang tidak bersalah. Tidak hanya warga, mereka pun dengan berani-beraninya membunuh polisi dan tentara. Kau pun juga tanpa ampun membunuh mereka, layaknya menghabisi gulma yang mengganggu.

“Tembak mereka!” teriakmu. “Tembak mereka yang berani-beraninya membunuh warga yang tidak bersalah!”

Suara tembakan berderu selaras dengan setiap gerakanmu menghabisi banyak pemberontak. Lalu kau mencari ke mana “kepala” mereka, “kepala” yang memerintahkan mereka untuk memulai api pemberontakan ini.

“Siapa pun yang mengganggu tujuanku harus dijatuhkan!” gumammu dengan suara pelan tetapi tegas.

Hingga kau berhasil menemukan dalang dari semua kegemparan ini. Seorang pria yang terlihat sangat kurus dan jangkung sedang diikat di sebuah kursi kayu.

“Serratia …,” panggilnya, “tak kusangka kita bertemu lagi.”

“Ya. Aku tak menyangka sampai saat ini kita tetaplah rival,” balasmu.

“Kenapa … kenapa kau malah berpihak kepada Sacchar bajingan itu?”

“Bisakah kalian meninggalkanku sendiri?” pintamu kepada bawahanmu.

“Tapi, Letjen

Kau memelototi mereka, membuat bawahanmu lantas segera berlari dan meninggalkanmu berdua dengan dalang pemberontakan.

“Aku? Berpihak, katamu?” tanyamu dengan nada menekan. Kemudian kau tertawa. Dalang dari pemberontakan itu justru kebingungan dengan tingkahmu.

“Astaga. Sudah lama aku tidak tertawa sekeras ini!” ujarmu sambil memegang perutmu yang terasa sakit.

“Sudah cukup aktingnya! Aku tahu kau hanya berpura-pura!”

Sontak kau menghentikan tawamu. “Tapi tadi sungguh lucu,” kendatipun kau berkata dengan nada dingin, “sejak kapan aku berpihak dengan Sacchar?”

“Tapi kau setengah mati menempuh pendidikan di militer, bahkan kau juga mengambil pendidikan hukum karena kau ingin bekerja sebagai pejabat di pemerintahan! Itu jelas-jelas berarti kau membela Sacchar, kan?” jeritnya.

“Tidak. Aku tidak membela siapa pun dan apa pun. Aku hanya membela diriku sendiri,” tandasmu sembari menghunuskan pedang dan memenggal kepala pemberontak di hadapanmu.

 

 

“Letjen Serratia benar-benar tanpa ampun membasmi SPSM!”

“Padahal dia juga keturunan Pessein, tapi dia tak memandang bulu ketika menegakkan keamanan negara!”

“Dia benar-benar pahlawan!”

“Asyik, keturunan Pessein takkan bisa macam-macam dengan kita!”

Kau sudah sering mendengar kata-kata yang terus-menerus menyanjungmu. Kau dianggap bak dewi keadilan yang menghakimi siapa pun tanpa pandang bulu dengan pedang di tanganmu. Kau hanya tersenyum kepada mereka dan berkata dengan kerendahan hati, “Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai Letnan Jenderal.” Bahkan banyak negara mengakui bahwa kaulah yang lebih cocok sebagai jenderal di Negara Sacchar.

“Kau ingin menyaingiku?” teriak Jenderal.

“Tidak,” balasmu, “mungkin setelah Bapak sudah tidak menjabat, saya tertarik menjadi jenderal.”

“Wanita takkan bisa menjadi jenderal,” ucap Jenderal, “menjadi Jenderal itu berarti harus punya kemampuan seperti pria sejati.”

“Selama ini, pemberontakan SPSM belum ada yang berhasil mengatasi selain saya, kan?” katamu dengan penuh percaya diri. “Saya berhasil menangkap dalangnya, yang selama ini sulit ditemukan batang hidungnya. Selama ini, ke mana saja para pria sejati yang seharusnya menyelesaikan masalah ini?”

Jenderal marah dan memukul mejanya. “Lancang sekali kau! Saya bisa menurunkan jabatanmu segera saat ini!”

“Suara rakyat, suara Dewa,” katamu tiba-tiba, “kalau Bapak berlaku seperti ini, justru Bapaklah yang diboikot 17.736.510 penduduk Sacchar.”

Jenderal hanya bisa bergeming.

“Kalau sudah tidak ada urusan lagi, saya pergi.” Kau memberi hormat dan segera keluar dari ruangan Jenderal.

Saat kau masuk ke ruanganmu, kau menemukan tumpukan berkas yang menyatakan bahwa terjadi pemberontakan oleh Gerakan Sacchar Levulosi (GSL). Berdasarkan Undang-Undang, Negara Sacchar mengakui empat keyakinan—Levulos, Magain, Elaida, dan Vacca—dan menganut unitas. Namun GSL ini ingin menyingkirkan tiga agama lain dan ingin menjadikan Negara Sacchar sebagai Negara Levulosi. Tentunya ini tidak sesuai dengan kaidah pokok negara yang fundamental, sebab berdasarkan sejarah, keempat keyakinan ini sudah ada cukup lama dan ikut berpartisipasi dalam kemerdekaan Sacchar terhadap Pessein.

“Kenapa GSL cari masalah tepat setelah SPSM?” Kau melemparkan berkas asal, membuat bawahanmu terpaksa memungut berkas tersebut.

“Menurut mereka, adanya keyakinan lain, terutama Magain itu membuat mereka tak nyaman,” jelas bawahanmu, “mereka menganggap keyakinan lain selain Levulos itu vetiti.”

“Vetiti?” ulangmu. “Sesuatu yang kotor, yang sama sekali tidak boleh didekati?”

“Iya, Bu. Mereka mau mengadakan demonstrasi massa di depan Balai Kota Gleles, karena pemimpin mereka akan mengunjungi sawon terbesar di sana.”

“Levulos aliran Jeuni, kah?”

“Iya, Bu.”

Hingga tiba saatnya ketika GSL membuat kekacauan lebih parah dibandingkan SPSM. Kali ini, banyak warga yang bergabung dengan mereka karena terpikat dengan karisma dan visi-misi yang ditawarkan GSL.

“Tidak boleh ada selain Levulosi yang mempin Sacchar!” teriak pimpinan GSL. “Selain Levulosi, mereka semua teroris!”

Usut punya usut, GSL ini ternyata memiliki memiliki pengikut di berbagai negara, menjadikan aliran ini dianggap sebagai teroris dan mengancam keamanan dunia. Tentunya Negara Sacchar yang disalahkan karena tidak dapat mengatasi gerakan separatis GSL yang brutal dan tidak beradab itu.

“Letjen Serratia!” panggil Jenderal lantang “Kau … kau urusi masalah GSL ini! Saya tidak mau tahu kau pakai cara apa, yang penting selesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya!”

“Siap, Jenderal!” Kau memberikan hormat, lalu melakukan balik kanan. Usai melenggang dari ruangan Jenderal, kau menyengih puas.

 

 

Merah.

Semuanya merah.

Namun kau belum merasa puas. Semua ini masih belum terlalu merah, tak semerah bola matamu yang berwarna menyala seperti iblis yang kelaparan.

Kau menembaki targetmu dengan cepat dan tepat pada jantungnya. Cipratan darah terus-menerus mengenai wajahmu. Kau tertawa layaknya orang gila.

Kau mulai bersiap mengarahkan moncong senapan laras panjangmu ke targetmu yang berikutnya. Targetmu bukanlah sosok yang memakai pakaian tentara atau yang membawa senjata, tetapi hanya seorang wanita dengan dua orang anak—satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka bertiga memiliki kulit berwarna cream kecokelatan dengan mata berukuran besar berwarna cokelat muda. Rambut mereka berwarna kuning kecokelatan.

“Letnan Jenderal! Sungguh, kami memohon belas kasihmu!” pinta wanita itu seraya memohon dengan kedua tangan terkatup.

Kau mendekatkan moncong senapan ke dagu wanita itu. “Sebutkan asalmu,” titahmu.

“Asal?”

“Apakah aku perlu mengulang perkataanku lagi?” tanyamu dengan tatapan gahar.

“Sasaya … saya Suku Dexter.”

“Dexter?” Kau mengulang kata tersebut, seakan-akan hal itu sangat mengganggu pikiranmu. Kemudian, kau tersenyum tipis. “Apakah Anda lupa apa yang Anda lakukan dahulu kepada saya?”

“Ma–maksud Anda?”

Kau menembaki ketiga orang di hadapanmu tanpa berbasa-basi lagi. Meskipun awalnya raut wajahmu dingin, sekarang kau kembali tersenyum lebar dengan pipi merona kemerahan. Siapa pun, entah orang Dexter, Furan, Cecropia, Laevis, dan Amolop kau bunuh tanpa ragu.

“Aaaahh, sungguh menyenangkan!” Kau menjerit kesenangan. “Benar, hanya warna darah kitalah yang sama, tidak ada perbedaan!”

Bagimu, tidak ada yang adil di dunia ini. Keadilan mutlak takkan tercapai karena adanya keberagaman.

Karena hal yang jelas-jelas berbeda sulit dianggap adil dan setara.

Kau membenci mereka. Kau membenci mereka semua; mereka yang mengotak-kotakanmu, mereka yang membuatmu merasa bahwa dirimu sangatlah berbeda dan asing. Mereka yang sudah menyiksamu dari segi fisik maupun mental, membuat luka-luka di tubuhmu sebagai saksi kekejaman dan kekerasan mereka. Selama ini kau berusaha bersabar demi kedua orang tuamu. Namun ayahmu dimutilasi hidup-hidup oleh orang-orang pribumi Sacchar yang sangat ia percayai, sedangkan ibumu dibunuh oleh orang-orang keturunan Pessein yang menganggap darah Amolop di tubuh ibumu sangat hina.

Kau ingin menaklukkan mereka. Kau ingin menjatuhkan mereka yang selama ini merendahkanmu. Kau ingin membasmi mereka.

Kompas moralmu yang berharap keberagaman dalam kesatuan dan tanpa kekerasan ini menjadi goyah.

Kau ingin menyamaratakan semuanya. Semua yang menentangmu harus dibunuh, tanpa memandang apa pun. Ya, semua ini sudah masuk rencanamu. Berbagai pemberontakan yang terjadi di Negara Sacchar adalah ulahmu. Kau sengaja memerintahkan bawahan rahasia yang kaupercayai untuk memancing pembentukan SPSM, lalu kau juga yang membiayai segala hal yang dibutuhkan oleh GSL. Ini semua memang ulahmu sedari dulu untuk memecah belah persatuan. Namun apakah memang sungguh ada persatuan di tengah keberagaman?

“Tembak dia! Tembak pengkhianat Bernama Serratia Marcescens!”

“Dasar iblis! Kau benar-benar iblis!”

Kau tersenyum lebar. Kau bahkan sudah tidak membenci kata “iblis” itu, kau sudah menganggapnya sebagai pujian tertinggi.

“Akulah penguasa dunia ini! Aku! Aku!” Kau berteriak sambil tertawa gahar, hingga tubuhmu tertembus sebuah peluru tepat di jantungmu.

Kau ambruk tanpa nyawa. Akhirnya, perjuanganmu demi kesetaraan telah berakhir malam ini, di tengah kobaran api yang merah menyala seperti bola matamu.

Pada akhirnya, kekerasan takkan dapat menyelesaikan kekerasan lain, karena hanya menimbulkan lingkaran setan yang penuh kebencian.

 

 

 

 

Tema: Keberagaman Tanpa Kekerasan

#lovrinzpublisher #lovrinzwacaku

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!