Pasangan Impian
8
0
64

Hubungan kami banyak diimpikan orang. Namun, hanya kami yang tau, bahwa hubungan ini penuh manipulasi dan beracun.

No comments found.

 

PASANGAN IMPIAN

Orang bilang kami couple goals. Pasangan goodlooking, berprestasi dan tentu saja idola kampus. Orang akan menganggap kami sudah punya segalanya, kami hanya perlu mempertahankan hubungan ini hingga menikah dan menua. Aku pun merasa begitu, aku merasa menemukan seseorang yang pantas bersanding bersamaku. Aku merasa bersamanya, aku lebih dihargai, lebih diperhatikan dan utuh sebagai manusia.

Hari itu waktu menunjukkan tengah malam. Menjelang berakhirnya acara Dies natalis  program studi Kesehatan Masyarakat, tempatku berkuliah. Kuputuskan untuk meminta pacarku mengantarku pulang. Ia seorang calon dokter yang masih mengambil spesialis di kampus yang sama denganku, dia khusus datang di acara ini untuk bertemu teman-temanku. Kami pulang dengan mobilnya, namun ia memintaku untuk menyetir. Hal yang sejujurnya kutakutkan, namun aku tetap mengiyakan sambil tersenyum semanis mungkin di hadapannya.

“ Aku ngantuk banget Nay. Dua hari ini banyak pasien di RS” Dalihnya sambil tersenyum manis menatapku, setelah duduk di bangku samping kemudi.

“ Iyadeh, tapi udah malem Pram, aku takut” Kataku menolak halus permintaannya. Namun dia memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela mobil,. Kutangkap itu sebagai sinyal penolakan.

“Pram , pram, pram. Nay aku pacarmu. Aku lebih tua 4 tahun daripada kamu, menyebut namaku seperti itu, kamu pikir orang bakal mikir apa? Kamu bisa kan manggil aku sayang, baby atau mas, atau apa kek, kenapa Pram?” Jawabnya dengan nada datar, menatapku datar, namun serentetan kalimat itu cukup melukai harga diriku.

“Okey, jangan lupa dipakai sabuk pengamannya, Sayang.” Kataku lirih padanya takut ia memalingkan wajah lagi, namun ia hanya menatap ke depan tanpa melakukan apa yang kuminta. Setiap kali dia melakukan hal sekecil itu, ada perasaan tak nyaman yang kualami.

Aku menjalankan mobil itu hati-hati, jalanan masih cukup ramai di hari Sabtu malam. Kendaraan lalu lalang di jalan raya, beberapa kecepatan tinggi. Kubuka jendela di sampingku, kuhirup aromanya untuk mendinginkan perasaanku yang mulai kalut. Hingga kulihat pada kaca spion, truk besar berpacu dengan kencang hingga membentur bagian belakang mobil Pram. Kami tersentak, Mobil Pram hilang kendali hingga menabrak pembatas jalan. Kepalaku membentur kemudi, penglihatanku sedikit buram namun bisa kembali normal. Pikiranku tertuju pada Pram di sampingku, dia sadar namun sisi kiri wajahnya terkena pecahan kaca mobil. Aku histeris melihat luka itu, tanpa peduli apa yang terjadi padaku dan sekelilingku. Kudengar suara beberapa orang berkerumun di sekitar mobil kami.

Pram menatapku, tatapan kacau, kaget, dan hal yang tak kukira akan kulihat pada wajahnya, dia marah. Dia dalam zona amarah yang seharusnya kuwaspadai, dia berada pada zona dimana seharusnya aku pergi meninggalkannya, sebelum sesuatu yang buruk terjadi padaku. Namun terlambat, dia menarik rambutku hingga kepalaku yang nyeri luar biasa tersentak ke samping.

“KAMU GILA YA! WAJAHKU INI MODAL UTAMAKU! KAMU BOLEH HANCURKAN MOBIL INI!! TAPI JANGAN WAJAHKU, PEREMPUAN BODOH!” katanya sambil berteriak histeris.

Ditamparnya pipiku hingga kurasa pipiku telah terbakar. Dia menamparku lagi, lagi dan lagi, aku mendengar orang-orang di luar mobil mulai berteriak, dia terus menamparku hingga rasanya pipiku mati rasa. Pandanganku buram. Mungkin aku mati.

 

Aku terbangun dengan kepala berdenyut nyeri, berada di kamar putih, ah ya ini rumah sakit, kataku dalam hati. Di sofa kulihat Pram tertidur, sisi kiri wajahnya terbalut perban. Pintu terbuka dan kulihat ibuku mengampiriku. Matanya sembab, terdapat lingkaran hitam di sekelilingnya, seberapa lama aku disini tuhan?

“ Nay, ini mama Nay. Mama harus panggil dokter!” Katanya sambil menangis, kutahan tangan mama dengan tanganku, baru kusadari tanganku penuh luka. Baru kusadari aku diperban di kepala. Baru kusadari kaki kananku juga diperban. Aku kesakitan di mana-mana.

“Mama tetap disini” Ujarku lirih.  Dari sekian banyak hal, hanya itu yang mampu kuucap. Aku mencoba bangkit untuk duduk. Aku mengingat jelas kejadian sebelumnya. Peristiwa dimana tamparan bertubi tubi itu mendarat di pipiku. Kutatap Pram yang tidur dalam damai, aku tak menyangka dia masih melakukan itu. Ya, aku pernah sekali melakukan kesalahan fatal, dan dia menamparku habis-habisan. Kami putus, namun di hari yang sama di memohon dengan lutut tertekuk meminta maaf padaku, meminta aku kembali padanya. Aku mencintainya, dia yang paling pantas untukku, dan kata orang kami pasangan impian. Dia berjanji takan berbuat hal yang sama. Aku menangis dan memeluknya, dan memulai lagi kisah kami hari itu. Tak akan lagi ada emosi seperti itu. Kini, aku tak yakin bisa percaya padanya.

Pram bergerak, perlahan dia terbangun. Pandangan kami bertemu. Ku genggam tangan mamaku erat. Tak kusangka yang kulihat selanjutnya adalah mama tersenyum menenangkan ke arahku, kemudian tersenyum ke arah Pram. Pram mendekatiku, menggenggam tanganku yang tadi menggenggam mama. Mengelusnya perlahan, hatiku menghangat. Aku memang perempuan bodoh. Logikaku bermain, tanganku berontak dari genggamannya, namun dia menggenggamku lebih erat. Aku menangis histeris lagi, mamaku menangis menyaksikan aku. Pram memelukku erat, pelukan yang ia maksudkan untuk menenangkanku, tapi justru menyakitiku, secara fisik maupun harfiah.

“Aku sayang kamu Nay, maafin aku Nay. Maafin aku Nay. Aku cinta kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, tolong jangan tinggalin aku, tolong. Aku cuman punya kamu,dan aku cuman mau kamu” Kalimat itu diucapkan dengan pelan dan lembut sambil mengelus sisi punggungku meskipun aku berontak dia masih melakukan itu, kemana laki-laki yang menamparku waktu itu, kemana laki-laki yang berkata aku perempuan bodoh.

Perlahan aku terdiam, mencerna kesalahanku, aku juga bersalah mengemudi terlalu pelan hingga ditabrak, hingga dia terluka, hingga dia mungkin merugi banyak. Aku sebodoh ini mencintainya, kuhirup aromanya, aroma paling kusuka di dunia ini. Aku membalas pelukannya, mungkin tak apa kumaafkan dia sekali lagi. Cuma satu kali saja, satu kali, dan ini yang terakhir.  Akan kuanggap tamparan itu tak pernah terjadi.

“Aku minta maaf Mas, kamu jadi sakit juga. Mobilmu mungkin rusak. Aku minta maaf”

Lukaku dan luka Pram sudah berangsur pulih. Namun bekas rasa sakit itu masih terasa, rasa sakit yang kumaksud adalah kekerasan dalam hubungan kami. Hal itu mungkin akan terulang lagi suatu saat nanti. Dan mungkin saat itu aku sudah terjebak dalam hubungan permanen bersamanya. Di sisi lain aku percaya, dia akan berubah lebih baik seiring membaiknya hubungan kami. Namun, harus kuakui, aku kesulitan mempercayainya lagi. Selalu ada sisi waspada saat aku bersamanya, aku merasa tak aman, aku bukan diriku yang dulu. Aku yang saat ini adalah Nay yang diinginkan Pram, Nay yang menuruti Pram, Nay yang hidup untuk menjadi pendamping Pram.

“Nay, aku merasa bahagia dengan hubungan ini. Dua bulan lagi aku akan resmi jadi dokter spesialis, terima kasih sayang kamu sudah mendukung aku sejauh ini” Katanya sambil mengelus lembut kepalaku.

 Aku tersenyum semanis mungkin untuk membuatnya bahagia, membuatnya lebih mencintaiku lagi, agar tak mungkin ada kekerasan dalam hubungan ini.

“Tapi Nay, aku harap kamu juga lulus S1 tahun ini, tepat 3,5 tahun. Aku percaya kamu bisa. Aku punya rencana besar buat kita berdua” Katanya, masih mengelus helai rambutku. Aku ragu, namun aku mengangguk. Akan kubuat Pram sangat mencintaiku, agar kejadian itu takkan terulang.

Kulakukan segalanya untuknya, aku kepayahan, aku lelah, namun aku ingat ada hubungan yang harus kuperjuangkan. Aku berusaha sekuat mungkin menyelesaikan kuliahku tahun ini. Dan ditengah usahaku itu, aku berusaha menyisihkan sedikit ruang dan waktu untuk hubungan kami. Namun, yang kudapatkan bukan dukungan darinya. Dia keberatan karena aku tak memperhatikan dia lagi. Dia menyalahkan aku lagi. Dan aku meminta ampun padanya, aku berjanji tak kan ulangi kesalahan itu, hubungan ini harus bertahan.

“Kamu tau Nay, aku cinta banget sama kamu. Aku rela ngelakuin apapun demi kamu Nay. Tapi aku mohon, kamu juga berjuang untuk kita. Aku tau ini permintaanku, tapi bukan berarti itu malah jadi alasan kita menjauh.” Katanya dengan suara lembut, sambil memelukku erat.

Aku memejamkan mataku, menenangkan diri dengan aroma tubuhnya. Aku tak tau, apakah ini cinta, ataukah ini racun yang terus kupupuk dalam hubungan kami. Aku menangis di pelukannya, Tuhan aku tak mau kehilangan dia, namun aku juga tak mau kehilangan diriku, kataku dalam hati. Aku merasa melakukan hal yang tepat, mempertahankannya di sisiku. Tapi, aku merasa aku bersalah, salah dengan semua yang sudah kulakukan. Seharusnya segalanya tak berjalan seperti ini.

Aku mencoba mencari ruang untuk diriku, bertanya pada diriku apa yang sebenarnya harus kulakukan. Aku tak mungkin bercerita pada Mama. Mama orang paling tersakiti sepanjang hidupku, seorang single parent, alasan yang sederhana dalam perceraiannya dengan ayah, dia tak pernah merasa dicintai. Ketika Pram datang menemuinya, sambil menangis mengaku bahwa ia sangat mencintai putrinya, Mama tak mudah tersentuh. Namun, lambat laun waktu membuktikan niat tulus Pram. Mama kemudian mempercayakan segalanya tentangku pada Pram. Mama tak pernah tau perlakuan buruk Pram. Aku terlalu pengecut mengatakanya, terlebih menyakiti hati Mama, Mama mungkin tak akan percaya lagi bahwa ada laki-laki baik di dunia ini.

Aku bertanya pada sahabatku, Jola, bertanya padanya apa yang harus kulakukan dengan hubunganku. Aku terlalu pengecut membahas masalah kekerasan itu, kupendam dalam-dalam. Hanya kuceritakan pada Jola bahwa aku ragu melangkah lebih jauh bersama Pram.

“Gila lo Nay. Pram kurang apa sih. Masih aja ragu, nyari paket komplit kaya dia susah Nay. Apa sih Nay kurangnya? Mau apalagi sih lo? Gue aja iri setengah mati sama loe Nay! Apa perlu gue jadi pelakor? Hahaha” Katanya setengah bercanda, namun sekelebat bayangan Pram bersama orang lain membuatku merinding.

Aku mungkin takkan bisa bernafas lagi melihat dia bersanding dengan wanita lain. Masa mudaku sudah kulalui bersamanya, tinggal selangkah lagi mempertahankan hubungan ini. Mungkin Pram akan berubah. Tidak ada yang tidak mungkin. Mungkin aku harus menyusun rencana membuatnya berubah, namun aku tetap mempertahankan hubungan ini. Aku yakin aku bisa melalui ini. Ini ujian cinta dari tuhan untukku. Lagipula, setahun belakangan ini, tak ada kekerasan itu lagi, kekerasaan pada saat kecelakaan itu memanglah yang terakhir, dan tak akan mungkin terulang lagi.

Dan aku melangkah lagi, memperkuat hubungan ini, menyelesaikan studiku. Lalu membuat segalanya permanen, membuat segalanya lebih baik.

 

“Kamu mau menikah denganku?” Kata Pram, sambil menggenggam tanganku, disaksikan seluruh keluarga besarku, dan keluarganya di restoran tempat kami makan bersama setelah acara wisudaku. Di hari bersejarahku, saat aku resmi memakai toga kelulusan, aku di lamar oleh orang yang mencintaiku, menungguku dan menerima aku apa adanya.  

“Aku cinta kamu, Sayang” Kuucapkan kalimat itu lalu memeluknya, “Iya, aku mau!” Kataku lagi. Dia memelukku erat, membenamkan wajahnya disekitar leherku. Aku bahagia. aku yakin kami akan bahagia. Menikah dengan seseorang adalah menerima kekurangannya, Pram terlalu baik untukku. Hanya satu kekurangan yang harus kuterima, dan kekurangan itu sudah lama tak dilakukannya. Aku percaya hubungan ini akan berhasil.

Kudengar sorak sorai keluarga kami. Pram memakaikan aku cincin berwarna perak. Cincin yang indah dengan berlian kecil di tengahnya. Aku terharu karena dia tau betul bagaimana kesukaanku, dia orang yang paling tau tentang aku.

Acara selanjutnya kami berfoto bersama. Tentu saja banyak sekali fotoku dengan Pram. Kami bahagia, suasana penuh sukacita. Aku juga sempatkan berfoto dengan keluarga terdekatku, sepupu, ayah, anak tiri ayah, mamah, keluarga Pram, dan keluargaku. Momen ini sepertinya jadi salah satu yang akan terus aku kenang.

Aku pulang dengan Pram. Dia tersenyum manis padaku. Aku tersenyum padanya. Kurasa selama ini keputusan kami sudah tepat. Dia berkata ada kejutan kecil yang ia siapkan di apartemennya untukku. Aku gembira dan memeluknya lagi.

“Aku cinta kamu, Pram” Kataku padanya. Aku lupa menyebut nama itu adalah larangan yang sangat berakibat fatal. Tanganku menegang. Tapi dia memelukku membisikan dia juga mencintaiku. Percayalah hatiku lega dan gembira bukan main.

Pintu apartment Pram menggunakan akses kode sandi. Kode sandi apartemenya adalah tanggal lahirku. Hal manis lainnya yang ia lakukan untukku, kubuka pintu itu. Melihat bahwa tak ada apapun di dalamnya.

“Mana, Pram?” Kataku lagi tersenyum padanya. Dia menatapku, tersenyum. Tatapan aneh yang membuatku merinding. Detik selanjutnya, aku didorong hingga membentur tembok, leherku dicengkeram sampai rasanya sulit bernafas lagi. Aku lemas tak berdaya. Pria di hadapanku tinggi besar dengan dada bidang dan tinggi 185 cm. Aku tak punya tenaga melawan pria sebesar itu. Aku mencoba berontak, tapi untuk bernafas saja aku kesulitan.

“Apa?! Maksudmu apa? Aku udah ngelamar kamu di hadapan kedua keluarga kita, aku berikan kamu semuanya. APA MAKSUDNYA FOTO-FOTO ITU, AKU PAHAM KALIAN SEMUA SEPUPU!” teriakannya bergema di telingaku, dilepaskannya cengkraman itu perlahan.

“KENAPA HARUS CIUM PIPIMU?!” dia menampar pipi kiriku.

“KENAPA KAMU PASRAH?” Pipi kananku ditampar. Lalu pipi kiriku ditampar lagi.

“DAN INI, KENAPA KAMU MAU DIPELUK! KAMU MILIKKU NAY. PEREMPUAN BODOH. MEREKA LAKI-LAKI! KAMU GILA! BODOH!” Teriaknya sambil menyobek bagian depan baju wisudaku. Aku lemas, aku tak bisa menimpali perkatannya.

“BODOH! JAWAB AKU!” Katanya, lalu satu tinju mendarat di rahang kananku. Sudut bibirku sudah berdarah, nafasku lemah. Aku tak mau mati di tangannya, apabila ingin aku ingin melakukannya sendiri, daripada mati konyol di tangannya.

Aku bangkit, dia tendang kaki kananku. Aku jatuh, dia berjalan menjauh ke arah dapur. Dia mengambil segelas air, diberikannya padaku. Aku menyingkirkannya hingga gelas itu pecah berkeping-keping. Kulihat ia semakin marah. Kuraih salah satu pecahan itu, kuarahkan pada nadi kananku.

“PERGI PRAM! ATAU AKU BUNUH DIRI DISINI!” Teriakku padanya.

“JANGAN GILA! KUMOHON NAY AYO SELESAIKAN SEMUANYA DENGAN KEPALA DINGIN” Katanya, seakan dia bukan manusia yang melemparkan diriku ke tembok beberapa detik yang lalu.

“AKU BENCI KAMU!” Kataku padanya, dengan tangan bergetar tapi tetap kuarahkan pada nadiku.

“AKU CINTA KAMU NAY! AKU MOHON KAMU PAHAM. AKU NGGAK SENGAJA NAY! Tolong jangan seperti ini. Kita udah janji akan bersama-sama” Katanya sambil menangis.

“Nay, setiap orang punya bahasa cinta yang berbeda. Aku begini karena aku cinta kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku cemburu, Nay.” Suara Pram melembut, sangat lembut sampai kukira saat itu aku hilang arah lagi.

“ Aku tahu banyak bahasa cinta, tapi aku yakin, kekerasan bukan salah satunya” Jawabku lirih.

Pram menutupi wajahnya, kulihat wajahnya memerah. Sejenak aku berfikir untuk memaafkannya lagi. Namun, aku tak pantas diperlakukan begini. Sungguh aku tak akan sanggup hidup dalam hubungan beracun ini lagi. Kupikir dia berubah, namun Pram tetaplah Pram. Pemukul perempuan.

Pram mengguncang bahuku, cengkramannya pada bahuku terus mengencang. Aku kesakitan lagi, aku ketakutan menghadapi apa yang selanjutnya terjadi. Bukannya memohon tapi aku malah berteriak histeris.

“KAMU GILA PRAM! KAMU SAKIT! PSYCO! KAMU HARUS MEMPERBAIKI DIRI KAMU SENDIRI, ATAU KAMU BISA NYAKITIN ORANG LAIN! AKU CAPEK, AKU PENGEN KAMU LEPASIN AKU, INI YANG TERAKHIR. AKU NGGAK BISA TERIMA KAMU LAGI DI HIDUPKU” Kataku padanya, beberapa detik kemudian, tinju kencang melayang ke wajahku, berulang kali dan akhirnya pandanganku buram. Jika bangun lagi, aku pastikan aku takan jadi perempuan bodoh lagi.

 

3 Bulan Kemudian….

Aku menatap diriku di cermin, kebaya putih dengan sanggul serta riasan indah di wajahku. Aku sampai pada titik ini, menikah. Sejujurnya, ini seperti melemparkan diri pada api. Setiap malam aku berdoa, semoga tuhan memberikan laki-laki yang sangat mencintaiku daripada aku mencintainya, aku yakin hubungan seperti itu akan berhasil. Dan tuhan mengabulkan, aku akan menikah dengan seseorang yang mencintaiku sangat gila, mencintaiku melebihi hidupnya.

Kejadian di apartemen Pram waktu itu membuat keluarga kami memutuskan hal besar. Aku dan Pram, harus menikah, secepatnya. Aku berpikir semua orang sudah gila, aku hampir mati tapi malah menikahkan aku dengan calon pembunuhku. Mereka bilang aku berhalusinasi, mereka bilang aku terjatuh dari tangga, kebohongan gila semacam itu.

Bagaimana reaksiku? Tentu saja aku histeris, mengancam semua orang lebih baik aku mati ditanganku sendiri daripada di tangan orang lain. Namun, Pram mengubah segalanya, semudah menggoreskan pisau di nadinya, permintaan terakhirnya ingin menjadikan aku istrinya, aku segalanya. Tentu saja dia tidak mati, dia berhasil selamat, goresan itu tak sedalam hingga mengancam nyawanya. Aku yakin seorang dokter hebat pasti tau sejauh mana, sebuah goresan bisa membunuh. Lalu, semua orang menyudutkanku, semua memohon-mohon untuk memperbaiki hubungan kami.

“ Nay, seseorang sebaik Pram, mau dimana lagi kamu temukan”

“ Berpikir jernih lah Nay, dia mencintaimu sedalam itu. seandainya di mau sama orang lain, pasti sudah ninggalin kamu”

“ Cinta seperti itu cuman datang sekali kak Nay, jangan berpikir buruknya. Banyak hal baik dalam dirinya jauhh daripada hal buruk “

Mungkin kalimat terakhir adalah dilema besar bagi diriku. Batinku, lukaku, ketakutanku semua rasanya mencair bagai bongkahan es terbakar batubara. Akhirnya aku setuju, dan disinilah aku saat ini. Rasanya seperti mengorbankan diriku. Rasanya hatiku mati. Rasanya aku tak dianggap, rasanya perasaanku tak dianggap penting. Bahkan di hadapan keluargaku sendiri. Aku tersenyum miris memikirkan bahwa aku tak dipercaya, bahkan oleh orang-orang yang kupercaya.

Aku berjalan di pelaminan didampingi Mama dan Tanteku. Wajahku muram, di tengah riuh dan tawa. Seakan segalanya menertawakan hukuman yang akan kujalani. Mungkin selama ini, di mata mereka, seorang Pram memang seperti malaikat dan Nay hanya manusia biasa. Nay manusia beruntung yang mendapatkan Pram yang seperti malaikat. Jadi semua berkesimpulan, Nay yang malang tidak boleh hilang kesempatan, Nay dan Pram memang ditakdirkan bersama. Pasangan sempurna.

Ruangan itu besar, serba putih dengan hiasan lampu kristal. Pram duduk di meja bersama penghulu menatapku dengan senyumannya. Senyuman yang dulu kupuja. Senyuman yang dulu menghangatkan hatiku. Tapi tak kusangka bahwa senyuman itu akan jadi salah satu alasan hidupku berakhir. Kebahagiaanku berakhir. Aku hanya bisa menyembunyikan jiwaku yang sekarat sambil memohon pada Tuhan untuk menyelamatkanku. Tuhan aku mohon kali ini, tolong aku.

Tanganku diarahkan pada Pram, kurasakan tanganku digengam. Dia menatapku lembut, sorot mata penuh permintaan maaf, sorot mata penuh pernyataan kita-pasangan-sempurna. Hatiku hampa,   aku sudah mati saat mengiyakan pernikahan ini. Saat itu, jiwaku sudah hilang entah kemana. Yang ada saat ini hanya Nay bodoh tak berotak yang mengorbankan diri pada kobaran api.

Kalimat ijab qobul terlantun dengan lancar. Segalanya lancar, segalanya lancar menuju kehancuranku. Entah dosa apa yang aku buat, haruskah aku lari dari keluargaku sendiri. Haruskah aku lari dari teman-temanku? Haruskah aku menghianati Pram setelah pernikahan ini, agar hidupku bebas dari bayang-bayang kesakitan?

Aku berjalan di bawah lampu kristal besar di hadapan para hadirin. Seseorang, entah siapa menyodorkan microphone padaku. Lalu kudengar tawa dan tepuk tangan kebahagiaan dari semua orang, kudengar banyak ucapan selamat. Namun suara itu seperti sorak sorai mengantarkanku pada akhir kebahagiaanku. Pram disampingku, memelukku erat namun, tubuhku kaku, aku tak bisa berpura-pura, Nay sudah mati. Dia menatapku, alisnya bertaut.

“Nay, kumohon. Ini di depan banyak orang” bisiknya sambil menyentuh pipiku.

“ Bajingan” ucapku lirih, namun microphone itu terlalu peka terhadap suara. Semua orang mendengar kata itu, terkesiap bagai disambar petir. Wajah Pram merah, dia menatapku tajam sejenak menatap orang – orang, lalu yang dilakukannya selanjutnya adalah hal paling gila. Dia mencium bibirku tanpa ijin, aku refleks menamparnya, mengusap bibirku berkali-kali.Tanpa sadar air mataku bercucuran. Pram menampar pipiku keras hingga suara itu terdengar seluruh hadirin. Bukan tamparan satu kali, tamparan bertubi yang sudah pernah kualami. Orang-orang mulai berhamburan menuju arah kami. Memisahkan kami, semua tercengang, aku tidak pernah berharap Pram lepas kendali saat ini. Tapi, di tengah kesakitan pada wajahku, kupanjatkan syukur pada tuhan karena membiarkan segalanya jelas. Membiarkan semua orang tau, bahwa manipulator dalam hubungan ini bukan aku, tapi Pram.

Samar-samar aku mendengar Mama menangis histeris. Banyak gunjingan dimana-mana. Beberapa orang menahan Pram. Beberapa teman wanitaku menyerbu Pram, kulihat mereka gusar dan tidak percaya pada apa yang mereka lihat. Beberapa orang berada di sampingku, aku menangis histeris. Segalanya terungkap namun terlambat. Aku baru menikah beberapa menit lalu. Aku bingung dengan segala yang akan terjadi, apa yang akan terjadi, apakah pernikahan ini berjalan secepat ini dan berakhir secepat ini juga?

 

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”,serif;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!