Perempuan dengan Pedang di Tangan
12.6
4
93

Reza menemukan Lastri, anak Nardi,bandar narkoba dan residivis incaran polisi dalam sebuah penggerebekan. Pertemuan itu menimbulkan simpati mendalam di hati Reza, terlebih setelah Lastri menjawab cecaran pertanyaannya. Hidup Lastri memang jauh dari kata merdeka. Sanggupkah Reza melindunginya dari orang-orang yang merebut kemerdekaan Lastri?

No comments found.

DianDahlia

Rumah berdinding kusam itu tampak lengang. Reza mengendap-endap dengan pistol tergenggam di tangan. Beberapa orang berpakaian preman mengikutinya. Ia memberi isyarat agar pintu depan yang tertutup rapat dibuka paksa. Baru saja tangan itu  hendak meraih gagangnya, tiba-tiba jendela samping terbuka. Sesosok lelaki meloncat lalu jatuh bergulingan di tanah.  Lalu secepat kilat bangkit dan berlari.

“Berhenti!” seru Reza sembari mengejar.

Dor!

Sosok itu seketika terjatuh.

“Itu Nardi!” teriak Reza sambil mendekat dengan tetap menodongkan pistol.

Nardi memegangi lututnya yang bersimbah darah. Matanya tetap garang dengan kilat amarah. Tetapi ia sudah tak berdaya. Seorang anggota  dengan sigap memasang borgol tangan.  Nardi pun dengan terpincang-pincang digiring ke mobil tahanan polisi.

“Masih ada orang di dalam,” bisik Reza.

Orang di sampingnya mengangguk.

Bruakk! Pintu rumah itu pun terbuka dengan sekali tendangan. Reza dan anggotanya menyerbu masuk. Matanya menyapu ruangan. Meja kursi terguling tak keruan.  Kaca pecah terserak di mana-mana. Tanda-tanda bekas perkelahian.

Dengan gerakan cepat  Reza mendorong pintu  sebuah kamar yang terbuka sedikit pintunya.  Seketika pandanganmu tertumbuk pada seseorang  yang tengah meringkuk di sudut ruangan.  Wajah, tangan, dan kakinya lebam-lebam . Rambutnya awut-awutan. Pakaiannya compang-camping bekas penganiayaan. Tetapi tangan kanannya menghunus pedang.

“Jangan bergerak!” perintah Reza.

Mata itu terus menatap  Reza. Meski tangan kirinya terangkat tanda menyerah, tangan kanannya tak jua melepas pedang yang di pegangnya.  Ia lalu merayap dinding perlahan.

“Letakkan!”

“Letakkan!”

Sedetik kemudian, dor!

Prang! Pedang itu pun terjatuh ke lantai.

Mereka menyerbu masuk dan menatap pemandangan yang tak biasa.

Mulut-mulut pistol yang tadinya terarah ke depan kini berubah ke atas melihat Reza memapah seseorang.

“Aman, dia hanya pingsan. Hanya tembakan peringatan. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Sepertinya kita mendapatkan saksi penting.”

“Namaku Lastri.  Aku anak dari Nardi dan Rohimah.”

“Anak?  Rohimah? Kamu tahu siapa itu bapakmu?” sahut Reza.

“Bapakku … tadi sudah kusebut. Namanya Nardi,” jawab Lastri. Matanya kosong menatap ke depan.  Mau anak kandung, anak angkat, anak haram, ia tak peduli.

Reza mendengus. Lastri tak paham maksud pertanyaannya rupanya. Tak mungkin Lastri tak tahu akan identitas bapaknya yang begitu terkenal atau … pura-pura tak paham? Bagaimana mungkin tak tahu? Nardi dengan deretan catatan hitam. Penjahat  kelas kakap yang tak segan-segan menghabisi lawan-lawannya. Seorang residivis narkoba yang sepak terjangnya menjadi catatan hitam  dunia kepolisian. Anehnya, dia punya anak sepolos Lastri.

“Baiklah. Bagaimana halnya dengan Rohimah?”

“Kata Bapak, Rohimah itu nama ibuku. Kami jarang bertemu. Paling setahun dua atau tiga kali, kecuali Bapak harus lama pergi. Tempatnya pun berbeda-beda. Tetapi ibu selalu tahu kami di mana dan tahu saat aku membutuhkannya. Tahun ini aku hanya melihatnya sekali.  Setelah itu dia menghilang lagi,” kata Lastri.

Reza memeriksa catatan. Ya, Rohimah bisa jadi adalah bagian dari sisi manusiawi lelaki semacam Nardi. Tak ada catatan pernikahan antara Nardi dan Rohimah. Mungkin, ia seorang PSK jalanan yang hidupnya berpindah-pindah. Mungkin juga dia adalah antek Nardi.

“Berapa lama lagi kira-kira Bapak akan menerima hukuman? Aku takut. Ibu belum berhasil menemukanku gara-gara kamu. Meski kasar tabiatnya, tetapi aku membutuhkannya. Dia hanya berusaha melindungiku. Katanya aku  harus menurut agar selamat karena banyak orang yang  mengincarku di luar,” kata Lastri.

“Kamu itu dijajah Bapakmu!”  cemooh Reza.

“Biar!” tukas Lastri.

“Bagaimana kalau ada cara lain untuk melindungimu agar kamu bisa merdeka seperti perempuan lain?” tanya Reza memancing.

“Bagaimana coba? Musuh Bapak banyak. Meski aku lelah  dengan hidup yang penuh tekanan ini, pesan Bapak, aku harus bertahan. Entah sampai kapan,” jawab Lastri.

“Kamu bertahan dari apa? Biasanya bagaimana? Bukannya kamu sudah biasa melihat  bapakmu keluar masuk penjara?  Kamu terus sama siapa?” cecar Reza.

“Ibu  … dan bayangan yang selalu menjagaku,” jawab Lastri gamang.

“Bayangan?” tanya Reza tak paham.

Lastri mengangguk. “Aku tak tahu siapa dia.”

“Aneh! Terus terang sajalah agar semuanya menjadi   gamblang,” balas Reza.

“Aku sudah ceritakan. Tak ada lagi alasanku untuk bertahan. Kamu katakan sendiri tadi. Aku orang terjajah. Aku bukan orang yang merdeka.  Meski begitu, semoga Tuhan mengampuni dosa bapakku dan memberinya kesempatan. Karena dia, aku bisa hidup hingga sekarang.”

Mata Lastri meredup. Butiran bening itu mengalir dari sudut matanya.

Ada desir aneh di hati Reza saat menatapnya. Lastri. Dia begitu rapuh sekaligus kokoh. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan hingga hari ini?

 Reza berusaha menyusun kepingan puzzle dengan hati-hati. Memberi Lastri  simpati telah membuatnya berbicara  tentang rahasia Nardi yang berbelit penuh liku. Reza jadi tahu,  Lastri adalah titik lemah Nardi.  Mungkin,  Lastrilah yang membuat Nardi  bersikap seperti manusia. Sebagai seorang bapak,  Nardi melimpahi Lastri dengan kasih sayang yang aneh.  Selama ini Nardi berhasil membuat Lastri tak tersentuh siapa pun sekaligus merampas haknya untuk merdeka. 

“Masuklah,” perintah  Buang, atasan Reza.

“Siap, Pak,” sahut Reza seraya memberi sikap hormat. Ia lalu duduk.

Buang mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. “Aku tahu kamu seorang polisi yang berdedikasi.  Aku mengapresiasi pekerjaanmu. Tetapi … atur yang baik supaya semua aman. Tutupi dari media.”

“Ya, Pak?”

“Cukupkan sampai di sini penyidikanmu. Tak usah diperpanjang. Sudah ada kesepakatan. Biarkan anaknya kembali ke jalanan. Dia adalah umpan yang empuk agar yang lain keluar.”

“Maksud Bapak?” Kening Reza langsung mengernyit.

“Hmm. Kukira kamu cepat belajar, Reza!” Buang  mencemooh.

“Maksudnya?”

“Jangan pura-pura bodoh. Meski kamu orang baru, kamu juga harus beradaptasi! Tinggal atur ini itu, beres sudah. Keuntungan dibagai ramai-ramai. Mereka aman, kita aman. Yang sekarat biar saja sekalian sekarat. Yang ada kita manfaatkan jadi sapi perahan. Termasuk anaknya si Nardi itu. Bapaknya habis, anaknya yang harus menggantikan. Hahaha!” Buang menyeringai sambil mengerling licik.

“Maksud Bapak?”

“Nardi menjaminkan anaknya. Dia percayakan sepenuhnya nasibnya padaku. Tetapi tak semudah itu, bukan? Semua ada hitung-hitungannya. Terserah nanti mau kujadikan apa. Gundik, simpanan, PSK, kurir, atau apalah.  Sudahlah. Kupikir kamu sudah paham.”

Reza terkesiap.  Lima menit perintah atasan serasa mematahkan seluruh kaki dan tangannya.  Benar apa kata Lastri, dia bukanlah orang merdeka. Kini, Reza pun merasakan, dia pun terjerat hal yang sama. Situasi merampas haknya untuk menentukan sikap. Salah langkah akan menghancurkan segalanya.

Dua puluh empat jam selama sepuluh hari  berikutnya, Reza  tak bisa nyenyak tidur. Ia harus segera membuat langkah untuk menyelamatkan Lastri.

Tawa Nardi menggema di dalam ruangan sempit itu. Di depannya tampak Reza yang telah selesai bicara duduk di  di depannya. 

“Jadi … kamu datang ke sini  demi Lastri? Meminta restu dariku? Aneh bin ajaib,” kata Nardi.

“Kukira ini bisa jadi tawar-menawar yang adil,” kata Reza.

“Jangan dikira aku akan mudah melepas Lastri  karena posisiku ada di sini,” kata Nardi menggeram.

“Dia berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Dia berhak merdeka.”

“Kau tak berhak mengajariku. Aku bapaknya! Aku tahu apa yang terbaik untuknya,” tukas Nardi berapi-api.

“Tetapi kamu mengabaikan masa depannya. Kamu merampas kemerdekaannya!”

“Tahu apa kamu tentang masa depannya? Tahu apa tentang kemerdekaannya? Hanya dua pilihanku. Menyerahkan nasibnya  kepada aparat brengsek seperti kalian atau orang-orang hitam sepertiku. Kalian aparat, benar-benar serigala bermuka dua. Munafik!”

Reza tertawa.  “Pikirkan lagi dalam-dalam. Ingat, aku kemari karena peduli. Aku memang aparat. Tetapi  aku orang yang berbeda!”

Nardi memandang Reza sinis. “Berbeda atau tidak, kamu  tak ada bedanya dengan yang lain. Aku tahu betul siapa si Buang. Sekali kau menghambat, tunggu saja tanggal mainnya.”

Reza tertawa. “Aku tak takut. Aku juga tak peduli.”

“Anak muda. Hati-hati.  Kamu tak tahu harus berhadapan dengan siapa rupanya. Meski pun aku sekarat, aku telah memikirkan segala kemungkinan dengan otak. Aku tahu yang terbaik untuk Lastri. Jangan sampai kau membahayakan dirinya!”

“Sayangnya aku masih punya kewarasan dan hati nurani!” kata Reza. “Kauserahkan dia ke pawang buaya untuk dipelihara. Sayangnya pawangnya hendak menjadikannya umpan bagi buaya-buayanya.”

Nardi menghela nafas. “Terserah.  Yang aku tahu, semua demi keselamatannya. Perkara kebahagiaan, itu urusan nomor sekian.”

“Tetapi …”

“Aku lebih tahu dari kamu! Titik!” sahut Nardi. Ia lalu membalikkan badan. Tak ingin berkata-kata lagi.

Reza menggeram. Ia berbalik tanpa berkata-kata lagi.

“Arek nekat! Kamu mau mengundurkan diri? Kamu mau hidup dari mana? Mau berlagak jadi super hero demi gadis yang tak jelas? Jangan menggadaikan hidupmu yang sudah baik ini dengan hal-hal yang tak perlu!” Sunarto menatap Reza dengan aura kemarahan menyala-nyala.

Reza tertunduk.

“Kamu telah kena guna-guna, Rez!” bentak Sunarto.

“Tidak, Pak,” bantah Reza.

“Apanya yang tidak? Sudah jelas! Apa kata orang tentang Bapakmu akibat perbuatanmu itu? Pikir! Apa kata mereka tentang keluarga kita? Susah payah kami membesarkanmu sampai bisa jadi seperti ini. Mau kaurusak dengan cara seperti ini?” tukas Sunarto.

“Bapak sudah terbelenggu oleh kemunafikan. Tetapi aku punya cara untuk menjaga martabat. Aku ingin merdeka, Pak,” sahut Reza.

“Martabat apa lagi yang kamu maksudkan! Merdeka yang bagaimana yang kamu impikan?”

“Aku juga sudah punya pilihan. ”

“Pilihan yang mencemarkan  nama baik keluarga!”

“Aku tak ingin munafik lagi, Pak. Hidup dalam kepura-puraan.  Pura-pura jadi orang terpandang tetapi tangan berlumur barang haram. Pura-pura jadi aparat, tapi berbuat kejahatan. Aku ingin merdeka dari perasaan bersalah karena …”

Reza tercekat.

“Kamu menyindir Bapak?” tanya Sunarto semakin marah.

“Tidak, Pak. Aku punya prinsip sekarang,” sahut Reza.

“Sok idealis! Kamu mau melawan takdir?”

“Ini takdir yang masih bisa diusahakan, Pak, demi kebenaran.”

“Masih ngotot saja!” Tangan Sunarto mulai terangkat hendak menampar Reza.

“Jangan, Pak!” Bu Sunarto menghadang, menjadikan dirinya tameng untuk Reza, anak semata wayangnya.

“Ini akibat kamu selalu membelanya dan memanjakannya! Aku ingin lihat apa kamu bisa bertahan hidup tanpa harta dari orang tuamu.  Tanpa pekerjaan yang layak. Melepaskan semua itu dari kehidupannya dengan dalih mencari jalan lurus dan benar! Sok! Di dunia ini tak ada orang yang benar-benar merdeka, Rez. Orang yang merdeka adalah orang yang seperti Bapak!”

Reza menggeleng. “Mata batin Bapak sudah digelapkan oleh harta dan jabatan.”

“Apa?” bentak Sunarto.

Bu Sunarto menangis. Ia berusaha menahan kepergian Reza.

Pandangan Reza lurus ke depan. Ia  mencium tangan ibunya. “Maafkan atas keputusan Reza ini, Bu.”

Bu Sunarto makin tergugu pilu.

“Pergi!” bentak Sunarto.

Tanpa berkata-kata, Reza pun melangkah keluar dari rumah. Bertekad tak akan kembali lagi.

“Mengapa datang menemuiku di sini. Kalau ada yang tahu …,” bisik Lastri. Ia menyuruh  Reza masuk dan buru-buru menutup pintu.

“Waktunya telah tiba, Lastri. Kamu harus segera pergi dari sini,” bisik Reza.

“Aku? Ke mana?” tanya Lastri tak mengerti.

“Aku dan kamu. Ke tempat aman yang telah kusiapkan,” kata Reza.

“Apa yang terjadi?” tanya Lastri.

Reza menghela nafas. “Saatnya hampir tiba. Sebentar lagi orang-orang itu akan menjalankan aksinya. Terima kasih telah membukakan mata dan hatiku. Karena kamu, aku jadi sadar … . Ah, terlalu panjang untuk dijelaskan apa maksudku.  Pakai ini.“ Ia mengeluarkan sebuah kotak hitam dan membukanya. Tampak sebuah benda berkilauan di dalamnya.

Mata Lastri membesar.

“Aku sudah memutuskan. Aku melamarmu. Tak peduli kamu mau menerimaku atau tidak.  Aku ingin menyelamatkanmu dari lingkaran setan tak berkesudahan. Tetapi kamu harus ikuti caraku,” lanjut Reza. “Kamu harus menjauh dari sini segera. Ada tempat yang aman untukmu. Waktu kita tak banyak. Aku memastikan tak ada lagi yang bisa mengusikmu. Kamu harus mendapatkan hakmu untuk merdeka. Mari mencari kebahagiaan bersamaku. Menjauh dari orang jahat, termasuk … dari bapakmu.”

Lastri beringsut mundur. Binar ketakutan sekaligus bahagia ada di matanya.

“Apa sebenarnya terjadi, Rez? Ini benar-benar mendadak.”

“Aku tahu betul, hidupmu dalam bahaya. Aku bertekad melindungimu” kata Reza.

“Tetapi Bapak harus tahu, harus! Aku butuh restu,” bisik Lastri.

“Jangan bodoh! Apa yang masih kauharapkan dari bapakmu,  Las?” tanya Reza.

“Dia tetaplah Bapakku.”

“Aku sudah menemui bapakmu.  Bapakmu itu …” Reza tercekat.

“Apa yang terjadi?”

“Ia … divonis mati.”

Wajah Lastri seketika pucat.  Air matanya bercucuran.

“Tetapi ada yang lebih genting dari itu. Mungkin waktunya sudah tak banyak.”

“Maksudmu?” tanya Lastri makin  terisak.

“Ia dibawa ke rumah sakit semalam,” kata Reza. Tenggorokannya serasa tercekat. “Kondisinya terus melemah. Ia sekarat. Baru  ketahuan kalau ia pengidap HIV AIDS.”

Air mata Lastri mengucur makin deras.

“Nasibmu dipasrahkan bapakmu kepada Pak Buang, atasanku. Mereka ternyata bersekutu. Aku juga tak pernah tahu sebelumnya. Aku merasa tertipu. Tetapi bapakmu tak punya pilihan. Ia tahu waktunya terbatas. Di dalam pikirannya hanya ada kamu. Keselamatanmu. Tetapi aku tahu jelas siapa itu Buang dan bagaimana jalan pikirannya.  Sebelum semuanya terlambat, Las, aku ingin kamu merdeka dari orang-orang jahat, “ lanjut Reza terpaksa menjelaskan. Berkali-kali ia melihat jam tangan. Sudah lewat tiga menit dari waktu yang ditentukan.

Lastri terisak. “Antar aku menemui Bapakku, Rez.”

“Buat apa? Akan sangat berbahaya buatmu menampakkan diri di saat seperti ini. “

“Kamu sudah berjanji akan melindungiku,” kata Lastri. “Izinkan aku untuk berbakti di akhir masa hidupnya sebagai anak.  Aku ingin menuntunnya. Aku ingin bapakku husnul khotimah. Barulah aku bisa tenang saat mengikutimu.”

Reza menghela nafas. Ia melihat jam tangan. Terlambat lagi dua menit.

“Kumohon … Antarkan aku!” pinta Lastri makin tergugu.

“Baiklah,” kata Reza akhirnya. “Tetapi kamu harus menyamar. Kita pikirkan setelah kita meninggalkan rumahmu ini. Ayo!”

Lastri mengangguk.

Reza membuka pintu samping rumah dengan hati-hati. Ia  melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasi benar-benar aman. Lalu memberi isyarat kepada Lastri untuk mengikutinya. Mereka mengendap-endap.

Dor!

Tiba-tiba Reza terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya.

Lastri terbelalak. Ia segera menangkap tubuh Reza dan susah payah  menyeretnya kembali masuk ke dalam rumah.

“Rez … Rez,” panggil Lastri parau. Cincin yang dipakainya telah berlumur darah.

 “Ja … jangan pergi, Rez! Antar Aku, Rez!”

Reza merasakan sesak luar biasa. Tetapi ia berusaha terus tersenyum dan berbicara.

“A … aku … ingin … hus … hus … khotimah .. ju .. juga, Las! Ka … kamu … harus … jaga … diri!   Segera pergi! Pergi! Mer … mer … de …ka!”

Kepala Reza terkulai di pangkuan Lastri.  Lastri menangis histeris. Reza telah pergi  mendahului Nardi.

DOR! DOR! DOR!

“Reza … Rez … merdeka, Rez!”

***

-Dian Dahlia-

Aku, Kamu, Mereka. Sudahkah kita merdeka?#lovrinzpublisher #lovrinzwacaku 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!