Perempuan di Ujung Senja
7.4
2
55

Seorang perempuan misterius selalu rutin hadir saat senja di pantai. Kehadirannya menarik perhatian para warga dan pengunjung. Tapi, keputusannya yang berani menyisakan pahit dan getir bagi senja di pantai itu

No comments found.

Sebentar lagi langit akan memainkan gradasinya lewat warna kuning biru dan jingga saat seorang perempuan masih terpekur berdiri. Kepalanya tegak menghadap cakrawala di seberang jauh sana.

Hanya butuh sedikit waktu saja hingga di cakrawala senja sana berubah sepenuhnya menjadi jingga.

Entah apa yang dia pandang di langit sana, namun matanya tidaklah kosong seperti melamun. Juga tidak terpaku tanpa gerak. Sesekali dia melihat ombak yang menghantam karang ataupun bebatuan yang dia pijak sekarang.

Ataupun menoleh sejenak saat bocah-bocah kampung setempat bermain ombak dengan ban. Teriakan canda dari bocah-bocah itu menarik perhatiannya meski wajahnya tetap bertahan dalam kedataran.

Namun wajahnya juga tidak selalu seperti itu. Datar tanpa ekspresi. Di hari pertama dia datang, air mukanya terlihat kaget dengan ombak yang berkejaran di sana yang terkadang bisa sampai ke atas membasahi roknya. Saat itu dia mundur spontan sambil mengangkat roknya hingga ke bawah lutut.

Ya, dia memakai rok saat pertama kali datang di pantai Violet ini. Lebar dengan kain yang bermotif gulungan berwarna krem kekuningan.

Saat itu, di balik wajah kagetnya, dia sempat tersenyum kala jemarinya mengaitkan beberapa gulung rambut di daun telinganya. Ternyata selain air, angin juga mengganggu rambutnya yang panjang tergerai melewati bahu.

Di tempatnya berdiri sekarang memang salah satu spot unggulan di pantai ini. Ujung bebatuan itu merupakan bendungan ombak yang lazim dikenal dengan batu pemecah ombak. Dibangun memanjang untuk mencegah erosi pantai. Letaknya cukup tinggi dari atas permukaan air.

Pengunjung bisa berdiri ataupun duduk di bebatuannya melihat panorama pantai. Waktu yang terbaik memang di sore hari dan menjelang Magrib. Golden Time. Di saat itu langit berubah warnanya menjadi jingga dan oleh penduduk setempat pantai ini pun menyebutnya dengan dua nama yaitu Pantai Violet dan Violet Sky.

Wanita itu tidak selalu beruntung berada di spot terbaik itu, karena senantiasa para pemancing duduk di sana berjam-jam. Atau pengunjung yang mengambil gambar. Kalau sudah begini apa yang dilakukannya?

Dia akan pergi ke warung setempat membeli kopi, walaupun setengah tidak percaya kalau dia mau meminum kopi sachetan seharga tiga ribu rupiah. Ya, begitulah. Dia meminumnya dengan nikmat.

Sudah sepantasnya bibir yang menikmati kopi itu dihidangkan dengan cangkir keramik berukir. Bukan dari gelas plastik sekali pakai langsung buang terus di daur ulang. Jangan, sungguh rendah. Perempuan itu terlihat dari keluarga terpandang yang terhormat.

Tapi, dia menikmatinya. Di tegukan pertama dia memejamkam mata. Lama lalu perlahan terbuka. Di saat itu dia melepaskan pandangannya ke pantai. Ke arah ujung bebatuan. Seakan meminta angin untuk menyibakkan sedikit helai rambutnya.

Dan memang itu yang terjadi. Angin sepoi-sepoi datang perlahan. Beberapa helai rambutnya menutup mata tapi dia membiarkan angin memainkan rambutnya. Dia tidak mengaitkannya ke daun telinga ataupun mengembalikannya ke tempat semula. Tidak. Dia tidak melakukan itu.

Wajahnya yang tertimpa oleh helaian rambut semakin menguatkan dirinya bahwa perempuan ini memang cantik. Alam raya bersatu padu menasbihkan kecantikannya dengan bekerja sama untuk mewujudkannya. Dimulai dari angin, bebatuan, ombak dan pasir.

Dimulai dari bebatuan yang seakan jadi pembanding untuk mulus kulitnya yang langsat kekuningan. Ombak menjadi penarik matanya yang sudutnya berbuah lirikan halus nan indah, lalu tidak ketinggalan pasir yang merekam jejak-jejak kakinya yang halus dan terakhir, angin yang menyibakkan rambut hitam legamnya.

Namun dari semua gambaran kecantikan itu, tidaklah lengkap tanpa kehadiran suaranya. Dia hampir tidak mengeluarkan sepatah kata. Apakah dia punya masalah dengan pita suaranya? Tidak. Dia memesan kopi dengan suaranya.

Tapi, bukan suara itu yang dimaksud. Suara yang dimaksud adalah suara yang mampu membuat ego lelaki turun. Hanya bisa diam dan menyimak pembicaraannya. Suara yang kau tak mungkin bisa memotongnya karena mata dan telingamu sudah sesak oleh kebeningan dan kehalusannya.

Suara yang jikalau kau pun tak berada di hadapannya, kau ingin mencuri dengar suaranya. Hanya untuk menjemput sedikit informasi tentangnya. Apakah dia sedang bercerita tentang pekerjaannya? Masalahnya? ataupun dia sedang membicarakan incaran barang yang dia hendak beli.

Tidak. Jangan berharap lebih. Suaranya terdengar hanya saat dia memesan kopi. Hanya itu.

Warung-warung di sini tidaklah ramai pengunjung kecuali akhir pekan tentunya. Dan perempuan ini tidak pernah datang di saat ramai pengunjung. Hingga pemilik-pemilik warung sudah hapal dengan tabiatnya.

Apa dia ingin menjadi perempuan misterius? Ya itu hak dia. Tapi pengunjung yang rutin datang tentu akan naik level menjadi pelanggan. Aneh rasanya jika tidak berbaur dan bercakap-cakap dengan pemilik warung bukan?

Lagipula perempuan itu memang datang saat tempat favoritnya dipijak oleh pengunjung yang lain. Apalagi pengunjung itu adalah seorang pemancing.

Dan pernah saat itu terjadi, dia mengambil ponsel dan berbicara. Ya, hanya itu kesempatan untuk mendengar suaranya. Dia memberitahukan kepada lawan bicaranya di ponsel kalau tempatnya dipakai dan dia harus menunggu di warung.

Dia memilih warung yang terdekat, memesan kopi, meletakkan ponselnya di dalam tas dan menunggu pesanannya diantar. Selebihnya kembali menatap ke arah ujung bebatuan itu.

Barangkali bebatuan di ujung sana menyimpan kenangan baginya. Mantan kekasihnya mungkin. Dahulu pernah bersama lalu dipisahkan oleh takdir yang tak bisa dielak.

Ada kalanya ujung bebatuan itu sepi dari pemancing dan perempuan itu langsung menuju ke sana tanpa menoleh lagi ke arah warung. Menanti langit jingga yang bernama senja itu.

Dalam penantian itu dia duduk sejenak di bebatuan. Namun langit memang tak selalu ramah dengan manusia. Ada kalanya dia mendung ataupun awan tebal menyelimuti kubah langit hingga menghalangi kerja matahari.

Jika itu yang terjadi, maka perempuan itu akan turun dari bebatuan lebih cepat dari biasanya.

Jadi, selain pemancing, langit mendung bisa membuyarkan rencananya.

Namun, mendung terkadang bukan selalu penanda hujan akan datang. Adakalanya dalam kecerahan dan biru langit, tiba-tiba hujan bisa saja turun.

Para pemilik warung pun bersorak-sorai karena warungnya akan segera didatangi oleh para pengunjung yang akan datang berteduh.

Tapi, perempuan itu tidak. Dia tetap kukuh di tempatnya. Entah apa yang dia harapkan dengan hujan tersebut. Tentunya rambut dan pakaiannya akan basah.

Seorang pemilik warung pernah berteriak memanggilnya dari kejauhan untuk segera berteduh dari hujan. Tapi dia menggeleng pelan sambil menunjuk langit dengan gerakan setengah melingkar.

Pemilik warung itu pun menyerah di dalam ketidaktahuannya soal isyarat itu. Apa maksudnya menunjuk langit dengan gerakan setengah melingkar? Meski pemilik warung itu akhirnya menengadah ke langit setelah hujan berhenti. Dan dia kaget setengah mati.

Ternyata pelangi.

Dengan mulut ternganga pemilik itu tidak percaya apa yang dia lihat. Gerakan setengah melingkar itu ternyata ramalan akan datangnya pelangi. Gegap gempita dia memanggil anaknya untuk melihat langit. Dan diikuti oleh puluhan ponsel pengunjung yang mengabadikan momen tersebut.

Perempuan itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah pemilik warung. Padahal itu hanya soal pengetahuan IPA dasar. Air hujan itu seperti prisma yang akan membelokkan cahaya matahari menjadi tujuh warna. Tidak ada ramalan-ramalan di situ.

Jika yang lain heboh dengan penampakan tersebut, perempuan itu tidak sama sekali. Dia tetap setia dengan langit jingga. Dia hanya butuh satu warna untuk menemani senjanya.

Baginya mungkin warna-warna pelangi itu hanyalah pecahan dari cahaya. Manusia melihatnya sebagai keindahan setelah bersembunyi dari kepanikan hujan.

Seperti kebahagiaan yang akan datang setelah kesedihan. Air mata yang dihapus oleh jemari cahaya dan memecahnya dengan berbagai warna.

Baginya, dia hanya butuh satu warna untuk menemani kesendiriannya dengan alam. Mungkin warna kesukaannya adalah jingga. Atau memang senja di sini berbeda dengan senja di tempat lain yang pernah dia kunjungi. Tidak ada yang tahu tujuannya kemari selain mengunjungi bebatuan itu dan menanti senja di sana.

Dan sore ini dia kembali datang. Di minggu ke empat sejak pertama dia datang. Alangkah beruntungnya perempuan itu datang ke warungku dan memesan sebuah kopi. Sebuah tarikan alis dan senyum kecil kuberikan kepada pemilik warung yang lain. Tentunya memamerkan perempuan ini.

Dia memang selalu memilih warung yang mejanya sepi oleh pengunjung. Warung yang biasa dia kunjungi dan memang letaknya dekat dengan bebatuan masih ada pengunjung. Begitu juga dengan warung-warung di sebelahnya.

Aku memang sudah lama memperhatikannya dan berharap dia datang mengecap kopiku sekali saja. Melihatnya dari dekat dan mungkin dengan sedikit keberanian mengajaknya berbincang.

Sedikit saja yang aku butuhkan. Sebuah perbincangan yang bermutu dan bukan sebuah tawaran, “Mau minum apa mbak?”

Bukan … bukan itu. Perbincangan yang diawali dengan pertanyaan nama, alamat, tanggal lahir dan … no KTP? Ha-Ha-Ha lihatlah, masih membayangkan percakapannya saja aku sudah grogi dulu.

Tanpa bertanya lagi aku sudah menyiapkan kopinya. Sebelumnya aku memang sudah tahu pesanannya. Kopi yang tidak terlalu manis juga tidak pahit. Bocoran ini kudapat dari pergosipan para pemilik warung. Hal itu sudah biasa kami lakukan jika melihat para pengunjung yang datang.

Aku mengantarkan pesanannya ke meja tepat saat dia membuka ponselnya dan terdengarlah suaranya yang berkata, “Halo”.

Benarlah apa yang teman-teman seprofesiku mengatakan. Suaranya memang khas. Aku pun menajamkan telingaku dan menyampingkan suara-suara lain yang sudah kuanggap sebagai polusi.

Entah kapan lagi aku punya kesempatan untuk mendengar suaranya langsung dengan jarak dekat seperti ini, apalagi saat dia berkata kepada teman di ponselnya. “Ini terakhir aku ke sini.”

Apa dia mau pergi ke luar kota? Apa dia sudah bosan dengan senja di sini? Pertanyaan-pertanyaan di benakku itu semakin kacau setelah mendengar dan melihat isak kesedihannya.

Sadar diperhatikan olehku, dia memalingkan wajahnya. Menghindar dari tatapan kecemasanku. Aku kembali menajamkan telinga dan hanya beberapa kalimat tak utuh yang bisa kudengar.

“Aku sudah lelah dengan semuanya.”

Dan setelah kalimat itu dia terdiam. Mendengarkan suara dari temannya di ponsel sambil sesekali isak kesedihan terdengar dari mata dan tarikan napas kecil dari hidungnya.

Perempuan ini sedang menahan tangis yang mungkin bisa saja meledak jika dia sedang berada di kamarnya sendiri.

Aku tak lagi sempat melihatnya menyeruput kopi buatanku karena wajahnya yang berpaling ke arah pantai. Menunggu pemancing itu pergi dari tempatnya.

Jika pemancing itu belum juga pergi hingga Magriba tiba, maka perempuan ini tidak bisa menikmati violet senja di ujung bebatuan sana karena ini adalah hari terakhirnya.

Sangat disayangkan. Aku berpikir keras dan sangat keras untuk membantu perempuan ini menikmati senja terakhirnya di sini. Apa yang harus aku lakukan?

“Maafkan kalau aku ada salah,” kata perempuan ini di sela-sela pikiranku yang sedang bekerja keras.

Perempuan ini memang pergi kemana hingga meminta maaf kepada temannya.

Sejenak kemudian, perempuan ini tertawa kecil dalam kesedihannya.

“Ah, ngaco kamu. Siapa yang mau mati. Emang minta maaf pesan sebelum mati. Kalau gitu lebaran bakal banyak yang mati dong.”

Perempuan ini bercanda juga rupanya. Aku tersenyum kecil mendengarnya dan di saat itu tiba-tiba saja aku mendapatkan ide yang brilian.

Kupanggil bocah-bocah yang bermain dengan ombak. Dengan sedikit upah aku meminta mereka untuk mengusir pemancing itu dari tempatnya. Entah bagaimana caranya.

Dari kejauhan aku melihat bocah-bocah itu beraksi. Mereka memindahkan arena permainannya di bebatuan pemecah ombak tersebut. Semakin lama semakin dekat dengan si pemancing.

Mereka tidak peduli dengan kemarahan pemancing yang mengusir mereka. Semakin lama pemancing itu jengah dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Inilah saatnya perempuan itu pergi. Dan benar kata teman-temanku. Dia meninggalkan duit di meja tanpa bertanya harga pesanannya dan tidak pernah peduli dengan kembaliannya.

Masih dengan ponsel di telinganya dia beranjak berdiri dan berkata kepada temannya, “Aku pergi dulu.” Tanpa menoleh lagi ke kanan kiri ataupun ke arahku, pemilik warung.

Dia sangat terburu-buru seperti takut kalau jingga di langit itu akan hilang di telan malam. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau tasnya tertinggal di meja.

“Mbak, tasnya tinggal!”

Aku setengah berteriak dan berlari kecil mengantarkan tasnya. Aku senang saat melihat wajah herannya. Awalnya hanya kepalanya yang sedikit memutar. Namun saat aku sudah sampai, seluruh tubuhnya sudah sempurna berhadapan.

Aku menjulurkan tanganku tanpa pernah melepas pandanganku dari matanya. Sesaat jemari ini bersentuhan dengan jemarinya, tapi aku tak lagi merasakannya karena aku sudah tenggelam oleh kesedihan di matanya.

“Makasih,” balasnya dengan halus. Ada sisa kegetiran di ujung suaranya.

Itulah percakapanku dengannya. Pertama dan terakhir. Dan aku pun memilih tidak beranjak. Menyaksikan langkah dan pinggulnya yang bergerak perlahan ke ujung bebatuan di sana.

Langit sedang memainkan gradasinya lewat warna kuning biru dan jingga saat perempuan itu sudah berada di ujung bebatuan. Kepalanya tegak menghadap cakrawala di seberang jauh sana.

Dia menoleh sebentar ke arahku dan setelah itu, pasir pantai sudah seperti paku bumi yang membuatku tidak bisa bergerak. Aku berlutut di pasir. Dayaku habis untuk menyusul orang-orang yang berlarian ke arah ujung bebatuan.

Pikiranku berkecamuk tak menentu, apakah ini kepergiannya? Permintaan maaf terakhirnya? Melompat ke bawah batu? Aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Perempuan itu ternyata bukan menanti senja, tapi menanti kegelapan yang abadi.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!