Pliss look at me
8.4
2
63

Jangan pernah menganggap kami sama karena nyatanya kita tidak akan pernah sama.

No comments found.

Seorang pemuda dengan perawakan mungil melangkah gontai menuju kamarnya yang berada dipojok, kamar yang selama 5 tahun ini menjadi rumahnya, tempat ia menumpahkan segala hal. Rumahnya sudah sepi karena hampir seluruh lampu sudah mati hanya menyisakan lampu dapur, teras depan, dan gazebo. Ia tersenyum miris memangnya siapa yang akan menunggunya pulang, disaat mereka malah mengharapkan dirinya tak pernah lagi pulang. Sesampainya dikamar ia langsung mengganti bajunya yang sudah basah oleh air hujan, ia tidak mau membuat keluarganya repot kalau ia sakit, ia cukup sadar diri dengan statusnya disini. 

Ia menghempaskan tubuhnya kekasur dan menghela nafas lelah, sampai kapan ia akan bertahan dengan kondisi seperti ini, batinnya. Sungguh ia lelah bukan hanya fisiknya namun juga batinnya, seakan tidak cukup hanya dengan kekerasan, cacian dan lontaran kata-kata yang menghinakan dirinya turut menyertai kesehariannya. Sakit, namun tidak ada yang tahu atau mungkin mereka pura-pura buta, jadi yang bisa ia lakukan hanya menahannya sendiri.

Ia kemudian bangkit dan mengambil sebuah foto diatas nakas kacilnya, diamatainya lamat-lamat dua anak kecil yang berwajah sama hanya postur tubuhnya saja yang berbeda, yang satunya tersenyum kalem dan yang satu dengan senyum ceria. Lagi-lagi sesak itu hadir, hatinya bagai ditusuk ribuat belati, sakit namun tak berdarah. 

Ia rindu, sangat rindu dengan wajah itu tapi disatu sisi ia juga merasa sakit dan bersalah. Tanpa terasa wajahnya sudah penuh dengan air mata yang sudah menganak sungai tanpa ada niatan untuk sekedar menghapusnya, biarlah ! biar kali ini saja ia ingin tampak tidak baik-baik saja.

“Rey kangen sama kakak, andai aja kakak masih ada. Mereka berubah kak papa, mama, sama abang udah nggak sayang aku lagi” gumamnya lirih.

Ya pemuda itu adalah Reyhan Gevaldy Prasetya, putra bungsu dari pengusaha terkenal dibidang otomotif Nareza Prasetya dan istrinya Camelia Andini. Putra yang selama 5 tahun ini adanya tak pernah dianggap oleh keluarganya, pemilik wajah bulat dengan bulu mata lentik juga 1 dimple dipipi kanannya, pemilik senyum sehangat matahari yang mampu membuat orang lain berfikir kalau ia adalah manusia paling bahagia di dunia.

Matanya terpejam merasai sisa-sisa hangat tangan sang ibunda yang dulu selalu merengkuhnya hangat, sang bidadari yang dulu pernah berjanji akan selalu memeluknya dalam keadaan apapun. 

” Kakak kejar adek! ” teriak bocah gembul berumur sepuluh tahun pada saudara kembarnya.

Dengan langkah riangnya ia berlari memutari kursi taman tempatnya piknik bersama keluarganya, hingga semakin lama ia makin jauh dari tempat orang tuanya.

“Adek jangan lari-lari nanti dadanya sakit” teriak sang kakak.

Pemuda kecil itu berhenti dan mengerucutkan bibirnya menghadap yang lebih tua ” adek ok kakak tidak ada yang sakit” ucapnya kesal kemudian berlari lagi.

Mata sang kakak membulat menyadari bahwa adik cerobohnya berlari ketepian jalan raya.

” Adek jangan kesana itu jalan raya!” teriaknya.

Entah karena bising atau apa, ia tak mendengar seruan kakaknya lalu tiba-tiba….

“ADEK !”

Braakk 

Tubuh kecil itu terdorong ketrotoar, ia mencoba bangun dan melihat siapa yang mendorongnya karena sebelum itu ia seperti mendengar suara kakaknya. Namun saat ia berbalik dirinya mematung melihat kakaknya sudah terkapar bersimbah darah.

“Kakak” gumamnya sebelum kegelapan menyambutnya. 

Reyhan terbangun dengan nafas memburu, bulir keringat dingin terpampang jelas diwajah pucatnya. Mimpi itu datang lagi, satu- satunya memori yang paling ingin ia hapus atau kalau bisa tidak pernah terjadi.

Sejurus kemudian pintu kamarnya dibuka dengan kasar, siapa lagi kalau bukan si kepala keluarga. Remaja itu terlonjak kaget membuat dadanya sedikit nyeri namun ia tahan, disana papanya berdiri dengan wajah merah padam, ia sudah hafal kebiasaan ini kalau papanya lelah, emosi atau ada masalah dikantornya pasti akan ia lampiaskan padanya.

“Pa-pa” ucapnya bergetar.

Reza mencengkeram tangan mungil itu kuat “Cepat kebawah dan siapkan makanan” ucapnya dingin.

Setelah papanya pergi ia segera bergegas kebawah sesuai perintah, memang ada maid disana namun tidak ada satupun yang diperbolehkan membantunya.

“Pa ma-af rey masaknya dikit ya so-soalnya rey la-lagi nggak enak badan” ucapnya lirih dipenghujung tangga.

Reza yang duduk dimeja makan lantas murka, ia bangkit dan menarik kasar tangan putranya dan menyeretnya kedapur, para maid yang melihat menatap iba namun tidak bisa berbuat apa- apa. Sesampainya disana ia hempas tubuh kecil itu hingga tersungkur membentur lantai marmer.

“Jangan banyak alasan ! Cepat masak sudah untung saya masih mau menampung kamu disini harusnya kamu sadar diri” ucapnya penuh penekanan.

Ia mencengkeram rahang kecil rey, membuat mata bulat itu menatap sendu papanya ” jangan membuat saya marah”.

Lia, istrinya hanya diam tanpa ada niat untuk menolong karena jujur ia pun selalu merasa sakit saat melihat reyhan karena ingatan tentang putranya yang telah berpulang selalu hadir. Sedangkan sang sulung memilih pergi karena dirinya selalu tidak tahan melihat adiknya diperlakukan begitu, namun apalah daya dirinya tidak bisa apa- apa karena papanya.

Reza menajamkan pandangannya lalu kembali mencengkeram dagu kecil itu. 

“LIHAT KARENA KAMU ANAK SAYA PERGi ! KARENA KAMU !” ia berteriak didepan wajah sang anak membuat rey memejam sambil menahan isakannya agar tak keluar, sungguh ia ingin berkata kalau ia juga putranya.

Ia tak berani melihat wajah marah papanya, selain itu ia juga tengah menahan sakit didada dan kepalanya.

Reza melepaskan cekalannya dan menendang reyhan dengan brutal reflek ia melindungi dadanya dengan kedua tangannya.

“KARENA KAMU ANAK SAYA PERGI ! KENAPA HARUS ANAK SAYA ? KENAPA HARUS REYGAN YANG PENURUT DAN MEMBANGGAKAN ? KENAPA BUKAN KAMU PEMBAWA SIAL, PENYAKITAN DARI DULU KAMU SELALU MENYUSAHKAN BODOH. HARUSNYA KAMU MATI PERGI_”

“Cukup mas dia bisa mati!” ucap lia, ia menghentikan aksi suaminya yang terus memukul dan menendang brutal putranya, ia tak tega melihatnya. Walau ia membenci rey tapi dalam lubuk hatinya nya merasa sakit ketika melihat buah hatinya yang dulu ia kandung selama 9 bulan babak belur ditangan ayahnya sendiri, apalagi ia tahu betul tenaga suaminya yang bertubuh tegap tak sebanding dengan anak bungsunya. Ia menarik suaminya dan membawanya pergi dari sana.

“Jangan harap setelah ini kamu masih memiliki tempat disini” ucapnya sebelum pergi.

Disisi lain reyhan berusaha mati-matian menahan sakit disekujur tubuhnya, walau tidak bisa dipungkiri semua itu tidak sedikitpun mengurangi rasa sakit hatinya. Ia menangis dalam diam, papanya membencinya mamanya bahkan tidak sudih menyebut namanya, abangnya juga tampak tidak peduli padanya, dan satu-satunya alasan ia untuk bertahan telah pergi jauh sukar untuk digapai.

“Nggak ada yang sayang rey disini kak” gumamnya.

Perlahan ia bangkit, tersenyum miris saat ingat bahwa dulu rumah ini adalah surganya, tempatnya berlarian penuh tawa ketika masih menjadi kesayangan mereka. Ia memantapkan hatinya jika memang tidak ada yang mengharapkan hadirnya maka ia ikhlas jika memang harus pergi ketempat sang kakak.

Reyhan berjalan gontai ditepi jalan, sudah lewat 3 hari sejak kejadian itu papanya semakin sibuk dikantornya, mamanya menginap dirumah temannya dan abangnya belum pulang sejak hari itu. Masih teringat jelas diotak kecilnya semua perkataan papanya waktu itu.

” Kalau aja boleh milih aku juga nggak mau kakak pergi pa, lebih baik aku aja, tapi pa aku juga sama, aku anak papa” lirihnya.

Rey baru sadar ternyata selama ini ia hanya bisa merepotkan dan menyusahkan keluarganya, kemana saja dirinya sampai-sampai ia tak sadar sudah menjadi beban orang lain.

Ditengah lamunannya ia merasa ada yang menepuk pundaknya, ia menoleh dan mendapati seorang pria tampan beberapa tahun diatas abangnya. Bayu Antariksa, dokter pribadinya setelah ayahnya dokter Andre, dokter pribadi rey sejak kecil meninggal. Ia tersenyum lembut pada pemuda kecil itu.

“Kak bayu ! Apa kabar kak?” tanyanya dengan senyum manisnya.

See ! dia pembohong ulung bukan ?

Bayu terkekeh ” harusnya kakak yang tanya apa kabar ? Kenapa jarang check-up ?” 

“Oh itu lagi banyak tugas kak”

“Tetep aja rey kamu harus perhatikan kesehatan kamu” ucapnya menasehati.

“Iya kak”

“Ehm btw rey mau kemana ? Kok sendirian?”

“Oh itu rey baru dari taman kak habis ketemu teman” ucapnya penuh kebohongan.

Beruntung dia sempat membersihkan diri tadi jadi tidak akan tampak kalau dia adalah korban kekerasan. Namun tentu bayu tidak bodoh untuk menyadari beberapa lebam di sekitar wajahnya walau sedikit samar namun ia berusaha untuk percaya dan menunggu rey bercerita sendiri.

“Ya udah kak udah sore aku pulang dulu takutnya nanti orang rumah nyariin” ucapnya.

Bayu menghela nafas berat ” Rey” panggilnya 

Reyhan menoleh, bayu segera menghadapkan tubuh pemuda itu padanya ia tatap manik madu itu dalam.

“Rey kamu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, kalau kamu butuh apa-apa atau ada apa-apa kamu bisa berbagi sama saya” ujarnya sambil menangkap wajah kecil rey.

Rey hanya menatapnya polos wajah tampan dihadapannya “anggap saya kakak kamu, kamu bisa menjadikan saya rumah untuk kamu, saya juga mau menyampaikan kalau kamu sudah mendapatkan donor yang cocok nanti kamu bisa sampaikan ke orang tua kamu dan besok kamu bisa datang ke rumah sakit untuk memulai perawatan. Kamu mau kan ?” 

Mata rey berembun mendengar penuturan dokter Bayu, ia merasa de Javu “adek bisa jadikan kakak rumah untuk adek saat tidak ada runtuh untuk adek pulang” ucapan reygan seolah kembali ia dengar. Kenapa harus orang lain yang mengucapnya ? Mengapa bukan keluarganya? Mengapa juga disaat ia hampir menyerah ?

Sebisa mungkin rey terlihat tegar ” Rey oke kak, sudah ya rey pulang dan ya besok rey janji akan datang” ucapnya lembut. Bayu terdiam memandang punggung rey yang semakin menjauh entah kenapa perasaannya tidak enak saat mendengar ucapan rey tadi. Harusnya ia senang karena rey mau melakukan perawatan dan operasi, itu berarti ia akan sembuh.

Rey berhenti disebuah rumah pohon ditepi danau, mencoba menaikinya. Disana ada beberapa mainan anak- anak, boneka beruang dan foto- foto usang.

“Maaf ya rey jarang kesini jadi tidak sempat bersih-bersih” gumamnya.

Tempat ini adalah tempat bermain sikembar dulu yang letaknya tidak jauh dari rumahnya, ia mengambil selimut dan bantal dari dalam lemari kecil dan beristirahat.

Pagi ini hatinya sedang senang, bagaimana tidak semalam ia bermimpi bertemu dengan kakak tercintanya juga ia memimpikan masa indahnya dulu. Ia berjalan riang sambil bersenandung.

” Adek seneng ketemu kakak, kakak pasti mau jemput adek kan ? Bentar ya kak adek mau pamit dulu” monolognya sendiri.

Reza menatap foto kedua putra kembarnya kemudian tersenyum kecil saat mengingat tingkah mereka dulu  namun senyum itu hilang kala ingatan 5 tahun lalu kembali hadir.

” Kenapa reygan tinggalin papa nak? Papa rindu sekali dengan reygan” lirihnya.

Sedang disisi lain rey tanpa sengaja melihat papanya tengah dibidik oleh seseorang, sontak ia berlari sekencang mungkin dan memeluk erat tubuh tegap itu.

Dor

Reza tersentak kaget saat mendapati pelukan itu belum lagi suara peluru yang mengarah kedirinya.

“Papa oke ?” Tanya rey lirih.

Reza menunduk melihat wajah putranya “ka-kamu apa yang kamu lakukan ?” Tanyanya syok.

Ia yang merasa pelukan sang anak mengendor refleks balas memeluk dan saat itulah ia menyadari darah merembes begitu banyak dari punggung atas rey. Terpaksa ia melepas paksa rey dan membaringkan tubuh lemah itu dipangkuannya.

“Rey” lirih nya “kenapa?”

“Papa da-lam baha hah ya “

“Maaf rey maaf”

Rey tak menjawab tapi justru tubuhnya menegang.

Uhuk uhuk Hoek 

Darah segar keluar dari mulut kecil rey 

“Sa-kit hah argh”

“Pa sa ugh uhuk kit”

“Kamu tahan ya kit ke rumah sakit sekarang ” ia berujar panik.

Sepanjang perjalanan reza berusaha menjaga kesadaran putranya, ia mengajaknya bicara meski rey tidak lagi bisa merespon dan hanya kata sakit yang terus digumamkan dengan lirih diambang batas kesadarannya.

Reza mengecup dahi putranya, memeluk tubuh putranya yang semakin mendingin itu dengan erat, sungguh ia takut sekarang. Rasanya sama seperti saat ia memangku tubuh kecil putranya 5 tahun lalu apalagi mereka kembar identik.

Tangis reza kembali pecah saat merasakan tangan yang sedari tadi menggenggamnya erat berangsur melemah. Ia genggam kuat tangan dingin bungsunya berharap itu bisa membuatnya bertahan.

Sesampainya diRS ia langsung dibawah keruang operasi bertepatan dengan bayu yang baru keluar dari ruangannya dan mendapati ayah dari pasiennya berlarian tergesa. Operasi dimajukan karena keadaan rey sudah terbilang buruk. Reza menatap kosong pintu kaca ruang operasi, perlahan ia angkat kedua tangannya yang masih basah oleh darah sang anak.

Ya Allah kenapa sesakit ini ? Ia pikir dengan menjauhkan rey dari mereka membuat rasa sakit kehilangan reygan yang mendonorkan jantungnya untuk adiknya akan hilang namun semuanya tidak sesuai dengan pikiran mereka. Selepas kecelakaan memang reygan sempat sadar sebelum ia tahu kalau adiknya berada dalam kondisi kritis karena gagal jantung jadi ia memaksa orang tuanya untuk memberikan jantung miliknya untuk sang adik.

Ya Allah dada ini begitu sesak !

Astaghfirullah….

Apa ini teguran baginya karena sudah berbuat dzolim pada putranya sendiri, namun bagaimana jika Allah memang akan mengambil buah hatinya ?

” Ya Allah hamba mohon ampun ! Tolong jangan ambil putra hamba, hamba belum meminta maaf dia juga belum bahagia” pintanya pilu.

“Mas!”

Panggilan itu membuatnya menoleh ia langsung berhambur memeluk istrinya, ia memang sempat meminta tolong untuk menghubungi keluarganya.

” Aku gagal lia, aku gagal jaga dia” racaunya. 

” Sudah mas aku juga salah disini bukan hanya kamu yang terpenting sekarang kita berdoa” ujar Lia.

Ia juga merasa terpukul, menyesal dulu hanya diam saat sang suami menyiksa anaknya, harusnya ia ingat kalau jantung bungsunya tidak sekuat itu. 

“Adek !” panggil rendra lirih, Jarendra Aldi Prasetya. Si sulung berucap lirih sambil mengusap lembut kaca pembatas seolah mengusap pipi gembul adiknya dulu meski kini ia tidak dapat melihat kedalam ruang itu.

Ia menyesal sungguh, ia beranggapan kalau saja dirinya tidak sebodoh itu ikut-ikutan menyalahkan sibungsu atas kepergian reygan dan membiarkan tangan besar papanya menyiksa tubuh kecil itu adiknya pasti masih baik-baik saja. Ia menempelkan pipinya pada kaca itu, terisak lirih dan menyayat hati. Dia takut, takut adiknya menyerah dan tidak mau memberikan kesempatan lagi pada mereka karena sejatinya reyhan sudah berkali-kali memberikan mereka kesempatan.

“Adek katanya rindu dengan abang ? Kesini sayang ! Kita pulang, nanti kita bobok dikamar abang, abang peluk kamu, jangan tidur disitu dek” ucapnya pilu.

Entah ini karma atau apa tapi semua orang merasakan begitu banyak penyesalan dan kesakitan, bodohnya mereka selama ini buta dengan kebenaran, bahkan para pekerja yang ada dirumah reza ikut merasa menyesal karena tidak berani membantu tuan kecil mereka.

Bayangan rendra kembali pada malam seminggu yang lalu saat ia akan pergi kedapur untuk mengisi air, tanpa sengaja ia melihat kearah kamar sikembar dulu. Awalnya ia tak acuh tapi saat kembali ia mendengar suara tangis yang tertahan, entah kenapa hatinya tergerak untuk melihatnya, dari celah pintu yang sedikit terbuka itu ia bisa melihat reyhan memeluk boneka pinguin besar dari reygan sambil menangis, di tangannya juga ada selembar foto yang diyakininya adalah foto keluarganya.

” hiks adek kangen semua, kenapa semua berubah ? Kenapa hiks begini kak ? Adek hiks mau sama kakak nggak suka disini ” tangisnya.

Sekejap tubuh rendra menengang mendengar perkataan adiknya tapi kemudian ia memilih tak acuh, dan sekarang terbukti adiknya tidak suka disini dan lebih memilih saudara kembarnya.

Ceklek 

Suara itu mengalihkan atensi mereka bertiga, bayu keluar dengan wajah lelahnya.

“Rey, rey bagaimana Bayu ? Rey baik-baik saja kan ?” tanya reza panik.

Bayu memejamkan matanya menahan amarahnya yang akan meledak, kemana saja mereka selama ini ?

“Buat apa saya jawab jika jawaban yang kalian inginkan hanya tentang kematiannya” ujarnya dingin.

Reza mematung ” om mohon bayu katakan ! Om ingin tahu keadaan anak om, om benar- benar menyesal” ucapnya bergetar.

“Tante mohon nak selamatkan anak tante” Lia memohon.

Bayu menghelah nafas pelan “Rey ingin bertemu kalian” ia berucap serak sambari menahan tangis.

Deg 

Jantung mereka seakan jatuh kebawah mendengar perkataan dokter muda itu, tentu mereka tidak bodoh untuk mengetahui separah apa kondisi sang putra saat kata-kata itu terucap. 

Tanpa babibu mereka langsung berlari kedalam, peralatan operasi sudah dibereskan menyisakan sikecil yang tidur diatas breankarnya. Reza mengambil posisi disamping kanan sang putra dan lia juga rendra disisi kiri. Ia usap lembut rambut putranya yang semakin menipis seperti dulu sedangkan lia menggenggam tangan dingin putranya yang dialiri infus darah, rendra juga ikut mengusap dada kecil adiknya yang bergerak begitu lambat nyaris tak bergerak jika tidak diamati.

Mata mereka seolah terbuka lebar melihat kondisi sikecil yang sangat jauh berbeda dengan 5 tahun lalu. Pipi bulatnya yang dulu sudak tidak ada, bahkan tulangnya tampak menonjol di dada, tangan dan kakinya. Wajah manis itu kini tampak pucat dengan bibir yang mengering. Air mata mereka berlomba- lomba turun, bagaimana bisa mereka sebuta itu ?

“Adek!” panggil Reza lirih 

Ajaibnya mata rey perlahan terbuka meski sayu, padahal kata suster yang menanganinya rey tidak merespon sama sekali sejak sempat henti jantung dan nyaris kehilangan tekanan darah.

“Pa ” lirihnya dibalik masker oksigennya.

“Iya nak papa disini, lihat ada mama juga” jawab sang ayah. Rey mengalihkan pandangannya dan bertemu dengan manik cantik mamanya.

“Ma-ma” 

“Iya sayang ini mama adek kuat ya nak, mama papa sama abang disini buat adek” ucap lia menahan tangisnya.

“A-adek?” Tanyanya tebata.

Rey tersenyum lemah ia bahagia mendengar panggilan itu lagi, sepertinya sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu ditujukan untuk dirinya. Dan hari ini ia masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang mereka meski waktunya tidak lama lagi namun ia sangat bersyukur.

“Iya nak, adek mau kan nak berjuang sekali lagi?” Ujar sang ayah.

Rey tidak menjawab hanya memandang sayu kedua orangtuanya.

“A-adek” panggil rendra, rey menoleh, itu abangnya.

“Adek kuat, abang percaya adek pasti bisa nanti adek minta apapun akan abang kabulkan”

Mata reyhan berkaca-kaca sungguh sebenarnya ia masih ingin disini namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit terlebih dadanya bahkan nafasnya kini terdengar makin berat dan cepat. Ia merasa de Javu dulu ia sering berada dikondisi ini saat collaps.

Tiba-tiba ia merasa sakit di dadanya makin hebat, resanya seperti dipukul oleh palu berkali-kali dan terasa panas jantungnya seperti akan meledak.

“Akh” erangnya lemah 

“Adek!” seru mereka panik 

“Papa panggil dok_”

“Rey ! Ada apa ini ?” tanya dokter bayu yang baru saja masuk dengan wajah cemas saat mendengar teriakan mereka.

“Bayu tolong rey” mohon reza 

” Sebentar om”

Baru saja bayu akan bertindak tapi tangannya sudah dicekal oleh tangan lemah rey.

“U-dah kak ja-jangan rey hah cuma bu- tuh pa eshh pa”

“Tapi rey_”

“Plis argh”

Mereka semua menangis melihat rey tidak lagi mau ditangani.

Lia dan reza menggenggam tangan rey berusaha menguatkannya.

“Ada papa sama mama disini, rey nggak perlu takut” ucap Reza 

Rey tersenyum disela sakitnya ” ma-af belum ja-di anak hah ba hah hik”  ia menjeda kalimatnya ” makasih bu-buat semu ugh anya papa hahh ma-ma ab hahh bhang” ucap rey lirih dengan nafas putus-putus.

Lia sudang menangis sambil menggeleng ” nggak nak rey anak baik mama bangga sama rey justru mama yang bilang makasih sama rey sudah mau menjadi anak mama”

“A-adek caphekh ma mau bo-bok yah rey pa-mit arg” 

“Rey” lirih Reza 

Ia segera memeluk tubuh ringkih putranya yang bergerak brutal dan tidak terkendali nafasnya putus-putus dengan tangan yang memukul lemah dadanya yang terdapat bekas operasi. Ia memegang erat dua tangan mungil putranya.

” Arg sa-kit hahh arg”

” Tenang nak istighfar sayang”

“Hahh ugh uhuk uhuk Hoek”

Reyhan memuntahkan banyak sekali cairan merah sampai mengotori piyama dan kemeja sang ayah, bahkan selimuti nya ikut terkena noda darah.

Dengan bergetar ia usap mulut kecil putranya yang sudah penuh darah tapi lagi-lagi mulut kecil itu kembali memuntahkan darah.

“uhuk uhuk”

“Adek! nak!” Ucapnya bergetar.

Lia terus menerus memeluk tubuh kecil putranya sambil terus menangis sedangkan si sulung memeluk kedua kaki adiknya mendekapnya erat sembari menciumnya, ia terus menggunakan kata maaf.

Entah sudah berapa banyak darah yang dimuntahkan oleh putranya, ia eratkan pelukannya saat ia merasa tubuh itu semakin mendingin bahkan bibirnya sudah mulai membiru.

“Pu-lang ka-khak” lirihnya terbata.

Entah pemuda itu masih sadar atau tidak, sedangkan mereka yang mendengar itu semakin histeris, reza terus menciumi puncak kepala putranya, reyhan kembali muntah dalam pelukan papanya tubuhnya menggeliat tak karuan kemudian tidak lama ia mengejang hebat. Semuanya kalut melihat kondisi sikecil, sungguh ini sangat menyakitkan mengapa harus malaikat kecil mereka ?

Tiba-tiba tubuh itu berhenti bergerak dan terkulai lemah dengan mata tertutup rapat disusul oleh monitor EKG yang menampilkan garis lurus.

“ADEK !!!”

Reza memandangi tempat disekelilingnya terasa asing namun sangat nyaman, ia tidak tahu kenapa ia bisa berada disini. Bukankah seharusnya ia…..

Astaghfirullah

Ia lupa, dimana putranya?. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah tapi ia tidak dapat menemukan reyhan.

“Rey”

“Reyhan kamu dimana nak?” Ia berteriak seperti orang kesetanan.

Air matanya berjatuhan tubuhnya melemas jatuh terduduk dan menangis tersedu sebelum sebuah suara memanggilnya.

“Papa”

Reza mendongak dengan cepat ia terpaku beberapa saat sebelum akhirnya kembali merengkuh putranya dengan erat, ia hapus air matanya dengan kasar.

“Maaf kan papa nak, jangan pergi lagi sayang ! Papa mohon, hidup papa hancur kalau kamu nggak ada”

“Maaf”

Sedangkan pemuda itu hanya diam tidak balas memeluknya, namun tatapannya menunjukan rasa marah, kecewa dan rindu secara bersamaan.

“Pa” dengan pelan ia memanggil reza.

Reza mendongak “aku bukan adek” ucapnya tenang.

Reza mematung, otaknya masih memproses apa yang diucapkan putranya, ia pandang sekali lagi pemuda itu, ternyata benar ia bukan reyhan bungsunya. Perlahan ia menyibak pelan rambut depan putranya, tanda lahir itu milik reygan putra keduanya, benar juga kalau dilihat pasti akan tampak bahwa tubuh ini lebih besar dan tegap dibandingkan si bungsu, wajahnya juga lebih kalem.

” Reygan anak papa” ucapnya bergetar. Ia kembali memeluk reygan.

” Iya pa ini egan”

“Papa kangen sama kamu kamu nak”

“KAKAK juga pa” balasannya sambil menekan kata kakak.

Entah mengapa ia merasa tidak nyaman dengan balasan putranya apalagi tadi ia tidak memanggilnya kakak seperti dulu, dan saat ia melepas pelukannya matanya bisa menangkap tatapan kecewa dari reygan, ia menunduk berusaha untuk tidak menatap manik lembut putranya apalagi tinggi reygan hampir sama dengannya.

“Kenapa pa ?” Tanyanya pelan 

“Maaf nak” ia tahu arah pembicaraan ini.

Tiba-tiba

“Kakak!!” 

Reza tersentak kaget, ia mengenal suara kecil dan lembut ini, suara yang sudah ia abaikan selama 5 tahun ini. 

Kenapa bungsunya ada disini ? Itu pikirnya. Perlahan ia beranikan diri untuk melihat reyhan. Ia bisa melihat reygan menghampiri saudara kembarnya lalu menggendongnya.

Alisnya berkerut kala netra mereka bertemu tapi reyhan hanya diam tidak menghampirinya, apakah sudah sebenci itu sang anak pada dirinya bahkan untuk menyapa saja ia tidak sudi ?

“Adek mau bobok kakak” ujarnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang kakak.

” Iya adek tidur saja kakak puk puk ok”

“Hu um”

Tak lama yang lebih muda sudah pulas, reygan menidurkan adiknya disebuah ranjang kecil dibawah pohon, suasana yang begitu sejuk membuat lelap reyhan semakin nyaman.

Perlahan tangannya ia julurkan untuk mengusap kening sempit reyhan tapi belum apa-apa tangannya sudah ditepis pelan oleh reygan.

“Jangan pa!” lirihnya ” udah cukup ya pa jangan lagi” pintanya sendu.

Ia menatap nanar tangannya bahkan untuk menyentuh saja ia tidak bisa.

“Maaf nak maafkan papa”

“Aku kecewa sama papa”

“Maaf reygan”

“Papa kenapa jadi jahat gini sama adek pa ? Padahal dulu kita selalu jagain dia. Apa sebenarnya salah dia pa? Dia bahkan nggak tahu salahnya apa tapi harus menanggung sakitnya sendiri.”

“Maaf nak” hanya itu yang mampu ia katakan.

“Kasihan dia pa” reygan masih setia mengusap lembut rambut tebal adiknya yang tampak tidak terusik sama sekali dengan perdebatan mereka.

“Aku tahu kepergian ku buat kalian sakit tapi apa pantas kalau kalian melimpahkan semua keadek, dia udah sakit dari dulu jangan dibuat sakit lagi” ucapnya sendu.

Reygan terkekeh miris melihat kebungkaman ayahnya ” jadi kalau memang kalian sudah tidak mau menjaganya biar aku aja pa yang jagain dia ” ucapnya tenang.

Mata reza membulat ” jangan nak papa mohon, papa tahu papa salah tapi tolong jangan bawa adik kamu” mohon ya.

“Buat apa pa ? Buat papa sakitin lagi ? Papa pikir aku akan percaya setelah semua yang udah papa lakukan keadek. Aku berusaha sebisaku untuk mempertahankan dia lebih lama lagi tapi kalian dengan mudahnya membuat dia memilih pergi sama aku dan melupakan janjinya dulu ” balas reygan sarkas.

Tangannya mengepal, jujur ia marah pada keluarganya.

“Setuju tidak setuju aku akan tetap bawa dia, dia lebih bahagia dan aman sama aku”

Dengan cepat ia menggendong adiknya dan melangkah pergi dari sana meninggalkan sang ayah yang terus memanggil namanya.

“Reygan papa mohon nak”

“Reygan berhenti!”

” Reygan!”

“Adek!!”

“Papa !”

“Hah”

Reza terbangun dengan nafas memburu ia menoleh kesamping dan menemukan putra bungsunya, segera ia peluk erat anaknya.

“Adek ? Ini adekkan nak ? Jangan tinggalkan papa nak” ucapnya bergetar.

“Papa sayang adek tetap disini dek sama papa” ucapnya lagi.

Reyhan mematung, terkejut dengan apa yang dilakukan papanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada papanya ?

“Iya papa ini adek, adek disini kok sama papa” ucapnya menenangkan, tangannya aktif mengusap punggung papanya yang masih sedikit bergetar.

Setelah dirasa agak tenang Reza melepaskan rengkuhannya, ia tersadar putranya sudah sembuh 6 bulan lalu.

“Papa kenapa ?” Tanyanya polos.

Reza terkekeh kecil melihat wajah menggemaskan anaknya yang memiringkan kepalanya lucu.

“Papa ok nak” ucapnya tenang.

Ia usap rambut tebal putranya, keadaannya jauh lebih baik sekarang tubuhnya lebih berisi dan wajahnya juga tampak lebih cerah dengan rona kemerahan dipipinya.

“Mama mana dek ?” Tanyanya saat tidak melihat sosok istrinya.

Reyhan tersenyum manis ” mama masak didapur pa” ucapnya ceria.

Mata reza membulat kaget ” adek kesini sendiri ? Jalan sendiri ” pekiknya panik.

Rey menutup telinganya, sifat overprotektif papanya sudah kembali.

“Adek oke papa” 

“Hah” Reza menghela nafas pelan ” ya udah ayo kita mam dulu dek” 

“Ayo papa adek udah lapar”

“Ok adek udah mandi sayang”

“Udah tadi dibantu abang”

“Ok let’s go”

Reza langsung menggendong koala putranya, rey memang sudah dinyatakan sembuh tapi kadang anak kecil itu masih sering drop bahkan kakinya akan tiba-tiba lemas jika kelelahan, itulah yang membuat keluarganya begitu overprotektif padanya. 

“Mama! Abang!”  serunya saat sampai dibawah mengundang tatapan kedua orang yang ada di ruang makan itu.

“Ayo adek mam dulu nak”

“Hu um adek mamnya sama abang ma”

“Apapun untuk adek” ucap sang kakak.

Cup cup

Mereka bergantian mengecup dahi sempit sikecil “terima kasih sudah berjuang sekali lagi dek” ucap reza lirih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!