PULANG
6.75
0
54

Rusli yang hidup dalam dunia gelap, suatu ketika dikirimi Tuhan seorang gadis yang menjadi obor cahaya sehingga dia bisa keluar dari dunia gelap tersebut. Namun saat Rusli mulai menjalani hidup dalam dunia yang tak lagi gelap itu, Tuhan mengambil kembali obor kiriman-Nya tersebut..

No comments found.

Perihal dunia yang dijadikan Tuhan sebagai tempat kehidupan, sejatinya adalah tempat yang didesain-Nya sebagai arena untuk menggelar ujian. Sebuah tempat yang segala apa yang ada di dalamnya adalah materi untuk pengujian tersebut, sehingga orang yang menyadari hakikat hidup tersebut akan melihat bahwa apa-apa yang ditemuinya sepanjang hidupnya adalah ujian semata.

Sebuah tempat yang dijadikan ruang ujian, itulah dunia ini. Sedang manusia yang menempati ruang itu telah dituliskan catatan untuk masing-masing yang menjadi alur bagaimana dia akan diuji selama hidupnya. Catatan itu lah yang kita sebut “takdir“.

Takdir, yang kala Tuhan menciptakan makhluk pertama bernama Qalam atau Pena, Dia berfirman kepadanya, “tuliskanlah takdir seluruh ciptaan-Ku dari mulai kini sampai hari kiamat!” maka sejak saat itulah takdir untuk manusia pun dibuat dan ujian untuk tiap-tiap manusia ditetapkan di atasnya.

Sedang takdir, sungguh, Tuhan menetapkannya tidak untuk diperlihatkan kepada manusia. Melainkan sengaja dirahasiakan-Nya dari manusia. Itulah yang kemudian menjadikan kehidupan di dunia ini penuh dengan misteri. Sebab manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kepadanya, termasuk hal apa yang akan datang menimpa mengujinya.

Dan ketika ujian itu tiba, manusia kadang tidak menyadarinya.

Seperti seorang pemuda bernama Rusli yang telah hidup dengan beragam ujian hingga pada suatu waktu dia ditakdirkan bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta kepadanya. Namun seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa takdir berjalan beriringan dengan ujian, dia tidak mengetahui bahwa ada sesuatu yang akan datang kepadanya mengiring takdir pertemuannya.

Pertemuan yang akan segera terjadi. Yaitu ketika dia bergegas pergi dari rumahnya untuk menemui sang gadis yang dirindukannya setelah sekian lama tidak dapat dilihatnya. Di atas bangku kayu kemudian dia dan gadis itu duduk berdampingan, saling mengutarakan kerinduan, saling menceritakan keadaan hari-hari yang dilalui masing-masing.

Rusli menceritakan perihal upayanya yang melakukan pekerjaan apa saja untuk mendapat uang, semisal menjual sosis bakar dan bekerja di tempat pencucian mobil. Sedangkan sang gadis membicarakan kesehariannya dalam menjalani masa kuliahnya. Begitu lah pasangan itu mengisi waktu pertemuan tersebut dengan saling mendengarkan. Karena selain saling melihat, hal yang juga menjadi tujuan dalam pertemuan adalah saling berbicara. Pembicaraan yang akan mengungkap isi hati si pembicara, juga akan menyibak tirai penutup hati si pendengar. Sehingga keduanya pun mengetahui keadaan hati satu sama lain dari setiap pembicaraan. Dan apa-apa yang keluar dari hati mereka masing-masing tak lain adalah isyarat cinta. Itulah yang kemudian menjadikan tiap pertemuan selalu berarti bagi mereka.

“mau kuceritakan sebuah rahasia?” ucap sang gadis, yang langsung membuat wajah Rusli tampak penasaran. Bagaimana tidak penasaran, selama mengenal gadis itu, apapun mengenainya selalu ingin diketahuinya, apalagi ini yang disebutnya dengan ‘rahasia’.

” ceritakan lah..”

Gadis itupun bertutur, “saat pertama kali kamu mendekatiku, aku menegaskan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menyukaimu. Sebab dalam urusan memilih pasangan, aku ingin seseorang yang usianya diatas usiaku. Sedangkan dirimu, kamu 2 tahun dibawahku.”

Rusli memandang wajah gadis itu, lalu bertanya, “lalu mengapa kamu menerimaku?”

“karena aku mencintaimu.” ungkap gadis itu, “prinsipku kupatahkan sendiri karenamu. Itulah rahasiaku.”

Dia tersenyum kepada lelaki yang tengah menatapnya itu. Lelaki yang membuatnya jatuh hati itupun juga berkata kepadanya,

“aku juga memiliki satu rahasia. Apa kamu ingin tahu?”

“tentu saja!”

Gadis itu sumringah mengetahui kekasihnya juga memiliki rahasia dan akan membagikannya kepadanya. Dia pun bersiap mendengarkan.

“saat pertama kali aku mendekatimu, itu adalah aksiku setelah menerima tantangan dari teman-temanku agar meluluhkan hatimu. Sebab katanya kamu adalah perempuan yang sulit ditaklukan. Aku juga bertaruh dengan mereka.”

Pengakuan Rusli seketika membuat wajah sumringah gadis itu memudar. Membuatnya merasa telah menjadi objek taruhan dan dia bahkan jatuh ke dalam perangkap dengan mencintai lelaki yang ternyata hanya iseng mendekatinya. Dia merasakan sedikit kekecewaan.

“lantas mengapa kamu masih terus mendekatiku hingga hubungan kita berjalan sejauh ini? Tidakkah kamu memikirkanku yang jatuh cinta padamu, sedang dirimu hanya menjadikanku objek mainanmu dengan temanmu?”

Rusli menahan bibirnya agar tidak tersenyum menyaksikan wajah gadis itu yang tiba-tiba cemberut namun malah menjadi sesuatu yang lucu baginya. Tapi karena dia tahu kekasihnya tengah kecewa padanya dia pun berkata, “karena aku mencintaimu, Gita.” Rusli memberikan senyum terbaiknya di hadapan gadis itu, sebab dia tahu hati sang gadis mungkin tergores karena pengakuannya. “keisenganku berakhir dengan keseriusan. Itulah rahasiaku.”

Benar, Rusli mencintai gadis bernama Gita itu. Dia menyadarinya ketika dia tidak tertarik lagi kepada perempuan-perempuan lain yang banyak menghampiri dan mendekatinya. Perempuan yang entah kenapa selalu bersedia diperlakukan apa saja olehnya dan memberikan apapun yang diinginkannya. Sebab dirinya yang memang berada dalam ranah pergaulan bebas tanpa sekat antara laki-laki dan perempuan, menjadikannya sebagai seorang playboy ulung. Itulah mengapa teman-temannya memberikan tantangan tersebut, sebab Gita adalah gadis yang kuat pertahanannya sehingga mereka berpikir untuk meruntuhkannya dengan mengirim Rusli. Maka menang lah mereka saat Gita ternyata jatuh ke tangan Rusli.

Namun yang sebenarnya terjadi adalah Rusli yang jatuh ke tangan Gita. Dia yang untuk pertama kalinya merasakan perasaan berbeda ketika dekat dengan perempuan, perasaan aneh yang selama ini tidak pernah dirasakannya dari semua perempuan yang mendekati atau didekatinya, yaitu perasaan tenang dan nyaman. Adalah Gita yang berhasil membuatnya demikian. Sebuah getaran yang bebas dari kendali nafsu. Sebuah hasrat yang suci dari kotornya birahi. Bersama Gita, dia justru ingin menjaga gadis itu. Itulah yang kemudian dia simpulkan sebagai cinta.

“aku mungkin iseng mendekatimu. Namun setelah dekat denganmu, perasaanku serius kepadamu.”

Bibir Gita tersenyum tapi kedua matanya berlinang airmata. Dia kemudian mengeluarkan suatu benda dari dalam tasnya, mengulurkan benda tersebut kepada Rusli.

“apa ini?”

“buka saja.”

Rusli membuka benda berbentuk kotak kecil berwarna hitam pemberian Gita. Sebuah jam tangan tampak di depan matanya.

“untukku kah?”

Gadis itu mengangguk. Dia memakaikan jam tersebut ke tangan kekasihnya dan berkomentar bahwa jam itu cocok dipakai olehnya.

“apa yang kamu lihat dari jam ini?” tanyanya.

“hanya angka dan jarum.” jawab Rusli singkat.

“tidakkah kau memahami nilai filosofis dari angka dan jarum pada jam?”

“hanya waktu. Angka dan jarum pada jam hanya penanda waktu. Begitu, bukan?”

“benar. Jam ini akan menandai waktu kebersamaan kita.”

“tapi aku tidak suka jika kamu menjadikan jam ini penanda untuk kebersamaan kita. Jam ini mungkin saja awet, tapi pada akhirnya akan mati kehabisan daya. Sedang aku ingin kebersamaan kita abadi selamanya.”

Gita tertawa kecil mendengar penuturan Rusli karena memang benar apa yang diucapkannya itu. Namun dia pun menjawab, “sama saja dengan manusia yang akan mati kehabisan usia. Karena memang begitulah sifat dunia ini, bukan? Setiap benda akan hancur, setiap makhluk akan tiada.”

Rusli terdiam. Hatinya membenarkan kalimat kekasihnya tersebut tetapi kedalaman hatinya menjadi sedikit tidak nyaman karenanya. Entah mengapa. Dan untuk melenyapkan ketidaknyamanannya itu dia mengutarakan keinginannya yang telah lama dia simpan dalam relung hatinya, yaitu menikahi Gita. Hal yang sebetulnya juga menjadi keinginan gadis itu. Sehingga ketika telinganya mendengar Rusli mengajaknya menikah, dia pun senang dan terharu.

“tentu saja aku mau. Tetapi aku ingin menyelesaikan kuliahku dahulu..” jawabnya dengan tersenyum.

“baiklah. Kita menikah saat kamu sudah lulus. Lagi pula saat ini aku masih terlalu muda untuk menikah.” ucap Rusli dengan tertawa, “meski sebenarnya aku ingin segera, karena aku tidak bisa terus berjauhan denganmu.”

Gita dan Rusli tinggal di tempat yang sama, yaitu di Kota Bogor. Namun sudah dua tahun mereka harus tinggal terpisah karena Gita kuliah di salah satu kampus di Kota Tasikmalaya. Sesekali dia pulang ke Bogor ketika jadwal kuliah sedang kosong. Saat pulang itulah dia bisa bertemu kembali dengan kekasihnya, Rusli. Seperti saat mengobrol itu, mereka bertemu setelah berbulan-bulan hanya berkomunikasi lewat pesan.

Dan, di saat-saat sang kekasih sedang berada di Tasikmalaya, di saat itulah Rusli yang memang memilih masuk ke pergaulan tak baik itu melakukan apa yang tidak dilakukannya ketika Gita berada di Bogor. Dia kerap berkumpul dengan teman-temannya, bermain kartu sambil meminum minuman beralkohol. Kadang tergoda oleh perempuan- perempuan yang mendekatinya. Dia tidak ingin Gita mengetahui keburukannya karena mungkin gadis itu akan meninggalkannya, tetapi dia merasa sangat sulit untuk keluar dari dunia buruk itu.

Hingga suatu kali ketika dirinya tengah berada dalam kumpulan teman-temannya sesama pemabuk dan bahkan dia sedang menenggak sebotol arak, Gita berdiri di sebrang jalan menyaksikannya. Rusli hanya menatapnya tak berdaya ketika menyadari gadis yang dicintainya itu berdiri memandanginya.

Rusli berpikir usailah kini hubungannya dengan gadis itu, sebab mana mungkin Gita akan menerimanya setelah mengetahui keburukannya. Hancurlah kini impiannya untuk menikahinya, sebab mana mungkin seorang Gita yang merupakan gadis baik mau bersuamikan seorang pemabuk. Maka diamlah dia di tempatnya dengan hati pasrah.

Dia mengingat kembali bagaimana orang-orang dalam keluarganya memperlakukannya setelah dia menjadi seorang peminum, terutama ayahnya. Bagaimana dia dipukulinya sampai berdarah-darah. Bagaimana dia dikucilkan di rumahnya seakan dianggap tidak ada. Bagaimana dia bahkan harus mencari makan di luar karena di rumah tidak ada yang mau menyisakan makanan untuknya. Itu orang-orang dari keluarganya sendiri. Mereka tidak menerima keburukannya. Maka bagaimana dengan Gita, tentulah dia lebih tidak akan menerimanya lagi, pikirnya.

Gadis itu pun berjalan ke arahnya. Semakin dekat jaraknya semakin hatinya dipeluk oleh kepasrahan akan kandasnya hubungan cintanya.

Rusli menguatkan dirinya dan menatap wajah Gita yang tinggal beberapa langkah lagi sampai padanya. Wajah yang selalu memberikan senyuman untuknya hingga membuatnya tenang dan nyaman, wajah yang selalu menampakkan kecantikan alami, wajah yang selalu bersinar memantulkan cahaya kemilau dari hatinya. Wajah dari seorang wanita yang selama ini selalu dijaganya seperti menjaga permata.

Wajah itu tepat di hadapannya dan tersenyum padanya. Bahkan dia kemudian duduk di sampingnya. Namun alih-alih meminta pemakluman kepada gadis pemilik wajah itu, Rusli malah menuangkan arak ke dalam gelas dan meminumnya. Kepalang ketahuan, dia sengaja melakukan itu untuk melihat reaksinya secara jelas. Dan kalaupun reaksinya adalah penentangan serta penolakan, dia siap untuk menerima akhir dari hubungannya. Namun betapa terkejutnya dia saat mendengar suara lembut dari kekasihnya itu menyapa telinganya, “jangan banyak-banyak..”

Jangan banyak-banyak, mengapa kalimat itu yang diucapkan oleh Gita alih-alih mengucapkan kalimat berisikan amarah atau kekecewaan atas perilaku buruk Rusli? Mengapa pula dia masih menampilkan senyuman untuknya padahal semestinya dia menampilkan raut muka ketidaksukaan, minimal, sebagaimana keluarganya dulu memberikan caci maki padanya?

“aku tidak akan memintamu berhenti minum. Hanya saja jangan minum terlalu banyak.” ucapnya.

“kenapa?”

“karena aku tidak ingin tubuhmu cepat rusak..” ucap Gita dengan lembut. Dia lalu tersenyum. Senyuman yang membuat hati Rusli terasa disentuh.

“apa kamu masih mau menerimaku?” tanya Rusli.

“kenapa aku harus berubah hanya karena orang yang kucintai memiliki sisi buruk? Bukankah cinta adalah penerimaan atas semua apa yang ada dalam diri orang yang dicinta, termasuk sisi buruknya?”

Reaksi Gita ternyata diluar dugaan Rusli, yang dikiranya akan meninggalkannya ternyata malah menerima dan bahkan tidak menyuruhnya berhenti minum. Sama sekali berbeda dengan reaksi keluarganya sendiri, yang bahkan ayahnya sampai menyiksanya. Dia pun memandangi wajah Gita yang masih tetap memberikan efek tenang bagi hatinya tiap kali dipandangnya. Sedang airmata tiba-tiba menggenang di kedua pelupuk matanya, sebagai luapan rasa haru atas ketulusan yang diberikan kekasihnya.

Dia pun bercerita kepada gadis itu, “aku memang berada dalam lingkungan teman yang kebanyakan adalah peminum. Namun aku tidak pernah mau untuk mencoba memasukkan minuman haram tersebut ke tenggorokanku walau setetes. Hingga suatu malam aku pulang dari tongkronganku ke rumah. Ketika membuka daun pintu, ayahku sudah berdiri di depanku lalu memukul wajahku sampai aku tersungkur jatuh ke tanah. Dia kemudian memukuli seluruh badanku, menendangku dengan kedua kakinya tanpa ampun dan tanpa belas kasih.”

” kenapa ayahmu melakukan itu? “

” pada saat itu aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya sampai dia tega menyiksa anaknya sendiri seperti menyiksa hewan yang telah merusak harta bendanya. Aku baru tahu alasannya saat dia sudah puas menyiksaku sampai berdarah-darah. Yaitu karena seseorang memberitahunya kalau aku sedang mabuk-mabukan di tempat tongkronganku. Padahal aku hanya duduk di sana tanpa ikutan minum.” Rusli berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “malam itu aku pergi dari rumah dengan keadaan babak belur dan hati yang marah. Aku pun kembali ke tempat teman-temanku dan bertekad akan benar-benar menjadi pemabuk. Sejak malam itulah aku minum untuk pertama kalinya.”

” lantas mengapa malah benar-benar meminumnya jika ayahmu sudah menunjukkan kemarahannya?”

” itu karena aku marah padanya. Tanpa bertanya padaku untuk memastikan kebenarannya, dia malah langsung menyiksaku. Dan yang lebih membuatku kecewa adalah dia tidak menyesalinya sama sekali, bahkan keluargaku pun seperti tidak peduli padaku.”

Gita lalu terdiam di samping Rusli, tetapi bukan mendiamkan lelaki itu. Dia menatap wajah orang yang selama ini dikenalnya sebagai pemuda baik itu, dan memang dia benar-benar orang baik. Karena itu dia memilih untuk tidak menyalahkannya atas perilaku buruknya tersebut. Bahkan ketika dia juga tahu bahwa Rusli kerap bersama dengan perempuan-perempuan malam, dia sama sekali tidak meninggalkannya. Dia hanya diam tanpa menunjukkan keadaan hatinya.

Lantas, keadaan hati seperti apa yang mungkin tergambarkan dari seorang perempuan yang mengetahui lelaki tercintanya sering bersama dengan perempuan selain dirinya?

Tidak ada perempuan yang hatinya akan baik-baik saja tatkala mengetahui kekasihnya bersama perempuan lain. Hatinya akan retak dan terluka. Kesedihan akan menyelimutinya dan mengalirkan airmata dari kedua matanya. Demikian pula Gita. Dia terluka dan bersedih. Namun, kedua matanya tidak pernah menangis di hadapan lelaki yang dicintainya itu. Dia hanya menangis di belakangnya.

Sedangkan Rusli, dia bukan tidak mengetahui keadaan hati perempuan yang selama ini selalu tersenyum kepadanya itu. Dia tahu betul kecemburuan yang disembunyikan di balik sorot mata Gita dan juga kesedihan yang dirasakannya. Namun, dia tidak berbuat apa-apa untuk menghiburnya apalagi menghentikan kebiasaannya. Dia tidak bisa berhenti. Kecendrungannya pada kemaksiatan masih begitu kuat, kendati hatinya juga sama kuatnya dalam mencintai Gita. Dia mencintainya dengan menjaganya, sedangkan Gita mencintainya dengan ketulusannya menerimanya.

Rusli tidak bisa keluar dari jerat keburukan yang dipasang setan dalam pergaulannya sehingga dia terus berada dalam kubangan lumpur hitam. Sementara Gita tidak bisa berhenti mencintai Rusli meski dia tahu segala sisi buruknya.

Mengapa dia tidak meninggalkan Rusli dan mencari lelaki lain yang lebih baik, itu karena dia menerima segala apa yang dimiliki lelaki itu sekaligus memberi segala apa yang dimilikinya kepadanya. Termasuk hatinya yang berselimutkan cinta, meski Rusli kerap membuatnya retak. Retak yang kemudian membuatnya selalu memilih untuk mengambil kain ketulusan guna membalut hatinya. Itulah yang membuatnya tidak pernah menunjukkan tangisannya di depan Rusli.

Dan, sungguh, ketulusan hati seorang perempuan adalah obor api yang bersinar di dalam kegelapan. Ia juga adalah tali yang menjadi pegangan kala seseorang hanyut dalam arus sungai, atau angin yang melempar debu yang mengotori daun-daun sebatang pohon.

Ketulusan hati seorang Gita perlahan menerangi hidup Rusli yang selama ini berada di tepat gelap. Ia juga menarik Rusli dari kubangan lumpur yang selama ini menghanyutkan dirinya bersama tipuan setan. Juga menghempaskan debu-debu kemaksiatan yang selama ini mengotori tangan dan kakinya. Sehingga pada suatu waktu Rusli tergerak untuk menolak ajakan teman-temannya. Dia perlahan berhenti mabuk-mabukan dan meninggalkan pergaulan buruknya. Sebuah proses yang tidak mudah tentunya. Namun cintanya pada Gita menjadi kekuatannya. Sampai pada suatu hari dia menangis di hadapan kekasihnya.

“setiap kali kamu mengetahui keburukanku dan masih tetap mencintaiku, setiap itu pula aku selalu ingin berhenti berbuat buruk dan berubah menjadi lebih baik.” Gita yang mendengarnya tak kuasa menahan airmatanya sehingga dia juga menangis.

Memang, kadang-kadang untuk menasihati seseorang yang mengambil jalan yang salah bukan dengan memberitahunya dan memaksanya kembali ke jalan yang benar, melainkan dengan menyentuh hatinya. Hati yang menjadi sumber kebaikan. Dan itulah yang dilakukan Gita. Dia menyentuhnya dengan ketulusan. Dengan itu Rusli pun kembali dengan sendirinya ke jalan yang benar.

“Ketulusanmu telah menuntunku untuk keluar dari kehidupan gelapku. Karena itu aku sungguh bahagia dipertemukan denganmu dan aku juga berterima kasih karena kamu telah mencintaiku.. “

Gita tidak memberikan sepatah kata pun. Dia hanya terus mengusap airmatanya yang terus mengalir. Airmata keharuan. Keduanya pun hanyut dalam tangisan masing-masing yang mengantarkan mereka pada satu muara yang sama, yaitu kebahagiaan atas cinta yang telah Tuhan karuniakan ke dalam hati mereka. Cinta yang kemudian mereka sepakati untuk dimuarakan bersama kepada Sang Pemberi Cinta dalam wadah pernikahan. Rencana pun mereka buat untuk mempersiapkannya.

Namun, sungguh takdir Allah tidak akan berubah meski manusia membuat rencana sendiri. Itulah kenapa ada kalimat populer yang menyatakan bahwa manusia hanya bisa berencana sedangkan hasilnya tetap ada di tangan Tuhan. Begitu pula dengan ujian, tidak akan berhenti selama takdir belum diputus oleh kematian.

Maka datanglah ujian itu kepada Rusli. Suatu hari Gita yang sedang berada di Tasik meneleponnya, mengeluh padanya bahwa dia sudah capek dengan kehidupannya yang berada dalam tekanan, dimana dia ternyata kuliah di Tasik jurusan kebidanan adalah karena paksaan kedua orangtuanya, sementara dia memiliki cita-cita yang lain namun tak kuasa membantah.

“Aku lelah melakukan hal yang tidak kusenangi. Aku ingin pulang..” lirihnya.

“pulanglah. Jangan menyiksa dirimu dengan keterpaksaan itu lebih lama lagi. Nanti aku bantu bicara kepada orangtuamu.”

“iya baiklah, beberapa hari lagi aku akan pulang..”

Tiga hari setelah pembicaraan di telepon itu Gita benar-benar pulang dari Tasikmalaya ke kampung halamannya, Kota Bogor. Namun kepulangannya tersebut bukan pulang yang dimaksud Rusli. Di samping wajah Gita, Rusli menangis tak tertahankan.

“jika maksudmu adalah pulang seperti ini, sungguh aku tidak akan menyetujui keinginanmu!”

Sementara Rusli melampiaskan kesedihannya dengan terus menangis, Gita hanya terbujur kaku dengan kedua matanya tertutup untuk selamanya. Sebab hanya tubuhnya saja yang pulang ke Bogor sedangkan ruhnya pulang kepada Pemiliknya. Itu terjadi saat dia sedang dalam perjalanan pulang dari kampus, dia yang mengendarai sepeda motor tertabrak oleh truk yang melaju dengan cepat dari arah depannya sehingga kematian datang memutus takdir hidupnya hanya sampai detik itu.

Dia pun dibawa pulang ke Bogor setelah jantungnya tak lagi berdetak dan tubuhnya tak lagi bernyawa. Dia pulang. Pulang kepada Tuhan-nya. Pulang meninggalkan dunia ini. Pulang meninggalkan Rusli. Jam tangan yang menjadi penanda waktu kebersamaan antara dirinya dengan Rusli pun berhenti berputar, tak lagi berfungsi karena yang memberi dayanya telah kehabisan usia.

Maka tinggal lah Rusli sendirian di kamarnya yang terasa begitu senyap dan hampa, memerhatikan jam tangan yang telah mati itu.

Benar-benar menjadi penanda, ucap hatinya sambil kembali menangis.

Tetapi, aku tidak mengerti ini, wahai Tuhan. Engkau kirim dia padaku sehingga aku ingin berpaling dari keburukan-keburukanku. Saat aku hendak menuju-Mu bersamanya, menuju kebaikan-kebaikan, Engkau ambil dia untuk selamanya sehingga aku bahkan tak mungkin lagi melihatnya.

Dia lalu merasakan ngantuk yang amat berat sehingga dalam beberapa detik saja kedua matanya terpejam dengan masih mengalirkan airmata. Saat dia membuka mata, dia melihat Gita telah berada di sampingnya, tersenyum padanya. Seketika dia pun bangun dan menyadari mimpinya.

Allah memberinya kesempatan melihat Gita untuk terakhir kali, sebab takdir pertemuannya dengan Gita telah diputus selamanya oleh takdir Gita yang harus meninggal diusia muda, yaitu 21 tahun. Takdir yang seketika menghancurkan hati Rusli dengan kehilangan tanpa ada kesempatan menemuinya lagi, sekaligus melenyapkan impiannya untuk hidup bersama Gita.

Sementara ujian yang mengiring takdir tersebut mungkin adalah ujian untuk menguji keteguhan Rusli dalam kembali ke jalan yang benar setelah disentuh ketulusan Gita, dimana kini dia harus berjalan sendiri karena Gita harus berpulang lebih dulu..

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!