Pulanglah, Sayang!
16.13
0
129

"Pulanglah, Sayang! Aku menantikan kehadiranmu." Kisah ini menceritakan tentang penantian seorang istri yang menunggu suaminya pulang

No comments found.

Pulanglah, Sayang!

Sayang, hari mulai gelap, awan-awan hitam berarak di langit. Tampaknya hari ini akan turun hujan yang deras. Namun, mengapa engkau belum kunjung pulang? Aku istrimu beserta anak-anak kita menanti kehadiranmu. Sayang, begitu banyak gosip tak mengenakkan yang terdengar di telingaku. Mulai dari engkau yang telah jatuh ke dalam pelukan seorang perempuan muda yang cantik parasnya hingga engkau yang menghabiskan malam-malammu di tempat gelap yang diselimuti jerit tangis bercampur desahan manja insan-insan yang kesepian. Sayang, aku berharap engkau segera pulang. Aku menantikan masa-masa indah bersamamu, seperti beberapa tahun lalu.

Suamiku tersayang, suamiku yang terkasih. Pulanglah, Sayangku. Pulanglah wahai Ayah dari putra dan putri kecilku. Aku merindukan senyumanmu, belaian kasihmu, dan semua kasih sayangmu. Aku akan selalu menunggumu hingga akhir hayatku. Suamiku, sayangku, doaku menyertai setiap langkah kakimu.

***

Waktu aku masih seorang mahasiswa muda, engkau datang menghampiriku. Dirimu begitu manis dan memesona. Aku hanya gadis biasa yang dingin, tetapi engkau datang dengan sejuta kehangatan. Di kala itu, aku menyebutnya masa-masa keemasan kita. Seorang kakak tingkat yang populer menunjukkan ketertarikannya pada seorang adik tingkatnya. Engkau tahu bagaimana canggungnya aku di masa itu? Aku bahagia diselimuti rasa khawatir. Bahagia karena bertemu seorang laki-laki yang menghujaniku dengan kasih sayang sekaligus khawatir jika nanti engkau akan meninggalkanku.

Aku tak menyangka bahwa engkau bersungguh-sungguh dengan semua yang engkau katakan. Setelah lulus kuliah, engkau mulai bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota. Akan tetapi, aku masih berstatus mahasiswa di kala itu. Engkau tak meninggalkanku dan masih berharap aku menemani hari-harimu. Aku bersyukur karena engkau tak berpaling dariku, walaupun banyak perempuan cantik yang engkau temui setiap hari di lingkungan kerjamu.

Di saat aku menyandang status mahasiswa akhir, engkau datang membawa sebuah cincin pertunangan. Cincin yang indah berkilau itu pun menghiasi jari manisku. Engkau berjanji akan mempersuntingku di saat aku berhasil menyelesaikan studi strata satu. Apakah engkau tahu betapa bahagianya aku di hari itu? Aku merasa seluruh dunia ini milik kita berdua. Aku sungguh terlena akan semua kisah cinta ini.

Aku mulai gusar di saat berhasil lulus kuliah, tetapi engkau tak kunjung melamarku. Engkau bilang padaku, “Tunggu sebentar, Sayang. Beri aku waktu dua tahun.” Begitu besarnya rasa sayang ini membuatku tetap bertahan dalam janji itu. Kita pun memutuskan untuk fokus bekerja tanpa harus saling curiga. Waktu berlalu, ternyata engkau sungguh datang melamarku. Aku menjadi perempuan yang sangat berbahagia. Cinta kita berhasil berlabuh ke biduk rumah tangga. Kukira itulah cinta sejati, aku tenggelam dalam lautan cinta yang berapi-api.

Semua terlihat sangat indah tak bercacat cela. Namun, seiring berjalannya waktu entah mengapa aku merasa hambar. Hambar akan segala sesuatu yang terjadi dan yang kualami. Aku mulai melihat sikapmu yang selama ini tak pernah kuketahui. Aku pun mulai merasa jenuh akan kehidupan rumah tangga yang kukira sangat indah layaknya di negeri dongeng. Namun, aku tetap mencintai engkau yang telah menjadi suamiku.

Rumah tangga kita bangun bersama, fondasi yang kokoh kita tanamkan di dalamnya. Aku tak mau berakhir dengan sebuah perpisahan. Aku ingin engkau dan diriku mengarunginya bersama. Tak menunggu waktu yang lama, aku pun mengandung buah cinta kita. Di kala itu, betapa aku sangat berbahagia. Aku akan segera menjadi seorang ibu. Aku sungguh menantikan itu. Di usia yang masih relatif muda, aku akan merasakan bagaimana berjuang melahirkan, kemudian menyusui seorang bayi kecil yang kelak akan memanggilku, Mama.

            Di hari yang sangat menyenangkan itu, aku masih mengingat ekspresimu yang sangat terkesima. Engkau datang memeluk dan mencium pipiku dengan mesra.

            “Benarkah, Sayang?” tanyamu.

            “Iya, Sayang. Lihatlah ini, dua garis,” jawabku sambil memberikan hasil test pack. Engkau pun mengambil dan mengamatinya dengan saksama.

            “Wah, ini sangat mengejutkan,” ucapmu. “Kita sudah diberi kepercayaan secepat ini,” tambahmu lagi.

            “Iya, Sayang. Kita akan segera menjadi orang tua,” ujarku sambil tersenyum.

        Engkau yang masih diselimuti kemeja kerja langsung menggendongku dan menciumku. Kurasakan jantungmu berdetak dengan kencang. Keringatmu mengucur deras jatuh menetes. Aku sungguh heran karena tak merasa keringatmu yang jatuh itu berbau. Semuanya terasa wangi yang memabukkan. Mungkin inilah yang orang sebut cinta. Bahkan, bau keringat suamiku saja terasa harum mewangi. Engkau juga menciumku tak henti, walaupun aku belum mandi ataupun menyemprotkan parfum di tubuhku.

Tak lama kemudian, seorang bayi perempuan lahir secara normal dari rahimku. Aku tak kunjung berhenti menangis melihat betapa cantiknya bayi kita. Bayi manis yang mewarisi keindahan bola matamu dan memiliki bentuk wajah yang sama sepertiku. Engkau pun demikian, engkau menangis saat menggendongnya dan ratusan kali menyatakan rasa terima kasih padaku karena telah berjuang melahirkan bayi kecil kita.

            “Terima kasih, Sayang atas perjuanganmu,” ucapmu. Aku hanya mengangguk pelan karena masih lemah sehabis bersalin. Engkau pun mencium keningku dan berkata lirih, “Aku sangat mencintaimu.” Aku membalasnya dengan senyuman manja. Engkau pun balas tersenyum. Kukira itu hari indah yang telah kita ukir bersama di kala menjadi sepasang insan yang merajut tali cinta.

            Setelah melahirkan seorang anak, aku pun memutuskan untuk resign dari pekerjaan kantor. Engkau tak memaksakan hal itu, tetapi aku memang ingin fokus merawat anak kita hingga dia masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Keputusan itu atas kesepakatan kita bersama. Engkau juga bertanggung jawab dalam hal finansial. Oleh sebab itu, aku ikhlas melepaskan karierku demi keluarga kecil kita.

               Aku menjadi ibu rumah tangga yang mengabdikan diri pada keluarga. Aku tetap mempertahankan semua itu, meskipun para tetangga sering kali mencibirku dan merendahkan pilihanku. Entah apa yang mereka pikirkan, sehingga harus menyerangku dengan pernyataan-pernyataan yang tak mengenakkan. Mereka dengan santainya menyebutku sarjana tak berguna.

            “Sarjana kok jadi ibu rumah tangga? Enggak sayang ijazahnya?” ucap salah seorang tetangga dengan suara lantang saat bertemu denganku.

             “Saya mau fokus mengasuh anak kami, Bu,” ucapku dengan suara pelan.

            “Oh, kalau begitu sayang banget, dong. Sudah sekolah tinggi, tapi enggak guna,” ujarnya santai sambil terkekeh.

            “Iya, loh. Kenapa enggak pakai babysitter aja, sih,” ucap salah seorang ibu lainnya yang memakai daster dan bertubuh gemuk.

           Aku memilih tidak menanggapi lagi pernyataan ibu-ibu tetangga yang tinggal di dekat rumah. Aku tak ingin membuat masalah hanya karena penilaian subjektif mereka. Aku hanya bisa diam dan bernapas panjang. Inilah nasib seorang perempuan yang sudah menikah. Pilihan hidup perempuan akan selalu dikomentari oleh orang-orang yang bahkan tidak berkontribusi apa pun atas biaya pendidikan perempuan yang mereka rendahkan. Aku sudah merasa cukup dengan status istri dan seorang ibu dari satu anak perempuan yang dititipkan oleh Tuhan.

           Aku tak pernah mempermasalahkan tentang komentar orang lain, seperti tetangga yang kerap kali merendahkanku. Namun, hatiku sangat perih ketika ibu mertua yang menudingku sebagai perempuan tak mandiri yang menjadi beban anak lelakinya. Ibu mertuaku dulu sangat manis dan ramah ketika aku masih menjadi kekasih anaknya. Waktu berlalu dan semakin bergulir, ibu mertuaku mulai menunjukkan sikap aslinya. Seorang perempuan yang juga pernah melahirkan dan merawat seorang bayi, tetapi belum tentu dia mampu memahami perasaan perempuan lainnya. Ibu mertuaku selalu menyalahkanku atas sakit yang diderita cucunya—bayi perempuanku. Aku telah berusaha melakukan yang terbaik untuk bayi kecil itu dengan mencurahkan kasih sayang penuh dan memberikan asi untuknya. Namun, ketika bayi kecilku sedang demam tinggi, ibu mertuaku mengomel dan menudingku tidak bisa merawat anak. Ibu mertuaku bahkan mengeluarkan kata-kata yang sungguh mengiris hatiku.

           “Dasar istri tak berguna, beban anakku, tak menghasilkan uang. Eh, mengurus anak saja tak becus!” tudingnya padaku. Ibu mertuaku berkata dengan nada tinggi tepat di depan wajahku.

Aku tak menjawab apa pun. Hatiku sungguh perih mendengarnya. Aku tertunduk lesu dan mataku mulai berkaca-kaca. Sebelum menikah, aku juga seorang perempuan yang bekerja. Aku mampu mandiri, aku bisa menghasilkan uang. Aku dapat membeli apa yang kuinginkan dari hasil keringatku sendiri. Namun, setelah menikah aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang bekerja mengurus pekerjaan domestik di rumah. Akan tetapi, banyak perempuan yang merasa dirinya senior dalam kehidupan berumah tangga memberikan komentar-komentar yang menusuk hati. Mulai dari tetangga dan ibu mertuaku sendiri.

Hal yang sangat miris dan tak habis pikir adalah orang-orang yang merendahkan atas pilihanku itu adalah sesama perempuan. Alih-alih saling menguatkan dan mendukung sesama perempuan, mereka justru menjatuhkan perempuan lain. Mereka memilih menjadi racun untuk orang lain. Tak ada istilah perempuan yang merangkul perempuan lain di kala aku memasuki dunia istri dan ibu. Aku adalah seorang istri dan baru saja menjadi ibu. Bukankah seharusnya mereka memahami hal itu tidaklah mudah? Aku berpisah dengan orang tua yang telah membesarkan dan merawatku, kemudian hidup sebagai seorang istri. Aku juga manusia biasa, aku perempuan yang punya perasaan. Apakah ini takdir seorang perempuan yang sudah menikah? Kukira setelah menikah aku akan menjadi perempuan yang paling berbahagia. Perempuan yang dilindungi, disayangi, dan dihujani oleh kasih sayang dari suami. Namun, kenyataannya sungguh berat menjalani kehidupan setelah menikah. Aku telah memutuskan menikah dengan kekasihku. Aku bahagia, aku akan tersenyum, aku akan menutupi semua keperihan yang datang bergejolak dalam jiwaku.

Aku memilih untuk tak mendengar ucapan-ucapan yang berpotensi untuk menyakitiku. Aku memilih untuk fokus saja pada perkembangan anakku, aku tak akan bersedih hanya karena komentar orang yang sok tahu atas kehidupan orang lain. Namun, aku sungguh terluka di saat engkau, suamiku yang kukasihi selama bertahun-tahun mulai tak memedulikan keadaanku. Engkau terlihat lelah, aku sungguh merasakannya. Engkau mulai tak menunjukkan senyummu padaku, aku pun bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi? Apakah rasa cintamu sudah hilang? Apakah ada yang menggantikan posisiku di hatimu?

Begitulah hati seorang perempuan, hati yang sangat peka. Hati yang dapat merasakan sesuatu apabila ada yang tidak beres. Waktu itu aku sedang hamil anak kedua kita. Di kehamilan kedua ini, engkau tak menunjukkan kebahagiaan. Aku berusaha meyakinkan diri, bahwa engkau sedang lelah saja. Oleh sebab itu, engkau tak begitu mengekspresikan perasaanmu. Namun, aku mulai curiga atas sikapmu yang tak seperti biasanya.

Anak perempuan kita telah berusia empat tahun, kukira tak masalah jika aku mengandung buah cinta kita lagi. Aku juga tak keberatan untuk mengurus bayi karena sudah memiliki pengalaman ketika mengurus anak pertama kita. Namun, engkau tak merespons apa pun, saat aku sangat antusias memberitahukan padamu bahwa aku tengah mengandung lagi.

“Sayang, aku hamil lagi. Lihatlah ini,” ucapku dengan wajah bahagia.

“Hmm,” ujarmu lirih sambil melirik hasil test pack itu. Engkau sangat dingin tanpa mengucapkan apa pun. Engkau hanya bergumam sedikit.

Aku tak mengerti atas sikapmu yang begitu dingin. Apakah engkau tak menginginkan adanya anak kedua? Atau rasa cintamu yang telah menghilang? Aku diliputi oleh sejuta pertanyaan dalam benak. Aku pun jadi semakin murung hari demi hari. Hingga akhirnya, engkau mulai jarang pulang ke rumah. Engkau hanya pulang seminggu sekali, bahkan paling banyak hanya dua kali seminggu.  

Aku bungkam dan memilih untuk tidak bertanya apa pun padamu. Saat usia kehamilan menginjak lima bulan. Engkau benar-benar tak pernah pulang lagi ke rumah. Tak ada kabar darimu, tak ada pesan singkat darimu, ataupun telepon darimu. Engkau menghilang seperti debu yang berembus di gurun pasir. Hilang terbang, tak diketahui ke mana perginya. Di tengah teriknya cuaca, takkah engkau tahu bahwa aku sangat haus? Aku merasa kering dan terbakar di gurun itu, aku gusar dan tak dapat tidur. Aku tak mampu berkata-kata dan tak tahu harus berbuat apa. Aku baru pertama kali merasa tak berdaya dalam kering dan teriknya cuaca yang melanda relung jiwa.

Aku haus, aku ingin kesejukan. Aku ingin minum, minum air, aku ingin meneguk air jernih yang manis bila dirasa. Ke manakah perginya sumber kesejukan itu? Dia telah terbang melayang tak tahu ke mana. Aku tak memiliki kompas untuk mengejarnya. Aku tak memiliki alat ataupun cara untuk membuatnya kembali pulang. Aku haus, Sayang. Aku haus akan kasihmu. Aku merindukanmu, aku sungguh mengharapkan kehadiranmu. Bukan hanya aku, Sayang. Namun, buah hati kita juga demikian. Seorang anak perempuan dan buah hati di perutku membutuhkan sosokmu. Mereka membutuhkanmu, Sayang. Mengertilah, Sayang. Aku harap engkau mendengar suara hatiku yang kukirim pada angin. Suara hatiku akan terbang di udara dan sampai kepadamu. Suara hatiku akan engkau hirup sebagai oksigen di kala engkau bernapas. Selama engkau masih bernapas di dunia ini, aku percaya engkau akan mendengarnya. Engkau akan menyimak curahan hatiku, kemudian engkau akan kembali. Kembali datang, memelukku, menciumku, dan menghangatkanku.

Bukan hanya ragamu yang tak menemani kami. Engkau juga tak memberikan nafkah untuk kami. Aku sangat terpuruk di kala itu. Aku sudah cukup lama tak bekerja. Aku sudah tak memiliki penghasilan setiap bulan. Aku tak berdaya, sungguh tak memiliki pilihan apa pun. Keadaanku sedang hamil besar, bagaimana bisa aku mencari nafkah? Aku menunggu balasan pesan darimu, tetapi engkau tak menghiraukan segala pertanyaan dan kepiluanku. Selama beberapa tahun pernikahan kita, aku sama sekali tak pernah mengaduh pada orang tuaku. Namun, permasalahan kali ini terlalu sulit kuhadapi seorang diri. Akhirnya, aku mau tak mau harus meminta pertolongan mereka.

Air mataku jatuh menetes layaknya hujan di musim penghujan yang panjang. Tak kunjung selesai hujan itu di pipiku, deras mengucur ke bawah bagaikan air terjun yang turun dari ketinggian tak terhingga. Jernih, murni, dan berkilau. Air terjun yang bercabang ganda dan sungguh memukau. Ibuku tak berkedip memperhatikan air terjun yang deras bercabang. Terus jatuh, terus jatuh. Tak menetes seperti rintik gerimis. Namun, jatuh deras, bunyinya menderu-deru mencambuk telinga yang mendengar. Mengiris daun telinga yang mendengar dan sungguh telinga itu tak berdaya untuk mengatupkan diri. Telinga itu tak tahan untuk mendengar suara deru yang tak hentinya menjatuhi dataran rendah. Dari atas ke bawah, suaranya sungguh menyiksa. Ibuku masih terdiam, diam seribu bahasa. Tak bergerak, tak ingin pergi walaupun tersiksa mendengar suaranya. Apakah seperti candu? Ataukah seperti rasa penasaran? Apakah sebabnya telinga ingin terus mendengar deru yang mengoyak-ngoyak hati?

Ibuku tak banyak berbicara, lalu memelukku sambil mengusap cairan bening yang senantiasa menderu membasahi pipi. Pipi kanan kemudian pipi kiri. Bukan dengan tisu atau sapu tangan, tetapi dengan beberapa ruas jari tangannya. Terasa sangat mengharukan, ibu tak menyalahkan aku atau engkau, suamiku. Ibu hanya berkata lirih, “Sabar, Nak. Doakan dia.”

Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Aku masih menatap mata ibuku. Entah mengapa, aku merasa pancaran matanya sungguh perih. Ibu adalah satu-satunya perempuan yang mengerti keadaanku dan tak menghakimi siapa pun atas permasalahan ini. Ibu yang sudah memutih rambutnya itu, peluknya erat dan menghangatkan raga yang beku. Aku seketika mencair. Aku harus segera beranjak dari musim yang begitu dingin. Aku ingin menyambut indahnya musim semi penuh dengan warna-warni bunga yang mekar. Musim semi yang penuh dengan dedaunan yang tumbuh dari kebekuan ranting yang meninggalkan musim yang lalu. Warna kehijauan muda, warna merah muda bunga, dan hijau tua dedaunan pohon-pohon yang rindang. Aku akan segera menyongsongnya.

***

Aku dibantu oleh orang tuaku perihal finansial selama masa kehamilan. Persalinan anak keduaku berjalan dengan lancar. Aku sangat bersyukur karena bayi kecil ini lahir dengan selamat. Bayi kecil yang lahir dalam badai rumah tangga kita berjenis kelamin laki-laki. Saat ini, aku telah memiliki sepasang anak, yaitu satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kehadirannya sungguh melengkapi hidupku.

“Seorang putra, Bu,” ucap dokter yang membantu persalinanku.

“Benarkah, Dok?” jawabku pelan.

“Iya, Bu. Bayinya sangat tampan,” ujar dokter itu tersenyum kagum sambil menatap wajah bayi kita yang masih merah.

Aku menangis menatap bayi kecil yang baru kulahirkan. Betapa bahagianya aku atas kehadirannya. Namun, hatiku teriris perih karena tak ada kehadiran suami di sisiku. Di masa lalu, engkau menemaniku, engkau mencium keningku, dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Setelah itu, engkau berkata “Aku mencintaimu.” Semua kisah itu telah berlalu, telah terkubur dan telah pudar. Hatiku masih mendambakanmu hadir kembali. Bukan hanya aku, tetapi juga anak kita. Anak yang lahir dari hasil penyatuan cinta kita.

Setelah melahirkan, aku memutuskan untuk bekerja lagi, memulai karierku dari bawah karena aku sudah lama tak berkecimpung di dunia kerja. Aku telah lama terjebak di ranah domestik yang mengharuskanku fokus pada keluarga. Aku memang menginginkan itu tanpa penyesalan. Akan tetapi, situasi telah berubah, aku harus bekerja demi pundi-pundi rupiah untuk menghidupi kedua orang anak. Aku menerjang lagi pintu yang telah lama tertutup dan masuk ke dalamnya. Aku tak membutuhkan waktu yang lama untuk berhasil duduk di kursi yang seharusnya aku diami dengan segala kemampuan yang kupunya.

Putra kecilku yang masih berusia beberapa bulan diasuh oleh ibuku. Ibu menawarkan dirinya untuk membantu merawat bayi kecil yang menggemaskan itu. Aku sangat bersyukur dan tak hentinya berterima kasih padanya. Aku memilih fokus pada apa yang masih ada, ketimbang selalu merenungi yang telah pergi meninggalkan.

***

            Suatu hari, seorang teman seperjuangan sewaktu kuliah menghampiriku. Dia bekerja satu kantor denganku saat ini. Namun, dia kali ini sangat antusias mengajakku berbicara. Dia juga meminta kami berbicara empat mata saja.

            “Jadi begini, Gita. Aku tak ingin membuatmu sedih, tapi…” ucapnya terbata.

            “Tapi, apa San?” tanyaku penasaran.

            “Aku melihat suamimu di Apartemen Blue Ceraka House, kamarnya dekat dengan kamar Apartemen baru adikku,” ucap Sandra menjelaskan.  “Suamimu tampaknya bersama seorang gadis muda di sana. Aku benar-benar tak ingin ikut campur, Git. Aku hanya memberitahukan apa yang kulihat.”

             “Kapan, San?” tanyaku santai.

            “Kemarin, Git. Aku pergi mengunjungi adikku yang baru saja pindah ke sana,” jelas Sandra padaku. “Git, apakah kalian sudah berpisah? Maaf aku tak bermaksud untuk ikut campur,” ujar Sandra terbata-bata.

            “Kami sudah lama tak bertemu, tetapi tak bercerai secara resmi,” ujarku langsung menjawab. “Aku sudah lama mengetahui tingkahnya. Aku memilih untuk diam dan berpura-pura tak tahu,” tambahku lagi.

            Aku memang sudah di ujung masa penantian, aku sudah tak ingin memikirkan apa pun perihal pengkhianatan engkau, suamiku. Aku tak menemui perempuan muda yang membuat engkau mabuk cinta seperti remaja belasan tahun. Aku juga tak memohon padamu untuk kembali ke pelukanku. Aku hanya menyerahkan segalanya pada Yang Mahakuasa. Kuharap suatu hari nanti, engkau sadar dan menghentikan semua kegilaanmu itu.

            Engkau kekasihku yang kukenal di masa belia. Engkau yang selalu menyatakan cinta padaku di masa itu. Namun, pada suatu masa engkau meninggalkan aku dan buah hati yang lahir sebagai buah cinta kita. Engkau sungguh tak akan kulepaskan. Ragamu saja yang pergi, kuyakin di relung hatimu yang terdalam, aku masih ada. Hanya saja, matamu sedang tertutup oleh kegelapan. Kegelapan yang menghancurkan cinta yang suci. Cinta suci yang berakhir menjadi sebuah pernikahan. Sebuah ibadah dan ikatan sah secara hukum dan agama. Akulah istri sahmu yang telah memberimu dua orang anak. Ingatlah, Sayang. Aku akan selalu menunggu, menanti, dan menyayangimu.

            Perempuan muda itu memang cantik parasnya. Perempuan itu pun jauh lebih muda usianya. Namun, apakah engkau yakin dia sungguh mencintaimu? Dia adalah perempuan yang bisa engkau peluk di ranjang tanpa ikatan pernikahan. Benarkah engkau lebih mencintainya? Engkau manusia biasa, seorang laki-laki yang menyukai keindahan. Sikapmu yang terbuai oleh kemolekan itu akan kuanggap sebuah kesalahan. Kesalahan yang terjadi karena godaan. Pintu itu terbuka untukmu, engkau masuk dan engkau terjerembap ke dalamnya.

            Berapa lama engkau akan bertahan dengan perempuan penggoda itu? Tidak bukan perempuan. Aku lebih memilih menyebutnya iblis yang menjelma menjadi perempuan, atau perempuan yang dirasuki roh iblis. Bukankah perempuan tahu betul rasa sakit dikhianati oleh kekasihnya? Jika demikian, mengapa sesama perempuan menyakiti hati perempuan lain? Apabila memiliki paras yang rupawan, seharusnya banyak perjaka tampan yang  bisa dia dapatkan. Namun, mengapa dia memilih laki-laki yang telah beristri? Karena dia bukan manusia, dia benih kejahatan yang culas. Benih petaka yang mengharapkan kerusakan rumah tangga. Tentu saja kemudian dia akan berpesta pora setelah berhasil menghacurkan sebuah keluarga kecil yang bahagia.  Terkutuk sikap yang merasuki jiwanya.

Tiada aku ingin mengalah dan meminta perpisahan sah. Aku harus percaya bahwa semua godaan itu akan kalah. Aku tak ingin menjadi yang kalah. Setiap hariku, setiap langkahku, aku selalu berdoa dengan tulus. Doaku untuk engkau yang sedang didekap seorang terkutuk. Aku meminta pada Yang Mahakuasa untuk membuat engkau sadar dan kembali pulang. Kembali ke rumah kita, memeluk anak-anak kita, dan berlabuh di dalam pelukanku lagi.

***

            Suatu hari yang cerah, sinar mentari menyilaukan pandangan kedua bola mata, suara burung berkicauan riang di angkasa membuat suasana hati di pagi hari kian berwarna. Aku akan mengantar putra kecil kita ke  Taman Kanak-Kanak (TK) dan putri sulung yang sudah mengenakan seragam putih merah menuju sekolahnya. Kedua buah hati kita tumbuh dengan sehat. Aku mampu membesarkan keduanya dengan baik tanpa kurang suatu apa pun. Ketika hendak membuka pagar depan rumah. Kulihat di ujung jalan sana sebuah bayangan yang berjalan kaki menuju ke arah rumah. Aku terus mengamatinya tanpa berkedip. Sinar mentari membuatku sesekali menggunakan telapak tangan kanan untuk menutupi silau pancarannya.  

            Bayangan itu semakin mendekat, semakin terlihat jelas wajah orang di ujung sana. Aku terdiam menatap. Aku terperangah. Aku tak mengucapkan apa pun. Tak lama kemudian, kulihat engkau berdiri di depanku. Tatap matamu kosong, engkau terlihat lesu. Engkau pun terlihat lusuh sekali. Engkau hanya mengenakan baju kaus berwarna cokelat dan celana denim yang warnanya telah pudar. Engkau memakai sandal jepit dan tak membawa apa pun. Aku sungguh bingung menyaksikannya. Engkau bahkan tak mengendarai mobilmu. Engkau datang mendekat dan seketika memelukku. Aku refleks membalas pelukmu. Kedua anak kita hanya diam tak mengerti.

            “Maaf,” ucapmu lirih.

            “Maaf atas apa?” jawabku dengan nada pelan.

            “Atas semuanya,” ujarmu.

            “Ma, siapa dia?” tanya putri kecil kita.

            “Ini Papa, Nak. Peluklah Papamu,” ucapku.

            Engkau pun langsung memeluk kedua anak kita. Engkau menangis tersedu-sedu menatap mereka. Aku membiarkan engkau dalam pelukan itu. Aku membiarkan engkau terlena dalam lembah penyesalan itu. Lihatlah, Sayang. Bukankah telah kukatakan sedari awal. Akulah cinta sucimu, akulah yang akan menemanimu di masa sulit atau masa bahagiamu. Aku akan menerimamu apa pun keadaanmu. Bagaimana dengan penggoda itu? Dia sudah berhasil meremukkan perasaanmu, bukan? Setelah engkau tak memiliki apa-apa, dia membuangmu. Kita telah bersama kembali, kuharap engkau menyadari bahwa kenikmatan itu hanya sesaat. Kenikmatan sesaat yang membuat sesat. Kini engkau telah menemukan jalan pulang, jangan pernah tersesat lagi, Sayang. Kemarilah, Sayang berlabuhlah di pelukanku.

***

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!