Realita Cinta Selinayureqi
19.3
0
154

Naskah drama yang menceritakan tentang persahabatan, cinta, dan kehidupan siswa di masa putih abu-abu

No comments found.

Selinayureqi adalah sebutan untuk keempat orang gadis remaja yang menjalin tali persahabatan. Istilah itu tercipta dari nama mereka yang disingkat sedemikian rupa. Gadis yang pertama, sekaligus ketua geng adalah Sevia. Dia dikenal sebagai gadis manja dan sedikit sombong. Nayuma si gadis lugu dan sering menjadi korban perasaan. Valina si pintar yang sangat perhatian, dan yang terakhir Reqisha si gadis pintar dan tak suka jika sahabat-sahabatnya berpacaran. Walaupun memiliki karakter yang berbeda, mereka tetap bersahabat karib dan terkenal sebagai geng cewek modis dan hits di sekolah. Mereka masih duduk di bangku putih abu-abu di sebuah sekolah swasta terkenal. Sekolah itu terletak di ibu kota yang berada di pesisir pantai.

            Suatu hari, Sevia hampir terlambat datang ke sekolah.

Sevia: “Papi, cepetan, dong! Via hampir terlambat, nih.” (Manyun, pasang muka paling sebel sedunia)

Papi Sevia: “Iya, sabar dikit, dong. Papi kan sudah ngebut, nih.” (Senyum dengan putri kesayangannya)

Sevia: “Oke, deh Papi, tapi kata temen Via, mereka kini sudah baris di lapangan sekolah buat senam pagi.” (Cemberut, pasang muka paling masam biar papinya luluh)

Papi Sevia: “Sudah sampai nih, putri Papi jangan cemberut lagi ya, nanti hilang cantiknya.” (Sambil mengedipkan mata )

Sevia: “Oke, bye bye Papi Via tercinta.” (Sambil buka pintu mobil dan lari menuju gerbang)

Sevia: “Pak, Pak Satpam! Jangan tutup gerbangnya dulu dong, gue kan cuman terlambat 1 detik.”

Pak Satpam: “Iya, Mbak, cepetan masuk.”

Sevia:” Makasih ya, Pak! Moga makin cakep, ya. Hahahaha (Tertawa geli,  lalu berlari dengan cepat.)

 

Ketika sampai di lapangan sekolah. Sevia bengong sejenak melihat barisan senam untuk perempuan sudah terisi penuh oleh para siswa. Akhirnya  Sevia berbaris di ujung barisan, tepatnya di tempat siswa laki-laki berkumpul.

(Sevia pasang muka kesal waktu berbaris, sampai akhirnya ada yang mendorong dia dari belakang saat sedang diintruksi oleh para guru untuk merapikan barisan karena senam pagi akan segera dimulai)

Sevia: “Hei, lo punya mata ga? Nggak lihat orang di depan mata lo!”

Zelian:” Maaf, maaf, gue nggak sengaja (merasa bersalah ) tadi teman gue yang dorong, jadi kena lo yang di depan gue.”

Sevia: “Oh gitu…yaudah, nggak apa-apa koq. Oh ya, lo anak kelas mana, koq gue jarang lihat lo?”

Zelian: “Gue anak kelas XII IPS 6. Maklum, gue jarang keluar kelas.”

Sevia: “Oh, gitu ya, kalau gue kelas XII IPA 1.”

Zelian: “Gue sudah tahu koq, lo kan populer, cantik lagi trus member Selinayureqi, kan ya?”

Sevia: “Koq lo bisa tahu, sih? Kita kan baru pertama ketemu.”

Zelian: “Hmmz, pertanyaan gampang, siapa sih yang nggak kenal sama lo Via. Cewek pintar, cantik dan the best di sekolah ini.”

Sevia:” Makasih, lo lebay deh. Oh, ya, nama lo siapa, sih? Sudah ngobrol panjang lebar, tapi gue nggak tahu nama lo.” Hehe (Senyum-senyum malu)

Zelian: “Nama gue Zelian. tapi lo panggil aja Lian.” (Dalam hati berbunga-bunga)

           

Setelah senam selesai, bel masuk  berbunyi .Tetttttttttt………

Sevia: “Gue masuk kelas dulu ya, Ian. Bye!”

Zelian: “Oke, bye!”

Sevia masuk ke kelasnya sambil tersenyum gembira. Hampir saja dia menabrak pintu kelas.

Reqisha: “Hei Via, dari mana aja lo! Kami nyari-nyari lo tahu, nggak?”

Sevia: “Dari hatimu.” (Masih senyum-senyum dan tertawa kecil)

Nayuma: “Lo habis makan apa sih, Via? Demam atau kesambet?”

Sevia: “Nggak dua-duanya tolol, gue lagi falling in love pagi ini.”

Valina, Nayuma, Reqisha: “What? Sama siapa?”

Sevia:” Mau tahu aja.” Hehe (Wajah memerah)

Reqisha: “Cinta lagi, cinta lagi. Bete kalau lihat lo patah hati. Tahu nggak,

      sih?”

Nayuma:” Koq lo yang kesal sih, Qi? Kan teman kita lagi happy. Kita juga harus happy dong! Siapa tahu tuh cowok bisa gantiin  posisi mantan Via yang playboy dan nggak tahu diri itu.”

Valina:” Betul banget tuh, Na, gue setuju. Sekarang lo wajib kenalin sama kita-kita.”

Sevia: “Oke deh, teman-teman gue yang cerewet. Tenang aja, gue yakin tuh cowok beda sama mantan gue yang super zuper nyebelin itu.”

Keesokan harinya…

Di kelas XII IPA 1 sedang rusuh akibat tidak hadirnya guru yang seharusnya mengajar di kelas. Semua siswa senang, kecuali Sevia yang sedang memikirkan sesuatu. Dia pun keluar kelas sambil menghirup udara segar dan merasakan angin sepoi-sepoi.

Dia melihat siswa kelas lain yang sedang olahraga. Tiba-tiba matanya  tertuju pada seorang cowok manis yang dia lihat minggu lalu.

Tiba-tiba…

Valina: “Hei girl, lagi ngapain? Lihat siapa lo, sampai nggak ngedip lagi?”

Sevia: “Itu, Na, cowok yang di belakang itu, yang tinggi, dan punya lesung pipi.”

Valina : “Kenapa emang? Itu kan Zelian.”

Sevia: “Lo kenal?”

Valina: “Iya, Via sayang. Dulu waktu kelas X, gue sekelas sama tuh cowok.”

Sevia: “Benaran? Itu cowok yang gue ceritain kemarin, Na. Keren kan?”

Valina: “Hahah (Tertawa geli) lo suka? Tenang aja nanti gue comblangin deh.” (Mengedipkan mata)

           

Di suatu hari yang sangat terik, Selinayureqi, gadis-gadis manis dan modis itu jalan lewat koridor sekolah menuju musala. Mereka berencana untuk mencuci muka karena muka yang terlihat sedikit kusam. Namun, tak disangka Sevia bertemu dengan seseorang.

Zelian : “Via!”

Sevia: (Membalikkan badan) “Eh, Lian!”

Zelian: “Mau ke mana, nih?”

Nayuma: “Biasa mau cuci muka, bro!” (Sambil merangkul Via yang salting)

Zelian: “Oh, gitu ya.” (Menggaruk kepala)

Sementara Sevia, Nayuma, Reqisha berjalan terus ke depan. Namun, ternyata Valina tak mengikuti teman-temannya tersebut. Dia justru asik cerita dengan Zelian.

Zelian: “Na, minta nomor Hp-nya Via, dong!”

Valina : “Boleh, boleh, wani piro dulu.” Hahah (Tertawa geli)

Zelian:” Ah, lo Na, nggak berubah-berubah. By the way, Via lagi jomblo kan ya?”

Valina : “Koq bisa tahu bro? Tahu dari mana?” (Bingung)

Zelian: “Dari status Facebook-nya.” Hahaha (Tertawa lucu)

Valina: “Benar-benar, tuh anak. Facebook dijadikan tempat curhat.” (Geleng-geleng kepala)

Zelian: “Emmz, mana nih nomor Hp-nya? Biar nanti malam gue sms dia.”

Valina: “Sini biar gue ketik di Hp lo.”

Zelian: “Oke, makasih ya, Na. Comblangin gue dong!”

Valina: “Iya, sama sama. Gue siap, koq jadi mak comblang kalian.” (Senyum lebar) Asal teman gue bahagia aja.

 

Keesokan paginya, Sevia datang ke kelas sambil tersenyum lebar

Sevia: “Gue orang paling bahagia sedunia” (Teriak-teriak nggak jelas)

Nayuma: “Kenapa lo, Via? Salah makan obat?”

Sevia: “Tebakan lo salah sobat!” (Masih tersenyum, sambil megang Hp)

Reqisha: “Terus kenapa, Via sahabat gue yang manis?”

Sevia: “Zelian sms gue, terus hari ini dia bilang mau ngajakin ngobrol-ngobrol gitu. “(Mata masih menuju ke Hp)

Reqisha, Nayuma: “Oh, gitu.”

Valina: “Hayo, apa yang terjadi pada sahabat gue?” (Tiba-tiba datang)

Sevia: “Zelian Na, dia sms gue. Katanya lo yang ngasih nomor Hp gue.”

Valina: ”Iya, tapi lo senang, kan ya?”

Sevia: “Senang lah, Na. Senang banget malahan.”

           

Selang beberapa minggu kemudian, Zelian dan Sevia jadian. Gosip itu sangat cepat menyebar. Seluruh pelosok sekolah semua sudah tahu. Bahkan ibu kantin pun tahu gosip hangat itu. Konflik baru dimulai, bersiap-siaplah untuk perpecahan Selinayureqi.

Nayuma: “Mau curhat, nih.” (Tampang sedih)

Valina : “Curhat apa, Yu?”

Nayuma: “Begini, tadi gue baru ketemu sama Yudha, terus dia bilang mau balikan lagi sama gue.”

Valina, Sevia, Reqisha: “What?”

Sevia: “Terus, lo mau nerima dia lagi?”

Nayuma: “Tuh dia, gue kini bingung mau gimana.”

Reqisah: “Big NO girl! Gue nggak setuju.” (Pasang muka marah)

Valina: “Mending lo mikir dua kali bahkan sepuluh kali, Yu. Lo bayangin aja udah dua kali dia khianatin lo.”

Nayuma: “Tapi dia bilang mau berubah, Na. Kali ini dia janji nggak bakal ngulangi kesalahannya lagi.”

Sevia: “Ya, terserah lo aja deh, Yu!”

Reqisha: “Gue setuju sama Valina, Yu! Mending lo pikir-pikir lagi.”

Nayuma: “Tapi keputusan gue sudah bulat nih, gue yakin dia bakal berubah.”

Reqisha: “Kalau memang itu yang lo anggap yang terbaik. Kami hanya bisa mendukung. Kalau lo senang, kami bakal senang. Tapi kalau lo disakitin lagi, terima resikonya sendiri. Ngerti!”

Nayuma: “Iya,Qi. Moga-moga itu nggak terjadi lagi.”

Sevia: “Dengar tuh nasihat Reqisha Yu. Jangan sampai lo nyesal dan nangis untuk kesekian kalinya.”

Nayuma: “Semoga itu tak kan terjadi. “(Suasana jadi hening)

           

Di suatu senja yang indah, Sevia datang ke sekolah untuk  melihat Zelian main basket. Hubungan mereka berdua semakin dekat. Hal itu, membuat orang di sekitarnya merasa iri.

Sevia: “Ini minumnya” (Via membawakan coca cola kesukaan Zelian)

Zelian: “Makasih ya, Sayang.” (Tersenyum manis, bahkan lebih manis dari madu)

Sevia: “Sama-sama.”

            Pandangan Via seraya berubah ketika melihat Yudha dan Dimas.

Sevia: “Yudha? Dimas?” (Tampang terkejut)

Yudha dan Dimas: “Kenapa, Via?” (Heran)

Sevia: “Kalian anak basket juga? Terus satu  klub sama Zelian, ya?”

Yudha : “Benar banget. Memangnya kenapa?”

Sevia: “Wahh, bagus banget nih. Jadi kita kan bisa trio date gitu. Gue sama Zelian, Dimas sama Valina, dan lo sama Nayuma.” (Senyum tipis)

Zelian: “Ide bagus, tuh!” (Langsung menjawab usulan Via)

Dimas dan Yudha: “Boleh juga tuh.”

            Keesokan harinya Sevia mengajak sahabat-sahabatnya itu untuk trio date. Mereka semua setuju, tetapi semua itu berubah setelah Valina dipanggil wali kelasnya.

Ibu Sinta: “Na, kenapa nilai Try Out Bahasa Inggris kamu begini?”

Valina : “Hah!” (Valina terkejut melihat hasil Try Out-nya)

Ibu Sinta: “Ibu tahu kamu bisa, tapi kenapa hasilnya begini? Biasanya nilai kamu nggak pernah di bawah 70.“

Valina: “Mohon maaf, Bu. Waktu itu, Lina nggak fokus mengerjakan soal.” (Tampang sedih)

Ibu Sinta: “Ya sudah, nanti belajar lagi. Ibu takut nanti waktu ujian juga nggak fokus. Cobalah untuk belajar lagi dan tinggalkan sesuatu yang bisa membuat kamu malas.”

Valina : “Baik, Bu. Lina akan berusaha lebih baik.”

            Valina berjalan lesu setelah keluar dari ruang guru. Hal itu membuat sahabatnya heran. Dia menjadi pendiam dan sering melamun. Akhirnya, Valina menemui Dimas tanpa diketahui sahabatnya.

Valina : “Maaf, Baby. Kita harus akhiri semua ini.”

Dimas: “Maksudnya, By?”

Valina : “Hubungan kita batas sini saja.” (Lina langsung membalikkan badan)

Dimas : “Tapi alasannya apa?” (Menarik tangan Lina)

Valina: “Nilai Lina turun, By. Untuk kali ini, Lina harus fokus, karena  ujian praktik tinggal satu minggu lagi. Semoga Baby bisa ngerti keadaan Lina.” (Air matanya jatuh)

Dimas: “Jika ini yang terbaik, Dimas akan terima keputusan Baby.”  (Melepaskan genggaman tangannya pada Lina)

Valina : “Makasih, ya, udah ngerti perasaan Lina.” (Tersenyum pahit)

           

Beberapa hari kemudian Valina curhat dengan sahabat-sahabatnya. Sahabatnya lebih memilih diam, daripada memberikan komentar yang aneh-aneh. Mereka takut itu akan membuat perasaan Valina terluka.

Suatu hari, Valina dan Reqisha pulang bersama setelah ikut bimbingan belajar di luar sekolah. Tak sengaja, mereka melihat Yudha sedang jalan dengan seorang gadis, tetapi itu bukan Nayuma.

Keesokan harinya…

Reqisha: “Yu, kemarin sore gue sama Valina lihat Yudha jalan sama cewek.”

Nayuma: “What? nggak mungkin banget kali! Dia bilang kemarin itu dia lagi di rumah main game.”

Valina: “Tapi kami nggak buta, Yu. Kami lihat itu jelas banget, koq.”

Nayuma: “Terserah kalian mau ngomong apa. Jangan coba-coba fitnah ya, buat ngerusak hubungan gue sama Yudha.”

Reqisha: “Tapi seharusnya lo sadar, Yu! Lo ternyata lebih percaya sama Yudha daripada sahabat lo sendiri.“ (Muka sedih)

Nayuma: “Kalian jahat! Kenapa buat gosip kayak gitu!”

Sevia: “Apa-apaan kalian! Kenapa malah ribut? Yaudah, Yu. Nggak usah dengarin kata-kata mereka.”

Valina: “Astaga, Via! Jadi lo nggak percaya sama kami, sahabat lo sendiri?”

Sevia: “Bukannya nggak percaya, Na. Tapi kalian juga nggak punya bukti yang kuat, kan ya?”

Reqisha: “Yaudah, kalau kalian berdua nggak percaya! Kita buktikan aja siapa yang benar dan siapa yang salah.”

           

Perang dingin dimulai. Suasana jadi hening dan penuh amarah. Persahabatan mereka terpecah menjadi dua. Valina dan Reqisha, Sevia dan Nayuma. Hampir seminggu mereka bertengkar. Sampai suatu saat Sevia buat acara kejutan ulang tahun buat Zelian. Sevia ditemani oleh Nayuma, mereka datang kerumah Zelian sore itu. Mereka tiba di rumah Zelian diam-diam. Namun, kejutan yang didamba-dambakan Via itu, tak berjalan seperti yang diharapkan. Sevia mendengar percakapan Zelian dengan teman klub basketnya.

Yudha : “Hebat lo, bro! Bisa taklukin hatinya Sevia, salut deh buat lo!”

Zelian : “Siapa dulu dong!”

Dimas : “Terus lo mau hadiah apa atas kemenangan taruhan kita?”

Zelian : “Gue mau sepatu basket lo yang terbaru.” (Tertawa terbahak-bahak)

Dimas: “Parah lo, bro!” Nggak tanggung-tanggung permintaan lo. Sepatu basket gue

              original, jutaan harganya.”

Yudha: “Yaudah, nggak apa-apa, bro. Yang penting lo udah balas dendam sama tuh cewek, gue sakit hati bukan main. Dia nolak gue dua kali. Terus gue mainin tuh sahabatnya dia, si Nayuma yang bego itu.” Hahaha (Tertawa terbahak-bahak)

Dimas: “Sabar. bro. Gue juga lagi sakit hati sama temannya Via tuh, dia mutusin gue.”

Yudha: “Memang dasar, tuh Sevia. Sok cantik banget.”

Zelian : “Jadi kini udah pada lega, kan ya?” (Tertawa geli)

Yudha : “Lumayan lah, bro. Makasih ya, lo memang keren!”

 

            Sementara Sevia dan Nayuma mendengar seluruh isi pembicaraan mereka dari luar rumah. Sevia sudah sangat geram mendengar percakapan tiga sekawan itu. Akhirnya, dia masuk ke rumah Zelian yang kebetulan tidak dikunci.

Sevia: “Dasar cowok sialan!”

Yudha : “Sejak kapan kalian di sini?”

Nayuma: “Sejak lo bilang kalau lo mainin gue!”

Sevia: “Dasar lo bertiga sama aja! Puas lo semua nyakitin perasaan gue dan Nayuma? HAH!!”

Zelian : “Gue bisa jelasin, Via. Tolong dengarin gue dulu.”

Sevia: “Gue nggak butuh penjelasan dari lo! Ini kado ulang tahun buat lo! Dasar sialan!” (Melemparkan kue ulang tahun yang dibawanya ke wajah Zelian)

Nayuma: “Rasain, tuh!” (Keluar rumah bersama Via)

        Sejak kejadian yang menyebalkan itu, perasaan bersalah dibenak Sevia semakin dalam. Apakah semua ini kesalahannya? Sevia memberanikan diri untuk menghubungi sahabatnya. Hari itu, Sevia, Valina, Nayuma berkumpul di rumah Reqisha.

Sevia: “Maafin gue, ya semuanya.” (Sevia mencoba untuk menahan isaknya)

Nayuma: “Nggak apa-apa koq, Via. Ini bukan sepenuhnya salah lo.” (Mengelus pundak Via)

Reqisha: “Sudahlah, Via. Ini sudah berlalu.”

Valina: “Benar, Vi. Kami semua udah maafin lo, koq. Jadikan ini semua sebagai pelajaran. Karena semua itu ada hikmahnya.” (Menghapus air mata Via)

Reqisha: “Anggap aja masalah yang lalu sebagai cobaan dan kita bisa melaluinya.”

Nayuma: “Betul banget tuh! Yang lalu biarkan berlalu. Sekarang lupakan dan hapus semua kenangan buruk kita.” (Tersenyum tipis)

Sevia: “Makasih, ya semuanya. Kalian selalu ada untuk gue. Selama ini, gue nggak sadar kalau kalian sangat berharga.”

Nayuma: “Gue juga minta maaf sama kalian. Waktu itu, gue nggak percaya sama kalian dan lebih percaya sama tuh cowok.” (Menunduk malu)

Valina dan Reqisha : “Ya, nggak apa-apa, koq Yu.”

Reqisha: “Ya sudah, sekarang lebih baik kita belajar sama-sama. Bentar lagi kan Ujian Nasional.” (Mengambil buku)

Sevia, Nayuma, Valina: “Setuju!”

Sevia: “Sekarang yang terbaik adalah belajar untuk masa depan. I love my best friends.” (Memeluk sahabat-sahabatnya)

Nayuma, Valina, Reqisha: Love you too. (Mereka kompak menjawab ucapan Via, dan balas merangkul pelukan sahabatnya itu)

  

*SELESAI*

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!