Salah Target
158
98
1.1K

Aku suka dia. Dia suka aku. Dia yang satunya juga mungkin suka. Tapi aku malah jadian sama yang lain. Rumit, bukan? Cinta memang tidak sesederhana dua orang yang saling mencintai.

  • Mak, pengen rekrut jasa geplak nggak? Aku siap kok geplak bang Arka… Beneran ini Mak, aku bakalan semangat kalau ada…

  • Seruu banget plisss lanjut dong makkk, semangat emakk, penasaran sama kelanjutan kitaa cinta si kentang😩

  • Aku berharap makris bisa menang dan bisa nerbitin buku ini jadi novel. Aku merasa pengen baca kelanjutan ceritanya karena gantung banget huhuhu 😭 penasaran banget kelanjutan nya!!

  • Makris kalau bikin cerita emang gak pernah gagal sih😻

  • Aku pengen couple andalan ku berlayar 😭

  • Penasaran sama kelanjutannya mereka, masih kagak rela aku bang Satria nggak sama mbak yerma

  • Masa Orientasi Siswa.

    Momen yang bisa dibilang menyebalkan sekaligus menyenangkan. 

    Pagi dimulai seperti biasa. Murid-murid berpakaian putih biru dikumpulkan di tengah lapangan sesuai kelompoknya masing-masing. Aku celingak-celinguk sendiri karena beberapa teman satu almamaterku malah berada di kelompok lain. 

    “Hei, kamu!”

    Perhatian seluruh kelompok kompak tertuju ke arah yang ditunjuk senior.

    “Mana barang-barang yang kemarin kami minta?”

    Cowok bertubuh jangkung yang berdiri di baris belakang, malah menoleh ke teman sebelahnya. Sumpah, tidak sadar diri. Padahal jelas-jelas yang ditunjuk dia.

    “Iya, kamu itu! Kok malah nyikut temennya?” Senior yang sejak tadi mengawasinya mulai frustrasi menghadapi ketidakpekaannya. 

    “Oh, tadi kebanjiran, Kak. Barang-barangnya ikut hanyut.” Cowok itu menjawab dengan wajah polosnya. 

    Tawa meledak di barisan kelompok kami. Gila, benar-benar gila. Jawaban yang sungguh di luar ekspektasi. Bisa-bisanya bilang kebanjiran, di saat matahari lagi terik-teriknya?

    “Kamu jangan main-main sama saya, ya! Ini udah kewajiban kalian mengikuti semua aturan senior selama Masa Orientasi Siswa! Dateng-dateng kosongan gitu.”

    “Hee, tahu aja saya suka makan bakso kosongan, Kak,” jawab si cowok sambil nyengir lebar.

    Teman di sebelahnya ternyata tak kalah gila. “Loh? Lo beli bakso kosongan, berarti makan kuah doang, dong?”

    Lantas keduanya tertawa heboh.

    Daripada semakin frustrasi, senior langsung memberinya hukuman. Ia dipanggil maju kemudian salah satu senior membisikkan sesuatu padanya. 

    “Capsicum Annuum!”

    Tiba-tiba cowok itu menyebutkan sesuatu yang sulit diterjemahkan telinga kami.

    “Nggak ada yang mau nolongin ni bocah? Bawakan ke sini apa yang dia minta, saya bebaskan teman kalian dari hukuman.”

    Sebuah suara menyahut dari belakang. “Mager, ah, Kak! Yaudah, kita ikhlas lahir batin kalo dia dihukum.”

    Si korban mendelik. “Bego banget sih, lo, gitu aja nggak bisa. CAP-SI-CUM AN-NUM!” Seenaknya mengatai teman-temannya, padahal ia sendiri juga tidak tahu. 

    “Gue calon anak IPS, lo tanya begituan mana paham?” Cewek berkacamata yang rambutnya dikuncir dua belas itu, berdiri paling depan. Ia bersungut sambil mengelap keringatnya.

    Serius. Ini bukan candaan. Kuncirnya benar-benar berjumlah dua belas. Itu belum seberapa dibanding dengan jumlah kunciran rambutku. Dua puluh tujuh! Bayangkan rambut tipis ini dikuncir dua puluh tujuh, sekilas bentuknya mirip ekor cicak.

    “Oke, nggak ada yang bisa bantuin dia?” 

    Suara senior di depan sontak mengalihkan perhatianku dari cewek berkacamata tadi.

    “Capsicum Annuum?” Keningku berkerut. Kayaknya familiar? 

    Di antara keheningan dan ketidakpastian nasib cowok slengekan itu, sebuah tangan tiba-tiba terangkat. 

    Benar, itu tanganku. 

    “Saya izin ke belakang.” 

    Seluruh barisan kompak menyoraki. Termasuk cowok di depan yang mengira aku akan menjadi malaikat penolongnya. 

    “Yaudah, cepet sana!”

    Sebelum sorakannya semakin ramai, aku cepat-cepat keluar barisan. Namun bukannya berbelok ke toilet, aku malah berderap menuju kantin. Berbincang sesaat dengan penjual di sana lalu pamit begitu mendapat apa yang kubutuhkan.

    Aku menghampir beberapa senior yang berdiri di depan sembari mengawasi si sandera.

    “Capsicum Annuum.” 

    Tanpa terbata-bata, aku mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Tanganku yang menggenggam cabai terulur. “Bener, kan?” tanyaku memastikan pada senior-senior di depan.

    “Woaaa…”  Anak-anak bersorak. 

    Sementara si sandera cuma cengar-cengir. Merasa penyelamatnya datang.

    Jujur saja, niatku bukan untuk menjadi superheronya. Aku hanya malas mendengar teriakan-teriakan para senior. Berisik. Bikin suasana tambah panas aja. Matahari rasanya ada di atas ubun-ubun, apa masih kurang panas?

    Mungkin ini juga hari keberuntungannya. Kebetulan saja kakak pertamaku yang kuliah di jurusan Pertanian, sedang menyusun skripsi bertema cabai. Setiap hari main ke kamarnya dan melihat-lihat isi skripsinya, aku jadi ingat kalau itu nama ilmiah cabai. 

    “Utang budi lo sama tu cewek.”

    Salah satu senior menyikut lengannya. Namun cowok itu hanya melengos. Kembali ke barisannya tanpa menoleh sekali pun ke arahku. Dasar nggak tau terima kasih!

    ***

    Ternyata benar. Hari pertama MOS rasanya sangat panjang. Kayaknya penyiksaan ini sudah berjalan seharian. Tapi selesai istirahat makan salat, masih banyak list kegiatan yang menanti kami sampai jam tiga nanti.

    Kira-kira, penyiksaan apalagi yang harus kami hadapi?

    “Sstt..”

    Aku menoleh ke samping. Gadis berkuncir dua mengulurkan sesuatu padaku. Wah, beruntung sekali kuncirannya cuma dua. Jadi gemas. Mirip ponytailnya member JKT48.

    “Ini buat apa?” tanyaku dengan alis berkerut. Heran bercampur bingung. Karung goni?

    “Karung goni biasanya buat apa?” 

    Suara dari belakang membuat kami menoleh bersamaan.

    “Buat mulung.” Kami menjawab kompak.

    Cowok itu mengangguk sekali. “Nah, itu tau.”

    Tatapanku turun ke papan dus yang dikalungkan ke lehernya. “Oryza Sativa.”

    Wah, enak banget dapet nama yang gampang. Sementara peserta MOS yang lain mendapat nama-nama latin tumbuhan yang terdengar benar-benar asing. Sebutlah namaku, Solanum Tuberosum. Aku baru tahu itu nama latin kentang. 

    Setengah kesal ketika senior memberikan nama itu. Ya, aku tahu mukaku kayak kentang. Tapi jangan terang-terangan gini, kan? Malunya jadi dobel. 

    Jadi, selama MOS berlangsung, kami harus memakai nama pemberian senior. Hal yang sama juga berlaku ketika ingin memanggil temanmu.

    Bagaimana kalau lupa nama sendiri? Tenang, itu sering terjadi. Kemungkinannya cuma dua. Diomelin senior dan diketawain teman seangkatan.

    “Tugas kalian siang ini…”

    Suara lantang salah satu senior membuat perhatianku kembali tertuju ke depan. 

    “Kumpulkan sampah sebanyak-banyaknya. Kami beri waktu sampai jam 2,” sebelum barisan peserta MOS bubar, ia cepat-cepat menambahkan, “kalau sampai karung kalian masih kosong, kami punya tugas lain untuk kalian.”

    “Mau pulang cepet, kan?” tanya senior lain setengah berteriak.

    “Mauuu…” 

    Peserta MOS menjawab malas-malasan.

    “MAU NGGAK?”

    “MAUUUUUU!” Kami merespon tak kalah ngegas.

    Setelah barisan dibubarkan, kami berpencar. Aku dan Zingiber Officinale, gadis berkuncir dua yang menggemaskan tadi, bersama-sama menuju belakang sekolah.

    “Panggil gue kentang.”

    Gadis itu melotot tak suka. “Heh, nggak boleh insecure gitu. Lo cantik, kok.”

    Aku tersenyum kecut. “Itu emang nama gue disini. Nama ilmiah gue susah bangettt,” jelasku sambil menunjuk papan yang digantungkan dengan tali rafia di leherku. “Artinya kentang.”

    “Kalo gitu panggil gue jahe.” Ia mengulurkan tangan dengan bangga.

    Padahal aku juga bisa membaca nama aslinya yang tertulis di seragam. Tapi rasanya lebih seru memanggilnya dengan nama pemberian senior. Jahe! 

    Halaman belakang sekolah menjadi tempat teraman dari pengawasan para senior. Kebanyakan mereka ada di lapangan atau ruang panitia. 

    Di saat anak-anak lain fokus mencari sampah-sampah kecil di halaman belakang sekolah, dua cowok tinggi berjalan beriringan dengan gaya sok. 

    What’s? Karung dia kok udah penuh? Cepet amat.. ” Si jahe tampak tidak terima.

    Aku berdecak. “Itu isinya bukan sampah, tapi dosa-dosa dia.”

    Jahe terkekeh. Aku sampai lupa nama asli cewek ini gara-gara keseringan manggil jahe. 

    “Yang mau gue bagi sampah, kesini!” 

    Teman-teman sekelompok kami sontak berlari mengerumuni keduanya. Minta hibahan sampah. Oryza cuma nurut-nurut aja. Sementara cowok di sebelahnya cengar-cengir bangga karena mendadak punya banyak fans. Itu cowok yang dihukum pagi tadi. Aku baru tahu kalau ternyata mereka akrab. 

    “Eh, kok karung lo baru dikiti isinya?” sapa Oryza, tanpa sengaja menoleh ke arahku.

    Tahu-tahu ia menyambar karungku. Ditumpahkan sebagian isi karungnya ke karungku yang langsung terlihat hampir penuh. “Kalo lo dihukum, kita semua juga kena. Kan, moto senior tuh, satu untuk semua, semua untuk satu,” jelasnya dengan suara lembut. 

    Cowok di sebelahnya mengangguk-angguk. “Jadi jangan geer lo. Dia emang baik ke semua orang, terutama ke cewek-cewek. Hahaha.”

    Jahe menyikut lenganku. Kesal juga mendengar ucapan cowok itu. Aku mengeja tulisan di papan nama dus yang dikalungkan di lehernya. 

    “Ginkgo Biloba.” 

    Dasar Boba jelek! Aku merutuk di dalam hati. Entah artinya tanaman apa, tapi mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan sebutan itu. Boba jelek! 

    ***

    Ini hari kedua. Masih ada sisa tiga hari lagi sampai aku benar-benar terbebas dari penyiksaan MOS. 

    “Ginkgo Biloba!”

    Masih pagi. Baru beberapa menit yang lalu upacara selesai, Si Boba udah berulah lagi? 

    “Kami minta kalian bawa permen kiss yang tulisannya, ‘I miss you’. Satu biji aja!”

    Kami mengangguk-angguk. 

    “Trus kenapa temen kalian ini..” Senior menunjuk-nunjuk wajah Si Boba. “Dia bawa sepuluh bungkus besar, padahal ini sebungkus isinya berapa coba?”

    “Banyak, Kak.” Si Boba menjawab dengan wajah tanpa dosa. 

    “Nah, itu kamu tahu. Trus nanti sisanya, mau diapain? Permen sebanyak itu mau kamu makan semua?”

    Si Boba cengengesan. “Itu yang jadi pertanyaan temen-temen gue. Mereka pasti juga beli permennya nggak cuma sebiji dua biji, tapi berbungkus-bungkus sampe dapet tulisan yang diincer. Sisanya buat apa? Teman-teman gue juga pasti bingung. Sama kayak lo sekarang, Kak.”

    Tidak satu pun senior disana yang bersuara. Cuma saling lirik, berharap salah satu di antara mereka ada yang bisa melancarkan serangan balik ke Si Boba. 

    “Silahkan diperiksa. Gue yakin di salah satu bungkus itu, pasti ada entah sebiji dua biji yang tulisannya ‘I miss you.’  Jadi gue nggak ngelanggar aturan, kan?”

    Senior yang berhadapan dengannya cuma bisa menghela napas panjang. 

    Si Boba ini emang sering bikin masalah alias trouble maker.. Tapi ajaibnya, dia selalu punya seribu alasan untuk menyelamatkan diri. 

    “Nggak usah banyak omong. Balik ke barisan sana.” Senior cowok berwajah garang melangkah maju dan berdiri di depannya. 

    Senyum sinis nan mengejek terulas di bibir Si Boba. “Santai aja, Bro. Gue nggak nantangin, cuma mengemukakan fakta aja.”

    Drama masih berlanjut. Dua cowok yang sama-sama tidak mau kalah itu, kini bertatapan sengit.

    Sebelum situasi semakin memanas, Oryza bergegas maju menjadi penengah keduanya. “Sorry, Kak.”

    Senior yang bersiteru dengan Boba, mengangguk maklum. Denger-denger,sih, semasa SMP dulu Oryza aktif di banyak organisasi. Kenal banyak senior bahkan akrab. Kebanyakan murid yang menuntut ilmu di SMA ini, berasal dari almamater yang sama, SMP 21. Sayangnya orang tuaku memilih SMP lain yang lebih dekat dengan tempat kerja ayahku agar lebih mudah mengantarku sekolah. 

    “Untuk tugas hari ini, setelah perkenalan dari masing-masing ekskul, kalian harus mengumpulkan tanda tangan panitia MOS.” 

    Senior memberi informasi sembari membagikan buku berisi tabel nama juga kolom kosong untuk ditandangani. Belum-belum aku sudah mual. Jumlahnya dua puluh orang. Males banget pasti nanti pada sok ngartis.

    “Ck, sok ngartis banget.”

    Aku celingak-celinguk. Baru saja membatin, kenapa ada suara lain? Begitu aku menoleh ke belakang, ternyats Si Boba udah monyong-monyong sambil asyik main hp.

    “Dikira gue bakal ngejar-ngejar mereka buat minta tanda tangan? Mager banget. Mending ngrokok sambil makan bakwan pecel di kantin.” Dia ngomel lagi.

    Bahkan mau ngomel sampai berbusa pun, yang namanya tugas ya tugas. Prinsipku daripada kena hukuman, mending dilakuin aja. Tapi kayaknya ini tidak berlaku bagi si trouble maker. Buku yang dibagikan senior malah digulung-gulung lalu dimasukkan paksa ke saku celana. 

    Luar biasa pemberontakan siswa yang satu ini. Kupikir cowok trouble maker sepertinya, cuma ada di cerita-cerita wattpad atau series di televisi. Ternyata benar-benar ada dan nyata.

    ***

    Di antara semua kegiatan dari awal MOS, menurutku yang paling seru promosi ekstrakulikuler. Dibuka dengan pertunjukan dari klub cheers. Backsound selama promosi pakai lagu korea yang lagi ngehitz. Aku dan Si Jahe langsung heboh sendiri begitu tahu kita sefandom, sama-sama Ikonic. 

    Sayangnya, masing-masing ekskul cuma diberi waktu dua puluh menit untuk promosi. Begitu klub cheers meninggalkan lapangan, sekelompok murid berpakaian rapi dan sepatu seragam, berpencar mendatangi barisan peserta MOS.

    “Buat tiga barisan sesuai tinggi badan.”

    Peserta MOS langsung mengeluh. Yang galak dan tegas gini, pasti dari ekskul Paskibra.

    Dan benar saja, kami diberi materi baris-berbaris. Berkebalikan denganku yang ada di pojok belakang, Si Boba yang paling tinggi baris di ujung depan. Kira-kira selama lima belas menit kami dijemur di lapangan, bak ikan yang sudah diiris tipis-tipis siap dijadikan kripik.

    Untungnya, setelah promosi ekskul Paskibra, kami diberi waktu istirahat. Eitss, tapi bukan MOS namanya kalau kami bisa berleha-leha begitu saja. Masih ada PR mengumpulkan tanda tangan senior-senior laknat itu.

    “Mending senior yang malaikat dulu apa yang iblis dulu?”

    “Yang iblis dulu aja kalik, ya. Biar capek di awal, mulus di akhir. How?” Aku meminta persetujuan Si Jahe.

    Gadis itu mengangguk. Kami berjalan ke koridor kelas IPA 2, dan target pertama kami bernama Kak Adit. 

    “Sini bukunya.”

    Aku melongo. Semudah itu? 

    Namun ternyata nasib Jahe tidak semulus diriku. 

    “Kamu duduk di sini dulu.” Kak Adit menujuk gadis itu lalu menoleh ke arahku. “Kamu ke kelas Kak Andri.”

    Setengah tidak tega, aku melangkah meninggalkan kelas Kak Adit sambil mengepalkan tangan memberi semangat pada Jahe.

    Kata peserta MOS yang lain, Kak Andri langsung sat set asal udah dapet tanda tangan Kak Adit. Jadi..mari kita buktikan.

    Ragu-ragu aku menghampiri Kak Andri yang baru selesai sholat duha dan sedang memakai sepatu di depan mushola.

    Dia melirikku sekilas lalu kembali fokus mengikat tali sepatunya. “Aku lagi sedih. Tolong nyanyiin lagu Marvin Gaye, dong.”

    Glek. Mampus. Lo belum tahu suara gue, kan, Kak? Bukan cuma sedih, lo bahkan bisa bad mood seharian begitu gue nyanyiin.

    “Tapi, Kak…”

    Baru dua patah kata, tapi aku sudah mendapat lirikan sinisnya.

    “Maksud saya, itu kan lagu duet..He…” Aku mencoba bernegosiasi.

    Kak Andri mengangguk-angguk. “Oh, mau cari partner? Oke..kamu mau duet sama siapa? Ntar gue panggilin orangnya.”

    Otakku langsung berputar. Ini tidak akan sulit jika aku bisa memanggil nama-nama temanku dengan nama aslinya. Masalahnya, aku tidak mengingat satu pun nama mereka apalagi yang cowok-cowok.

    Eh, tunggu sebentar. Ada satu nama yang mudah diingat.

    “Gimana? Jadi, nggak? Kalau nggak ya, aku mau balik ke ruang OSIS.”

    Tanpa sadar aku langsung nyeplos, “Oryza Sativa, Kak!”

    Ini nama yang familiar dan mudah diingat. Nama ilmiah padi.

    Kak Andri mengetik sesuatu di ponselnya. Entah menghubungi siapa, selesai mengirim pesan lewat what’s app, semenit kemudian Oryza datang.

    Cowok berkulit sawo matang itu menoleh bingung ke arahku.

    “Sorry…” ucapku tanpa suara.

    Ia malah tertawa seolah bisa menebak kalau aku lagi jadi korban kejahilan senior.

    “Dia butuh partner duet, Sat,” kata Kak Andri tanpa basa-basi.

    Sat? Aku melirik tulisan bordir di seragam SMP cowok itu. Oh, nama aslinya Satria. Kok pas banget? Satria? Sativa? Sama-sama bisa dipanggil Sat. 

    “Heh, lo pinter banget cari partner yang asli penyanyi. Awas kalo lo malah bikin rusak lagunya.” Kak Andri memperingati sambil menyikut lengan cowok itu.

    Apa-apaan ini? Mereka saling kenal?

    Karena tahu aku sedikit gugup, Satria mengambil part pertama.

    Let’s Marvin Gaye and get it on

    You got the healing that I want

    Just like they say it in the song

    Until the dawn

    Let’s Marvin Gaye and get it on..

    Refleks aku menoleh sambil menganga. Demi apa demi apa…merdu banget loch suaranya.

    Sampai-sampai aku tidak menyadari Satria sudah menyelesaikan baris pertama sementara aku malah mematung mengagumi suaranya.

    Kak Andri dan Satria sama-sama menatapku seolah menunggu peserta audisi mulai bernyanyi.

    Woooo…

    There’s loving in your eyes

    That pulls me closer

    It’s so subtle

    I’m in trouble

    But I’d love to be in trouble with you

    Sambil bernyanyi lirih, aku menatap Satria dan Kak Andri bergantian. Beruntung, sepertinya suaraku masih bisa diterima telinga mereka.

    Kak Andri mengangkat ponselnya lalu mengarahkan kameranya ke kami ketika lagu mencapai reft kedua. Sementara Satria menjentik-jentikkan jarinya mengikuti tempo sampai akhir lagu. 

    “Not bad.” Kak Andri memiringkan bibirnya. “Beruntung lo minta partner Si Satria.” Ia menarik bukuku lantas menorehkan tanda tangan di kolom namanya.

    Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Bukannya sengaja milih Satria, masalahnya yang namanya kuingat cuma Oryza Sativa. Mau gimana lagi?

    Selesai mendapat tanda tangannya, aku menuju ke senior lainnya. Satria masih bersama Kak Andri. Entah ngomongin apa, tapi Kak Andri yang terkenal jutek itu sampai ketawa sambil menepuk-nepuk punggung Satria.

    Fix, pasti lagi ngetawain suara gue. Jadi gue kudu siap mental kalau habis ini dighibahin sama panitia MOS. Sumbernya sudah pasti Kak Andri.

    “Itu apaan rame-rame?”

    Harusnya aku kembali ke lapangan. Mencari senior lain mengumpulkan tanda tangan mereka, eeh, taunya malah nyasar ke tempat lain. Letaknya di bekakang halaman sekolah. Semacam teras gudang yang sudah tidak terpakai. Aku melihat sekumpulan peserta MOS berkerumun.

    “Lo nggak ikut antri?” sapa seorang gadis yang melewatiku.

    Aku mengernyit penasaran. “Ha? Itu pada ngerumunin siapa? Senior yang mana?”

    Gadis itu terbahak. “Senior darimane?” Lalu tanpa memberi jawaban yang jelas, gadis itu berlari terburu-buru menghampiri kerumunan.

    Tubuhku yang pendek membuatku kesulitan melihat sosok yang berada di dalam kerumunan itu. Sampai akhirnya satu per satu mulai membubarkan diri dan hanya tersisa tiga orang yang mengantri.

    “Hah? Lo malsuin tanda tangan? Ih, kok curang, sih?” 

    Sumpah, ini kali pertama aku bertemu seseorang yang sinting dan nekad sepertinya. Siapa lagi kalau bukan Si Boba? Selain trouble maker, ternyata cowok ini punya keahlian yang dibutuhkan para peseta MOS, yaitu memalsukan tanda tangan.

    Bukan cuma itu, ia juga menghasilkan cuan yang mungkin cukup untuk memborong semua makanan di kantin dari hasil keahliannya memalsukan tanda tangan.

    “Gue bakal aduin lo ke senior!” 

    Si Boba yang awalnya duduk di meja, melompat turun menghampiriku. Beberapa murid yang masih menunggu antrian juga terlihat tak senang. Lirikan mau nan sinis seketika menghujaniku.

    “Nggak usah ngurusin orang lain, dah. Dasar tukang ngadu.” Dia cuma berbisik, tapi nada bicaranya sungguh mengintimidasi.

    Sayangnya, dia salah cari lawan. Bukannya takut dan merasa terancam, aku malah semakin tertantang. “Liat aja nanti. Lo pasti dapet hukuman.”

    Aku melangkah pergi diiringi sorakan ‘huuu’ dari murid-murid yang berada di kubu Si Boba. Kesal bukan main. Tunggu saja sampai Kak Adit yang terkenal galak itu tahu kalau dia curang!

    Benar kata pepatah. Kalau punya niat baik, jalannya pasti dipermudah. Aku melihat dari ujung koridor Kak Adit sedang berjalan ke arahku. 

    “Kak…”

    Kakiku tiba-tiba terseret ke belakang. Ada tangan yang menarikku menjauh dari pandangan Kak Adit. Mulutku juga dibekap seolah sandera yang tertangkap basah hendak kabur.

    “APA SIH…?”

    Napasku tersengal. Aku sudah nyaris melayangkan tinju ke wajahnya tapi kutahan karena merasa berhutang budi dengannya.

    “Kenapa? Lo mau belain bestie lo itu, kan?” tanyaku setengah emosi. “Sebagai sahabat yang baik, seharusnya lo dukung gue, dong. Bukannya malah bikin sahabat lo makin sesat.”

    Satria hanya diam. Namun sorot mata teduhnya terus mengikutiku gerak-gerikku. Tepat ketika aku berbalik hendak meninggalkannya, suara lembutnya baru terdengar.

    “Gue cuma nggak mau lo dimusuhi anak-anak seangkatan.”

    Keputusanku sudah bulat. Bahkan kalau pun Satria sampai bersujud-sujud memohon agar sahabatnya tidak dilaporkan, aku akan tetap berpegang teguh pada prinsipku. Jangan menormalisasikan kecurangan sekecil apa pun!

    Aku tersenyum kecut. “Gue nggak peduli.”

    Ia menarik tanganku, memohon dengan cara lain. “Lo sekolah bukan cuma sehari dua hari, tapi tiga tahun. Bisa lo bayangin gimana mengerikannya hari-hari lo di sini, kalau lo jadi musuh abadi anak-anak seangkatan?”

    Seketika idealisme ini goyah. Otakku mengukur berbagai pertimbangan dan nasib buruk yang mungkin saja terjadi padaku di kemudian hari.

    “Sekarang terserah lo,” pesan Satria sebelum meninggalkanku yang masih mematung penuh keraguan.

    Ini bukan pilihan yang mudah. Nantinya aku memang berencana memilih konsentrasi kelas IPA. Dan kupikir, murid kelas IPA tidak akan sebar-bar kelas IPS yang terkenal diisi oleh murid-murid trouble maker. Hanya saja masalahnya penjurusan dilakukan kelas dua. Sementara nasibku di kelas satu nanti, who knows? 

    ***

    Hari kedua berjalan agak cepat. Semalaman aku masih berperang dengan prinsipku sendiri. Mau melaporkan Si Boba atau pura-pura tidak mengetahui kecurangan yang ia lakukan.

    “Lo hari ini kenapa keliatan lemes, Tang?”

    Jahe datang menyebelahiku. Berdiri di baris yang sama denganku.

    “Lagi agak capek aja, sih. Oh, iya. Kemarin gimana? Lo dicincang sama Kak Adit?” tanyaku penasaran. Karena selesai MOS kemarin aku benar-benar bad mood, aku sampai lupa menanyakannya.

    Gadis itu menggeleng bingung. “Gue cuma disuruh duduk nungguin dia nugas.”

    “Nemenin dia nugas?” Aku meralat sambil tersenyum menggodanya. “Ciee, jangan-jangan Kak Adit suka sama lo.”

    “Hush, ngawur!” Ia menimpuk lenganku. “Kak Adit udah punya Kak Cika. Denger-denger dari SMP, mereka sering dibilang couple goals gitu.”

    Aku mengusap-usap dagu. “Tapi, kan, belom jelas mereka beneran pacaran atau nggak.”

    “Ya, emang. Tapi satu yang pasti. Mereka sama-sama good looking,” tambah gadis itu yang langsung kurespon dengan anggukan kepala.

    Entah sebab apa, tatapanku tanpa sadar mengarah ke Oryza Sativa alias Satria. Namun lamunanku buyar begitu mendapati Si Boba datang menyebelahinya menghalangi pandanganku.

    “Perhatian!”

    Fokus seluruh murid kini tertuju ke depan.

    “Pagi ini kami akan memeriksa hasil tanda tangan yang sudah kalian kumpulkan. Mulai dari kelompok keluarga cemara, lalu baris di sebelahnya kelompok keluarga umbi-umbian…”

    Seolah terkoneksi melalui telepati, aku dan Jahe saling pandang.

    “Mati deh, kita.”

    Gadis itu mengangguk lemah. “Masih mending lo, Yer. Liat punya gue? Baru dapet tanda tangannya Kak Adit doang.”

    Aku memaklumi. Pasalnya, gadis itu menemani Kak Adit bukan cuma semenit dua menit. Tapi sampai istirahat selesai ia masih berurusan dengan senior tampan itu.

    “Gue pun juga cuma dapet tambahan tanda tangan Kak Andri.” Sambil berbaris menunggu antrian, aku dan Jahe adu nasib. “Dan tahu nggak, gue disuruh apa sama dia?”

    Jahe menggeleng cepat. 

    “Dia bilang lagi bad mood dan minta gue nyanyi buat ngehibur dia.”

    OMG, setelah denger lo nyanyi dia pasti makin bad mood, deh!” ceplos gadis itu jujur dari dalam hati. “Eh, tapi ini lo berhasil dapetin tanda tangannya.”

    Baru saja aku mau menceritakan soal Satria, namun kekacauan di depan sedikit menarik perhatianku. Ternyata murid-murid yang dianggap kurang berusaha dalam menjalankan tugas ini, diminta ke luar barisan kemudian membentuk barisan baru. 

    “Pasti bakal dikasih tugas tambahan.” Jahe memberengut.

    “Udahlah, nggak usah dipikirin, jalanin aja.” Aku menepuk-nepuk pundaknya memberi semangat.

    Di depanku tinggal tiga antrian lagi. Jahe maju lebih dulu. Gadis itu benar-benar beruntung. Entah kebetulan atau tidak, senior yang sejak awal memeriksa tugas para peserta MOS, tiba-tiba bertukar tempat dengan Kak Adit.

    “Ini urusan gue.” Kak Adit berpesan pada panitia MOS yang lain kemudian membawa Jahe ke tempat lain.

    Di saat perhatian orang-orang tertuju pada mereka, seseorang menyambar bukuku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Satria menukar bukunya dengan buku milikku. Ia melangkah melewatiku lalu mengulurkan buku itu  ke senior yang berada paling dekat dengannya.

    “Eh, elo, Sat.”

    Ternyata itu Kak Andri. Ia sempat mengomeli singkat Satria karena buku tugasnya yang notabene adalah buku tugasku, baru terisi sedikit. Selama itu pula Satria terus mengajaknya berbincang. Berusaha mencari obrolan seru untuk mengalihkan perhatian Kak Andri sampai akhirnya tiba giliranku.

    “Nah, lo tahu sebenernya waktu kemah dulu, Kak…”

    Satria melanjutkan obrolannya. Dan benar saja. Kak Andri hanya memeriksa tugasku sekilas. Ia bahkan tidak sempat mengecek halaman-halaman lain atau memastikan buku itu benar-benar milikku atau bukan. 

    “Yaudah, Bang. Gue caw dulu, ya. Ntar gue penuhin lagi, dah,” tukasnya sambil bertosh ala cowok bersama Kak Andri.

    Sial. Aku berhutang dua kali.

    “Nggak usah bilang makasih. Gue udak cukup seneng lo dengerin omongan gue kemarin,.” bisik Satria sambil berjalan melewatiku.

    Semuanya berlangsung cepat dan terlalu tiba-tiba. Aku bahkan belum sempat menggerakkan mulutku yang kaku sampai Satria melangkah pergi ke sisi lain. Kembali menyapa satu per satu senior yang berpapasan dengannya di koridor.

    “Bukannya tanda tangan lo baru dikit? Kok lo bisa lolos hukuman?”

    Perhatianku teralihkan. Aku tahu itu suara siapa. Tapi aku malas menanggapi. Alhasil cowok itu melompat maju berdiri di depanku demi mendapat responku.

    “Tuhan pasti memberi bantuan pada orang-orang jujur,” jawabku lantang.

    “Dih, malah ceramah.” Si Boba mencebik. “Pegang omongan gue. Tipe-tipe kayak lo ini pasti nggak punya temen.”

    “Gue nggak butuh temen apalagi yang sesat kayak lo,” tambah gue dengan nada berapi-api. Emosi sudah mencampai ubun-ubun. 

    Baru kali pertama aku merasakan kebencian sebesar ini. Dengan orang baru, di tempat yang baru. Entahlah, aku membenci semua yang ada pada dirinya. Dari gerak-geriknya, cara bicaranya, semuanya menyebalkan. Bahkan meski dia cuma diam bernapas aku tetap kesal.

    “Tapi sayang sekali, gue punya perasaan kita bakal sering berhubungan. Lo tahu pepatah, kalo benci orang jangan berlebihan, kan?”

    Aku tersenyum skeptis. Menganggap pepatah tak berdasar itu hanya sekedar omong kosong. Peperangan kecil di antara kami berakhir setelah senior meminta barisan putri dan putra dipisah karena akan ada promosi dari ekstrakulikuler ROHIS.

    ***

    Hari ketiga pelaksaan MOS kemarin tidak terlalu melelahkan. Biasa saja. Tugas-tugas sederhana seperti menyirami tanaman atau membantu petugas perpustakaan menyusun buku-buku di sana, itu lebih baik dibanding harus melakukan tugas-tugas konyol. 

    Dari hari pertama sampai akhir MOS, temanku cuma Jahe. Aku bukannya tidak pandai bersosialiasi, tapi aku hanya terlalu malas berurusan dengan orang banya. Merepotkan, pikirku. 

    Mungkin kini aku terlihat semakin menyedihkan karena temanku satu-satunya terpaksa meninggalkanku saat upacara pelaksanaan MOS berlangsung. Entah pergi ke mana Si Jahe. Yang jelas, salah satu senior tiba-tiba menghampirinya lalu membawanya keluar barisan.

    Sudah bisa kutebak. Pasti itu orang suruhan Kak Adit.

    “Yer, lo langsung balik, nggak?”

    Ini kali pertama aku mendengar Satria memanggilku dengan nama asli. Setelah MOS berakhir, tentu panitia tidak bisa lagi semena-mena lagi pada kami. Meminta kami menyapa satu sama lain dengan nama ilmiah pemberian mereka.

    “Enggak kayaknya. Masih nungguin Jahe,” aku cepat-cepat meralat, “maksud gue, Salsa. Hee.”

    Satria tersenyum. Senyuman kecil yang berdampak besar pada hatiku. Sial. Kenapa jantungku rasanya mau meledak? Rasa capekku mengikuti MOS seketika meluap begitu saja setelah melihat senyumannya. 

    Kami berdiri di pinggir lapangan. Masih asyik-asyiknya mengobrol, layar proyektor besar di depan ruang panitia menyala tiba-tiba. Menampilkan video-video yang didokumentasikan para senior selama lima hari pelaksanaan MOS. Sampai tidak terduga, di video kelima atau ke berapa -aku tidak tahu pastinya karena sibuk mengontrol debaran jantungku, terputar video yang direkam Kak Andri.

    Video duet memalukan, yang untungnya menjadi kolaborasi indah berkat suara merdu Satria. 

    “Cieeeee…”

    Sorakan riuh menggema dari seluruh penjuru lapangan. Wajahku memerah. Berpasang-pasang mata kini memonitori gerak-gerik kami. Aku melirik Satria yang ternyata sama tersipunya denganku. 

    “Lo ada waktu bentar, kan?”

    Pertanyaan Satria sontak membuatku perasaanku semakin tak karuan. Hah? Apa ini apa ini? Jangan-jangan dia mau nembak gue? Duh, harus jawab apa?

    Aku menggeleng-geleng. Berusaha mengusir imajinasi liar ini. Tapi Satria malah salah paham.

    “Lo buru-buru, ya? Nggak ada waktu lima meniiit aja gitu?”

    “Eh, ada kok, ada,” jawabku gelagapan, “bahkan gue nggak keberatan kalo pun lo minta waktu seumur hidup gue.” Kalimat terakhir tentu hanya kubatin saja.

    Satria mengedik ke depan. Memintaku berjalan mengikutinya. Aku menurut tanpa banyak bertanya. Pikirku, pasti cowok sweet macam dia punya banyak kejutan. Persiapan yang matang dan penuh perencanaan.

    Sayangnya, aku mungkin kebanyakan nonton drama korea. Realitanya tak seindah imajinasiku.

    Bahkan setelah membawaku ke halaman kosong , Satria malah menghampiri gadis lain. Aku tak paham apa maksudnya. Ia berdiri di samping gadis itu sambil menatapku yang kebingungan.

    “Maksudnya apa, sih? Nggak jelas banget!” 

    Aku sudah hampir marah. Namun ketika berbalik, pandanganku terhalangi tubuh jangkung seseorang.

    “Hah, Si Boba? Ngapain di sini?”

    Feelingku mulai tak enak. 

    “Ka, sikaaat!”

    Mataku menyipit membaca tulisan bordir di seragamnya. Oh, namanya Arka. 

    Tapi bukan itu yang terpenting saat ini. Aku masih tidak mengerti kenapa Si Boba ada di hadapanku sekarang. Apa ini sebuah jebakan? Apa dia mau balas dendam melalui perantara Satria? Nggak, nggak mungkin Satria mau diperbudak sama Si Boba ini.

    “Mulai hari ini lo jadi pacar gue,”

    “Ha?” 

    Aku melongo. Sungguh plot twist yang tidak tertebak. Kenapa malah Si Boba yang nembak gue? 

    “Lo mau ngerjain gue? Pasti lagi ngeprank, kan?”

    Dari tempatnya berdiri, Satria setengah berteriak. “Arka serius, Yer. Dia itu tipe yang kalau suka sama orang, bakal usaha terus buat interaksi sama orang itu. Makanya dari awal MOS kemarin, dia terus gangguin lo. Cari masalah mlulu sampe lo nya kesel. Tapi seriusan, dia cuma pengen deket sama lo doang.”

    Ini mungkin bakal lebih mudah seandainya peserta MOS lain tidak tiba-tiba datang dan menjadikan kami tontonan gratis. Aku sudah pasrah ketika mereka kompak bertepuk tangan sembari menyemangati Arka yang masih menunggu responku.

    “Terima! Terima!”

    Cewek-cewek di barisan depan saling berangkulan gemas. Mungkin batin mereka, ini mirip scene-scene romantis drama Korea. 

    “Apa?” 

    Hanya kata itu yang meluncur dari bibirku. Maksudku, tadi Arka bukan bertanya, kan? Kedengarannya seperti perintah dan aku bermaksud mengabaikannya.

    “Gimana, Yer? Lo terima Arka, kan?” 

    Suara Satria seketika melemahkan hatiku. Kalau aku menolak Arka, anak-anak pasti menyoraki. Bukan cuma Arka yang malu, Satria pasti juga merasa bersalah. Aku menduga pasti Satria yang mempersiapkan semuanya. Pemalas seperti Arka, mana mungkin kepikiran hal-hal semacam ini?

    “Oke. Ini hari pertama kita pacaran.” Aku menjawab tegas sambil mengulurkan tangan.

    Tanpa kusadari, itu adalah keputusan terbodoh dalam hidupku. Keputusan yang membawaku ke titik patah hati terburuk kisah cinta pertamaku.

    ***

    Ini minggu ketiga semenjak upacara penutupan MOS. Yang berarti, aku dan Arka sudah hampir genap satu bulan berpacaran. Ternyata Arka tidak semenyebalkan itu. Memang susah serius. Tapi terkadang kebodohan-kebodohan yang ia lakukan membuat hari-hariku di sekolah sedikit lebih berwarna.

    “Ntar ada pemilihan Tim inti buat upacara tujuh belasan besok. Lo ikut, kan?”

    Aku masih bersahabat dengan Jahe alias Salsa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Meski sama-sama tidak mendaftar ekstrakuliner Paskibra, kami terpilih ikut seleksi. Begitu pula dengan Arka dan Satria. 

    Saat promosi ekstrakuliner dari para senior, formulir kami masih sama-sama kosong. Tapi para senior sempat meminta peserta MOS untuk praktek latihan baris berbaris dasar. Dari situ mereka bisa menilai. Mana yang bisa dilatih menjadi calon paskibra dan mana yang hanya sekedar memahami teorinya saja. 

    Seminggu kemudian nama kami tertulis di mading. Kami diharap mengikuti seleksi yang diadakan sepulang sekolah. Awalnya aku dan Salsa cuma coba-coba, eh ternyata lolos. 

    “Gue sebenernya rada males sih, Sal.” Aku mengemasi buku-buku pelajaran dari atas meja lalu kusimpan ke totebag yang selalu kubawa kemana-mana.

    “Ahhh, gue juga males kalo lo nggak ikut.” Salsa merengek. “Ntar gue balik sama siapa?”

    “Kak Adit?” tanya gue. Sekedar mengingatkan sahabatku ini bahwa dia memiliki pacar tampan, royal, dan sempurna. “Dia pasti dengan senang hati nungguin lo latihan sampe kelar.”

    Salsa menggeleng lemas. Mendadak wajahnya badmood. “Dia lagi sama pacar pertamanya.”

    Mataku menyipit. Lalu kami sama-sama bersuara, “OSIS. Hahahaha.”

    “Ya, ya, ya. Gue ikut deh. Emang gue paling nggak bisa nolak permintaan lo, sih.” Aku mengusap-usap dagu Salsa dengan gemas. “Bawain tas gue ya, Say.”

    Gadis itu langsung mengangguk. Ia melompat riang ke luar kelasku lalu kami berjalan beriringan menuju lapangan. Di sana aku melihat Arka yang sedang berlatih baris-berbaris bersama beberapa anggota Paskibra lainnya. Tentu ada sahabat sejatinya, Satria yang sesekali membenarkan posisi tangan atau kaki Arka jika salah melangkah.

    “Wah, kayaknya lo nggak perlu iku seleksi lagi deh, Sat. Auto lolos jadi komandan upacara lo, mah.” Salsa menyeletuk.

    Satria tersenyum. Ia sempat melirikku sekilas. Namun kemudian sibuk melatih gadis di sebelahnya yang tiba-tiba mendekat begitu melihatku datang. Gadis itu mengangkat kepalan tangannya, meminta Satria membenarkan posisi kepalan tangannya saat berposisi siap.

    Sebelah alisku naik. Bukannya itu cewek yang sama? Yang bareng Satria waktu Arka nembak gue?

    “Oh, gue belum sempet kenalin Raline, ya? Kita temen SD. Pernah sekelas bareng gitu. Tapi SMP kepisah. Raline ke international school.” Arka menjelaskan singkat.

    Salsa menyikut-nyikut lenganku. Hal itu menarik perhatian Raline. 

    “Eh, pacarnya Kak Adit, kan?” sapa Raline. Bukannya menyapaku lebih dulu, ia malah menghampiri Salsa. “Keren bisa dapetin senior paling jutek seangkatan.”

    Sama halnya denganku, Salsa juga terlihat tidak nyaman. Aku melirik Arka seolah mengirim sinyal meminta bantuan. Sayangnya aku lupa, pacarku ini selain bodoh juga tidak peka. Entah bagaimana bisa aku menerimanya. Namun lama kelamaan aku mulai menoleransi semua kekurangannya. 

    Hah, apa sekarang aku benar-benar menyukainya?

    “Pasukan peleton inti angkatan dua puluh. Berkumpul! Satu..dua..tiga…”

    Untung saja, aku dan Salsa tidak perlu berlama-lama meladeni gadis usil itu. Baru kali ini aku bersyukur memiliki senior-senior yang tegas dan disiplin. Begitu mereka memerintah, tak ada kata ‘sebentar’, ‘nanti’ atau bahkan penolakan. Kami harus siap, cepat, dan tanggap mematuhi semua aturan organisasi ini. 

    ***

    Seminggu full kami mengikuti seleksi. Dan di sore inilah para senior akan mengumumkan siapa saja di antara kami yang terpilih menjadi pasukan petugas upacara di hari kemerdekaan minggu depan.

    Nama Satria yang pertama kali disebutkan. Sudah tertebak. Salsa bahkan berani bertaruh setengah skin carenya akan dihibahkan ke aku, jika cowok populer itu tidak terpilih menjadi pemimpin upacara. 

    Arka juga masuk ke dalam tim inti pemimpin barisan. Disusul namaku yang mendapat posisi sebagai Pembaca UUD Dasar, lalu Salsa yang menempati posisi protokol Upacara.

    “Jadi mulai besok, setiap jam istirahat pertama kalian harus berkumpul di lapangan. Kita mau hasil pasukan inti ini sempurna. Jadi jam latihan harus ditambah,” pesan salah satu senior yang memiliki jabatan Komdis alias Komisi Disiplin di angkatannya.

    Aku melirik Salsa. Wajahnya kusut. Ia pasti mengeluh di dalam hati. Jam istirahat biasanya membucin sama Kak Adit di kantin. Sekarang malah harus panas-panasan di lapangan. Rasain lo, Sal! Siapa yang awalnya semangat ngompor-ngomporin gue ikut Paskib?

    Setelah pasukan dibubarkan, aku menemani Salsa menunggu Kak Adit. Kami duduk selonjor menepi di depan ruang Paskibra. Tidak ingin mengganggu para senior yang masih rapat, aku dan Salsa sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing. 

    “Dicariin dari tadi.”

    Suara itu muncul bersamaan dengan sensasi dingin yang terasa di pipiku. Saat menoleh, aku mendapati Arka duduk di sebelahku sambil menempelkan botol minuman dingin ke pipiku.

    “By one get one,” kata Arka sebelum aku sempat bertanya.

    Salsa mencibir. “Ck, sejak kapan minuman Polari Kyut diskonan? Nggak mungkin banget,” ia menambahkan dengan wajah mengejek, “pacar lo ini masih aja gengsian, ya, Yer?”

    Dari kejauhan, aku melihat Kak Adit muncul dari ujung koridor. “Pujaan hati lo, tuh. Bisa nggak, sih, mukanya biasa aja gitu? Jangan kayak mau makan orang.”

    “Udah bawaan orok, Cyinnn. Gue caw dulu, ya. Takut dibantai kalo nggak buru-buru nyamper. Abis ini dia lanjut rapat OSIS lagi.” 

    Aku mengangguk-angguk lalu melambai ke Salsa. Tinggalah kami berdua di sini. Bersama Arka yang masih asyik memainkan ponsel, aku memandanginya dalam diam.

    “Ganteng, kan, gue? Baru nyadar punya pacar ganteng?” 

    Menyesal berkali-kali lipat. Ternyata Arka dari tadi cuma scroll instagram doang karena gabut. Kupikir lagi serius balas chat atau baca panduan baris-berbaris di internet.

    “Balik, yuk.” Arka bangkit dari duduknya. 

    Sementara aku hanya melongo menatap tangannya yang terulur ke hadapanku. Lagi kesambet apa dia tiba-tiba jadi sweet?

    Dengan hati berbunga-bunga aku menerima uluran tangan itu. Namun belum sempurna posisiku berdiri, tiba-tiba Arka melepas tangannya. Aku yang masih setengah berdiri seketika terjungkal ke belakang. Jatuh terduduk kembali.

    Sudah kubilang berulang kali, Arka tidak pernah bisa serius. Humornya tidak kenal tempat. Tapi kenapa aku masih sering tertipu dan menjadi korban kekonyolannya?

    “Hahaha. Kok jatuh? Kan, udah gue bantuin, Yer!” Arka terbahak tanpa dosa.

    Bukan cuma kesal, aku juga sangat malu. Teman-teman paskibra seangkatanku kompak menertawaiku. Tak sedikit yang memandang iba. Dan mungkin juga merutuki kebodohanku menerima pernyataan cinta cowok yang dari sejak awal MOS ini selalu berulah.

    “Gue mau balik sendiri!” 

    Aku menepis kasar tangannya yang kembali terulur lalu melangkah terburu-buru meninggalkannya. Rumahku cukup dekat. Jadi tak masalah kalau pun aku harus jalan kaki. Sampai di belokan ke luar lapangan, aku malah berpapasan dengan Satria dan Raline.

    Arka yang awalnya masih berusaha menyusulku, berhenti mendadak saat kedua temannya menghadangnya. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi aku benar-benar kesal. Kok bisa aku punya pacar segila dia? Apa salah dan dosaku?

    ***

    Marahan, baikan lagi.

    Diem-dieman, besoknya bercandaan lagi. 

    Siklusnya kayak gitu terus.

    Di hari upacara kemerdekaan, Arka menyemangatiku dari kejauhan. Dia berdiri di depan barisan kelas X-1. Meski tidak bisa berkata apa-apa, tapi ia sempat melirik ke arahku sebelum aku bertugas membacakan teks UUD 1945.

    Aku menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengusir rasa gugup yang seketika membelenggu begitu suasana di lapangan hening.

    Di sampingku, Salsa juga tampak tak kalah grogi. Meski dari sejak upacara dimulai ia sudah bertugas, tapi wajahnya masih saja kaku.

    “Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia…..”

    Baris ketiga kubacakan dengan lantang dan lancar. Tinggal bagian akhir, menyebutkan poin-poin Pancasila. 

    Ternyata tidak semenakutkan yang kupikirkan. Dari baris awal sampai akhir, aku bisa membacakan keseluruhan teksnya dengan lancar. Hanya saja ketika upacara selesai, aku mendengar orang-orang berbisik di sekelilingku.

    “Undang-Undang Dasal…”

    Cowok dari kelas sebelah melewatiku sambil menirukan gayaku saat membaca teks UUD.

    Bahuku melemas. Aku menggandeng Salsa lalu mengadu, “udah gue tebak bakal kayak gini.”

    “Tapi menurut gue, meski lo emang agak cadel, pembawaan lo tadi keren banget. Lantang, nadanya bagus. Pas aja gitu.” Salsa mengomentari. Entah benar-benar jujur dari dalam hatinya atau hanya sekedar penghiburan saja.

    Kabar buruknya, bukan cuma satu dua murid yang mengejekku. Bahkan mereka menjadikannya sebuah lelucon. Dari sejak upacara selesai sampai bel akhir berbunyi, candaan itu terus mengikuti ke mana pun aku pergi.

    “Bisa diem, nggak?” Aku melepas sepatu fantovel berhak yang kupakai. Hendak melemparnya ke gerombolan anak kelas X-8 yang berjalan di koridor sambil mengejekku. “NGGAK LUCU!”

    Kekesalanku ini belum seberapa dibanding setelah aku melihat sosok familiar di antara gerombolan itu. Arka menjadi bagian dari mereka. Parahnya, ia juga ikut cekikikan menertawaiku.

    Tanganku mengepal erat. Aku sudah bersiap melempar sepatuku kalau saja Salsa tidak sigap menarikku ke tempat lain. 

    “Tarik napas, Bestie. Tenang…Tenang…” Salsa memijat-mijat bahuku. “Lo udah tahu, kan, Si Boba lo itu tipe yang kayak gimana? Jadi jangan dimasukin hati, ya.”

    “Iya, gue tahu. Gue nggak berharap dibela, kok. Tapi paling nggak, dia nggak perlu ikut ketawa dong, Sal.” 

    Amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Ini bukan kali pertama terjadi. Arka memang sering bercanda berlebihan dan berakhir membuatku sakit hati. Tapi kali ini sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia ikut ketawa sementara ceweknya lagi jadi korban bullying?

    “Mending kita ke ruang Paskibra aja, Yer. Lima menit lagi, kan, ada rapat.” Salsa mencoba mengalihkan pembicaraan. 

    Namun bukannya merasa lega, aku malah makin tidak tenang. “Pasti abis ini gue kena semprot, deh. Pasti gue nggak dipake lagi jadi pembaca UUD. Pasti gue dicoret dari daftar pasukan inti. Pasti…”

    “Haisssh, jangan menebak-nebak sesuatu yang belum pasti terjadi. Bikin overthinking,” potong Salsa sambil mendorongku menuju ruang Paskibra.

    ***

    Baiklah. Aku sudah pasrah berada di ruang persidangan ini. Rasanya seperti sedang diadili. Secara bergantian para senior memberi penilaian pada pasukan petugas upacara pagi tadi.

    Arka dan Satria mendapat pujian. Ada sedikit koreksi dari suara Salsa yang dinilai kurang bulat. Kini giliranku mendengar komentar para senior. 

    “Untuk pembaca teks UUD 1945, Yerma Fahira…”

    Bahuku menegak. Keringat-keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipisku. Tegang bukan main.

    “Ada yang mau kasih komentar?” tawar salah satu senior.

    Tak satu pun di antara kami yang membuka mulut. Mungkin takut salah bicara atau melukai perasaanku. Sampai di detik yang tidak terduga, sebuah tangan terangkat. Posisi si pemilik tangan ada di bangku paling depan. Duduk bersebelahan dengan Arka.

    Deg!

    “Iya, Satria!”

    “Sebelumnya maaf jika pendapat saya menyinggung satu-dua pihak.” 

    Kalimat pembuka yang diucapkan Satria membuatku semakin lemas.

    Karena kami sedang dalam posisi duduk siap yang tentu tidak diperbolehkan bergerak atau berbicara tanpa seijin senior, aku tidak bisa mengharap dukungan dari Salsa.

    “Pelafalannya lantang, tidak ada kesalahan dalam pembacaan teks..” Satria mengemukakan pendapatnya.

    “Tapi artikulasinya kurang jelas, kan?” potong salah satu senior.

    Tangan lain terangkat. Oh, kupikir itu Arka. Namun ternyata aku salah. Tangan berkulit putih itu milik Raline. Mungkin pikirnya, ini saat yang tepat untuk menyerangku.

    “Saya setuju dengan Satria.” 

    Urat-urat wajahku mengencang seketika. Gue nggak salah denger?

    “Meski di beberapa bagian artikulasinya kurang jelas, tapi tidak satu pun kata yang tidak terbaca pendengaran saya. Intonasi dan jeda antarkalimat juga pas. Bisa kita lihat dari perhatian peserta upacara selama pembacaan naskah UUD 1945, suasana di lapangan hening. Mereka kusyuk mendengarkan..”

    Raline menjelaskan dengan detail. Beberapa senior turut menggangguk-angguk mengiyakan.

    “Bener juga, sih. Toh, sekarang banyak presenter, pembaca berita yang cadel. Asal kata per kata yang diucapkan masih bisa ditangkap jelas, gue rasa nggak masalah,” komen salah satu senior lalu menoleh ke arah pintu untuk meminta persetujuan teman-temannya.

    Lagi-lagi aku diselamatkan oleh superhero yang sama. Meski dengan bantuan superhero lain, tapi dia yang membuka jalan agar segala sesuatunya berjalan lancar.

    Lantas kenapa aku malah merasa kecewa? Mungkin hati kecilku diam-diam berharap bukan dia orangnya. Bukan dia pahlawannya. Namun aku tahu, berharap pada manusia hanya akan membuatku kecewa. 

    Hal semacam ini bukannya sudah biasa? 

    Yang dekat terasa asing, 

    yang asing terasa begitu dekat.

    Arka memang tidak pernah bisa diandalkan. 

    ***

    Makin lama makin makan ati.

    Mungkin pikir Arka, semakin lama hubungan kita, aku semakin terbiasa menerima candaannya yang terkadang keterlaluan.

    “Kenapa lagi?” tanya Salsa ketika kami makan bersama di kantin pada jam istirahat.

    Aku menatap Sasa dengan sorot tak percaya. “Lo tahu, nggak? Kemarin Arka ngajakin gue makan bakso di warung Mang Kir.”

    Salsa menganguk-angguk. Semangat menunggu kelanjutan ceritaku.

    “Duit dia kurang. Trus apa yang dia lakuin?” 

    “Telepon Satria buat pinjem duit?” tebak Salsa.

    Spontan aku menggeleng frustasi. “Dia cuma pesen semangkuk..”

    “Woaaa..buat lo doang? Jadi dia nggak makan? Sweet banget…”

    “Buat gue pale lo!” semburku melampiaskan kekesalan pada Salsa. “Dia minta satu mangkok kosong trus ngebagi baksonya jadi dua mangkuk. Jadi gue dapet setengah, dia dapet setengah.”

    Mau ketawa takut bikin aku tersinggung. Akhirnya Salsa cuma garuk-garuk kepala canggung.

    “Mana ngebagi porsinya banyakan dia.” Aku bersungut kesal. “Mana di sana rame pula anak-anak Paskibra pada mampir makan abis pulang latihan.”

    Aku diam sesaat. Mataku seketika membulat penuh begitu teringat ada cerita yang tertinggal.

    “Yang lebih parah…”

    Alis Salsa naik sebelah menanti kemalangan apa lagi yang kualami.

    “Kita masih makan tuh, tiba-tiba dia ijin ke toilet. Terus lo tahu apa yang terjadi?” 

    Salsa meneguk ludah, ikut panik.

    “Dia ambil motor, ninggalin gue di warung sendirian, nggak tahu pergi ke mana,” jelasku dengan nada putus asa. “Masalahnya, itu bakso belum dibayar. Dan sialnya uang saku gue abis buat bayar tunggakan uang kas kelas. Mampus nggak, tuh!”

    “Makanya dia ngajakin lo makan di warung Mang Kir.. Dia mau mangkir bayar ternyata,” tanggap Salsa dengan wajah prihatin.

    Aku menghembuskan napas lelah. “Ya, lima belas menit kemudian dia balik lagi, sih. Katanya dia pulang bentar buat minta duit emaknya. Soalnya dia laper, pengin pesen semangkok lagi. Tapi apa susahnya bilang dulu ke gue kalo mau balik ambil duit?”

    Mendadak makanan di depanku jadi terasa hambar. Sama rasanya seperti hubunganku dan Arka. Awal berpacaran memang seru. Selalu ada kejutan kecil yang membuat hari-hariku lebih berwarna. Tapi lama kelamaan aku merasa dirugikan dalam hubungan ini. Arka tidak pernah memberi effort yang nyata. Kenyataannya ia hanya menjadikanku bahan kekonyolannya, bukan sebagai pasangan yang harus dijaga dan dibahagiakan.

    ***

    Tepat bulan keempat semenjak aku dan Arka berpacaran, segala sesuatunya terasa sangat berbeda. Ia mulai menunjukkan perubahan sikap. Yang biasanya sehari kami bisa bertukar pesan tanpa henti, kini bahkan pernah dalam sehari aku tidak menerima satu pun pesannya.

    Kalau pun aku yang mengirim pesan lebih dulu, aku mendapat balasan beberapa jam setelahnya.

    Hal yang sama terjadi ketika kami bertemu di rapat Paskibra. Ia seperti menjaga jarak dan menghindar setiap kali aku ingin mengajaknya mengobrol.

    Bukannya ini pertanda jika hubungan kami berada di ujung tanduk?

    “Yer, lo udah putus sama Arka?”

    Pertanyaan itu terlontar dari teman seangkatanku di ekstrakulikuler Paskibra.

    “Hah, putus?” ulangku dengan wajah bingung.

    Gadis itu mengerucutkan bibir. “Soalnya kemarin balik latihan, gue liat dia mojok sama…” ia berhenti melanjutkan dan tampak syok sesaat, “sama anak Pramuka,” lanjutnya sambil menunjuk ke sudut lapangan. “Ceweknya sama ih.”

    Dibilang marah, tentu aku sangat marah. Tapi akal sehatku masih jalan. Tidak mungkin aku melabraknya langsung dan membuat kami menjadi tontonan seisi lapangan. Jadi aku hanya diam menatap keduanya dari kejauhan dengan amarah membara.

    “Gue kemarin juga liat mereka mojok di sebelah ruang Pramuka. Mending lo tanya dulu kejelasan hubungan kalian gimana. Nggak enak kan, Yer, ada masalah gini padahal kalian seorganisasi? Pasti nggak nyaman.” Gadis itu mengusap-usap lenganku sebelum berlalu pergi untuk bergabung bersama anggota Paskibra lainnya.

    Aku berani bersumpah. Mulutku ini tidak pernah mengumbar aibnya sembarangan. Tapi rumor jika Arka selingkuh menyebar begitu saja. Baru beberapa hari berlalu, Arka sudah menjadi musuh angkatan. Apalagi dengar-dengar, anak Paskibra dan Pramuka memang tidak pernah akur. 

    “Eh, lo kalo ngasih aba-aba yang bener, dong. Artikulasi lo nggak jelas,” komentar salah satu temanku. 

    Bukan cuma satu dua orang yang memprotes, tapi anggota paling pendiam pun juga ikut bersuara menumpahkan unek-uneknya ketika kami selesai latihan. Saat itu Arka yang bertugas menjadi pemimpin pasukan. 

    “Dan nggak usah cengengesan kalo di antara kita ada yang salah gerakan.”

    Suara lain menyahut. “Kayak lo nggak pernah ngelakuin kesalahan aja! Si paling sempurna.”

    Suasana latihan seketika mencekam. Aku sungguh tak enak hati. Mereka punya dendam pribadi dengan Arka, atau semua ini dampak dari rumor yang menyebar?

    Ketika yang lain memilih menjauh, Satria masih menjadi sahabat terbaiknya. Ke mana pun Arka pergi, Satria selalu berada di sampingnya. Ia mungkin takut Arka down kemudian melakukan hal-hal yang tak diinginkan. Dibanding denganku, Satria jauh lebih mengenal Arka. 

    Aku pun tahu kalau Arka anak tunggal yang sangat dimanja Papanya, itu juga dari Satria. Jadi wajar saja jika sahabatnya jauh lebih khawatir dibanding denganku yang notabene pacarnya. Oh, tunggu sebentar, pacar? Apa Arka masih mengakuiku sebagai pacar? 

    ***

    Tidak ada kata putus. Tapi aku dan Arka sama-sama sadar jika hubungan kami benar-benar sudah berakhir. Sampai di penghujung semester dua, aku masih belum bisa bersikap biasa setiap kali bertemu dengannya.

    “Jadi berarti beneran, ya? Waktu itu dia selingkuh sama Linda? Anak Pramuka itu?” tanya Salsa. 

    Kami sedang duduk-duduk di depan koridor. Sementara pemandangan di lapangan sungguh menyiksa mata. Arka duduk di bawah ring basket bersama dua temannya. Di sampingnya seorang gadis berdiri membawa sebungkus snack sambil sesekali menyuapi Arka.

    “Hueek, enek banget liatnya.” Salsa membuang wajah.

    Aku hanya tersenyum skeptis. Sungguh kisah cinta pertama yang mengenaskan. Sekalinya bucin sama orang, malah diselingkuhin. Meski awalnya bukan Arka yang menjadi targetku, tapi berkat usahaku akhirnya hatiku benar-benar menerimanya. 

    “Yer?” 

    Bukan cuma aku yang menoleh, Salsa juga tampak penasaran. 

    Satria? Mau apa dia?

    “Gue mau ngomong bentar, boleh?” tanyanya.

    Melihatku yang tidak bereaksi, ia buru-buru menambahkan. “Di sini juga nggak papa. Gue nggak keberatan ada Salsa.”

    Karena aku hanya diam saja, Satria menganggap itu sebagai persetujuan. Ia menarik bangku panjang mendekatiku dan Salsa yang duduk di pagar pendek pembatas kelas. Kami berdua berbalik untuk mendengar Satria yang mulai bercerita.

    “Lo bisa tanda tangan di sini?” Satria membuka halaman paling belakang buku gambarnya.

    Salsa menarik buku itu lalu melihat-lihat isinya. “Lo gabut apa gimana, dah? Ngumpulin tanda-tangan sebanyak ini?”

    Aku melirik penasaran. “Tanda tangan cewek-cewek doang, Sal,” ralatku sambil memperhatikan nama-nama yang tertulis di bawah tanda tangan itu. Ada kata-kata penyemangat juga yang disematkan setiap pemilik tanda tangan.

    “Jujur, sebenernya gue suka lo dari awal MOS.”

    Salsa refleks menutup mulut. Aku masih berusaha tenang meski rasanya hatiku sudah menjerit-jerit heboh.

    “Tapi sayangnya, Arka yang confess duluan ke gue kalo dia suka lo.” Satria tersenyum getir. “Lo bayangin aja, deh. Salsa bilang ke lo kalo dia suka sama crush lo. Kira-kira apa yang bakal lo lakuin?”

    “Tipe cowok kita beda. Jadi itu sangat tidak mungkin, Kisanak.” Salsa menyahut karena tahu aku masih terkejut mendengar pengakuan Satria.

    “Hampir setahun gue gonta ganti cewek. Berharap gue bisa bener-bener lupain lo dan move on,” tutur Satria sambil membuka-buka buku gambarnya. 

    “Gue udah minta maaf sama semua cewek yang pernah gue jadiin pelampiasan. Awalnya gue cuma minta tanda tangan mereka sebagai pembuktian kalo mereka bener-bener udah ikhlas maafin gue. Eh, mereka malah kasih dukungan juga.”

    Otakku seketika merekam semua kenangan kami selama MOS. Ternyata sikap manis yang ditunjukkan Satria padaku, bukan cuma sekedar ingin memberi bantuan saja. Tapi karena di matanya, aku adalah seseorang yang spesial dan harus dibahagiakan. 

    Sayangnya itu dulu. Perasaannya saat ini pasti sudah berubah.

    “Trus kenapa lo minta Yerma tanda tangan di halaman terakhir?” tanya Salsa memecah keheningan di antara kami.

    “Karena setelah ini gue bakal tutup buku,” jawab Satria tanpa pikir panjang. “Memulai dengan halaman baru, buku baru serta orang baru.”

    Sakit.

    Hanya satu kata itu yang menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini.

    “Yer..” Satria memanggilku dengan suara lembutnya. “Gue harap lo juga cepet move on, ya. Mengenai sakit hati lo, jadiin pembelajaran aja. Mencintai dan dicintai itu dua hal yang berbeda.”

    Satria menatapku dalam. “Mencintai seseorang tentu ada risikonya. Risiko cinta sepihak, risiko dikecewakan lalu patah hati. Sementara ketika dicintai, kita punya tanggung jawab besar. Tanggung jawab mengatasi rasa bersalah ketika kita tidak bisa membalas perasaannya.”

    “Uhuk!” Salsa berdeham. “Berarti lo udah move on, dong?”

    “Hmm…” Satria mengangguk. “Semua tanda tangan ini jadi bukti kalo gue udah bener-bener move on dan mau serius sama cewek gue sekarang.”

    Tanpa basa-basi, Salsa bertanya, “siapa?”

    “Raline,” jawab Satria sambil tersenyum. “Dia udah banyak berkorban buat gue. Sekarang udah waktunya gue ngebales semua kebaikannya. Gue percaya seiring berjalannya waktu, rasa sayang gue ke dia bakal makin besar.”

    Daripada berlama-lama mendengar kisah mereka, aku menarik buku gambar dari tangan Satria lalu menandatanganinya. “Udah. Congrats, ya. Semoga langgeng.”

    Aku melihat ekspresi berat Satria ketika menerima buku itu. Setelah menyelesaikan urusannya denganku, ia pamit kemudian melangkah pergi dengan bahu turun seperti menahan beban yang sangat berat.

    Entah bagaimana perasaannya saat ini, tapi aku masih mengawasinya sampai ia menghilang dari pandanganku. 

    “Sal…” panggilku dengan suara lirih. “Gue baik-baik aja, kan?”

    Salsa menangkup wajahku yang sendu. Ia mengangguk sekali. “Iya, lo baik-baik aja. Mata lo jumlahnya dua. Hidung lo masih ada walau minimalis. Alis lo juga masih keliatan walau tipis banget kayak ekor anakan tikus.”

    Aku tersenyum mendengar ucapan Salsa. Senyuman paksa yang kuharap bisa menjadi penghibur diri. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Apa ini akhir dari perasaanku? Apa hubungan kami memang hanya seperti ini? Tidak lebih?

    Lalu kudengar sisi hatiku yang lain berkata, “bukannya terlalu awal untuk patah? Masih ada tahun-tahun berikutnya. Mungkin saja di akhir nanti, aku yang memenangkan hatinya. Siapa tahu?”

    ***

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!