Sambal tanpa Terasi
23.4
0
187

Kisah cintaku seperti sambal tanpa terasi. Pedas namun kurang gurih dan menggoyang lidah. Kamu datang dengan segenggam terasi. Menjadikan sempurna. Diulek dengan kelembutan serta kerja keras yang gigih. Sambalmu dan sambalku tidak cepat basi. Karena perbincangan kita abadi.

No comments found.

Sambal tanpa Terasi

(Allice Jelah)

Menjamu pagi.

Pagiku dihiasi dengan film kartun spoge yang hidup di bawah air dengan biota laut serta terdapat pantai yang kering. Mandiku dihiasi dengan air sungai dan perahu layar yang selalu singgah menawarkan barang dagangannya kepada Ibuku.

Baju seragam yang kusam bekas kemarin kupakai sedari pagi menjelang sore, kusemprot dengan minyak wangi.

 

Burungku berkicau tanda kotoran yang menumpuk dengan diiringan perut kerocongan. Sepiring nasi kuning kulahap bersamaan dengan telur puyuh sambal terasi yang digoreng Ibu subuh tadi.

Kuambil kaos kaki yang tersimpan rapi di dalam sepatu yang mulai berongga. Aku siap untuk menuntut ilmu. Ahh, aku malas untuk mengayuh sepeda hari ini. Tepat 07.00 kuputuskan untuk berjalan kaki, melewati gang sepi.

 

07.15 aku sudah menempatkan kaki di kelas yang penuh dengan sampah. Duduk manis sambil menonton film yang belum terselesaikan. Satu persatu teman mulai memasuki kelas dengan rambut dan penampilan rapi. Aku duduk dipojok kiri, menatap kosong layar proyektor yang sedari pagi disiapkan oleh petugas perlengkapan.

Bel berbunyi, dan memasuki pelajaran yang tidak menyenangkan. Karena dosen yang begitu tegang saat menjelaskan mata pelajaran yang menyenangkan menurutku, yaitu kesenian.

 

Sudah 2 jam berjalan, sangat membosankan. Padahal matahari belum naik ke ubun-ubun. Mungkinkan dosen tersebut menguasai bidang matematika dan dipaksa memberikan pelajaran kesenian? Sehingga setiap masuk kelas hanya menyodorkan notasi balok dan notasi angka tanpa instrumen yang ceria. Minor, hanya saja aku tidak begitu mengerti mengapa musik sesulit ini. Katanya musik membuat ceria, tapi aku lupa akan keberadaan nada minor.

 

Satu jam kosong. Aku hanya diam saat yang lain mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Entah kenapa kegiatan melamun adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Tidur? Ahh tidak. Aku hanya butuh ruang kosong untuk mengisi kehidupanku yang hampa ini.

Kulirik, kau terlihat diam. Aku diam-diam menyukaimu.

 

Ridho, ya Muhammad Ridho. Nama lengkap yang penuh dengan doa. Mungkin Mamamu memilih nama itu sebagai doa terbaik yang beliau panjatkan hingga nanti saat kau menemukan istri hidupmu penuh dengan keridhoan.

Akhhh…

Pikiranku dipenuhi dengan kotoran. Andai aku bisa memilikimu? Mustahilkah?

Tentu saja aku selalu memuji semesta untuk memaksa memilikimu seutuhnya.

Namun aku sengaja terlihat untuk tidak memperdulikan sekitar.

 

Kau dan aku sama-sama ada yang memiliki saat ini. Tapi bisakah suatu saat nanti kau dan aku saling memiliki satu sama lain? Semoga malaikat mencatat doaku saat hening ini. Tulisku di buku diary tahun silam.

Pipiku memerah saat kau balas pandang mata denganku. Dan bertanya, apakah kau tau sebuah bangun kubus?

Hah? Apa-apaan? Kenapa harus bangun kubus? Kenapa tidak menanyakan bangun ruang yang lain? Contohnya bangun ruang antara cintaku yang bertepuk sebelah tangan?

Seketika itu juga aku dikeluarkan dari kelas.

 

Bodoh!

Aku dianggap menghayal karena telah jatuh cinta kepada dosen sendiri. Memang, tidak kupungkiri. Beberapa pertemuan aku mulai jatuh cinta dalam diam.

Tapi, saat kelas berlangsung aku selalu saja dikeluarkan dari kelas karena sikap melamunku yang selalu tidak fokus saat diberikan pertanyaan. Bukan itu saja, melainkan jawabanku yang nyeleneh membuat malu dan tidak tau etika sopan santun kepada dosenku sendiri.

 

Pak Yudi, melihatku mengikat tali sepatu.

“Hey, anak muda. Kau pasti dikeluarkan oleh Ido lagi kan?”, sambil mengikik gembira.

“Maaf Bapak Yudi, bukankah Pak Ido rekan kerja sesama dosen? Mengapa Bapak menyebut lantang memakai nama saja? Ohh iya saya lupa, Bapa kan sudah tua dan mau pensiun menjadi dosen, pantas saja tidak melaksanakan aturan yang berlaku!”, jawabku dengan ketus sambil meninggalkan diri.

“Anak tidak tau diri, dikasih hati malah ngelunjak! Tidak tau kata permisi”, sambil mengelap kumis yang masih tersisa mayonaise keju mozarella.

Aku dan Pak Yudi terkenal sangat akrab, saking akrabnya kami selalu bertegur sapa dengan cara yang menurut orang lain tidak sopan dan tidak baik untuk ditiru. Tapi itu aku lakukan karena aku tidak ingin terlihat mencari muka pada setiap dosen nyentrik. Biarlah nilaiku menjadi rahasia dibalik semuanya. Tanpa ada yang tau hanya aku dan Pak Yudi.

Walau nilai moral juga diperlukan untuk menjadi mahasiswi yang berbudi pekerti. Namun ada yang lebih penting dari itu semua yaitu uang kuliah.

 

Aku kuliah dengan beasiswa dan jalur prestasi. Aku harus mempertahankan nilaiku sampai nanti aku mendapatkan gelar sarjana. Entah itu tahun depan atau akhir tahun ini. Aku muak dengan drama ayam kampus, babi guling dan burung dara. Mereka selalu saja bertengkar saat berada di atas meja makan. Aku yang paling enak dan aku yang lebih menggoda. Warnaku lebih mengkilap dan aku menyehatkan jika dimakan. Begitulah kiranya perbincangan makanan tersebut.

 

Hari demi hari aku lalui begitu saja. Pak Ido menyuruhku untuk ke ruang dosen dan mengumpulkan berkas ke bidang kemahasiswaan. Aku yang ngeyel dan menyempatkan untuk pergi ke kantin dengan berniat membeli sebotol soda dan ayam geprek. Dengan wajah merah menyala, ia marah kepadaku serta meyeret dibahu. Perlakuan itu sontak dilihat oleh Kepala Bidang Pengawas. Aku dan Pak Ido dipanggil menghadap Kepala Prodi.

 

Bu Dibbah, selaku pengawas yang sangat mengutamakan nilai kesopanan mengajak gelut dengan kata-katanya. Sehingga aku harus mencurahkan air mataku dan berdialog sesuai apa yang disuruh oleh Pak Yudi. Karena Pa Yudi tau betul sikap Bu Dibbah saat marah. 30 menit berlalu dan membuang waktuku. Kelas sastra berakhir begitu saja, aku absen dari mata kuliah tersebut. Berkas yang berat itu kusodorkan kepada Bapak Jusi yang bekerja sebagai TU. Diakhiri dengan kalimat ACC aku langsung ke ruangan Pa Ido lagi. Menyerahkan bukti transfer yang kupunya.

 

Siti, teman kelasku yang seksi itu selalu menggoda Pak Ido. Aku sengaja terlihat cuek dengan kejadian yang membuat mata serta hatiku yang berkecamuk. Ingin kujambak rambut Siti dengan genit sengaja meraba tangan Pak Ido. Tapi aku harus sabar dengan hatiku, karena cukup siang tadi saja aku membuat masalah.

 

Siti Clara nama yang sangat membingungkan untukku. Dia anak orang yang berpengaruh di kampus ini. Karena keluarganya sebagai donatur terkaya dan menyumbangkan banyak harta kekayaan. Namun selalu saja menyuruhku untuk menyelesaikan semua tugasnya. Dan aku sangat membutuhkan uang yang dia punya untuk mengupah hasil jerih payah tenaga dan otakku. Selain bermain judi aku juga bermain kata. Ya, judi dalam permainan tugas menugas. Tentu saja aku mengerjakan pekerjaan sampingan itu tanpa diketahui siapapun. Dan salah satu langgananku adalah Siti.

 

Aku sangat cemburu dengan Siti Clara yang sengat menyita waktuku untuk mengerjakan tugas demi tugasnya sedang tugasku sendiri saja sangat berantakan. Seberantakan saat aku diam-diam memperhatikan Siti cari waktu luang untuk merayu Pak Ido.

5 bulan lagi kusabar menanti. Tapi hatiku bisa mati jika terus-terusan begini.

Belum lagi setiap mata kuliah Pak Ido aku dikeluarkan tanpa sebab dan harus mengulang di ruang dosen. Bertemu dengan Bu Dibbah dan Pak Yudi membuat otakku panas dan mendidih. Namun senyuman Pak Ido menyejukkan hatiku. Pak Ido penyemangatku dalam selimut.

 

Transfer buku yang sengaja Pak Ido pesan untuk mengirim ke Desa Pujung menarik minatku untuk lebih tau dan menggali informasi lagi. Selain bekerja sebagai Dosen, iya juga bekerja sama dengan Pak Lurah untuk menarik minat baca anak. Bukan hanya membaca saja akan tetapi membaca dan mengenal font kehidupan tiap insan yang menulis di lembar kerja masing-masing.

 

Aku ikut andil jika ada tumpukan buku nganggur di meja Pak Ido. Aku suka memamerkan buku-buku yang dipesan untuk mencuri waktu agar bisa banyak waktu bersamanya. Namun itu adalah sebagai hukuman karena aku sering terlambat saat perkuliahan. Aku yang selalu saja beralaskan tidur kesubuhan dan cekikikan Pak Yudi selalu menghiasi saat aku di keluarkan dari kelas. Serta petuah dari Bu Dibbah selalu menghiasi poselku dengan status tiap whatsappnya.

 

2.000.000,00 rupiah, struck yang harus aku setor ke Instansi terkait. Aku telah terhutang selama satu semester dan mengambil cuti tahun lalu. Penyesalanku bertambah ketika mengetahui aku akan dijodohkan oleh Ibuku. Tentu saja aku harus menurut dan mengiyakan sebelum aku mati penasaran. Gegara persoalan cinta, aku mengorbankan waktu yang begitu berharga. Dengan umur 25 tahun ini aku tidak mau menunda lagi untuk mempunyai anak. Tapi takdir berkehendak lain. Aku harus sabar untuk menjadi ibu dan harus belajar banyak untuk membuat sambal terasiku sendiri.

 

Pa Ido adalah harapanku dan semangatku dalam menyusun skripsweet. Yang membuat kantukku dan moodku naik lagi. Belum lagi ditambah dengan masalah Siti Clara yang selalu mengajak aku berbincang-bincang perihal cinta sembari mengerjakan semua tugasnya.

Siti orang yang sangat ramah, saking ramahnya terkadang bodoh dalam berteman dan sering dimanfaatkan, termasuk aku juga memanfaatkannya. Tetapi kami barter dan membentuk simbiosis mutualisme, yahh saling menguntungkan.

 

Pak Ido dengan perawakan tinggi, putih, dengan rambut sedikit bergelombang. Membuatku selalu jatuh cinta saat menatapnya. Pakaian yang rapi selalu dikenakan tanpa noda sedikitpun. Sangat berbeda jika disandingkan denganku.

Aku dan Siti bisa dibilang sebagai ‘bestai’. Kadang berteman kadang musuhan. Aku cemburu dengan segala sikapnya. Dan aku bersyukur kepada diriku karena memiliki keluarga lengkap.

Siti seorang anak piatu. Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya, ibunya baru meninggal 10tahun yang lalu. Ia anak yang dibesarkan oleh Neneknya dan pengasuh yang dianggapnya sebagai Ibu Asuh. Miccel, nama Ibu Asuh yang mengasihinya. Seorang suster yang rela mengorbankan hidupnya untuk mengasuh Siti sejak kepergian Ibu Kandungnya.

 

Tante Miccel sangat penyayang, saking penyayangnya ia rela menjadi simpanan Ayah Siti. Namun hal itu membuat Siti marah, karena Ayahnya seperti mempermainkan Tante Miccel tanpa ikatan pernikahan yang sah. Sebab aku tau, jika Ayahnya menikah lagi. Maka nama perusahaan akan berubah.

 

Elise Setya, nama lengkapku. Saat ini aku menjajali semester akhir. Dengan tugas menumpuk dan belum lagi pernikahanku dengan Ido yang sengaja kami rahasiakan. Karena takut membuat keributan bahkan bisa terancam kelulusanku.

Ya, Pak Ido adalah suamiku sendiri. Di kampus kami profesional dengan tugas masing-masing. Namun aku harus menahan beberapa bulan lagi untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia hanya milikku seutuhnya.

 

Siti Clara selalu saja menceritakan Ido dengan penuh gairah, saat aku sedang berada di rumah. Walaupun ia tidak tau Ido adalah teman ranjangku. Tapi mendengar bestai curhat jatuh cinta kepada suamiku sendiri membuat perutku mual. Tentu saja Ido tertawa mengejek  karena telah berhasil membuatku cemburu buta.

Katanya aku sangat seksi ketika cemburu dan marah. Itu membuatnya bergairah dalam mencintaiku.

Sudah cukup aku dipermainkan Ido. Kuambil handak dan berendam dalam bak air mendinginkan kepalaku.

“Sayang, boleh ya aku masuk sebentar saja. Ada yang aku tanyakan kepadamu” pintanya dengan lembut.

“Masuk aja, Yang, pintunya gak aku kunci!”

“Hari ini kamu lupa menggosok kemejaku ya? Aku ada rapat di gedung serba guna. Bisakah kamu lebih cepat mandinya? Karena suami ini mau dilayani kamu sebelum pergi!” Memainkan air hangat dan mengguyurkan ke dadaku agar kiranya aku cepat menyelesaikan mandiku.

“Astaaaggaaaa, maaf sayang aku lupa jadwal rapatmu!” Lekas kupasang handuk dan mendorongnya dari bathup.

Ido terjungkal licin dan memar di dahi sebab kecerobohanku.

“Elisss, bisakah kau sedikit saja tidak cari masalah denganku?” Berteriak sambil memegang pelipis yang tergores.

“Sayangggg, maafkan aku! Aku tidak sengaja. Sini kukompres dulu yah!” Dengan panik aku lupa apa yang seharusnya kukerjakan.

“Sudahlah, lecet biasa saja. Aku bisa terlambat ke acara rapat. Kau siap-siap saja menemaniku. Jika ada yang bertanya, jawablah kamu bertugas sebagau asdosku, mengerti!”

Tanpa aba-aba aku siap-siap dan bingung acara apa yang kuhadiri. Ternyata peresmian Perusahaan Ayahnya Siti yang naik pangkat. Ido ditugaskan untuk menghitung angka kenaikan perusahaan tahun silam. Tentu saja kerjaanku hanya selonjoran dan planga-plongo.

 

Belum lagi keriwehan Siti Clara kenapa aku bisa bersama Ido. Dan kujawab sesuai skrip yang ditentukan.

Siti diam dan tidak percaya.

 

Hanya Pa Yudi yang tau dengan drama kami. Pak Yudi adalah dosen yang sangat dihargai oleh Ido. Berkat Pak Yudi, Ido lulus dengan nilai sempurna. Makanya Ido selalu membuat masalah saat kelas berlangsung jika bertemu denganku. Menyebalkan!

 

“Elis, tolong ya kamu handle seminar besok. Aku tidak percaya lagi dengan kinerja Ido. Akhir-akhir ini ia sering curhat perihal ingin punya anak. Bapak harap kamu profesional dalam hal ini, biarlah Ido dengan keinginannya untuk sementara waktu!” Pinta Pak Yudi dengan gimmik.

“Maafkan suami saya, Pak. Untuk beberapa bulan ke depan saya berusaha menghindar darinya. Akhir-akhir ini ia sengaja membuat emosi saya. Karena sering mengeluarkan saya saat kelas berlangsung. Dan saya pun tidak bisa berkutik karena saya memang salah. Melamun saat jam pembelajaran.” Ucapku lirih.

“Yasudah, urus kesehatan otakmu dulu baru hatimu, nanti sikapmu akan mengikuti. Wajar Ido Emosi akhir-akhir ini. Mungkin saja ia ingin kamu mengumumkan kekasihmu di depan orang banyak. Kan kamu terlihat cuek saja dengan hal yang berbau asmara”, menyodorkan berkas dan memberi kunci kelas.

“Terima kasih, Pak. Saya sudah muak dengan drama kampus. Kunci ini untuk apa? Apakah saya disuruh mengisi seminar yang Bapak adakan itu?” Tanyaku dengan tegang.

“Yaps, betul banget. Kunci itu tolong kasih ke Bu Dibbah ya. Minta proposal untuk tugas Ido. Saya ingin menghukumnya karena sudah membuat moodmu hancur hari ini. Tolong ya usahain besok kelar masalah ranjangmu. Semangat, Elis!” Senyumnya dengan kumis itu membuat aku terdiam dan meninggalkan ruangan tanpa tau yang membuat masalah adalah diriku sendiri.

 

Pak Yudi orang yang selalu mendukung hubungan kami. Ia adalah orang yang menjodohkan aku dengan Ido. Ibuku berteman akrab dengannya. Awal mula aku yang menolak perjodohan ini. Setelah dipaksa nikah, aku yang mulai terjebak. Jatuh cinta dalam diam.

Aku selalu jatuh cinta dalam diam, aku selalu memperhatikannya. Dan selalu cemburu serta curiga. Sudah tiga bulan aku pisah rumah dengan Ibu. Ido membawaku ke kehidupannya dan membiasakan diri agar tidak manja lagi.

 

Siti Clara yang selalu mencari waktu untuk berkunjung ke rumah selalu kutolak dengan alasan jobku sangatlah padat. Karena dia bego dan percaya saja. Tapi yang membuatku menolak adalah kecemburuanku saat membahas Ido.

Ido hanya milikku seorang!

 

Keegoisanku merambat berakar begitu saja. Kecurigaanku sering terjadi sehingga perselisihan paham sering terjadi. Satu jam saja aku tidak memancing perkara untuk mencipta masalah dengannya maka mentalku menjadi gila tidak stabil tanpa arah dan tujuan.

 

Ido yang penyabar akan sikapku menanggapi hanya dengan diam. Dan dengan usilnya ia selalu membisikkan ingin mempunyai anak secepatnya. Sedang pendidikanku menunggu beberapa bulan lagi. Aku yang tidak tahan dengan rayuan gombalnya terbakar dalam lautan asmara.

 

Pagi dipenuhi dengan celetukan emosi. Aku yang sengaja memancing keributan menangis histeris. Belum lagi bahan seminar yang diberikan oleh Pak Yudi belum dikuasai. Dengan beralaskan adanya tamu bulanan membuat hancur mood suami tercintaku.

 

Pakaian lusuh, mulutku tidak berhenti untuk mencari masalah dengannya. Belum lagi cerita masa lalu yang ada di handphone Ido. Malam tadi aku bergadang, sengaja mengecek handphonenya dengan alasan ingin mengerjakan tugas yang diberikan. Nyatanya aku telah menjelajah dalam memori lamanya.

 

Padahal chat terakhir 3 tahun yang lalu. Tetap saja kecemburuanku meningkat, overthinkingku selalu tertuju dengan pertanyaan apakah Ido mencintaiku dengan sepenuh jiwa dan raga?

Sedang malam tadi sebelum cek handphone sudah melakukan pergulatan. Ido yang tertidur aku masih mengerjakan tugas dan tenggelam dalam dongengku sendiri.

 

Seminar dimulai. Ido bergegas menghubungi Pak Yudi. Menginformasikan bahwa aku tidak enak badan dan meriang. Kejadian ini membuat Ido harus berbohong dan menggantikan posisiku sebagai pengisi acara di seminar tersebut.

 

Racunku yang selalu mencari masalah dalam hubungan kami, semakin lama membuat Ido pendiam. Dari sikapnya yang lembut menjadi dingin seketika.

Pikiranku yang berantakan membuat semuanya hancur. Hubungan kami, kuliahku dan prestasiku menurun. Namun tidak lupa, semangat Ido dalam isyarat tanpa melunturkan kelembutannya disaat aku merasa haus perhatian.

 

Sejam saja aku tidak mencari gara-gara dengannya maka akan gila. Apakah mentalku yang suka membuatnya marah? Atau pikiranku yang sedang gila? Entah apa.

 

Krrrrriiiiiiinggggggg…..

Telephone berdering, tanda pesan masuk dari Pak Yudi.

Kuangkat dengan gemetar.

“Nak, kau bikin ulah lagi yah? Kalo tidak ke kampus sekarang  beasiswamu akan dicabut!”, Pesan singkat sambil menutup telephone tanpa permisi.

Okeeee aku harus kuat menghadapi kenyataan, kecemburuan dan semua overthinkingku terhadap Ido dengan masa lalunya 3 tahun silam bersama Siti Clara. Bodohnya aku baru saja mengetahui hubungan mereka yang ternyata pernah menjalin kasih dan dipertemukan lagi.

Pantas saja Siti selalu mengejar Ido seperti lama mengenal dikehidupannya. Ternyata ohh ternyata mereka berpura-pura tidak saling mengenal. Apakah Ido menjaga perasaanku sehingga ia enggan menceritakannya bahwa pernah dekat dengan Siti?

Dan kenapa Siti menyembunyikan cerita masa lalunya? Kenapa mereka bjsa berbisah? Dan kenapa? Kenapa? Kenapa???

 

Krrrrriiiiiinggggggg…..

Suara telephone memecahkan pekikku.

“Hallo, Lis. Cepat ke kampus bego ihh. Aku ada tugas nih buruan!” Nada terdesak Siti.

“Hay  Siti. Sorry banget aku gak bisa bantu hari ini, kamu coba kerjain sendiri dulu ya! Kan kita punya otak yang sama. Makasih ya udah nyemangatin aku dengan kata bego punyamu! Bye” tutupku dengan emosi.

Jalanku sempoyongan. Tanpa diduga Ido sudah pergi duluan meninggalkanku dengan balsam di atas meja makan.

“Sialan, hari ini aku tidak diberi uang jajan. Bagaimana aku mau pergi ke kampus?” Gumamku sambil berpikir keras.

Akupun memutuskan untuk menghubungi Safta, teman Sekolahku dulu. Dengan terpaksa aku minta jemput dipersimpangan lampu merah. Berjalan kaki dengan jarak yang lumayan dari rumah. Tanpa kabar ke Ido aku pergi dengan Safta.

Kakiku masih gemetar. Malam kemaren Ido begitu bergairah, aku semakin takut kehilangannya. Cintaku sudah berlabuh ke hatinya. Diperjalanan aku melamun kembali. Pikiranku perihal kedekatan Ido dulu dengan Siti. Dan apa yang menyebabkan mereka berpisah. Ingin kutanya tapi aku takut menimbulkan masalah. Biarlah kusimpan sesak dalam dada.

 

Sampai di kampus, Siti dengan mulut monyongnya seperti donal bebek membeberkan ke satu kelas bahwa aku berkencan dengan Safta. Sehingga sampai ke telinga Ido.

Wajahnya datar tapi aku tau kepalanya hampir meledak karena cemburu. Baru subuh tadi aku melakukan drama pengucuran air mata buaya untuk meminta maaf kepadanya dan belum beberapa jam memberikan kejutan yang membuatnya ingin menyerah akan sikapku.

 

Selama seminar berlangsung, Ido selalu memperhatikanku dalam diam. Aku yang memberikan informasi harus bersikap profesional dalam bidang yang tidak begitu aku kuasai.

Memegang mic membuatku terbiasa karena kami sering melakukannya dengan Ido, dan Ido yang selalu mengajarkannya kepadaku bagaimana cara memberikan materi seminar agar tidak membosankan. Dengan sikap ceriaku yang palsu pagi itu peserta seminar dibuat tertegun dengan penampilanku.

Tentu saja ada salah satu peserta yang memberanikan pertanyaan nyeleneh saat sesi tanya jawab. Pertanyaannya adalah tentang status hubunganku yang tentu saja aku belum siap untuk menjawabnya.

Jawaban tersebut membuat Ido terpuruk. Aku yang selalu menyembunyikan identitas kami mungkin saja membuatnya muak pada hari itu.

Sedangkan Ido, jika ditanya perihal status pasti menjawab sudah beristri.

 

Hatiku kesal dan berkecamuk tentang overthinkingku malam tadi. Belum lagi sikap Siti Clara yang haus perhatian agar diperhatikan Ido menambah angka cemburuku. Ingin kulempar tumbler panda yang Ido kasih ke aku namun takut pecah.

 

Dalam diam Ido menggunakan kesempatan emas itu untuk membuatku kesal. Dia hanya diam dan dingin. Semakin dingin setiap waktu demi waktu.

 

Siang ini cuaca sedang panas. Aku yang selonjoran ditengah rumah sambil menonton film terganggu akan teriakan suara dari luar. Ternyata suara Siti. Membuatku terperanjat membangunkan Ido yang terlelap. Dengan marah besar singaku terbangun dan galak. Aku terkejut dan menangis sesegukan. Suara Siti masih lantang di teras rumahku. Harus bagaimana? Aku sengaja dikunci dari luar kamar oleh Ido. Aku siap dengan tenaga yang kuat untuk berteriak apabila Ido mengajak Siti masuk ke dalam Istanaku ini!

 

“Maaf Siti, Bapak tidak mendengar suaramu karena sedang tidur. Konsulnya nanti sore aja gimana? Jangan datang ke rumah seenaknya tanpa pemberitahuan ya. Karena Bapak juga punya Privasi, tolong siapkan tempat untuk kita konsul. Dan jangan lupa beritahu bestaimu untuk konsul bersamaan denganmu, Elis” ucap Ido dengan wajah semeraut merah karena menahan marah.

“Yahh, Saya sengaja ke sini sendirian tanpa mengabari Elis, Pak. Untuk konsul berduan saja tanpa diganggu. Karena saya perlu banget konsul private dengan Bapak Ido” dengan suara yang sengaja dilembutkan.

“Pembimbing 1 kamu kan Bu Yanti kalau pembimbing 1 kamu acc maka Saya mengikut saja. Lebih cepat kamu lulus lebih baik!” Jawab Ido dengan ketus.

“Tapi Saya tidak mau cepat lulus, Pak. Saya mau bersama Bapak Ido hari ini, besok, lusa dan selamanya seperti kisah kita dulu” rayu Siti dengan imut.

“Buang kata-katamu itu dan lupakan yang dulu! Istri saya sedang tidur, jangan sampai membangunkan pawang singa karena singanya telah kau bangunkan dengan teriakanmu gajelas itu. Sudah pulang, waktunya jam tidur siang. Saya tidak terima tamu!” Usir Ido dengan memaksa.

 

Siti pulang dengan wajah cemberut. Ia langsung memasuki mobil dan pergi. Tidak berapa lama ia menelphoneku. Padahal aku dan Ido sedang bercumbu disiang bolong.

Krrrrriiiiingggggggg…

“Sayang, angkat telepon dari bestaimu itu. Ohh iya, menanggapi mulut Siti. Memang benar kami dulu pernah dekat dan berakhir karena kecerobohannya sendiri. Jangan sampai kamu bego sama kaya dia. Karena aku sudah menaruh jantungku tepat diragamu!” Ucap Ido dengan tangan masih memelukku.

“Elissssssssse, tau gak aku sedih banget ditolak oleh Pa Ido. Padahal aku rela bangun pagi pergi ke salon untuk dandan ketemu sama dia huwaaaaaaaa” teriak Siti Clara anak konglomerat yang manja.

“Udah isshh Siti Clara, Pak Ido itu udah punya Istri yang cantik. Jangan ngarep deh dapatin Pak Ido kalo kamunya haus akan perhatian. Karena perhatiannya hanya untuk istrinya seorang” jawabku dengan nada cemburu dan kesal.

“Ikhhhh… Kok kamu mendukung sih? Tumbenan ada apa sih? Seolah kamu tau kehidupan asmara aja! Ehh tunggu itu tangan siapa bego? Kamu ngapain? Sama siapa? Gak nyangka ya kamu berbuat mesum” Ucap kata terakhir siti nyeloteh dan langsung kututup videocall darinya.

“Kebiasaan anak nih bego tanpa pamit, jelaskan dong. Kalo perlu kasih liat mukaku yang ganteng ini ke Siti!” Sahut Ido dengan marah.

“Astagaaaa aku gak nyadar loh, Yang tanganmu ini. Ngapain sih!” Tanyaku marah.

“Apaan ihh, kan aku peluk aja. Sah aja kan aku suamimu. Kamu aja yang males ngakuin ke semua orang” tatapnya tajam kepadaku.

“Kamu juga jangan kebiasaan tanpa pamit, sama laki-laki lain lagi. Izin dulu kek ke suami, kamu gak perawan lagi loh. Kamu itu udah punya aku!” Kata Ido dengan bangga.

“Udahh ahh jangan bahas lagi  mending kita sayang-sayangan aja ya, Beb!” Manjaku mulai memuji.

“Males ahh, gak mood lagi. Aku sedang kesal denganmu hari ini. Belum lagi dengan Siti, sampai kapan kamu menyembunyikan identitasmu ini? Sampai tua nanti? Dasar pendongeng handal!” Ucap Ido sambil mengambil handuk dan pergi mandi.

“Beb, ikutt aku juga mau mandi!” Mengalihkan pembicaraan.

“Gak mau nanti ketahuan sama Siti. Bentar lagi dia video call kamu lagi tuh penasaran! Dan gantian, antree dong. Belajar sabar ya. Jangan aku aja yang kamu tes sabar. Aku juga punya batas sabar, Beb” seketika penglihatanku buram mendengar kata-katanya yang sangat menusuk menurutku.

Aku ingin dihargai, tapi diri sendiri belum aku hargai. Dan aku selalu menuntut untuk dicintai dan dimengerti. Sedangkan belajar mencintai dan mengerti aku selalu malas. Mencari masalah setiap waktu. Sakit jika suasana adem ayem. Dalam kesempatan pasti menciptakan keruh di suasana damai. Aku yang selalu menyakiti diri sendiri dan merasa paling tersakiti oleh Ido.

 

Sore telah tiba. Konsulku diterima oleh Pak Ido. Dengan syarat aku harus mengganti judul. Dan harus mengajukan proposal lagi untuk judul baru. Katanya judulku terlalu drama dan kekanakan.

Siti yang sangat bahagia karena merasa selangkah lebih maju dariku. Skripsweetnya diterima oleh Pak Ido. Dengan rasa bangga ia mengadakan acara yang sangat meriah minggu depan.

Tentu saja dia kepo dengan tangan saat video call itu. Dan aku malas dengan pertanyaannya. Bersyukur Ido mengalihkan fokusnya hari itu.

 

Aku diundang sebagai pembawa acara bahagianya. Sedangkan Ido diundang untuk makan malam bersama keluarga Siti. Tanpa kabar denganku, Siti membelakangiku. Aku muak dengan semuanya.

 

Malam minggu mulai tiba. Kami sering bertengkar masalah sepele. Aku yang sering membuat masalah dan mengungkit hal lama dan berulang.

Kenapa Siti mengundang Ido makan malam sedangkan aku tidak? Aku marah besar ke Siti namun hanya bisa diam.

Menahan satu bulan lagi kelulusan berlangsung. Dengan waktu satu bulan kukejar deadlineku. Membuat skripsweet tanpa bantuan Ido dan petuah Pak Yudi. Hanya ada kata mutiara dari Bu Dibbah  yaitu ‘Teruslah mengejar angin  walau angin tak dapat kau lihat namun selalu kau rasakan’.

 

Hari kelulusan pun tiba. Sidang terbuka dengan beberapa dosen penguji. Aku lulus dengan capaian murniku. Tentu saja pada saat acara puncak nanti. Aku ditagih janji oleh Ido. Yaitu mempunyai anak dan mengumumkan status kami. Tidak kubayangkan betapa mata tersorot kepadaku dan pendapat siti terhadapku yang menusuknya dari belakang.

Padahal sebelum perjodohan itu, aku sudah dipaksa untuk mengiyakan tanpa tau orangnya. Ternyata orang yang selalu kusebut dalam doa. Aku mencintainya, sungguh mencintainya. Tapi overtinkingku yang selalu merusak mood bagus kami. Aku yang salah dalam hubungan ini tapi aku juga tidak mau disalahkan.

 

Wanita memang unik. Ingin dimengerti tapi belum mengerti diri sendiri. Minta dimanja tapi haus akan perhatian. Perhatian harusnya dicipta bukan dicari katanya kepadaku. Seringkali aku tarik ulur. Sikapku yang egois, selalu menuntut hak namun melupakan kewajibanku.

 

Siti Clara, menelpon dengan suara napas engap. Menceritakan bahwa Tante Miccele meninggalkannya tanpa sebab. Setiap yang bernyawa pasti akan merasa bosan jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Yang awalnya aku ingin mengumumkan statusku kepada semua orang di kampus menjadi tertunda akan bela sungkawaku kepada Siti. Aku terlalu kasihan kepada teman ketimbang suamiku sendiri.

Ido selalu sabar dalam tiap masalah yang aku buat. Dengan diam dan tidak mencari pelampiasan ia lelaki yang hebat menurutku. Dalam hubungan, ia bertahan dengan hubungan serumit ini. Profesional dalam pekerjaan yang ia lakukan sebagai dosen serta teman hidupku.

 

Di mana lagi aku mencari lelaki yang setulus seperti Ido kata Pak Yudi. Aku yang egois menyesali perbuatanku. Sehingga Ido seminggu menjauh denganku. Tanpa kabar dan ada pekerjaan yang mendesak untuk ke luar kota. Entah hanya alasannya saja atau pikiranku yang terlalu negatif terhadapnya.

Pernikahan kami sudah menginjak 1 tahun. Aku masih berhubungan baik dengan Siti, dan lama tidak berjumpa. Siti dengan perlahan menceritakannya bahwa ia salah telah mencintai lelakiku. Aku terkejut, karena Siti tau dari mulut Ido sendiri. Dengan bukti foto dan video kami berdua melewati hari yang ia tampilkan kepada Siti.

Ido selalu membuat video pendek berdurasi 40.3 detik di pagi hari saat aku terlelap dan ia mendahuluiku bangun serta menyiapkan makanan. Selama kuliah ia juga menyemangatiku dengan romantis dan kebodohanku yang dingin menanggapi akan cintanya yang tulus kepadaku.

 

“Elis, maafkan aku tidak jujur terhadapmu. Aku dulu mempunyai hubungan dengan Ido. Dan aku menyesal karena telah menyiakan cinta tulusnya. 3 hari yang lalu aku bertemu dengan Ido. Aku selalu memaksanya untuk menemaniku. Mungkin Ido muak dengan sikapku. Aku tau kalian menikah dari Ido langsung. Sakit banget sih kamu gak pernah cerita ke aku. Tapi lebih sakit lagi kamu yang selalu menutupi amarahmu padaku. Kamu wanita hebat, semoga bayi kalian sehat yah. Toling jaga Ido. Kaget banget loh, Ido bisa meluluh lantakkan perasaanmu. Padahal kamu orangnya cuek dengan asmara. Ternyata seleramu tinggi ya hahaha” ucapnya lirih.

“Siti, maaf banget ya aku gak mau menyakiti perasaanmu waktu itu. Ada alasan lain yang membuatku harus merahasiakan status kami. Kalau menikah Ido akan dipindah tugaskan ke tempat yang jauh karena sengaja menikahi mahasiswi yang dapat beasiswa. Makanya kami memilih jalur licik”

“Ya itu pilihan kalian berdua. Aku merasa kamu permainkan. Ternyata selama ini aku curhat dengan istri orangnya langsung, hahaha”, suara tawa yang berat.

“Ohh iya, aku sekarang mau chekup nih. Kamu mau gak ketemu aku? Tempat biasa ya?”

“Sorry banget, Lis. Aku di luar kota sekarang. Bisnis Ayah sedang menurun sejak tante Miccel pergi dari rumah. Kadang memperjuangkan cinta sendiri itu capek ya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa selalu kabarin suamimu. Jangan sampai ia tau dari orang lain loh hehehe”. Teleponpun berhenti.

Sejak saat itu Siti Clara tidak menghubungi aku maupun Ido. Karena kami sudah dengan kehidupan masing-masing. Aku yang sudah memiliki bayi umur 3 tahun, anak kami tercantik di keluarga Ido. Karena anak dari saudaranya laki-laki semua.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!