Sea, I found Him
36.3
5
280

"Laut, aku menemukannya!" Seorang putri dari penguasa lautan selalu mendambakan pasangan dan penasaran pada setiap hal-hal baru.

No comments found.

Aku tidak mengerti, ayah selalu saja mencegah juga melarangku beserta saudari-saudariku untuk muncul ke permukaan. Padahal dia sendiri sering dan bahkan hampir setiap hari. Aku tidak pernah tahu apa yang dilakukannya dan karena aku penasaran, akhirnya aku membangkang dengan mengikutinya dari belakang. Bersembunyi dibalik batu karang, agar tidak ketahuan. Aku melihat dari kejauhan, ternyata ia sedang menatap sebuah kapal laut yang begitu besar dan banyak awak kapal di dalamnya. Entah apa yang dilakukan, sebab setelah diangkatnya tongkat trisula, seketika kapal tersebut tenggelam dan menyisakan bangkai juga harta karun di dasar laut sana.

“Bagaimana bisa ayah berbuat jahat pada para manusia yang sama sekali tak melakukan apa-apa selain menurunkan jangkarnya ke dasar lautan?” Bertanya pada diri sendiri, adalah hal yang aku lakukan setelah menengok hal itu terjadi. Namun, semakin lama aku justru tidak dapat menahan diri, aku pun kembali berenang dan menghampiri ayah yang tengah tertawa puas. Rupanya, kedatanganku malah membuat ekspresinya berubah total, lantaran ia benar-benar tidak mau jikalau aku mengenal dunia luar.

“Coral!”

“Ayah,” lirihku penuh rasa takut. Jangankan untuk memandang, mengucapkan kata maaf saja aku tidak sanggup. Ayah yang merupakan penguasa lautan, sangat terkenal keras dalam mendidik putri-putrinya. Ia tak segan-segan memberi hukuman jika ada salah satu yang tidak patuh pada aturannya. Ketat sekali, sampai aku tidak boleh mengenal dan bermain dengan pria, kecuali para pria dan pangeran pilihannya. Meskipun pada dasarnya aku sudah berhak memilih juga membangun cinta tanpa adanya campur tangan dan asas perjodohan.

Mendengar suaraku yang ketakutan, ayah tak berucap lagi, akan tetapi ayah langsung menggenggam erat tanganku hingga menimbulkan bekas. Jelas, sepertinya ia akan menjatuhi hukuman padaku. “Ayah, kau hendak membawaku ke mana?” tanyaku di antara sunyi dan gelapnya laut walau disiang hari. Menyeramkan, kedalamannya membuatku sulit membedakan wujud ikan dan bebatuan. “Ayah, ini sudah jauh dari istana… ayah tolong maafkan aku” sambungku seraya mengeluarkan air mata.

Kendati demikian, Poseidon yang kejam ternyata tetap mempunyai rasa kasih sayang. Ia tidak mau anak-anaknya mengalami kesakitan, “Sekarang, kau sudah sadar apa kesalahanmu?” lanjutnya bertanya.

“Ya, ayah… aku salah sudah membuntutimu,” kataku sambil menahan darah yang keluar dari pergelangan tanganku yang sedari tadi digenggam paksa oleh ayah.

“Kau penasaran, dengan apa yang aku lakukan? Apakah rasa penasaranmu sudah ter-bayarkan karena melihat kapal itu tenggelam?” Tegasnya.

Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. Menandakan aku belum puas atas jawabannya.

“Coral, kau ingin tahu?”

“Iya, ayah. Aku benar-benar ingin tahu,”

“Baiklah. Usap dulu air matamu, dan janji kau tidak boleh menceritakan ini pada saudari-saudarimu. Hanya aku dan kau saja yang tahu. Janji?”

“Janji, ayah” sediaku menyimpan sebuah rahasia besar.

“Kalau begitu, ayah akan mulai terbuka padamu… sebenarnya, ayah melakukan hal tersebut karena perompak itu melanggar sesuatu yang telah kami sepakati sebelumnya”

Ia menerangkan amat sangat kurang dan mengantung, makanya aku secara terus-menerus bertanya agar mendapat kejelasan, “Apa yang disepakati, ayah?”

“Kami menyepakati janji agar tidak merugikan kedua belah pihak, antara bangsa manusia dan bangsa duyung”

“Apakah itu ayah?”

“Aku sudah bilang untuk mereka tidak mempublikasi keberadaan kita di sini dan tidak mengambil sebuah mutiara dari kerang paling besar di samudra. Cuma… mereka mengkhianatinya, dan tentu saja aku murka. Maka memusnahkannya adalah satu-satunya cara agar kita tetap aman tanpa adanya sebuah gangguan”

“Ayah melakukan itu setiap hari?”

“Tidak, Coral …”

“Lalu mengapa ayah selalu pergi dari singgasana?”

“Ayah mengecek mutiara agar selalu di tempatnya. Sekarang, maukah kamu menemani ayah mengembalikan mutiara tersebut? Sembari ayah akan memberikanmu sesuatu…”

“Aku mau ayah! Tapi bagaimana luka ini?” Aku menunjukkan lenganku yang berdarah padanya, ia merasa bersalah dan langsung mengayunkan tongkat trisula guna menyembuhkan luka yang menyakitiku. “Terima kasih, ayah” kataku disertai senyuman.

Kita berdua berenang ke arah bangkai kapal yang baru saja jatuh, di sana aku melihat para awak yang kehabisan nafas juga sebuah bola mutiara yang begitu indah dan terlihat berat. Ayah membawanya menggunakan kantung yang berada di reruntuhan kapal itu, lalu segera mengajakku pada tempat di mana ayah menyembunyikannya. “Coral, kau harus mengingat tempat ini”

“Baik, ayah” aku terkagum-kagum, ikan dan terumbu karang banyak hidup di sekitar tempat mutiara terbesar. Namun kurasa, hanya aku dan ayah yang mengetahui ini semua, sebab letaknya amat jauh dari pemukiman istana tempatku tinggal. “Ayah, apa yang akan kau berikan padaku?” aku mengingatkan ayah yang sedang memandang tulus mutiara itu.

“Pegang tanganku,”

Awalnya aku takut bila ayah hendak menjebakku dan memberikan hukuman yang lebih berat. Namun, aku tetap menuruti perintah ayah dengan meletakan telapak tanganku tepat di atasnya. Kemudian ia terdiam sejenak, lalu aku merasakan ada energi yang memasuki tubuhku. “Ayah?” Sahutku heran.

“Ayah mengasihimu kekuatan, supaya kau dapat menjaga dirimu sendiri beserta lautan. Sebab ayah tahu, anak sepertimu tidak untuk dilarang. Melainkan diberi pengajaran,” takku sangka, dia sungguh pengertian.

“Ayah, apakah kau yakin bisa mempercayaiku?”

“Aku yakin dan percaya padamu, karena kau adalah anakku. Dulu pun aku tak jauh berbeda darimu, ya, serba ingin tahu …” lengannya yang besar mengelus kepalaku dengan halus.

“Terima kasih, ayah” sergap aku memeluknya erat. Awalnya aku tak pernah menyangka, bahwa di usiaku yang masih terbilang muda, aku harus memegang tanggung jawab yang besar dalam menjadi seorang putri. Terlebih saat wajib menyeimbangkan diri atas kekuatan yang kini aku miliki. Walau berat membayangkan bagaimana ke depan, aku akan berusaha semaksimal mungkin demi menjaga lautan dan samudra tempatku tinggal.

Selepas dari sana, kita berdua kembali pulang ke istana. Aku tidak ikut berkumpul dengan ibu dan saudari-saudariku yang tengah mencicipi hidangan diruang makan, karena aku memang berniat untuk menjajal hal yang baru saja didapatkan. Tak tanggung-tanggung, aku mengendap-endap pergi ke permukaan melewati para pengawal dan pasukan yang sedang lengah. Tanpa adanya bantuan dan arahan dari siapa pun, aku nekat mendekati sebuah kapal laut yang pada saat itu berlayar tenang. Kebetulan saja ada sebuah batu karang besar, gunaku menyembunyikan diri agar tak terlihat oleh para awak dan kru kapal.

Lama aku menunggu mereka menurunkan jangkar tuk menangkap ikan, hingga pada akhirnya kesabaranku hilang karena langit sudah mulai gelap. Ketika aku mulai meraba air laut dengan berkonsentrasi dan hendak mengayunkan tanganku seperti ayah yang mengerakkan trisulanya, ada seorang pria yang menunjukkan dirinya. Ia berpakaian rapi, berbeda dari yang lainnya. Posisinya condong menghadap laut, sungguh ia mengganggu diriku dan menutupi pemandangan indah dari bulan yang sedang memancarkan cahayanya.

Agaknya dia tidak menyadari keberadaanku di atas karang raksasa ini, karena yang dilakukannya hanya diam dan menghirup angin malam. Aku memandanginya sambil menyimpan rasa penasaran, sekaligus terpesona akan karisma yang ada pada wajah rupawannya. Seumur hidupku belum pernah menemui sosok manusia yang berwajah muda dan sesempurna dia. Beruntungnya, berkat rasa ketertarikanku ini, aku jadi mengurungkan niat untuk menjadikan kapal tersebut sebagai kelinci percobaan dalam menguasai kekuatan.

Aku terlalu fokus memandangnya, sehingga aku lupa jikalau ayah pasti akan kembali murka bila aku tidak cepat-cepat pulang. Namun sebelum benar-benar pergi, aku melihat keseluruhan detail kapal guna mengingatnya agar di lain waktu aku bisa bertemu dan mungkin menyapanya.

“Oh Laut, aku menemukannya!” aku berteriak, sangat bersemangat menyambut esok pagi dengan rencana baru lagi. Sebab dari sebagian besar pangeran yang telah ayah kenalkan, tiada seorang pun yang dapat menarik hatiku. Sejauh ini, hanya dialah yang mampu membuatku terus memikirkannya, bahkan sampai aku membayangkan petualangan dan dunia seperti apa yang akan aku lalui bila dapat mengenalnya.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!