See you
56.5
29
394

Pertemuan antara Agatha dan Diksa yang tidak disengajai, berawal dari memperebutkan meja favorit hingga berujung kenalan. Akankah keduanya saling jatuh hati?. Yuk baca gimana kelanjutan kisah Agatha dan Diksa.

No comments found.

Agatha Anitya Dwirana, gadis berparas cantik yang kini duduk di bangku kelas 11 di salah satu Sekolah Menengah Atas yang terletak di pusat ibukota.

Agatha melangkahkan kakinya menyusuri jalanan ibukota. Sore ini waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB dan gadis itu masih lengkap dengan seragam sekolahnya.

Agatha membuka pintu cafe, “Cafe Caroline”. Agatha mengedarkan pandangannya sebelum menghampiri meja yang terletak di sudut kanan cafe tersebut.

“Selamat sore, pesan apa ka?”, tanya pelayan yang kini berdiri di hadapannya.
“Moccacino 1 mbak”, jawab Agatha sambil tersenyum kecil.
“Baik ka, mohon ditunggu”.

Pelayan tersebut pergi meninggalkan Agatha, dan beberapa menit setelahnya ia kembali dengan nampan yang berisi pesanan Agatha.

“Silahkan ka”.
“Terima kasih mbak”.
Agatha menyeruput moccacino itu, terasa sangat nikmat. Moccacino memang gak pernah salah.
Seperti candu, Agatha sangat mencintai moccacino. Setiap hari harus ia sempatkan untuk datang ke cafe ini dan memesan segelas moccacino.

Agatha mengedarkan pandangannya, menatap jalanan ibukota yang kian meramai. Mobil dan motor yang berlalu-lalang ke sana dan kemari.

“Permisi, bisa pindah? Ini tempat saya”.

Agatha spontan menoleh ke arah sumber suara, mendapati seorang pria dengan kemeja levis berwarna hitam yang sudah berdiri di hadapannya.
Agatha menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan siapa pria ini berbicara?.

“Maaf, kamu ngomong sama siapa?”, tanya Agatha.

Pria itu mengerutkan dahinya, sudah pasti Agatha yang ia ajak berbicara.

“Saya bicara sama kamu”, jawab pria itu.
“Loh, kok kamu nyuruh saya pindah? Kan saya yang lebih dulu duduk di sini”, tolak Agatha.
“Biasanya, setiap kali datang ke sini saya selalu duduk di tempat ini. Ini sudah jadi tempat favorit saya, jadi kamu boleh pindah”, ujar pria tersebut yang kekeh menyuruh Agatha untuk segera pindah.

Agatha menatap kesal pria itu.

“Gak bisa begitu dong, kan saya yang lebih dulu duduk di sini. Saya gak peduli ini tempat favorit kamu atau bukan. Siapa duluan, dia dapat”.

Agatha mulai kesal terhadap pria itu, enak saja dia menyuruh Agatha pindah. Kan tidak sopan.

Pria itu diam, tidak membalas ocehan Agatha.
Dia menarik bangku di hadapan Agatha dan duduk, hal itu sontak membuat Agatha kaget.

“Kamu ngapain duduk? Saya gak ijinin kamu duduk di sini loh”, kesal Agatha.
“Gue Diksa. Diksa Euro Hanatama. Anak SMA Pelita, kelas 12”, ucap pria itu.

SMA Pelita? Berarti pria ini kakak kelasnya?.

“Maaf tapi gue gak nanya siapa nama lo”, sarkas Agatha.

Pria itu tersenyum kecil.

“Lo emang gak nanya, kan gue memperkenalkan diri. Ayok, sekarang kasih tau gue siapa nama lo”, ucap Diksa sembari mengulurkan tangannya.
“Gak terlalu penting untuk lo tau siapa nama gue, lagian gue gak kenal sama lo”.
“Gue kan udah memperkenalkan diri, lagian kita satu sekolahan jadi gue rasa gak ada salahnya kalau kita saling kenalan”, ujar Diksa dengan tangan yang masih setia terulur.

Agatha memutar bola matanya malas, tau tadi dia memilih untuk pindah ke meja yang lain daripada harus berkenalan dengan pria menyebalkan ini.

“Kata ibu gue, kalau orang ngajak kenalan terus dianggurin, itu gak sopan loh”, sindir Diksa.

Dengan malas akhirnya Agatha menerima uluran tangan Diksa.

“Agatha, kelas 11”.

“Wahh, adik kelas gue ni. Salam kenal ya Agatha”, ujar Diksa yang seakan senang karena berhasil mengetahui nama Agatha.

“Jadi, buat apa lo duduk di sini?”, tanya Agatha.
“Gapapa sih, cuma pengen kenalan aja. Lagian gue tadi lihat dari seragam lo, sama kayak punya gue”, jawab Diksa santai.

Agatha hanya diam, hari ini sudah cukup melelahkan dengan jadwal sekolah yang padat ditambah lagi harus bertemu dengan manusia astral yang kini duduk di hadapannya.

“Lo suka moccacino?”.
“Gak bakal gue pesan kalau gue gak suka”.
“Gak usah jutek jutek lo sama gue, ntar suka”.
“Heh ka, kita baru kenal bahkan belum sejam. Gak usah sok asik deh lo”, kesal Agatha.

.

Pagi ini Agatha berjalan menyusuri koridor, senyum yang sedari tadi ia ukir di bibirnya tidak luntur sedikitpun.
Agatha memang terkenal ramah, gadis itu selalu tersenyum pada siapa saja yang ia temui bahkan pada mereka yang tidak ia kenali.

“Taa”.

Agatha menoleh, menatap seseorang yang barusan memanggil namanya.

“Eh Karin”.

Karin Handayah, dia adalah sahabat sehidup semati Agatha. Kedua gadis itu sudah menjalin hubungan persahabatan mereka sejak kecil, jadi tidak heran jika mereka berdua terlihat sangat dekat.

“Tumben pagi banget datangnya, biasanya udah ganti mapel baru nongol”, sindir Agatha.
“Apaan sih lo, telat dimarahin datang pagi banget dimarahin juga. Yaudah gue gak usah sekolah aja kalo gitu”, kesal Karin.

Agatha tertawa kecil.

“Yaudah, terserah lo. Kan yang rugi juga lo, bukan gue Rin”.

Alana berjalan meninggalkan Karin yang menatap punggung sahabatnya itu dengan tatapan tajam seperti singa yang siap menerjang mangsanya.

Bruk..

Karin mengangkat kepalanya, gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat Agatha yang kini sudah duduk manis di lantai.
Dasar, siapa suruh jahat sama Karin! Kena batunya kan.

“Eh..eh..sorry sorry, aduh sorry banget”.

Agatha meringis, ini masih pagi tapi kenapa sudah sial begini?.
Agatha mendongakkan kepalanya, menatap seseorang yang kini berdiri dengan uluran tangannya, berniat membantu Agatha untuk berdiri.

“Agatha?”.

Agatha semakin meringis, mungkin semesta pagi ini sangat kesal terhadap dirinya. Atau mungkin karma datang secara instan karena dia habis meledek Karin.
Siapa sangka, orang yang menabraknya adalah Diksa Hanatama. Pria menyebalkan yang ia temui di cafe kemarin.

Tanpa meminta persetujuan Agatha, Diksa menarik tubuh gadis itu dan membantunya berdiri.

“Jalan pake mata dong kak!”, kesal Agatha.
“Dimana-mana jalan pake kaki, Agatha”, jawab Diksa santai.
“Heh kalo gak punya mata, lo gak bisa ngelihat dan malah sembarangan nabrak orang!”.
“Tapi, kalo gak ada kaki. Kan gak bisa jalan”.

Serius, kalau saja pria di depannya saat ini adalah Karin mungkin setelah ini dirinya sudah terkubur rapih di bawah tanah.

“Maaf ya, hehe abis badan lo kecil banget makanya gak kelihatan”.
“Gak usah body shaming lo”.

Agatha pun pergi meninggalkan Diksa, sedangkan Karin masih setiap berada di tempatnya menatap kejadian adu mulut tadi antara Agatha dan Diksa tadi.

“Serius tadi itu beneran Ka Diksa kan? Sumpah ganteng bangettt ah ya Tuhan kuatkan hati hamba”, ujar Karin dramatis.
“Ingat cowok lo Rin”, kesal Agatha.
“Hehe iya udah pasti. Jefan tuh always be number one on my heart”.

Agatha hanya begidik ngeri menatap Karin, memang benar makin lama makin tidak beres gadis ini.

“Eh Ta, btw kok Ka Diksa bisa tau nama lo? Dan lo juga tau Ka Diksa? Kalian pernah kenalan sebelumnya? Eee, kalau Ka Diksa sih emang lumayan terkenal yah karena dulu kan dia sempat jadi kapten basket tapi kok bisa Ka Diksa tau nama lo sih? Lo kan gak terkenal-terkenal amat, cuma remahan rengginang doang di sekolahan”, ujar Karin sembari menatap Agatha dengan penuh tanda tanya.

“Gapapa remahan rengginang, yang penting gue cakep”, ujar Agatha dengan pede sambil mengibas rambutnya.
“Dih, kalo cakep sih Ka Diksa juga cakep keles. Cakep banget malah. Eh tapi serius ini gue nanya kalian udah pernah kenalan? Gue bahkan gak yakin lo tau siapa Ka Diksa. Nama kepala sekolah aja lo baru tau 2 minggu yang lalu Ta”.

Agatha memutar bola matanya malas, serius Karin adalah manusia paling kepo di dunia yang pernah dia temui.

“Kemarin gue sama dia ketemu di cafe dan kenalan”, jelas Agatha.
“WHATTT!!! Demi apaaaa? Kok bisa?”.
“Ya bisalah, buktinya udah saling kenal”, kesal Agatha.

“Ta, lo tau gak sih Ka Diksa itu orangnya ngirit banget kalo ngomong loh. Ya emang bukan tipikal cowok dingin atau sebagainya tapi dia kelihatan malas banget kalo terlalu banyak ngoceh. Tapi, tadi kok ngoceh banget yah pas sama lo?”.

“Ngirit ngomong? Sumpah ya Rin, gue manusia pertama yang menolak pernyataan itu. Ka Diksa itu bawel dan nyebelin banget. Baru 2 hari kenal dan ketemu sama dia udah buat gue naik darah tau gak!”.

Karin melongo mendengar ucapan Agatha.
Diksa yang Karin tau adalah Diksa yang ngirit banget kalau lagi ngomong.

“Mungkin gak sih dia itu suka sama lo?”, tebak Karin.
“Gak usah aneh-aneh deh lo Rin, kenal aja baru 2 hari”.

Tring..
Handphone Agatha berbunyi, gadis itu segera membuka layar handphonenya. Tertera jelas satu pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.

“Hai Agatha yang kiyowo, save back ya. Diksa paling ganteng se-SMA Pelita”.

Agatha membulatkan matanya sempurna, hei…dari mana si kutukupret ini mengetahii nomor handphonennya?.

“Siapa?”.

Tuhkan, benar kata Agatha. Karin itu manusia paling kepo seantero Jakarta.

“Rin, lo ngasih nomor gue ke ka Diksa?”.
“Hah? Gak kok, ngobrol sama dia aja belum pernah”.

Agatha menghela nafasnya, sebelum akhirnya gadis itu mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari pria menyebalkan itu.

Agatha : dapat dari mana nomor gue?
082********* : ada deh, gue kan detektif handal.

Agatha keluar dari roomchat tersebut dan mematikan handphonennya. Baru 2 hari mengenal Diksa, sudah membuat kepalanya hampir pecah.

“Jangan bilang Ka Diksa ngechat lo?”.
“Hmm”.

Karin mmbulatkan matanya sempurna, dia sontak berdiri dari bangkunya.

“Oemji, oemji. Tuh kan gue bilang apa, pasti Ka Diksa suka sama lo Ta!”.

Agatha menutup kupingnya. Karin dan Diksa memang semerek, mungkin setelah ini cita-cita Agatha ingin menjodohkan dua manusia ini.

“Rin, duduk deh. Gak usah ngawur lo”, kesal Agatha.

.

Agatha membuka pintu cafe, sebelum masuk gadis itu memohon agar tidak dipertemukan dengan Diksa.
Agatha menatap meja yang kemarin sempat dia perebutkan dengan Diksa, kosong..syukurlah.
Agatha berjalan menuju meja itu, duduk, lalu memesan pesanannya. Apalagi, kalau bukan moccacino.

Setelah menyeruput moccacino yang kini sudah berada di hadapannya, Agatha membuka handphonenya dan mulai mengutak-atik benda pipih itu.

082********* : ini udah lo save back kan?
082********* : btw, sebentar lo ke cafe gak?
082********* : sombong banget sih, chat orang ganteng gak dibales
082********* : oitt, jangan ngacangin chat orang. Gak baik tau

Agatha menghela nafasnya kasar, entah apa salah gadis itu sampai dia harus dipertemukan dengan makhluk aneh seperti Diksa.

Ngirit ngomong apaan? Bawel iya, batin Agatha kesal.

Gadis itu mengabaikan pesan dari Diksa dan kembali fokus mengutak-atik handphonenya.

Sudah hampir sejam Agatha habiskan di cafe ini, setelah menghabiskan moccacinonya gadis itu bergegas pulang.
Agatha berdiri di sebuah terminal bus yang terletak sekitar 200 meter dari cafe tadi.
Hampir 20 menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda bus yang lewat.

“Agatha?”.

Agatha menoleh, oh Tuhan semesta memang tidak pernah berpihak padanya.
Ya, sudah bisa kalian tebak orang itu adalah si cogan SMA Pelita. Siapa lagi kalau bukan Diksa Hanatama.

“Lo ngapain berdiri di sini?”.
“Cuma orang bodoh yang nanya ngapain berdiri di terminal bus”.

Diksa tertawa kecil, Agatha memang tidak pernah bisa menjawabnya dengan lembut dan halus.

“Nungguin bus jam segini, sampe gorila ngelahirin anak katak juga gak bakal ada yang lewat”.

Agatha hanya diam, tenaganya seakan habis untuk menjawab pria ini.

“Yaudah ayok gue anterin”, ajak Diksa.
“Gak, makasih”.
“Kata ibu gue, kalau nolak pertolongan orang lain itu gak baik loh”.
“Bilang ke ibu lo, orang lain juga bakal nolak kalo yang nolongin itu manusia sengklek kayak lo!”, kesal Agatha.

Lagi-lagi Diksa tertawa, ingin sekali dia mencubit gemas pipi gadis itu. Tapi, sebaiknya jangan. Tidak lucu kalau Agatha membogem dia di terminal bus ini.

“Udah sore loh, emang gak takut?”, tanya Diksa yang mulai serius.
“Gak, gue lebih takut kalo harus pulang sama lo”.
“Agatha yang kiyowo, biar orang mandang gue anak nakal, tapi gue bukan cowok yang suka macam-macam sama cewek. Ibu gue juga cewek kali”.

Lagi-lagi Agatha hanya diam, dalam hatinya dia memohon agar bus segera lewat dan dia bisa segera meninggalkan pria ini.

Hampir 15 menit berlalu, bus belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk lewat.

“Lo serius mau nunggu bus sampai malam?”, ujar Diksa yang memecahkan keheningan.

Agatha hanya diam.

“Sore-sore gini katanya banyak preman yang berkeliaran untuk malak orang-orang. Dan mereka ngincer anak SMA, apalagi yang cewek-cewek karena tau mereka gak bakal berani ngelawan”.

Agatha menatap sinis ke arah Diksa, dia tau pria itu sedang menakut-nakuti dirinya. Tapi sejujurnya, Agatha juga takut.

“Lo bisa jambak gue samau lo kalau misalkan lo gak gue anterin sampai depan rumah”.
“Bentar lagi busnya sampai”.
“Dari tadi lo ngomongin hal yang sama, tapi buktinya gak ada satupun bus yang nongol kan? Ayok gue anterin aja, ini udah sore gue juga harus balik lebih awal nih”.
“Huh….lo kalau mau pulang, pulang aja. Gue juga gak nyuruh lo nungguin gue kan?”.
“Gue gak mungkin ninggalin lo sendiri di sini kali”.
“Emang kenapa?”.
“Lo mau di palak preman?”.

Agatha terdiam.
“Masih gak mau dianterin? Gue serius loh”.
Akhirnya Agatha mengiyakan tawaran Diksa, hal tersebut membuat senyum pria itu mengembang sempurna.

Malam ini Diksa duduk di balkon kamarnya, seperti orang tidak waras sedari tadi Diksa senyum-senyum sendiri. Pikirannya sedari tadi hanya tertuju pada Agatha.

Jadi gini rasanya suka sama cewek?, batin Diksa.

Diksa membuka handphonennya, menuju pada roomchatnya dengan Agatha. Pesan yang dia kirim sejak siang tadi tidak dibalas sedikitpun oleh gadis itu.

Diksa : selamat malam Agatha Kiyowo.

Tring
Handphone Agatha bergetar, menandakan ada notif yang masuk.
Gadis itu membuka layar benda pipih itu, ia menghela nafasnya. Lagi-lagi Diksa mengusiknya. Agatha menutup kembali layar handphonenya, tidak berniat sedikitpun membalas pesan pria aneh itu.

Hampir 4 bulan Agatha dan Diksa saling mengenal, dan selama 4 bulan juga Diksa menyukai Agatha diam-diam. Tapi, jangan pernah berharap lebih. Agatha tetaplah Agatha yang selalu kesal dengan setiap tingkah laku Diksa.

“Jadi bagaimana Agatha? Saya harap kamu bisa bertahan untuk sementara ini ya”.

Suara itu memecahkan keheningan yang melanda di dalam ruangan serba putih dengan aroma yang paling Agatha benci, yaitu bau obat.

“Iya dok, saya masih kuat sejauh ini”, jawab Agatha.
“Bisa janji sama saya untuk mengurangi mengonsumsi moccacino?”.
“Akan saya usahakan dok”.
“Saya harap kamu bisa, dan harus bisa yah”.

Agatha mengangguk pelan.
Sejak kecil Agatha mengidap penyakit jantung lemah, gadis itu sering kecapekan bahkan tidak jarang Agatha pingsan karena sakit yang menusuk di dadanya.

“Tumben gak pesan moccacino?”.

Diksa menatap heran Agatha saat gadis itu menyeruput segelas jeruk hangat. Pasalnya, selama ia mengenal Agatha menu favorit Agatha tidak pernah sekalipun berubah. Moccacino dan moccacino.

“Bosan aja”.
“Serius? Seorang Agatha bisa bosan sama moccacino?”, Diksa masih seperti tidak yakin dengan jawaban Agatha. Gadis pecandu moccacino ternyata bisa bosan juga dengan menu andalannya itu.

Keheningan melanda kedua remaja itu selama beberapa menit.

“Ta”.
Agatha menatap Diksa, jujur hari ini Diksa tidak sebawel biasanya. Tapi syukurlah, mungkin pria itu sudah tobat.

“Hm?”.
“Kalau misalkan ada yang suka sama lo, lo gimana?”.
“Gak gimana-gimana”.
“Eee, maksud gue apa yang lo bakal lakuin saat lo tau ada orang yang ternyata diam-diam suka sama lo?”.
“Ya gak lakuin apa-apa, emang gue harus ngapain?. Lo kenapa sih? Tumben nanya gituan?”.
“Ya gak papa sih, pengen tau aja”.

Gue suka sama lo dodol. Peka dikit kenapa sih, jerit Diksa dalam batinnya.

Agatha duduk termenung di meja belajarnya, gadis itu sudah berada di rumah sejak 1 jam yang lalu setelah bertemu dengan Diksa di cafe sore tadi. Ah ya, berbicara tentang Diksa. Entah kenapa, belakangan ini Agatha merasa sangat nyaman saat bertemu pria aneh itu. Agatha pun bingung kenapa bisa dia merasakan hal itu.

Apakah Agatha mulai suka terhadap Diksa? Entahlah.

Oh iya, Agatha hampir lupa besok adalah jadwal gadis itu untuk chek up. Agatha kembali termenung, setelah Diksa, kini dia memikirkan tentang penyakit yang setia menemaninya sejak kecil.

“Kalau gue tiba-tiba gak bisa bertahan, gimana ya?”.

Agatha bermonolog, pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Pertanyaan yang bahkan dia sendiri tidak tau apa jawabannya.

Tok..tok..tok..

“Masuk…”.

Pintu kamar Agatha terbuka, ternyata ibu. Wanita paruh baya yang mungkin saat ini cuma dia yang Agatha punya.
Ya..Agatha sudah kehilangan sang ayah saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Kamu lagi ngapain, Ta?”, tanya ibu sembari mengusap lembut puncak kepala Agatha.
“Gak ngapa-ngapain bu”.
“Agatha, besok jangan lupa yah jadwal chek up kamu. Besok, ibu yang akan temanin kamu chek up”.

Agatha mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Kalau ada yang sakit, harus kasih tau ibu yah nak”.

Entah kenapa, kalimat ibu barusan terdengar sedikit berbeda. Walaupun ini bukan pertama kalinya ibu berkata demikian.
Agatha hanya mampu mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Agatha minta maaf yah bu, kalau selama ini Agatha cuma bisa menyusahkan ibu”, ujar Agatha sambil bergerak memeluk sang ibu.
Ibu menerima pelukan Agatha dengan hangat, sambil terus mengusap kepala Agatha penuh sayang.

“Sejak ibu melahirkan kamu ke dunia, kamu tidak pernah sekalipun menyusahkan ibu nak. Justru ibu sangat bangga punya anak sekuat kamu, kalau ibu ada di posisi kamu belum tentu ibu bisa bertahan sejauh ini nak”.

“Agatha, ibu boleh minta satu permintaan sama kamu?”.
“Apa bu?”.
“Ibu minta dengan mohon, jangan pernah tinggalkan ibu sendiri yah nak”.
Suara ibu terdengar bergetar di telinga Agatha, darah di tubuh Agatha berdesir hebat.

“Agatha gak bisa janji bu, karena untuk saat ini aja Agatha bingung apakah Agatha masih bisa bertahan untuk waktu yang lebih lama lagi atau gak”.

Air mata ibu mengalir.
Entah mengapa, ketakutan yang selama ini dia tutup rapat-rapat malam ini tidak dapat dia sembunyikan. Agatha, dia hanya mau putri semata wayangnya ini terus ada bersamanya.

“Ibu doain aja buat Agatha biar Agatha bisa segera dapat donor jantung”, ujar Agatha menenangkan ibu.

Ibu mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan dirinya dan menghapus segala pikiran buruk yang sempat terlintas di kepalanya tadi.

Besok sekolah Agatha diliburkan, katanya ada rapat guru. Entahlah, Agatha juga tidak paham.
Agatha membuka handphonennya, menekan menu kontak dan menyambungkan teleponnya dengan Karin Cantik.

Percayalah, itu Karin sendiri yang menamai kontaknya. Bukan Agatha.
Telepon itupun tersambung, kini suara lebay Karin mulai terdengar di telinga Agatha.

Karin : hai hai hai Agathaku, tumben nelpon malam-malam. Ada apa tuchhh?
Agatha : Rin, besok kan libur lo mau gak temenin gue chek up? Nanti bareng ibu juga
Karin : loh besok chek up?
Agatha : iya, lo mau gak?
Karin : of course Karin cantik dan imut ini mau dong beb, yaudin nanti besok pagi gue ke rumah lo deh
Agatha : oke Rin, thanks ya
Karin : urweel cantik

Sambungan telepon itupun terputus, kini Agatha menaruh benda pipih yang tadi dia pegang di meja dan gadis itu mulai memejamkan mata dan tertidur.

Pagi ini Agatha, ibu, dan Karin sudah bersiap untuk menuju rumah sakit tempat Agatha chek up biasanya.

“Eh Ta, tau gak tadi gue sempet liat di snapgramnya Ka Diksa dia foto boneka sapi, lucuuuu bangett. Kayaknya dia mau nembak lo pake boneka sapi itu deh”, ceplos Karin.

Agatha spontan mencubit lengan Karin hingga gadis itu meringis kesakitan.
“Lo apaan sih ah, cubit cubit segala. Dikata gak sakit apa!”, omel Karin sembari mengusap lengannya yang sudah memerah karena ulang Agatha.
“Lagian itu mulut ngomongnya asal ceplas ceplos aja, lagian gak ada hubungannya snapgram Ka Diksa tentang boneka sapi sama gue”.
“Heh kunyuk, lo pikir Ka Diksa cowok apaan yang main boneka sapi? Udah pasti dia beli buat cewek, dan cewek yang deket sama dia itu kan lo”.
“Bisa aja dia beli buat adiknya, pikiran lo kemana-mana sih!”.

Karin hanya mendengus kesal, memang ngobrol sama Agatha itu butuh kesabaran tingkat tinggi. Mana lengannya yang mulus sudah dikasih tato merah sama Agatha, memang tidak waras gadis itu.

Tring
Agatha membuka ponselnya, mendapati satu notif pesan masuk.

Ka Diksa : hai Ta, hari ini sibuk gak?
Ka Diksa : berhubung hari ini libur, jalan yuk sekalian ada yang mau gue sampein
Agatha : maaf ya, gue gak bisa. Lagi nemenin ibu arisan

Agatha segera keluar dari roomchatnya dan menaruh handphonennya ke dalam tas.

Diksa menghela nafasnya saat melihat balasan Agatha.
Dia menatap boneka sapi yang kini ia pegang, Karin benar. Diksa membeli boneka sapi ini untuk Agatha, dan pria itu berniat akan menyatakan perasaannya pada gadis itu hari ini.

“Udahlah, masih bisa besok”.
Diksa menaruh kembali boneka sapi itu di lemarinya.

Agatha memandang jalanan ibukota yang sangat padat hari ini, padahal hari libur tapi namanya juga Jakarta. Sepinya pas orang-orang pada mudik saja.

Tiba-tiba, Agatha merasakan nyeri yang sangat hebat di dadanya sampai membuat gadis itu kesulitan bernafas. Agatha sontak menggenggam tangan Karin yang duduk di sebelahnya.

“Ta, lo kenapa?”, cemas Karin.
Pandangan Agatha perlahan memudar, dan akhirnya hanya hitam pekat. Agatha pingsan.

Ibu hanya mampu duduk menangis sambil terus mengucapkan doa yang tidak henti-hentinya, begitu juga dengan Karin.
Gadis itu memeluk ibu Agatha yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, berusaha menenangkan wanita paruh baya itu walaupun dirinya sendiri saat ini tidak bisa tenang.

Jefan, pacar Karin juga sudah ada bersama dengan mereka sejak 10 menit yang lalu. Pria itu juga lumayan mengenal dekat Agatha, pasalnya Agatha dan pacarnya yang tidak pernah terpisahkan.

Hampir 30 menit berlalu, tiba-tiba pintu ruangan Agatha terbuka.
Ibu sontak berdiri menemui dokter yang keluar dari ruangan itu.

“Dok bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan?”, tanya ibu penuh harap, ibu berharap Agatha baik-baik saja saat ini.

Dokter menghela nafasnya pelan, tidak lama kemudian ia memegang bahu ibu dan mengusapnya.

“Ibu yang tenang yah, Agatha sekarang sudah sehat. Dia tidak menanggung penyakitnya lagi”, ujar dokter.
“Maksud dokter?”, Karin mulai bersuara saat sedari tadi gadis itu larut dalam kesunyiannya.
“Ya, Agatha sudah tiada”.

Deg
Ibu langsung terjatuh ke tanah, kakinya seakan kehilangan daya untuk menopang tubuhnya.

“Dokter bohong kan? Ini cuma prank kan? Dok gak lucu kalau becandaannya bawa-bawa nyawa sahabat saya”.
“Saya tidak berbohong, mari sama-sama kita ikhlaskan Agatha agar dia bisa beristirahat dengan tenang”.

Karin bergerak memeluk ibu, tangis keduanya pecah.
Ketakutan ibu selama ini, hari ini benar-benar terjadi. Agatha, gadis semata wayangnya pergi meninggalkan dia sendiri. Ternyata benar, Agatha memang tidak sanggup memenuhi permintaan ibu.

“Ta, lo sendirikan yang pernah bilang kalo dari kita berdua jangan ada yang pergi ninggalin salah satunya. Lo sendiri yang janji sama gue kalau lo bakal tetap stay bareng gue. Tapi kenapa sekarang malah kayak gini? Lo ingkarin janji lo sama gue, lo ninggalin gue. Habis ini gue harus sama siapa Ta? Gue gak pernah bisa sendiri. Apapun yang gue lakuin, gue selalu butuh lo. Gue haru sama siapa Ta? Gua gak sanggup sendiri”.

Tangis Karin pecah, dia memeluk erat tubuh kaku Agatha. Waktu seakan bergerak begitu cepat, menarik paksa Agatha untuk meninggalkan dirinya sendiri.

“Ta, gue gak sekuat yang lo kira. Tolong bangun”, isak Karin.
Jefan yang melihat Karin pun ikut meneteskan air matanya, sebekum akhirnya dia membawa Karin ke dalam pelukannya.
“Rin, biarin Agatha pergi dengan tenang yah. It’s okay, Agatha sekarang udah bebas dari penderitaan dia”.

Hari ini dunia Karin dan ibu seakan berhenti berputar, sedari tadi ibu bahkan belum mau meninggalkan makam Agatha. Wanita itu masih setia memeluk nisan putih bertuliskan “Agatha Anitya Dwirana”. Layaknya mimpi buruk yang kian menjadi nyata.
Bahkan, kalaupun ibu mampu. Dia mau saat ini dia juga pergi bersama Agatha. Dia tidak sanggup menjalani kehidupannya sendiri tanpa anaknya.

“Agatha, ibu takut sendirian nak..ibu butuh kamu”, isak ibu.

Karin masih setia memeluk ibu, dia mengerti bagaimana hancurnya perasaan ibu. Sama, dia juga merasakan hal yang demikian.

Tiba-tiba…
Ka Diksa, batin Karin.
Karin berdiri, dia berjalan menjauh dari makam Agatha. Meninggalkan ibu bersama dengan Jefan.

Karin membuka ponselnya, mencari kontak Diksa yang pernah ia curi dari ponsel Agatha.

Tit….tit….tit….
“Halo”

Karin : halo Ka Diksa
Diksa : halo, ee sorry ini siapa?
Karin : ka, gue Karin sahabatnya Agatha. Gue harap lo masih ingat
Diksa : oh ya, gue ingat. Ada apa ya?
Karin : lo bisa datang ke sini?
Diksa : ke mana?
Karin : nanti gue sharelock, lo bisa kan?
Diksa : ada keperluan apa?
Karin : datang aja, kalau emang lo mau lihat Agatha

Setelah itu Karin mematikan sambungan telepon itu sepihak, dan segera membagikan lokasih makam tersebut kepada Diksa.
Hampir setengah jam berlalu, Diksa pun sampai. Tadi, Jefan sudah mengantarkan ibu pulang atas paksaan Karin. Pasalnya gadis itu tidak ingin ibu kecapekan.

“Karin”.
Karin berdiri menghampiri Diksa. Pria itu seperti kebingungan, menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Lo ngapain nyuruh gue ke makam? Terus, mana Agatha?”.

Karin menatap Diksa, kemudian memalingkan tatapannya pada makam Agatha. Diksa mengikuti pandangan Karin dan yap. Mata Diksa terhenti pada makam dengan nisan bertuliskan nama Agatha.

“Rin….ini maksudnya apa?”.
“Gue harap lo gak buta ka, Agatha udah gak ada. Dia udah pergi ninggalin kita”.

Seperti di lempar ke dunia lain, tubuh Diksa seakan melayang. Jiwa dan raganya seakan terpisah dalam hitungan detik.
Diksa terduduk, memegang nisan itu dan memang benar. Nisan itu tertera jelas nama Agatha. Nama gadis yang sangat ia cintai.

“Sejak kecil Agatha punya penyakit jantung lemah, bertahun-tahun dia nungguin pendonor tapi hasilnya tetap nihil. Donor jantung sangat susah buat dicari. Pagi tadi, gue, ibu, dan Agatha pergi ke rumah sakit buat chek up tapi ternyata belum sampai rumah sakit Agatha pingsan. Dan waktu sampai di rumah sakit, kata dokter Agatha udah gak ada”, jelas Karin sambil berusaha menahan tangisnya.

Diksa tertunduk lemas, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normalnya. Darah di tubuhnya berdesir hebat. Tanpa ia sadar, air matanya mengalir.

“Rin…Agatha gak pernah bilang apa-apa sama gue”, ujar Diksa dengan suara gemetar.
“Itulah Agatha Ka, dia gak pernah mau orang lain tau tentang kondisi dia”.

“Ta, gue bahkan belum nembak lo. Gue bahkan belum jujur sama lo tentang perasaan gue ke lo”, tangis Diksa.

“Gue sayang sama lo Ta, sangat sangat sayang. Cuma lo yang bisa buat gue senang, cuma lo yang bisa buat gue gak takut buat banyak ngomong. Cuma lo yang bisa buat gue tiap hari ngecek handphone. Ta tolong bilang sama gue ini cuma mimpi, tolong bangunin gue Ta tolong. Gue gak sanggup”.

“Gue bahkan rela setiap hari lo harus marah-marah sama gue, lo harus maki-maki bahkan jambak gue. Gue ikhlas Ta, asal lo jangan pergi. Tolong bangun Ta, pliss gue mohon”.

Oksigen di sekitar seakan terkuras habis, Diksa kesusahan untuk benafas. Dadanya terasa sangat nyeri, kemarin dia masih bertemu dengan gadis yang sangat ia cintai. Bahkan tadi, gadis itu masih membalas pesannya. Tapi sore ini, dia harus melihat gadis itu terkubur dengan tanah.

Diksa membuka tasnya, mengeluarkan sebuah boneka sapi yang kemarin dia beli.

“Ta, bahkan gue belum ngasih lo boneka ini. Tolong bangun, gue mau lo simpan boneka ini di kamar lo. Gue mau, setiap lo lihat boneka ini dan ingat sama gue Ta”.

“Gue minta maaf Ta, gue minta maaf karena selama ini gue cuma bisa bikin lo marah. Gue gak tau harus dengan cara apa biar gue bisa memperbanyak waktu biar bisa sama lo terus. Tapi pada akhirnya, Tuhan hanya ngijinin kita sama-sama dalam 5 bulan. Gue bahkan belum sempat memiliki lo Ta”.

Diksa tau, Agatha tak akan pernah menjawab semua perkataannya. Diksa tau, Agatha tidak akan pernah berdiri di sampingnya dan memarahinya lagi.
Diksa mengelus nisan Agatha lembut.

“Lo perlu tau, gue sangat sayang sama lo. Kemarin, hari ini, dan seterusnya Ta. Plis jangan pernah lupain gue. Tunggu gue di sana, see you cantik”.

Sampai pada akhirnya, pertemuan yang tidak disengajai hanya berakhir dengan kata “sampai jumpa“.

TAMAT.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!