Sekilas Masa Tentang Rasa
50.5
27
350

Kedekatan Mysha si Junior Canggung dan Damar si Senior Santai di sekolah telah menjadi masa paling berwarna bagi mereka. Sejenak, di momen terakhir, Mysha ingin tersenyum mengingat semua rasa ketika dirinya dan Damar masih erat bersahabat.

No comments found.

Ingat enggak, waktu pertama kita ketemu? 

 

Siapa yang bisa lupa? Aku yang bingung menunggu pukul lima di hari pertama sekolah dan dia yang hanya ingin bersantai usai belajar. Kami bertemu di tribun lapangan outdoor. Sementara aku sok sibuk mengamati para anak laki-laki yang bermain basket di lapangan, dia berbaring di sebelahku sambil menutupi wajahnya dengan lap handuk persegi. 

 

Beberapa menit lalu, dia datang dan berbaring begitu saja di dekatku, sementara aku menahan segan karena tahu dia senior satu tingkat. Aku sedikit melirik ke arahnya. Dengan kaus di balik kemeja seragam dan lap handuk persegi, senior satu ini lebih cocok untuk ikut bermain basket, bukannya tidur. 

 

Tentu saja tidak kuutarakan pendapatku itu. Jika kepada orang yang kukenal saja aku cenderung bungkam, apalagi kepada sosok yang masih asing. Pandanganku sudah kembali terfokus kepada para pemain basket ketika dia bertanya, “Boleh ke sinian nggak duduknya? Lumayan bayangan lo kurangin silau.”

 

Sembarangan dan seenaknya. Itulah kesan pertamanya di mataku. Meskipun begitu, aku mengikuti permintaannya dan menggeser sedikit tubuhku. Rasa seganku masih membuat aku menurut. Lagipula, matahari siang itu tidak terlalu terik. Aku juga sejak tadi tidak keberatan tersiram sinar matahari. Namun, mungkin baginya yang berusaha tidur, sinar matahari yang tidak terlalu terik itu sudah cukup menyilaukan. 

 

Setelah lima menit berlalu, dia bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di anak tangga tribun. Dengan santai dia mengajakku bicara, menanyakan nama dan kelasku. Mysha, kelas 1E. Itu jawabanku. Tanpa kutanya, dia memperkenalkan diri. Damar, kelas 2C. Sebenarnya aku tahu karena aku meminta tanda tangannya saat masa orientasi, tapi aku memutuskan untuk diam. Mana mungkin dia mengingatku dari belasan anak baru yang mengerubunginya untuk meminta tanda tangan senior OSIS? Anggap saja saat itu, kami baru saling bertemu dan berkenalan. 

 

Hari yang kupikir akan membosankan malah berjalan amat cepat. Bicara dengan Damar membuat waktu menunggu selama empat jam terasa singkat. Mengobrol dengannya terasa begitu asyik, semua hal bisa kami jadikan topik percakapan. Damar ramah, tapi cukup sopan untukku yang serba segan dan kikuk. 

 

Awalnya dia bertanya-tanya tentangku, siapa wali kelasku, dan apa mata pelajaran yang tadi kupelajari. Lalu dia mulai bercerita tentang guru-guru yang mengajarku di hari pertama itu. Lucu dan seru sekali ceritanya. Ada yang mengerjai siswa saat siswa tersebut tidur di kelas, ada yang berjasa menggagalkan kebakaran saat petugas kebersihan membakar sampah dekat parkiran motor, ada juga yang pernah berebut foto penyanyi terkenal dengan para siswa ketika sekolah mengadakan festival musik dan mengundang satu bintang tamu terkenal. 

 

Di hari-hari selanjutnya, kami bertemu kembali. Tempatnya masih sama. Aku yang tak pandai bergaul sanggup menghabiskan waktu di tribun hingga pukul lima, sementara Damar amat betah tidur atau bercengkerama dengan teman-temannya di sana. Terkadang, Damar memperkenalkanku kepada teman-temannya yang kebanyakan merupakan anak OSIS. Lambat laun, Damar akhirnya memasukkanku ke dalam lingkaran pertemanannya. 

 

Anak-anak lain datang silih berganti, tapi aku dan Damar konsisten mengisi tribun setiap hari. Kami tak bosan menonton apa pun yang ada di lapangan. Dari permainan basket, latihan cheerleader, hingga latihan paskibraka. Sambil menonton, kami jug mengobrol tentang kegiatan belajar yang membosankan dan ulah teman-teman yang seru. Sebenarnya, dialah yang rajin bercerita. Untuk ukuran laki-laki yang kalem di antara teman-teman sepantaran, Damar cukup bawel ketika mengobrol denganku. 

 

Berkebalikan dengannya, aku tidak punya banyak cerita. Saking datarnya, tak ada yang menarik di hidupku untuk diceritakan. Meskipun tak punya cerita, aku suka mengamati sekitarku dan menulisnya. Setiap lelah mengobrol, Damar akan berbaring sambil menutupi wajah dengan lap handuk persegi sementara aku menulis hal yang kurasa menarik di buku diary. 

 

Lucu juga rasanya. Sebenarnya aku malu untuk menulis di depan orang lain, tapi entah kenapa aku nyaman menulis di hadapan Damar. Mungkin karena dia juga tak pernah menggodaku dan tulisanku. Sepertinya, dia bahkan tak peduli dan mau tahu. Sikapnya yang mengerti bahwa aku butuh batasan malah membuatku nyaman bersikap semauku saat berada di dekatnya. 

 

Damar juga membuatku mengenal Kak Rio, ketua OSIS merangkap ketua klub jurnalistik. Padahal dia jarang berkomentar tentang kegiatan menulisku, tapi di hadapan Kak Rio, dia membuatku malu dengan pujian-pujian tentang tulisanku. Dia memang kelewat percaya diri, padahal belum pernah membaca diary-ku sama sekali. Karena kepercayaan dirinya, Kak Rio jadi ketularan percaya dan memintaku menulis artikel untuk majalah sekolah. Saat itu aku baru tahu bahwa tulisanku tidak buruk. Berkat Damar, aku tak lagi malu akan tulisanku. 

 

Aku ingat ketika pertama kali bercerita tentang rumahku yang selalu kosong hingga pukul tujuh malam. Kala itu, Damar bertanya mengapa aku suka menghabiskan waktu di tribun sekolah setelah bercerita –– tanpa ditanya –– bahwa alasannya adalah karena dia suka tidur siang ditemani suara dribble bola basket. 

 

“Bokap dan nyokap kerja, sedangkan Adik gue anak gaul. Rumah pasti sepi sampai langit gelap, bikin gue malas pulang sebelum jam lima,” begitulah jawabku. Aku tak begitu suka keramaian, tapi aku lebih benci sendirian. Aku bersyukur dia tidak menganggapku aneh setelah penjelasanku itu. 

 

Jika diingat-ingat lagi, sepertinya sejak saat itu dia jadi lebih rutin mengajakku ikut kegiatan OSIS. Saking seringnya, Kak Rio sampai merekrutku untuk menjadi anggota OSIS. 

 

Aku pun tak keberatan bergabung dengan mereka. Memiliki banyak kegiatan di sekolah ternyata bukan hal buruk. Aku bisa jadi lebih gaul dari Adikku karena pulang lebih larut darinya. Aku juga tidak dinasehati orang tua untuk lebih menikmati masa muda. 

 

Perlahan, aku yang selalu sulit mendapat teman di sekolah mulai dikelilingi anak-anak yang menyenangkan. Mereka memaklumi sikapku yang tidak peka dan mengajariku banyak sekali aturan sosial tak tertulis yang berlaku di sekitar kami. Berkat mereka, aku bisa bersosialisasi secara lebih baik. Meskipun masih sering merasa canggung ketika bicara dengan teman sepantaran, aku sudah dapat menyembunyikan kecanggungan itu secara lebih baik. 

 

Tak peduli sebanyak apa teman-temanku setelah masuk OSIS, Damar tetap menjadi teman nomor satu yang paling memahamiku. Dia tahu aku benci sendiri, karena itulah entah sejak kapan, Damar menjadi sosok yang setia mengantarku pulang. Tak peduli setelah rapat OSIS atau setelah menongkrong di tribun hingga pukul lima, Damar selalu ada dan siaga. Kadang dengan motornya, kadang berjalan kaki bersama. Rumahnya denganku beda delapan gang, tapi dia selalu mengantar hingga depan gang rumahku. 

 

Rutinitas itu berjalan mengalir, entah kapan tepatnya dan apa penyebabnya. Aku tak pernah bertanya alasan kenapa tiba-tiba dia menemaniku pulang. Padahal dalam hati aku penasaran, tapi aku memilih mengabaikan rasa penasaran yang tidak seberapa itu. Dulu, aku malas dan tak peduli akan alasan kenapa orang melakukan sesuatu. Aku berasumsi bahwa hatinya sedang ingin saja. Walaupun aku tak bertanya, aku tetap berterima kasih. Tak ada yang kukatakan pada Damar, tapi diam-diam aku senang karena tidak harus pulang sendiri. 

 

Yah, setidaknya aku tahu satu hal yang cukup memghibur; alasan kenapa dia hanya sanggup mengantarku hingga depan gang, bukan depan rumah. Di mulut gang rumahku, selalu ada empat atau lima kucing yang berkumpul, seolah sedang rapat. Damar tak bisa melewatinya. Lucu sekali, dia itu ternyata takut dengan kucing. 

 

Damar amat kaget begitu tahu bahwa kucing adalah hewan favoritku. Mungkin, alasan kucing-kucing itu berkumpul adalah karena mereka menungguku. Kebetulan aku amat rajin memberi mereka makanan kucing yang kubeli dengan uang jajanku sendiri. Damar sebal sekali dengan fakta itu. Ternyata akulah penyebab dirinya tak bisa masuk gang rumahku. Kesebalannya membuatku tertawa puas. Saat itu, aku merasa kami telah lebih mengenal satu sama lain. 

 

Tahun ajaran berikutnya adalah masa ketika aku menemukan lebih banyak sisi baru Damar. Selain seenaknya, ramah, dan terlalu percaya diri, aku bisa melihat bagaimana reaksi Damar ketika dihadapkan dengan urusan perempuan. Salah satu contohnya saat aku menanyakan pendapatnya tentang Kirana, anak kelas satu yang populer karena parasnya yang menarik. 

 

“Cantik, sih, tapi cantik biasa aja,” katanya. Pendapat itu senada dengan pemikiranku. Tentu saja pemikiran itu tidak ku suarakan karena meskipun aku menganggap gadis itu biasa saja, ada kemungkinan, sedikit potensi, bahwa aku iri. Aku tahu Kirana tetap lebih cantik dariku, setidaknya untuk standar orang di sekitarku. Dia blasteran Arab Belanda, berhidung mancung, bermata besar, dan berkulit cerah. Kecantikannya amat mencolok. 

 

Aku cukup yakin bahwa aku iri karena Kirana mendapatkan apa yang tidak kudapatkan. Hanya butuh waktu singkat untuk anak kelas satu itu mendapatkan banyak teman dan perhatian, tidak sepertiku yang kesulitan berteman. Karena aku iri, aku tidak pernah berpendapat tentangnya. Aku tahu bahwa pendapatku hanya akan menjelekkan Kirana, yang artinya menjelekkan diriku sendiri. Kata Mama, ketika iri, semua ucapan buruk tentang orang lain sebenarnya adalah hal dari diri kita yang tidak kita sukai. Makanya ketika merasa iri, ada baiknya kita tidak mengutarakan pendapat kita tentang orang tersebut. 

 

Hal yang menghibur orang yang sedang iri hati adalah kenyataan bahwa orang lain juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Karena itulah aku cukup senang mendengar pendapat Damar tentang Kirana. Kupikir Damar sungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Kupikir dia berbeda dari teman-teman sekelasku yang hobi menguntit Kirana di kantin. Kupikir Damar kenal akan pesona yang membuatku iri tersebut. 

 

Maka kurasa wajar jika aku cukup terkejut saat tahu mereka berpacaran. Aku bahkan tak tahu kapan mereka saling kenal. Kata teman-temanku yang lain, aku terlalu cuek untuk melihat proses pendekatan mereka. Keduanya dekat dan bertemu di klub pencak silat. Mana mungkin aku tahu? Aku tidak ikut klub pencak silat dan latihan klub tersebut diadakan setiap Sabtu. Meskipun aku dinilai tak peka, tapi kurasa wajar kalau aku tak tahu apa-apa. Siapa yang ke sekolah hari Sabtu? 

 

Anak OSIS yang mempersiapkan acara sekolah. Tentu saja. Aku sering bolos rapat hari Sabtu karena hari itu adalah waktu bersama keluarga. Orangtuaku bisa marah kalau aku tak jalan bersama mereka, bahkan Adikku pun menurut. Kak Rio tahu hal ini sehingga dia selaku ketua memaklumi dan memberiku izin. 

 

Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa menjadi begitu defensif tentang kenyataan Damar dan Kirana berpacaran secara mendadak. Damar bahkan tidak merasa bersalah karena tidak cerita kepadaku. Takut kukatai kalau dia ditolak, katanya. Saat itu aku baru tahu bahwa Damar juga bisa sama sepertiku, lain di mulut dan di hati.  

 

Hal yang lebih menyebalkan adalah semua rasa terkejut yang aneh dan agak berlebihan itu tidak bisa kutunjukkan ke permukaan karena Kirana bersikap amat baik terhadapku. Dia menerimaku sebagai sahabatnya karena aku adalah sahabat Damar. Saat itu, aku bersyukur. Setidaknya, kisah cinta Damar tidak membuatku kehilangan teman. Alih-alih kehilangan, temanku malah bertambah satu karena aku dan Kirana menjadi sangat akrab. 

 

Keramahan Kirana yang tak jauh berbeda dari Damar membuatku malu karena telah berpikir picik tentang gadis itu. Aku telah menilainya tanpa mencoba mengenalnya lebih dulu. Untung aku pandai menjaga mulutku. Kalau tidak, entah harus dikemanakan mukaku karena termakan omongan sendiri. Semua hal tentang Kirana membuatku menekankan pada diri sendiri untuk tak mengulangi pola pikir memalukan seperti itu. 

 

Kami sering berkumpul bertiga, entah itu di rumah Kirana, rumah Damar, atau sekadar duduk-duduk di tribun. Awal mulanya hal itu terasa normal. Lama kelamaan, rasa tidak nyaman pun hinggap di hatiku. 

 

Aku tidak pernah bermaksud jahat terhadap Kirana, tapi belum tentu orang lain merasakan maksud asliku. Yang mereka lihat, aku selalu mengikuti Damar dan Kirana ke mana-mana. Yang orang pikir, aku terlalu dekat dengan Damar yang sudah menjadi pacar gadis lain. Yang orang kira, aku adalah orang ketiga yang mengusik hubungan Damar dan Kirana. 

 

Mereka menyebutku obat nyamuk. Kudengar, teman sekelas Kirana bahkan menyuruhnya untuk berhati-hati terhadapku. Kirana menekankan padaku bahwa dia tak berpikir demikian, tapi aku tahu diri. Semua orang melihatku sebagai pengganggu dan aku baru menyadari hal itu setelah tiga bulan berlalu. Merasa sudah merepotkan, aku pun menjauhi Damar dan Kirana. Aku kerap beralasan tiap mereka ajak jalan, bahkan sampai meminta bantuan Kak Rio untuk memberiku tugas lebih baik dari OSIS maupun klub jurnalistik. Tujuanku hanya satu, berhenti digosipkan sebagai perusak hubungan. Aku hanya anak linglung yang tak paham harus bagaimana ketika teman memiliki pasangan. 

 

Layaknya kisah cinta anak SMA yang berada di sekitarku, usia hubungan Damar dan Kirana pun tidak berusia lama. Setelah lima bulan berpacaran, hubungan keduanya kandas. Aku tak tahu apa yang terjadi karena jarak yang kubentangkan dengan mereka selama dua bulan terakhir ternyata sudah terlalu lebar. Hanya ada selentingan kabar yang kudengar, Kirana selingkuh dengan anak seangkatanku dan kini mencampakkan Damar untuk laki-laki itu. 

 

Setelah mengetahui kabar perpisahan mereka, insting pertamaku adalah mencoba mendatangi Damar di tribun sekolah. Dia tak ada di sana, di tempat kami biasa bersama. Sejenak kupikir aku sudah kehilangan dia. 

 

Belum. Aku tak ingin menyerah untuk teman sebaik dia. Keesokan harinya, tepat setelah jam pulang sekolah, aku berlari menuju gedung kelas tiga. Aku bertemu Kak Rio yang kebetulan sekelas dengan Damar. Darinya aku tahu bahwa Damar belum pulang. Aku pun memutuskan untuk menunggu di dekat tangga gedung hingga kulihat sosoknya.

 

Saat itu aku baru sadar, sejauh mana aku mengabaikan temanku itu. Jantungku serasa tercubit melihat kondisi Damar. Wajahnya terlihat menyedihkan dengan kerungan, kantung mata tebal, dan bibir yang melengkung ke bawah. Damar biasanya berlagak gagah, berdiri tegak sambil sedikit membusungkan dada. Saat kutemui, tubuhnya membungkuk tak bertenaga.

 

Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa menjadi begitu hancur saat ditinggal pasangan. 

 

Kuajak dia pulang bersama. Dia tak menolak. Hari itu dia tak membawa motor sehingga kami berjalan kaki. Setelah sampai di depan gang menuju rumahnya, aku melambaikan tangan. Mana mungkin aku mengharapkan dia yang sedang patah hati ini menemaniku seperti dulu, kan? 

 

“Jangan konyol,” ucapnya lemah sambil menoyor kepalaku. Dia terus berjalan melewati mulut gang rumahnya, membuatku tak mampu melakukan apa-apa selain mengikutinya. Sepanjang jalan, aku tak banyak bertanya. Damar juga tak banyak cerita. Hanya satu ucapannya yang menggangguku. 

 

“Gue emang salah, jatuh cinta sama cewek yang di luar jangkauan gue.”

 

Kalimat itu menggangguku selama beberapa minggu. Aku terlalu ganjil mendengar kata cinta dari mulut Damar. Kupikir, dia bukan tipe anak yang bisa merasakan perasaan tersebut. Kupikir, kalau urusan cinta, aku yang akan merasakannya terlebih dahulu. 

 

Aku memang teman yang egois. Bahkan ketika Damar sedang berasa di titik terendah, aku malah memikirkan kompetisi tentang cinta. Aku seharusnya menghiburnya. Meskipun aku belum pernah menghibur orang yang patah cinta, seharusnya aku berusaha mencari cara untuknya.

 

Damar juga pasti akan melakukan hal yang sama jika aku yang patah hati, kan? 

 

“Kalau lo jatuh, jangan merasa bersalah. Bangga aja, seenggaknya lo maju, bukan balik badan,” itulah tanggapan yang amat telat kusampaikan kepadanya. 

 

Damar termangu, lalu tertawa geli. Mungkin dia terkejut karena sudah puluhan hari berlalu sejak dia menyalahkan diri atas putusnya hubungan dengan Kirana. Mungkin dia pikir aku lamban atau konyol. Meskipun begitu, aku, yang jarang mengungkapkan isi hati kepada orang lain ini, memutuskan untuk tetap mengucapkannya. Meskipun terlambat, aku ingin memastikan bahwa dia tak lagi merendahkan dirinya. 

 

Semakin lama, kondisi Damar semakin baik. Di bulan-bulan terakhir Damar menikmati masa SMA-nya, hariku kembali seperti semula. Aku duduk di tribun, mengobrol dengan Damar sebelum kami pulang bersama. 

 

Setelah dua tahun berteman, dia akhirnya memberiku hadiah ulang tahun. Meskipun aku tidak pernah memberinya apa pun, dia tetap membelikanku hadiah. Aku terkejut ketika merobek kertas kado dan memegang isi hadiah Damar. Sebuah boneka kucing yang bulunya mirip kucing asli.

 

“Gue lihat ini langsung ngerasa geli sampai merinding banget di toko. Karena itu, gue yakin lo pasti suka,” ucapnya. Damar memberiku boneka itu karena tahu aku suka kucing. Sementara aku, senyumku tak berhenti mengembang seperti orang bodoh setelah mendapatkan boneka tersebut. Aku menggodanya dengan menjejali boneka itu ke wajahnya. Damar yang takut kucing, bisa-bisanya memberikanku boneka yang membuatnya merinding sendiri.

 

Tawaku saat menggoda Damar dengan hadiahnya mungkin terdengar cukup kencang. Sengaja, karena aku ingin menarik kembali air mata yang sudah tergenang di mata. Saat itu, aku merasa apa yang digembar-gemborkan orang-orang seusiaku memang benar. Ulang tahun ke-17 terasa manis dan istimewa, bahkan sampai mengundang haru. 

 

“Mys? Kok malah bengong? Ingat enggak, waktu pertama kita ketemu?”

 

Damar mengulang pertanyaannya, membuat lamunanku buyar. Di luar, mungkin barisan tamu sedang mengular. Namun Damar dan keluarganya terlihat tak peduli. Orang tua Damar masih asyik bertukar kabar dengan Kak Rio, teman sekelas Damar masa SMA yang kini berkuliah di jurusan favorit universitas negeri terkemuka. Sementara aku? Aku tersenyum melihat wajah Damar yang cerah semringah. Dia terlihat gagah di balik baju koko dan celana serba putih. Tentu saja dia akan memperlihatkan penampilan terbaik di hari besarnya, bukan? 

 

“Hm, lupa. Di tribun, ya?” jawabku sok cuek. Damar menggeleng. 

 

“MOS. Lo minta tanda tangan gue, si Kakak OSIS baik hati,” balasnya dengan gaya narsis andalan. 

 

“Idih, belagu.” Meskipun ucapanku sinis, aku tertawa karena kenarsisannya. 

 

Dua tahun setelah kelulusanku, Damar masih menjadi orang yang sama dengan yang tidur di sebelahku di tribun. Ramah, terlalu percaya diri, dan teman yang baik. Dua minggu lalu, saat acara pelantikan OSIS, kami para alumni berkumpul dan bertukar kabar. Bagi kami, acara pelantikan itu seolah menjelma menjadi reuni. Saat melepas rindu dengan Damar, saat itulah dia diam-diam memberikan undangan pernikahannya kepadaku dan Kak Rio. Mengetahui Damar akan menikah di usia yang begitu muda membuatku cukup terkejut, dan anehnya, cukup terluka. 

 

Luka yang timbul akibat undangan pernikahan Damar benar-benar di luar ekspektasiku. Karena sakitnya nyaris tak tertahan, aku akhirnya harus mengakui satu hal yang selama ini berusaha kuanggap tak ada. 

 

Bagiku, Damar lebih dari sekadar teman. 

 

“Tahu dulu gue mikir apa waktu pertama lihat lo?” tanyanya lagi dengan suara pelan, “Wah, cantiknya di luar jangkauan gue.”

 

Rahangku kaku mendengar pengakuan itu. Kepalaku sibuk membayangkan nasib hubungan kami kalau saja aku berani mengungkapkan perasaan sebelum dia berkuliah dan bertemu perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan yang ternyata mampu membuat Damar jatuh cinta lagi, bahkan hingga yakin untuk merajut komitmen ke jenjang yang lebih serius. 

 

Mungkin ini yang terbaik. Mungkin kami memang terlalu berbeda dan hanya berusaha menjaga dengan cara kami masing-masing. Jika aku dengannya, mungkin kita berdua tak akan sampai ke tahap ini. 

 

Meskipun begitu, aku tetap ingin tahu. Aku tetap mau lihat bagaimana jadinya jika aku dan Damar bersatu. Rasa itu terlalu lama kupendam dalam ragu, membuatnya gagal berlabuh. 

 

Kapalku berlayar dengan yang lain beberapa jam yang lalu, ketika ia mengucapkan janji sucinya untuk menikahi perempuan lain. 

 

“Benar, kan, dugaan gue? Awet-awet ya, Mys, sama Rio,” pesannya padaku. Pesan yang membuktikan bahwa kami tak lagi sedekat dulu. Sebelum undangan itu berada di tanganku, aku tak tahu sejauh apa hubungan Damar dengan pacarnya. Kini, aku pun paham bahwa dia juga tak tahu sejauh apa hubunganku dengan Kak Rio. Kami larut dalam asumsi masing-masing. Aku yang menganggap dirinya masih bisa kugenggam kelak, dia yang berpikir bahwa aku telah menjadi pasangan dari sosok yang paling  dia kagumi semasa sekolah … pikiran kami tidak bertemu. Bagaimana mungkin hati kami bisa menyatu? 

 

Aku menarik napas panjang. Seharusnya kubilang saja bahwa Kak Rio bukan pasanganku. Bahwa kami hadir ke pernikahannya sebagai sahabat yang turut berbahagia. Jadi, dia bisa tahu bahwa dirinya salah paham tentangku. Bahwa selama ini, dia telah menjangkauku. 

 

Thanks, Mar.”

 

Payah. Bahkan sampai detik terakhir, perasaanku masih terkunci di masa sekolah dulu. Terpendam semakin dalam. Tak sanggup kusampaikan. 

 

TAMAT

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!