Senja Tak Pernah Meninggalkan
7.8
1
60

Senja di ufuk barat memang begitu indah. Sebuah pemandangan elok yang senantiasa menjadi saksi banyak perasaan. Namun, jingga yang menggantung juga menyimpan rahasia dari sosok kecil pemilik tugas mulia. Sosok Peri Senja yang menemani setiap manusia saat berada pada suasana suka maupun duka.

No comments found.

Semburat warna jingga menggantung menghiasi langit ufuk barat. Menjadi sebuah pemandangan indah seolah memang sengaja dilukis oleh seseorang. Namun, faktanya jingga yang menjadi alasan banyak orang tersenyum memang diciptakan oleh sosok makhluk kecil. Makhluk itu kini tengah tersenyum manis menatap ufuk barat. Dia adalah Peri Senja, makhluk kecil yang berharap bisa menciptakan bahagia dari jingga yang dilukiskannya.

 

“Kamu tidak lelah hanya melakukan kegiatan itu dan dilupakan begitu saja?” tegur seorang makhluk kecil lain dengan pakaian biru langit. Dia peri yang menciptakan warna langit yang indah.

 

Peri kecil itu terkekeh pelan. Dia memang tidak merasa kegiatannya sia-sia. Walau selama ini setiap manusia yang berhasil kembali bahagia karena senja selalu melupakannya begitu saja.

 

“Aku tidak mempermasalahkannya. Aku sudah cukup senang mendengarkan setiap cerita mereka, mendengarkan tangisan mereka, hingga akhirnya aku bisa melihat senyuman mereka. Aku juga bahagia bisa mengantarkan mereka untuk menatap bintang yang hadir setelah senja,” ujar Peri Senja.

 

“Kamu aneh. Padahal manusia-manusia itu tidak pernah mengucapkan terima kasih kepadamu. Tidak seperti Peri Pagi yang selalu mendapatkan rasa syukur dari mereka. Sedangkan kamu masih saja setia mendampingi bahkan menghibur mereka yang lelah menghadapi hari,” ucap Peri Siang.

 

Peri Senja hanya tersenyum tipis. Makhluk kecil itu sudah terlalu terbiasa mendapatkan teguran dari sesama peri. Bahkan tidak jarang dia mendapatkan cibiran dari Peri Hujan. Namun, lihatlah makhluk kecil itu masih setia berdiri di dekat manusia-manusia yang merasa lelah setelah melewati beratnya hari.

 

Tidak pernah ada kata lelah dalam benak Peri Senja. Baginya, mendengarkan setiap keluh kesah manusia, mencoba mengerti bagaimana jalan hidup mereka, hingga mengakhiri dengan semangat yang kembali menyala adalah hal indah. Dia tidak akan berhenti melukiskan jingga di ufuk barat.

 

Seperti saat ini, ketika peri kecil itu tengah menjalankan tugasnya melukis jingga yang indah untuk memanjakan mata. Atensi pada mata bulatnya teralih pada sosok yang tengah menatap sendu jalanan dari atas jembatan. Peri Senja lantas mendekat untuk memastikan. Dapat dilihat oleh peri kecil itu bahwa ada linangan air mata yang turun membahasi kedua pipi manusia itu.

 

“Kenapa yang aku lakukan selalu dianggap salah? Aku harus seperti apa, Tuhan? Aku sudah mencoba melakukan yang terbaik, tapi hanya aku dapatkan cibiran dari orang-orang. Apa aku memang tidak bisa diterima di lingkungan mereka?” ujar manusia itu dengan tersedu.

 

Mendengar keluh kesah itu Peri Senja menatap sedih. Dia semakin mendekat dan kini berada di samping manusia yang masih menumpahkan air mata. Tangan mungilnya menyentuh pelan, mencoba mengantarkan ketenangan untuk manusia yang tengah terlihat lemah. Tidak ada kata yang diucapkan oleh Peri Senja. Dia hanya menemani manusia itu dan mendengarkan setiap perasaan lelah yang tercipta dari hari-hari yang berat.

 

“Aku sudah mencoba menahan selama ini. Mencoba tidak mendengarkan. Mencoba diam dengan setiap kata-kata yang keluar. Tapi, ternyata kaki ini tidak lagi kuat menopang setiap beban yang ada. Aku ingin menyerah saja.” Lagi. Manusia itu tampak frustrasi dengan alur hidup yang dia lalui.

 

Peri kecil itu turut menitikkan air mata. Namun, setelah itu jemari kecilnya mengalun indah ke arah ufuk barat. Mencoba memancarkan cahaya jingga agar atensi manusia itu teralih. Benar saja, usaha kecil itu membuahkan hasil. Linangan air mata dari sosok manusia itu tampak berhenti dan menyisakan jejak air mata yang mulai mengering. Semburat senyuman tipis juga tercipta. Peri Senja pun bisa melihat manusia itu mulai menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

 

“Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Tuhan pasti akan marah jika aku menyerah pada titik ini. Mungkin ini memang rintangan yang harus aku hadapi,” ujar manusia itu.

 

Peri Senja tersenyum senang saat melihat wajah sendu itu telah berubah dengan binar bahagia. Tidak lupa dia menaburkan bubuk ajaib untuk menambahkan binar semangat pada manusia yang kini mulai beranjak. Menyisakan Peri Senja yang tersenyum menatap kepergian seseorang itu.

 

“Heran aku denganmu, kenapa begitu baiknya kepada mereka? Mereka saja tidak pernah membalikkan badan untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepadamu,” ujar Peri Malam yang telah bersiap untuk memulai tugasnya.

 

“Mungkin ini memang tugas seorang Peri Senja. Menemani mereka yang kehilangan arah hingga akhirnya kembali menemukan semangat,” ucap Peri Senja dengan atensi mengarah pada warna jingga yang mulai berganti malam.

 

Peri Malam hanya menggeleng gemas setiap kali Peri Senja memberikan pembelaan. Tidak heran memang, sebab di kalangan para peri, Peri Senja sangat terkenal dengan kebaikan hatinya.

 

“Berhati-hatilah esok hari. Aku rasa Peri Hujan akan kembali membuat ulah. Kamu tahu sendiri jika Peri Hujan sepertinya tidak senang jika banyak orang merasa senang. Dia hanya ingin membuat orang-orang mengingat kenangan-kenangan mereka melalui hujan yang turun. Biasanya itu adalah kenangan pahit yang mengundang air mata,” ucap Peri Malam sebelum memilih pergi karena tugasnya telah usai dijalankan.

 

Peri Senja hanya mampu menghela napas. Memang selama ini yang paling sering mengacaukan tugas-tugas peri adalah Peri Hujan. Peri itu suka sekali tiba-tiba datang dan membuat hari menjadi berhias oleh awan kelabu. Sebenarnya lelah jika harus berhadapan dengan Peri Hujan. Namun, jika tidak dihadapi, Peri Hujan akan selalu bersikap semena-mena. Makhluk kecil itu kembali menghela napas pelan sambil menatap bintang di atas sana. Dia kembali menyunggingkan senyuman sebelum bubuk ajaib membawa dirinya menghilang.

 

Di dunia ini tidak ada yang tahu bagaimana tugas para peri dilakukan. Bahkan manusia yang memadati bumi tidak pernah menyadari akan kehadiran mereka. Justru manusia hanya tahu jika pergantian siang dan malam hanya dipengaruhi oleh ilmu alam yang selama ini mereka pelajari. Namun, ternyata di balik semua itu, ada para peri kecil yang melakukan tugasnya setiap hari dengan penuh perasaan suka cita.

 

“Sesuai ramalan cuaca bahwa hari ini kembali cerah. Lalu untukmu Peri Hujan, jangan berani-berani mengacaukan kembali tugas para peri atau kamu akan kembali mendapatkan hukuman kurungan dari Ratu Peri,” ujar peri yang bertugas membagi jadwal.

 

Sementara itu, Peri Hujan hanya menatap remeh ke arah para peri yang sudah bersiap untuk pergi, tidak terkecuali Peri Senja. Tanpa disadari oleh peri lainnya, Peri Hujan perlahan mendekat ke arah Peri Senja. Dia menyembunyikan tubuhnya di balik pepohonan dengan senyuman mengerikan serta tatapan mata yang tajam.

 

“Mari kita bermain-main peri kecil,” ucap Peri Hujan dengan seringainya.

 

Di sisi lain, Peri Senja tidak menyadari bahwa selama perjalanan menuju lokasi ada Peri Hujan yang mengikuti. Peri kecil itu hanya bersenandung senang sambil membayangkan semburat jingga yang akan menghiasi langit hari ini.

 

“Semoga hari ini hanya akan aku temui orang-orang yang merasa bahagia,” ucap Peri Senja.

 

Dari balik pepohonan, Peri Hujan menatap remeh saat mendengar ucapan Peri Senja.

 

“Hari ini yang ada hanya sekumpulan orang-orang frustrasi dan berakhir melakukan tindakan bodoh.” Peri Hujan kemudian melesat menuju ke lokasi tempat Peri Senja ditugaskan.

 

Beberapa saat ketika Peri Senja sampai pada lokasi, dia hanya bisa terpaku melihat suasana di sana. Hujan deras dengan langit kelabu sudah menghiasi jalanan. Tetes-tetes air sudah menyelimuti setiap sudut kota. Bahu Peri Senja merosot begitu saja saat melihat beberapa manusia menatap sendu ke arah langit. Bukan ini yang diharapkan oleh Peri Senja. Dia tidak pernah menginginkan tatapan sendu itu terjadi.

 

“Haish. Apa yang kamu lakukan Peri Hujan?” teriak Peri Senja saat melihat Peri Hujan yang tengah sibuk menyebar warna kelabu pada langit.

 

“Halo, Peri Senja. Bagaimana dengan kejutanku? Bagus bukan?” Peri Hujan tersenyum mengerikan ke arah Peri Senja.

 

Gejolak amarah terlihat dari binar teduh milik Peri Senja. Tangan mungilnya terkepal kuat sebelum berakhir beranjak untuk mencoba menggantikan kelabu langit dengan semburat jingga yang indah. Peri kecil itu terus saja mengayunkan tangan kecilnya ke sana kemari. Mencoba melukiskan senja indah di atas langit kelabu yang terus menyelimuti.

 

“Tidak boleh … hiks. Tidak boleh hujan membuat semuanya bersedih,” ucap Peri Senja dengan air mata yang sudah tergenang. Tenaga peri kecil itu sudah hampir habis, tetapi langit masih saja belum berhenti untuk menumpahkan rintik hujan.

 

Atensi Peri Senja teralih saat menatap seorang manusia yang berjalan dengan pandangan kosong. Peri kecil itu berteriak nyaring, tetapi percuma karena manusia tidak bisa mendengarkan suara itu. Dengan sisa-sisa tenaga, Peri Senja mencoba menyadarkan manusia itu. Air mata yang sempat tergenang sudah menuruni pipi dari peri kecil itu.

 

“Jangan lakukan tindakan ini. Hidupmu masih berharga. Hujan ini tidak boleh membuatmu menyerah. Setelah hujan ini masih ada cahaya hangat yang menciptakan kebahagian. Ayolah, jangan lakukan tindakan bodoh ini. Aku mohon,” ucap Peri Senja dengan penuh harap.

 

Tangan kecilnya berusaha menarik bagian lengan baju dari manusia yang masih saja berjalan tanpa arah. Hingga tubuh kecil itu mulai tumbang saat tenaganya sudah habis terkuras. Bubur ajaib yang peri kecil itu miliki juga telah habis. Peri Senja tidak bisa berbuat apa-apa jika dia akan melihat hal yang tidak pernah peri kecil itu harapkan selama ini. Namun, saat harapan itu hampir lenyap, ada lengan yang menarik manusia itu dan menyelematkannya. Di hadapan peri kecil itu terlihat beberapa orang menceramahi atas tindakan bodoh yang akan manusia itu lakukan.

 

“Syukurlah,” ucap Peri Senja.

 

Tanpa disadari, bubuk ajaib yang sebelumnya telah habis, kini kembali hadir menyelimuti tubuh kecil Peri Senja. Di atas sana tampak beberapa peri saling bahu-membahu mengusir warna kelabu dari langit.

 

“Sekarang tugasmu, Peri Senja,” ujar Peri Langit Biru menyerahkan sisa tugas kepada Peri Senja.

 

Senyuman lega tersemat pada Peri Senja. Peri kecil itu mulai mengepakkan kembali sayapnya. Terbang ke berbagai sudut untuk melukiskan warna jingga di atas langit yang kini telah berhenti menitikkan air hujan. Di sudut lain, Peri Hujan terkulai pasrah saat tubuhnya dibawa oleh rombongan para peri yang ditugaskan untuk menangkapnya.

     

Peri Senja terus melakukan tugasnya didampingi oleh Peri Malam yang menghias langit jingga dengan sedikit semburat warna gelap menawan. Memang ini sudah akan memasuki waktu malam hari, tetapi sepertinya sedikit memberikan keindahan langit setelah hujan tidak masalah. Jingga yang bercampur dengan gelap malam menciptakan pemandangan yang berbeda.

     

“Lihat langitnya begitu indah,” ujar beberapa orang saat melihat ke arah ufuk barat.

       

Tidak sedikit orang yang mengabadikan saat-saat terbaik seperti saat ini. Peri Senja dan Peri Malam saling berbagi senyuman saat pekerjaan mereka berhasil dengan baik.

         

“Terima kasih sudah membantuku,” ucap Peri Senja dengan tulus.

         

“Tidak ada yang terbaik selain warna jingga yang menggantung sebelum malam berbintang tiba.” Peri Malam menyunggingkan senyuman. “Sepertinya ada yang menunggumu di sana,” ucapnya dengan menunjuk ke arah manusia yang tengah berdiri di pinggiran jembatan.

         

Peri Senja tersenyum tipis sebelum mengangguk pelan untuk berpamitan ke arah Peri Malam. Peri kecil itu melesat begitu cepat ke arah manusia yang menatap jingga di langit dengan senyuman. Peri Senja berhenti sejenak untuk memastikan bahwa seseorang itu memang bukan datang untuk menumpahkan kesedihan.

     

“Aku tidak salah lihat, kan?” tanya Peri Senja menatap heran ke arah manusia itu. Namun, peri kecil itu tetap mendekat dan duduk di samping lengan manusia itu.

 

Dia mengamati wajah bahagia yang terlukis melalui binar mata seseorang itu. Tidak terlihat kesedihan di sana. Melainkan sebuah rasa syukur yang begitu membuat hati terasa tenang.

     

“Terima kasih senja sudah selalu menemaniku. Mendengarkan setiap ceritaku selama ini. Mungkin kamu bosan dengan cerita itu-itu saja yang aku tumpahkan. Tapi, dari hal itu kini aku bisa bangkit kembali. Semangatku untuk menjalani hari semakin terpupuk. Aku tidak lagi merasa terpuruk dengan apa yang kulalui dalam hari-hariku yang berat. Terima kasih karena seolah kamu bisa mengerti keadaanku setiap kali aku cerita di sini,” ucap manusia itu dengan senyuman tulus yang begitu meneduhkan.

       

Peri Senja sendiri sempat tertegun sejenak sebelum tersenyum haru mendengar ungkapan itu. Selama ini, dia tidak pernah mendengarkan ungkapan rasa terima kasih dari manusia atas warna jingga yang telah peri kecil itu lukiskan.

     

“Kamu tenang saja. Senja akan tetap di sini untuk menemanimu. Menghapuskan segala kesedihan dan rasa lelah yang telah kamu lalui. Senja tidak akan pernah meninggalkanmu. Senja akan selalu berusaha menciptakan bahagia untukmu. Mengantarkanmu menemui malam berbintang yang indah. Serta membawa dirimu untuk menemui hari selanjutnya dengan perasaan yang lebih baik….”

           

Aku, Peri Senja..

Akan melukis jingga di langit

Mengukirkan namamu di sana

Setia menemani untuk menghapus lukamu

Membawakan para bintang

Dan menciptakan bahagia dalam hidupmu….

           

~ Selesai ~

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!