Senyuman yang Hilang dari Wajahnya
8.3
4
58

Beliau terus menerus menatap pagar rumahnya dari kursi goyang miliknya. Matanya yang menyorot akan kesenduan dan kehampaan itu terus berharap melihat sosok tersebut muncul dari balik pagar tersebut. Aku di sini hanya bisa diam dan menemaninya. Memperhatikan dan terus menunggu senyuman Beliau kembali terukir di wajahnya Sumber gambar : pinterest

No comments found.

Matanya menatap sendu ke arah jalan di balik pagar. Walaupun tertutup lensa kacamata, aku masih dapat merasakan sorot mata penuh harap di sana. Keriput di wajahnya semakin banyak dan tanpa senyum terukir membuat parasnya terlihat tidak memiliki semangat hidup. Sudah ke sekian kalinya Beliau menghela napas. Kursi goyang yang sudah berumur–mungkin malah lebih tua darinya–berderit seiring pergerakan.

Sudah tiga jam beliau duduk di sini tanpa melakukan apa pun. Telapak tangannya yang terasa keras terus menerus mengelus buluku hingga membuatku mendengkur saking nyamannya. Aku menyadari beberapa tetangga menyapanya selagi melewati rumah Beliau. Namun sayangnya, Beliau tidak menyapa balik sapaan tetangga tersebut–bahkan untuk sekedar melempar senyum pun enggan.

Cahaya matahari yang mulai mengenai teras rumah membuatku mengenang masa lalu. Sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika aku masih baru dirawat oleh Beliau dan Anaknya di rumah ini, kulihat mereka tengah berkebun bersama. Bukan menanam sayuran atau pun pohon, melainkan tumbuhan yang nantinya akan berbunga indah suatu saat nanti. Kata Anak Beliau, semasa hidup Istri Beliau dulu sangat suka dengan tumbuhan berbunga. Maka dari itu, mereka mengisi halaman rumah yang tidak begitu luas dengan berbagai tumbuhan berbunga. 

Aku tidak tahu apa yang indah dari bunga-bunga yang bermekaran tersebut. Aku tidak tahu mengapa Istri Beliau bisa sesuka itu pada tumbuhan berbunga. Dan aku juga tidak tahu mengapa Beliau dan Anak Beliau melakukan sesuatu hal yang bukan kesukaan mereka. Tapi yang kutahu, saat itu Beliau dan Anaknya itu saling melempar cerita dan senyuman selagi berkebun. 

Senyuman yang kini tidak kulihat lagi di wajah Beliau. Hangatnya sinar matahari kala itu bahkan tidak sampai menembus bulu hitamku namun entah mengapa ada rasa hangat nan menenangkan kurasakan. 

Lagi, Beliau menghela napasnya. Tubuhnya mulai bergerak, memperbaiki posisi duduk sebelum kembali menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Deritan kursi goyang lagi-lagi mengisi keheningan di antara kami. Kepalaku mendongak, memperhatikan ekspresi wajahnya yang masih terlihat datar dan penuh kehampaan. Aku berharap bisa dapat melihat senyuman Beliau sekali lagi. 

Sambil menatap pintu rumah, ingatanku kembali berputar. Sekitar enam tahun yang lalu, Anak Beliau pergi meninggalkan rumah ini. Dia tidak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan cantik dan lembut di sampingnya. Aku yang awal mula dirawat olehnya pun tidak dibawa pergi dikarenakan perempuan cantik tersebut memiliki alergi pada bulu hitamku. 

Aku tidak memprotes hal itu. Tinggal di sini sudah menjadi hal yang cukup bagiku. Tanpa Sang Anak, Beliau pun sudah merawatku dengan sangat baik. 

Aku kembali mengingatnya. Ketika Anak itu pergi, sorot mata Beliau sama seperti saat ini. Penuh akan kerinduan, kesenduan dan harapan. Mungkin Beliau tidak ingin Anaknya pergi. Mungkin pula Beliau tidak ingin anaknya menikah. Dan mungkin pula beliau tidak ingin ditinggal sendirian. 

Beliau yang malang. Walaupun kesepian, dia selalu mengajakku berbincang untuk mengisi suara di dalam keheningan rumah. Namun sayangnya, aku tidak bisa membalas setiap ucapannya kepadaku.

Aku menggerakkan tubuhku, mencari posisi tidur yang nyaman di pangkuannya. Pergerakan tersebut ternyata membuat Beliau menoleh ke arahku. “Kamu lapar?” tanyanya dengan suara sedikit serak. 

Aku hanya diam, menatapnya tanpa berkedip. Kepalaku kugesekkan ke telapak tangannya. Saat ini aku tidak lapar. Melihat Beliau yang akhir-akhir ini tidak nafsu makan cukup membuatku tidak memiliki semangat untuk menyantap makanan. Aroma ikan bandeng presto favoritku entah mengapa terasa hambar.

“Kamu pasti lapar. Maaf karena tidak menyadarinya,” ujar Beliau sambil menggendongku. Dengan sedikit kesusahan, Beliau bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit tertatih memasuki rumah. Tongkat Beliau patah beberapa hari yang lalu dan itu membuat Beliau kesulitan berjalan seperti saat ini. 

Setelah menaruhku dengan lembut di atas kursi makan, Beliau berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan sebuah kaleng yang berisikan makanan basah untukku. “Maaf ya, kamu harus makan ini lagi. Kakek masih belum kuat untuk berjalan ke pasar dan membeli ikan bandeng kesukaanmu,” katanya sambil menaruh beberapa sendok makanan basah tersebut di piring. 

Tidak perlu meminta maaf. Aku sama sekali tidak keberatan untuk memakan ini. Asalkan bersama Beliau itu sudah cukup. Aku melompat turun sedikit hati-hati dari kursi dan menghampirinya. Kepalaku kugesekkan berkali-kali sambil memutari kakinya yang renta. 

Pemilikku yang malang. Aku sudah sangat bersyukur dirimu merawatku yang hanya memiliki tiga kaki dan satu mata ini. Aku sudah cukup bersyukur dirimu merawatku dengan sangat baik. Aku benar-benar bersyukur atas semua itu. 

Sambil memegangi pinggiran meja dengan erat, Beliau menaruh piring berisi makananku di lantai. Lututnya yang kini tak bisa tertekuk selayaknya dulu namun entah mengapa Beliau selalu duduk di lantai sambil menungguku menghabiskan makanan. Tangannya melepas kacamata miliknya, membersihkan lensa yang sedikit buram dengan ujung kaus yang dipakainya.

Kepalaku bergerak menatap meja makan. Sekitar lima tahun yang lalu, Beliau duduk di salah satu kursi di meja tersebut. Duduk sendirian, tanpa ada yang mengisi kursi lainnya. Bulan puasa yang biasanya Beliau lalui bersama Anaknya, saat itu Beliau lalui sendirian untuk pertama kalinya. Karena Sang Anak memiliki halangan untuk pulang, Beliau hanya bisa menerima hal tersebut tanpa memaksa. 

Aku ingat ekspresi Beliau saat itu. Ekspresi yang lebih menyedihkan dibandingkan ketika Anak tersebut meninggalkan rumah. Ekspresi di mana Beliau sangat mengharapkan kehadiran putra satu-satunya di rumah ini selama menjalani bulan puasa. Dan tentu saja, kehadiranku di rumah ini tidak sebanding dengan kehadiran Sang Anak yang disayanginya itu. 

Walaupun Beliau menutupi kesedihannya dengan senyuman, tetap saja senyuman yang Beliau tunjukkan saat itu terlihat palsu. 

“Kenapa nggak dimakan? Sudah tidak enak makanannya?” tanya Beliau sambil memperhatikan isi piringku. Aku terdiam sejenak memandanginya, memperhatikan wajahnya dalam-dalam sebelum menyantap makanan basah yang kini tidak begitu dingin.

Melihat aku yang mulai memakan makanan tersebut, Beliau mengelus bulu hitamku dengan lembut. “Andre lagi-lagi nggak pulang. Anak itu sama sekali tidak ingin pulang ke rumahnya lagi. Sudah lupa dia sama ayahnya dan rumah ini,” ujarnya dengan nada sedikit rendah. Nada suaranya terdengar sedikit bergetar di ujung kalimat terakhir, menandakan kesedihan dan kesepiannya yang sudah menumpuk dan terpendam. 

Aku masih menyantap makananku. Lidahku sesekali menjilat makanan tersebut yang masih terasa dingin. Andre, nama Sang Anak Beliau. Satu-satunya putra kesayangan Beliau yang memiliki senyuman hangat. 

“Apakah kamu suatu saat juga meninggalkan pria tua ini? Sama seperti anakku itu?” tanya Beliau kepadaku. Sejenak, aku menghentikan makanku. Menyeka sisi mulutku dengan lidah sambil memperhatikan Beliau. 

‘Tentu saja tidak,’ ucapku dari dalam hati, menjawab pertanyaannya barusan. 

Mata sayu Beliau semakin terlihat menyedihkan. Tanpa lensa kacamata yang menutupi matanya itu membuat keadaannya terlihat semakin menyedihkan. Aku mulai bertanya-tanya kembali mengenai bunga-bunga yang bermekaran di halaman. Apakah bunga-bunga tersebut tidak bisa membuat Beliau tersenyum lagi? Apakah bunga-bunga yang Beliau rawat bersama Anaknya dulu tidak membuat mata sayu tersebut menjadi segar? Jika terus-menerus melihat mata Beliau itu mengingatkanku pada ikan bandeng yang baru dikeluarkan dari kantung plastik. 

Tidak ada kehidupan dan hampa. Mata ikan mati. 

“Sudah berapa lama dia tidak pulang. Tega dia tidak menjenguk ayahnya sendiri sampai saat ini.” Beliau kembali mengeluh dengan suara berat dan seraknya. Aku berjalan mendekatinya kemudian duduk di pangkuannya. Mataku masih terus memperhatikan tiap ekspresi dan sorotan mata miliknya. Kubiarkan makananku yang masih tersisa. Saat ini Beliau butuh diriku di sampingnya. 

Angin dari jendela di dekat kompor kurasakan. Ingatan empat tahun yang lalu kembali terbayang di ingatanku. Saat itu, Beliau bertengkar dengan Anaknya melalui sambungan telepon. Anaknya yang berusaha menjelaskan alasan mengapa dirinya belum bisa pulang dibantah habis-habisan oleh Beliau. 

Beliau sudah lelah menunggu. Emosinya tak bisa terbendung ketika mendengar alasan ke sekian kalinya terlontar dari Sang Anak. Amarah dan kekecewaan memenuhi pikirannya saat itu hingga hanya bentakan dan kalimat tak mengenakkan keluar dari mulutnya. Rumah yang biasa diisi keheningan menjadi semakin tidak mengenakkan. Rasanya seperti suhu dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku saat itu hanya bisa berdiam diri dan menatap punggungnya yang semakin membungkuk. 

Aku tahu dia kecewa. Aku juga tahu dia kesepian. Aku tidak bisa menyalahkan Beliau yang pada akhirnya melepas semua emosi terpendamnya saat itu. Aku juga tidak bisa menyalahkan Si Anak yang tidak bisa pulang untuk ke sekian kalinya. Walaupun memang diriku sebenarnya menunggu sosok kecil yang katanya baru saja lahir dari keluarga kecil Sang Anak. 

Saat itu, aku mendengar isakan pelan keluar dari mulut Beliau tak lama berselang telepon tersebut diputuskan sepihak oleh Beliau. Rasa penyesalan dapat kurasakan dari tangisan Beliau. Dirinya mungkin merasa tidak seharusnya membentak Anaknya seperti tadi. Dirinya mungkin juga merasa harus lebih sabar menunggu dan mempercayai kepulangan Anaknya suatu saat nanti. 

Namun sayangnya, ketika tangisan itu terhenti, Beliau tidak menghubungi Anaknya kembali untuk sekedar meminta maaf. Entah karena harga diri atau terlalu kecewa, aku tidak tahu. 

“Kakek mau duduk di depan lagi. Kamu mau ikut?” tawarnya sambil menggendongku ke dalam pelukannya. Napasnya terasa berat dan panas. Apakah dia demam? Aku baru menyadari jika sedari tadi malam Beliau belum memakan apa pun. Apakah dia baik-baik saja? Dirinya tidak merasa lapar, kah? 

Aku hanya diam dan diamku ini dianggap sebagai jawaban ‘iya’ olehnya. Lagi, dengan langkah tertatih, Beliau berjalan menuju teras depan dan kembali duduk di kursi goyangnya. Akhir-akhir ini aku merasa Beliau lebih sering menghabiskan waktu di kursi goyang ini dibandingkan sebelumnya. 

Deritan kursi tersebut kembali memasuki pendengaranku. Suara yang dulunya cukup mengganggu tersebut kini mulai terbiasa kudengarkan. Angin bersilir-silir mengenai bulu hitamku dengan lembut. Cuaca yang biasanya panas saat ini tidak terlalu terik sehingga sangat cocok untuk duduk bersantai seperti saat ini. 

Beliau lagi-lagi hanya diam dan menatap pagar rumahnya. Harapan di mana Anaknya muncul dari balik pagar tersebut dan memamerkan senyuman lebar miliknya. “Anak itu benar-benar keterlaluan jika tidak pulang ke rumah pas lebaran nanti,” gumam Beliau sedikit menggeram menahan kekecewaannya.

Aku lagi-lagi hanya diam, kali ini ikut memandangi pagar rumah tersebut. Andre–Anak Beliau–tidak akan pulang ke rumah tahun ini. Bahkan untuk tahun berikutnya dan seterusnya. Tiga tahun yang lalu Anak tersebut sudah pulang ke rumah ini untuk terakhir kalinya bersama perempuan cantik dan sosok kecil yang kutunggu-tunggu kehadirannya tersebut. 

Terakhir dan tidak ada lagi selanjutnya. 

Hidupnya sudah berakhir tiga tahun lalu akibat kecelakaan maut saat menuju rumah ini. 

Sambil melupakan kejadian itu, Beliau masih terus menunggu Sang Anak. Terus mengeluh tentang Anak tersebut dan memakinya sesekali. Padahal harapannya sudah terpenuhi, namun penyesalan dan kesepiannya berhasil memenuhi dirinya. Sorot mata kehampaan yang sama seperti ketika melihat jasad kaku Anaknya itu masih tidak berubah sampai saat ini. 

Aku kembali mengesekkan kepalaku ke tangannya dan memosisikan tubuhku dengan nyaman di pangkuannya. Matanya yang biasa menatap pagar itu perlahan-lahan tertutup. Entah terlalu nyaman karena embusan angin atau mengantuk. Yang jelas mataku juga mulai berasa berat. 

Berkali-kali aku berharap, ketika Beliau membuka matanya nanti, aku bisa melihat senyuman di wajahnya lagi. Aku merindukan wajah segar dan penuh semangat dari Beliau. Aku ingin mendengar Beliau kembali menceritakan kisah bahagianya dengan nada suara yang ceria. 

Aku merindukan semuanya. Masa yang tidak terulang itu kembali. Masa di mana sebelum Beliau menghilangkan senyumannya. Maafkan aku yang tidak pernah membalas setiap ceritamu dengan mengeong sedikit pun. 

Hingga sebelum benar-benar terlelap, telingaku tidak lagi mendengar derit kursi goyang tersebut. Waktu terasa terhenti seketika. 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!