Sepucuk Surat
11.8
2
90

Seorang mahasiswa baru berusia 18 tahun yang hidupnya amat biasa dan monoton, tanpa sengaja membaca surat milik teman sekamar asramanya. Merasa tertarik, ia terus membaca surat-surat yang ditujukan kepada temannya itu. Tanpa sadar, surat-surat yang dibaca tanpa izin ini membawanya ke sebuah peristiwa yang tak terduga.

No comments found.

Sudah sekitar satu jam lebih lima puluh menit sejak kelas dimulai. Seharusnya kelas sudah diakhiri sepuluh menit yang lalu, namun dosen kelas Grammar masih asyik menjelaskan materi. Aku mengetukkan pulpen secara perlahan ke atas meja berkali-kali, mencoba mengusir rasa kantuk yang sangat kuat di jam-jam tidur siang ini. Pukul tiga lebih sepuluh menit, akhirnya sang dosen sadar bahwa jam kuliah sudah habis dan segera menutup kelas hari ini. Aku menghela nafas panjang sambil mengemasi barang-barangku ke dalam tas kanvas warna krem muda. Rasa lapar dan lelah menghampiriku, membuatku ingin segera beranjak kelas dan membeli makan malam di warung terdekat.

Setelah membeli sebungkus nasi lengkap dengan lauknya di warung dekat kampus, aku segera pulang menuju kamar asramaku. Kamar yang kutempati terletak di lantai dua dan memiliki kapasitas untuk dua orang, seperti kamar-kamar lainnya. Memang tidak terlalu mewah, namun cukup nyaman untuk dihuni hingga satu semester yang akan datang.

Kehidupan kampus sekaligus asramaku dapat terbilang monoton. Cukup kuliah dan mengerjakan tugas saja, begitu pikirku. Lagipula aku juga tidak tertarik mengikuti organisasi atau ukm sekalipun seperti kebanyakan mahasiswa baru lainnya. Berkenalan dengan banyak orang, mengikuti apa kata kakak tingkat, mengerjakan berbagai proker tiada henti, belum juga jika dimarahi oleh kakak tingkat. Menyusahkan diri saja. Jadi, disinilah aku, mengerjakan tugas dan membaca materi yang diberikan dosen sendirian di kamar, alih-alih mengikuti kegiatan organisasi maupun ukm hingga larut malam.

Tepat lima belas menit sebelum jam 9 malam, terdengar suara pintu kamarku dibuka oleh seseorang dari luar. Siapa lagi jika bukan Diana, mahasiswa yang tinggal sekamar denganku dan super sibuk. Berbeda 180 derajat denganku yang hanya menghabiskan waktu di ruang kelas kuliah dan kamar, Diana begitu aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan kampus. Mulai dari himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), paduan suara, hingga teater. Aku merasa heran dengan dirinya, bukannya mengikuti satu organisasi saja sudah melelahkan? Ini malah tambah dengan 2 ukm yang lain. Namun hingga kini pertanyaan itu masih kusimpan baik-baik dalam pikiranku. Sebenarnya diriku dan Diana tidak dekat sama sekali. Kami hanya bicara sesekali saja ketika benar-benar diperlukan. Tetapi dia terlihat seperti anak yang ramah dan baik.

“Capek banget!”, ujar Diana setelah merebahkan badannya di atas kasur. Aku yang masih fokus dengan layar laptopku tidak bereaksi sedikitpun terhadap orang yang berbagi kamar denganku itu. Tiba-tiba, tangan kananku dicolek secara perlahan. Reflek aku menoleh ke arah sumber sentuhan yang tidak dikenal tersebut. “Mau tahu bakso?”, tanya Diana sambil menunjukkan 6 buah tahu bakso yang berbaris dengan rapi di dalam kotak makan plastik warna hijau. Merasa tidak enak dengan Diana yang sudah mengarahkan tahu bakso tersebut padaku, aku pun berniat mengambil satu buah. “Eh, tapi bayar dulu”, balas Diana sambil menarik kotak makan itu secara tiba-tiba yang mengakibatkan tanganku gagal meraih tahu bakso tersebut. Aku diam beberapa saat dan berkata, “Berapa?”. Diana ikut terdiam sejenak dan disusul dengan tawa yang terbahak-bahak. “Nggak, cuma bercanda. Ambil aja!”, balasnya. Aku mengulurkan tanganku dengan sedikit ragu-ragu untuk mengambil tahu bakso yang Diana tawarkan. “Ambil dua juga boleh”, tambah Diana dengan senyuman. “Terima kasih”, balasku diikuti dengan memakan satu gigitan dari tahu bakso yang sudah kuambil. Ternyata enak juga, pikirku dalam hati sambil menghabiskan tahu bakso tersebut. Tepat setelah aku menghabiskan tahu bakso itu, Diana tiba-tiba bercerita bahwa tahu bakso itu sebenarnya produk danusan yang harus ia jualkan hingga habis. Aku terdiam. “Jadi, harus dibayar?”, tanyaku ragu-ragu. “Nggak lah! Aku udah capek danusan terus dari sore! Jadi aku beli saja sisa tahu baksonya, terus dimakan sendiri deh”, balasnya enteng. Aku bingung harus membalas perkataannya bagaimana, hingga akhirnya aku mengucapkan kata terima kasih sekali lagi. Pada hari itu, kegiatanku ditutup oleh memakan tahu bakso dari Diana.

Hari demi hari berlalu. Kehidupan kampusku tidak berubah dari sebulan yang lalu. Terasa masih monoton dan mungkin bisa dibilang membosankan bagi mahasiswa lain. Namun aku cukup menikmati hari-hariku. Tidak melelahkan dan bisa terfokus dengan materi perkuliahan dengan baik. Sementara penghuni sekamarku, Diana, semakin aktif mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi dan ukm di kampus. Hingga dia jarang terlihat berada di kamar. Aku tidak tahu menahu akan jadwal kegiatannya, satu hal yang pasti, pada hari Sabtu dan Minggu ia selalu sampai di kamar pukul 20.45. Lima belas menit sebelum asrama dikunci oleh pihak pengurus. Meskipun sibuk, hampir setiap kali berada di kamar, Diana selalu mengajakku berbicara. Mungkin sekedar basa-basi, namun aku mulai terbiasa dengan hal tersebut.

Suatu hari di Hari Minggu, seperti biasa, aku membersihkan kamar. Dimulai dengan mengganti sprei kasur, menata ulang baju-baju di lemari, merapikan buku, hingga menyapu dan mengepel kamar. Ketika aku sedang menyapu kamar, terlihat sebuah amplop warna coklat terkulai di atas lantai. Aku bergegas mengambil dan hendak membuangnya ke tempat sampah. Namun, niatku terhenti ketika melihat bunga kering kecil yang menempel di atas amplop tersebut. Bunga kering yang sengaja ditempelkan tersebut membuat amplop polos itu terlihat istimewa. Setidaknya bagiku. Membuatku bertanya-tanya tentang isi amplop tersebut. Mengikuti rasa penasaranku, aku memutuskan untuk membaca secarik kertas di dalam amplop tersebut.

Dear, Diana.

Sejak pertama kali lihat kamu di pertemuan pertama, aku udah bisa nebak kalo suatu saat nanti kamu bisa jadi tokoh utama. Kenapa? Karena kamu selalu terlihat bersinar! Meskipun di teater kali ini kamu belum bisa jadi bintang utamanya, tetapi kamu udah jadi bintang utama bagiku. Semangat latihannya!

‘Tokoh utama? Bintang utama?’ aneh sekali pemilihan kata yang dipilih oleh sang penulis surat ini. Lagipula, siapa yang masih mengirim surat tanpa nama di zaman seperti ini? ‘Penggemar rahasia’ Diana ini cukup aneh. Namun, jika dibaca ulang, semakin jelas terlihat bahwa kemungkinan besar pengirim surat ini berasal dari ukm teater yang sama dengan Diana. Setelah tiga kali membaca surat itu, aku terdiam sesaat. Apa yang harus kulakukan dengan surat ini? Apakah harus kuberikan ke Diana atau kubuang saja ke tempat sampah? Tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku, aku memutuskan untuk kembali menyapu seisi kamar. Berikutnya, aku kembali meletakkan surat itu ke lantai persis dimana surat itu tergeletak sebelum kuambil. Seolah-olah tidak ada yang mengambil dan membaca isi surat itu sebanyak tiga kali.

Tak terasa, dua minggu telah berlalu. Perkuliahanku bisa dibilang berjalan cukup lancar untuk sementara ini. Meskipun beberapa kali bertemu dengan anggota kelompok yang kurang kooperatif, aku mengerjakan bagianku dengan baik. Namun, aku masih menyimpan pertanyaan mengenai surat tak bertuan yang ditujukan pada Diana itu. Orang seperti apakah pengirim surat itu? Apa dia sekedar pengagum rahasia Diana? Atau jangan-jangan sang pengirim surat memang seseorang yang dekat dengan Diana di UKM teater? Serta masih banyak lagi pertanyaan di kepalaku. Akan tetapi, selama ini aku hanya memilih diam. Tidak mungkin diriku yang bahkan jarang bertegur sapa terlebih dahulu dengan Diana ini, tiba-tiba menanyakan siapa pengirim surat yang sebenarnya cukup personal tersebut.

 

Bersambung.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!