SERIMPI
18.5
9
130

Karena kekagumannya pada sosok 'Serimpi', Agil memiliki mimpi menjadi desainer busana malam. Namun, bapaknya menentang dan memintanya menjadi seorang polisi.

Bapak menyobek kertas di depanku.

Kowe iku wong lanang. Ora pantes gambar ngene iki!”

Muka bapak memerah seperti kepiting rebus. Di ruang tamu rumah kami yang sederhana dan dindingnya tak cukup tebal untuk meredam suara, bapak meluapkan amarahnya. Untung saja, gambar itu hanya salinan. Sebuah desain gaun malam yang telah kubuat.

Suara bapak bergema di otak terdalamku, sedikit menyentuh hati. Lebih tepatnya menyayatnya hingga terasa perih. Kata-kata itu melekat. Kamu itu laki-laki. Tidak pantas menggambar seperti ini.

“Maaf, Pak. Agil hanya ingin mengejar mimpi. Gambar itu mimpi Agil.”

Sing sabar toh, Pak! Anak lanangmu iki menang lomba. Ojok malah diamuki!” Ibu dengan suara tenang mencoba menguasai bapak. Ia tepuk-tepuk punggung suaminya yang kurus, legam, dan tidak lagi muda itu.

Suasana ruangan mendadak hening. Semua orang, termasuk kakak perempuanku, bergeming. Bapak menghela napas panjang dan berat. Mataku memanas. Andai saja tidak terlatih mendengar bentakan bapak, mungkin aku sudah menangis. Aku harus bertahan. Bapak akan semakin mengolokku kalau menangis. Laki-laki kok cengeng. Laki-laki kok lemah.

“Gil,” panggil bapak dengan suara mulai melunak, “kamu harusnya paham kenapa Bapak begini. Aku sama Ibumu nabung sejak lama hanya untuk persiapan masa depanmu. Apa susahnya nurut? Jadi laki-laki kebanggaan keluarga.”

“Kebanggaan seperti apa, Pak? Jadi polisi seperti yang Bapak cita-citakan?” sangkalku.

“Tabungan Bapak sudah lebih dari cukup buat nyogok kepolisian biar kamu lolos. Tetangga kita yang polisi itu juga sudah mau bantu. Apa susahnya nurut?”

Aku bergeming. Tidak menjawab pertanyaan bapak. Tepatnya tidak mampu menjawab keinginan bapak itu. Namun, kerasnya hati bapak susah dilunakkan. Mimpi agar anaknya menjadi polisi sudah mengakar sejak aku baru masuk SD. Iming-iming masuk kepolisian lewat orang dalam pun dia amini menjadi sebuah strategi perang. Amunisi tabungan ia kumpulkan dan setahun lagi siap ditembakkan. Kata tetangga yang polisi itu, aku pastilah lolos.

“Sudahlah. Kau hanya ingin Bapak mengizinkanmu ke Jakarta untuk lomba njahit ini, kan?” kata Bapak dengan suara yang benar-benar sudah lunak. Aku tahu bapak juga menahan diri. Anggukan dariku adalah jawaban.

“Pergilah! Buktikan kalau kamu bisa menang lomba njahit ini!” Bapak mengatakannya sambil berlalu dari hadapanku.

Perkataan itu seperti sebuah angin segar. Izin bapak sudah kukantongi. Terkembang senyum ibu. Kakak merangkulku sebagai ucapan selamat. Hanya saja, sesampainya di ambang pintu keluar, bapak menoleh. “Kesempatanmu melawan hanya satu kali. Harus juara pertama. Kalau nggak, kubur mimpimu itu dan daftar kepolisian!”

 

Itu percakapan menegangkan terakhir dengan bapak sebulan yang lalu. Saat ini aku sudah di Jakarta. Bergelut untuk menyelesaikan gaun malam yang berhasil masuk lima besar desain terbaik. Lomba ini diadakan oleh yayasan yang menaungi Putri Indonesia.

Lomba desain gaun malam untuk dipakai si Putri Indonesia ke ajang Ratu Sejagad di Britania Raya sana. Lima besar diundang ke Jakarta untuk merealisasikan gaun malam yang akan dipresentasikan di sebuah peragaan busana. Jurinya diketuai oleh Irvan Gunawarman, desainer kenamaan Indonesia yang terkenal hingga mancanegara.

Maka di sinilah aku, sebuah studio di bilangan Jakarta. Bersama empat finalis lain, mengejar deadline gaun malam. Milikku sudah delapan puluh persen jadi. Tetap saja, aku butuh usaha ekstra untuk menyelesaikan sisanya. Konsentrasi terhadap proses dan hasil membuat bulir keringat membasahi pelipis. Seringkali jantung berpacu cepat. Apalagi kalau kutemukan kesalahan proses. Ternyata, memasang ribuan payet ke gaun malam tidak gampang. Begadang sudah jadi rutinitas kami.

“Mas Agil, boleh ceritakan nggak ini tema gaunnya apa?” tanya seorang tukang payet yang membantuku.

“Gaun ini mengusung perpaduan kesenian tradisional dan modernitas yang sudah mendarahdaging di masyarakat. Kesenian Reog Ponorogo diterapkan pada cutting yang menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya. Makanya, saya pakai perpaduan warna merah, cokelat, hitam, dan hijau. Payet yang kita buat juga menyerupai bulu-bulu merak.”

“Hebat, Mas! Meskipun saya sudah bertahun-tahun jadi tukang payet, belum sekalipun terpikir membuat desain gaun sendiri. Mas Agil masih tujuh belas tahun tapi sudah sekeren ini.” Perempuan kepala empat itu memujiku.

“Saya hanya mencoba mengejar mimpi, Mbak. Belum hebat sama sekali.”

“Ah, Mas Agil suka merendah. Ngomong-ngomong ya, Mas, gaun ini cocok sama kaos Mas Agil. Gambar Reog.”

“Iya, Mbak. Reog memang sudah menjadi bagian hidup saya.”

“Dengar-dengar, finalis lain juga bagus-bagus desainnya. Bajunya juga punya nama khas masing-masing. Ada yang namanya gaun Lahar Merapi, Tumpak Sewu, terus yang dua lagi susah nyebutnya karena pakai Bahasa Inggris. Nggak ngerti deh!” Perempuan yang rambutnya dicepol itu terus memberondongku meski matanya tetap fokus pada payetannya.

“Kalau gaun ini namanya apa, Mas?” tanyanya lagi.

Pertanyaan ini membuatku tertegun. Aktivitas menjahit terhenti. Aku bergerak mundur menjauhi gaun itu. Menatap lekat-lekat pada sekumpulan kain yang disambung menjadi sebuah mahakarya itu. Tiba-tiba saja aku mengagumi diri sendiri. Mimpiku hampir selesai. Tidak lama lagi akan kubuktikan pada bapak bahwa seorang Agil bisa mewujudkan mimpi tanpa harus menjadi polisi.

“Namanya Serimpi,” jawabku sambil membayangkan sebuah gaun malam yang tidak hanya akan membuat merinding penonton, namun juga menyimpan filosofi yang mendalam.

Mari kuceritakan kenapa tiba-tiba seorang anak kampung di bawah Gunung Semeru bisa bermimpi menjadi desainer gaun malam.

 

Namaku Agil. Ibuku seorang penjahit. Sedangkan bapak adalah salah satu pemain musik tradisional yang biasa bekerja di pertunjukan Reog Ponorogo di kampung. Meski nama keseniannya begitu, tapi kami bukan asli Ponorogo. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang usianya terpaut lima tahun.

Kata ibu, bapak sangat mencintai kesenian Reog. Baginya, Reog adalah kesenian yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sakral. Hidup bapak dihabiskan di dua tempat, rumah dan sanggar Reog di mana dia biasa berlatih. Kadang-kadang juga habis di sawah. Di kampung, sawah masih menjadi mata pencaharian yang menjanjikan kala itu.

Bapak sangat menyayangiku. Itu kata ibu. Demi menyambut anak laki-laki yang sudah ditunggunya untuk lahir ke dunia, bapak sudah berangan-angan sangat tinggi. Ia ingin anak laki-lakinyalah yang didorong untuk merubah nasib keluarga. Bukan anak perempuannya. Sebab kakakku itu nantinya akan menikah dan diboyong suaminya.

Ada kebiasaan unik yang bapak lakukan padaku. Membelikan kaos bercorak garis merah dan putih yang ada gambar kepala Reog. Selalu saja membelikan kaos serupa yang ukurannya sedikit kedodoran. Katanya, untuk menghemat karena tubuhku akan terus berkembang. Kalau lemari dibuka, aku sudah seperti kolektor kaos merah putih itu. Ada yang merahnya terang menyala, ada pula yang memudar termakan sabun cuci.

Setiap ada pertunjukan Reog, bapak akan mengajakku. Mulai dari pertunjukan di kampung sendiri sampai kampung-kampung tetangga. Tidak, aku tidak ikut bekerja. Tugasku hanya duduk dan menonton, sambil tertawa riang.

Reog sudah melekat pula di hati dan sanubariku. Tabuhan kendangnya, musiknya yang bertalu-talu, atraksi menghiburnya, atraksi sadis dan menegangkannya seperti saat acara puncak, atau setiap kali penari Reog berlaga di atas pecahan beling dan menyemburkan bara api, semuanya melekat di masa kecilku.

Aku sangat mencintai Reog seperti aku mencintai bapak.

Namun, ada yang bapak tidak tahu. Diam-diam, saat pertunjukan Reog semakin heboh, saat bapak fokus pada permainan musiknya, aku akan bergoyang sambil melipir ke belakang kerumunan. Selama pertunjukan, mataku sudah nyalang mencari keberadaan ruangan itu. Ruang di mana para penari wanita berkumpul untuk berdandan. Kami menyebutnya Serimpi.

 

Reog memang kegemaranku. Namun, ada bagian dari pertunjukan itu yang kugemari melebihi apa pun. Mereka disebut Jathil.

Suatu malam, bapak menjelaskan sosok Jathil panjang kali lebar.

“Jathil itu tarian yang menggambarkan ketangkasan para pasukan berduka. Mereka menari dengan gemulai dan ekspresif. Menurut sejarahnya, Jathil diperankan oleh gemblak, pria berparas tampan atau seperti wanita feminim. Kenapa begitu? Karena gerak tariannya cenderung feminim. Kadang-kadang juga perempuan tulen yang menari. Tapi, makin ke sini, Jathil di kampung kita ditarikan para waria. Mereka lebih menghibur.”

Ya! Aku hobi menontoni para waria itu berdandan. Entah sejak kapan aku menyukai penari Jathil. Bagiku, mereka inilah yang visualisasinya paling keren. Mereka berdandan. Tubuhnya dibalut baju tari yang berlapis-lapis. Asesoris yang dipakai juga beragam. Gerakan tariannya pun sangat tradisional. Meskipun seringnya kudapati mereka menari asal-asalan. Yang penting joged.

Di kampungku, orang tidak menyebutnya Jathil, tapi Serimpi. Setelah SMA baru aku tahu kalau Serimpi dan Jathil itu dua tarian yang berbeda. Serimpi adalah tarian khas Jawa Tengah. Namun, kata-kata Serimpi itu sudah melekat kuat di ingatanku.

Dan mimpi menjadi seorang desainer terlahir dari kegemaranku menonton Serimpi atau Jathil ini. Sesosok bocah berkaos corak merah putih bergambar kepala Reog, seringkali mengunjungi mereka. Kami akrab. Tak peduli label waria yang melekat pada mereka, aku hanya mencintai apa yang tampak di depan mata.

“Heh, Agil! Ngapain kamu di sini? Dimarahin bapakmu baru tahu rasa,” hardik seorang Serimpi sambil tertawa.

Mereka sering membercandaiku karena pernah suatu kali bapak memergokiku termenung menatap para waria itu berdandan. Bapak marah dan menarikku menjauh. Telingaku panas karena jeweran tangannya yang kuat. “Kowe itu lanang. Ora pantes nontonin wong wedhok riasan!” Kamu itu laki-laki. Tidak pantas melihat perempuan berdandan.

“Duh, Alhamdulillah kita-kita dianggap wedhok,” seloroh salah satu waria merespons bapak. Yang lainnya tertawa.

Balik ke mimpiku. Kenapa aku bisa memiliki mimpi yang berawal dari Serimpi?

Suatu hari salah seorang Serimpi bernama Lady, nama panggung dari Ladiyono, mengajakku berbincang. Seperti seorang kakak kepada adiknya. Sambil sibuk menghisap dan menghembuskan rokok kreteknya, dia berkata, “Kenapa kamu suka sekali nontonin kami berdandan?”

“Kalian keren, Mbak Lady! Dandanannya bagus, bajunya juga bagus.”

“Cuma itu?”

“Ibu menjahit baju di rumah. Buatku, Ibu seperti sedang membuat mahakarya. Menyulap kain menjadi baju keren-keren. Lalu, berdandan itu semacam menggambar tapi di wajah. Nah, aku ini suka menggambar.” Saat percakapan itu terjadi, aku baru saja lulus SD.

 Lady hanya tertawa. Tangannya sibuk menaik turunkan rokok. Asap terus mengebul dari dalam mulutnya. Bau tembakau masuk ke penciuman.

“Aku tahu sejak lama, kamu ini anak berbakat. Jangan ikut-ikutan jadi penari Serimpi seperti kami. Jadilah yang lebih hebat! Pilihanmu bisa dua, menjadi perias terkenal atau pembuat baju terkenal.”

Kata-katanya itu tepat masuk ke hatiku. Inspirasi tiba-tiba saja muncul. Pilihan menjadi perias aku enyahkan karena aku tidak ingin menjadi waria. Betapa bodohnya saat itu karena yang ada di pikiranku, perias itu kalau bukan perempuan, ya waria. Persis seperti kebanyakan di kampungku. Maka, aku memilik bercita-cita menjadi pembuat baju terkenal.

Masih tanpa sepengetahuan bapak, aku belajar desain baju. Dari ibu, aku belajar beragam macam kain. Dari kakak, aku belajar mengimajinasikan desain baju yang bagus-bagus. Selain karena akhirnya dia tamat SMA dan berakhir sebagai penjahit seperti ibu, kakak juga hobi membuat baju ganti untuk boneka-bonekanya semasa kecil.

Satu lagi, aku selalu menyisihkan uang saku untuk membeli mainan bongkar pasang perempuan yang terbuat dari kertas. Permainan anak SD yang mendorongku menjadi pribadi yang imajinatif. Bongkar pasang pakaian untuk boneka yang juga dari selembar kertas itu.

Aku dengan kaos merah putih bergambar Reog selalu setia mendengar wejangan bapak soal anak laki-laki itu harusnya begini dan begitu. Tidak boleh ini dan itu. Cita-cita itu harus macho. Polisi, tentara, atau kalau bisa menjadi Menteri atau Presiden sekalian. Menjadi petugas medis pun aku tidak boleh. Ah, bapak tidak tahu saja. Wejangan itu memang melekat di otakku, tapi di hati hanya ada satu: Serimpi.

 

Ingatan masa kecil membuatku tersenyum sendiri. Waktuku bergulat dengan kain, benang, jahitan, payetan, dan lain-lain hanya sisa seminggu. Minggu depan, seorang model akan ditunjuk untuk memeragakan busana malam pertamaku ini.

Serimpi … aku sungguh berharap besar padamu.

Tolong aku agar tidak perlu repot-repot menjadi polisi seperti kata bapakku.

Mimpi itu luas. Tidak terbatas. Seperti pelajaran Matematika, mimpi itu seperti satu dibagi nol jika dihitung tanpa kalkulator. Jawabannya bukan eror, tapi tak terhingga. Aku tidak menyalahkan bapak dengan mimpinya untuk menjadikanku polisi. Aku hanya ingin membuktikan padanya. Laki-laki tidak harus terkotak-kotak. Laki-laki boleh kok menangis. Laki-laki boleh tidak suka bola. Laki-laki boleh tidak suka Reog. Laki-laki boleh memilih menyukai Serimpi. Biarkan mereka berkembang sesuai keinginan terbesarnya sendiri.

Serimpiku hampir jadi. Beberapa jahit lagi sudah jadi. Sebuah mahakarya dari seorang anak kampung. Mari sambutlah Serimpiku ini.

 

“Luar biasa sekali. Kita sudah menyaksikan peragaan busana dari seluruh finalis. Sungguh karya yang luar biasa. Selanjutnya, saya akan mengumumkan pemenang dari juara lima hingga pertama. Dan, pemenang ke lima jatuh kepada … SERIMPI!”

Suara Irvan Gunawarman bergema malam itu. Kupikir salah dengar. Bukannya dia baru saja menyebut gaun rancanganku di urutan pertama? Ternyata, pertama tidak selalu utama.

Suara Irvan Gunawarman masih terdengar. Dia memujiku, “Meski juara lima, tapi Agil adalah calon desainer hebat karena sudah bisa merancang busana indah meski masih duduk di bangku SMA.” Sayangnya, pujian itu hanya mengetuk sedikit hatiku. Sisanya kosong.

Aku melangkah gontai ke atas panggung untuk menerima piala. Senyum tersungging garing karena itu senyuman setengah hati. Di antara sorakan penonton, masih berbalut kaos merah putih bergambar kepala Reog, pikiranku hanya melayang ke satu tempat. Rumah.

Serimpi, aku kalah taruhan. Bapakku menang. Siap mengantarku menjemput mimpi lainnya. Dialah mimpi buruk. Serimpi, kapankah aku merdeka dalam menentukan mimpi?

 

#lovrinzwacaku #lovrinzpublisher

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!