Si Introvert Tulen
7.1
1
55

Gina teman baik Citra pada awal masuk tahun ajaran. Akan tetapi Gina terlalu baper terhadap cowok. Citra merasa kagum kepada Andre, karena kepintarannya. Gina malah berterus terang padanya. Ia pun selalu curhat terhadap kekasihnya.

No comments found.

Ini ceritaku seorang gadis yang masih bersekolah di SMAN Sejahtera kelas XII. Sejauh ini, aku sudah merenungkan diri sendiri. Pada saat di kelas menjadi murid yang penurut dan menjalankan prosedur pembelajaran dengan baik. Tak pernah absen dan bukan menjadi murid unggulan.

Hari ini pelajaran matematika yang diajarkan oleh Bu Mira. Cara belajarnya unik, setelah dijelaskan lalu diberi soal dengan pilihan jawaban. Dari jawaban itu terdapat susunan kata secara acak untuk mengenal ilmuwan. Jadi, bila benar mengerjakan matematika, bisa ketemu jawabannya semisal ‘siapa orang penemu lampu? jawabannya Thomas Alva Edison’.

“Anak-anak yang sudah beres, silakan isi jawabannya ke depan?”

Andre menggangkat tangan bersedia mengisi jawaban nomor satu. Dilanjutkan nomor dua dan seterusnya. Aku tidak berani maju ke depan. Meski jawabanku benar semua, ketika disamakan dengan jawaban di papan tulis.

Dari awal kenal sampai sekarang, aku sangat kagum pada kepintaran Andre. Setiap pelajaran dikuasai dengan tepat dan tidak pernah lepas dari juara kelas. Selama ini aku amati dari kejauhan, dia orangnya baik, anak yang aktif berorganisasi, tapi tak pernah aku melihatnya tersenyum. Perhatian dalam diam yang aku lakukan. Sampai Gina mengetahui sikap aneh ku ini.

“Kamu suka ya sama si Andre. Aku bicara terus terang sama dia ya,” ucap Gina ketika selesai membereskan buku dalam tas.

“Eh, kagak usah. So tau kamu, aku ngga suka sama dia.”

“Alah, jangan membohongi diri sendiri, nanti sakit hati kalau tidak diutarakan. Buka hati lah untuk cowok.”

“Ngga jelas, Gin. Aku mau fokus sekolah dulu.”

Andre menuju kemari, untuk meminjam penghapus. Gina yang duduk di sebelahku, malah memojoki yang tidak jelas. Supaya aku bisa ngobrol sekadar menyapa. Tak ada kata-kata yang harus diungkapkan padanya. Dia anaknya rajin, tiap hari bertemu di kelas. Jadi, menurutku tidak harus menanyakan kabar.

“Payah! Tidak peka perasaannya terhadap cowok. Sini aku ajarin triknya sama kamu!”

Cari muka mulu tuh si Gina, ngapain sih harus basa basi sama dia, kurang kerjaan banget.

“Hey, Ndre. Besok pergi ke cafe bisa ngga? Katanya Citra mau ngomong serius,” ucap Gina yang menghampiri ke bangkunya.

“Ngga bisa besok ada rapat OSIS.”

“Kalau minggu depan, bisa ngga?”

“Jadwalku padat, kalau mau ngobrol di sini juga bisa. Suruh si Citra kemari.”

“Tau sendiri kan, dia orangnya pemalu. Tapi dia caper deh sama kamu. Entah apa dalam benaknya?”

“Emang banyak kok cewek yang caper sama aku!”

“Hem, geer banget jadi orang. Dari sikapmu yang dingin kayak es batu. Tapi percaya dirinya sangat tinggi. Eh, ngomong-ngomong kamu sekarang punya pacar ngga?”

“Kepo banget jadi orang!”

Gina kembali dengan wajah kesal. Jarak bangku kita berada di sudut kanan dekat jendela. Sedangkan bangku Andre berada depan meja guru. Aku tidak tahu pasti keduanya ngobrol apaan, terdengar pelan. Hanya melihat Gina cekikikan, tapi Andre hanya berkutat pada gawainya.

“Gimana?” tanyaku.

“Gagal, manusia es mana bisa diajak kompromi.”

***

“Gina, ayo kita jajan cilok di kantin!” ajakku.

Tumben lama jawabnya, malah sibuk main gawai terus. Biasanya gerak cepat kalau diajak jajan, saat jam istirahat. Aku bersabar menunggu menjawab pesan dari kekasihnya. Tiba-tiba raut mukanya kesal, pasti ada perselisihan paham antara keduanya.

“Ayo, jajan. Aku mau beli cokelat banyak-banyak.”

“Hemm.. Pasti ada masalah ya sama pacarmu. Terus buat kamu badmood gitu!”

“Iya, nih bete banget!”

Orang kesal malah kalap beli cokelat yang lima ratusan dibeli lima ribu. Begitu lah Gina, teman yang selalu menemaniku dari awal masuk sekolah ini. Jadi, ini tahun ketiga ber sama-sama terus. Aku hapal betul tabiatnya, jika sedang kesal pada siapapun itu. Tak tanggung-tanggung borong jajanan atau makan mukbang. Lalu melampiaskan dengan cara makan semuanya sambil ngedumel. Pasti sudah kebayangkan postur tubuhnya kayak gimana?

Di sisi lain Gina termasuk orang yang baik, ramah dan sederhana. Sehingga aku nyaman banget dekat dia. Selalu sigap siaga menolong bila dibutuhkan.

Pada saat awal kenal, sewaktu MOS atau Masa Orientasi Siswa. Dibimbing oleh kakak kelas, lalu disuruh bawa makanan dan perlengkapan besoknya. Namanya sengaja dianeh-anehkan tapi itu barang yang biasanya ada.

“Pulpen penyangga motor apaan?”

Gina bertanya pada kakak kelasnya, yang aku tanyakan padanya. “Itu loh pulpen hitam merk standar. Banyak kok di warung, kita beli bareng yuk!”

Aku menganggukkan paham. Selama seminggu kita mengikuti agenda MOS. Ada makanan yang sulit ditemukan bisa dicari bersama-sama. Dari situ kita memutuskan untuk sebangku pada ajaran pertama sampai sekarang.

“Cit, tadi selingkuhannya si Dion ngehubungi aku. Katanya minta perhitungan, sebab dia sudah memiliki Dion lebih dulu. Jadi, aku dianggap orang ketiga. Tega banget dia ngekhianati aku. Kurang baik apanya, di kala dia ngga punya pulsa aku isian. Supaya terus berkomunikasi. Dasar cowok brengsek!”

“Saran aku putusin aja!”

“Ngga segampang itu. Aku sudah nyaman sama dia. Dion itu sudah buat aku ceria, nyemangatin sekolah, ngebantuin mengerjakan tugas. Terus lagi dia orangnya tukang gombal tapi bikin lucu. Jarang loh aku nemuin Cowok kayak dia.”

“Terus apa yang mau dilakukan sekarang?”

“Aku juga bingung. Pas selingkuhannya kirim pesan. Malah si Dion nya ngga aktif. Cewek itu kurang ajar banget, dia ngehina kalau gue ini gendut. Padahal ngga kan ya! Cuman berisi aja. Dia tahu darimana sih, dia juga belum tentu cantik. Sampai si Dion mau jadi pacarnya!”

“Kepoin media sosial kali, Gin. Makanya dia tahu. Sabar ya ini ujian!”

“Iya, kali ya, Cit! Tapi foto yang posting di sosmed. Ada satu aja pas pertama jadian tiga bulan yang lalu.”

Bel berbunyi, semua murid masuk ke kelas masing-masing. Suasana kelas masih ribut, bila belum ada guru yang masuk. Cokelat yang dipegang Gina masih ada, setengahnya telah dilahap. Dia memasukkan sisanya ke dalam tas. Siapa tahu pas di rumah akan dilanjutkan lagi rasa galaunya.

“Anak-anak buka buku sejarah halaman 40!” seru Bu Winda, guru mata pelajaran sejarah yang terkenal tegas dengan tugasnya yang seabrek.

Bu Winda menjelaskan pelajaran sejarah tentang kebudayaan Indonesia terutama di daerah Jawa. Aku mendengar dengan baik pelajaran saat ini dengan baik. Meski ada yang belum paham. Nanti bisa dicari lagi jawabannya di rumah, bila sempat.

“Kerjakan tugas pilihan ganda dan essay untuk tugas individu kerjakan di kelas. Lalu tugas kelompok sebagai PR dikumpulkan minggu depan. Buat kliping dalam artikel boleh dalam koran, majalah, atau dalam internet yang di print. Buat satu kelompok lima puluh halaman dijilid.”

Andre mengangkat tangan untuk bertanya. “Bu kelompoknya bebas atau ditentukan?”

Bu Winda langsung menuliskan nama-nama kelompok di papan tulis. Dari empat puluh siswa dibagi delapan kelompok sehingga beranggotakan lima.

“Gawat, malah sekelompok sama si Alysa sama si Caca. Bakal ada perang tugas,” bisik Gina padaku.

“Untung kita bisa satu kelompok.”

Bel pulang berbunyi, semua siswa bersorak ria. Tetapi ibu guru membebani tugas dua di rumah yang tidak sempat selesai. Lalu semuanya berdoa dan meninggalkan kelas.

“Hey, besok kerja kelompok di cafe yang aku tentukan!” timpal Alysa.

“Kok malah ngatur gitu. Seharusnya tanyain dulu pada tiap anggota, pada mau ngga!”

“Sudah biarin, Gin. Terserah dia aja mau dimana?”

“Jangan nurut aja gitu sama orang egois. Kita juga berhak berpendapat.”

Alysa dengan Caca lebih dulu meninggalkan ruangan. Lalu disusul oleh Gina dan aku yang terbelakang. Sebab harus menunggu dulu keredaan emosi Gina.

“Ini lagi cewek biang kerok di kelas, bikin rese. Bisa-bisa aku nambah cokelat lagi selusin. Supaya diri ini tidak kesal lagi,” gerutu Gina di sepanjang jalan.

“Jangan terlalu banyak makan cokelat, nanti gigimu bolong!”

“Bodo amat!”

***

Keesokannya, di hari minggu yang cerah. Aku sudah bersiap untuk pergi ke cafe untuk kerja kelompok. Jarak yang ditempuh cukup jauh dibandingkan sekolah. Gina sudah mulai sabar sekarang. Sebab sudah biasa diatur bila sekelompok sama duo geng rese di kelas yaitu Alysa dan Caca.

Suasananya enak ada taman di belakangnya, terbayar oleh lelahnya perjalanan. Akan tetapi harus lebih bersabar menunggu. Setelah berkeliling beberapa menit, tiba-tiba Gina memicingkan mata dengan tajam. Lalu menghampiri.

“Dion? Kurang ajar kamu cowok pengkhianat dasar. Aku benci sama kamu. Sekarang juga kita putus!”

“Baik, kita putus sekarang. Lagian aku sudah muak sama kamu, manjanya ngga ketulungan. Ayo, Beb. Kita pergi dari sini!”

“Dion  … Dion! Maksud aku bukan gitu.”

“Sudah, Gin. Lelaki banyak yang lebih baik dari dia. Ayo, si Alysa, Caca, sama Dina sudah nunggu di sana.”

“Tapi, Cit!”

“Lelaki bisa didapat lagi, kalau nilai sejarah ngga! Sudah fokus ini dulu.”

Semuanya sudah duduk melingkar di meja bundar. Alysa, Dina dan Caca sudah melihat menu dibandingkan menjelaskan tugas. Sudah nunggu hampir setengah jam, dan waktunya di pakai makan siang dulu. Aku tidak suka membuang-buang waktu dengan jelas. Sudah aku prediksikan pulang cepat sebelum pukul dua belas.

“Citra, Gina. Ayo makan dulu supaya otaknya bisa  fresh bila dipakai mikir,” pinta Dina.

“Aku samain aja menunya dengan Gina,” ucapku. Padahal uang ini seharusnya ditabung buat beli novel. Kalau makan bisa di rumah, masakan mamah lebih enak daripada di sini harganya mahal. Tapi tidak enak kalau tidak makan.

“Kita mulai saja diskusinya, soalnya tidak bisa lama-lama. Kalau terus-terusan ngobrol terus,” ucap Gina yang masih saja kesal.

“So, sibuk banget jadi orang kayak kerja kantoran!” ujar Alysa.

“Semalam aku sudah cari di koran, majalah. Ini posternya. Bagaimana menurut kalian?” tanya Dina.

“Bagus. Aku sama Citra juga sudah ada, tapi ngga banyak sih gambarnya. Nanti kita rangkum saja penjelasannya,” jawab Gina.

“Hati-hati loh kalau copas. Bu Winda orangnya detail banget kalau koreksi tugas. Bisa-bisa tugas kita di sobek dan dihukum mengerjakan lebih banyak lagi.”

“Berarti harus ngeresume dan cantumkan sumbernya. Agar tidak dikira ngejiplak.”

Aku mengangguk saja, dengan pendapat bijak Dina. Bila disandingkan Dina dengan Andre, keduanya saingan nilai dapat juara kelas. Bersyukur ada Dina yang selalu mengemukakan pendapat. Dia pintar banget dengan pelajaran sejarah.

“Alysa sama Caca, mana majalah atau korannya supaya kita satuin dan dihitung lengkapnya,” pinta Gina.

“Hmm.. Aku sudah cari nih di internet. Kan bisa ambil di internet juga, iya kan?”

“Mana print-an nya?”

“Lupa, ngga sempat ke warnet.”

“Punya kamu mana, Ca?”

“Aku belum sempat cari apa-apa dari kemarin.”

“Si Caca baru malam mingguan sama pacar barunya!” ucap Alysa yang membela Caca.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!