Si Paling Sedih
40.4
7
309

Jasmine baru saja putus dengan pacarnya tanpa asalan yang jelas, membuatnya galau dan tidak masuk sekolah. Sekar dan Aria sebagai sahabat ingin menghiburnya dengan mendatangi rumahnya, tetapi Sekar memiliki tujuan lain ketika datang ke rumah Jasmine. Apa yang direncanakan Sekar dan apa alasan Jasmine putus dengan pacarnya?

No comments found.

“Kebangetan banget sih kalo galau sampe seminggu kaya gini!” tutur seorang cewek yang duduk di barisan belakang di sebuah kelas dalam sekolah elit.

“Namanya juga Je! Ketinggalan nyatet mapel B. Indo aja galau, gimana ditinggal pacar kaya sekarang!” respons seorang cowok yang berada di sampingnya namun beda meja.

 

Masuklah seorang pria berambut hitam bercampur uban membawa sebuah tas jinjing kulit berwarna hitam yang berisi sebuah laptop dengan beberapa dokumen. Pria ini berjalan menuju meja yang berada di depan sendiri, lalu meletakkan tas jinjing itu di atas meja, kemudian menarik bangku empuk dan mendaratkan bagian belakangnya di sana.

Para siswa yang sebelumnya gaduh seketika hening dan kembali ke tempatnya masing-masing ketika sang pria berkata, “Ayo berdoa! Tolong pimpin Sekar!”

Before we start studying, let’s pray together, begin!” ucap Sekar seraya seluruh siswa yang ada di kelas menundukkan kepala. Sekar adalah cewek yang baru saja berbicara dengan seorang cowok yang beda meja itu.

Di dalam kelas yang nuansanya full color dari berbagai karya siswa ini, terdapat satu kursi kosong di samping Sekar. Kursi itu milik seorang Putri Mahkota Keluarga William. Sudah satu minggu sang putri tak masuk sekolah dengan alasan rahasia, namun Sekar dan Aria mengetahui alasannya karena merekalah sahabat terbaiknya.

Sang putri mahkota yang bernama Jasmine ini bukan tidak bisa dihubungi, bukan juga tidak diketahui keberadaan rumahnya, hanya saja Jasmine tidak terbuka dengan alasan dirinya tidak masuk sekolah selama seminggu ini.

Selayaknya guru-guru pada umumnya, sebelum memulai pelajaran pastinya akan mengecek kehadiran siswanya dengan memanggil satu per satu dari abjad pertama sampai abjad ke-26 kalau ada.

Satu per satu siswa yang namanya disebut mulai mengacungkan tangan dan mengucap presen sampai akhirnya tak ada respon ketika nama Jasmine William yang dipanggil. “Ada yang tau Je kemana?” tanya guru yang mengenakan name tag bertuliskan Fajar. “Sekar, Aria, kamu tau Je kenapa nggak masuk?” lanjutnya.

Sekar dan Aria bagaikan memiliki sebuah kemistri, dua remaja ini menoleh ke arah masing-masing dan Aria menggerakkan alisnya sebagai isyarat, sementara Sekar hanya memainkan bola matanya.

“Saya kurang tau, Pak. Chat saya belum dibales sama Je,” kilah Sekar.

“Sama, Pak. saya juga nggak dikasih tau kenapa dia nggak masuk sekolah,” sambar Aria.

Setelah Aria menjawab pertanyaan Pak Fajar, Aria pun melirik ke arah Sekar dan melihat sahabatnya sedang mengacungkan ibu jarinya di kolong mejanya sambil tersenyum.

“Oh, oke,” respons Pak Fajar. “Kalau begitu tolong berikan surat ini untuk Je, ya!” lanjutnya seraya mengeluarkan sebuah amplop panjang dari tas jinjing berbahan kulit miliknya.

“Ambil, Kes!” perintah Aria kepada Sekar dengan pelan. 

Sekar pun langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Pak Fajar untuk mengambil amplop yang entah apa isinya itu. Setelah Sekar kembali duduk, pelajaran Sejarah pun dimulai oleh Pak Fajar.

 

Jarum jam terus berputar, pelajaran demi pelajaran pun berganti menyesuaikan jarum jam yang tak berhenti hingga sebuah bel panjang berbunyi tepat saat jarum panjang di angka dua belas sementara jarum pendek jam di angka tiga sore ini. 

Seluruh siswa yang mendengarnya bergegas pergi meninggalkan kelas setelah mengakhiri kegiatan belajar dengan sebuah doa yang dipimpin ketua kelas, kecuali Sekar dan Aria. Kedua sahabat Jasmine ini masih berdiskusi akan melakukan apa, karena Jasmine pasti tidak akan menerima kedatangannya.

“Nih! Lo aja ya yang ke rumah Je!” pinta Sekar yang masih di kelas seraya menyodorkan amplop panjang yang tadi diberikan Pak Fajar.

“Berdua dong, Kes! Masa gue sendirian?” bujuk Aria.

“Gue lagi kesel sama dia!”

“Kesel kenapa sih, Kes?”

“Kesel aja! Soalnya saran gue nggak didengerin!””

“Saran …,” kata Aria bingung.

“Iya. Dia kan curhat, minta saran, tapi sekalinya gue kasih saran, sama dia nggak didengerin! Kesel tau punya sahabat kaya gitu!”

“Nggak boleh begitu, Ah! Dia kan sahabat kita!”

Sekar diam sejenak mencerna omongan Aria yang ada benarnya. Bagaimanapun juga Jasmine adalah sahabat terbaiknya dari dulu. “Terus mau gimana?” tanya Sekar.

“Mikirnya sambil jalan ke luar, Yuk!” ajak Aria seraya melangkahkan kakinya meninggalkan kelas diikuti Sekar.

Belum sampai meninggalkan kelas, seorang teman sekelasnya kembali masuk sambil matanya yang bagai mesin scan sedang menelusuri seluruh area kelasnya tanpa menganggap Sekar dan Aria sebagai manusia. Cowok ini terus ribut tanpa bilang sedang mencari apa, padahal jika mulutnya digunakan untuk meminta tolong, Kedua sahabat Jasmine ini pasti akan menolongnya.

Merasa memiliki empati, Sekar pun bertanya ke temannya yang bernama Bara, “Ada yang ketinggalan, Bar? Mau gue bantuin?” 

“Bacot lo! Urusin aja temen lo si paling sedih itu!” sindir Bara sambil terus sibuk mencari sesuatu.

“Sialan lo! Ngomong sekali lagi!” teriak Sekar.

Sontak Bara membalik tubuhnya dan menatap Sekar dengan sinis. “Temen lo si paling sedih!”

Dengan refleks Sekar segera menghampiri Bara.

“Santai, Kes!” bisik Aria sambil menarik pergelangan tangan Sekar.

“Eh Rakes! Lo pikir gue nggak tau kenapa Je nggak masuk seminggu ini? Satu sekolahan juga tau kalo dia lagi drama!” sergah Bara. “Bilangin sama temen lo itu, nggak usah sok jadi si paling sedih!”

Semakin banyak Bara berucap, semakin panas juga diri Sekar. Genggaman tangan Aria ingin sekali dilepasnya dan mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Bara. namun tenaga Aria lebih kuat.

“Udah nggak usah dengerin dia!” pinta Aria seraya menarik tangan Sekar untuk meninggalkan kelas yang menjadi sumber amarah itu.

Ketika Sekar dan Aria keluar kelas, suasana sekolah sudah sepi menyisakan beberapa siswa yang sedang mengobrol dan menunggu jemputan. Petugas kebersihan pun sudah mulai bekerja membersihkan kelas dan membuang isi tong sampah di berbagai tempat. 

Sekolah tempat Sekar dan Aria menimba ilmu memang tidak ada jadwal piket, seluruh kebersihan sekolah diserahkan kepada penjaga kebersihan yang selalu bekerja sebelum sekolah dibuka maupun setelah kegiatan di sekolah selesai. Termasuk dedaunan di halaman dan lapangan sekolah juga selalu dibersihkan menggunakan sapu lidi panjang dan pengki yang sudah dimodifikasi.

“Kita bawain makanan aja kali ya, Kes?” tanya Aria sambil terus berjalan melewati lorong sekolah.

“Mau bawain apa?” tanya Sekar dengan malas yang berjalan beriringan dengan Aria.

“Nggak tau. Cocoknya apa?” tanya balik Aria sambil melihat Sekar yang sedang menatap ponselnya.

“Jajanan aja kali! Dia kan nggak lagi sakit kaya orang sakit!” ucap Sekar dengan mata yang fokus ke layar ponsel. “Tapi gue nggak ikut patungan ya! Lagi nggak punya uang!”

“Gampang itu mah. Nanti mampir ke Swalayan ya,” pinta Aria.

Iya pasti mau lah! lo kan suka sama Je! Apapun juga lo lakuin!” kata Sekar dalam hati.

 

Sekar dan Aria ke rumah Jasmine menggunakan motor matic milik Aria. tenang saja, Aria selalu membawa helm cadangan di dalam bagasi motornya. Helm itu selalu siap sedia ketika ada hal genting seperti sore ini.

Pertanyaan demi pertanyaan mengenai Jasmine terus terlontar dari mulut Aria selama di atas motor. Namun dari lubuk hati Sekar yang paling dalam, dia malas menanggapinya. Bagaimana tidak, alasan dirinya ada di atas motor bukanlah Jasmine melainkan Aria. Sekar sadar betul kalau Aria menyukai Jasmine dan Sekar juga sadar harus bisa menjadi sahabat yang selalu support.

Gerak-gerik Aria saat memilih camilan adalah bukti cintanya kepada Jasmine. Aria sangat hafal camilan apa saja yang disukai cewek bernama bunga nasional Indonesia itu. Mulai dari keripik kentang, cokelat stik, sampai kue kering berbentuk panda. Sekar pun akhirnya luluh dan mulai membantu Aria untuk mencari pelengkap dari camilannya itu sambil terus menatap layar ponselnya.

“Aria, gue mau ke situ dulu ya!” ungkap Sekar ketika berada di batas rak makanan dengan peralatan mandi sambil tangan kanannya menunjuk salah satu rak di bagian peralatan mandi.

“Oh oke, Kes. Nanti ketemu di kasir aja ya!” jawab Aria seadanya.

Sekar pun memisahkan diri dengan Aria tanpa bilang mau beli apa. Sementara Aria melanjutkan mengelilingi rak makanan sambil berpikir ingin membelikan Jasmine makanan apa lagi.

Kurang lebih sepuluh menit perpisahan antara dua sahabat ini di dalam Swalayan. Aria yang sudah bingung membeli apa lagi pun memutuskan untuk menyudahi belanjanya dan menuju kasir. Sesampainya di area kasir sebelum mengantre, Aria mengedarkan pandangannya ke seluruh Swalayan untuk mencari keberadaan Sekar namun tak terlihat.  Alhasil Aria putar balik dan mencari Sekar agar segera menyudahi belanjanya lalu melanjutkan perjalanan.

Pemandangan yang tak biasa pun terlihat oleh cowok yang sedang membawa keranjang belanja itu. Dengan jelas Aria melihat Sekar sedang mengobrol santai bersama Awan, mantan pacar Jasmine tanpa memegang satupun peralatan mandi yang hendak dibelinya tadi.

“Eh, Rakes! Lama banget lo!” keluh Aria ke Sekar ketika dirinya dan Sekar berjarak dua meter. “Eh, Wan. Lagi ngapain?” lanjutnya dengan senyuman sok akrab.

Sorry banget gue lupa. Ini si Awan lagi nemenin bokapnya belanja dan pas banget ketemu,” jawab Sekar seraya menyentuh bahu kiri Awan. “Ya, kan, Wan?” lanjutnya sambil menatap Awan dengan senyuman yang secara jelas terlihat canggung.

“Iya. Tadi bokap gue nyuruh ngambil tisu basah. kebetulan banget ketemu Rakes,” jawab Awan sambil melirik ke arah kirinya yang malah terlihat janggal bagi Aria.

“Kebetulan banget ya?” tanya Aria sok ramah ke Awan.

“Iya nih. Btw lo mau kemana? Sampe beli makanan banyak banget?” tanya Awan seraya matanya menatap keranjang di tangan kanan Aria.

“Kita mau kerja kelompok. Soalnya kalo gue harus banyak makanan biar otaknya bisa kerja,” jawab Aria diakhiri tawa. “Yang lo cari udah ketemu, Kes?” lanjutnya bertanya.

“Nggak jadi. Nggak ada yang gue mau,” jawab Sekar kikuk.

“Oh gitu. Ada lagi nggak yang mau dibeli?” tanya Aria ke Sekar sambil menganggukkan kepalanya cepat.

“Nggak ada. Kapan-kapan aja,” jawab Sekar.

“Kalo nggak ada, Yaudah yuk! Nanti kemaleman pulangnya!” ajak Aria.

“Ayo, Ayo!” respons Sekar. “Gue tinggal ya, Wan!” lanjutnya ke Awan sambil menjulurkan tinjunya.

“Iya, Iya,” jawab Awan seraya menyambut tinju Sekar sebagai salam perpisahan.

“Duluan ya, Wan!” ungkap Aria sambil menjulurkan tinjunya juga.

“Oke. Hati-hati ya!” jawab Awan seraya menyambut tinju Aria.

Aria tidak jadi melangkah, “Anyway baju lo rapi banget? Mau kemana?” tanya Aria ke Awan yang sedang mengenakan kemeja hitam dilapis jaket yang dipadukan dengan celana denim hitam dan sepatu kets.

“Udah-udah! Malah jadi Ivan Gunawan lo! Ngomentarin baju orang! Katanya nggak mau kemaleman pulangnya! Ayo ke kasir!” ajak Sekar sambil menarik tangan kiri Aria untuk segera meninggalkan rak peralatan mandi.

Sebenarnya Aria tidak memedulikan orang yang telah membuat Jasmine patah hati itu, dirinya baru saja terpikir mengapa Awan tidak pakai seragam sekolah di waktu yang seharusnya tidak cukup untuk berganti pakaian terlebih dulu. Kecuali Awan memang tidak bersekolah hari ini. “Mencurigakan banget!” ucap Aria dalam hati sambil berjalan menuju kasir dengan keranjang belanja di tangan kanannya. Disusul Sekar yang kini kembali membuka aplikasi berkirim pesan di ponselnya sambil beberapa kali menoleh ke arah belakang.

Dari sekian banyak mesin kasir yang berjajar, hanya tiga yang ada penjaganya. Aria dan Sekar memilih yang posisinya di paling ujung karena mesin kasir itu lah yang melayani untuk pembelian barang di bawah sepuluh. Bayangkan jika Aria mengantre di barisan lainnya, mungkin membutuhkan waktu dua puluh menit untuk menunggu beberapa troli penuh barang selesai dikalkulasi. Belum lagi jika mesin pemindainya tidak bisa mendeteksi barang ataupun sang kasir hanya bekerja sendiri, pasti akan lebih lama karena pekerjaannya jadi semakin banyak. Membayangkannya saja sudah malas kan?

Selama menunggu seorang bapak yang sedang membayar popok dewasa ukuran besar, pandangan Sekar hanya tertuju pada layar ponselnya. Aria tidak dapat melihatnya karena Sekar berada di titik butanya. Sekar berada di luar antrean kasir dengan tubuh menghadap dirinya. “Anjir! Gue pengen banget liat dia chatingan sama siapa!” kata Aria masih dalam hati.

“Udah?” tanya Sekar basa-basi ketika Aria selesai membayar dan mengantongi struk belanja itu ke dalam saku belakang celana sekolahnya.

“Udah. Yuk!” respons Aria sambil sesekali mengintip layar ponsel Sekar dari atas.

Aria memiliki tinggi 180 sentimeter sementara tinggi Sekar hanya 168 sentimeter. Seharusnya akan ada momen layar itu terlihat oleh Aria karena pandangannya dapat digunakan untuk mengintip isi ponsel sahabat yang sedang mencurigakan ini.

 

Semilir angin yang bertiup melewati sela seragam Aria selama mengendarai motor adalah bukti cerahnya senja ini. Dari sekian banyak kendaraan yang berseliweran, sama sekali tidak membuat kedua sahabat ini terlambat datang. Walaupun sebenarnya mereka berdua tidak membuat janji apapun dengan Jasmine.

Motor matic yang setia menemani Aria selama dua tahun kurang itu pun berhenti di sebuah rumah berpagar tinggi dengan tanaman rambat yang memenuhi dinding luar. Rumah ini tampak kosong dari luar saking tertutupnya. Namun setelah Sekar menekan bel beberapa kali, keluarlah seorang penjaga keamanan membukakan pagar dan mengizinkan tamu majikannya untuk masuk.

Sekar dan Aria sudah sangat akrab dengan Pak Ilyas, sang penjaga keamanan. Bagaimana tidak, kedua remaja yang masih mengenakan seragam sekolah ini sudah puluhan kali datang bertamu dan menghabiskan waktu bersama Putri Mahkota Keluarga William. Walau sepertinya sore ini Pak Ilyas tidak tahu kalau Sekar dan Aria adalah tamu tak diundang.

Saking seringnya bertamu, Sekar dan Aria sudah sangat hafal seluk-beluk rumah besar nan megah ini. Bukannya masuk lewat pintu depan, Sekar dan Aria malah mengitari halaman dengan hamparan rumput hijau menuju area kolam renang. Tepatnya di sebuah kursi rotan bulat berwarna putih.

Benar saja, di atas kursi rotan yang di atasnya terdapat bantal putih sebagai alas duduk, ada seorang cewek yang sedang mengenakan setelan sweater oversize berwarna abu-abu sedang memainkan ponsel. Ketika Sekar dan Aria semakin dekat, cewek ini pun sadar dan spontan berlari masuk rumah berpintu kaca itu.

“Je!” seru Aria dari area kolam renang yang berdampingan dengan Sekar.

“Gue lagi nggak mau ketemu sama lo berdua!” respon Jasmine dari dalam rumah dengan pintu kaca yang terkunci.

“Jadi lo masih drama?” celetuk Sekar.

“Kes! Jangan gitu ah!” tegur Aria.

“Biarin! Biar dia tau kalo attitude-nya itu nyebelin!” bantah Sekar dengan penuh emosi.

Jasmine hanya terdiam di dalam rumah sambil memalingkan pandangannya dari kedua sahabatnya dan mulai berpikir.

“Kita bisa nggak sih ngomong langsung tanpa ada batas pintu kaca ini? Kita sahabatan kan?” pinta dan tanya Aria ke Jasmine.

“Sebentar, ada telepon penting,” sela Sekar seraya melangkah agak menjauh demi privasi.

Kurang lebih sudah satu menit semenjak Sekar berbicara via ponselnya, berarti satu menit pula Jasmine mengunci dirinya di dalam, sementara Aria terus melirik ke Sekar dan berbisik ke Jasmine, “Yang nelpon Rakes si Awan, barusan gue liat siapa yang nelpon. Tadi juga dia ngobrol sama Awan di Swalayan pas kita beli ini,” seraya mengangkat kantong belanjaan yang penuh dengan camilan. 

Jasmine pun membuka pintu kaca itu secara perlahan karena menurutnya, sahabat tetaplah sahabat. Tidak mungkin terus menutup diri dan bisikan Aria sangatlah butuh sebuah klarifikasi. Hubungannya kandas tanpa alasan yang jelas, dan mungkin saja Sekar adalah jawabannya.

Setelah Jasmine keluar dari pintu kaca dengan tatapan nanar, “Nih terima!” ucap Aria sambil memberi kantong yang dipegangnya dari tadi.

Thank you, Ia. Gue nggak akan bisa hidup tanpa lo!” ungkap Jasmine.

“Gue tau omongan lo nggak tulus. Bukan karena gue kan? Tapi karena arti nama gue? Gue tau banget! Udah basi!” gumam Aria.

Seketika Jasmine pun tersenyum simpul mendengar sahabatnya menggerutu, “Ya kan Aria artinya udara dan gue nggak akan bisa hidup tanpa udara!” canda Jasmine.

“Atur aja lah, Je! Basi!” jawab Aria dengan malas walau sebenarnya agak terbawa perasaan.

“Tapi bener dia abis ngobrol sama Awan? Kok gue curiga ya?” kata Jasmine sambil melirik Sekar yang sekarang kembali mendekat.

“Harus diabisin ya, Je!” ucap Sekar ketika sudah saling berhadapan.

“Ini?” tanya Jasmine sambil mengangkat kantong belanja itu.

“Iya lah! Apa lagi?” jelas Sekar sambil menatap ponselnya yang baru saja berbunyi tanda pesan masuk. “Oiya, Ada surat dari Pak Fajar.”

Aria dengan sigap melepaskan ranselnya dan membuka salah satu ritsleting dan mengeluarkan sebuah amplop yang entah isinya apa.

“Paling pemanggilan orang tua. Btw thank you, ya!” ungkap Jasmine. “Di kamar aja yuk!” lanjutnya.

Ketiga remaja ini pun masuk ke dalam dengan Jasmine yang memimpin jalan, disusul Sekar dan Aria yang paling belakang. Ketiga remaja ini menaiki tangga melingkar untuk sampai kamar Jasmine yang bernuansa putih. Keluarga William sedang tidak ada di rumah, hanya Jasmine dan beberapa pekerja yang ada, itu pun entah dimana keberadaannya. 

Ketika sekar membuka pintu kamarnya di lantai dua, terlihat dengan jelas bukti dari betapa galaunya Jasmine. Terlihat dari seprai yang berantakan, laptop yang dibiarkan terbuka dengan beberapa novel di atas meja belajar, tong sampah yang penuh dengan kemasan makanan, dan debu-debu halus di seluruh lantai kamarnya.

Sorry berantakan! Mbak Ruby lagi pulang ngerawat ibunya,” jelas Jasmine seraya memersilahkan kedua sahabatnya masuk.

“Udah berapa lama Mbak Ruby pergi?” tanya Sekar.

“Baru kemarin sih, Kes,” jawab Jasmin singkat.

“Lo stres ya, Je?” tanya Sekar lagi sambil terus membuka aplikasi berkirim pesan. “Ini kebangetan berantakan kalo cuma ditinggal sehari!” lanjutnya sambil mencoba memotret kamar Jasmine yang awut-awutan.

Seketika Aria berjalan mendahului Sekar dan berdiri di samping Jasmine. “Kayanya lo yang stres deh, Kes!” seru Aria. “Ngapain lo nge-pap kamar Jeje ke Awan?” lanjutnya membentak Sekar.

Paras Sekar seketika berubah 180 °C, yang awalnya masih pura-pura simpati, kini menjadi sangat menyebalkan dengan tangan yang dilipat di depan dada.

“Jangan-jangan lo adalah orang dibalik putusnya Jasmine dan Awan?” bentak Aria.

“Lo gila ya!” bentak balik Sekar.

“Tega banget lo, Kes!” kini giliran Jasmine yang membentak.

“Sini hape lo!” perintah Aria sambil merebut ponsel Sekar namun gagal.

“Nggak usah sok paling sedih, Je! Masalah cinta lo masih nggak seberapa! Masih banyak orang yang masalahnya lebih dari lo!”

Jasmine hanya bisa menatap Sekar dengan mata sayu sambil memompa kembali air mata yang sudah kering. Dan seketika itu juga Aria berhasil mengambil ponsel Sekar dan membaca pesan demi pesan yang dikirimnya ke Awan.

Setelah dua puluh detik Aria membaca percakapan di kolom pesan itu. “Udah?” tanya Sekar ke Awan. “Nemu jawabannya?” lanjutnya.

“Lo tega, Kes!” kata Jasmine yang air matanya sudah lolos. “Sebenernya lo sahabat gue bukan sih? Kenapa lo giniin gue?” lanjut Jasmine makin sedu. 

“Je,” kata Aria sambil menatap Jasmine dengan penuh perasaan.

Jasmine pun menatap balik Aria yang lebih tinggi darinya, “Kenapa, Ia?”

“Lo udah tau kan kenapa gue chattingan sama Awan?” tanya Sekar dengan sinis sambil merebut kembali ponselnya. “Gini Je. Gue memang chatiingan sama Awan, bahkan dari dua bulan yang lalu. Tapi bukan mau ngerebut dia dari lo! Justru gue bantuin hubungan lo!”

“Stop, Kes!” pinta Jasmine.

“Gue nggak tau lo udah tau atau belum kalo orang tuanya Awan baru divorce. Dan apa lo tau? Awan harus ikut bokapnya ke Samarinda nanti malem?” jelas Sekar.

Aria yang sudah membaca pesan Sekar dengan Awan sekilas mulai paham situasinya namun tidak berkomentar, melainkan mencoba memberikan sandaran untuk Jasmine yang mulai goyah.

“Gue chattingan sama dia karena dia khawatir sama lo! Satu sekolahan juga tau kalo lo nggak masuk sekolah karena galau abis putus sama dia!” jelas Sekar. “Barusan dia minta PAP, nelepon gue, sampe nemuin gue di Swalayan, cuma buat mastiin keadaan lo! Sebelum dia pergi.”

“Kenapa dia nggak cerita, Kes?” tanya Jasmine ke Sekar. “Kenapa dia ceritanya ke lo?”

“Kata dia, dia cerita ke gue karena cuma gue yang akan lo terima sebagai sahabatnya. Lo pasti akan terus nutup diri dan merasa paling sedih! Padahal menurut gue, justru Awan yang paling sedih. Bukan cuma rasa cinta ke lo yang hancur, tapi keluarganya juga.”

“Maafin gue, Kes. gue sama sekali nggak sadar kalo kesedihan ini masih nggak ada apa-apanya dibanding dia,” ungkap Jasmine.

“Gue juga minta maaf, ya, Je! Maafin karena gue ngebentak lo dan baru bilang hal ini. Kalo lo pikir ini adalah akhir, lo salah, Je!

Jasmine hanya bisa diam.

“Jangan terus merasa diri lo si paling sedih, Je! Karena sebenernya yang terlihat bahagia itu yang punya masalah,” kata Sekar ke Jasmine. “Gue mau nanya ke lo, Ia,” lanjut Sekar.

Aria tidak berkomentar, hanya menatap dalam mata Sekar dan mengangguk pelan.

“Lo pasti bakal peduli ketika ada orang sedih kan?” tanya Sekar. “Kaya Je ini!”

“Iya.” jawab Aria singkat.

“Apa lo bakal peduli ketika ada orang yang keliatannya bahagia?”

“Kayanya nggak,” jawab Aria setelah berpikir beberapa saat.

“Padahal?” tanya Sekar. 

Aria hanya mengangguk pelan ketika mengerti maksud Sekar.

 

“Kita harus bisa kuat kaya Awan. seberapa bahagianya dia, seberapa sedihnya dia, dan seberapa marahnya dia, dia tetap terlihat tegar dan punya batasnya sendiri.”

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!