Siapa Pelakunya?
6.1
0
49

Di usia sembilan tahun anak laki-laki bernama Rey dibully teman sekolahnya sehingga dia belajar bela diri. Saat dewasa, beberapa preman datang menghampiri rumahnya yang membuat ayah Rey masuk ke dalam penjara disusul Ibu, Nenek dan Kakeknya meninggal dunia. Pada akhirnya, Rey menjadi seorang polisi dan berhasil membebaskan ayahnya.

No comments found.

SIAPA PELAKUNYA?

 

Tepat malam hari, hujan mengguyur deras di kota kelahiranku. Seorang wanita berusia 32 tahun dan seorang pria berusia 35 tahun menantikan kehadiran malaikat kecilnya. Saat bayi itu lahir, dia menangis kencang dengan diiringi derasnya hujan dan suara petir. Para perawat menutup telinga mereka, seakan tangisan ini adalah petaka untuk kedua orangtua tersebut. Malaikat kecil itu adalah aku. Rey. Sebuah nama yang indah. 

Semenjak memasuki sekolah dasar, aku mulai dibully oleh teman-teman sekelasku. Mungkin karena pakaian yang kukenakan terlihat kumuh. Namun, aku tetap diam, tidak membalasnya, dan tidak menceritakan kepada keluargaku. Aku terlalu iba untuk melihat kondisi orangtuaku. Mereka bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Saat mereka bekerja, aku tinggal bersama kakek dan nenek.

Setiap kali aku pulang ke rumah, nenek tidak pernah menanyakan kabarku di sekolah. Wajahku terluka pun, beliau hanya mengobatinya lalu mengerjakan pekerjaan yang lain. Kakek bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Namun, beliau selalu dihormati oleh orang-orang di kotaku. ‘Apakah kakek terkenal?’ pikirku.

*** 

Menginjak sekolah menengah atas pun aku masih saja dibully karena badanku yang kecil dan kurus. Kala itu, aku menjadi kacung si Ketua Gengster. Seringkali aku disuruh membelikan minuman, makanan, peralatan sekolah, bahkan memijatnya. Karena aku muak dengan semua ini, akhirnya aku mulai belajar bela diri ketika naik ke kelas sebelas. Aku lelah dibully dan disiksa terus oleh teman-temanku yang pandai bergulat, tapi tidak pandai dalam bidang pelajaran sekolah. 

Aku memiliki artis idola, yaitu Jackie Chan. Selain tampan, dia juga pandai dalam segala hal. Tenang menghadapi orang-orang yang menghinanya. Aku ingin sepertinya. Itulah sebabnya aku belajar bela diri dan berusaha menjadi siswa berprestasi demi keluargaku. 

Ketika aku kelas dua belas, aku tidak menjadi kacung lagi — bahkan kini menjadi siswa yang di hormati — dan saat itu ada adik kelas yang menjadi sok jagoan di kelasnya. Ketika aku mengetahuinya, mereka mencoba untuk memukul siswa kelas sepuluh hanya karena permasalahan sepele.  

“Hei, kalian. Berhenti! Minggir, gak!” teriakku.

 

“Oh, siswa kelas dua belas. Kalau aku gak mau minggir, kenapa? Masalah buat kamu?” Salah satu dari anak-anak kelas sebelas itu mulai menantangku. Rupanya, dia adalah ketua geng mereka.

Aku sangat tidak suka dengan siswa ingusan yang berlagak sok jagoan dan tidak ada sopan santunnya saat berbicara kepada orang yang lebih tua. Dengan cepat tanganku meninju ketua geng itu.

“Plak!” 

Dia pun membalasku dengan pukulannya, tapi sayang, pukulan itu bisa aku tangkap dan kuberikan dia senyuman sinis.

Sejak itu, aku mulai pandai berkelahi dan pandai dalam segala hal seperti artis idolaku, Jackie Chan.

Masih terekam jelas di memoriku, sampai detik ini, pembulian yang mereka lakukan ketika usiaku menginjak sembilan tahun hingga SMA.

Karena mereka, kini aku lebih kuat dan bisa melindungi keluargaku dari orang-orang tak beradab, serta tak sedikit pun diri ini memikirkan yang namanya asmara. Entah, aku ini pria atau bukan. Semenjak SMA banyak siswi yang menyukaiku, tetapi aku tetap saja memasang wajah cuek dan sok keren di hadapan mereka.

***

 

Ketika aku kuliah, permasalahan yang aku alami tak berhenti sampai di sini — para rentenir menghampiri kedua orangtuaku. Dari bilik pintu kamar tidur, aku mendengarkan percakapan mereka. 

“Lunasi utang-utangmu beserta bunganya. Jika tidak, rumah ini akan aku sita!” ancam rentenir itu kepada kedua orangtuaku. 

Ayah dan ibuku memohon dengan memegang kaki salah satu rentenir itu untuk memberi batas waktu selama satu tahun. Para lintah darat itu pun mengabulkan permohonan kedua orangtuaku. Mendadak di benakku muncul sebuah keinginan untuk mencari pekerjaan sampingan. Setelah rentenir itu pulang, aku berpamitan ke luar rumah guna untuk mencari informasi apakah ada lowongan pekerjaan.

*** 

Aku kuliah di kepolisian mengambil unit Sat-Reskrim (Satuan Reserse Kriminal). Kebetulan saat kelulusan, aku mendapatkan nilai terbaik. Sambil menunggu panggilan dari kantor kepolisian, aku mulai mencari pekerjaan sampingan. Akhirnya, tidak ada seminggu aku mendapat pekerjaan sebagai satpam yang berjaga di sebuah bank ternama. 

Dengan gaji yang cukup, aku sisihkan untuk membayar utang keluargaku. Beberapa bulan kemudian, di depan rumah ada sepucuk surat terbungkus rapi. Aku membukanya sepulang kerja. Setelah membacanya, aku bahagia kegirangan — aku akan menjadi seorang polisi di bagian Sat-Reskrim. 

“Bagaimana dengan pekerjaan sampinganku?” Aku mulai bimbang. Akankah aku tinggalkan pekerjaan lamaku? Baiklah, besok aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan itu. 

Akhirnya, Kepala Bank tersebut menerima surat pengunduran diriku. Kini, saatnya aku fokus pada pekerjaan yang baru, yaitu sebagai polisi. 

***

Ketika aku diterima di kepolisian, hari itu mulai disibukkan dengan banyaknya kasus kriminal. Aku harus mencari beberapa bukti di dalam kasus ini. Akhirnya, dengan cepat, aku menemukan bukti yang dibutuhkan oleh para polisi. Karena pekerjaanku yang kompeten, maka aku di gaji dua kali lipat. Saat menerima uang itu, aku menangis dengan tersedu-sedu dan memeluk uang yang masih tersimpan di dalam sebuah amplop coklat. Aku segera pulang ke rumah. Kebetulan hari itu aku libur tidak bekerja.

*** 

Tepat di depan rumah, aku turun dari sepada motor dan bertanya-tanya, “Mobil siapa, ya, ini. Banyak sekali? Ah, bodoh amat.” Segera aku berjalan dengan cepat dan wajahku tak henti tersenyum lebar. Begitu senangnya aku yang akan memberikan gaji pertamaku kepada mereka. Akan tetapi, sayang, wajahku yang terlihat semangat, dan kegirangan, berubah menjadi serius. Sial! para rentenir itu datang terlebih dahulu daripada aku! Beberapa peralatan rumah berada di luar. Aku melihat tangan ketua rentenir itu mencoba untuk memukul ayah. Aku segera berlari sambil melempar sebuah vas ke arah para rentenir. Mereka semua terkejut dan menoleh ke arahku.

“Hentikan!” teriakku. Mereka semua tercengang melihatku. Aku berjalan memasuki rumah menuju ke arah ketua rentenir.

 

“Oh, ini Rey, anak kamu. Sudah besar, ya, sekarang. Kamu mau melunasi utang keluargamu?” tanya lembut ketua rentenir itu  dengan menepuk pipi kananku. 

“Aku akan melunasi utang keluargaku secara perlahan,” sahutku dengan mengeluarkan amplop yang berisikan uang gajiku. Ketua rentenir itu mengambilnya dan menghitung jumlah uang yang kuberi. 

“Bagus, kamu sungguh anak berbakti. Baiklah, akan aku kasih waktu agar kalian bisa melunasinya.”

 

Para rentenir itu langsung meninggalkan kami. Syukurlah, keluargaku tidak ada yang terluka. 

 

***

 

Keesokan harinya, aku kembali ke asrama kepolisian. Setiap hari aku tidur di sana dan hanya bisa pulang beberapa bulan sekali.

 

Setiap aku memiliki penghasilan, kuberikan sebagian kepada rentenir itu untuk melunasi utang keluarga. Syukurlah, utang itu lunas. Rasanya lega dan merdeka dari utang. Akan tetapi, masalah itu masih berlanjut. 

 

Saat itu, aku sedang libur dinas. Entah berita apa yang membawa para polisi datang kemari dengan membawa surat penangkapan ayahku. Katanya, beliau menerima uang suap. Aku beserta keluarga tidak mempercayainya. Ayahku dengan pasrah menerima tuduhan itu. Ibuku menarik tangan polisi itu dengan memohon. “Jangan bawa suamiku, dia tidak bersalah. Tolong jangan bawa suamiku ….” Tangisan ibuku pecah. Aku tidak tega melihatnya. 

 

“Tenang, Ayah. Anakmu adalah seorang polisi. Aku memiliki banyak teman polisi. Aku akan mencaritahu tentangmu,” batinku. 

 

Selama ayahku di penjara, aku mencari bukti yang kuat untuk membebaskan beliau. Akan tetapi para preman lainnya  datang.

 

 Masalah belum selesai, eh, datang masalah baru.

 

Kali ini ada beberapa preman datang ke rumah dengan emosi. Mereka menghancurkan barang-barang yang ada di rumah dengan mengatakan, “Suamimu telah berjanji kepada kami dan telah menerima uang dari kami, tetapi dia mengingkarinya. Sampai sekarang aku tidak melihat suamimu!” teriak salah satu preman itu kepada ibuku dengan nada tinggi. 

 

“Ayahku dipenjara. Kau bisa menemuinya di sana,” jawabku. Karena ibu sepertinya takut untuk menjawab, akhirnya aku buka suara. Seorang preman tiba-tiba mengampiriku. 

 

“Oh, ini yang namanya, Rey. Baiklah, kamu saja yang akan menggantikan ayahmu. Besok datanglah ke tempat kami dan jangan menghubungi polisi.” Seorang preman itu berbicara dengan gaya kedua tangan diletakkan di kedua pinggangnya dan memberikan alamat pertemuanku dengan mereka. 

 

Ayah melakukan perjanjian apa dengan mereka, dan tidak boleh memanggil polisi? Wah, ada yang tidak beres ini …. 

 

*** 

 

Keesokan harinya, aku mendatangi tempat preman itu. Lokasinya berada di sebuah gudang yang teramat luas. Aku tidak melihat bos mereka, tetapi yang kulihat hanyalah beberapa tas koper dan banyak orang berbaris rapi. Entah apa yang mereka lakukan. Sebelumnya aku telah menghubungi teman kerjaku sesama polisi. Aku menyuruh mereka untuk mengikutiku dan menyamar dengan melihat dari jarak jauh. 

 

Aku membuka koper itu. Aku terkejut! Begitu banyak jenis narkoba, tetapi yang ada di koper itu adalah jenis sabu-sabu. Sepertinya mereka mengedarkan ini. Memperjualbelikannya. 

 

Kami mengikuti instruksi dari preman itu untuk mengantarkan koper-koper itu ke sebuah pelabuhan. 

Di rumah, beberapa preman telah mengikat keluargaku. Jika aku memanggil polisi maka nyawa keluargaku akan melayang. Begitulah ancaman mereka padaku. Jadi, aku meminta bantuan lagi ke teman polisiku untuk menyamar. Mereka berpura-pura menjadi saudara jauh yang baru saja tiba. Namun, mereka hanya bertemu dengan preman itu dan tidak melihat keluargaku berada di mana. Mereka hanya mendengar suara teriakan yang ditahan, seakan mulutnya di tutup oleh sesuatu. 

 

Preman itu menghampiri temanku, seakan dia adalah saudara pemilik rumah tersebut. Lalu salah satu preman itu mengatakan,”Maaf, pemilik rumah ini sedang bekerja. Saya saudara dari pemilik rumah.” 

Mereka tidak mengetahuinya bahwa tamu itu adalah para polisi yang sedang menyamar dan pembicaraan mereka kami rekam. 

Aku mendengarkan percakapan mereka bersama rekan polisi di sebuah mobil. Setelah itu aku menuju gudang tempat persembunyian para preman.

 

*** 

 

Setelah dari gudang, aku beserta para preman dan orang-orang yang tak kukenal pergi ke sebuah pelabuhan. Di susul dengan teman rekanku yang diam-diam mengawasiku dari jarak jauh.

 

Di sana ada kapal besar dan turunlah beberapa preman yang lainnya. Ada pula yang turun dari truck box besar dengan mengeluarkan kotak-kotak besar yang berisikan ikan. Aku memberikan koper itu kepada mereka lalu membantu menurunkan kotak-kotak itu. Aku melihat di bawah ikan tersebut terdapat beberapa sabu-sabu. Sepertinya mereka melakukan jual-beli di sebuah pelabuhan. Baiklah, saatnya bertindak untuk menangkap mereka semua dengan keahlian bela diriku dan bantuan dari teman-temanku. 

 

Aku memberi aba-aba kepada teman polisiku yang mengawasi kami dari kejauhan. Lalu, polisi-polisi itu mulai bergerak. Akhirnya, para preman semua tertangkap. Begitu juga dengan polisi yang berada di rumahku menangkap semua para preman. Keluargaku terselamatkan untuk kedua kalinya.

 

Setelah peristiwa penangkapan para pengedar sabu-sabu, aku kembali bekerja dan tidur di asrama kembali. 

 

*** 

Lima tahun kemudian aku kembali pulang namun keluargaku tidak ada di rumah. Aku bertanya kepada tetangga. Mereka mengatakan bahwa mereka telah tiada. Seminggu yang lalu ibuku meninggal, dua minggu kemudian kakek dan nenek meninggal. 

 

“Apakah ada yang bertamu ke sini?” tanyaku dengan curiga.

 

“Iya, ada. Seorang pria dengan beberapa temannya. Kurang lebih lima orang. Aku kira saudara jauh,” jawab tetangga itu.

 

“Setelah mereka pulang, apakah keluargaku baik-baik saja?”

 

“Iya. Selang dua hari dari kepergian tamu tersebut ibu kamu sakit-sakitan lalu meninggal dunia. Begitu juga kakek dan nenekmu. Selang dua minggu mereka meninggal dunia.” jelas tetanggaku. 

 

“Apakah polisi sudah kemari?” tanyaku. 

 

“Iya, mereka mengatakan bahwa keluarga kamu meninggal karena sakit kanker.”

 

“Oh. Baik. Terimakasih.” jawabku singkat. Aku curiga dengan peristiwa ini, ibu dan kakek serta nenekku tidak ada riwayat sakit sebelumnya. 

 

Aku yang baru saja tiba di rumah, hanya bisa meratapi kesedihanku. ‘Kenapa waktu itu tidak aku paksa saja untuk tinggal di rumah dinas?’ Aku berjalan menuju foto keluargaku, aku peluk foto itu. Kemudian, aku membuka pintu kamar ibu, teringat jelas kenangan bersama beliau. Setelah itu, aku membuka pintu kamar kakek dan nenek. Begitu sayangnya mereka terhadapku. Aku merindukan mereka. Ketika aku pulang ke rumah, ibu selalu menyiapkan makanan untukku, nenek membersihkan tempat tidurku, sedangkan kakek selalu mengajakku bercerita tentang keseruannya menjual ikan di pasar. Aku masih tidak percaya, bahwa kini aku seorang diri di rumah ini, sedangkan ayah masih berada di dalam penjara. “Suatu saat jika ayah telah bebas, aku akan mengajak beliau tidur di rumah dinas bersamaku,” janjiku dalam hati.

Namun, saat aku pergi ke kamar ibu, nenek dan kakek. Ada sesuatu yang membuatku curiga, aku  melihat di sana terdapat sebuah vas berisikan bunga terletak rapi di sebelah kasur ibuku, sedangkan di kamar kakek dan nenek terdapat difusser yang terletak di atas lemari. ‘Apakah ini dari tamu itu?’ pikirku.

 

“Entah, dibenakku tiba-tiba muncul pikiran bahwa aku tidak mempercayai polisi-polisi itu.” 

 

Keesokannya, aku melakukan penyelidikan ulang dengan menelepon temanku yang bekerja sebagai tim forensik untuk memeriksa benda aneh tersebut. Tiba di rumah, aku berikan kedua benda tersebut kepada mereka dan aku harus menunggu hasilnya sekitar satu atau dua minggu.

Selang dua minggu hasil dari tim forensik pun muncul. Alhasil, dua benda tersebut memiliki racun yang mematikan secara perlahan. Seketika itu badanku terasa lemas, badan ini seakan membutuhkan sandaran. Air mata keluar begitu saja tanpa kuminta.

 

“Siapa yang membunuh keluargaku? Apakah mereka memiliki dendam ke keluargaku? Aku berjanji akan menangkap mereka semua demi ibu, kakek, nenek beserta ayah yang telah difitnah oleh seseorang!” batinku kesal.

 

*** 

 

Setelah itu, aku kembali ke asrama dan meminta izin ke kepala bagian untuk menyelidiki kasus yang  kualami. Akhirnya, beliau mengizinkanku dan memberikan bala bantuan kepadaku dengan mengeluarkan beberapa polisi dalam penyelidikan kasus ini.

Aku akan membalas semua perbuatan para pembunuh itu, tetapi tidak melalui kekerasan ataupun pembunuhan. Karena meskipun mereka orang jahat, kami tetap satu warga, satu suku dan banyak sekali keberagaman untuk menunjukkan bukti yang sebenarnya kepada hakim.

 

Aku bersikeras mencari bukti mengenai kasus ayahku melalui rekan polisiku di kepolisian lain. Akhirnya mereka dapat menangkap beberapa para rentenir dan pengedar narkoba yang masih berkeliaran dan membawanya ke kantor polisi milik seorang teman bernama Joy.

Dengan begitu, aku akan mudah mencari tahu siapa yang telah membunuh keluargaku dan memfitnah ayahku. 

 

*** 

 

Dari penangkapan para rentenir dan pengedar narkoba, Joy melakukan interogasi di sebuah ruangan dan beberapa jam dia mendapatkan titik terang dari jawaban mereka. Aku sebagai korban pun ikut di interogasi, tetangga sebagai saksi mata ikutan di interogasi.

“Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?” tanya Joy kepada para preman itu. Akan tetapi mereka hanya diam ketakutan.

 

“Kenapa kalian diam? Apakah ada yang kalian takutkan?” tanya dia balik.

 

“Kami memiliki ketua gengster yang sangat kejam, jika aku membuka mulut, dia akan membunuhku.” jawab seorang pengedar narkoba. 

 

“Tenang, aku akan segera menangkapnya. Percayakan kepada kami.”

 

“Dia adalah Bima. Bos Bima.” jawab tegas seorang rentenir.

 

“Apakah dia juga menyuruh seseorang untuk melakukan motif pembunuhan dan melakukan suap kepada seseorang?” lanjut Joy. 

 

“Iya.” jawab seorang rentenir dengan menganggukkan kepala.

 

“Bos Bima tidak melakukan suap apapun, dia hanya ingin mencelakakan seseorang tersebut. Jadi ini semua adalah rencana bos kami,” lanjut seorang pengedar narkoba

 

Hingga akhirnya kami menemukan tempat persembunyian para penjahat itu.

 

***

 

Tak kusangka, selang seminggu sebelum persidangan, aku menemukan bukti kuat bahwa ayahku tidak bersalah — berkat kerjasama dengan teman kerja,  dan teman dari kepolisian lain — tetangga sebagai saksi mata — seseorang akan mengakui kesalahannya di pengadilan. Sungguh aku terkejut, saat persidangan itu, ternyata Bima si Bos Gengster itu  adalah Ketua Geng di sekolahku dulu. Adik kelas yang pernah kubentak. Dia menyimpan dendam kepadaku selama bertahun-tahun. Dia ingin menghancurkan keluargaku. Aku pun meminta maaf kepadanya saat hakim memutuskan dia mendapatkan hukuman.

Hari ini aku bangga. Ayahku telah bebas dan beliau merasa merdeka telah ke luar dari penjara. Namun, hati beliau sedih terasa hatinya teriris saat mengetahui bahwa keluarga kami hanya kita berdua. 

 

Akhirnya, aku membawa ayahku untuk tidur di rumah dinas bersamaku, tempat aku bekerja sesuai dengan janjiku.

 

#Lovrinzpublisher

#Lovrinzwacaku

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!