SILENCE
14.1
0
113

Sseorang asing masuk ke rumah Peter dan Ann saat mereka hanya berdua di rumah yang sepi. Mereka harus bersembunyi dan menyelamatkan diri.

No comments found.

Ayah dan Ibu berjanji tidak akan pergi terlalu lama ke perayaan ulang tahun pernikahan teman mereka, tetapi sampai jam yang dijanjikan, deru mobil Ayah tak juga terdengar memasuki halaman.

 

Malam begitu tenang hingga suara jangkrik di luar sana menyelusup dengan jernih ke telingaku. Tak ada suara lain, rumah-rumah di lingkungan kami berjauhan satu sama lain. Peter dengan semangat membacakan aku buku Dua Kelinci yang Pintar. Kami sedang tertawa melihat kelucuan si kelinci saat derap langkah kaki terdengar dari lantai satu. Seketika kami bertukar pandang. Peter menghentikan ceritanya dan hendak beranjak dari tempat tidur, tetapi aku segera menarik tangannya. Kalau itu ayah atau ibu kami, mereka pasti sudah berteriak memanggil nama kami.

 

Suara langkah kaki itu terjeda, kami berdua masih mengunci mulut, berhitung dengan situasi. Aku meremas tangan Peter yang sudah memasang muka serius. Namun, tak lama setelah itu, muncul suara baru, seperti suara pipa besi yang dientakkan dengan pelan ke lantai.

 

Tang!

Tang!

Tang!

 

Suara itu hilang timbul seperti ingin mempermainkan kami. Dalam diam aku dan Peter sepakat bahwa seseorang pasti telah masuk ke rumah. Semoga saja hanya orang iseng, meski aku sangsi ada orang iseng yang bermain-main dengan potongan besi di rumah orang lain.

 

“Kita harus sembunyi, Ann.” Peter berbisik di telingaku, lalu menuntunku menuju lemari pakaian yang ada di ujung selatan ruangan.

 

“Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari lemari ini, oke?”

 

Aku mengangguk, lalu dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, Peter menutup lemari itu. Sekelilingku menjadi gelap. Lemari itu berisi pakaian-pakaian lamaku. Bau apak yang terendus mengusik indra penciumanku. Debu-debu di sana membuatku terbatuk kecil.

 

“Ssst … jangan bersuara, Ann.”

 

Peter mungkin sedang menempelkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat untukku agar tetap diam di balik lemari yang gelap. Aku mengangguk meski dia tentu tak melihat anggukan itu. Terdengar langkah Peter berpindah tempat dan menjauh. Entah ke mana Peter pergi. Seharusnya, dia diam bersembunyi bersamaku. Namun, begitulah Peter, dia selalu punya rasa penasaran tinggi, tak tahan berdiam diri.

 

Aku mematung di tempat sempit itu, berdesakan di antara baju-baju yang digantung. Kusibak untaian baju yang kadang menutupi wajahku. Aku memeluk lutut dengan kedua tangan yang mulai basah oleh keringat. Lemari yang sangat pengap. Suara detak jantungku dan jarum jam beradu, diselingi suara besi yang sekarang tak lagi dientak-entakkan, tetapi diseret perlahan. Bunyi itu membuat bulu kudukku meremang. Penyusup itu menyeret besinya sembari berjalan. Bunyi deritnya membuat ngilu.

 

Klik!

 

Suara saklar lampu kamar yang dimatikan menembus kesunyian ruangan. Aku merasa sekitarku semakin pekat meski sejak tadi memang sudah gelap. Tak ada lagi berkas cahaya lampu yang masuk dari celah kisi-kisi lemari yang sempit. Derap langkah Peter juga sudah tak terdengar. Anak itu …. Ah, semoga dia tidak melakukan hal yang berbahaya. Ya, aku yakin Peter tidak akan ceroboh. Dia selalu penuh perhitungan.

 

Tap!

Tap!

Tap!

 

Orang asing itu mulai menaiki tangga. Satu demi satu.  Lagi-lagi, suara besi yang beradu dengan ubin lantai memenuhi rongga pendengaranku. Aku menutup telinga yang terasa tersayat dan menghitung detik demi detik yang dibutuhkan langkah kaki itu untuk sampai di depan pintu kamar. Peter … apakah dia bersembunyi di bawah kolong kasur?

 

Tak berselang lama, tiba-tiba alunan musik terdengar. Laki-laki itu pasti telah memutar piringan hitam berisi lagu-lagu John Lennon yang dikoleksi Ayah dengan gramofon. Pemutar musik itu ada di ujung lorong. Mungkin, sekarang dia sedang memeriksa kamar orang tua kami. Aku masih sempat memikirkan apa yang akan Ibu katakan kalau mendapati kamarnya berantakan. Pastinya dia akan mengomel seharian. Sejenak setelah itu, tak ada suara lain selain lantunan musik.

 

Suara John Lennon masih mengalun, tetapi aku bersumpah bisa mendengar engsel pintu kamarku diputar.

 

Pintu berderit. Jantungku berdegup kencang.

 

Satu, dua, tiga ….

 

 Lampu kamar menyala. Ada semburat cahaya masuk dari celah tipis lemari kayu itu.

 

 “Hiaaaaaaat …!” Sepersekian detik setelah dinyalakannya lampu, terdengar suara pukulan yang membuat seseorang meringis. Apakah itu Peter yang mengayunkan tongkat bisbolnya? Aku sangat yakin dia menggunakan tongkat bisbol itu karena sebelum membacakanku cerita, Peter sempat memamerkan cara mencetak home run kepadaku. Dia bilang dia akan bertanding di akhir minggu.

 

“Padahal aku ingin membuat ini menjadi mudah, Anak Kecil.” Suara itu kasar dan berat, terasa menggema di telingaku meski sebenarnya tidak. Aku tak bisa melihat apa pun yang sedang terjadi, terkutuklah celah sempit itu!

 

Peter sepertinya terus mengayunkan tongkat bisbolnya, tetapi tongkat itu mungkin tak lagi mengenai sasaran, aku mendengar napasnya yang terengah. Laki-laki itu terkekeh seperti sedang menikmati permainan. Bulu kudukku meremang mendengar suara tawanya. Aku membayangkan gigi-giginya yang hitam dan kotor serta bibirnya yang pecah-pecah.

 

“Cukup, ini harus selesai sebelum orang tuamu kembali, kan?” Lagi-lagi kekehan itu terdengar.

 

“Jangan mendekat atau kau akan kupukul!” Suara Peter bergetar, mungkin tongkat bisbolnya juga ikut bergetar. Mataku mulai berair, jantungku berpacu dengan waktu. Sepertinya laki-laki itu mendekat ke arah Peter dan mendesaknya sampai tersudut di depan pintu kamar. Aku mendengar suara benturan pintu kayu bersamaan dengan suara Peter yang terdengar kesakitan.

 

Tongkat bisbol Peter dibanting ke lantai dan menimbulkan suara berisik. Selanjutnya, telingaku menangkap bunyi kasur yang ditimpa benda berat, bunyi yang sama dengan saat aku melompat di atas sana. Pegas tua kasurku berderit seperti cicit tikus pengerat. Lalu, ada suara tamparan pipi berkali-kali tanpa belas kasihan. Kudengar Peter meringis, aku membayangkan darah mengalir di sudut bibirnya yang mungkin telah memucat.

 

“Sudah kubilang, mari buat ini menjadi lebih mudah.”

 

“Lepaskan aku!”

 

Entah apa yang terjadi kemudian, ada suara kain tersobek dan mulut yang sepertinya tersumpal. Tabuhan drum dan petikan gitar yang seirama dengan suara jeritan tertahan di luar sana membuatku gemetar. Peter meronta-ronta di kasur, tetapi itu membuat laki-laki itu semakin kesal, terdengar dari suara geramannya. Suara besi itu datang lagi, dipukulkan di suatu tempat. Peter berteriak sejadi-jadinya. Mungkinkah itu suara tulang kering Peter yang diremukkan? Oh, tidak … bagaimana Peter akan mencetak home run sabtu nanti?

 

Setelah semua itu, suara yang kudengar selanjutnya membuatku bergidik. Tubuhku bergetar hebat. Jantungku seakan terlepas saat derit-derit kasur itu berirama dengan desahan napas kasar laki-laki itu. Lagu berganti, denting piano seakan menemani laki-laki—yang  mungkin sedang—merayapi lekukan tubuh Peter. Lecutan-lecutan ikat pinggang yang menjilati kulit Peter seperti menembus sekat pintu lemari yang memisahkan kami dan langsung menghujam ulu hatiku. Sesekali terdengar suara telapak tangannya yang entah memukul sisi tubuh Peter sebelah mana.

 

Imagine there’s no heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people

Living for today

 

Kemudian, laki-laki itu sepertinya melepas sumpalan mulut Peter. Dadaku berguncang hebat mendengar rintihannya. Aku menggigit lidahku sendiri agar tangis tak keluar dari mulutku.

 

“Ini kamar adikmu, kan? Di mana dia bersembunyi?” Aku beringsut mendengar pertanyaan itu.

 

“Di … dia … ikut … bersama … orang … tuaku …,” rintih Peter.

 

“Benarkah? Apa kau biasa bermain di kamar adik perempuanmu meski dia tak ada di rumah?” Laki-laki itu terkekeh lagi. Nada tawanya selalu sama setiap saat. Sangat menjijikkan.

 

“Pasti menyenangkan kalau dia ada di sini.” Aku mendengar suara Peter meludah dan aku berharap ludahnya mendarat tepat di muka laki-laki itu. Peter yang malang, sesudahnya dia dihadiahi lecutan berkali-kali lagi hingga diam membisu. 

 

 “Ternyata kau cukup kuat, ya, Anak Kecil. Sayang, aku harus mengakhiri ini.”

 

Telingaku terus menangkap suara asing. Ada suara korek api, batang rokok yang diisap, dan bunyi-bunyi yang tak kumengerti.

 

Aku kira semua kengerian itu akan berakhir, tetapi laki-laki itu berjalan perlahan, mendekat ke arah lemari, ke arahku dan berbisik, “Nanti kita akan bertemu lagi, Sweety.”

 

Untuk beberapa lama, hanya ada lantunan lagu-lagu.

 

Aku mendorong pelan pintu lemari. Lalu, terlihatlah tubuh Peter yang ditutup selimut dengan warna yang sudah berubah, hanya seperti anak yang sedang tertidur pulas. Aku menutup lemari lagi, mematung di sana sampai terdengar teriakan ngeri ayah dan ibuku.

 

***

 

Tujuh tahun berlalu selepas malam nahas itu. Kami memutuskan pindah rumah. Aku jadi mengalami beberapa kesulitan. Salah satunya, kesulitan berbicara yang membuatku harus mendatangi dokter dan terapis. Kesulitan lainnya, aku akan terkena serangan panik saat mendengar suara John Lennon. Setiap kali tak sengaja lagu Imagine diputar di sekitarku, aku gemetar hingga menyebabkan sesak napas. Akhirnya, Ayah membuang semua koleksi piringan hitam beserta gramofonnya.

 

Pada suatu malam bersalju, dari balik jendela aku melihat sesosok bayangan hitam di balik pohon pinus di seberang kamar. Aku yakin bayangan hitam itu menatap ke arahku dan melambaikan tangan seperti baru bertemu teman lama. Aku berteriak memanggil Ayah. Saat Ayah datang, bayangan itu telah pergi. Ayah mengejarnya, tetapi tak menemukan siapa pun.

 

“Apa kau perlu ditemani malam ini?” tanya Ibu padaku.

 

“Ti … tidak. Aku … akan … tidur sendiri.” Menyusun satu kalimat membutuhkan banyak persiapan untukku.

 

Aku tidak mau membuat Ayah dan Ibu kesusahan dengan terus berada dalam bayang-bayang masa lalu. Mereka juga pastilah masih merasa sakit, tetapi selalu menyembunyikan itu dariku. Sebelum Peter dimakamkan, Ibu pingsan beberapa kali. Tak jarang aku mendengar dia menangis saat duduk berdua dengan Ayah.

 

Malam semakin larut, angin dari luar menyelusup dari celah jendela dan membuat kamarku terasa dingin. Di ambang kantuk, aku mendengar bunyi pipa besi yang diketuk-ketuk ke lantai.

 

Tang!

Tang!

Tang!

 

Aku terlonjak kaget dan segera berlari menyelinap di dalam lemari yang gelap. Lalu terdengarlah suara yang paling kubenci.

 

Imagine all the people

Livin’ for today

Ah.

 

Aku tahu aku akan mati, sebelum lagu itu berhenti.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!