Sorry, I Love You
12.88
1
101

Pria yang bersamaku hampir delapan tahun ini tiba-tiba mempertanyakan tentang jodohku.

No comments found.

“Nath.”

“Hmm?”

“Pernahkah terlukis dalam benakmu ketika suatu saat nanti kau meninggalkanku untuk bersama jodohmu?” tanya Zeyn tiba-tiba.

Sejenak batinku seperti tersengat listrik. Hampir delapan tahun kebersamaan kami, tak pernah sekalipun ia menyinggung hal itu. Pertanyaan yang mendadak itu berhasil mengacaukan pikiranku.

Aku menghentikan jariku yang sedang menarikan pensil di atas sketchbook baruku lalu menatap kedua mata bening milik pria yang ada di hadapanku. Aku mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikannya di balik pertanyaan itu. Untuk kesekian kalinya aku menyadari ada butiran ketakutan yang membuncah di antara kesedihan dan kerinduan. 

“Mengapa kau menanyakan itu?”

“Tak apa. Hanya tiba-tiba saja terlintas di pikiranku. Kalau kau tak mau menjawabnya, ya, sudah. Tak apa.”

Ada sedikit kekecewaan yang tertinggal di sudut telingaku. Aku yakin Zeyn menyembunyikan sesuatu. 

“Jika kau ingin tahu jawabannya, kau harus jujur lebih dulu. Katakan. Ada apa sebenarnya?”

Aku meletakkan pensil di atas sketchbook lalu menyingkirkannya agar bisa fokus menatap wajah Australia berhidung mancung itu.

“Aku hanya merasa tak sanggup jika harus melihatmu bersanding dengan pria lain. Meski ia lebih baik dariku. Dan tentu saja kau harus mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Minimal sama sepertiku. Yang pasti aku harus menilainya sebelum kau menyukainya. Ah. Aku tahu, aku tak seharusnya mengatakan hal ini. Sorry,” sesal Zeyn kemudian.

“Aku tahu kegelisahanmu, Bae. Bahkan jika ada seseorang yang mirip sepertimu pun belum tentu aku bersedia bersamanya. Kau tahu betul alasanku masih sendiri hingga di usiaku yang sudah tiga puluh enam ini.”

“Aku tak ingin menjadi alasan kesendirianmu, Nath.”

“Sudah terlanjur. Memangnya selama delapan tahun ini apa yang kau harapkan? Aku menunggu seseorang? Begitu?”

“Pastinya.”

“Harapan bodoh. Jika aku memang sedang menunggu seseorang maka orang itu adalah orang yang duduk di hadapanku. Dan aku yakin dia tak menyadarinya.”

Zeyn menatapku tajam. Aku tahu aku salah menyusun kalimat. Tapi memang kenyataannya demikian. Aku hanya menunggu untuk bisa hidup bersamanya tanpa aral rintangan, apa pun itu. 

“Apa maumu sebenarnya? Kau ingin aku menjawab bahwa aku menunggu lamaran seorang pria yang tampan dan kaya raya dan membawaku tinggal di istana pribadinya. Begitu? Aku mungkin perempuan gila tapi aku tak segila itu sampai harus menjadi wanita mengenaskan karena ego semata.”

“Dan yang kau lakukan saat ini adalah hasil dari egomu.”

“Pembohong.”

Zeyn mengernyitkan dahi sambil menatap tak mengerti.

“Aku juga tahu kalau egomu sama besarnya denganku. Jangan mencoba mengingkarinya. Aku akui bahwa aku yang telah menciptakan duniaku sendiri tapi kau juga dengan setulus hati membalas keinginan itu. Apa aku salah?”

Zeyn memicingkan kedua mata besarnya. Aku tahu dia berusaha menyembunyikan perasaannya. 

“Kau harus mulai memikirkan masa depanmu, Nath.”

“Jika kau mulai bosan padaku, kau bisa meninggalkanku kapan saja,” ujarku sambil mengubah ekspresi wajahku. 

“Aku hanya memikirkanmu, Nathra.”

“Jika kau memikirkanku, berhenti menyinggung hal-hal yang tak masuk akal. Aku bahagia di sini. Dengan keadaanku saat ini dan bersamamu. Aku tak mengeluhkan apa pun. Jadi kau tak perlu bersikap terlalu jauh.”

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini?”

“Sampai kau hidup dengan nyata di sisiku.”

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!