Surat untuk Ayah di Surga
8.3
3
60

Meski cerita dan pertanyaanku tidak bisa lagi dirimu jawab, maka biarkan surat ini menjadi perantara kerinduan kita.

No comments found.

 

“Ayah ingin melihatmu wisuda dan mendapatkan gelar.”

Satu kalimat itu terucap dari pria yang selalu menanggung kerasnya dunia. Dia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya tak peduli cuaca apapun yang datang padanya. Canda tawanya menyebar di penjuru rumah untuk mengisi hari putra-putrinya saat lelah dengan belenggu kehidupannya.

Pria kuat yang berdiri terdepan menjadi garda pelindung untuk permata-permata hatinya. Seiring waktu tubuhnya yang mulai melemah, tangan yang tak lagi kokoh untuk bekerja namun dirinya tetap berusaha agar putra putri bahagia. Sisa umur yang mungkin bisa berakhir kapan saja dan saat jam waktunya berhenti berdetak maka saat itulah tugasnya selesai.

Bumi akan kembali memeluknya, erat dan tak akan membiarkannya terluka. Tugasnya usai dan kini saatnya putra putri meneruskan harapannya. Gundukan tanah itu menjadi tempat untuk bersua, meski hanya tak akan pernah mendapat jawaban atas pertanyaan atau cerita yang dilontarkan setidaknya sanubari bisa melepaskan sesak.

Bertahun-tahun kemudian meski raganya tak lagi ada namun kenangannya akan tetap kekal dalam jiwa. Meski suaranya tak lagi terdengar di penjuru dunia setidaknya kepingan nada itu bisa terdengar dari dalam jiwa. Walaupun wajah yang teduh itu tak pernah dijumpai lagi tapi tetap ada dalam lembaran album yang tak seberapa.

Saat rasa rindu muncul maka kaki ini akan menapak menuju rumah abadinya, sembari membersihkan sisa rumput yang tumbuh mekar diatasnya. Atau sisa daun kering dari bunga-bunga yang hadir mewarnainya.

“Ikhlaskan ya… Ini sudah takdir.”

Seseorang pernah berucap saat kakunya mayat pria yang dipanggil ayah itu terbaring ditengah rumah. Sangat mudah diucapkan namun amat sulit untuk dilakukan. Dengan permata yang terus mengalir menatapnya wajahnya yang tertutup kain putih tidak akan pernah bisa menghilangkan gejolak penolakan di dada.

Waktu akan membuat semuanya pulih, meski perlahan dan jatuh bangun. Satu demi satu, selangkah demi selangkah akhirnya kembali maju meski tak jarang mulut atau tingkah insan lainnya akan menjatuhkan duri penuh luka.

“Jika rindu kenapa tidak tulis saja surat untuknya?”

“Memangnya bisa?”

“Setidaknya untuk melepaskan rasamu. Kuburkan didekatnya.”

Maka tangan ini mulai mengetik segala kegundahan didalam jiwa. Helaian kertas mulai berisi tinta-tinta kerinduan, sajak dan segala suka duka tertulis disana.

 

=================================================================

 

Untuk pria terbaik dalam hidup, cinta pertama bagi sang putri saat membuka mata di dunia. Izinkan tangan ini menguntai sajak tentang seberapa rindunya jiwa ini terhadapmu yang sudah berbeda alam. Jembatan kematian yang memisahkan kita dan menjadi pembatas terhadap komunikasi kita.

Hari itu jika aku tau kau akan pergi mungkin aku akan menghabiskan sisa waktuku bersamamu, aku tidak akan datang ke sekolah dan pergi kemanapun kau pergi. Tapi aku tau kau tidak akan pernah mengizinkannya karena kau sangat ingin aku mendapatkan pendidikan sebaik mungkin.

Aku tau tidak ada gunanya berandai karena semua sudah takdir dan aku sudah menerima kepergianmu dengan lapang dada. Terkadang gejolak kerinduan itu datang dan saat aku jauh dari rumah abadimu yang bisa kulakukan hanyalah menatap fotomu yang tak seberapa. Untungnya foto itu jelas dan bersih jadi aku bisa melepaskan gundah dengan menatapnya.

Meski aku tak bisa selalu berkunjung ke rumahmu karena pendidikan yang kutempuh namun aku berharap dirimu akan datang dalam bunga tidurku. Sederhana memang namun itu cukup untuk melepas kerinduanku. Aku teringat saat kecil, saat diriku tertidur di depan televisi engkau dengan senang hati membawaku menuju tempat tidur agar rasa nyaman hadir untukku atau rasa hangatnya selimut meliputi tubuhku.

Atau saat aku sakit engkau dengan wajah yang datar namun khawatir hadir dan mencoba membantu ibu meringankan sakitku, memijat kakiku dengan telaten seperti yang biasa kau lakukan. Menasehatiku dengan tegas agar tak melakukan hal yang salah meski terkadang ku jawab dengan malas dan rewel.

Ah… masa-masa indah. Aku rindu saat hangatnya tawa mekar dari canda tawamu setelah pulang dari mencari nafkah. Kini yang bisa kulakukan hanya mengenang betapa eloknya budi pekerti dan tingkahmu mengajarkanku untuk tetap berjuang di tengah kerasnya dunia. Meski terkadang pikiranku untuk menyusulmu datang tak menentu, maafkan aku karena tak bisa sekuat yang kau harapkan.

Terkadang di tengah lelahnya menjalani hari aku mengabaikan nasehatmu dulu dan berujung sakit. Sesekali aku berharap engkau datang mengingatkanku, namun saat aku kembali terbangun hanya kekosongan yang ada.

Kini bertahun-tahun telah berlalu, engkau telah lama pergi. Suaramu bahkan mulai samar dalam ingatanku tapi aku bersyukur potret dirimu yang aku ambil diam-diam tetap ada dan wajahmu bisa terus ku ingat. Jika dulu teknologi sudah lebih baik mungkin aku akan terus merekam suaramu, tawamu, tingkahmu atau nasehatmu untuk kusimpan sepanjang sisa hidup.

Tapi semua itu hanya masa lalu dan tidak perlu kusesali. Sekarang aku hampir memenuhi impianmu, mengejar gelar yang akan tersemat dibelakang nama yang kau panjatkan untukku. Ku harap aku bisa menggapainya agar dengan bangganya aku bisa menunjukkan ijazah dan sepenggal kata gelar itu padamu.

Ayah… Aku rindu. Tapi aku tau kau telah tenang dan tidak sakit lagi dengan luka dunia, aku akan mewujudkannya. Semuanya! Harapan dan nasehatmu akan ku jalankan. Maka izinkan aku meminta kekuatan darimu agar semuanya berakhir baik dan aku kuat menjalaninya. Aku tau kau melihatku,maka bantu aku dan bimbing diriku dari sana.

Surat ini singkat meski begitu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan janji yang kutulis didalamnya. Ayah… Ayah… Ayah… Aku sayang padamu… Sangat sayang sampai tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

Terimakasih telah menjadi sosok yang kuat untukku… untuk ibu dan keluarga lainnya. Terimakasih telah menjalankan tugamu dengan baik, terimakasih terus berjuang untukku dan semuanya. Terimakasih untuk segala senyuman dan canda tawa yang kau hadirkan. Terimakasih untuk setiap tepukan ringan penenang jiwa di malam hari, untuk setiap pijakan hangat saat tubuhku sakit, untuk setiap seruan senang saat nilaiku sesuai harapan, untuk setiap panggilan penuh kasih yang kau berikan untukku, untuk memori singkat yang tak akan pernah bisa kita ulang lagi.

Dan terimakasih telah menjadi ayahku sampai kematian datang menjemputmu. Aku sangat menyayangimu. Ku harap di kehidupan selanjutnya, di dunia lainnya jika itu memang ada kau akan tetap menjadi ayahku, dan semoga dirimu hidup lebih lama agar aku bisa memberikan segalanya untukmu.

                                                                        Dari putri kecilmu yang beranjak dewasa.

 

 

=================================================================

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!