Sw. Feet to step on
27.88
3
217

Sejak kapan kamu tahu, kaki untuk melangkah lebih jauh dan menemukan arah.

No comments found.

“Bagaimana perasaanmu setelah terkenal, kawan?” tanya seorang lelaki yang ceria di sebelahnya, dia terlihat antusias dengan acara ini.

“Aku hanya merasakan satu perubahan” jawab santai seorang pria yang sedang merokok di atas ketinggian 3.136 meter. Ia mengenakan pakaian lengkap khusus mendaki, berikut penutup kepala yang terbuat dari kain wol, guna menjaganya tetap hangat.

“Memangnya, perubahan apa yang kamu rasakan?” mungkin gara-gara pertemanannya belum terjalin lama, makanya dia lagi-lagi menanyakan dengan wajah penasaran pada jawaban.

“Begini …” Ia menjawab tidak dengan kata-kata, melainkan tindakan seperti melambaikan tangan pada seorang wanita berkacamata yang menggenggam satu kamera di tangannya. “Mbak, bisa tolong foto kami berdua?” pintanya.

“Tentu!” tanpa pikir panjang, wanita itu beranjak dari tempatnya duduk. Ia bersemangat dan sergap memosisikan diri jadi fotografer.

“Seperti itu,” tepuknya pada teman yang gemar bertanya. Ia beranggapan hal barusan dapat dipahami dan dicerna sebagai jawaban.

“Aku masih tidak mengerti” lelaki itu justru menaikkan alis kirinya.

“Tuan, apakah kamu mengizinkanku untuk menaruh potret ini dalam liputan?” sela wanita yang tadi memotretnya, ia memang ditugaskan sebagai pewawancara. Namun, ia bisa dititah dan menjelma sesuai keadaannya.

“Silakan” ia memberikan izin pada wanita itu untuk mencantumkan potretnya dalam media masa, sebab baginya itu telah menjadi hal biasa.

“Astaga, ternyata seperti itu. Aku baru menangkapnya, jadi apapun perkataanmu akan didengar oleh mereka?” sontak ia terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar, seolah perdana mendapatkan ilham.

“Ya, dan itu amat berlainan dengan apa yang aku rasakan, dua puluh tahun ke belakang. Di mana aku masih menjadi gelandangan, yang ketika akan mendaki pun membawa harapan yang belum tentu kuasa aku mencapainya. Tidak ada yang mau memberiku tumpangan, kala kekurangan uang. Bahkan ada saja, yang tak percaya pada perkataanku tatkala jadi pemandu”

“Terima kasih, ya. Aku jadi tahu bagaimana proses roda berputar” rasa kagumnya bertambah, ia teman yang tepat biar pun hadir terlambat.

“Mengapa berterima kasih?” bukannya senang, ia malah heran dengan ucapan dari teman yang ia temui kala mendaki.

“Aku jadi minder saja, karena selama ini pakai uang orang tua” lirihnya dengan kepala yang menunduk ke bawah.

“Hai, seharusnya kamu bersyukur, sebab mereka dapat memberikannya. Kamu tahu, perjalanan yang aku alami rumit dan sulit” bantahnya saat temannya mengeluh. Mengajarkan rasa syukur itu sukar.

“Maka dari itu, kamu menjadi kuat” berhubung tidak mau argumennya ditangkis, bukannya sadar ia malah menepis dengan memberikan pujian berlebihan.

“Ya, setidaknya, orang tuamu tak terjebak kasus obat-obatan terlarang” tampaknya ia tidak mau kalah bertarung mulut dengan temannya, sehingga beradu nasib ialah jalan tempuhnya, agar teman di sampingnya bersyukur.

“Maafkan, aku” dan, ya, gaya bicara yang lugas membuatnya merenung seketika.

“Sudah, tidak apa-apa” bagaikan samsak tinju, bahunya sasaran empuk pria yang sudah habis rokoknya untuk ditepuk.

“Permisi, tuan Cakra? Sekarang sudah memasuki sesi wawancara” celotehnya harus ditunda, dikarenakan waktu istirahat sudah selesai dan sekarang kiranya Cakra harus menjawab pertanyaan tuk memenuhi kebutuhan gelar wicara.

“Aku ke sana dulu, ya” mereka sudah akrab, tetapi nada dan aturan bicara masih menggunakan bahasa baku yang terbilang formal.

“Semangat!” kedua lengannya dikepalkan guna memberikan rasa percaya diri pada Cakra.

Di lain sisi, Cakra bersama wanita itu berjalan menjauhi tenda, menuju tempat acara, “Mbak, saya boleh bertanya?”

“Tentu, tuan. Soal apa, ya?” sanggupnya sembari menengok wajah yang tak kalah indah dari pemandangannya.

“Saya masih bingung saja, tentang tim kamu yang mau menuruti tutur kata saya, untuk mengadakan talk show langsung di gunung” bagi Cakra, rasanya hari ini ialah mimpi. Baru kemarin dirinya mendalami profesi, kini sudah di undang beraneka siaran televisi.

“Saya dengar, produser tidak hanya semata-mata menghargai keinginan tuan. Tapi karena latar belakang dan perjuangan tuan yang selama ini di gunung, kami yakin orang-orang akan lebih merasakan apa yang nanti akan disampaikan.”

“Wah, kalau begitu … sampaikan rasa senang saya pada produsermu”

“Baik, tuan!”

“Dan, satu lagi. Mengapa kamu memanggil saya, tuan? Padahal usia kita tidak jauh beda, sungguh saya merasa jauh lebih tua”

“Maaf, tetapi saya terbiasa seperti ini ketika bekerja”

“Ya, sudah. Panggil saya, Cakra” perintahnya.

“Baik, Cakra” ucapnya disertai senyuman cantik, yang sama sekali tak menggugah hati Cakra tuk kenal dengannya.

“Cakra, maaf untuk keterlambatan ini. Ada kendala teknis, tadi” sahut sutradara yang bersembunyi dibalik kamera.

“Tidak, apa-apa. Wajar kok,” ia tahu betul, posisi merekam di atas ketinggian memang menyulitkan.

“Baiklah, kamu sudah siap?” tanyanya tuk memastikan.

“Pasti, siap!” ujar Cakra, ia tampak merapikan letak kupluk di kepalanya.

“Eira, pertanyaannya sudah kamu susun?” giliran wanita berkacamata itu yang di interogasi agar kegiatan ini berjalan baik.

“Sudah, pak!” ia menjawab dengan mengacungkan naskah tertulis di tangannya,

“Oke, ambil posisi! Dan, tiga, dua, satu, action!”

Cakra dan pewawancara itu berdiri dibalik indahnya pemandangan puncak gunung Sindoro, Jawa Tengah. Meski hilir angin datang tak henti-henti, mereka tetap bisa menyeimbangkan gerak-geriknya. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan begitu mudah dijawab oleh Cakra, ia sudah melewati pasang-surutnya kehidupan. Dengan berbagai bala rintangan. Bahunya cukup kuat, ia adalah anak kedua yang hebat. Walau ayahnya terjebak kasus berat, dan ibunya disakiti ketika ia masih kecil, ia sanggup membuktikan pada dunia, bahwa kurang kasih sayang bukanlah akhir dari segalanya.

Uang adalah nomor dua baginya, sebab bermodalkan nekat dan pijakan kecil, ia menjelma sebagai pendaki ulung. Dia tak begitu berbakat dalam bidang akademik, ia tak piawai menggunakan otaknya saat belajar. Oleh karena itu ia lebih menonjol di pelajaran olahraga ketika masih duduk dibangku sekolah. Namun, impiannya menjadi seorang atlet harus pupus lantaran ia tidak melanjutkan pendidikannya saat SMA. Atau mungkin sudah ada di garis takdirnya bahwa ia harus menggeluti hobi dalam berlari dengan cara mendaki. Terlihat dari betisnya yang membesar dan keras, itu cukup untuk menandakan usahanya selama ini.

Niatnya terbilang tak sia-sia, apalagi ia harus meninggalkan rumah dengan perasaan gundah. Ibunya mengalami gangguan jiwa setelah penangkapan ayahnya, sedang kakak perempuan satu-satunya mengabdikan diri dengan merawat sang ibu selama ia pergi. Berbekal fisik yang memumpun, ia bekerja sebagai pemandu di pegunungan yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan terkadang ia menawarkan jasa sweeper untuk memudahkan pendakian suatu rombongan. Pekerjaan tersebut berisiko tinggi, namun berupah rendah. Apalah daya, ia cuma mampu memanfaatkan keadaan saja, asalkan ibu dan kakaknya dapat menerima asupan gizi setiap hari.

Kendati demikian, ia sering mengalami cedera pada kaki. Parahnya, dulu ia hanya mampu untuk menerima pengobatan sederhana, seperti pijatan dan ramuan herbal yang dibelinya dari toko jamu. Ia menghemat banyak uang, demi kesehatan ibunya. Walau begitu, ia menyisihkan pendapatannya sedikit-sedikit, untuk membeli alat potret. Karena, ia sungguh tertarik dengan satu hal, sewaktu mengantar salah seorang kamerawan yang merekam semua kegiatan terkait pegunungan. Ia mencoba bertanya, dan pria dewasa itu berkata, “Kegiatan ini sangat menyenangkan, aku bisa berkeliling dunia, melihat keindahan secara langsung. Dan, tugasku, menyebarluaskan informasi tentangnya. Kau harus mencoba ini, wahai anak muda”

“Benarkah?” Cakra tidak percaya dengan ucapan, bahwa ada pekerjaan yang menyenangkan.

“Apakah aku terlihat sedang berbohong?”

“Tidak, pak” ia menggeleng-gelengkan kepala, dan menyadari kebenaran tampak di depan mata.

“Jangan menghamburkan usiamu dengan hal yang itu-itu saja. Perluas jangkauan, aku kesini pun ada yang membayarkannya” tutur gamblangnya.

“Pak, bagaimana nanti aku lebih hebat darimu?” Cakra bertanya sambil tertawa.

“Itu karena kau memulai lebih dulu” jawabnya tanpa beranggapan soal masa depan, yang bisa saja Cakra menjadi saingannya.

“Ah, terima kasih banyak, pak!”

“Iya, sama-sama. Sekarang kau harus tunjukkan aku bukit yang indah”

“Laksanakan!” ia bangun dari duduknya dan mulai menunjukkan jalan demi jalan.

Siapa yang menyangka, jikalau percakapan sederhana, tentang motivasi sukses yang nyata itu, amat berharga di mata Cakra. Ia minat dengan pesan yang disampaikan, jikalau langkah awal perlu dilakukan sedari sekarang.

Perkara memulai, bukanlah satu-satunya tahap. Cakra mengalami beberapa halangan, sampai ia tak tahu arah. “Siapa yang akan menerima pekerja, aku tamat sekolah saja tidak” gumamnya, sesaat berada di depan toko kamera. Namun, di waktu yang sama itu pula, ia mendapatkan jawabannya, “Aku selama ini bekerja dan menjadi bos untuk diri sendiri, di mana aku bisa menentukan tarif dan hari libur sesuka hati. Baiklah, akan kubeli kamera ini, dan mengawali dengan rekaman perkenalan untuk aku publikasikan.”

Pelajaran dan pengalaman keras benar-benar membentuknya menjadi sosok yang memiliki pendirian. Dia tidak masalah dengan kesendirian, ia tak membutuhkan persoalan lain, jika kesembuhan ibunya saja sudah menjadi tujuan utamanya.

Ia pun berani mengekspor diri, meski harus meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Ia memijakkan diri ke berbagai pegunungan, dan memuat konten juga kiat-kiat menarik saat mendaki. Prosesnya ketika berada di bawah, betul-betul memprihatinkan, tak banyak audiensi dan penonton dikanal video berbaginya. Hingga suatu ketika, ia mulai dengan membuka suara dan bercerita mengenai kisah-kisahnya, dan terbentuklah laman penggemar yang sampai kini selalu setia menyebar dan mempromosikan kegiatan Cakra.

Tak sebatas itu saja, Cakra juga memperdalam ilmunya tuk kemudian dibagikan. Dari pasal biasa, sampai yang di luar nalar manusia. Berdasarkan kegiatannya, banyak orang meneladani sikap dan cara pengambilan keputusannya, di mana bisa saja seorang yang hancur keluarganya memilih langkah yang salah dalam hidup. Sedangkan ada segudang jalan untuk memperbaikinya.

Dan Cakra tidak memanfaatkan kisah inspiratif juga gagasan-gagasannya saja, lantaran secara tidak sengaja, ia membuat citra pesona alam Indonesia, semakin bagus di mata dunia. Ia memperkenalkan tempat wisata, gunung tertinggi sampai danau yang cantik hanya melalui sebuah rekaman dan jejak kakinya. Dan kehendaknya tuk menuruti pria dewasa yang memberinya motivasi pun terwujud, ia bepergian di bayar oleh beraneka ragam sponsor. Belum pernah terbayang di benaknya, seorang anak dari keluarga tak utuh bisa menjadi penyuluh. Bertentangan dengan pendapat dan suaranya yang diacuhkan, tempo menjalani masa tidur dalam keadaan lapar, sebab sang ayah tak mengasihi nafkah.

Karena itu ia dikenal selaku pendaki sekaligus mentor, yang kerap kali mewarnai dan lalu lalang di layar kaca pertelevisian Indonesia. Serta yang tak di duga, pria yang berjasa dalam hidupnya turut bersuka-cita atas keberhasilan Cakra, anak yang memandunya di gunung sana. Sementara itu, kondisi ibunya perlahan membaik, dan sang kakak sudah bisa meniti kehidupan normal dengan bertunangan. Jauh dari pada cerita bahagianya, ia menyimpan trauma mendalam. Sekalipun ia berkecukupan bila kepingin berkeluarga dan membangun cinta bersama seorang wanita, rasa kecewa terhadap ayahnya tak bisa tuk dihilangkan dengan mudah. Meski arah sudah dituju dan langkahnya terus menjauh, itu semua masih membekas dan tertanam jelas.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!