Teman Menyeberang
71.13
8
553

Leia masuk bimbel intensif agar tetap bisa masuk PTN tahun depan. Baginya, jatuh cinta jelas bukan agenda. Tersandung perasaan konyol adalah terlarang. Namun, cowok di bimbel yang menjadi teman menyeberang Leia menggoyahkannya. Sayangnya saat itu Leia tak tahu, ia sedang menceburkan diri ke situasi apa.

  • @shovyramadhanti Hai Kak, terima kasih banyak sudah membaca dan menulis ulasan untuk Teman Menyeberang! Terima kasih sekali atas apresiasinya. :’) Senang sekali cerpen ini disukai. Aamiin, terima kasih doanya ^^

  • Hai, Kak Niccho Machi. Cerpennya luar biasa keren. Cerpennya paket komplit. Cerpen yang mengangkat masalah yang relate dengan kehidupan sehari-hari. Suka dengan interaksi Nirmala dan Leia. Semangat kak. Semoga menang ya 🙏

  • Halo kak, salam kenal, cerpennya bagus banget! Good luck ya, semoga menang!

  • @marinayudhitia Hai Kak salam kenal juga 🙂 Terima kasih banyak sudah membaca dan menyukai cerpen ini. Aamiin, terima kasih doanya ^^

  • “Awas!”

    Sebelah tangan milik seseorang menarik pergelangan tanganku, menghindari motor tak tahu malu yang kuyakin menggunakan kecepatan di atas delapan puluh. Kakiku refleks mengikuti panduan si penarikku, berlari hingga ke deretan ruko seberang.

    Aku terengah-engah setelah tiba dengan selamat. Setelah napasku mulai stabil, aku mengerjap, memfokuskan pandangan. Kini aku bisa melihat wajah penyelamatku dengan jelas. Matanya tampak mungil di balik kacamata persegi berbingkai biru-hitam. Hidungnya tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Bibirnya sedikit pecah-pecah. Dan aku baru sadar kalau jarak kami cukup dekat sampai aku bisa melihat bintik-bintik cokelat yang menyebar di pipinya, juga setitik jerawat kecil di dahinya yang tak berponi. Rambutnya cepak pendek.

    Kusadari dia masih memegangi tanganku, jadi aku melepaskan diri.

    “Makasih.”

    “Jangan nyebrang sambil bengong gitu. Nggak sayang nyawa?”

    Kuputuskan untuk tidak menanggapinya, jadi kutinggalkan dia menuju minimarket di belakang kami. Sejak awal, minimarket ini memang tujuanku. Jam istirahat di bimbel tidak lama, dan berada di kelas selama lima belas menit penuh tanpa keberadaan tutor atau soal-soal yang perlu dikerjakan adalah hal terakhir yang kuinginkan. Tidak, dengan adanya si Nirmala dan kawan-kawannya di sana.

    Aku berjalan ke depan kulkas minuman, memindai aneka merek air mineral dingin. Tanganku bergerak untuk mengambil sebotol air mineral bertutup merah saat sebelah tangan lain, pada saat bersamaan, juga terulur untuk mengambil sekaleng bir.

    Aku menoleh.

    Cowok yang menyelamatkanku.

    “Apa?” Sebelah alis tebalnya terangkat. Tantangan tersirat.

    “Cukup umur?”

    Sudut mulutnya tertarik ke kanan, membentuk seringai. “Cukup.”

    Aku mendengkus. “Kita satu kelas. Persyaratan ikut ujian serempak masuk universitas adalah lulus SMA atau sederajat dengan tahun ijazah maksimal tiga tahun ke belakang. Jadi, umurmu paling tua dua puluh. Itu belum cukup umur namanya.”

    Seringainya berubah menjadi gelak panjang.

    “Sekarang gue ngerti kenapa lo selalu peringkat satu pas tryout.” Dia menggeser tangannya dari kaleng bir menuju kaleng larutan penyegar berwarna oranye. “Yang gue nggak ngerti, kenapa anak sepintar lo harus ikut program intensif? Nggak lulus ujian masuk yang kemarin?”

    Tanpa menjawab, kututup pintu kulkas dengan kasar, lalu kutinggalkan dia menuju kasir dengan botol air mineral di tangan.

     

    ***

     

    Sejak hari itu, setiap istirahat kelas, dia mengikutiku menyeberang ke minimarket. Aku membeli air, dia membeli aneka minuman—larutan penyegar, minuman isotonik, susu, teh kemasan, apa pun kecuali yang beralkohol.

    Aku tidak pernah lagi menyeberang sendiri. Dia selalu berada di sisiku—di sisi kanan setiap kami menyeberang dari bimbel ke minimarket, dan di sisi kiri setiap kami menyeberang dari minimarket kembali ke bimbel. Dialah yang mengangkat tangan untuk meminta jalan pada mobil dan motor yang lewat. Tidak ada zebra cross di antara kedua deretan ruko yang saling berseberangan ini, jadi kami harus selalu berlari-lari sendiri, memohon pengertian dari kendaraan-kendaraan. 

    Lama-lama aku menjadi terbiasa dengan keberadaannya. Aku bahkan tidak lagi menoleh ke kanan-kiri sebelum menyeberang karena aku tahu ada dia yang akan melakukannya. Dia tak pernah menggandengku, tapi dia selalu memastikan kami aman sampai seberang.

    Kami tidak pernah banyak bicara. Hanya menyeberang, jajan, minum, lalu kembali. Setibanya di bimbel, kami naik menuju ruang kelas di lantai dua. Tangga bimbel sempit, jadi aku di depan dan dia mengekor. Setibanya di kelas, aku langsung beranjak ke bangkuku di deretan depan, sementara dia ke tempatnya di belakang. Bel berbunyi, tutor masuk dan memulai pelajaran. Aku memusatkan seluruh konsentrasi pada pembahasan soal-soal tryout minggu sebelumnya, tak lagi memedulikan dia.

    Sekitar tiga minggu hubungan kami hanya seperti itu, hingga akhirnya dia berusaha meretakkan dinding yang kubangun.

    “Gue pengin berteman sama lo.”

    Sebuah motor berhenti di samping kananku. Aku berpaling dan mendapati wajahnya di balik kaca helm. Kuteruskan berjalan, mengabaikannya. Dia membuntutiku dengan motornya, memutar gas pelan-pelan. Tepat sebelum aku berbelok ke gang tempat rumahku berada, dia berkata, “Please.”

    “Bukannya temanmu sudah banyak?” sahutku datar. Separuh anak kelas kami berasal dari sekolah Nirmala dulu, yang lokasinya tak terlalu jauh dari bimbel. Dia juga lulusan SMA itu. Tapi aku tak pernah melihat Nirmala mengobrol dengannya, jadi kurasa mereka tidak dekat.

    Dia terkekeh. “Ternyata selama ini lo memperhatikan gue?”

    Aku memutar bola mata. Dia melepas helmnya dan menarik napas panjang.

    Fine. Gue akan jujur. Gue pengin berteman sama lo karena gue mau minta tolong lo ngajarin gue.”

    Keningku berkerut. “Ngajarin?”

    “Iya. Lo tahu sendiri, kan, peringkat tryout gue jeblok terus. Kasihan bokap nyokap kalau gue gagal masuk PTN lagi tahun depan, padahal mereka udah bayarin program intensif mahal kayak gini.” Dia tersenyum memohon. “So please, ajarin gue?”

    Aku mengenali sorot putus asa di matanya, sebab sorot seperti itulah yang terus-terusan kulihat di cermin selama beberapa bulan silam.

    Sepercik rasa iba di hati membuatku terpaksa menurunkan ego. “Mau belajar di mana?”

    Dia menyeringai. “Lo punya helm?”

     

    ***

     

    Aku membuka pintu rumah dengan hati-hati, hendak langsung menyelinap ke kamar. Sayangnya Tante sedang duduk di meja makan, membaca sesuatu.

    “Kok baru pulang?” tanya Tante. Matanya masih terpaku pada bacaannya.

    “Belajar sama teman,” jawabku, sepenuhnya jujur. Tante langsung menoleh.

    “Sama teman?” ulangnya. Kudeteksi ketakjuban dalam intonasinya.

    “Iya. Teman bimbel.”

    Tante memandangiku beberapa detik lamanya. Aku hampir bisa melihat senyum hendak terbit di bibirnya, tapi dia tidak mengeluarkannya.

    “Ya sudah. Sana bersih-bersih dulu. Habis itu makan.”

    Aku beranjak ke kamarku tanpa berkata apa-apa lagi. Sebetulnya perutku masih terasa penuh, tapi aku tak ingin melewatkan makan malam bersama Tante. Beliau selalu tampak kesepian, dan karena kami sama-sama bukan tipe orang yang terbuka untuk bicara dari hati ke hati, makan malam dengannya adalah satu-satunya yang bisa kulakukan, sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikannya memungutku dari Yogya setelah orang tuaku—kakak dan kakak iparnya—menjadi korban gempa 2006. Sebisa mungkin aku selalu makan malam di meja makan, meskipun tanpa konversasi selain sekilas basa-basi. Untungnya makan malam kami tak pernah terlalu sunyi, terima kasih televisi.

    Aku menutup pintu kamar, meletakkan tasku di kursi meja belajar, lalu merebahkan diri ke kasur. Ingatanku berkelana pada beberapa jam silam ketika aku dan dia duduk berhadapan di restoran cepat saji, dipisahkan oleh nampan dengan dua gelas minuman krim soda.

    “Masa belajar di sini?” Aku memandang sekeliling. Hampir setiap kursi terisi. Orang-orang menyantap ayam, kentang, burger. Suara-suara memenuhi udara. “Mana bisa konsentrasi belajar di tempat ramai begini.”

    “Belajar di kafe atau resto cepat saji lagi tren.” Dia tersenyum seraya menarik turun ritsleting jaketnya, memperlihatkan kaos oblong hitam bersablon gambar topeng (atau helm?) Darth Vader di balik jaket itu. Ini bukan pertama kalinya aku melihat dia menggunakan kaos dengan gambar itu atau gambar karakter Star Wars lainnya. Bahkan kalau kuingat-ingat, tampaknya kaos-kaos yang dipakainya ke bimbel selalu bergambar atau memuat tulisan yang berkaitan dengan Star Wars.

    “Suka Star Wars?”

    Seketika wajahnya semringah, seolah menemukan segua penuh harta karun emas.

    Die-hard fans.” Dia memperlihatkan bagian belakang ponselnya, yang dibungkus casing keras bergambar pedang cahaya hijau. Menunjuk arlojinya, yang di bagian dalam kacanya bertuliskan logo kuning-hitam khas Star Wars. Mengangkat kunci motornya, yang memiliki bandul gantungan berbentuk pesawat ruang angkasa berwarna perak. “Lo juga suka?”

    “Ortuku.”

    “Pantesan mereka ngasih nama lo ‘Leia Organa’.”

    Aku mengangguk, dilanda melankolia. Saat gempa terjadi lima tahun lalu, aku sedang berada di rumah mbahku di Purbalingga, kesal pada Ibu karena menyuruhku menemani Simbah yang sakit bertepatan dengan adanya undangan pesta menginap di rumah salah satu sahabatku. Aku telah menantikan pesta menginap itu sejak lama, teman-temanku juga sudah merencanakan apa saja yang akan kami lakukan: bergosip sampai pukul satu, menonton The Notebook tanpa sensor, mengecat kuku dengan kutek berwarna menantang, dan menyusun strategi pendekatan dengan cowok yang ditaksir. Namun, Ibu malah mengirimku ke Purbalingga.

    Aku baru berhenti merajuk setelah menonton kabar gempa itu dari televisi di rumah Simbah, dan tak pernah berhasil menebas pohon rasa bersalah yang hingga kini terus mengakar kuat dalam hati.

    “Kata Bapak, Star Wars itu film yang mereka tonton di kencan pertama mereka tahun 80-an.” Aku mengaduk minumanku, melarutkan krimnya dalam soda biru. “Return of the Jedi, kalau nggak salah.”

    “Salah satu film Star Wars paling keren. Lo nonton?”

    Aku mengangguk. “Dulu kami punya jadwal nonton bareng Star Wars. Tapi aku nggak terlalu ingat jalan ceritanya.” Tepatnya, aku sengaja melupakannya. Melihat segala sesuatu berbau Star Wars hanya memperparah sakit hatiku, memantik kenangan-kenangan yang ingin kukubur.

    “Kapan-kapan lo harus nonton ulang bareng gue.”

    Aku menyisihkan nampan ke samping, lalu mengambil bundelan soal tryout dari dalam tasku. “Ayo mulai belajar. Mapel apa? Matematika?”

    Pukul lima kami selesai. Dia mengantarku sampai ke depan gang tadi.

    “Makasih ya udah ngajarin gue.” Dia tersenyum di balik kaca helmnya.

    “Semoga hasil ajaranku nggak cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri.”

    Dia tertawa kecil. “Kita lihat di tryout minggu depan.” Dia mengulurkan tangan, mengacak lembut rambutku. “Kalau nilai gue masih jelek, ajarin gue lagi, ya?”

    Entah bagaimana, jantungku berdebar.

    Dan debar itu tidak hilang sampai motornya lenyap dari pandangan, sampai aku masuk ke rumah, bahkan sampai detik ini.

    Akalku mengirimkan sinyal bahaya, otakku berteriak bahwa jatuh cinta bukanlah agenda. Tante sudah berbaik hati mendaftarkanku ke bimbel program intensif dengan harapan agar aku bisa masuk PTN tahun depan, mengeluarkan ekspenditur tak terduga yang berada di luar rencana pembukuannya. Menyia-nyiakan itu dengan tersandung perasaan konyol adalah hal terakhir yang bisa kulakukan—bahkan seharusnya, memikirkannya saja sudah terlarang.

    Ini hanya sesaat, kuyakinkan diriku. Nanti juga hilang.

    Namun, di lubuk hatiku yang terdalam, aku tahu bahwa dia sudah bukan sekadar “teman menyeberang”.

    ***

    Program intensif bimbel ini memiliki jadwal masuk seminggu tiga kali, dengan satu hari tryout dan dua hari pembahasan soal. Hanya ada satu kelas yang tahun ini terdiri dari 23 murid, semuanya terdiri dari lulusan-lulusan SMA yang gagal dalam segala jalur tes masuk ke PTN dan masih berambisi untuk memperoleh kursi pada tahun akademik berikutnya. Daripada uangnya digunakan untuk membayar kuliah di universitas swasta, keluarga kami lebih memilih untuk menginvestasikannya ke program intensif bimbel ini, yang akan berlangsung selama setahun penuh dan menjanjikan garansi uang kembali jika tahun depan kami masih tidak lolos masuk PTN.

    Sebetulnya dulu aku termasuk siswi berprestasi lumayan di sekolah. Namun, hari ujian masuk PTN pada bulan Mei lalu berdekatan dengan hari peringatan gempa. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kondisi mentalku selalu kacau seputaran hari itu. Konsentrasiku terbelah, soal-soal di hadapanku—yang dalam kondisi biasa pasti mampu kupecahkan—seakan tertulis dalam aksara kuno. Selama sembilan puluh menit waktu ujian, separuhnya kugunakan untuk menangis tanpa suara, sudah mengetahui bagaimana hasilnya.

    Saat aku pasrah mendapati kegagalanku, kubilang pada Tante bahwa aku ingin bekerja saja.

    “Jangan, Lei.” Tante menatapku dengan matanya yang sayu. “Kalau kamu nggak mau hidup seperti Tante, kamu harus kuliah di PTN. Ambil jurusan yang menjanjikan, kuliah yang tekun sampai jadi sarjana. Dengan begitu, kesempatanmu untuk mendapat pekerjaan yang bagus akan lebih terbuka.”

    Tante lulusan SMK akuntansi. Sudah satu dekade lebih Tante menjadi pegawai administrasi keuangan di salah satu pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Pekerjaannya monoton, tapi penghasilannya bisa menghidupi kami. Suami Tante meninggal belasan tahun lalu—kecelakaan kerja di pabrik—delapan bulan setelah mereka menikah. Keduanya belum dikaruniai keturunan sampai saat itu, dan menikahi pria lain tidak ada di daftar pilihan Tante. Makanya Tante berbaik hati mengadopsiku, mengingat kondisi kesehatan Simbah yang tidak memungkinkan untuk mengurusku. Tante membawaku ke Jakarta, menyekolahkanku sampai lulus SMA, dan akhirnya, berkeras membayari bimbel untuk gap year-ku.

    Aku tak punya pilihan selain menjalaninya.

    Hari ini aku masuk kelas seperti biasa, setengah berharap dia tidak muncul agar aku bisa menata hatiku yang masih kebat-kebit. Kelas masih sepi, jadi aku mengambil buku soal dari tasku, berniat untuk belajar sebelum tryout sebagai upaya mengalihkan pikiran. Namun, belum sempat kubuka buku itu, kulihat sebuah bayangan menerpa mejaku.

    Aku menengadah.

    Nirmala berdiri di depanku, rambut ikal bergelombangnya tampak berkilau tertimpa sinar matahari dari jendela kelas. Pesonanya tak terlawan.

    “Leia.” Dia duduk di kursi di hadapanku, tatapannya serius. “Minggu lalu gue lihat lo sama si Sultan di resto cepat saji yang dekat pom bensin.”

    Aku hanya diam.

    “Lo pacaran sama Sultan?”

    Tetap tidak kurespons.

    “Gue juga sering lihat lo ke minimarket seberang bareng dia pas istirahat.”

    Aku mengambil rautan dan mulai meraut pensil 2B-ku.

    “Lei?”

    “Bukan urusanmu.”

    Dia memandangiku. Karena aku sibuk dengan rautan, aku tidak melihat ekspresinya.

    “Jauhin dia, Lei.”

    Nada mendesak dalam suaranya mengherankanku, jadi aku mengangkat wajah. Muncul suatu mimik aneh di samping keseriusannya, yang sulit kuterjemahkan. Prihatin? Cemas? Atau … cemburu tersamar?

    “Jauhin dia. Gue serius.”

    Kulihat cowok itu masuk ke kelas. Dia memandangi aku dan Nirmala dengan sebelah alis terangkat, tapi dia tidak menghampiri kami atau mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya berlalu begitu saja menuju bangkunya.

    “Kamu suka dia?” tanyaku pada Nirmala.

    Bel masuk berbunyi. Nirmala menghela napas.

    “Pokoknya jauhin dia, Lei.” Nirmala bangkit, meninggalkanku dengan segudang tanda tanya.

    *** 

    “Lo tadi ngobrol apa sama Nirmala?” Dia menanyaiku saat kami berada di minimarket pada jam istirahat seperti biasa.

    “Basa-basi aja.” Aku mengambil botol air mineral bertutup biru. “Dulu kalian satu sekolah?”

    “Iya. Nggak dekat, sih. Beda circle. Dia tipe populer, queen bee. Cakep, pintar, ketua OSIS pula. Banyak yang naksir dia. Sayangnya dia tipe setia. Pacaran sama satu cowok dari kelas sepuluh, tapi cowok itu mutusin dia menjelang akhir kelas dua belas. Alasannya klise: mau fokus belajar. Padahal sebenarnya, cowok itu lagi dekat sama teman lesnya. Nirmala stres banget gara-gara putus itu, sampai nggak konsen ngerjain soal-soal ujian masuk. Makanya akhirnya dia ikut program intensif.”

    Aku termangu. Ternyata, cewek yang tampaknya memiliki segalanya seperti Nirmala juga punya masalah semacam itu. “Terus cowoknya—eh, mantannya?”

    “Diterima di ITB. Teman lesnya itu juga. Bareng lagi mereka di sana.” Dia mengambil sebotol yogurt rasa buah campuran. “Beritanya heboh banget di sekolah. Guru-guru aja sampai tahu.”

    Kami berjalan ke kasir. Dua orang sedang mengantre. Kami ikut mengantre di belakang mereka, berdiri bersebelahan.

    Tiba-tiba ponselnya berdering keras. Dia merogoh saku celana jinsnya, melihat layar, dan kedua alisnya berkerut sebelum mengangkat telepon itu.

    “Halo?”

    Dia mendengarkan. Hanya beberapa detik, wajahnya menjadi pias. Botol yogurt di tangannya terjatuh ke lantai. Dia mengabaikannya, lalu berlari keluar minimarket.

    Aku kebingungan sesaat, sebelum akhirnya meletakkan botol air mineralku di atas deretan cokelat di meja kasir dan berlari menyusulnya.

    Dia berdiri termangu di depan minimarket. Lalu lintas di hadapannya sedang ramai. Dia tampak tak sabar, kekalutan mewarnai seluruh wajahnya. Aku yakin dia akan nekat menyeberang kalau aku tidak menahan lengannya.

    “Ada apa?” desakku.

    “Bokap kecelakaan.” Suaranya campuran antara getir, marah, panik. “Gue harus ke rumah sakit sekarang.”

    “Kalau kamu sembrono menyeberang, kamu juga bakal tiba di rumah sakit sebagai korban kecelakaan.” Aku menarik tangannya. “Sini.”

    Untuk pertama kalinya sejak menjadi teman menyeberang, aku yang memimpin penyeberangan kami.

    ***

    Jam di ponselku sudah menunjukkan angka 6.12. Aku menggigit bibir dari sofa tempatku berada, memandangi dia yang sedang membenahi selimut ayahnya. Kepala dan tangan kanan ayahnya diperban, kakinya digips. Akhirnya beliau dipindahkan ke kamar opname setelah cukup lama di ruang operasi. Mobil beliau bertabrakan dengan kopaja ugal-ugalan dari arah berlawanan. Bisa selamat adalah suatu keajaiban.

    Seorang wanita berambut pendek yang baru keluar dari kamar mandi menghampiriku.

    “Kamu teman Sultan di bimbel?”

    Aku mengangguk.

    “Namamu siapa tadi?”

    “Leia, Tante.”

    “Oalah, Leia ternyata. Pasti Sultan kegirangan waktu tahu ada teman sekelasnya yang namanya sama kayak karakter favoritnya di Star Wars. Sama baiknya, pula.” Beliau tertawa kecil. “Tante nggak nyangka, Sultan bisa ketemu teman sebaik kamu di bimbel. Kamu sampai rela bolos kelas untuk menemani dia ke sini.” Kali ini beliau menatapku penuh terima kasih. “Ada hikmahnya juga ternyata, Sultan ikut program intensif itu.”

    Aku meringis malu. Saat adrenalin karena terburu-buru kemari sudah mereda, aneka rasa bersalah berganti menghujani.

    Tadi, saat kami tiba di depan bimbel usai menyeberang, dia memintaku menemaninya ke RS. Aku tak bisa menolak karena khawatir dia terlalu kalut kalau menyetir sendirian. Kami kembali ke kelas untuk mengambil tas, lalu keluar lagi tanpa mengindahkan pertanyaan anak sekelas. Sempat kulihat Nirmala memandangi kami dengan tatapan aneh. Biarlah. Pendapat Nirmala bukan sesuatu yang penting.

    “Maaf Tante, saya harus pamit.” Kusandang ranselku, lalu berdiri. “Semoga Om segera pulih.”

    “Terima kasih, ya, Leia.”

    “Sama-sama, Tante.” Aku mencium tangan beliau. Setelah itu aku berjalan ke pintu. “Aku pulang dulu,” kataku padanya, yang perhatiannya masih tertuju sepenuhnya pada sang ayah.

    Dia langsung bangkit. “Gue antar.”

    “Nggak usah. Kamu temani ayahmu saja.”

    Dia tetap mengikutiku keluar kamar. Kami sempat berdebat, sampai akhirnya dia berkata letih, “Gue antar sampai lo masuk ke taksi, biar bisa gue catat nomor taksinya.”

    Di parkiran rumah sakit, dia menahan lenganku sebelum aku berjalan ke deretan taksi yang menunggu penumpang di luar.

    “Makasih ya, Leia. Apa jadinya gue kalau nggak ada lo. Mungkin benar kata lo, gue akan tiba di sini sebagai korban juga. Kasihan nyokap gue kalau sampai begitu.”

    “Untung nggak.” Aku hendak berjalan lagi, tapi dia masih menahan lenganku. “Apa lagi?”

    Dia memelukku.

    Aku mematung.

    “Princess Leia-ku,” bisiknya, dengan nada sarat kebahagiaan yang menggetarkan jantungku.

    *** 

    Sebulan berlalu. Hari ini, saat aku datang ke bimbel, kulihat beberapa anak kelas kami berkerumun di depan papan pengumuman. Aku mendekat tanpa semangat. Hasil tryout minggu lalu pasti sudah keluar.

    Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, tidak kutemui lagi namaku bertakhta di peringkat pertama. Baris itu kini milik sejati Nirmala, yang sebelumnya harus selalu pasrah di urutan kedua. Kutelusuri daftar peringkat. Namaku berada di samping angka empat belas.

    Aku terperenyak.

    Sejak resmi berpacaran dengan dia setelah kejadian di RS itu, peringkatku selalu jatuh. Tapi selama ini aku tak pernah terlempar dari sepuluh besar, apalagi sampai lebih dekat ke urutan bawah daripada atas.

    Aku semakin lemas saat membaca namanya di peringkat tujuh belas. Belum pernah jarak peringkatku dengannya sedekat ini. Perbedaan total nilai tryout kami bahkan hanya 26 poin.

    Saat aku masih mematung di depan papan, Nirmala datang dan berdiri di sebelahku, ikut memandangi pengumuman.

    “Putus aja sama si Sultan, Lei,” kata Nirmala. “Lo mau kayak gini terus?”

    Pertanyaannya tidak mengandung nada merendahkan, bahkan aku bisa merasakan sedikit kekhawatiran. Namun, segala emosi terpendamku telanjur terpancing.

    “Bukannya kamu malah senang?” balasku sengit. “Sekarang kamu terus yang ranking satu. Akhirnya kamu bisa berjaya lagi, setelah kemarin gagal di ujian masuk gegara diputusin mantanmu yang selingkuh.”

    Nirmala menoleh cepat padaku, matanya menyipit tajam. “Apa lo bilang?”

    “Aku akan kembali ke peringkat satu tanpa perlu kehilangan pacar,” kataku penuh penekanan. Kemudian aku berbalik, menyibak kerumunan murid-murid lain yang menonton kami. Aku tidak menuju lantai atas tempat ruang kelas, melainkan ke pintu keluar bimbel. Kudengar panggilan mbak-mbak resepsionis, meneriakkan bahwa kelas akan segera dimulai. Tapi aku tetap mendorong pintu kaca, bertepatan dengan dia yang baru saja turun dari motornya.

    “Leia?” Dia menghampiriku, wajahnya khawatir. “Kamu kenapa?”

    ***

    Kami bolos lagi, untuk kesekian kalinya. Aku tak ingat sudah berapa banyak kelas yang kami lewati setelah menjalani hubungan baru ini. Tadinya kami kerap menghabiskan waktu di kamar opname ayahnya atau berjalan-jalan di taman RS. Setelah ayahnya diizinkan pulang, kami berpindah ke rumahnya. Kemudian ke tempat-tempat lain seperti lazimnya pasangan biasa: mal, bioskop, aneka restoran, taman hiburan. Salah satu keuntungan menjadi anak gap year adalah kami tidak lagi terbebani aneka kewajiban persekolahan. Status kami sudah bukan murid SMA, jadi kami memiliki banyak waktu untuk dihabiskan dan bebas bersikap seperti orang yang punya hari libur tak berkesudahan.

    Bersamanya selalu terasa menyenangkan, waktu pun berlalu bagaikan terbang. Kami saling bercerita, saling mendengarkan. Perlahan-lahan aku bisa terbuka padanya, menceritakan tentang diriku, situasi keluargaku, dan ketakutan-ketakutanku tanpa adanya perasaan tak enak akan dihakimi.

    Dia memahamiku. Aku memahaminya.   

    “Kita mau ke mana?” tanyaku, mempererat pelukanku di pinggangnya, sementara dia terus melajukan motor. “Ke rumahmu?”

    Aku suka rumahnya. Keluarganya membuatku terkenang masa-masa bahagiaku sebelum gempa melanda. Ayahnya simpatik dan selalu memandang segala hal dengan positif, bahkan ketika tangan dan kakinya sedang patah seperti sekarang. Sementara ibunya hobi memeluk, senang bercerita, dan memiliki sihir dalam masakannya. Aku tak pernah makan siang kurang dari dua ronde.

    Mereka membuatku merasa diterima. Lubang di hatiku, yang tercipta setelah bapak ibuku tewas, perlahan mulai tertambal, setelah bertahun-tahun ini kubiarkan menganga. Selama ini Tante tidak bisa mengisi lubang itu. Untuk pertama kalinya setelah gempa, aku merasa kembali utuh.

    “Bukan ke rumahku. Ke tempat lain,” jawabnya. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut sampai akhirnya motor berhenti di depan sebuah salon ternama. Aku turun, menatap bangunan itu dengan takjub.

    “Kenapa ke sini?”

    Dia meletakkan helm di setang. “Bukannya salon adalah hiburan terbaik untuk cewek yang lagi sedih?”

    Dia menggandeng tanganku masuk ke salon itu. Tahu-tahu aku sudah dikeramas, kemudian duduk di depan cermin dengan handuk tersampir di bahu. Dia menghampiriku, ekspresinya penuh semangat. Sambil tersenyum lebar, dia berpaling pada mbak-mbak yang akan menata rambutku.

    “Mbak, bisa dibuat model ini?” Dia mengulurkan ponselnya pada mbak-mbak itu. “Seharusnya bisa, kan? Rambutnya cukup panjang.”

    Keningku berkerut. “Kamu minta model apa?” tanyaku penasaran. Dia tidak menjawab, masih menunggu respons Mbak Kapster.

    “Kalau model seperti ini ….” Mbak Kapster terdengar ragu. “Ini tokoh fiksi, kan, Mas? Saya nggak yakin model rambut ini bisa diterapkan di dunia nyata.”

    “Bisa. Banyak kok, orang barat yang pakai kostum itu pas Halloween. Rambutnya dibikin kayak gitu.”

    “Tapi ….”

    “Masa salon besar seperti ini nggak bisa?” Intonasi suaranya meninggi. Dari cermin, kulihat ekspresinya berubah gusar. “Ini bukan gaya rambut kartun, Mbak. Kalau misalnya saya minta gaya rambut kayak Sailor Moon, nah. Baru masuk akal kalau mbaknya bilang nggak bisa.”

    Akhirnya Mbak Kapster mengalah. “Saya coba dulu, Mas.”

    Dia mengangguk. Kemudian dia meremas pundakku dan menyeringai. Tanda-tanda kekesalannya sirna begitu saja. “Kamu bakal jadi cantik banget, Leia,” ujarnya lembut. Setelah itu dia kembali ke kursi tunggu, tidak menjelaskan apa pun.

    Aku memperhatikan Mbak Kapster mengeringkan rambutku, meniadakan poninya, membaginya menjadi dua, lalu menggulung-gulungnya dan menjepitnya dengan hati-hati. Proses itu bisa dikatakan dalam satu kalimat, tapi kenyataannya, waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Mbak Kapster berulang kali mencoba-coba, sembari mencari informasi dari ponselnya sendiri. Dia sering menatapku di cermin, tampak berpikir keras. Tangannya sibuk menggerakkan rambutku.

    Ketika akhirnya selesai, aku langsung tahu saat cermin memperlihatkan pantulanku.

    Aku dijadikan Princess Leia.

    Princess Leia Organa sang tokoh sentral Star Wars, dengan rambut cepolnya yang ikonik. Pemilik orisinal namaku.

    Kulihat dia menghampiriku dan memeriksa hasil karya Mbak Kapster.

    “Lumayanlah.” Dia menyunggingkan senyum datar pada Mbak Kapster. “Makasih udah berusaha, Mbak.” Kemudian dia memberi Mbak Kapster tip, membuat Mbak Kapster meringis senang.

    “Gimana caranya aku pakai helm kalau rambutku begini?” tanyaku saat kami keluar dari salon. Bukannya aku tidak suka—gaya rambut ini lumayan bagus, apalagi bagiku yang tak pernah memodel rambut sepinggangku selain mengikatnya sederhana. Satu-satunya masalah cuma soal kepraktisan.

    Dia tidak menggubris pertanyaanku, malah memandangiku seolah aku batu permata paling langka.

    “Princess Leia-ku.” Suaranya diselimuti kekaguman. Tangannya terulur, lalu menggenggam kedua tanganku erat. “Aku sayang banget sama kamu.”

    Segala protesku menguap begitu saja. Dia sudah bersedia bolos kelas demi menghiburku, ditambah lagi membayari salon yang kutahu tidak murah. Kurasa dia sengaja memilihkan gaya rambut Princess Leia untuk memotivasiku. Princess Leia di Star Wars adalah karakter prajurit wanita yang tangguh dan berani, 180 derajat dari diriku. Mungkin ini cara dia mengatakan bahwa aku pun bisa seperti itu.

    Kalau bukan sayang, aku tak tahu apa namanya.

    “Aku juga,” balasku, tersenyum.

    ***

    Berminggu-minggu setelahnya, kata-kataku pada Nirmala terbukti hanya menjadi bualan kosong. Peringkatku tak pernah naik lagi; sekarang papan tengah ke bawah menjadi singgasana tetapku. Tutor kami pernah memanggilku, menanyai apa masalahku. Aku tidak sanggup memberi jawaban. Yang bisa kulakukan hanyalah bersyukur karena bimbel berbeda dengan sekolah. Bimbel tidak akan melaporkan progress belajar kami kepada orang tua atau wali.

    Jadi, Tante sama sekali tidak tahu-menahu soal merosotnya prestasiku.

    Biasanya aku menangis ditemani dia. Kami sudah jarang bolos kelas, tapi tetap saja, kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama. Aku memaksanya belajar. Dia tidak menolak—bagaimanapun, dia juga punya tanggung jawab untuk masuk PTN. Biasanya kami belajar di rumah besarnya. Orang tuanya sangat menyukai keberadaanku yang menurut mereka membawa pengaruh positif padanya dan mendorongnya untuk belajar lebih keras.

    Hari ini, seperti biasa, kami ke rumahnya untuk belajar bersama sepulang bimbel.

    “Ayah ibumu pergi?” tanyaku saat mendapati rumahnya sepi.

    “Bokap kontrol ke RS.” Dia mendahuluiku duduk di ruang tamu. Aku mengikutinya, lalu membuka tas dan mengambil buku soal. Tak lama setelahnya, kami mulai belajar.

    Sekitar dua jam kemudian, dua latihan soal telah berhasil kami selesaikan. Di luar, curahan air sedang deras, belum ada pertanda reda. Orang tuanya belum pulang. Aku menumpuk piring-piring kotor bekas mi goreng yang dibuatkan asisten rumah tangganya. Setelah itu, sembari aku membereskan buku-buku, dia mulai mengepang rambutku menjadi satu jalinan panjang.

    Sejak membuat rambut cepol waktu itu, dia jadi sering mencoba aneka gaya rambut Princess Leia padaku. Sudah tidak melalui salon yang mahal itu lagi—dia lebih memilih untuk mempelajarinya sendiri dari video-video, bereksperimen langsung di rambutku. Selain rambut cepol (yang belakangan kuketahui istilah resminya, “cinnamon bun”), Princess Leia memiliki aneka gaya rambut lain yang tak kalah antik. Hampir semuanya berdasar kepang: bando kepang, sanggul kepang, gulungan kepang. Kubiarkan saja dia mencoba-coba semuanya di rambutku. Aku tidak merasa terlalu terganggu, toh dia tidak pernah macam-macam dengan berusaha menyentuh bagian tubuhku yang lain.

    Pernah dia memintaku mengenakan baju terusan putih yang menjadi simbol busana Princess Leia. Dia yang menyediakan bajunya—katanya dia membelinya impor dari toko fansite Star Wars yang berbasis di Amerika. Aku mengganti baju di kamar mandi, lalu keluar dengan malu-malu. Dia menatapku semringah. Tidak hiperbola mengatakan bahwa dia tampak seperti mau menangis.

    “Princess Leia-ku!” serunya, dengan kadar kesenangan yang tampaknya bisa meledakkan termometer kebahagiaan. Dia membawaku ke kamarnya, memberikan pistol mainan panjang berwarna hitam (yang menurutnya bernama pistol blaster), lalu menyuruhku berdiri di depan poster Star Wars, bergaya dengan memegang pistol itu sebagaimana pose khas Princess Leia yang terkenal di mana-mana.

    Saat itu, aku merasa menjelma menjadi Princess Leia sungguhan. Dia pasti juga merasakan hal yang sama, karena dia terus memuji sambil memotretku dari segala sudut.

    “Leia,” panggilnya setelah dia selesai mengepang rambutku. “Kemarin paket kostum baru Princess Leia pesananku akhirnya datang.”

    Kadang aku tak habis pikir dengan perilakunya. Bagiku, yang selalu menjalani kehidupan sederhana bersama Tante, melihat dia menghabiskan enam digit untuk barang-barang Star Wars terasa tak masuk akal—meskipun kondisi keuangan keluarganya di atas rata-rata,.

    Namun, aku tak pernah menyuarakan keherananku. Aku tak ingin dianggap sebagai cewek posesif yang menghalangi hobi pacar.

    “Kamu coba kostumnya, ya?”

    “Oke.” Aku mengangkat bahu. Tidak ada salahnya menyenangkan pacar sendiri.

    Dia menyeringai senang, lalu memimpinku menuju kamarnya di atas. Kamar itu dipenuhi aneka poster Star Wars yang memenuhi seluruh sisi tembok, juga mainan, action figure, macam-macam. Bahkan, jam dinding dan seprainya juga Star Wars. Seluruh permukaan lemari pakaiannya ditutupi stiker karakter-karakter Star Wars, mulai dari gambar manusia sungguhan sampai karikatur dan kartun.

    Di lantai dekat meja belajarnya, terdapat tumpukan kardus. Dia berjongkok dan membuka salah satu kardus, mengeluarkan pakaian yang masih dibungkus rapi dalam plastik, lalu menyodorkannya padaku. Pakaian itu berupa turtleneck panjang berwarna merah oranye polos, celana semi-aladin dengan warna senada, dan rompi-jubah panjang berwarna putih gading. Aku tersenyum. Ini keren. Penuh semangat, kubawa bungkusan itu ke kamar mandi di ujung kamar.

    “Luar biasa!” Dia bertepuk tangan saat aku keluar dari kamar mandi, sudah berkostum. Aku meringis. Dia memintaku berputar agar dia bisa mengagumi segala sisi. Kemudian, seperti biasa, dia mengarahkanku berpose untuk dia potret.

    “Masih ada satu outfit lagi,” ujarnya seraya meletakkan kamera di meja belajar. Dia membungkuk ke kardus paketnya, mengeluarkan kostum lain yang dia maksud. Hatiku terenyuh melihat sikap excited-nya yang persis anak kecil. Ekspresinya yang seperti itulah yang membuatku rela mengikuti segala fanatismenya terhadap Princess Leia yang dia salurkan padaku, si pemilik nama sama.

    Dia mengulurkan bungkusan plastik. Aku menerimanya dan keningku langsung berkerut.

    “Ini ….”

    “Kostum ikonik lain dari Princess Leia.” Dia mendesah senang. Aku membuka plastik, mengeluarkan isinya, dan langsung menjatuhkannya.

    “Kamu gila?!” pekikku tanpa sadar. Aku tahu kostum apa itu; semua orang yang pernah bersinggungan dengan Star Wars pasti mengetahuinya.

    Itu bikini Princess Leia, kostum khas yang dia pakai pada Star Wars: Return of the Jedi. Dia dipaksa mengenakan kostum itu saat tertangkap, ditawan, dan dijadikan budak oleh alien siput besar menjijikkan bernama Jabba.

    Kostum itu terdiri dari bra tembaga bermotif lengkung dengan tali pengikat di belakang leher, cawat tembaga dengan kain merah sutra di belakangnya, gelang lengan, dan sepatu bot kulit cokelat sebetis. Bagian tubuh yang terekspos jauh lebih banyak daripada yang tertutup.

    “Kamu nggak mau pakai?”

    “Ya iyalah!”

    “Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Sumpah.” Dia mengangkat kedua tangannya. “Aku nggak akan menyentuh kamu sedikit pun. Aku cuma minta kamu pakai itu aja seperti Princess Leia.”

    Air mataku mulai menggenang. “Mana mungkin aku pakai itu?!”

    “Memangnya kenapa?” Dia memiringkan kepala, terlihat heran. “Kamu kan sudah pakai kostum-kostum Princess Leia yang lain. Apa bedanya sama yang ini?”

    Aku ingin menjerit.

    “Apa karena kostum ini terbuka? Nggak usah pikirkan soal itu, Leia. Anggap aja ini sama kayak kostum-kostum lain Princess Leia yang pernah kamu coba.” Dia tersenyum, berusaha membujuk. Tapi yang kulihat adalah setan. “Pikir kayak gitu aja, oke? Ini cuma kostum.”

    Kurasakan pipiku basah. Tanpa memandangku, tangannya bergerak ke rak di sebelah kirinya, mengambil pedang cahaya khas Star Wars yang kutahu namanya lightsaber. Dia menekan tombol di pegangan pedang. Bilah pedangnya langsung menyala hijau.

    Aku tahu itu bukan pedang sungguhan—hanya mainan yang terbuat dari bahan yang sama dengan lampu LED. Namun, ada sesuatu dalam caranya memegang pedang itu yang menciutkan nyaliku. Entah bagaimana, aku merasa dia benar-benar bisa memenggal kepalaku dengan lightsaber itu.

    Petir menggelegar. Suara guyuran hujan semakin keras mengenai genting di atas langit-langit kamarnya.

    “Pakai, ya?” bujuknya lagi. Kali ini intonasinya rendah dan manis. “Aku butuh melengkapi koleksi foto Princess Leia-ku.”

    Kurasakan bulu-bulu domba yang lembut, yang selama ini menyelimuti dirinya, mendadak luruh, menunjukkan bulu sejati serigala di baliknya.

    Aku menelan ludah.

    “Apa kamu pernah benar-benar suka sama aku?” tanyaku kering. “Atau kamu cuma deketin aku karena aku punya nama yang kebetulan sama dengan karakter objek obsesimu?”

    Dia memandangiku tanpa ekspresi. Sosok hangat dan perhatiannya yang selama ini kukenal raib tanpa jejak.

    “Yang sama antara lo dengan Princess Leia cuma otak lo,” jawabnya datar. “Awalnya gue senang banget waktu tahu di kelas bimbel ada yang namanya Leia Organa. Tapi pas gue tahu lo orang macam apa, gue langsung marah. Lo pendiam, penyendiri, nggak menonjol, nggak cakep …. Bisa-bisanya orang kayak lo menyandang nama suci itu.” Dia melangkah maju. Aku melangkah mundur. “Jadi gue bertekad, gue harus menjadikan lo pantas memakai namanya. Sayangnya, setelah dekat sama gue, prestasi lo malah anjlok. Otak lo nggak bisa dibanggain lagi. Gue nggak punya pilihan lain selain makeover lo kayak gini.”

    Dia mengayunkan lightsaber-nya. Kini bilah cahaya hijau menempel hangat di leherku.

    “Lo pakai kostumnya, atau gue kasih tahu tante lo betapa seringnya lo bolos bimbel selama ini, juga ranking lo yang udah nggak pernah di sepuluh besar.”

    Bertetes-tetes air jatuh lagi dari mataku. Membayangkan kekecewaan di wajah Tante adalah hal terakhir yang kuinginkan.

    Maka dengan gemetar, aku terpaksa memakai bikini laknat itu. Dia tidak mengizinkanku berganti baju di kamar mandi, takut aku kabur katanya. Dia membuka lemari pakaiannya dan menyuruhku mengenakannya di balik pintu lemari.

    “Gue nggak akan lihat,” katanya seraya membalik badan, menghadap sisi tembok yang berlawanan arah. Pernyataan sampah. Kalaupun dia tidak melihatku ganti baju, bikini sialan itu akan membuatnya bisa melihat sebagian besar kulitku.

    “Udah belum? Lama amat!” serunya, setelah sekian menit berlalu. Aku tidak menjawab. Bra dan cawat Princess Leia terasa berat di tubuhku. Aku berusaha menutupi perut dan pahaku dengan kain merah yang menyatu dengan cawat, tapi tak ada gunanya. Tubuh ini tetap saja terekspos.

    Dia muncul dari balik pintu lemari. Seringai girang di wajahnya saat melihatku dalam kostum bikini itu membuatku ingin muntah.

    “Gue nggak nyangka, bentuk badan lo cocok dengan kostumnya.” Dia menarikku menjauh dari balik pintu lemari. “Sini, gue foto dulu.”

    Mati rasa, kubiarkan dia memotretku dari berbagai angle. Dia mengangguk-angguk puas saat memeriksa hasil jepretannya di layar kameranya.

    Suara hujan tak lagi terdengar.

    Thank you, Leia.” Dia memandangku, senyum bermain di bibirnya. “Sana ganti baju, terus gue antar pulang.”

    Sembari menutupi tubuh dengan kedua lengan, aku menyambar pakaianku dan bergegas menuju kamar mandi.

    “Oya, Leia?”

    Tanganku terhenti di kenop.

    “Kalau setelah ini lo minta putus, foto-foto ini gue upload ke internet, ya.”

    Aku memutar kenop, mengunci pintu dari dalam, lalu menyalakan keran agar suara isakku tersamarkan.

    ***

    Sejak itu, aku tak pernah lagi datang ke bimbel.

    Membayangkan melihat wajahnya saja membuatku sakit kepala hebat. Tidurku dipenuhi mimpi di mana dia mencacahku dengan lightsaber. Kali lain, mimpinya adalah PTN incaranku menolak menerimaku menjadi mahasiswinya, sebab foto-fotoku dengan bikini Princess Leia dianggap mempermalukan nama universitas.

    Sampai letih aku menangis diam-diam. Cowok sial itu membombardirku dengan telepon dan SMS. Aku tak bisa mengabaikannya, takut fotoku tersebar dalam hitungan detik. Jadi aku tetap mengangkat telepon dan membalas SMS-nya, memberitahunya bahwa aku sakit parah sampai tak bisa bangun dari tempat tidur. Dia menghibur dan mendoakanku, bersikap seolah hari bikini itu tak pernah terjadi. Sekuat tenaga aku berusaha melakukan hal yang sama. Kami bersandiwara seakan kami pasangan remaja biasa, seperti dulu sebelum peristiwa itu.

    Tiga minggu setelahnya, aku merasa gila. Berat badanku susut lima kilo. Mataku seperti mata panda, wajahku serupa tanaman yang berhari-hari tak disiram. Tubuhku menguarkan aroma asam keringat. Sejak peristiwa itu, aku jarang mandi. Melepas pakaian untuk mandi mengingatkanku pada waktu aku berganti baju dengan bikini itu. Sulit bagiku untuk menatap kulitku sendiri. Jadi aku selalu memakai baju panjang dan celana panjang, tak peduli berapa pun suhu udaranya. Aku tak ingin kulitku terekspos lagi, bahkan oleh diriku sendiri.

    Sepanjang hari—setelah Tante berangkat kerja—aku hanya tiduran di sofa depan televisi, menatap kosong pada apa pun yang disiarkan. Buku-buku soalku berada nyaman dalam ransel, tak pernah kukeluarkan. Kegiatan belajar mengingatkanku padanya, jadi aku tak mau lagi menyentuh buku.

    Saat itu aku benar-benar tak tahu, mau dibawa ke mana masa depanku. Duniaku runtuh, semua impianku terkubur di bawah puing-puingnya. Aku tak tahu apakah akan bisa menggalinya kembali. Ketakutan lain mulai menghantui: aku harus bagaimana menjelang ujian masuk tahun depan? Saat ini aku merasa diriku setara kotoran, tak layak memperoleh kursi di perguruan tinggi negeri.

    Band di layar televisi naik ke panggung pada acara musik pagi. Gitar dan drum mulai mengalunkan melodi, vokalisnya mulai menyanyi.

    Di tengah alunan lagu, terdengar suara gembok diketuk-ketuk ke besi pagar.

    Aku terduduk di sofa, tegang seketika.

    Siapa?

    Jantungku berdentam. Tidak ada temanku yang tahu lokasi rumah ini selain dia.

    Mengumpulkan keberanian, aku beringsut ke jendela dan mengintip dari balik tirai.

    Aku terbelalak saat melihat sosok tamu itu.

    *** 

    “Gue nanya alamat lo ke Mbak Meta.”

    “Mbak Meta resepsionis?”

    “Siapa lagi? Gue bilang ke dia, gue diminta Pak Ronny nyari tahu kenapa lo nggak pernah masuk.”

    Aku masih berusaha memproses betapa absurdnya melihat Nirmala di sofa ruang tamu.

    “Kenapa lo ngilang?” Nirmala menatapku lekat. “Pasti ada hubungannya sama Sultan, kan?”

    Aku menelan ludah.

    “Dia melakukan sesuatu ke lo?” selidiknya lebih lanjut. Matanya otomatis berpindah ke perutku. Aku cepat-cepat menggeleng.

    “Kami nggak pernah melakukan itu.”

    “Terus kenapa?” Sebelah alis Nirmala terangkat. “Dia juga kelihatan aneh. Yah, biasanya memang selalu aneh, tapi sekarang kayak lebih kacau gitu.”

    Aku menggigit bibir, memandangi Nirmala.

    “Kenapa kamu selalu melarang aku pacaran sama dia?” tanyaku akhirnya. “Awalnya kukira kamu cemburu. Tapi … kayaknya alasanmu bukan itu.”

    “Amit-amit gue naksir dia.” Nirmala mendengus jijik. “Gue suka baca fanfiksi, Lei. Star Wars adalah salah satu fandom yang gue suka, jadi kadang-kadang gue baca fanfiksi di sana. Ada satu fanfiksi yang beken banget. Fanfiksi panjang, puluhan ribu kata. Ceritanya tentang seorang OC—original character—yang jadi pahlawan baru setelah Han Solo dikisahkan mati. Si OC itu jatuh cinta sama Princess Leia dan nggak berhenti mengejar-ngejar dia, sampai akhirnya Princess Leia bisa move on dari Han Solo dan balas mencintai si OC. Dimulailah petualangan baru mereka berdua.”

    Aku mengerjap bingung. “Apa hubungannya sama pertanyaanku?”

    “Penulis fanfiksi itu si Sultan. OC itu adalah perwujudan fantasi idealnya untuk menjadi salah satu tokoh utama Star Wars bersama Princess Leia.”

    “Kamu tahu dari mana?”

    “Gue lihat di laptopnya waktu kami kerja kelompok. Dia sendiri mengonfirmasi kok waktu gue tanya.”

    “Terus, apa masalahnya?”

    Nirmala menggaruk kepala. “Fanfiksi itu agak … gila, Lei. Memuja Princess Leia habis-habisan dengan cara yang bikin mual. Waktu akhirnya si OC itu berhasil jadian sama Princess Leia, rating fanfiksinya langsung berubah jadi M—khusus dewasa. Lo bisa bayangin gimana isinya.”

    Tanganku gemetar.

    “Makanya, pas pertama kali masuk kelas bimbel dan ngeliat nama lo di daftar murid, gue langsung yakin si Sultan pasti bakal deketin lo.” Nirmala menghela napas. “Sekarang, lo bersedia cerita apa yang terjadi antara lo dan Sultan?”

    Ragu, kata demi kata mulai mengalir dari mulutku. Awalnya pelan, tapi semakin lama semakin memburu. Rasanya seperti membuka pintu bendungan—seluruh airnya menerjang keluar.

    “Orang berengsek!” Tangan Nirmala mengepal. Dia merogoh ponsel dari saku jaketnya. “Kita lapor polisi!”

    “Jangan!” Aku menahan tangannya. “Kita mau lapor apa? Dia nggak memerkosa atau semacamnya.”

    Nirmala tampak susah payah menahan geram. “Dia maksa lo memakai baju seksi dan mengancam untuk menyebarluaskan foto lo pakai baju itu. Apa itu bukan kriminal namanya?!”

    “Jangan.” Aku menatap Nirmala, memohon. “Buat apa melapor? Kalaupun misalnya laporan itu ditindaklanjuti, mereka pasti akan memeriksa foto itu. Aku nggak tahan membayangkan ada laki-laki lain yang melihat—” Suaraku menghilang. Air mataku mulai berjatuhan sehingga aku harus menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

    Apa jadinya kalau masalah ini sampai ke polisi? Mau ditaruh di mana muka Tante?

    Kurasakan lengan Nirmala merangkulku.

    “Keluarin aja semuanya, Lei,” ujarnya, menepuk-nepuk bahuku lembut. “Selama ini lo memendam semua sendirian, kan? Sekarang keluarin semuanya. Gue di sini sama lo.”

    Sedu sedanku semakin menjadi. Kuhabiskan pagi itu dengan menangis tanpa henti dalam pelukan Nirmala.

    ***

    Saat aku membuka mata, jam dinding menunjukkan pukul dua. Kepalaku pusing. Aku bangkit, tersadar bahwa aku masih di sofa depan televisi.

    Ingatanku berputar. Tadi Nirmala berkunjung.

    Mimpikah?

    “Udah bangun?”

    Aku menoleh. Nirmala menghampiriku, membawa sepiring nasi dengan telur mata sapi di tangan kanan dan segelas air putih di tangan kiri.

    “Sori ya, gue pakai dapurnya.” Dia duduk di sampingku, lalu menyodorkan gelasnya padaku. “Minum dulu.”

    Linglung, aku minum sampai habis. Nirmala mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya di meja, kemudian memberikan piring nasinya padaku.

    “Memang tidur habis nangis itu paling enak.” Nirmala meringis. “Makan dulu, Lei. Lo kurus banget.”

    Aku memandangi nasi di hadapanku seolah itu makanan alien. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

    “Kamu nggak ke bimbel?”

    Nirmala terkekeh. “Dan ninggalin lo sendirian begini?” Dia menyandarkan tubuh ke sofa. “Memangnya cuma lo doang yang bisa bolos.”

    Aku terdiam. Perlahan, kuletakkan piring di samping gelas yang kosong.

    “Sori ya Lei. Sebenarnya dari dulu gue pengin kasih tahu kebenaran tentang Sultan ke lo, tapi … gue tahu betul bahwa orang yang lagi jatuh cinta memang nggak bisa dibilangin. Selain itu … lo kayak nggak suka sama gue.”

    Kusadari pipiku merona. Nirmala pasti melihatnya, karena dia langsung mendenguskan tawa.

    “Jadi benar, lo nggak suka sama gue?”

    “Bukan nggak suka,” tukasku cepat. “Aku cuma … merasa nggak cocok aja sama pribadi kayak kamu.”

    Kali ini Nirmala benar-benar terbahak.

    “Apa maksud lo, pribadi kayak gue?”

    Aku yakin wajahku semakin merah padam.

    “Ekstrover, dominan, pusat perhatian ….” cicitku. “Cewek kayak kamu, kan, biasanya nggak cocok sama tipe orang kayak aku.”

    “Astaga, Leia.” Nirmala menggeleng-geleng. “Jadi di mata lo, gue terlihat seperti cewek populer tukang bully yang biasa lo lihat di sinetron, ya?”

    Aku tidak menjawab, diselimuti rasa malu. Aku seenaknya membentuk sosok Nirmala dalam benakku berdasarkan apa yang kuketahui dari tontonan atau bacaan, padahal aku tidak pernah benar-benar berusaha mengenal dia.

    “Maaf.”

    “Santai. Lo bukan orang pertama yang salah pahamin gue.” Nirmala menyeringai. “Satu hal yang harus lo ingat, Lei: di sekeliling lo, banyak orang yang care sama lo.”

    Aku menggeleng sedih. “Kondisiku nggak seperti itu,” kataku, disusul dengan cerita tentang gempa yang menelan orang tuaku, juga bagaimana sifat tanteku dan kesunyian yang selalu ada di antara kami.

    Nirmala berdecak. “Lagi-lagi lo berprasangka, Lei. Tante lo pasti sayang banget sama lo. Kalau nggak, mana mungkin dia mau ngurusin lo sampai sekarang, bahkan bayarin bimbel program intensif segala?” tembak Nirmala telak. “Dia kehilangan suami, lo kehilangan orang tua. Kalian dua orang yang sama-sama kehilangan. Kenapa kalian nggak coba saling mengisi, saling menyembuhkan?”

    “Aku nggak tahu caranya.”

    “Harus ada yang dobrak dinding duluan, Leia. Kalau tante lo nggak bisa melakukannya, coba lo yang inisiatif. Buka diri lo perlahan ke dia, kayak lo cerita ke gue gini. Gue yakin, dia pasti senang banget kalau keponakannya mau cerita masalahnya ke dia.”

    Aku termangu, meresapi kata-kata Nirmala.

    ***

    Malam itu, seperti biasa aku makan berhadapan dengan Tante tanpa bicara. Mata Tante tertuju ke layar televisi. Tanganku bergerak, menyuap sendok demi sendok, tapi otakku berputar tanpa henti, mencari cara memulai percakapan.

    Tanganku dingin, perutku mulas. Degup jantungku bertalu-talu.

    Kulihat makanan Tante hampir habis. Aku mendesah dalam hati. Mungkin bukan malam ini. Mungkin besok. Masih akan ada kesempatan lain.

    Ponselku, yang kuletakkan di sebelah piring, berdering keras.

    Sederetan nomor memanggil. Aku sudah menghapusnya dari daftar kontak, tapi aku tetap familier dengan angka-angka nomor ponselnya.

    Tante melirik. “Kok nggak diangkat?”

    Itu adalah momentum bagiku.

    “Orang ini,” aku menunjuk layar, “adalah cowok berengsek obsesif gila yang mengancamku.”

    Dan begitu saja, seperti dengan Nirmala tadi pagi, keran kalimat terbuka deras. Ekspresi Tante berubah-ubah sepanjang aku berkisah: terkejut, tak percaya, marah, iba. Setelah aku selesai, Tante bangkit dari kursinya dan memelukku.

    “Maafkan Tante, Lei.” Suara Tante pecah. “Maafkan Tante kurang menjaga kamu. Seharusnya kamu nggak pernah mengalami hal mengerikan seperti itu.”

    Air mataku berlinangan.

    “Maafkan Tante membiarkan kamu menanggung semua ini sendirian. Maafkan Tante, Leia. Maaf.”

    “Kenapa Tante minta maaf terus?” bisikku serak. Kubenamkan wajah ke dadanya, membasahi daster belelnya. “Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah mengkhianati kepercayaan Tante.”

    Tante tidak menjawab, tapi dekapannya mengerat.

    Untuk pertama kalinya, makan malam kami tidak diisi dengan keheningan, melainkan tangisan.

    *** 

    Keesokan harinya, Tante cuti kerja. Tante pergi menemui orang tua cowok itu. Aku menunggu di rumah, ketar-ketir, tak berhenti mondar-mandir. Hatiku pedih membayangkan reaksi ayah ibunya saat mereka mengetahui bahwa putra mereka tidak senormal yang mereka bayangkan. Bagaimanapun, ayah ibunya baik terhadapku, dengan kebaikan yang kurasa tulus. Perasaan mereka pasti hancur.

    Namun, seperti kata Tante, bukan mereka yang harus kukhawatirkan sekarang.

    Meskipun masih takut, aku mulai membuka buku soalku lagi. Aku belum berani pergi ke bimbel, tapi keinginan untuk kembali menata masa depan perlahan menyala. Semalam aku tidur di kamar Tante, dan kami mengobrol sampai jam satu. Tante mengisahkan masa kecilnya dengan ibuku, juga menceritakan kisah-kisah tentang orang tuaku yang tak pernah kutahu. Tante juga sempat mengenang suaminya. Dinding tak kasatmata yang sempat membatasi aku dan Tante telah runtuh tanpa sisa.

    Pukul sebelas, kudengar pagar depan dibuka. Aku berlari ke teras. Tante menutup dan menggembok pagar, lalu tersenyum saat melihatku.

    “Gimana?”

    “Mereka akan membawa Sultan ke psikolog.” Tante merangkulku. “Mereka juga janji akan mengawasinya. Untuk sementara ini, dia nggak boleh keluar rumah sendiri.”

    “Fotonya?”

    “Yang di camdig sudah dihapus. Mereka akan menyita komputernya juga.”

    Aku menggigit bibir. “Gimana kalau dia sudah upload ke internet?”

    Tante membelai rambutku. “Kalau ada yang menghujat kamu gara-gara foto itu, Tante akan jadi yang paling depan belain kamu.”

    Itu bukan jawaban yang kuharapkan. Tapi aku tahu, saat ini hanya janji Tante itu yang bisa kupegang.

    “Setelah ini kamu belajar di rumah aja, ya? Nggak usah datang ke bimbel lagi.”

    Tante merelakan begitu saja uang yang sudah dibayarkan untuk setahun. Aku merasa bersalah sekaligus lega. Aku tak bisa membayangkan harus menginjakkan kaki lagi di bimbel itu. Seluruh memori pahit akan si cowok berengsek terpatri di seluruh sudut tempat itu. Bahkan, melewati jalan tempat bimbel itu berada pun aku takkan mau.

    Tapi aku yakin, tanpa bimbel pun aku pasti bisa.

    Harus bisa.

    Dalam hati aku bertekad untuk belajar keras, masuk PTN bergengsi, menjadi sarjana, mendapat pekerjaan bagus, dan mengembalikan semua uang Tante kelak, berkali-kali lipat. Hingga pada saatnya nanti, Tante bisa pensiun dengan bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan aku lagi.

    “Jangan lupa buang simcard kamu yang lama. Nanti Tante belikan nomor baru.”

    Aku memeluk Tante.

    “Makasih, Tante.”

    *** 

    Bulan demi bulan berjalan cepat. Ujian masuk PTN akhirnya kembali tiba. Kali ini tanggalnya cukup jauh dari hari peringatan gempa, jadi aku bisa tenang.

    Tante mengantarku ke lokasi tes, meletakkan tangan di atas kepalaku, dan melafalkan doa panjang. Tante baru beranjak pergi setelah aku duduk manis di ruang ujian.

    Aku mempersiapkan pensil, penghapus, dan rautan. Setelah itu aku mengambil ponsel dan mengirim SMS pada Nirmala: Good luck.

    Balasannya datang lima detik kemudian: You too.

    Ketika waktu mengerjakan soal berakhir, aku meninggalkan ruang ujian dengan hati lapang.

    Kali ini aku percaya akan mendapat tempat. PTN pilihanku tidak akan punya alasan lagi untuk menolakku.

    Beberapa purnama mendatang, aku yakin akan menjadi mahasiswi.

    *** 

    “Kamu bakal suka Yogya,” kataku seraya mengambil potongan piza ketiga. “Nanti pasti kamu terlalu betah di sana sampai nggak mau pulang.”

    Di hadapanku, Nirmala menuangkan saos tomat banyak-banyak ke atas lasagna-nya. “Nggak, lah. Gue pasti pulang.”

    “Buat ketemu aku?”

    “Kepedean lo.”

    Aku tertawa kecil. Kupandangi Nirmala yang kini menyuap sepotong lasagna.

    “Makasih buat semuanya ya, Nirmala.”

    Dia mengibaskan tangan. “Kayak sama orang asing aja sih lo.”

    Senyumku mengembang. Nirmala memang sudah bukan orang asing. Setelah kejadian waktu itu, dia menjadi teman terdekatku meskipun aku tidak ikut bimbel lagi. Sering kali Nirmala ke rumahku: belajar bersama, saling berlomba mengerjakan soal.

    Besok, Nirmala akan berangkat ke kota kelahiranku. Dia diterima di Fakultas Hukum UGM, pilihan pertamanya pada ujian masuk kemarin.

    Aku? Aku memiliki tempatku sendiri: Psikologi UNJ. Sejak awal kampus itu memang pilihanku karena dekat dengan tempat kerja Tante. Aku tak punya niat kuliah di tempat yang jauh sampai harus meninggalkan Tante sendirian.

    “Lei, ingat nggak? Lo pernah bilang, gue gagal di ujian masuk tahun lalu gegara diputusin mantan gue yang selingkuh.”

    Kurasakan pipiku menghangat. Setiap kali mengingat masa-masa ketika aku masih berprasangka buruk pada Nirmala, aku selalu ingin membenamkan diri ke perut bumi.

    “Bukan itu alasan gue gagal.”

    “Jadi, mantanmu nggak selingkuh?”

    Nirmala tertawa mengejek. “Selingkuh, lah. Putus sama dia adalah salah satu hal terbaik dalam hidup gue.”

    “Terus … kenapa kamu gagal?”

    Nirmala meletakkan garpunya di piring.

    “Sekitaran waktu itu, keluarga gue lagi kacau. Gara-garanya, teteh gue jadi korban KDRT.”

    Aku terdiam.

    “Teteh gue dipukulin tiap hari, ditendang, dijambak, disundut rokok. Lo kebayang nggak, betapa hancurnya hati bokap nyokap gue mendapati anak perempuan yang mereka sayang dari kecil diperlakukan kayak gitu oleh orang yang sudah berjanji akan menjaganya seumur hidup?”

    Kerongkonganku mendadak tersekat. Pasti itulah yang Tante rasakan ketika dulu aku mengakui perbuatan cowok berengsek itu padaku.

    “Teteh gue masih terapi sampai sekarang.” Nirmala menghela napas sedih. “Makanya, Lei, dulu itu gue nggak bisa nggak peduli sama lo. Waktu itu gue benar-benar khawatir lo mengalami apa yang teteh gue alami—meskipun konteksnya bukan rumah tangga, ya. Intinya sih, gue nggak mau melihat perempuan lain, terutama yang gue kenal, berada dalam hubungan nggak sehat kayak gitu.” Nirmala tersenyum tipis. “Itu juga alasan gue mengambil jurusan Hukum. Gue bertekad akan menjadi pengacara yang bisa membela perempuan-perempuan yang menjadi korban KDRT atau kekerasan dalam pacaran, agar mereka mendapat keadilan.”

    Mataku mulai panas.

    Nirmala …. Manusia yang luar biasa, yang cahayanya kerap kali ditelan prasangka.

    Orang-orang memang hanya selalu menilai apa yang tampak dari luar, dan aku telah cukup belajar bahwa itu adalah kesalahan terfatal.

    Aku bersikeras membayar makanan kami. Nirmala sempat mendebat, tapi akhirnya mengalah. Kami keluar dari restoran piza itu, lalu berjalan-jalan menyusuri mal yang tak ramai pada siang hari kerja seperti ini.

    “Oh iya, gue kan harus ambil duit.” Nirmala menepuk dahi saat kami melewati deretan ATM. “Bentar ya Lei!”

    Sementara dia menyelesaikan urusannya di ATM, aku berdiri menunggu sembari mengamati suasana mal. Sendu menyelimutiku. Setelah ini, entah kapan aku bisa bersenang-senang dengan Nirmala lagi. Dia pasti akan sibuk di Yogya, dan kurasa aku juga sama.

    Tapi …. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mendapat teman baru di kampus nanti. Aku ingin menjadi seperti Nirmala bagi orang lain, teman sejati yang ada dalam suka duka. Dengan begitu, aku bisa menjadi manusia bermanfaat yang membantu meringankan beban teman baruku jika dia punya masalah. Mendukungnya sepenuh hati, tetapi juga mewanti-wantinya kalau dia menunjukkan tanda-tanda keluar jalur.

    Tatapanku bergulir ke toko mainan yang terletak di arah jam sebelas. Dari sini bisa kulihat toko mainan itu memajang kotak-kotak lego Star Wars baru di tengah-tengah toko. Rasa mual yang familier langsung melanda. Walaupun aku tidak pernah berhubungan dengan cowok berengsek itu lagi, traumanya tidak hilang begitu saja.

    Seorang cowok berkaos Darth Vader keluar dari toko mainan itu, membawa plastik putih besar. Dia berdiri di depan toko, mengeluarkan kotak lego Star Wars dari dalam plastik, lalu memandanginya seakan itu berlian.

    Jantungku mencelus.

    Seringainya, yang terkadang masih menghantui mimpi-mimpi burukku, muncul. Setelah beberapa saat, dia memasukkan lagi kotak lego itu ke plastik dan berjalan ke arah sini.

    Kakiku seolah dipasung ke lantai mal yang mengilap.

    “Udah.” Nirmala menghampiriku, tersenyum ceria. Refleks, aku mencengkeram lengan bajunya. Ekspresi Nirmala langsung berubah. “Kenapa, Lei?”

    Lidahku kelu. Mataku tetap terpancang pada cowok berkaos Darth Vader, yang kini semakin dekat.

    Nirmala mengikuti arah tatapanku dan langsung mengerti.

    “Jangan takut, Lei.” Nirmala menggenggam tanganku, menyalurkan keberanian. “Ada gue. Lo nggak sendirian.”

    Kemudian Nirmala menarikku berlari di sepanjang koridor mal, menjauhi dia.

    Kuharap, kali ini benar-benar untuk selamanya.

     

     

    Bekasi, 18 Maret 2022

    8.40 

     

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!