Terhalang Takdir
10.1
0
81

Maryanto dan Adinda, di takdirkan untuk bertemu namun tidak di takdirkan untuk bersama selamanya.

No comments found.

Satu ikatan, lekang selamanya. Kalimat tersebut menggambarkan kisah cinta antara Maryanto dan Adinda. Mereka pertama kali bertemu di sebuah pasar yang berada di desa. Maryanto sehari-hari membantu ibunya berjualan sayur dan umbi-umbian dari hasil ladang. Adinda sesekali membeli sayur dari lapak Maryanto.

                Pada awalnya, Adinda tidak memiliki ketertarikan sama sekali kepada Maryanto. Sebaliknya, Maryanto memiliki ketertarikan kepada Adinda karena terlihat ayu dan santun. Adinda memiliki rambut hitam yang disanggul dengan rapi, bola mata yang terlihat besar dengan tatapan yang menenangkan jiwa, hidung yang mancung, bibir tipis dan bentuk wajah yang dianggap Maryanto proporsional. Menurut Maryanto, kebaya yang dikenakan Adinda sangat anggun; atasan berwarna hitam dan kain berwarna coklat gelap dengan motif batik bunga dan awan melingkar pada bagian pinggang.

                Setiap kali Adinda beranjak dari lapak Maryanto, ibu dari Maryanto harus menepuk pundak anaknya terlebih dahulu untuk menyadarkan pikirannya kembali. “Anakku, kau ini jangan hanya berani memperhatikan saja. Kau harus berani mengajaknya berkenalan,” ucap ibu suatu ketika saat Maryanto tidak berani melayani Adinda dan hanya memperhatikan perempuan itu setelah pergi. “Besok kau yang layani dia ya.”

                “Tapi bu…”

                “Tidak ada kata tapi, Maryanto.” Sela ibu. “Kau harus menjadi seorang laki-laki yang percaya diri. Ibu yakin kau bisa mendekati perempuan itu.”

                Maryanto menundukkan kepala. “Baik bu, lain kali akan Maryanto coba.”

                Ibu menganggukkan kepala lalu tersenyum simpul setelah mendengar perkataan anak semata wayangnya. “Semoga jodohmu diberikan kemudahan ya, nak.” Kata ibu sambil menyiratkan doa. Maryanto hanya tersenyum kecil dan kembali fokus menawarkan dagangannya.

                Beberapa hari kemudian, Adinda kembali datang ke lapak Maryanto untuk membeli sayur dan mayur. Ibu Maryanto sedang pergi ke toilet pada saat itu, sehingga Maryanto mau tidak mau melayani Adinda dengan perasaan gugup. Saat Adinda bertanya harga sayur yang diangkatnya ke arah Maryanto, laki-laki itu tidak berani menatap mata Adinda. Ia menjawab pertanyaan Adinda sambil melirik ke arah lain.

                “Kalau sayur bayam ini seikat harganya berapa, mas?” tanya Adinda untuk kedua kalinya dengan sayur berbeda. Ia mengangkat seikat kangkung di tangannya dan menunjukkan sayur tersebut ke arah Maryanto.

                “Itu harganya lima perak, neng,” jawab Maryanto cepat. Ia menoleh ke arah pembeli lain yang kebetulan datang dan langsung membeli beberapa ikat kangkung. Maryanto melirik ke arah Adinda yang sedang sibuk memilih seikat bayam bagus dari tumpukan sejenis. Laki-laki jangkung itu mengurus pembayaran pembeli lain yang lebih cepat memilih sayur sambil menunggu Adinda selesai memilih sayur yang akan dibeli.

                “Aku beli dua ikat bayam, satu ikat kangkung, satu buah bawang putih dan tiga tomat. Harganya jadi berapa?” tanya Adinda sambil menyusun sayuran yang sudah ia pilih.

                Maryanto mengambil selembar daun berukuran besar dan tebal untuk membungkus belanjaan Adinda sambil menghitung nominal yang harus dibayarkan. “Satu ikat bayam lima perak, dua jadi sepuluh perak. Satu ikat kangkung lima perak. Satu buah bawang putih dua perak. Satu tomat empat perak, tiga jadi dua belas perak.” Jawab laki-laki itu sambil mengangkat barang yang akan dihitung. “Total semua jadi dua puluh sembilan perak.”

                Adinda mengeluarkan uang seharga belanjaannya dan memberikan kepada Maryanto. Laki-laki itu menyerahkan belanjaan Adinda dan tanpa sengaja menyentuh ujung jari jemari perempuan tersebut.

                “Terima kasih, mas,” ujar Adinda sambil memasukkan belanjaannya ke dalam sebuah tas yang terbuat dari anyaman rotan. Perempuan itu kemudian berjalan pergi menuju lapak lain untuk membeli kebutuhan lainnya.  Maryanto tidak melepaskan pandangannya dari punggung Adinda yang semakin menjauh dan samar di antara keramaian para pengunjung pasar maupun pedagang pikul yang berlalu lalang.

                “Bagaimana?” tanya ibu Maryanto bermaksud mengagetkan anaknya. Akan tetapi Maryanto tidak terlihat kaget maupun menoleh ke arah ibu karena masih fokus melihat penampakan punggung Adinda. “Apa kau sudah tahu nama perempuan itu?”

                Maryanto menggelengkan kepala menjawab pertanyaan ibu yang kedua. Ibu mendengus sebal karena merasa kecewa. “Semoga ada kesempatan lagi ya, Maryanto,” ucap ibu. “Ibu ingin kau segera menikah agar kau tidak kesepian jika ibu sudah tidak ada lagi.”

                Maryanto menoleh ke arah ibu. “Ibu jangan berbicara seperti itu. Ibu akan selalu sehat dan berumur panjang,” ujar laki-laki tersebut sambil menggenggam tangan ibunya. “Ibu tidak perlu mengkhawatirkan jodohku. Apabila ia memang di takdirkan untukku, Sang Pencipta pasti akan memberikan kami jalan,” ucap Maryanto dengan penuh rasa keyakinan.

                “Semoga saja ya, anakku.” Balas ibu sambil mengelus lengan atas Maryanto dengan tangan lain yang lowong dan memanjatkan doa dalam hati agar Maryanto dapat berjodoh dengan Adinda yang telah menarik perhatiannya.

                Berkat doa ibu, Maryanto berkesempatan untuk mengenal Adinda. Meskipun cara mereka berkenalan tidak indah karena Adinda hampir saja kehilangan nyawa saat berhadapan dengan perampok pada suatu petang di jalan yang sepi. Pada saat itu, Adinda baru saja pulang mengantar sayur matang ke rumah saudara yang berjarak lumayan jauh dari rumahnya. Jalanan yang dilalui Adinda entah mengapa sepi, tidak seperti biasa yang suka dilalui sepeda atau penjual sayur pikul yang hendak pulang. Tanpa di sadari Adinda, seorang laki-laki yang wajahnya tertutupi oleh kain berwarna hitam telah mengikuti dirinya setelah ia pulang dari rumah saudaranya.

                Laki-laki itu berlari cepat ke arah Adinda dan mengarahkan sebilah parang ke arah leher. “Beri aku uangmu.” Kata laki-laki itu dengan suara kencang.

Adinda sontak kaget dan wajahnya langsung terlihat pucat. Ia menoleh ke sekelilingnya berharap ada seseorang yang dapat menolongnya, namun hasilnya nihil. “Aku tidak membawa uang sedikit pun, Tuan.” Balas Adinda dengan nada bergetar.

“Jangan bohong kamu. Cepat berikan!” laki-laki dengan parang itu melangkahkan kaki mendekati Adinda. Perempuan yang ketakutan itu melangkah mundur berusaha menjaga jarak. Akan tetapi laki-laki itu terus berjalan mendekati Adinda.

“Aku benar-benar tidak membawa uang sedikit pun, Tuan.” Balas Adinda untuk kedua kalinya berusaha meyakinkan laki-laki misterius tersebut.

“Dasar pem…Auch!” laki-laki itu berteriak kesakitan saat sebuah batu berukuran sedang menghantam pergelangan tangan yang memegang parang. “Siapa itu?” teriaknya kesal. Akan tetapi, tidak ada jawaban yang diharapkan, sebuah batu berukuran sedikit lebih besar dari batu pertama kali ini menghantam parang dan membuat senjata tersebut bengkok.

“Parang macam apa itu? Masa bengkok saat dilempari batu.” Ucap Maryanto yang datang dengan membawa beberapa batu pada tangan kiri dan melempari laki-laki misterius itu batu dengan tangan kanannya. Lemparan batu Maryanto mulai mengenai bagian tubuh lain, seperti kaki dan pinggang. Sorot mata laki-laki misterius itu berubah menjadi takut. Ia langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Adinda yang mulai terlihat lega dan Maryanto yang masih mengejarnya sambil melempari batu yang tersisa pada tangannya.

                Setelah melempar batu terakhir, Maryanto berlari mendekati Adinda. “Kau tidak apa-apa, neng?” tanya Maryanto sambil menatap wajah Adinda.

                Adinda menggelengkan kepala. “Aku tidak apa-apa, mas.” Jawab Adinda.

                “Perempuan tidak baik jalan seorang diri di jalan yang sepi ini, mari aku antarkan ke rumah.” Kata Maryanto sambil mempersilahkan Adinda untuk berjalan lebih dulu. Adinda mengangguk sekilas lalu mengikuti arahan Maryanto. Laki-laki itu mengiringi Adinda sepanjang jalan sambil mengobrol.

                “Terima kasih mas…”

                “Maryanto.”

                “Terima kasih mas Maryanto. Aku Adinda.”

                “sama-sama, neng Adinda.”

                Maryanto dan Adinda terlihat canggung satu sama lain. Mereka tidak berbicara kepada satu sama lain untuk waktu yang lama. Maryanto mengalihkan diri dengan mengecek keadaan sekitar agar perjalanan menuju rumah Adinda aman. Sikap Maryanto tersebut membuat Adinda merasa aman dan dijauhi dari prasangka buruk. Sesekali Adinda melirik ke arah Maryanto karena merasa penasaran dengan laki-laki itu. Namun ia tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk bertanya lebih jauh. Keraguan itu berlanjut hingga mereka sampai di depan rumah Adinda. Tidak ada seorang pun yang terlihat berada di pekarangan rumah. Adinda merasa lega karena tidak akan ada orang yang mempertanyakan alasan ia pulang di dampingi oleh laki-laki tak dikenal.

                “Terima kasih mas Maryanto, aku masuk dulu.” Ucap Adinda lalu berjalan hendak memasuki rumah.

                “neng Adinda,” panggil Maryanto. “Apakah kita masih dapat bertemu lagi besok?”

                Adinda menoleh ke Maryanto dengan wajah kaget. Keraguan masih terasa dari dalam dirinya. Ia ingin sekali mengenal Maryanto lebih jauh, tapi ia tidak yakin apakah hal tersebut tidak apa-apa di lakukan. Meskipun masih merasa ragu, ia akhirnya memberikan senyum kecil dan anggukan kepala kepada Maryanto. Adinda kemudian berlari cepat ke arah pintu dengan pipi merah semu tanpa mengatakan apa pun. Maryanto yang menyadari gerak-gerik Adinda tersebut tiba-tiba merasakan panas pada bagian pipinya. Ia tersenyum lalu berjalan pergi setelah memastikan Adinda sudah masuk ke dalam rumah.

 

~

 

Perjalanan kisah cinta Maryanto dan Adinda bisa dibilang mulus. Setelah hari itu, mereka mulai sering bertemu di luar lapak. Terkadang mereka bertemu di sebuah toko jajanan yang menjual camilan, terkadang Maryanto akan mengantar Adinda pulang pergi dari rumah ke pasar setelah membantu ibu membuka lapak, terkadang mereka mengobrol di depan rumah Adinda pada sore hari.

Pada suatu petang di depan rumah Adinda, Maryanto seperti biasa datang untuk mengobrol dengan Adinda. Tidak seperti biasanya, kali ini ia membawa hasil panen berupa kentang dan wortel dalam sebuah keranjang anyaman rotan. Adinda berusaha menolak dengan halus namun karena desakan Maryanto, ia menerima hasil panen tersebut.

“Adinda, aku bukanlah seorang pedagang yang kaya raya. Aku hanyalah anak seorang petani. Akan tetapi jika Tuhan berkehendak, maukah kau menikah denganku?”

Pertanyaan spontan Maryanto tidak segera dijawab oleh Adinda yang masih meragukan perasaannya sendiri kepada laki-laki di hadapannya. Ia menggenggam pinggiran keranjang anyaman dengan kuat. Setelah jeda beberapa menit, ia pun berkata. “Beri aku waktu tiga hari untuk berpikir,  mas Maryanto. Sebaiknya kita bertemu di tempat lain tiga hari lagi.”

“Baiklah, aku akan memberimu waktu tiga hari. Dimana kita akan bertemu nanti, neng Adinda?” tanya Maryanto.

“Di puncak bukit belakang pasar, mas.” Jawab Adinda. “Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu.”

“Baik, neng Adinda. Tapi apakah pertemuan kita hari ini hanya sampai di sini?” tanya Maryanto lagi.

Adinda menganggukkan kepala. “Iya, mas. Tolong beri aku waktu dulu hingga tiga hari ke depan.” Jawab Adinda.

“Apakah aku perlu menjemputmu tiga hari lagi?” tanya Maryanto penasaran. Jalan menuju rumah Adinda selalu sepi, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Adinda seperti waktu mereka berkenalan untuk pertama kali.

“Tidak perlu, mas. Nanti langsung ketemu di sana saja.” Jawab Adinda. “Aku masuk dulu ya, mas.” Kata Adinda yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah Maryanto yang masih tidak beranjak dari posisinya. Maryanto sangat berharap bahwa Adinda mau menerima lamarannya tiga hari lagi. Beberapa menit setelah Adinda menghilang dari balik pintu, Maryanto baru beranjak dari tempat itu sambil bertanya dalam diri.

Ada apa di atas bukit itu? Bukankah hanya tanah lapang saja?

 

Selama menunggu jawaban Adinda, Maryanto yang awalnya terlihat tenang berubah menjadi gundah dan gusar. Ia tidak melihat Adinda datang ke pasar maupun toko jajanan yang biasa mereka kunjungi. Maryanto sempat berpikir bahwa waktu mereka tidak cocok. Akan tetapi setelah bertanya kepada pedagang lain di pasar dan penjaga toko jajanan dan mendapat jawaban bahwa mereka tidak bertemu Adinda, Maryanto langsung beranggapan lain.

Apakah Adinda sedang menghindariku? Apakah aku melakukan hal yang salah kepadanya pada hari itu?

Maryanto sering termenung saat menemani ibu menjaga lapak di pasar. Hal tersebut membuat Ibu penasaran. “Kamu kenapa termenung seperti itu, nak?” tanya ibu.

“Aku memikirkan Adinda, bu.” Jawab Maryanto. “Apakah aku ada berbuat salah padanya hingga ia menghindariku seperti itu?”

“Tenang saja, anakku. Mungkin Adinda hanya butuh waktu sendiri,” jawab ibu.

“Tapi aku tidak tenang, bu. Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Apakah besok ia akan memutuskanku begitu saja?” kata Maryanto. Ia menundukkan kepala sambil memejamkan mata dan tidak berani melihat ke arah ibu.

Ibu membelai rambut Maryanto sambil tersenyum. “Tenang saja, Maryanto. Ibu yakin kalau hubungan kalian akan baik-baik saja.” Jawab ibu dengan tenang. “Besok kau tunggu Adinda saja ke atas bukit setelah membantu ibu merapikan lapak. Ia tidak bilang akan datang jam berapa bukan?”

Perkataan membuat Maryanto tiba-tiba sadar. Jika ia tidak berada di atas bukit saat Adinda datang, hubungan mereka bisa berakhir begitu saja. “Benar juga,” ujar laki-laki jangkung itu dengan wajah terkejut. “Terima kasih bu sudah mengingatkan aku.” Kata Maryanto kemudian tiba-tiba memeluk ibu. Ibu mengelus punggung Maryanto dan tersenyum lega.

 

~

Hari yang di nanti pun tiba. Setelah membantu ibu merapikan lapak seperti menata sayur dan memindahkan keranjang berisi umbi-umbian, Maryanto segera bersiap untuk pergi ke atas bukit menunggu Adinda. “Bu, aku akan kembali sebelum gelap.” Tegas Maryanto. Namun ibu menggelengkan kepala dengan cepat.

“Ibu bisa pulang sendiri, kau tunggulah hingga bintang paling terang bersinar di atas langit.” Kata ibu sambil menepuk punggung tangan Maryanto.

Maryanto sebenarnya tidak rela membiarkan ibunya pulang sendiri. Akan tetapi di sisi lain, ia ingin tahu apakah Adinda akan datang atau tidak. “Aku akan menjemput ibu setelah melihat bintang paling terang bersinar di langit.” Perkataan Maryanto membuat ibu menggelengkan kepala. Saat ibu hampir mengatakan sesuatu, Maryanto menyela dengan cepat. “Baiklah aku akan langsung menemuimu di rumah, bu.”

Setelah berpamitan dengan ibu, Maryanto langsung berlari menuju puncak bukit. Ia harus melalui sebuah jalan setapak yang terhalangi tumbuhan merambat yang lebat di sekitar pepohonan sehingga membutuhkan waktu cukup lama agar bisa sampai di puncak bukit.

Apa ada jalan lain yang aman untuk dilalui Adinda?

Maryanto mulai merasa khawatir jika Adinda menjebaknya dan hanya ingin mengerjai dirinya saja. Namun saat ia hampir sampai di puncak, Adinda sudah berdiri di atas puncak dan melihat ke arah rumah penduduk yang berada pada sisi lain bukit. Maryanto tidak percaya jika Adinda sudah sampai lebih dahulu.

“Neng Adinda,” panggil Maryanto. Perempuan yang dipanggil menoleh dan tersenyum ke arah Maryanto.

“Mas Maryanto,” sapa Adinda balik dengan nada datar.

Maryanto berjalan mendekati Adinda lalu mengulurkan tangan kanan sambil berlutut. “Adinda, aku sudah menunggu jawabanmu selama tiga hari.” Ucap Maryanto. “Dan jawabanmu adalah?”

Suasana hening untuk beberapa saat. Maryanto dan Adinda saling bertukar pandang. Adinda menunjukkan wajah datar sementara Maryanto terlihat gugup. Laki-laki jangkung itu tidak mengedipkan mata selama memandang dan menunggu wanita di hadapannya berbicara.

Angin sepoi tiba-tiba berhembus. Adinda tersenyum simpul. “Aku bersedia menjadi istrimu, Mas Maryanto.” Kata wanita itu sambil menerima uluran tangan laki-laki di hadapannya. Maryanto langsung menggenggam tangan dengan erat lalu menarik Adinda dalam pelukan. Mereka berpelukan cukup lama dengan wajah bahagia.

“Terima kasih Neng Adinda,” bisik Maryanto. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Mas Maryanto.”

  

 

~

 

Meskipun Maryanto dan Adinda berhasil bersatu hingga menjadi sepasang suami istri, namun keinginan untuk selalu bersama terhalang oleh pahitnya kehidupan. Maryanto dikirim bersama dengan beberapa laki-laki lain untuk pergi berperang menjaga perbatasan wilayah agar desa mereka tidak diambil alih oleh kerajaan terdekat.

Para laki-laki terpilih dikumpulkan di pasar sebelum pergi ke daerah perbatasan. Isak tangis terdengar pada setiap sudut pasar, termasuk dengan ibu dan Adinda saat mengantar kepergian Maryanto yang penuh dengan air mata. Maryanto memeluk ibu dan Adinda untuk waktu yang lama sambil membelai rambut Adinda dan mengelus punggung ibu berusaha untuk menenangkan dua wanita yang sangat ia sayangi.

“Aku akan kembali dengan selamat, ibu, Adinda.”

                Perkataan Maryanto tidak mendapat balasan dari ibu maupun Adinda. Suara tangis mereka makin terdengar kencang. Seorang laki-laki berbadan besar mendatangi mereka dan menarik kerah pakaian Maryanto. Maryanto langsung terbawa tarikan laki-laki tersebut dan membuat pelukan mereka bertiga terlepas. Raut wajah ibu langsung menjadi kaget sementara Adinda terlihat panik.

                “Tu…tunggu! Ada yang ingin aku berikan!” teriak Adinda. Wanita itu langsung memberikan sebuah tali anyaman berwarna merah berbentuk huruf M dengan hiasan biji-bijian berwarna-warni kepada Maryanto. Setelah memberikan benda tersebut, wanita itu langsung berjalan mundur. Sementara Maryanto langsung di seret pergi oleh laki-laki itu. Ibu mencoba untuk melangkahkan kaki bermaksud mengejar Maryanto, namun langkah yang lemah membuat ia terjatuh setelah langkah ketiga. Adinda dengan sigap langsung membantu ibu untuk bangkit dan memeluk mertuanya dengan erat.

                Aku harap kau dapat pulang dengan selamat, Maryanto.

                Suara teriakan dan isak tangis masih mengiringi kepergian para laki-laki meninggalkan pasar. Ibu dan Adinda sudah tidak terlihat berada di kerumunan orang. Maryanto berjalan menuju perbatasan wilayah dengan langkah berat. Ia tidak ingin pergi. Keinginannya berlawanan dengan mandat yang diberikan. Maryanto menatap ke arah benda yang diberikan Adinda dan menggenggamnya erat, lalu meletakkan tangan tersebut di dada kiri. Laki-laki itu menunjukkan wajah sedih sepanjang jalan, karena ia tahu bahwa ia tidak dapat melihat rupa ibu dan Adinda setelah ini.

                Tak lama setelah para laki-laki terpilih sampai di dekat wilayah perbatasan. Beberapa laki-laki berbadan tegap sudah terlihat berjaga sambil membawa bambu runcing. Mereka dengan cepat menyuruh Maryanto dan laki-laki lain yang baru tiba ke tempat itu untuk meninggalkan barang mereka di semak-semak dan mengambil bambu runcing yang sudah di sediakan. Maryanto meninggalkan kantong berisi pakaian bersama dengan laki-laki lain, namun menyelipkan benda pemberian Adinda di dalam kantong celananya.

                “Mereka sudah dekat!”

                Teriakan lantang dari kejauhan membuat mereka semakin terburu-buru untuk berpencar. Maryanto meraih bambu runcing dan langsung berlari mengikuti instruksi. Ia bersembunyi dibalik pohon dengan bambu runcing pada kedua tangannya. Matanya melirik ke arah laki-laki yang tidak jauh dari dirinya yang juga bersembunyi di balik pohon.

                “Serang!”

                Teriakan tersebut membuat Maryanto keluar dari persembunyiannya. Maryanto dan para laki-laki lain harus menghadapi pasukan kerajaan yang memiliki kuda dan juga anak panah. Beberapa dari mereka berhasil menumbangkan musuh meskipun harus berlumuran darah. Suara erangan kesakitan karena terkena senjata tajam, suara ringkikan kuda sebelum tidak bernapas dan suara teriakan para petarung bercampur menjadi satu. Meskipun Maryanto dan para laki-laki lain berhasil memukul mundur musuh, akan tetapi ia harus kehilangan nyawa.

                Sebelum Maryanto menutup mata, memori lama muncul memperlihatkan momen bersama dengan ibu saat membantu di pasar dan pertemuannya dengan Adinda. Air mata keluar dengan deras, membuat penglihatan Maryanto kabur dan perlahan menutup dengan sendirinya. Beberapa laki-laki menghampiri Maryanto untuk mengecek denyut nadi. Saat mereka membalikkan tubuh Maryanto, benda pemberian Adinda terjatuh dari kantong celana. Mereka meraih benda tersebut lalu menguburkan Maryanto bersama dengan para laki-laki lain yang gugur.

                Beberapa hari setelah perang di perbatasan, para laki-laki yang masih hidup dan luka dari ringan ke berat berhasil pulang ke desa. Jumlah laki-laki yang tidak sebanyak saat mereka pergi membuat warga desa khawatir jika ada anggota keluarga mereka yang tidak kembali. Di antara kerumunan warga, Adinda dan ibu berusaha mencari penampakan Maryanto. Raut wajah cemas dan jantung yang berdegup kencang tidak terhindarkan.

Sedikit demi sedikit jumlah orang berkurang dari pasar. Seorang laki-laki berbadan tegap mendekati Adinda dan langsung menunjukkan huruf M yang pernah diberikan perempuan itu pada hari keberangkatan Maryanto. Adinda meraih benda tersebut kemudian bertanya, “dimana Maryanto?”

Laki-laki di hadapan Adinda menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa Maryanto sudah gugur di medan perang. Adinda terdiam di depan sambil memegang huruf M dengan erat. Ibu belum memahami apa yang terjadi dengan anaknya, langsung mendekati laki-laki itu dan menanyakan hal yang sama dengan Adinda. Laki-laki itu menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu sama seperti saat menjawab pertanyaan Adinda. Ibu terus melontarkan pertanyaan yang sama dengan harapan akan mendapat jawaban berbeda.

Lelah menghadapi ibu dan Adinda, laki-laki di hadapan Adinda beranjak melewati mereka menuju keluarganya. “Tung…tunggu…dimana…anakku…” kata ibu dengan nada lirih. Adinda memeluk ibu dari belakang dan dibalas oleh pelukan lemah ibu. Tidak hanya Adinda dan ibu, beberapa keluarga lain juga turut sedih karena orang yang mereka tunggu juga tidak kembali. Meskipun desa terbebas dari kerajaan lain, namun perasaan mereka terbelenggu oleh rasa sedih tak berujung.

               

#lovrinzpublisher #lovrinzwacaku

 

Aku, Kamu, Mereka. Sudahkah kita merdeka?

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!