The Compulsion
6.75
1
52

Sebuah harapan dan impian harus terkubur dalam-dalam karena semesta tidak merestui. Impian menjadi seorang dokter tidak terwujud, terhalang oleh sebuah "perjodohan". Sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kehangatan. Siapa yang sangka, jika awalnya sangat benci menjadi sangat sayang dan cinta? Itu terjadi kepada seorang gadis bernama Ashila Humaira Arshad.

No comments found.

The Compulsion.

ASHILA Humaira Arshad, seorang gadis berparas cantik dan cerdas yang kini tengah berusia 17 tahun. Ia menjalani kehidupan sebagai seorang murid kelas 12 di SMA Bakti Kencana, Jakarta Timur. Keinginan untuk menjadi dokter memang sudah tertanam sejak ia masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun, semua harapan dan impian itu harus dikubur dalam-dalam karena dia telah dijodohkan oleh Ridwan yang merupakan Abi nya Ashila dengan anak dari sahabat karibnya semasa di pondok pesantren.

Ashila merupakan anak kedua dari sepasang suami-istri yang bernama Ridwan Syauqi Arshad dan Chaira Arini. Gadis itu mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama El-Naggar Hairy Arshad atau biasa dipanggil dengan nama kecilnya, El.

•••

Hari ini adalah hari pertama Ashila masuk kembali ke sekolahnya setelah liburan sudah satu bulan berlalu.

Pelajaran pertama sudah selesai. Bel istirahat berbunyi. Semua murid SMA Bakti Kencana pun mulai berlalu-lalang menuju kantin.

Ashila pergi ke kantin bersama dua sahabatnya Jasmine dan Aurelie. Mereka berjalan beriringan. Ketiganya duduk di meja kantin sisi paling kanan.

“Hai, Ila!” ujar seorang lelaki yang kini duduk di sebelah Ashila.

“Hai,” balas Ashila lemas.

Seorang laki-laki yang tadi wajahnya ceria, kini mengerutkan keningnya, menatap Ashila dengan khawatir. “Kamu kenapa? Kok lemes?”

“Aku mau kita putus, Zidan.”

Zidan Arkanio, teman sekelas sekaligus kekasih Ashila sejak awal mereka masuk SMA.

Zidan tersentak, kaget. “Kenapa? Apa salah aku, Ila?”

“Aku rasa, hubungan kita udah nggak baik-baik aja.”

“Maksud kamu?”

“Aku lihat kamu selalu deket sama temen perempuan organisasi kamu itu, Lisa,” balas Ashila dengan akhir kata yang terdengar lirih.

“Kamu cemburu sama Lisa?”

Ashila menunduk, tidak menjawab pertanyaan Zidan.

“Ashila…”

“Eh iya?”

“Jawab pertanyaan aku.”

Ashila berpikir sejenak dan baru teringat akan pertanyaan Zidan yang belum terjawab. “Oh nggak. Enggak sama sekali.”

Zidan menaikkan satu alisnya. “Terus?”

“Aku hanya merasa tidak pantas untuk kamu, Zidan.”

Zidan menghela napas. “Ashila, dengerin aku. Aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama Lisa. Dan kamu, jangan merasa kamu nggak pantas untuk aku. Kamu berharga buat aku, Ila. Jangan bilang kayak gitu lagi, ya?”

“Hm, iya maaf…”

“Aku sayang sama kamu, Ashila.”

Mendengar penuturan kata dari Zidan, gadis itu pun mengulum senyum. Pipi nya merah merona, cantik sekali. Matanya yang indah membuat semua orang takjub melihatnya. Dia Ashila Humaira Arshad.

“Haha, pipi kamu merah, La. Lucu!”

“Ish.. Zidan. Aku malu tau!”

Zidan terkekeh dan mereka pun tertawa bersama sampai bel pulang sekolah pun berbunyi.

Ashila pulang ke rumah dan bergegas masuk ke dalam. Terlihat dua orang bertubuh paruh baya dan seorang pemuda yang sedang duduk dan berbincang santai sembari menikmati secangkir teh hangat di ruang keluarga, mereka adalah Ridwan dan Chaira.

“Assalamu’alaikum,” ucap Ashila saat memasuki rumahnya.

“Wa’alaikumussalam, kamu sudah pulang, nak?” tanya Chaira dengan nada yang lemah-lembut.

“Iya, Umi.”

Baru saja Ashila akan menaiki anak tangga, namun dengan cepat Ridwan memanggil gadis itu. “Ashila,” Ashila yang merasa mendengar panggilan tersebut pun menoleh. “Ya, Abi?”

Ridwan menggeser posisi duduknya lalu menepuk-nepuk sofa agar Ashila duduk di sebelahnya. “Sini, duduk di dekat Abi,” ujarnya dengan lembut.

 Ashila mendekat kemudian duduk di sebelah Ridwan, lalu berkata, “Kenapa, Bi?” Ridwan tersenyum ke arah Ashila dan berkata, “Gadis kecilnya Abi ternyata sudah besar ya.”

Gadis itu menaikkan satu alisnya dan berkata, “Ada apa, Bi? Kenapa Abi bilang begitu?” tanyanya heran.

“Ah, tidak. Abi hanya bersyukur dan bahagia ketika melihat gadis kecil Abi sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang mandiri, cerdas, dan cantik seperti kamu, nak,” ujar Ridwan dan senyumannya tersimpul kembali. “Oh begitu, Ila kira ada apa.”

“Besok mau ikut Abi, tidak?” tanya Ridwan.

“Kemana, Bi?” tanya Ashila penasaran. Ridwan menghela napas pelan lalu menjawab dengan santai. “Ke tempat teman Abi, semasa sekolah dulu,” ucap Ridwan seraya tersenyum.

Ashila mengangguk. “Oh ya udah, iya Bi. Ila akan ikut bersama Abi,” gadis itu tersenyum. Dan secara tidak sadar, pria dewasa itu juga tersenyum. “Gadis yang baik,” ujarnya seraya mengusap puncak kepala Ashila.

•••

PAGI ini, Ashila dan Ridwan pergi bersama ke suatu tempat yang Ridwan rencanakan kemarin. Beberapa saat setelah di perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka di tempat tujuan.

PONDOK PESANTREN AN-NUR.

Seperti itulah kira-kira tulisan yang terpampang jelas di depan gerbang, pintu masuk utama pondok. Ashila sedikit terkejut karena ia mengira, tidak akan datang ke pondok pesantren. Mobil keluarga Ashila masuk ke dalam dan parkir.

Mereka turun lalu berjalan ke sebuah rumah yang cukup sederhana dekat pondok. Walaupun dari luar kelihatannya sangat sederhana, tetapi saat masuk ke dalamnya akan banyak menjumpai berbagai lukisan kaligrafi Arab serta banyaknya kitab-kitab juga Al-Quran yang tersusun rapi, terlihat sangat nyaman dipandang.

Ashila hanya diam seraya memandangi sekitar yang baginya terasa sejuk dan sangat nyaman.

Ridwan mengetuk pintu rumah itu tiga kali dengan ketukan yang sangat pelan seraya mengucap salam. “Assalamu’alaikum,”

Cklek.

Pintu berwarna coklat itu perlahan terbuka dan tampil lah sosok anak laki-laki yang tengah berdiri di hadapan mereka.

Dengan sopan, lelaki itu tersenyum dan mempersilakan keluarga Ridwan masuk ke dalam.

“Wa’alaikumsalam, om Ridwan? Mari silakan masuk.”

Ridwan tersenyum dan mengangguk pelan. “Terima kasih banyak, Ghafi,” Ya, nama dari sosok anak laki-laki itu adalah Ghafi.

Suasana saat ini hening. Tidak ada yang berbicara, sampai ketika Ridwan memecah keheningan dengan bertanya kepada Ghafi. “Abi mu kemana?”

“Astagfirullah… afwan, Ghafi lupa memberi tahu Om Ridwan. Biasanya jam segini Abi masih ada di masjid, sebentar lagi beliau akan pulang,” ucap lelaki itu dengan penuturan kata yang sangat sopan dan lemah-lembut.

“Oh baiklah, tidak apa. Kami akan menunggunya di sini,” Ghafi mengangguk.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya seorang pria bertubuh paruh baya pemilik pondok pesantren itu pun datang.

“Assalamu’alaikum,” Mereka yang berada di dalam pun menjawab. “Wa’alaikumussalam.”

Pria itu sedikit terkejut saat melihat ada tamu di rumahnya. “Eh ada tamu rupanya.”

“Apa kabar, Furqon?” ucap Ridwan yang seketika berdiri dan langsung memeluk erat sahabat karibnya itu semasa di pondok pesantren. Ya, namanya Furqon Maulana Shazam.

Furqon dan Ridwan melepaskan pelukan mereka. “Alhamdulillah, seperti yang terlihat saat ini, bagaimana denganmu?” ujar Furqon. “Alhamdulillah, baik,” balas Ridwan dengan tenang.

“Ini Ashila, anak gadismu, Ridwan?”

Ridwan mengangguk lalu berkata, “Iya.”

“Masya Allah, cantik sekali.” Ashila yang mendengar pujian itu hanya diam dan mengulum senyum.

Suasana menjadi hening. Seketika itu Ridwan kembali memecah keheningan. “Oh ya, bagaimana dengan yang kamu rencanakan sebelumnya, Ghafi? Jadi berangkat ke Kairo, tidak?”

Ghafi terdiam sejenak. “Tidak, Om. Abi bilang kepada Ghafi, untuk melanjutkan mengurus pondok pesantren ini, karena Abi sudah tidak kuat jika harus mengurus semuanya di sini sendirian,” jelasnya dengan baik.

“Kamu ini, Ghafi. senang sekali menyudutkan Abi,” ujar Furqon yang mendengar penjelasan putranya.

“Hehe,” Ghafi terkekeh melihat tingkah laku Furqon saat ia menyudutkannya.

“Haha begitu, baiklah.”

“Kalau Ashila?” tanya Furqon.

Gadis yang sedari tadi hanya diam dan menunduk, akhirnya membuka suara. “Ashila akan melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Ashila ingin membantu orang-orang dengan cara Ashila menjadi dokter, Om.”

“Wahh, mulia sekali cita-cita mu, nak.”

“Syukron katsiran, Om.”

***

LANGIT berubah menjadi jingga. Hari sudah menjelang malam. Ridwan dan Ashila pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.

“Furqon, kami pamit pulang ya, terima kasih sudah menerima kami sebagai tamu. Maaf jika kedatangan kami mengganggu dan merepotkan kalian,” ucap Ridwan lalu berdiri.

Furqon ikut berdiri dan berkata, “Iya tidak apa, terima kasih kembali sudah mau berkunjung kemari, jangan lupa untuk kembali berkunjung. Fii Amanilah.” Ridwan tersenyum dan mengangguk. “Na’am, jazakallahu khairan, Furqon.”

Akhirnya, Ashila dan Ridwan sampai di rumahnya. Lelah, bahkan sangat melelahkan. Perjalanan dari Pondok Pesantren An-Nur milik Furqon ke rumah Ashila memakan waktu cukup lama, mungkin sekitar satu jam.

Ashila bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Gadis itu berbaring sejenak di kasur sebelum dia membersihkan tubuhnya.

Ting!

Terdengar bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel milik Ashila. Dia pun mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas nya. Gadis itu membuka room chat dan mulai membaca pesannya.

+62 89670xxxxxx

Assalamu’alaikum, ini benar dengan Ashila?

Saya Ghafi, anaknya Abi Furqon. Laki-laki yang tadi kamu temui di pondok pesantren An-Nur. Saya dapat nomornya dari kakak kamu, kak El. Oh ya, afwan tujuan saya menghubungimu adalah hanya untuk memastikan, apakah kamu sudah di rumah?

Ashila mengerutkan kening setelah membaca pesan dari sosok lelaki yang ia temui tadi pagi.

Pertanyaan macam apa ini? Apa perlu, dia tahu aku sudah di rumah atau belum? Pikir Ashila dalam hati.

Tapi… ya sudahlah ku balas saja. Sambungnya dalam hati.

Ashila

Wa’alaikumussalam, alhamdulillah.

Setelah membalas pesan dari Ghafi, Ashila menatap lurus ke arah jendela. Dia termenung, entah apa yang sedang dipikirkannya lalu ia tertidur pulas.

***

HARI ini, rumah Ridwan kedatangan keluarga Furqon. Sesuai yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, Ridwan dan Furqon berniat menjodohkan Ashila dan Ghafi dengan sengaja tanpa memberi tahu keduanya.

Tok. Tok. Tok.

Terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar kamar seorang gadis. “Assalamu’alaikum,”

Gadis itu mengernyitkan keningnya dan mendudukan dirinya di atas kasur. “Wa’alaikumussalam, masuk aja, nggak dikunci kok.”

Wanita bertubuh paruh baya itu tersenyum saat melihat Ashila lalu memanggilnya dengan lembut. “Ila,” ternyata wanita itu adalah Chaira, Umi nya Ashila.

“Eh, Umi? Maaf, Ila kira kak El. Ada apa, Mi? Tumben ke kamar Ila,” ujarnya heran. Karena selama ini, Ashila yang selalu menghampiri Chaira.

Chaira mendekat ke arah Ashila yang berada di kasur. “Kamu siap-siap ya, sekarang mandi dulu gih, setelah itu pakai baju yang rapi, sopan, dan tertutup ya, sayang.” Ashila menatap Chaira heran. “Loh, memangnya kita mau pergi kemana, Mi?”

Chaira tersenyum. “Tidak akan pergi kemana-mana, di rumah saja. Rumah kita akan kedatangan tamu yang sangat istimewa jadi harus berpenampilan dan bersikap sopan ya,” ujarnya menjelaskan.

Tamu Istimewa? Batin Ashila.

“Oh begitu, baik Umi. Ila siap-siap dulu,” ujar Ashila dengan tenang. Walaupun sebenarnya, perasaan gadis itu, saat ini tidak karuan.

Chaira meninggalkan Ashila terlebih dahulu, nanti ia akan kembali untuk mendandani putrinya itu.

Setelah lima belas menit kemudian, Ashila keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap menutupi tubuhnya. Ashila memakai baju gamis berwarna putih dan kerudung coklat muda.

Ashila sedikit terkejut karena melihat Chaira sudah menunggunya duduk di meja rias miliknya.

“Sudah siap didandani sama Umi, sayang?” Ashila mengangguk.

Proses merias wajah pun berjalan baik. Chaira memang pandai dalam hal merias wajah. Alat make up yang dipakai pun sederhana, tapi terlihat natural dan cantik.

“Nah udah siap, yuk kita ke bawah, sayang.”

“Umi, ini Ila harus banget pakai kerudung ya?”

Chaira menoleh ke arah Ashila dan tersenyum. “Iya, sayang.”

“Memangnya tamu istimewa itu siapa, Mi?”

“Sudah, nanti kamu juga akan tahu setelah kita ke bawah. Ayo, tamu nya sudah menunggu. Tidak sopan jika mereka menunggu lama, sayang.” Ashila mengangguk sebagai jawaban.

Seketika semuanya menoleh ke arah tangga. Telihat Ashila dan Chaira yang tengah menuruni anak tangga.

Masya Allah… gumam Ghafi. Pujian itu terucap pelan begitu saja dari bibir-nya. Namun dengan cepat lelaki itu menunduk lalu beristighfar karena telah lalai menjaga pandangan dari seorang gadis yang belum menjadi mahromnya.

“Masya Allah, cantiknya,” ujar seorang wanita bertubuh paruh baya yang duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu adalah Aisyah. Aisyah Hana Kayla—Umi nya Ghafi.

“Nah ini nih, yang ditunggu-tunggu baru datang,” ucap Ridwan.

Ashila terkekeh pelan. “Hehe, maaf Ashila terlambat datang.”

“Tidak apa, Ashila. Kami mengerti,” ujar Furqon dengan lembut. Masya Allah benar-benar keluarga yang sangat lemah-lembut!

“Ila, duduk sini,” titah Ridwan kepada Ashila.

Ashila mengangguk lalu duduk di antara Ridwan dan Chaira.

Bismillahirrahmanirrahim, saya Furqon, yang akan mewakili putra saya, Ghafi. Maksud dan tujuan kami datang kemari adalah sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. yaitu ingin mendekatkan Ghafi dan Ashila, dalam artian untuk mengenal satu sama lain dan menjalin silaturahmi antar keluarga. Apakah dari pihak keluarga Ashila bersedia menerima dan menyetujui hal ini?” ujar Furqon yang menjelaskan maksud dan tujuan dari kedatangan keluarga nya ke rumah Ashila.

“Sebelumnya maaf Ashila memotong dan maaf jika Ashila kurang sopan, tapi ini maksudnya apa ya? Aku dan Ghafi akan dijodohkan? Apa benar begitu Om?” tanya Ashila menyelidik.

“Ah, santai saja, Ashila. Na’am, Om dan Abi mu sudah sepakat akan menjodohkan kalian berdua dalam waktu dekat.”

Ghafi membulatkan matanya. Dia terkejut karena sebelumnya tidak tahu maksud Furqon mengajak ke rumah Ashila. Lelaki itu mengira Furqon hanya ingin bersilaturahmi saja seperti biasanya.

Berbeda dengan Ashila yang spontan berdiri dan berkata, “Apa?!” dengan nada yang sedikit tinggi.

Ridwan terkejut saat melihat Ashila tiba-tiba berdiri. “Ashila, duduk! Abi tidak pernah ajarkan kamu tidak sopan seperti itu.”

Ashila menunduk. Merutuki bibirnya yang telah berbicara dengan spontan begitu saja. “A-astagfirullah… I-iya, maaf Abi,” ucapnya terbata-bata karena sedikit tersentak oleh Ridwan dan kembali dengan posisi duduknya.

“Santai saja lah, Ridwan. Lagi pula Ashila pasti kaget begitu juga dengan Ghafi, karena sebelumnya kita tidak memberi tahu mereka terlebih dahulu tentang adanya pertemuan ini,” ujar Furqon menenangkan.

“Hm, benar juga, terima kasih sudah mengingatkan, Furqon. Maaf ya suasana nya jadi tidak enak, jadi bagaimana? Mau tetap dilanjutkan atau tidak perjodohan ini?”

“Kami sih bagaimana Ashila saja. Karena hanya dia yang berhak menentukan.”

“Baik. Ila, bagaimana, nak? Kamu setuju atau tidak dengan perjodohan ini?”

Ashila terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, ia mendongak dan menghela napasnya pelan. “Umm… maaf sebelumnya, Abi. Tapi tolong beri Ashila waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu, ya.”

“Baiklah, Abi akan beri waktu untuk kamu. Tapi hanya tiga hari. Setelah itu kamu harus putuskan menerima atau menolaknya.”

Ashila hanya diam, mengangguk lemah. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, Ashila masih sangat mencintai kekasihnya itu. Tapi di sisi lain, Ashila harus menuruti apa yang diminta oleh Abi nya.

Esoknya di sekolah…

“Ila,”

“Zidan? Kenapa?”

“Kenapa akhir-akhir ini kamu menghindar dari aku?”

“Ah, eee… Zidan aku minta maaf…” ucap Ashila gugup ingin mengatakan bahwa ia akan dijodohkan dengan laki-laki lain.

“Buat apa, La?”

“Aku…”

“Ya?” ucapnya yang terdengar sangat ingin mendengarkan pernyataan Ashila tentang mengapa gadis itu menjauh darinya.

“A-aku dijodohin sama anak temennya Abi.”

“Kamu jawab apa?”

“Aku setuju sama perjodohan itu…”

“Ila, dia… Ganteng, ya? Sampai kamu mau nikah sama laki-laki itu.”

“Ini bukan masalah tentang dia ganteng apa enggak, Zidan. Tapi, aku terpaksa menerima perjodohan itu karena Abi.”

“Aku minta maaf kalo keputusan yang aku ambil nyakitin hati kamu—“

“Oke udah cukup. Kalo itu mau kamu, aku terima. Kita putus, Ashila. Terima kasih kamu udah bikin aku jadi lebih baik selama kita pacaran. Maaf kalo aku pernah sakitin hati kamu, La. Aku pergi.”

Ashila menunduk, hanya diam yang bisa ia lakukan. Masih ada sedikit rasa tidak rela di dalam hatinya. Tapi, mungkin ini jalan yang terbaik.

“Zidan…” lirih Ashila. Setelahnya, gadis itu menatap punggung yang kini perlahan menghilang.

***

SETELAH Ashila mengatakan perjodohan itu pada Zidan, yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya. Ia tidak pernah menghubungi Zidan lagi. Walaupun mereka sering berpapasan di sekolah, tapi mereka berusaha untuk tidak menanggapi satu sama lain.

Semua berubah ketika Ashila sudah mengatakan yang sejujurnya kepada Zidan. Tidak ada lagi yang menemaninya setiap hari. Tidak ada yang perhatian padanya lagi di sekolah. Tidak ada Zidan yang sering membuat jantung berdebar. Bahkan, melihat senyumnya pun sangat mustahil. Mungkin akan berubah menjadi pandangan penuh kebencian.

Zidan, aku akui dia memang baik. Tapi satu hal yang aku tidak suka darinya. Zidan selalu melarangku dekat dengan laki-laki lain selain dia. Tetapi, dirinya sendiri selalu ramah bahkan dekat dengan perempuan lain. Ashila kira hanya dia yang selalu ada di hatinya, tapi ternyata… Kini, Zidan sudah membuka ruang di hatinya untuk perempuan lain juga, dan itu untuk Lisa—teman organisasi nya. Jika dibilang teman tapi mereka sering dekat, jika dibilang kekasih pun bukan. Karena Ashila lah, kekasih Zidan yang sebenarnya.

Kedekatan Zidan dan Lisa membuat satu sekolah heboh dengan berita bahwa mereka punya hubungan. Ashila hanya bisa diam, menahan rasa sesaknya di dada. Sakit, sakit sekali.

Melihat mereka berduaan di sekolah membuat Ashila ingin marah dan meledakkan amarahnya yang selama ini ia pendam. Tapi, jika itu terjadi… Ashila bisa dipermalukan oleh kelakuan dirinya sendiri. Jadi untuk mengantisipasi itu, ia hanya diam. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara Ashila dan Zidan.

Satu minggu berlalu…

 Kini, Ashila tengah sibuk menyelesaikan dan ujian semester akhir. Menjadi seorang siswi kelas 12 di tingkat akhir memang sulit. Bahkan lebih dari kata sulit, yang sangat-amat memebani pikiran, fisik, dan psikis gadis itu.

Belum lagi, pikiran gadis itu kali ini bertambah karena perkataan Ridwan yang mengatakan bahwa akan menjodohkan Ashila dengan Ghafi, sosok laki-laki yang baru saja ia temui satu kali di Pondok Pesantren An-Nur, itu pun karena diajak oleh Ridwan.

Sebenarnya, Ashila masih ingin mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi menjadi seorang Sarjana Kedokteran. Dia sangat ingin menjadi seorang dokter Spesialis Anak, karena menurutnya, anak-anak sangat lucu. Terlebih lagi, jika dia merawat bayi yang menggemaskan.

Maka dari itu, dia sangat rajin belajar dan berdoa terus menerus, supaya impian menjadi seorang dokter Spesialis Anak terwujud.

Tapi, itu semua harus ia kubur dalam-dalam hanya karena perjodohan yang direncanakan oleh Ridwan dan sahabatnya, Furqon.

“Arghh! Kenapa harus ada perjodohan, sih? Kenapa Abi mau menghapus semua harapan dan impian yang sangat aku inginkan sejak kecil?” gerutu Ashila.

Ashila terus saja memikirkan perjodohan itu, karena baginya itu terlalu menyulitkan untuk seorang gadis yang tengah berada di kelas 12 tingkat akhir.

***

TIGA hari telah berlalu. Gadis itu masih bingung dengan keputusan yang akan dia ambil. Jika Ashila menyetujui perjodohannya dengan Ghafi, usai sudah semua harapan dan impian yang gadis itu inginkan sejak dia masih kecil. Tetapi jika gadis itu menolak, Ridwan pasti akan sangat sedih.

“Hm, aku terima atau nggak ya… perjodohan ini?” gumam Ashila sembari berjalan kesana-kemari. Mungkin saat ini dia hampir gila? Karena dia harus memikirkan keputusan yang akan dia ambil selanjutnya untuk perjodohan nya dengan Ghafi.

“Ah, begini saja. Aku akan bilang pada Abi, bahwa aku menyetujui perjodohanku dengan Ghafi tapi itu semua hanya akan berlanjut, jika aku berhasil mendapatkan nilai tertinggi saat kelulusan. Dengan begitu, perjodohan ini akan ditunda sampai kelulusan, beberapa bulan lagi. Yeayy akhirnya. Kamu jenius, Ashila!” Wajah Ashila berseri. Dia tersenyum senang karena akhirnya telah menemukan keputusan yang menurutnya sangat tepat untuk dibicarakan pada Ridwan.

Langit senja berganti dengan hembusan angin malam. Pria berutubuh paruh baya itu menghampiri gadis yang tengah terduduk di atas kasurnya. “Ashila?”

“Ya, Abi? Ada apa?” tanya Ashila.

“Bagaimana jadinya? Apakah kamu sudah memutuskan?”

“Ila sudah memutuskan apa yang akan Ila ambil untuk langkah selanjutnya mengenai perjodohan itu.”

“Wah, alhamdulillah kalau begitu. Bagaimana jadinya, nak? Kamu menerimanya atau tidak?”

Ashila menghela napas dan berusaha untuk menenangkan dirinya. “Ila menyetujui dan menerima perjodohan itu, tapi hanya akan berlanjut jika Ila mendapatkan nilai tertinggi pada saat kelulusan nanti. Bagaimana, Bi?” jelasnya kepada Ridwan.

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu tidak apa-apa. Perjodohan itu akan ditunda sampai kamu selesai kelulusan.”

Ashila bernapas lega, karena keputusannya dapat diterima dengan baik oleh Ridwan. “Terima kasih banyak, Abi.”

***

HARI ini adalah hari kelulusan Ashila di Sekolah Menengah Atas. Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga Ashila, begitu juga dengan keluarga Ghafi.

“Alhamdulillah ya, Ashila lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya.”

“Iya, alhamdulillah.”

“Sesuai kesepakatan, Ashila akan menikah dengan Ghafi jika mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Jadi, kamu setuju kan dengan perjodohan ini, nak?”

“Umm.. Insya Allah, iya Abi.”

“Alhamdulillah.”

Satu minggu setelah Ashila menerima perjodohan itu, akhirnya hari ini adalah hari bahagianya. Ralat, mungkin hari terburuk bagi Ashila. Karena dia terpaksa menjalankannya hanya untuk menepati janji dengan Ridwan dan tidak membuat Abi nya itu sedih dan kecewa.

Semua harapan dan impian gadis itu, kini sudah usai. Dia harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk menjadi seorang dokter spesialis anak karena sudah menikah dengan Ghafi. Jadi, dia harus menurut dan mengikuti langkah Ghafi kemanapun membawanya pergi.

Ijab kabul sudah dimulai. Semua tamu yang datang senyap dan acara pernikahan pun berjalan dengan khidmat.

 “SAHH!”

 “SAHH!”

 “SAHH!”

Akhirnya Ghafi dan Ashila sudah resmi secara agama dan negara menjadi sepasang suami-istri.

“Selamat ya, kalian sudah sah menjadi sepasang suami-istri.”

Ashila terdiam membeku. Menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata. Jika dia berkedip satu detik saja, mungkin cairan bening itu sudah berjatuhan membasahi pipinya.

“Heyy, kamu tidak apa-apa kan, Ashila?”

Gadis itu segera menyeka matanya dan menoleh pada lelaki di sebelahnya yang sudah menjadi suaminya. “Ah, tidak. Aku baik-baik saja.”

“Matamu sembab, kamu menangis, Ashila. Bagaimana bisa kamu mengatakan jika kamu baik-baik saja?”

“Sudahlah, Ghafi. Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.”

“Tapi… sekarang kamu sudah sah menjadi istri saya. Kamu tidak ingin bercerita kepada saya?”

“Iya, tapi ini semua aku lakukan karena terpaksa.”

“Jadi… kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikah dengan saya?”

“Tidak. Aku hanya terpaksa dan tidak ingin membuat Abi kecewa. Jadi, kamu jangan terlalu berharap bahwa aku akan mencintaimu.”

“Baiklah, saya menghargai keputusanmu, Ashila. Sudah, jangan sedih lagi ya. Saya paling tidak suka jika melihat perempuan menangis.” Ashila mengangguk.

Acara pernikahan pun berjalan dengan lancar, sama sekali tidak ada hambatan. Semua tamu sudah berangsur-berangsur meninggalkan tempat.

Gadis itu tengah bersiap untuk pergi ke rumah yang sudah disiapkan oleh orang tua Ghafi. Mereka pergi menggunakan mobil milik keluarga Ghafi.

“Ashila, kamu sudah siap?”

“Eh? I-iya udah.”

“Ya sudah, ayo.”

“Abi, Umi, kami pergi ya.”

“Iya nak, hati-hati di jalan ya, sayang.”

“Siap, Umi.”

Setelahnya, atensi lelaki itu beralih ke arah Ashila yang sejak tadi hanya terdiam. “Ayo, Ashila,” ajaknya dengan lembut.

“I-iya,”

Gadis itu gugup. Kini, gadis itu sudah sah menjadi seorang istri. Jujur, dirinya belum sepenuhnya siap dengan pernikahan itu. Tapi jika ia menolak, Ridwan akan kecewa dengannya.

Di sepanjang perjalanan pasangan itu hanya saling terdiam dan sesekali melirik satu sama lain. Tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya.

“Hey, kenapa dari tadi kamu melamun terus?” tanya Ghafi.

“Eh? Tidak apa-apa. Aku hanya sedang melihat jalanan.”

“Ya sudah, jangan terlalu banyak melamun ya.”

“Iya.”

Tiga puluh menit berlalu. Mereka sudah sampai di rumah pemberian orang tua Ghafi. Keduanya turun dari mobil dan mendekat ke arah sebuah rumah bertingkat dua.

Gadis itu terdiam. Ashila menatap bangunan tinggi yang berada di hadapannya saat ini. Meskipun terlihat sederhana, tetapi tetap memiliki nilai seni. “Ini rumahmu, Ghafi?” tanyanya sembari menoleh kepada sang tuan rumah.

“Iya, dan sekarang sudah menjadi milik kita, Ashila.”

Gadis itu menyatukan kedua alisnya, bingung. “Maksudmu?”

“Rumah ini tadinya Abi berikan hanya untuk saya. Tapi sekarang, kamu istri saya. Jadi rumah ini sudah menjadi milikmu juga, Ashila.” Ashila hanya membalas dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

“Ayo, kita masuk.” Ashila mengangguk.

“Assalamu’alaikum,” ucap keduanya saat membuka pintu rumah itu.

Saat pertama kali masuk ke dalam, Ashila tersenyum kagum. Di dalam rumah itu, ternyata terdapat interior yang sangat elegan dan tersusun dengan rapi. Ashila melihat sekeliling, sangat menakjubkan. Masya Allah. Hanya kata itulah yang terucap dari bibirnya yang manis.

Lelaki itu melihat istrinya dengan wajah yang berseri-seri. “Bagaimana, kamu menyukainya?” Ashila tersenyum dan mengangguk tanpa ragu.

“Alhamdulillah, jika kamu menyukainya.”

Saat ini mereka sudah sampai di sebuah kamar yang cukup luas. Kamar itu memiliki desain interior yang sangat cantik dan terlihat mewah dengan tema warna gold. Lelaki itu tersenyum dan mempersilakan Ashila untuk masuk ke dalam. “Silakan masuk, Ashila.”

Ashila tersenyum. “Terima kasih.”

Ranjang yang sangat empuk! Gadis itu terduduk di ranjang yang berukuran king size berwarna putih. “Kamu akan tidur di kamar lain, kan?” tanya Ashila menyelidik.

Kening lelaki itu langsung terlipat. “Mengapa kamu bertanya seperti itu? Kamu sudah sah menjadi istri saya, Ashila.”

“Iya, kita memang sudah sah menjadi suami-istri. Tapi, aku tidak mau jika harus satu kamar denganmu. Ingat Ghafi, kita ini menikah hanya karena terpaksa.”

Ghafi menghela napas pelan. “Baiklah, jika itu mau kamu. Saya akan tidur di kamar tamu,” ucapnya terjeda. “Tapi, setelah saya keluar, kamu segera tidur. Ini sudah malam,” lanjut Ghafi.

“Iya, tenang saja. Lagipula aku juga sudah ngantuk dan lelah.”

“Ya sudah, saya tinggal ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Ashila menghela napas lega, karena Ghafi mengerti apa yang dia inginkan.

Ghafi adalah sosok lelaki yang sangat baik, sabar, perhatian, juga sangat lembut terhadap Ashila. Ashila merasa tidak pantas menjadi pendamping seseorang seperti Ghafi. Jika bukan karena Ridwan, Ashila tidak akan mau menikah dengan lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya itu.

•••

Malam itu, hujan mengguyur seluruh kota Jakarta Timur. Udara dari luar terasa menusuk ke tulang punggung, sangat dingin. Sehingga harus memakai selimut yang tebal.

Ghafi terbangun dari tidurnya karena kedinginan. Dia keluar kamar untuk mencari sebuah kehangatan. Lelaki itu menuju kamar Ashila tanpa sadar. Dia menghampiri gadis itu dan tersenyum, lalu berbaring di sebelahnya. Karena udara yang sangat-amat dingin, lelaki itu memeluk Ashila dalam dekapannya.

Maaf, Ashila. Saya butuh kamu malam ini. Izinkan saya untuk memelukmu, hanya semalam saja. Batin Ghafi.

Hari sudah pagi. Kicauan burung yang indah membangunkan seorang gadis yang tengah tertidur di ranjangnya.

Gadis itu mengusap dan membuka matanya dengan perlahan. Ada yang aneh, seperti ada yang memeluknya dari belakang. Ketika mata gadis itu beralih ke arah bawah, dia menemukan tangan seseorang.

“Astagfirullah… tangan siapa ini?!”

Ashila membalikkan tubuhnya. Dia menemukan seorang lelaki yang masih tertidur pulas. Lelaki itu adalah Ghafi.

“Ghafi? Ngapain kamu ada di sini? Kenapa kamu peluk aku? Kan aku udah bilang, kita menikah hanya karena terpaksa!” ujar gadis itu dan memberikan penekanan pada kata ‘terpaksa’.

“Eh? Kamu sudah bangun? Maaf, Shila. Semalam hujan, saya kedinginan di kamar bawah. Jadi saya jalan mencari kehangatan, saya tidak tahu kalau berjalan mengarah ke sini.”

“Ah, itu alasan kamu aja. Kalo kedinginan kan bisa pake jaket atau bikin teh hangat, kenapa malah ke sini?”

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Wajar kan, jika suami memeluk istri nya? Kita sudah sah, Ashila.”

“Tapi masalahnya bukan itu, Ghafi. Cobalah kamu mengerti aku sedikit saja, aku tidak ingin satu kamar apalagi satu ranjang denganmu!”

Cup!

Ghafi mengecup kening Ashila dengan singkat.

Ashila membeku, tidak bersuara. Ia masih tersentak dengan perlakuan Ghafi kepadanya beberapa detik yang lalu.

“Sudah, jangan marah-marah lagi, ya? Saya hanya memeluk kamu kok, tidak lebih, hehe,” ucap Ghafi. Setelahnya tersenyum menyeringai ke arah Ashila.

Bugh…

Ashila melempar bantal pada wajah Ghafi.

“Hei, kenapa kamu melempar bantal ke muka saya?”

“Siapa suruh kamu tidur di sini?!” ucap Ashila ketus.

“Ya Allah, tadi kan saya sudah bilang. Saya kedinginan, keluar kamar. Saya tidak tahu kalau saya berjalan ke kamar ini.”

“Ya udah deh… Iya terserah, sana keluar!”

Ghafi masih terdiam.

“Keluar, Ghafi.”

“Ya sudah, saya keluar, ya?”

“Iya.”

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalam,” balas Ashila dengan cepat.

Ghafi berdiri menuju keluar kamar. Sebelum benar-benar keluar, ia tersenyum kepada Ashila.

•••

TIGA bulan berlalu. Ashila mulai mencair dengan setiap perlakuan Ghafi kepadanya. Sebuah keterpaksaan itu sudah mulai pudar dan berganti dengan sebuah kehangatan.

Ghafi terbangun. Ia berniat untuk mengajak sholat malam bersama Ashila. Lelaki itu masuk ke kamar Ashila. Ternyata gadisnya itu tengah tertidur di ranjang-nya yang empuk. Ia mendekat dan tersenyum.

“Ashila, bangun. Kita sholat tahajud, yuk.”

“Enghh….” Ashila masih dalam posisinya yang terbaring di ranjang. “Sekarang jam berapa?”

“Tiga puluh menit lagi adzan subuh. Ayo bangun, Shila.”

Ashila mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu mendudukkan dirinya, dan beranjak dari kasur.

Beberapa menit kemudian, Ashila kembali dalam keadaan sudah berwudhu. Gadis itu bergegas mengambil mukena dan memakainya.

Ghafi melihat istrinya itu, terkekeh.

“Kenapa kamu ketawa?”

“Lucu, mukena nya miring, hehe.”

Ashila mendengus kesal. “Ghafi!”

“Eh, bercanda kok. Sini-sini saya benerin mukena nya, ya.”

Ghafi mendekat ke arah Ashila, membenarkan mukenanya.

Mata mereka bertemu. Keduanya saling memandang satu sama lain.

“Masya Allah… Jamilatun Jidan, Ashila,” ucap Ghafi, terukir senyuman yang menghangatkan setelahnya.

Ashila yang mendapat pujian itu hanya diam, mengulum senyum. Ia sangat bahagia, memiliki seorang imam seperti Ghafi. Iya, Ghafi Al-Fath Shazam, imam pilihan Abi.

Beberapa detik berlalu, mereka tersadar. Dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain. Mereka gugup.

“Nah, sudah.”

“Terima kasih, Ghafi,” ucap Ashila tersenyum.

“Na’am, Ashila.”

Setelahnya, mereka melaksanakan sholat tahajud dan sekalian sholat subuh.

Beberapa menit berlalu. Ghafi menoleh ke arah Ashila dan memandangi gadis itu dengan tatapan sendu.

“Kamu kenapa?”

“Ah, tidak apa-apa, Humaira.”

“Humaira? Kenapa kamu panggil aku dengan panggilan itu?”

“Karena saya suka. Humaira artinya kemerahan. Itu yang sering terjadi pada pipi kamu, jika saya telah memujimu, Humaira. Boleh kan?” ucap Ghafi, terkekeh setelahnya.

Pipi Ashila memerah. Ya… gadis itu blushing. Ghafi memang paling pandai jika soal merayu Ashila.

“Sudah, tidak usah malu, hehe.” Ashila hanya diam.

“Humaira…”

“Iya?”

“Boleh saya memeluk kamu?”

“Boleh lah, kenapa kamu pake izin segala…”

“Ya.. saya hanya mencoba untuk tidak membuat kamu kaget, Humaira. Kalau saya memeluk kamu tanpa aba-aba, yang ada nanti kamu blushing lagi.”

“Hm, ya udah iya.” Mereka pun saling memeluk erat. Menyalurkan kehangatan satu sama lain.

“Ghafi?”

“Hm?”

“Terima kasih, ya.”

Ghafi mengerutkan keningnya. “Untuk apa?”

“Terima kasih karena sudah menjadi imam yang baik untuk aku dan menerima aku apa adanya.”

“Humaira, dengarkan saya ya,” ucapnya sedikit terjeda. “Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membimbing dan menerima kamu dengan tulus. Kamu tidak perlu berterima kasih kepada saya. Saya sudah berjanji pada Abi Ridwan, akan menjaga dan menerima kamu dalam kondisi apapun, mau itu sedih atau bahagia.”

Ashila mengangguk pelan. Setelahnya ia mendongak ke arah Ghafi lalu berkata, “Ana Uhibbuka Fillah, Imam Pilihan Abi,” ucapnya tersenyum manis.

“Ana Uhibbuki Fillah, gadis kecil pilihan Abi—Ashila Humaira Arshad.”

Setelah itu, mereka pun melewati kehidupan selanjutnya, suka dan duka bersama-sama. Tidak ada lagi keraguan yang menghalangi mereka.

Inilah akhir kisahnya, tidak ada rasa kebencian lagi di antara keduanya dan berusaha untuk saling menerima. Walaupun Ashila gagal mencapai cita-citanya dan kehilangan seseorang yang sangat ia cintai, Tuhan memberinya kebahagiaan yang tidak ada habisnya. Ia sudah mendapat kebahagiaan yang lengkap dari seorang laki-laki yang sangat mencintainya.

Perpisahan memang menyakitkan. Seperti pepatah yang mengatakan, ‘akan ada pelangi setelah hujan’. Tidak akan terjadi kesedihan jika di kemudian hari tidak ada kebahagiaan yang menanti.

Kini, Ashila merasa sangat bersyukur kepada sang Pencipta. Karena akhirnya ia merasa dicintai, bukan mencintai seseorang sebelah pihak. Terkadang, apa yang kita inginkan memang tidak terwujud. Tetapi, Tuhan selalu punya rencana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Tertanda,

MeyRa.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!