Tiga Angka Untuk Jumila
44.5
10
336

Demi mendapatkan hati Jumila si kakak kelas sekaligus kapten tim basket, Dino mengambil langkah berani: bergabung dalam tim basket putri. Akankah misinya berhasil?

  • Tulisan Kak Dimas Abi selalu aja bisa menghibur pembaca. Tapi berbobot jg krn penjabaran ttg dunia basketnya cukup detail.
    Ini bacanya gak kerasa tau2 beres aja.
    Sukses ya, Kak!

  • Ya ampuuun Dino… Kalau pas ngatain tuh ngomong yang bener… Besok-besok pas coba lagi, jangan lupa ngomongnya agak kenceng. Seru, Mas. Semangat ya.

  • JIAHAHAHAHAHA aseliiiiii seru abisss bacanya sambil ngakak plus senyam-senyum sendiri, nostalgila jaman dulu pernah dicengcengin ama adek kelas cowok se-ekskul kyaaa… good luck yah semoga menang ini mah! 😀

    *btw itu sobat cikarang astagaaahhh bengeekkk :)))))))

  • “Luca Doncic!”

    Setelah menyebut nama pemain NBA tersohor itu, Dino memantulkan bola beberapa kali ke tanah lalu mengakhirinya dengan tembakan jitu. Niat meniru gaya pebasket tersebut berujung gagal akibat bentuk tubuhnya yang menyerupai beduk masjid. Ah, yang penting bolanya masuk.

    “Agus Kuncoro!”

    Nah, kalau yang ini Dino memang ngasal

    Bola pun masuk kembali. Dino mengambilnya sembari mengatur performa napas yang memburu. Pagi itu pukul enam, hari Sabtu, di lapangan basket SMA Padma di pinggiran ibu kota, pemuda berbadan gempal itu bermain bola basket sendirian. Sudah seminggu ia resmi menjadi siswa di sana dan artinya, ia telah memiliki hak untuk menginjak lapangan tanpa khawatir diusir penjaga sekolah.

    “Dino Rupawan!” pekiknya lagi sambil melompat.

    “Itu pemain basket mana? Kok gue baru denger?”

    Gerakan Dino sontak kacau ketika mendengar suara berat yang muncul dari belakang. Ada seorang pria di sana. Atau wanita? Entahlah, pandangan Dino masih kabur. 

    “Itu nama lengkap saya,” jawab Dino. 

    “Hah? Pede abis. Nggak kepikiran ganti nama?”

    Dino menelan ludah. Tak pernah muncul dalam pikirannya, di suatu pagi ada orang asing yang tega menggugat namanya. Padahal, rupawan adalah wujud doa orang tua Dino agar kelak ia menjadi orang ganteng. Yah, namanya harapan tak selalu jadi kenyataan, kan? 

    Perlahan mendekat, Dino memindai cepat sosok itu dari ujung kepala hingga kaki. Rambutnya dipotong bondol dengan headband melingkar di kepala. Mata mereka berserobok dan Dino mendadak berada di bawah tekanan kala menangkap sorot mata tegas dari wajah macho orang itu. Dalam satu tarikan napas ia merampas bola dari tangan Dino, berlari, lalu melakukan layup shoot dengan gemilang. Gerakannya yang lincah membuktikan bahwa ia bukan pebasket kemarin sore.  

    “Hebat, Bang!” puji Dino setelah sebelumnya melongo.

    “BANG-BANG TUT JENDELA WAWA?”

    Dino tidak pernah mengharapkan paginya dinodai dampratan. Namun, hal itu cukup memberi alasan untuk sekali lagi mengamati sang preman galak. Hingga tulisan ‘Padma Putri’ di punggung orang itu membuat mata Dino membelalak. Ya ampun, ternyata dia cewek, Dino membatin. 

    “Ma-maaf,” Dino berusaha sopan.

    “Lo anak kelas sepuluh?”

    “Kok tahu?”

    “Soalnya culun.” Ujaran tak berperasaan itu lagi-lagi meluncur tanpa beban. Tak ingin bernasib buruk, Dino hanya bisa menerima dengan hati teriris.

    “Lo suka basket?” Perempuan itu kembali bertanya seraya memantul-mantulkan bola.

    “Suka, Kak.” 

    “Kenapa?”

    “Hmm, masukin bola ke keranjang itu seru.”

    Si Kakak berhenti untuk sekadar menghela napas. “Padahal gue berharap jawaban yang lebih filosofis lho.”

    “Misalnya?”

    “Hanya di basket gue bisa menghargai persahabatan, perbedaan, dan berjuang bareng untuk mencapai kemenangan,” tuturnya sebelum melakukan layup shoot entah kali ke berapa, menggunakan bola Dino.

    “Bukannya di sepak bola juga bisa ya?”

    Si Kakak berhenti lagi dan kali ini melayangkan tatapan intimidatif ke Dino. “BERISIK!” bentaknya. 

    Dino langsung mengkeret seperti baju hangat murahan. Ia hanya bisa terdiam memandangi seseorang yang semena-mena menggunakan bolanya, kemudian melakukan berkali-kali tembakan tanpa mengajak si pemilik berpartisipasi. Rasanya mirip bocah kecil yang mainannya direbut oleh abang-abangan kompleks.

    “Oke, culun! Kayaknya lo harus udahan mainnya.”

    Perasaan situ terus yang main, Dino bergumam.

    “Lapangan mau kami pakai latihan,” lanjut si Kakak dengan mengapit bola Dino di ketiak. Tak lama kemudian, terdengar suara motor dari belakang. Dino menoleh dan tampak beberapa remaja perempuan datang. Mereka memarkir motor di samping lapangan dengan estetika yang memprihatinkan.

    “Bolanya, Kak?”

    “Gue pinjem dulu. Belum ada niatan pindah sekolah, kan?”

    Dino menggeleng lalu mengangguk sambil menggaruk rambutnya yang cepak. Ia tampak seperti robot rusak. 

    “Ya udah. Pergi sana! Syuh-syuh…”

    Setelah diusir seperti ayam, laki-laki gendut itu berbalik arah, meninggalkan lapangan dengan kuyu.

     

    ****

    Istirahat makan siang adalah surga bagi para murid SMA Padma. Namun, tidak surga-surga amat bagi anak kelas sepuluh. Sekolah itu memiliki tiga kantin dan sepertinya para leluhur telah memetakan pasar masing-masing. Kantin di samping sekretariat OSIS didominasi oleh para penggawa organisasi. Senior kelas 13 selalu memenuhi kantin belakang gedung. Dan, curut-curut kelas 10 beredar di kantin nun jauh di sana, tepatnya di area parkir kendaraan guru-guru. Mereka ikhlas berjalan kaki lebih jauh demi meminimalisasi risiko dijambak senior. Dino, yang memesan tiga mangkuk soto ayam, termasuk di dalamnya. Ya, tiga mangkuk.

    “Lo laper apa lagi kemasukan jin, Nyet?” Jarot –rekan seperjuangan Dino– menyapa sembari duduk di seberang. Nyet sendiri konon berasal dari kata monyet, sebuah sapaan yang sangat tidak disarankan untuk memanggil kepala sekolah jika ingin berumur panjang. 

    “Di sini porsinya kaya anak TK, mana kenyang gue?” jawab Dino sembari melahap sendok pertama. Lalu, sejenak matanya menerawang.

    “Lo kenapa, Nyet? Gue lihat beberapa hari ini muka lo hampa kayak isi dompet gue. Cerita dong!” Jarot mencoba bersimpati yang saking semangatnya, sampai muncrat ke mana-mana. Ukuran fisik boleh saja berlawanan –Dino bak gentong dan Jarot seperti tusuk gigi– tapi urusan pertemanan, keduanya sangat erat layaknya rambut lepek dan ketombe. 

    “Kalau gue cerita, emang lo bakal ngerti, Jar?”

    “Ngerti atau nggak itu urusan belakang. Yang jelas, sesama orang jelek harus solid.” Ya, ada satu lagi kesamaan mereka. Sama-sama tidak tampan.

    Dino mendengus. Sepertinya ia memang harus melepaskan kegundahannya pada Jarot.

    “Lo kan tahu sendiri, Jar. Gue cinta banget sama basket. Alasan gue masuk sekolah ini, ya pengin gabung di tim basket cowok yang terkenal itu. Tapi…” Dino berhenti dan murung kembali. Fakta bahwa bencana yang menimpa tim basket pria SMA Padma mengubur dalam-dalam mimpi Dino. Bagaimana tidak, nama harum tim SMA Padma menjadi busuk ketika mereka terlibat insiden kerusuhan dan pemukulan wasit di pertandingan persahabatan minggu lalu. Hal itu cukup untuk membuat sekolah dan Dinas Pendidikan melarang segala bentuk aktivitas tim selama dua tahun.

    “Senior kita emang pada ajaib. Niat main basket, sampai sana malah pencak silat,” komentar Jarot sebelum melanjutkan, “Udah, lo nggak usah sedih, Nyet. Kita bisa cari klub lain. Kebetulan ada klub yang baru buka dan kayaknya sih menarik ya.”

    “Klub apaan?”

    “Klub pecinta kobra. Bisa memacu adrenalin dan menghilangkan ketakutan dalam diri.”

    “Sakit.”

    Kegalauan yang hendak dilanjutkan Dino berhenti kala segerombolan siswi masuk ke kantin. Di antaranya, terdapat seorang gadis berkulit putih bercahaya bak bengkuang, bertubuh langsing seperti buah pir, berambut panjang kecokelatan laksana rambut jagung, dan berwajah jelita kemerahan menyerupai buah persik. Namun, fokus Dino bukan pada gadis buah-buahan itu melainkan orang di sebelahnya.

    “Keren…,” gumam Dino dengan mata bersinar. 

    Jarot yang ikut menangkap arah tatapan temannya berkomentar. “Jennifer. Blasteran Yogya-Belgia. Anak kelas sebelas. Followers IG-nya 100 ribu. Idola masyarakat dan yang paling penting, lo nggak usah ngarep. Inget muka.”

    “Blasteran? Masa sih? Wajahnya lokal kok. Mungkin dari Boyolali.” Matanya masih menancap di sosok gadis yang ia kenal.

    “Mata lo sehat, Nyet? Jelas-jelas mukanya bule, tinggi semampai, rambutnya cokelat. Lagian, di antara ribuan kota, kenapa Boyolali sih?”

    Sadar tengah membicarakan objek yang berbeda, Dino meralat. “Maksud gue cewek di sebelahnya, Jar.”

    “Sebelahnya?” Mata Jarot memicing. “Tunggu, maksud lo cewek yang badannya, mohon maaf nih ya, kaya petinju itu? Yang jalannya kaya, mohon maaf lagi nih, preman habis nusuk orang?”

    “Tapi menurut gue keren.” Masih terngiang bagaimana gadis itu melakukan layup shoot paling sempurna di hidup Dino, pagi itu.

    “Nyet, saran gue, lo jangan main-main sama dia. Namanya vintage banget, Jumila. Kapten Padma Putri. Anak kelas XIII.”

    Dahi Dino mengerut. “ Kok lo bisa tahu?”

    Networking gue kan luas,” tukas Jarot sombong. Tapi Dino tahu, definisi networking Jarot adalah buah dari kepasrahan dikerjai, disuruh-suruh, dirundung, dan hal-hal lain yang menjatuhkan harga diri, oleh senior.

    “Terus, kenapa lo larang gue?”

    Jarot menjawab dengan menyingkap poni rambutnya. Ada memar biru di jidat.

    “Itu gara-gara dia?”

    Jarot mengangguk pasti. “Jadi, waktu itu gue dimintain tolong senior. Terus–”

    “Dimintain tolong apa dijailin?” potong Dino.

    “Dijailin sih…” Jarot meringis hingga gigi kuningnya terekspos. “Gue disuruh ngasih amplop buat dia. Ternyata, amplop itu isinya kecoa mati. Terus, nggak pake minta izin dulu, dia ngelempar bola basket ke muka gue. Gue lupa dia ngelempar pakai tangan apa kaki tapi yang jelas sakiiit.”

    “Ya masa pake izin dulu! Lagian, disuruh senior aneh-aneh gitu ya jangan mau dong, gimana sih?”

    “Halah, lo kalo dibentak senior paling juga ngompol. Lagian, hidup itu butuh pengorbanan, Nyet,” kilah Jarot seolah memiliki tujuan hidup. “Intinya lo nggak usah macem-macem sama dia. Lo nggak lihat itu lengannya? Kalau buat mukul maling, malingnya langsung ngelantur. Tapi gue jadi bingung, emang kerennya di bagian mana sih?”

    “Nggak tahu, Jar. Rasa ini sulit dijelaskan. Tiba-tiba gue merasa aura Kak Jumila begitu dahsyat. Tatapan matanya mengisi cekungan hati gue yang sunyi. Sangat berkarakter. Jangan-jangan gue jatuh cinta, Jar? Lo percaya cinta pada pandangan pertama nggak?” Jawab Dino setengah puitis.

    “Gue lebih percaya kalo soto lo itu beracun.”

    Dino tak mengacuhkan ocehan Jarot dan tetap terpaku pada Jumila.

    “Jadi dia kapten tim basket putri…,” gumam Dino. Sejenak kemudian, lampu bohlam keluar dari dahinya dan menyala sangat terang. Matanya berbinar karena menemukan jawaban atas kegundahan hati. 

    “Nyet, lo nggak apa-apa?” tanya Jarot setelah menyadari perubahan mimik Dino.

    “Gue menemukan arah tujuan hidup, Jar,” jawab remaja tambun itu lebay.

    “Apa itu? Perasaan gue kok nggak enak.”

    “Gue mau gabung ke tim basket putri!”

    Geleng-geleng. Jarot hanya geleng-geleng. Bayangan Dino menggunakan riasan untuk menyamarkan kumis tipis dan kerudung untuk menyembunyikan jakun  sukses menghilangkan selera makannya.

     

    ****

    Keesokan harinya, di jam pulang sekolah, Dino telah berdiri di antara beberapa gadis yang berniat mendaftarkan diri sebagai anggota baru Padma Putri. Ia telah mengumpulkan keberanian setelah tak tahan kepalanya dijejali bayangan wajah Jumila. Tentu saja kehadiran Dino menjadi pusat perhatian sebab di lapangan, hanya makhluk gembul itu yang tidak memiliki siklus datang bulan. 

    Tiba-tiba bola meluncur kencang ke arah Dino. Untungnya, ia memiliki skill basket yang cukup mumpuni sehingga mampu menangkapnya.

    “Mau ngambil bola lo kan?” teriak Jumila si pelempar. “Pelit banget sih, baru juga dipake sebentar!” 

    Mengabaikan definisi sebentar milik Jumila yang bertentangan dengan standar hidup masyarakat, Dino mendribel bola dengan santai menuju si kapten tim. Lalu, dengan satu tarikan napas ia melempar kembali bola tersebut ke Jumila.

    “Saya pengin gabung Padma Putri, Kak.”

    Semua mata menuju Dino. Jumila melipat tangannya di dada, alisnya bertemu penuh pertanyaan. Melihatnya, Dino mulai jiper.

    “Lun, culun… kita nggak seputus asa itu sampai merekrut laki-laki untuk jadi pemain.”

    “Nama saya Dino, Kak.”

    “Ya udah, Dino culun.”

    “…”

    “Gini ya, gue lagi males main-main. Kepala gue pusing. Mending lo pergi sebelum kepala lo gue tuker ama bola!” ancam Jumila keras. Dino deg-degan luar biasa. Debar itu bukan lantaran disemprot Jumila, melainkan hasil peningkatan rasa takjub atas karakter wanita super di depannya. Keren gila, hati Dino bersorak.

    “Saya serius, Kak. Cinta terhadapmu sudah mandarah daging.”

    “Hah?”

    “Basket maksudnya,” ralat Dino cepat. “Saya cinta banget sama basket. Awalnya, saya pengin gabung ke tim pria. Tapi, Kakak tahu sendiri nasib klub pria sekarang gimana, kan? Saya gabung ke tim Kak Jumi bukan sebagai pemain, kok. Saya cuma pengin bantu-bantu di sisi non-teknis. Yang penting, saya masih bisa berkecimpung di dunia basket, itu udah cukup,” papar Dino lancar. Wajar, ia sudah melatihnya semalaman.

    “Memang secinta apa lo sama basket?”

    Mengacu pada pertemuan perdana mereka pagi itu, Dino telah memprediksi bahwa pertanyaan tersebut bakal muncul lagi. “Lewat basket saya bisa menjadi diri sendiri, Kak. Saya menemukan semangat di basket. Dengar suara bola memantull, suara bola masuk ke ring, suara teriakan pemain di lapangan, bikin saya happy. Intinya, I am a basketball man!” Bagian ini juga telah dilatih Dino dengan menjiplak habis-habisan perkataan salah satu tokoh di komik basket.

    “Jawaban lo boleh juga. Terus, lo punya pengalaman mengurus tim basket?”

    “Waktu SMP saya aktif di tim basket.”

    “Wanita?”

    “Pria dong, Kak.”

    Jumila lalu menoleh ke arah rekan-rekannya, meminta pendapat apakah organisme gendut ini bisa diterima atau ditendang saja. Semua menyerahkan keputusan pada sang kapten.

    “Oke.” Jumila mengembalikan bola ke dada Dino dengan kencang. Remaja itu jadi terbatuk. “Gue kasih waktu percobaan dua minggu. Kalau selama dua minggu kerjaan lo kacrut, bye-bye!

    Yes!

    Dino hampir melompat girang sebelum sadar bahwa di depan Jumila, ia harus tampak kalem dan keren. Kegirangannya hanya tersalurkan lewat senyum yang merekah, spesial untuk Jumila. Hanya merespon lewat alis terangkat, Jumila lalu memanggil Jennifer.

    Ono opo, Kak?” tanya Jennifer yang terdengar janggal jika melihat tampang bulenya. Dia menghabiskan masa kecil hingga SMP di Yogya sehingga logat medoknya masih kentara.

    “Jen, lo gue bebas tugaskan dari urusan tetek bengek tim. Fokus aja ke permainan. Habis latihan, ajarin si Dono kerjaan-kerjaan lo.”

    “Dino, Kak,” ralat Dino.

    “Bodo amat. Mulai besok, lo yang handle kerjaan Jennifer. Paham?”

    Dino mengangguk pasti. Rencana dan target mulai terpetakan. Target jangka pendek adalah memastikan Jumila menyebut namanya dengan benar. Target jangka menengah, menjadikan Dino sebagai top of mind-nya Jumila. Dan, sebagai target puncak, mengubah status Dino menjadi Romeo.

     

    ****

    Tak butuh waktu lama bagi Dino untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Walau di awal-awal apa yang disebut pekerjaan non-teknis berkisar di angkat-angkat galon, membersihkan lapangan, dan mengelap bola, lambat laun Dino mulai menyentuh sisi manajemen tim. Pengalaman berkubang di klub basket saat SMP ternyata cukup membantu. Selain itu, faktor ekstra yang menjadi katalis pergaulan Dino adalah tubuhnya yang menyerupai boneka Brown Cony raksasa. Tangan-tangan jahil para anggota tim secara berkala melayangkan pukulan dan cubitan penuh rasa gemas. Ia menjadi mainan baru di klub itu. Dino sih senang-senang saja.

    Sayang, sikap berbeda ditunjukkan Jumila. Ia masih acuh tak acuh terhadap Dino. Jangan terlalu jauh berbicara tentang hati, hingga saat ini pun Jumila masih tak pernah benar memanggil Dino. Doni, Dini, Danu, Dudung, Bokir, apa pun semau mulutnya saja. Dino berpikir, meminta bantuan anggota lain sepertinya hal paling logis untuk mengakselerasi progres pendekatan. Setelah membagikan air minum ke para pemain yang tengah beristirahat, ia mendekati Jennifer dan duduk di sebelahnya.

    “Kak Jumi itu keren ya, Kak Jen.”

    “Kamu gabung tim karena naksir beliau toh?” tembak Jennifer tanpa basa-basi. Dino terbelalak.

    “Saya gabung karena mencintai basket, Kak,” kilah Dino.

    “Haish, gundulmu! Hayo toh ngaku saja.”

    “Kok tahu sih, Kak?”

    “Awalnya, aku kira kamu ke sini karena kecantikanku.” 

     

    Percaya diri sekali?

     

    “Tapi setelah kita lihat lagi, ternyata Kak Jumi toh targetmu. Lha wong tiap latihan matamu ke beliau terus. Sambil ngiler lagi!”

    “Waduh, jangan-jangan Kak Jumi juga tahu dong, Kak?” Dino khawatir rasa sukanya melatar belakangi sikap cuek Jumila.

    “Sepertinya nggak.”

    Dino mengembus napas lega. 

    “Kamu emang senengnya sama mbak-mbak ya?”

    “Kak Jen, cinta tidak mengenal perbedaan usia.” 

    Mendengarnya Jennifer berlagak mau muntah. 

    “Kak Jumi itu keren. Apalagi kalau main basket, passionate banget, nggak ada obatnya.” Ketahuan, Dino curhat sekalian.

    “Hmm, memang sih.” Jennifer mengamini. “Apalagi semester ini adalah semester terakhir Kak Jumi di tim. Kamu tahu nggak, tim kita itu kena kutukan lho.”

    Dino menggeleng. Jennifer kemudian bercerita bahwa Padma Putri termasuk tim unggulan se-Jakarta. Secara reguler mereka tak pernah absen masuk ke fase final kompetisi. Namun, kata juara diyakini sebagai mitos sebab tim yang dikapteni Jumila itu selalu mentok di posisi runner-up. Mereka selalu kalah dengan SMA Kartika alias Kartika Putri.

    “Kartika Putri? Kaya nama artis ya, Kak Jen.”

    “Iya juga ya, Din. Intinya, karena itu Kak Jumi latihan gila-gilaan. Bahkan, hampir tiap malam dia latihan sendiri,” lanjut Jennifer. “Kita dilarang untuk nemenin. Takut ngganggu akademis katanya.”

    Dino mengangguk. Bertambah lagi rasa suka Dino jika melihat sikap tenggang rasa Jumila pada teman-temannya. Selain itu, fakta baru tersebut memicu lampu lain yang muncul dari kepala. Sebuah rencana dengan cepat ia susun. Sampai aba-aba keras Jumila membuyarkan obrolannya dengan Jennifer. Tim diminta berkumpul. Sambil bergerak mengikuti perintah, Dino menanyakan satu hal yang mengganjal.

    “Kak Jen, gerombolan abang-abang garang di pagar sekolah itu siapa sih? Dari tadi kok ngeliatin kita? Salah satunya malah giniin saya.” Dino menirukan gerakan potong leher.

    “Oh, itu Sobat Jennifer, fansku. Wis ora usah khawatir, itu mukanya aja yang sangar. Ada tikus paling juga pada teriak-teriak.”

    “…”

     

    ****

     

    Kayuhan demi kayuhan sepeda makin mendekatkan Dino dengan sekolah. Jarak rumahnya tak terlalu jauh hingga ia tak perlu menyumbang polusi dengan mengendarai motor. Kian dekat, suara bola memantul kian terdengar. Jennifer benar, malam itu Jumila sudah ada di sana menapus keringat. Dino lalu memarkir sepeda di tepi lapangan. Kedatangannya menghentikan gerakan Jumila.

    “Dedi, ngapain lo ke sini?”

    “Dino, Kak,” ralatnya tak kenal lelah. “Saya mau nemenin Kak Jumi latihan.”

    Jumila mengalihkan pandangan menuju ring. “Pulang aja sono! Ngerjain PR. Entar kalau nggak naik kelas, gue yang disalahin!” omel Jumila sebelum melakukan tembakan jarak dekat.

    Tak menghiraukan semburan sang kapten, Dino berlari kecil mendekatinya. “Latihan sama angin nggak efektif, Kak. Mending sama saya. Gini-gini saya lumayan lho.”

    “Nggak!”

    “Katanya mau juara? Badan saya cukup besar buat jadi sparring partner Kak Jumi. Center kayak Kakak pasti butuh lawan untuk adu otot.”

    Jumila berhenti kembali. Wajahnya menunduk, menimbang tawaran logis Dino. Tubuh tegap dan besar Jumila secara alami mematenkan posisinya sebagai center yang berkewajiban menjaga area sekitar bawah ring pada saat bertahan, serta melakukan penetrasi di area yang sama pada saat menyerang. Dengan adanya teman latihan, jelas ia dapat mematangkan kecakapannya. Terlebih, ia selalu kalah duel dengan center Kartika Putri yang memiliki tubuh lebih besar darinya.

    “Tapi gimana dengan akademis lo?”

    “Saya belum pernah dengar ada siswa yang nggak naik kelas gara-gara nemenin kapten latihan basket. Lagi pula, Kak, jelek-jelek gini saya ranking satu lho pas SMP.”

    “Songongnya. Juara kelas lo?”

    “Juara makan.”

    Candaan garing itu membuat Jumila memukul bahu Dino. Gemas. Pria tambun itu berpikir, mungkin Jumila juga memiliki peluang untuk menjadi atlet tinju karena rasanya sakit sekali. Namun, itu bukan apa-apa ketika sekilas Dino mampu menangkap senyum tipis dari bibir sang kapten. Senyum terlangka abad ini, pikirnya. 

    Tawaran Dino terlalu masuk akal untuk ditolak. Jumila lantas memberi tugas sederhana pada Dino, yaitu menahan dan mencegahnya untuk memasukkan bola di area bawah ring basket. Pun begitu sebaliknya, ketika Dino menyerang, pria itu harus lepas dari kawalan Jumila dan mencetak poin. Amanah yang terlihat receh, nyatanya begitu sulit diaplikasikan di lapangan. Jumila betul-betul bertenaga kuda. Mungkin dia jelmaan Xena, kesatria wanita pada mitologi Yunani. Ia memiliki trik andalan. Dengan punggungnya yang lebar, ia mendorong Dino seperti buldoser sedekat mungkin ke ring basket. Kemudian, dalam hitungan detik ia melakukan gerakan memutar dan srukk! Jumila berhasil mencetak angka. Aksi bertahannya pun tak kalah mengerikan. Beberapa kali tembakan Dino mentah, berhasil ditepis Jumila dengan gemilang.

    Lelah akhirnya menuntun mereka duduk di tengah lapangan. Langit menjadi atap bagi Dino dan Jumila yang bermandi keringat. Laki-laki itu lalu memberikan sebotol air mineral yang telah disiapkan sebelumnya.

    “Dino, jadi lo ini atlet tim basket SMP? Beneran?”

    Remaja gembul itu semringah. Akhirnya, sang pujaan hati menyebut namanya dengan benar. “Beneran, Kak.”

    “Kok lemah?”

    Semringah Dino luntur dan dengan lemas menjawab, “Saya masuk tim cadangan.”

    “Pantes.” Jumila mengangguk. “Tapi ide lo bagus, Din. Latihan bareng ternyata menyenangkan, dan gue jadi bisa ngukur diri.”

    Dino mekar lagi. Jumila memang piawai mengombang-ambingkan perasaan Dino seperti menonton drama Korea.

    “Kita latihan bareng terus aja, Kak. Gimans?” Dino sedikit nekat mengutarakannya. Tapi, memang butuh kenekatan untuk meningkatkan level hubungan, bukan?

    “Hmm, nggak ganggu sekolah lo?”

    “Amaaan.”

    “Oke!” Jumila menepuk punggung Dino. Pria itu sebenarnya mengharapkan tepukan yang lebih halus dan mesra, tapi tak mengapa, Dino rela organnya rontok asal pelakunya adalah Jumila. Ada hening sejenak sampai suara pemberontakan di lambung Dino terdengar.

    “Laper, Din?” tawa Jumila pecah. Malam menyembunyikan warna merah pipi Dino. 

    “Kita ke angkringan Pakde, yuk. Gue traktir!” 

    Mata Dino membulat antusias. Angkringan Pakde adalah tempat menongkrong paling sensasional di lingkungan sekitar sekolah. Rata-rata pengunjungnya adalah perantau Jawa yang kangen akan suasana temaram lampu angkringan. 

    “Beneran, Kak?”

    “Atau mau batal aja?”

    “Jangan dong.”

    Antusiasme Dino berganda kala menerima kenyataan bahwa ia akan pergi berdua dengan Jumila. Ia berasumsi cukup berani: ini adalah kencan pertama.

     

    ****

     

    Delapan bungkus nasi kucing menemani pertukaran kata dan tawa antara Dino dan Jumila. Di luar basket, ternyata mereka memiliki kesamaan, sama-sama gila dalam hal porsi makan. Itu baru nasi kucingnya, belum ragam sate dan gorengan yang entah keberapa masuk ke perut mereka. Di luar dugaan Dino, ternyata Jumila asyik diajak mengobrol. Hal tersebut mematahkan gosip dari Jarot bahwa Jumila memiliki hobi memakan manusia hidup-hidup. 

    Malam itu, Dino menangkap banyak hal tentang Jumila walau tak jauh-jauh dari basket. Rupanya, gadis itu telah terpapar basket sedari kecil akibat diracuni sang Ayah melalui video aksi Kobe Bryant, Yao Ming, Dwyane Wade, hingga yang lebih lawas lagi; Michael Jordan. Nama kedua adalah idolanya, seorang center asal Tiongkok yang berjaya di negeri Paman Sam. 

    “Kalau yang sekarang jagoin siapa, Kak?”

    “Nggak ada, Din,” jawab Jumila setelah menyantap sate usus ke limanya. “Pemain sekarang bagus-bagus sih, tapi belum ada yang bisa menggeser Yao Ming. Kalau jago lo siapa?”

    “Saya suka Stephen Curry. Dia jago banget nembak three points.”

    “Hmm, dia point guard ya? Menurut gue posisi paling keren di basket itu center. Tapi bukan berarti posisi lain nggak penting ya.”

    “Kenapa, Kak?”

    “Seperti artinya, center berada di tengah. Dia pusatnya tim. Dia harus punya fisik lebih kuat dibanding pemain lain. Sebab, center adalah pelindung tim. Dia rela berkorban untuk tim! Sampai sini paham lo, Din!” seru Jumila meninggi dan meninggi.

    Dino mengangguk cepat. Menyembunyikan ketidakpahaman mengapa mendadak Jumila jadi galak.

    “Sayangnya gue nggak cukup kuat untuk bisa bawa tim juara. Gue selalu kalah sama beruang kutub sialan itu!” Jumila menggebrak meja, mengagetkan seluruh pengunjung. Tanggap atas situasi, Dino berinisiatif meminta maaf pada khalayak.

    “Sabar, Kak. Kalau digebrak lagi, angkringan ini bakal berubah jadi warung pecel lele.”

    Canda itu membuat Jumila menginjak kaki Dino. Dino meringis lalu melanjutkan tanya, “Beruang kutub itu siapa?”

    “Ningsih, center dan kapten Kartika Putri.”

    Dino mengangguk sambil menyeruput es jeruknya.

    “Ini semester terakhir gue di tim, Din. Gue pengin banget bawa temen-temen jadi juara.” Sorot mata Jumila penuh harap. Hasrat Dino untuk menjadi dewa penolong membumbung tinggi. Ya, baru sekadar hasrat sebab ia belum menemukan cara apa pun untuk membantu gebetannya itu kecuali menyumbang sebuah quote yang sering digaungkan para motivator.

    “Ingat, kunci kesuksesan adalah yakin!”

    “Yakin aja nggak cukup.”

    “Memang dia sekuat apa, Kak?”

    “Dua minggu lagi kompetisi dimulai. Lo bisa lihat sendiri kekuatannya.”

    Jumila lalu melihat pergelangan tangan. Waktunya mengakhiri obrolan dan pulang.

    “Berapa semua, Pakde?” tanya Jumila setelah menyebutkan seluruh pesanan.

    “75 ribu, Mbak.”

    “Ooh…” Mendengarnya, Jumila langsung mencolek Dino. “Din, bayar, Din!”

    “Lho, katanya nraktir?”

    “Ck, cerewet! Pinjem duit lo dulu, besok gue ganti kalau inget!”

    Dino manyun.

     

    ****

    Kompetisi bola basket putri se-Jakarta sudah bergulir. Sore itu bukan giliran Padma Putri yang bertanding. Sengaja mereka datang ke gedung olahraga untuk menyaksikan pertandingan Kartika Putri, sang musuh bebuyutan. Tujuannya jelas, mempelajari dan mencari kelemahan tim juara bertahan itu. 

    “Kak Jumi, Ningsih itu yang mana?” tanya Dino pada Jumila yang duduk di sebelahnya. Sejak makan malam bersama di Angkringan Pakde dua minggu yang lalu, Dino merasa kemajuan hubungan mereka sangat signifikan. Jumila tak pernah lagi sekali pun salah menyebut nama Dino. Berlatih dan makan malam bersama sudah menjadi kegiatan reguler. Tentu saja hal tersebut membuat Dino melayang. Hidupnya terasa sempurna. Satu-satunya yang tak sempurna, ketika remaja buncit itu mencoba menagih utang angkringan pada Jumila, gadis itu mendadak amnesia dan menyuruh Dino berlari keliling lapangan. 

    “Yang paling bongsor itu lho, Din.”

    “Wow, yang tangannya jempol semua itu?”

    Refleks, Jumila menampar bahu Dino disusul tawa. “Ngaca, Din! Kaya jari lo langsing aja.” 

    Bagi Dino, tawa Jumila adalah percikan air surga.

    Suara peluit berkumandang, tanda pertandingan dimulai. Secara khusus, Dino mengamati Ningsih. Ternyata ada yang mengungguli Jumila untuk urusan besar-besaran badan. Perempuan itu tampak seperti raksasa di tengah kurcaci. Dino curiga Ningsih adalah atlet gulat yang menyamar jadi siswi SMA. Dari sisi permainan, Ningsih adalah seorang center klasik, sangat mengandalkan otot, jago rebound, blocking, screening, dan selalu berfokus di area dekat ring. Dino dapat membayangkan bagaimana Jumila kewalahan kala adu fisik dengannya. Namun, bukan Dino namanya kalau tidak memiliki banyak lampu di dalam kepala. Satu lampu menyembul keluar, terangnya seperti lampu gas merkuri bertekanan tinggi yang biasa dipakai sebagai penerangan jalan. Di detik itu, Dino menemukan sebuah cara.

     

    ****

    Suara bola masuk dan menyentuh tali basket memang tiada duanya. Rasanya seperti menerima tambahan luapan energi dari langit. Terlebih, jika suara itu berasal dari tembakan jarak jauh. Itulah mengapa Dino sangat suka melakukan tembakan tiga angka. Malam itu, sembari menunggu datangnya Jumila, ia telah melakukan beberapa tembakan yang berujung sempurna. 

    “Sorry telat, Din. Tadi gue benerin pompa air dulu di rumah.” Jumila datang membawa alasan. Ketakjuban Dino bertambah. Selain jago basket, ternyata Jumila berkompeten jadi tukang ledeng.

    “Coba lempar dari situ, Kak.”

    Jumila menangkap operan Dino dengan muka bingung. Ia menunduk dan mendapati dirinya berdiri di luar garis lengkung. “Three points?”

    Dino mengangguk dan kembali mempersilakan Jumila menembak.

    “Oke, tantangan diterima. Tapi gue bukan ahlinya ya.” Sebuah lemparan dilakukan dan hasilnya boro-boro. Boro-boro masuk, kena ring saja tidak. Jumila tampak kesal dan mencoba beberapa kali. Hasilnya sama, berantakan. Bola seperti enggan masuk. 

    “Lo sengaja bikin gue malu ya, Din?” Darahnya naik sambil mengembalikan bola dengan kasar. “Katanya punya rencana jitu? Apa?”

    Dino meminta Jumila untuk menarik napas panjang demi menetralisasi temperamennya, tapi Jumila malah membuang muka. Kesal.

    “Ngadepin Ningsih nggak bisa pakai otot, Kak. Kalau adu otot, saya jamin Kak Jumi kalah. Orang dia gedenya kaya Ultraman,” jelas Dino. Jumila mulai tertarik dan menoleh.

    “Kakak punya kelebihan yang nggak Ningsih punya, yaitu kecepatan! Jadi, kurangi pertarungan fisik dan banyakin pertarungan kecepatan.”

    Darah tinggi Jumila telah menurun dan berganti anggukan antusias. “Bener juga. Pinter lo, Din.”

    “Tapi pertarungan kecepatan punya efek samping. Kak Jumi bakal cepat lelah dan kehabisan gas di tengah pertandingan.”

    “Tenang, gue bakal kombinasikan keduanya. Udah itu aja rencananya? Kalau gitu ayo kita latihan.”

    Dino menggeleng. “Masih ada satu lagi dan ini bakal jadi senjata rahasia Kakak.”

    “Apa itu?” ujung alis Jumila berpadu penuh rasa penasaran. Kemudian, Dino mengucapkan sesuatu yang bikin Jumila tambah bingung.

     

    ****

     

    Sesuai prediksi, Padma Putri dan Kartika Putri tak menemui banyak kendala selama fase penyisihan. Mereka bertemu di final seperti tahun-tahun sebelumnya. Sempat muncul ide dari panitia untuk membubarkan seluruh tim basket putri kecuali SMA Padma dan Kartika, dan langsung mempertemukan mereka di puncak demi menghemat anggaran. 

    Suasana gedung olahraga ramai dipenuhi pendukung dua kubu. Riuh dukungan dan yel-yel provokatif saling menyilang melintasi langit-langit gedung. Desibel tak beradab muncul dari tribun utara yang dipenuhi Sobat Jennifer dengan komposisi 40% internal siswa SMA Padma dan 60% siswa dari berbagai STM. Kecantikan Jennifer memang melegenda sampai ke sana.

    “PADMA PUTRIII!” pekik Jumila memompa semangat.

    “WIN-WIN-WIN!!” seluruh anggota tim menjawab.

    Sebelum masuk ke lapangan, Jumila sempat melempar tatapan cepat penuh arti pada Dino. Pria itu membalas dengan acungan jempol.

    Pertandingan dimulai dan tak butuh waktu lama bagi kedua tim melakukan jual beli serangan. Perhatian utama jatuh pada duel Jumila-Ningsih. Ada perbedaan dari pertempuran mereka dibanding tahun lalu. Jumila terlihat sesekali menghindari adu fisik dan memilih melakukan manuver cepat melintasi Ningsih. Hasilnya cukup efektif, sorak sorai penonton bergemuruh kala kapten Padma Putri itu berhasil mencetak angka. Namun, Ningsih bukan center kaleng-kaleng. Ia terkadang menemukan cara untuk menghalau sang lawan hingga beberapa kali usaha Jumila mental.

    Di pinggir lapangan, Dino duduk dengan perasaan campur aduk. Ada satu momen ketika dalam hitungan detik, Jumila melakukan gerak tipu mengecoh Ningsih kemudian meluncurkan layup shoot andalannya. Laki-laki buntal itu langsung melompat kegirangan seperti bola bekel raksasa. Tapi di momen yang lain, giliran Ningsih mendorong Jumila hingga tersungkur dan secara bebas memasukkan bola tanpa rintangan. Melihatnya, Dino ngilu bukan main. 

    ~Teeet~

    Bel akhir babak pertama berbunyi. Pertandingan berjalan seimbang di mana Padma Putri unggul tipis sebanyak dua poin, 34-36. Di jeda ini, Jumila beralih fungsi menjadi motivator tim. 

    Good game, teman-teman. Pokoknya, kita harus jaga keunggulan ini sampai akhir!” Dorong Jumila di pinggir lapangan. Semua menyambut dengan teriakan kompak. Jumila lalu memulai evaluasinya.

    “Siska, tempel terus nomor tujuh. Jangan kasih kendor. Arum, ilang bola itu wajar, tapi lo harus segera balik ke posisi. Nggak perlu dipikirin, okay! Jennifer, good play! Tapi kadang lo masih suka ragu. Lepas aja, mau oper ya oper, shoot ya shoot. Jangan terlalu banyak mikir!”

    “Siap, Kak Kapten!” jawab Jennifer sambil melakukan touch up tipis-tipis ke wajahnya. “Wis ayu belom, Kak?”

    “Halah!” Jumila beralih ke Dino. “Ada tambahan enggak, Din?” 

    Dino yang di awal karir berkutat sebagai seksi sibuk, kini naik pangkat menjadi pelatih kedua yang tugasnya… ya, melatih. “Kakak-kakak semua, sementara kita pakai strategi ini. Yang jelas, babak kedua pasti jauh lebih berat. Pokoknya tetap fokus dan jangan kepancing emosi.”

    “SIAP!”

    Dino lalu menarik Jumila untuk membuka forum intensif. “Aman, Kak?”

    “Sesuai perkiraan kita, Din. Enggak pernah gampang ngadepin SMA Kartika, khususnya Ningsih. Tapi, strategi kita cukup efektif kok. Dia kelihatan kaget juga.”

    “Sip, tapi saya khawatir sama stamina Kakak.”

    “Memang sih, butuh stamina ekstra untuk ngejalanin rencana kita.”

    Entah mengapa ngejalanin-rencana-kita yang keluar dari mulut Jumila terasa romantis di telinga Dino hingga wajahnya berubah warna. 

    “Tapi kalau udah di lapangan, gue lupa kalau punya stamina. Jadi, lo tenang aja ya, Din.”

    Dino mengangguk. Masih dengan pipi memerah.

    Babak kedua dimulai. Layaknya tim yang baru tertinggal, Kartika Putri mengambil inisiatif untuk menekan. Berbeda dengan babak pertama, mereka tampil lebih beringas. Tiga menit waktu berjalan, tim Padma Putri sudah tertinggal enam angka. Jumila yang semula menjadi poros serangan dibuat tak berkutik. Aura kepanikan menyelimuti tim, tetapi Jumila tetap berusaha menenangkan. 

    Padma Putri beruntung memiliki Dino. Ia rupanya memiliki seribu akal untuk keluar dari lubang jarum. Dengan peningkatan penjagaan terhadap Jumila, ia mengubah peran sang kapten dari seorang ujung tombak pendulang angka, menjadi pusat distribusi bola. Alasannya jelas, fokus mereka untuk menjaga Jumila berdampak pada longgarnya penjagaan pemain yang lain. Terlebih, posisinya di tengah sangat memungkinkan Jumila untuk melihat pergerakan rekan-rekannya. Artinya, strategi kali ini adalah lebih mengoptimalkan peran anggota tim lain untuk mencetak angka. Brilian! batin Jumila.

    Pertandingan kembali berimbang hingga waktu menyisakan sepuluh detik lagi. Padma Putri tertinggal dua angka, skor semetara 56-58. Detik-detik krusial. Riuh penonton makin menggelegar mengiringi ketegangan. Bola sekarang ada di tangan Padma Putri dan artinya ini adalah penyerangan terakhir mereka. Di momen seperti ini, mental yang lebih bermain. Celakanya, kepanikan membuat operan Jennifer terbaca dan pemain lawan berhasil memotongnya. Beruntung, bola ke luar lapangan. Waktu tersisa tinggal tiga detik lagi. Dino meminta jeda time out.

    “Nggak papa, Kak Jen. Bola masih di tangan kita.”

    “Iya, Jen. Tenangin pikiran lo. Kita fokus lagi,” tambah Jumila menguatkan Jennifer yang tak bisa menyembunyikan penyesalan.

    “Tapi, bisa apa kita dalam tiga detik?” Keluh Jennifer. Di titik itu, satu-satunya orang yang ia benci adalah dirinya sendiri.

    “Jen, tiga detik itu cukup untuk bikin satu tembakan. Kita pertaruhkan nasib ke tembakan itu.”

    “Dan, saya sudah punya rencana untuk ini.” Semua mata menuju ke wajah Dino. Pria itu tersenyum. Jumila paham apa maksudnya. Pikirannya lalu terbang kembali ke malam itu.

     

    ****

    “Tembakan tiga angka,” ucap Dino

    “Hah?”

    “Selama ini, tipe permainan Kak Jumi tuh sama dengan Ningsih. Tipe-tipe center klasik. Center jadul. Padahal, center unggulan zaman sekarang nggak cuma jago di area bawah ring, tapi bisa jadi second playmaker, dan punya shooting range yang lebar.” Dino membiarkan Jumila melongo sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya, “Contohnya Nikola Jokic dan Marc Gasol. Mereka center dengan badan segede tower tapi punya kemampuan menembak tiga angka yang keren. Kalau ini bisa dikuasai, enggak ada yang bisa ngalahin Kakak.”

    Mata Jumila menyala. Rasanya seperti menemukan secercah cahaya setelah terjebak bertahun-tahun dalam tempurung penyu raksasa. Nikmatnya seperti berhasil mendobrak pintu kamar mandi setelah terkunci semalaman. Penjelasan Dino seluruhnya masuk akal dan membuat Jumila makin bersemangat.

    “Tapi gimana caranya? Tembakan three points gue ngaco semua tadi.”

    “Saya bakal ngajarin.”

    “Ah, ide lo sih oke. Tapi, gue nggak percaya ama pemain cadangan.” 

    Dino tersenyum. “Saya memang pemain cadangan, Kak. Tapi bukan cadangan biasa. Saya super sub. Senjata rahasia yang disimpan oleh tim.” Pria gempal itu kemudian melompat dan melancarkan satu tembakan jarak jauh. Mata Jumila mengikuti laju bola yang melayang, membentuk sebuah gerakan parabola yang akurat dan srukk! Masuk tanpa cela. Di sana, Jumila menangkap sebuah harapan.

     

    ****

     

     Buzzer beater, frasa yang merujuk pada sebuah momen di mana bola masuk ke ring di detik-detik terakhir penghujung laga. Padma Putri kini berjuang untuk mendapatkan momen itu. Hingar-bingar dukungan para penonton masih menyala, tapi tak mampu menutupi atmosfer tegang yang menyesaki tribun dan lapangan. Degup jantung seluruh makhluk yang ada di dalamnya berpacu bersama harapan masing-masing.  Tak terkecuali Jennifer, yang menjadi simpul awal rencana Dino.

    Secara teori, tugas Jennifer cukup mudah; mengoper bola pada sang penembak terakhir. Namun, kenyataan selalu pintar untuk mengkhianati teori. Bayang-bayang kesalahan yang ia lakukan sebelumnya masih tersisa. Bola di tangannya terasa berat seperti bola beton. Matanya mulai menggelap. Hingga teriakan Dino memecah kegamangannya.

    “Kak Jen, kamu pasti bisa! Inget, Kak, Sobat Jennifer datang ke sini untuk mendukungmu!”

    Jennifer lalu memandang tribun utara. Pria-pria itu masih berteriak secara brutal menyebut namanya, menyemangatinya. Bahkan, di antara mereka ada yang membentangkan spanduk bertuliskan: ‘Sobat Jennifer Cabang Cikarang – We Love Jennifer dari dulu sampai cikarang!’. Gadis ayu itu tersenyum lebar. Semangatnya kembali bergelora. Perkara mengapa namanya bisa sampai Cikarang, Jennifer tak ambil pusing. Ia kembali fokus.

    Anak-anak Kartika Putri memberikan penjagaan ekstra pada Siska, pemain Padma Putri yang mereka kenal memiliki akurasi tembakan jarak jauh paling baik di antara rekan lainnya. Mereka paham betul bahwa di situasi macam ini, satu-satunya strategi adalah memberikan bola pada seorang penembak jitu untuk mencetak angka. Merasa dirinya dijaga ketat, Siska berlari ke sana ke mari mencari ruang kosong. Gerakan tersebut manjur untuk menarik beberapa pemain lawan. Tanpa mereka sadari, Jumila yang semula berada di area tengah, bergerak cepat meninggalkan posisinya menuju area luar. Secepat kilat Jennifer melayangkan bola padanya. 

    “Cepat blok Jumila! Dia penembaknya!!” pekik Ningsih yang sadar bahwa pergerakan Siska ternyata jebakan. 

    Seluruh pemain Kartika Putri mencoba menghalau tapi gagal. Jarak mereka terlalu jauh dari Jumila. Sang kapten Padma Putri keburu melepas sebuah tembakan tiga angka. Bola melayang tinggi, membentuk lengkungan yang menghentikan segala riuh dan gerakan manusia di sana. Hening melingkupi gedung olah raga. Seluruh mata mengikuti arah laju bola. 

    Di momen itu, ucapan Dino terngiang jelas di telinga Jumila. Perkataan yang membekas di hatinya.

     

    ‘Tembakan tiga angka bukan tentang tinggi lompatan atau kekuatan tolakan tangan, tetapi tentang perasaan. Kalau Kak Jumila bisa menemukan perasaan itu, maka bola akan masuk walau dengan mata tertutup.’

     

    Bola meluncur indah, menembus ring bersamaan dengan dering bel akhir pertandingan. Buzzer beater jadi milik mereka. Keheningan yang tadi membungkus, berubah menjadi sorak sorai kegembiraan. Seluruh pemain Padma Putri berlari memeluk sang kapten yang bersimbah air mata haru. Sebuah tembakan berkelas mengabulkan impian terakhirnya, menjadi juara. Di sisi lain, Dino hanya berdiri di tepi lapangan, menyeka bulir air dari sudut mata. Ia tak ingin Jumila melihatnya menangis, walau itu jenis tangis bahagia. 

    Puas bersukacita di tengah lapangan, anak-anak Padma Putri beralih menyerbu Dino. Seperti biasa, tubuhnya menjadi sasaran pukulan dan cubitan. Tidak sakit tentunya, sebab itu adalah luapan rasa terima kasih atas kecerdikannya selama pertandingan. Jumila menjadi pemain terakhir yang mendekat. Tatapan matanya seperti selimut di musim hujan, hangat.

    “Dino, makasih ya. Perasaan itu… ya, gue bisa ngerasain. Ini semua karena lo, Din. Nggak tahu kenapa, cuma lo yang ada di pikiran gue pas nge-shoot. Gue seneng banget!”

    Mendengarnya, Dino seperti berdiri di bawah pohon sakura kala musim semi. Mahkota bunganya berguguran ditiup angin hingga menerpa wajahnya. Di sana, ia melihat Jumila begitu cantik berbalutkan yukata merah jambu. Senyum gadis itu merekah seolah tak ingin kalah. Begitu indah sampai Dino berani untuk menjawab,

    “Saya juga senang, Kak. Saya… suka sama Kak Jumila.” Sebuah ungkapan rasa yang selama ini terkurung dalam sangkar hati, akhirnya lepas juga. Bagaikan sebuah tembakan tiga angka, Dino berharap bola itu masuk ke dalam hati Jumila. Sayang, kalimat tersebut tak terdengar karena Jumila keburu berlari menyusuri lapangan guna membalas berbagai dukungan untuk tim kesayangannya. 

    Tak apa, batin Dino. Suatu saat ia akan kembali menembak tiga angka. Untuk Jumila.

    TAMAT

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!