Time travel to meet Mom
32.5
5
250

Pertemuan pertama saudara kembar setelah perpisahan yang lama. Perjalanan melintasi waktu dan petualangan baru menanti Gabriel & Gabriella demi melepas rindu. Akankah ada yang dikorbankan dalam bentuk kebahagiaan?

No comments found.

“Ayah ayolah … kita berangkat sekarang! Kamu jangan terlambat dan mengacaukan apa yang selama ini aku inginkan” seru Ella, saat ia sibuk dengan genggaman ranjang berisi buah segar dan makanan yang telah dimasak sebelumnya.

 

“Tenang saja, sayang. Kamu tidak akan membenci ayah hanya karena bersiap lebih hari ini” jawab Jacob yang bingung atas tatanan rambutnya sendiri, maka dari itu, ia sampai mendapatkan teguran dari putrinya.

 

“Aku harap ayah tidak terlalu lama membuang waktu hanya untuk bersolek. Ya sudah, aku menyerah dan akan menunggumu di depan saja, ya!” beres masalah buah tangan sebagai hadiah perjumpaan pertama dengan kakek dan neneknya, ia berdalih tuk keluar rumah lebih dulu.

 

“Ayah kira rasa rindumu berkurang sebab membicarakannya semalaman. Namun, hal itu ternyata membuatnya semakin bertambah” ucap Jacob yang belum juga memilih. Padahal, rambutnya tidak terlalu panjang, mungkin sekali sisir pun, akan tertata. Dan kelakuannya tersebut membuat sang putri Ella tersenyum tipis ketika membuka pintu. Tempat tinggal mereka masihlah sama, seperti dulu, hanya saja menjadi lebih banyak dari berbagai aspek ornamen yang menghiasi agar tak terlalu sepi.

 

“Ayah, dia jahil tetapi sungguh menyayangiku. Aku ingin tahu bagaimana dia ketika bersama ibu, atau barang kali aku menjadi cemburu. Jikalau melihat mereka berdua mesra di hadapanku” gumamnya berpikir. Ia terus menundukkan kepala karena dahan dan ranting pohon sempat 0menghalanginya lewat. Harmoninya suara hutan terdengar menenangkan, burung ramai berkicau di depan danau. Diikuti mentari yang terbit memancarkan cahaya sampai ke sela-sela rumput di sana. Dan Ella tampak menghirup udara segar dengan senang hatinya berkata, “Aku tak pernah membayangkan hari ini akan terjadi, tidak hanya ibu tapi juga keluarga kandungku” sungguh Tuhan memberkatinya, sebab penantian kali ini tak berujung kecewa. Ibu memang lebih kuat dari niat dan segalanya. “Ayah!” pekik kerasnya menggema ke seluruh penjuru hutan, menyebabkan para unggas yang semula diam menjadi terbang tak beraturan saat menangkap suara mengejutkan tersebut.

 

Pria dewasa di hadapan Ella langsung menyekap mulutnya agar bungkam dan berhenti berteriak, tetapi itu percuma karena yang mungkin di takuti oleh Ella adalah pakaian prajuritnya yang menutupi seluruh bagian tubuh bahkan wajah. Sehingga manusia serigala tersebut mengalami rangsangan bahwa ia terancam, dan dalam waktu sekejap mengubah wujudnya secepat kilat. derumannya menyeramkan, ia besar dan bertaring tajam.

 

Alih-alih takut lantaran perubahan rupa yang tiba-tiba, pria itu malah terkagum-kagum mendapatinya secara langsung dan itu mengundang cemas Jacob yang segera menenangkan putrinya. Namun, terlambat gara-gara emosi sudah menyelimuti Ella lebih dulu darinya. Tindakkan arogan tanpa mempertimbangkan memang sulit di kendalikan.

 

“Sayang tolong hentikan!” Jacob mencoba berkata pada putri yang terlanjur merusak apa pun yang berada di depannya termasuk menggulingkan para prajurit lain.

 

“Tidak, mereka adalah musuh kita” suaranya yang lembut turut menjelma jadi suara monster menyeramkan. Semua rusuh berlarian, mereka gelisah atas jari-jemari dari manusia serigala yang lebihlah tajam dari sebilah pedang. Meski tiada penyerangan balik, Ella tetap tak menghentikan pergerakannya.

 

Sementara di bawah sana seorang pasukan yang baru saja mengejutkannya, tidak bersuara dan mengambil tindakan apa-apa. Ia tertegun menilik makhluk mitologi di balik topeng besi yang di kenakannya.

 

“Sayang, kamu bisa membunuh mereka, sudah kembali berubah. Lagi pula mereka tak menyerang kita, nak” pinta Jacob, ia berdiri di samping pria bertubuh tegap yang kini menatapnya.

 

Penutup muka yang di pakainya seketika saja dibuka. Pahatan wajahnya mendatangkan perhatian dari Jacob dan Ella. Ternyata dia adalah Gabriel.

 

“Apakah ia saudaraku, seorang pangeran yang tinggal di kastel sana. Mengapa wajahnya begitu mirip denganku?” lirih Ella dalam benaknya, ia tak percaya akan itu semua. “Bagaimana jika benar, mungkinkan dia marah dan tak mengizinkanku pergi ke sana untuk bertemu ibu” lanjutnya mendekati Gabriel.

 

“Kakak, kaukah itu” ujarnya mengelus bagian kaki yang memiliki bulu-bulu halus.

 

Sedang Jacob penasaran tentang identitas pria di sisinya. Sampai-sampai ia membelalakkan mata karena curiga, kemudian spontan bertanya, “Kamu, siapa?”

 

Embusan nafas hangat yang di timbulkan Ella memberikan kesan yang awalnya seram kini menggambarkan suasana tenang bercampur pertanyaan yang mulai bermunculan. Ia telah berhasil menenangkan dirinya, dan kembali menjadi sosok wanita cantik walau pakaiannya mengikuti pola goresan.

 

“Aku Gabriel. Aku di perintahkan ayah untuk bertemu kalian di hutan, dengan segala hormat, sebelumnya aku mengucap maaf jika kedatangan ini menyebabkan keributan sebab tak permisi terlebih dulu”

 

“Tak apa, tapi sungguhku tak percaya, kamu tumbuh sebagai pria dewasa yang hebat, Timothy pasti mendidikmu keras.”

 

“Ayah …” lirih Ella. Langkah kakinya menghampiri Jacob.

 

“Sayang, ini adikmu yang semalam ayah ceritakan,” tunjuk Jacob secara gamblang dan mendekap sekejap badan tegap Gabriel.

 

Mereka berdua saling menatap satu sama lain, bertahun-tahun tak mengenali masing-masing. Bagaimana bisa keajaiban turun sempurna. Ataukah Ruby seorang dewi, menulis takdir mereka atas izin bahagia setelah derita. Tetapi rasanya mustahil. Benar-benar nihil jika berharap berlebihan. Kenyataan terkadang tak selaras atas apa yang kita impikan.

 

“Aku minta maaf sekali lagi, karena membuat kesalahpahaman. Kehadiranku kesini atas perintah ayahanda, yang menginginkan kalian pergi ke kastel. Aku merasa jika ini ialah bayangan yang menjadi nyata. Aku kesepian meski makam ibunda berada di sana, ternyata kalian hidup bahagia” ajak, sang calon raja. Pewaris takhta berikutnya.

 

“Oh, tidak. Maafkan aku yang terlalu refleks tadi. Kumohon, kau tak marah dan membatalkan perintah ayahmu”

 

“Tentu tidak, saudariku. Aku justru takjub memandang perubahan wujudmu yang mula-mula sedikit menyeramkan menjadi pemandangan luar biasa”

 

“Tetapi aku melukai pasukanmu,”

 

“Tidak masalah. Ayah selalu bertanggung jawab atas setiap luka dari mereka, jadi jangan khawatir aku pun akan bertindak sama” terang Gabriel kepada Ella, saudari satu-satunya.

 

“Timothy, apa kabar dia sekarang?” tanya, Jacob.

 

“Ayahanda baik-baik saja, dia sehat dan kemarin merupakan kali pertamanya bercerita pasal kalian”

 

“Apakah kau merindukan Ruby juga?”

 

“Aku sangat merindukannya, dan aku temukan kemiripan lukisan ibu di aula, dengan wajah saudariku. Hanya saja, ibu berambut merah, sementara saudariku ini coklat pekat”

 

“Benarkah? Kau tidak berbohong, kan?” pipi Ella sekejap saja memerah, hangat dan ia menyentuh tuk menutupinya.

 

“Dia tidak menipumu sayang,” pungkas ayahnya.

 

“Berarti ketika aku bercermin di danau itu, aku selalu menemukan wajah ibu yang hendakku lihat. Namun, ibu telah melukiskannya” kekaguman dan obsesi Ella pada dirinya bertambah pula, sebab kalimat pujian itu.

 

“Ya, dia seorang ibu yang hebat. Tak semata-mata mewarisi kecerdasan saja, dia menurunkan semua… dan bolehkah aku bertanya?” Gabriel meminta izin dan kepalanya suka menundukkan hormat.

 

“Silakan, tiada larangan dan tak usah formal, santai saja” ceria Jacob menyikapinya.

 

“Baiklah, haha. Ini kebiasaan,” sahutnya seraya menepuk bahu Jacob.

 

“Kau mempertanyakan apa?”

 

“Keranjang itu, dan gaun saudariku tadi sangat cantik, kendati demikian aku merusaknya dan merusuhkan suasana. Hm, ke mana tujuan kalian awalnya?”

 

“Ayah menumbuhkan rindu dihatiku pada ibu, dan dia malu-malu jikalau meminta langsung pada Raja tuk mengunjungi makam ibu. Jadi kami berniat pergi menemui kakek dan nenek yang seumur hidupku tak pernah berjumpa untuk memberikan sapa” jelas Ella.

 

“Maaf” lirihnya nyaris tidak terdengar di telinga.

 

“Mengapa, ada apa dengan mereka?” Jacob, ia terperanjat dan jantungnya berdebar lebih kencang.

 

“Beberapa tahun setelah kematian ibu, mereka putus asa dan mengakhiri hidupnya. Itu yang dikatakan oleh ayah”

 

Sunyi di hutan luas dan danau yang tergenang tenang bahkan sampai tak terlihat gelombang, tiada pula aktivitas selain prajurit yang jatuh kesakitan, juga mulut menganga lebar memperlihatkan keterkejutan sekaligus rasa sedih mendalam. Mengapa bisa terjadi di saat-saat kesempatan menghinggapi. Berlimpah-ruah sesal Jacob yang memendam lama perihal ini. Alasan kecukupan umur tak berpihak pada umur yang sudah diatur.

 

Tetesan air mata Ella turun membasahi pipinya. Tak berlangsung lama Jacob mengusapnya dan mendekap putri tercintanya yang kecewa, “Tidak harus bertemu, sudah doakan mereka agar bahagia di sana”

 

“Tapi, ayah” isak tangisnya beradu dengan mulut yang susah mengucapkan kata”

 

Tepukan di pundak dapat membuatnya tenang, “Gabriel, mari masuk ke dalam”

 

“Aku rasa kalian akan merasa lebih senang kalau tahu apa kejutan itu, jadi ikut bersamaku pergi ke kastel sekarang, ayahanda pasti sudah menunggu lama… saudariku, ikhlaskan kakek dan nenek, aku pun sama belum pernah bersua dengan mereka” Gabriel menenangkan keduanya, menggunakan cara bujukan lain.

 

Ella tetap diam, posisinya tanggah menghadap Jacob. Seolah-olah ia tengah bertanya, apa ikuti saja mau dari adiknya. Kejutan seperti apa yang berada di depannya, ia ingin tahu dan tertarik.

 

“Kereta kuda menanti untuk ditumpangi, mari” lanjut Gabriel, ia berjalan lebih dulu dengan memalingkan senyuman ke belakang. Upaya yang di lakukannya demi mengundang perhatian mereka berdua.

 

“Ayah, haruskah?”

 

“Aku yakin kejutan ini bukanlah hal biasa,”

 

“Kita pergi mengikutinya?”

 

“Tentu sayang, ayo kejar dia. Kau pasti sangat suka, setahu ayah kereta kuda itu pasti milik ibumu.”

 

“Aku harap kakek dan nenek tidak marah jika setelah bersedih aku berlari kencang untuk mendapat tempat strategis di kursi empuk itu” senyuman tipis kembali merengut bagian yang tadinya basah dan sembab di mata. Ia menyusul Gabriel dengan lompatan yang seketika mengubah dirinya menjadi serigala, ia mengizinkan adiknya tuk naik agar tak kelelahan. “Sebagai permintaan maaf lebih atas kepanikanmu, kini aku beri tumpangan padamu hingga depan jalan. Karena berjalan di hutan itu melelahkan”

 

Gabriel mengiyakan dan menaiki uluran lengan serigala yang sudah tidak menyeramkan dan tak perlu khawatir akan mencengkeram. Ia di bawa melompati segala rintangan seperti pepohonan tumbang. Terbiasa dengan ranting, itu tak tajam. Dan sebaliknya, Jacob resah memikirkan pakaian putrinya yang sobek. Sehingga ia tertawa lepas dan bergumam, “Anak itu, ia cepat beradaptasi dengan lingkungan bahkan orang baru. Sama seperti Ruby, yang sedikit lebih nekat” ia pun berjalan dan membuka pintu rumah tuk membawa gaun ganti, tetapi instingnya berkata, “Bukankah di istana menyimpan banyak busana istimewa Ruby … ya, biarkan anakku memakainya.” Singkat waktu ia pun menyusul anak-anaknya.

 

“Ayah terlambat, tapi tak apa. Ayah duduk di samping adik saja ya, aku ingin merasakan sisi ini sendirian” ucap Ella yang nyaman berada dalam kencana empuk berlapis emas dan kain sutra merah. Ia menatap keluar jendela, banyak masyarakat yang belum atau jarang ia lihat sebelumnya. Keramaian ini asing, ia lama menghabiskan waktu di hutan bersama kawanan asli serigala bukan manusia. Namun, karena sering berbicara dengan dirinya sendiri ia jadi pandai berkomunikasi. “Indah sekali …” bertahun-tahun dirinya cuma melewati kasti megah nan luas, tak kira kini ia termasuk bagian dari padanya. Sejarah fenomenal, simpang siur di bicarakan tentang pernikahan dan hubungan terlarang. Yang sekarang bersatu lantaran cinta dan ikatan janji.

 

Timothy menyambut di pintu utama, kedua tangannya terbuka lebar memeluk Jacob selepas perpisahan lama. Bola matanya tak bergerak sama sekali tempo melihat Ella memijakkan kaki pertama di lantai yang menjadi saksi cintanya dengan Ruby. Tanpa berkata lebih lanjut, otomatis pelukan hangat dan permintaan maaf ia berikan pada Ella. Ella merasakan kehangatan dan kekeluargaan itu nyata, benar adanya, lantas ia membalas pelukan tersebut.

 

“Pakaianmu?” sadar Timothy tatkala menghentikan dekapannya.

 

“Saudariku tadi berubah menjadi serigala, dan ceritanya panjang ayah. Suruh ia berganti pakaian milik ibu yang selalu kamu pajang,”

 

“Antar putriku ini pergi ke sana, anakku. Perintahkan pelayan mendandani dia, agar sempurna saat makan siang nanti”

 

“Baik, ayah! Lewat sini saudariku”

 

“Panggil saja Ella, aku tidak lebih tua darimu, adik”

 

“Baik. Lewat sini, Ella” katanya memberikan telapak tangan untuk menuntunnya pergi mengelilingi kerajaan dan memasuki ruangan berisi semua kenangan, mulai dari lukisan sampai makanan kesukaan yang di awetkan.

 

Sedangkan Timothy dan Jacob pergi ke kamar Ruby dan berbincang terkait kejutan nanti, sebab raja sanggat-sanggat membutuhkan persetujuannya. Entah mengapa, meski raut wajahnya tak rela Jacob menyanggupi hal ini.

 

“Aku menyetujuinya,” Jacob tidak pernah meragukan tindakan dan perkataannya.

 

“Terima kasih, maafkan aku telah menyingkirkanmu waktu itu. Emosi tak bisaku kendalikan apalagi baru saja kehilangan, kuingin kau tak dendam”

 

“Sudah, jaga dia, ya…” pintanya tulus.

 

Ketukan pintu dari luar berkali-kali terdengar, pelayan meminta izin kesediaan waktu mereka tuk makan siang di ruang makan yang menyediakan meja panjang dengan berbagai macam makanan terpampang. Dimulai dari kue dan ikan-ikan yang di tangkap sendiri di perairan. Kedua ayah yang dulunya pemuda itu tengah menanti kedua putra-putrinya menuruni tangga.

 

“Sayang, kau sungguh berbeda” Jacob selaku ayah benar-benar terpesona, atas kemolekan putrinya.

 

“Ruby, apakah kamu lahir kembali dalam wujud ini” lanjut, Timothy.

 

Kecantikan Ella, meruntuhkan kenangan kelam. Hampir semua mengingat hal menyenangkan, balutan gaun beludru merah tua yang menyelimuti lekukan tubuhnya terlihat elok, serasi di padu padankan tiara kuning berkilau. Sarung tangan hitam menutupi cakar tajam, begitu pula tugas sandal berhak tinggi. Ella lebih anggun dan rapi sebagai wanita dewasa yang memiliki kebiasaan memangsa.

 

Makan siang itu gambaran dari melepas segala beban dan momen menjawab berbagai pertanyaan. Menyatukan rindu dan mengenang sang ibu. Lahapnya Ella memakan hidangan membuat Gabriel melupakan aturan dan turut meniru gaya berantakannya. Raja tak keberatan, ia pun mengesampingkan mahkota kekuasaannya dan bersantai seperti Jacob.

 

Dan merencanakan kejutan itu bagi Gabriella, pada malam purnama dua hari lagi dari sekarang. Jadi sebelum waktunya tiba mereka disibukkan bersama mengobrol dan meminta pelukis terkenal istana tuk menggambar setiap momen dengan indah supaya tak bisa dilupakan. Rumah dan danau itu pun di lupakan lantaran kunjungan di makam Ruby setiap pagi. Membaca buku dan mencium aroma kue kayu manis adalah kegiatan yang selalu di minta oleh Ella. Mungkin, ia muak terhadap daging yang berbau amis. Pesta mengundang tamu dan rakyat itu diadakan meriah guna mengenalkan Ella pada khalayak ramai.

 

Pertemuan pertama sejak perpisahan itu berbuah bahagia, malam bulan purnama pun akhirnya tiba. Perjalanan waktu untuk menemui ibu itulah kejutannya. Di mana hanya mereka berempat tanpa di kawal oleh bala tentara termasuk penasihat. Ella yang tahu bahwa toko roti itu adalah toko biasa menjadi terkejut atas kenyataan bahwasanya mereka akan melintasi waktu dengan mode transportasi duduk di kursi pelanggan itu. Magis dan misterius.

 

Gigitan serentak mengubah keadaan dan keberadaan mereka di tempat yang Timothy dan Jacob inginkan. Yaitu kala Ruby seorang diri, di tinggal mereka berdua yang bertarung kuda tuk mendapat garis finisnya.

 

Ruby berada di sana, mereka berempat sungguh terpesona. Gabriel hampir saja pingsan di buatnya saat menguntit di taman istana. Ruby menoleh ke arah mereka, mungkin karena dirinya tahu sedang di awasi. Sergap mereka menundukkan kepala. Ella menutup mulut, menahan teriakan yang ingin cepat dikeluarkan.

 

“Tahan,”

 

“Mengapa, tunggu apalagi ayah?” Gabriel sebal pada ayahandanya lantaran menunda-nunda, pelukan penuh kasih sayang.

 

“Bahaya jikalau kita langsung ke sana, ibumu pasti akan ketakutan”

 

“Tapi aku ingin memeluknya, aku ingin membawanya pergi ke masa depan”

 

“Tak bisa, nak. Dia akan tetap berada di sini. Ingat, kita tak bisa mengubah masa lalu, kita hanya belajar darinya” peringat Jacob.

 

“Aku sudah tidak tahan, dia ibu… dia nyata. Sungguh cantik bagai dewi yang sengaja turun kebumi” decak kagum, Ella menyatakan perasaannya saat menengok ibunya.

 

“Sayang,” pelan Jacob, tersenyum tipis.

 

“Lihat dia sudah tak ada di sana!” Sahut Timothy yang menaikkan kepalanya dari balik rerumputan.

 

“Kalian …” Ruby selalu lebih pintar.

 

“Ibu!” teriak mereka mendapati Ruby berdiri tegap di hadapannya, lantas pelukan dan tangisan bersatu.

 

“Apakah, apakah kamu percaya, kami dari masa depan dan mereka adalah anak-anakmu” gugup, Jacob mengucapkannya.

 

“Tentu aku percaya, wajah mereka menyerupaiku. Lagi pula aku pernah melintasi waktu denganmu Jacob. Terima kasih sudah mengizinkanku melihat mereka, tetapi mengapa apa yang akan terjadi di masa depan sehingga kalian kemari?” lemah lembut suara dan gemulai gerakan tangannya. Itu salah satu alasan, ia abadi dalam memori.

 

“Aku tak mempunyai nyali tuk bercerita” ucap Jacob yang terkenal pemberani.

 

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Timothy, yang mengalihkan topik pembicaraan.

 

“Tentu, aku menunggu kalian pulang berkuda” polos Ruby menjawabnya,

 

Timothy dan Jacob tak bisa menahan terus apa yang sejujurnya mau mereka keluarkan. Dewasa bukan berarti tak boleh bersedih sesuka hati, kubur ego untuk suasana keluarga lengkap ini. Pelukan mereka berlima tiada duanya dibanding harta dan benda berharga di dunia. Pertemuan sungguhan, bukan bayangan belaka. Mungkin kebersamaan dan bersatu adalah kekuatan besar mereka dan tak ada yang bisa menggantikan itu semua.

 

Ruby mengajak mereka ke belakang istana. Di dalam lorong menuju tempat persembunyian rahasia, tak henti-hentinya mereka berbincang terkait kehidupan di masa depan yang terlanjur berjalan. Perbaikan di ujung kesadaran tidak lebih buruk dari pada penyesalan. Ruby mengecup kedua putra-putrinya dan berpesan supaya mereka selalu bersama menyatukan klan manusia dan serigala, menyeimbangkan alam dan menjaga danau itu, sebagaimana harusnya. Ia memeluk kedua pria yang sangat di cintainya, ia juga berharap tuk bisa pergi melintasi waktu lagi. Tetapi ia bukanlah dewi seperti kiasan anak-anaknya tapi, ia seorang manusia biasa dan tak bisa hidup abadi.

 

“Jadi, inilah alasanmu kala tak menjawab ke mana sepulang kami berkuda,” ingat Timothy yang dulu bingung mencari kehadiran belahan jiwanya.

 

“Hahaha. Kalian ini… ingin kumasakan apa? Setidaknya Gabriel dan Ella harus mencicipinya walau sekali” cakapnya Ruby, penuh keseriusan.

 

“Ibu, tak usah. Aku hanya ingin denganmu. Hidup sulit terjebak rindu” sela putranya, Gabriel yang tengah dalam posisi berlindung di bawah lengan ayah dan ibunya. Barangkali, setiap pria dewasa bersikap manja pada ibunya.

 

“Aku selalu mendengarkan keluh kesahmu, anakku” katanya, berlanjut menanyakan tentang hal-hal aneh lainnya, “Gabriel apa ayah menikah lagi di masa depan?”

 

“Tidak ibu, dia mengabdikan hidupnya tuk menjaga kuburmu” jujur dan itu sepadan untuk sebuah kasih tulus.

 

Satu dekapan dan ciuman di pipi itu mendarat di tubuh Timothy, ia bahagia sekali. Sedangkan untuk Jacob, ia bertanya perkara yang sama, “Ella, apa ayah menemukan kawanan serigala lain dan menikahinya?” pertanyaan tersebut memang diniatkan untuk di jawab oleh Ella, tetapi pengalihan matanya justru memandangi Jacob.

 

“Dia sibuk menjadi pandai besi dan mencabuti rumput yang mengganggu danau kenanganmu ibu, bahkan memarahiku jika menceburkan diri ke sana” balas Ella membanggakan sekaligus menyatakan dalam suatu keadaan ayahnya sering mengumpatnya.

 

“Oh, sayangku” ciuman manis juga diberikan pada Jacob. Dan ia berdalih memasak makanan sambil menyapu air matanya yang perlahan membasahi pipi. Suara seruput ingus terdengar oleh anak dan suaminya. Membuat mereka berlomba dalam menenangkan Ruby yang sedih atas takdirnya, tetapi juga bersyukur dengan kebahagiaan yang tiada tara” cintanya lengkap dan tak berkurang sedikit pun.

 

“Jangan menangis” titah kedua anak kembarnya, Gabriel dan Ella.

 

“Tidak, kalau kalian membantu ibu” pinta Ruby, agar kesedihan tidak berlanjut.

 

Hingga keluarga harmoni itu memasak dan bercanda ria, menyantap sangat lahap bahkan menjilati piringnya. Sampai waktu pulang pun datang, ada akhir dari kebahagiaan. Dan Ruby meminta tuk Jacob dan Ella mentransformasi dirinya sekali lagi saja. Ia ingin naik dan menyentuh bulu-bulu halus tersebut. Dengan demikian Ella bersama sang ayah berjalan dengan tumpangan di atasnya, menuju toko roti itu kembali.

 

Sambil mengingatkan lagi pesan yang sebelumnya sudah di jabarkan, Ruby menatap sayu mereka yang lenyap dalam waktu. “Tumbuh dengan baik, ya!” teriaknya menyaksikan kilatan cahaya yang menarik maju waktu mereka. Namun, entah mengapa Jacob masih di sana. “Sayang, mengapa kamu tetap di sini sedang mereka kembali?”

 

“Kutukan. Kutukan waktu membuatku tetap di sini. Aku melanggarnya karena rindu dan ingin Ella bahagia. Timothy bilang jika dua kali aku harus menerima konsekuensinya begini, dan nanti ketika aku menjadi serpihan cahaya. Kuharap kamu menangkap satu dari padanya” tutur Jacob mengelus pipi istri tercintanya.

 

“Mengapa kamu nekat sekali, aku-aku bersalah atas semua ini. Tuhan, umur pendek adalah bencana” kecewa, Ruby pada dirinya sendiri.

 

Jari-jemari Jacob yang mulai melemas itu menyentuh bibirnya, “Berhenti menyalahkan Tuhan, aku bersyukur menemuimu di detik terakhirku. Aku tak apa, kau sudah melahirkan putri tuk melanjutkan cinta kita dan keturunan serigala. Kita akan bertemu dalam dimensi yang berbeda” ucapnya tersenyum dan berdiri memeluk Ruby. Ia berubah menjadi butiran cahaya dan korban dari perjalanan waktu yang tak boleh di langgar aturan pentingnya.

 

Dan ketika Ella, Gabriel juga Timothy pulang ke tempat semula mereka menuturkan niat yang sama. Ella bingung dengan keberadaan Jacob yang tak diketahui sebelumnya. “Ayahku, di mana?” heran, ia pun menengok ke sekelilingnya. Menyadari manakala Jacob tak bersamanya.

 

“Dia menyalahi aturan, dia suah berubah menjadi cahaya yang akan selalu kau lihat di langit sana.” Tegas Timothy, menjawabnya tanpa menggunakan sekecil pun kebohongan.

 

“Mengapa kau tidak bicara sebelumnya!” Ella berteriak terus berteriak dan emosinya sudah dilaur kendali. Ia mati rasa, bahagia memang tidak selamanya, selalu ada penyesalan di akhir kata.

 

“Aku sudah berbicara dengannya berdua tentang konsekuensi seumpama ia berteguh hati ingin ikut ke sana, tapi dia tidak takut dan memutuskan pilihan yang berat” mendadak, mimik muka raja berubah. Rasa iba dan kasihan membuka hatinya.

 

“Ayah!” ia berlari hendak mengambil dan memakan roti itu kembali, tetapi raja menitah adiknya tuk segera menangkap dan membawa Ella pergi jauh dari sini. Sembari memberitahunya perkara amanat dari ayah dan ibunya.

 

Seorang gadis tangguh menjadi luluh, tertekan keadaan yang menyulitkan. Antara menyusul sang ayah dan menjalankan amanat tuk terus hidup demi kelangsungan dan kesetaraan alam yang hanya berada dalam genggaman putri mahkota satu-satunya klan serigala.

 

Suntikan bius dari dokter kerajaan membuatnya lebih tentang dan tidak berontak. Di tempat tidurnya Timothy menjelaskan semua dengan seksama, seperti dirinya kepada Gabriel. “Nak, kau harus tetap hidup. Ayahmu berpesan agar kau menikah dengan siapa pun pria yang kamu inginkan, dia mengamatiku untuk menjagamu. Dan soal kemarin aku yakin dia sudah berpikir secara matang, aku tahu kejutan itu menyakitkan. Tapi bila kau mengikuti apa perintahnya, hidup perlahan membaik. Aku menyayangimu layaknya kepada Gabriel. Aku tidak akan membedakan kasih sayang. Ayahmu menjelma sebagai cahaya yang kau lihat dimana-mana,”

 

Ella diam dan memikirkan banyak hal dalam pengambilan langkahnya. Setelah pulih, ia mendeklarasikan pada semua orang dalam rapat yang mana ia akan melanjutkan perjalanan barunya bersama sang adik yang kelak menjadi raja. Mereka berdua menepati janji ayahnya kepada sang ibu. Hidup damai dan diterima di masyarakat. Meski sekarang dirinya seorang putri, ia tetap berhubungan baik dengan kawanan serigala. Berpetualang bersama Gabriel juga turut memenangkan perang beberapa tahun ke belakang. Timothy senang dan pensiun dari tugas beratnya, dan ia hanya menghabiskan waktu di tempat peristirahatan Ruby bersama anak-anaknya saat petang datang.

 

“Aku akan membantu adik dalam mendapatkan wanita. Ayah, dia sungguh kaku dalam berkata-kata di depan wanita pujaannya,” gurau Ella yang berpikir bahwa dirinya bisa, padahal sebaliknya ia belum mengenal baik pria selain ayah dan adiknya.

 

“Benar begitu, nak?” tanya Timothy. Ia memalingkan wajahnya pada Gabriel untuk mendapat jawaban saat ketiganya tertidur di atas rumput yang diberi alas duduk.

 

“Habisnya, dia tak henti menggodaku …. dan itu menyebabkan aku terlihat seperti pria konyol saat di hadapkan dengan wanita itu,” mudah sekali bagi Gabriel menyangkal dan menyalahkan sang kakak. Yang memang, Ella memilih mengusik pertemuannya dengan para wanita di pesta dansa.

 

“Kamu ini … haha” Timothy tertawa terbahak-bahak, kalimat yang diucapkan Gabriel itu betul-betul menggelitik perutnya yang mulai buncit.

 

“Haha” percakapan sore hari berakhir tawa dengan cerita Gabriel yang kaku saat menghadapi seorang wanita. Anak-anak sudah dewasa, tadinya mereka buta pada cinta kini justru belajar dari kisah ibu dan ayahnya.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!