To Do List Rita
15
4
112

Tentang Rita yang berusaha untuk mengakhiri luka dalam hidupnya lewat sebuah to-do-list.

No comments found.

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa orang sukai. Di antara hal menarik yang seorang remaja bisa lakukan, Rita memilih membuat “to do list” sebagai sesuatu yang ia gemari.

 

Secara literal, to do list artinya membuat daftar pekerjaan atau langkah-langkah atas suatu hal. Atau bisa juga sebagai kegiatan menulis daftar-daftar keinginan yang ingin dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

 

Intinya, Rita sangat gemar mencatat dan merencanakan banyak hal. Mulai dari mimpi-mimpinya, daftar belanjaan bulanan Ibunya, sampai kegiatan-kegiatan apa saja yang ingin dia lakukan dalam hidupnya sebelum lulus SMA.

 

         Memang apa sih yang menarik dari membuat to do list? Tanya seorang teman suatu waktu. Rita yang tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu tidak langsung menjawabnya. Ia berpikir sejenak, mengambil jarak beberapa menit, kemudian membuka buku besar berwarna hitam yang selalu ia bawa. Lalu di detik ketika pulpen di tangannya menyentuh kertas di buku tersebut, Rita mulai menuliskan to do list akan jawaban dari pertanyaan temannya itu.

        

         Ia menulis dengan judul, Daftar Hal Menarik Dari Membuat To Do List.

        

         Saat ia hampir selesai menuliskannya, teman yang tadi bertanya tanpa ia sadari sudah tidak ada lagi di sampingnya.

 

         Rita tidak berusaha untuk mencarinya. Ia hanya mengangkat bahu tidak peduli dan melanjutkan hidupnya lagi.

 

         Masa SMA bagi sebagian orang adalah masa-masa di mana mereka bisa dengan bebas menghabiskan seluruh pagi, siang, dan malam tanpa pusing.

 

Pagi mereka bersekolah, siang keluruyan entah ke mana, dan sore sampai malam hari mereka nongkrong di satu lokasi sampai bosan.

 

         Melihat itu semua Rita hanya menggelengkan kepala bingung. Mengapa ada orang-orang yang nekat memberikan sesuatu yang tidak akan pernah kembali lagi secara cuma-cuma.

 

Jika semua orang menganggap tas dan sepatu bagus adalah barang mewah. Mereka semua salah. Karena waktu adalah barang paling mahal di dunia ini. Waktu tidak akan pernah bisa dibeli dan tidak akan datang dua kali.

 

         Rita pun sadar, tidak semua orang memiliki banyak waktu untuk dibagikan. Terlebih untuk sesuatu atau seseorang yang tidak memiki makna berarti dalam hidup si pemberi.

        

         Selama tiga tahun Rita menginvestasikan barang mewah tersebut untuk belajar dan hal-hal penting lainnya yang ia tau akan memberikannya manfaat pada dirinya di kemudian hari. Ia mengorbankan banyak kebebasan yang ia punya demi hari kelulusannya. Hal-hal menarik yang bagi sebagian remaja lakukan mau tak mau harus ia ikhlas relakan.

 

Karena ia tau apa yang akan ia dapat nanti.

 

Karena ia percaya dengan apa yang ia rencanakan.

 

Ia tidak pernah salah selama ini dalam merencanakan sesuatu. Satu persatu semua akan terbayar.

 

         Mengetahui itu semua, Rita tersenyum puas dan bangga dengan dirinya.

 

 

         Yang menarik dari masa SMA adalah sedikit waktu yang dipunya, namun dampaknya membekas begitu dalam bagi banyak orang. Dimulai dari jatuh cinta pertama kali, kencan pertama kali, atau juga patah hati pertama kali.

        

         Yang menjadikan peristiwa-peristiwa itu berkesan mungkin adalah situasi “pertama kalinya”. Dan seperti yang kita semua ketahui, tidak ada yang sempurna dari sebuah percobaan pertama.

 

         Alih-alih sempurna, terkadang percobaan pertama lebih sering diisi dengan kegagalan dan hal-hal aneh ajaib lainnya.

        

         Sama halnya seperti pacaran pertama Rita.

 

         Jika dihitung, adalah 300 hari waktu yang Rita habiskan dengan pacar pertamanya. 300 hari pagi yang kikuk tiap kali Rita menerima sapaan selamat pagi paling manis yang bisa ia dapatkan dari seseorang. 300 hari adegan pulang bersama yang selalu ia nanti-nantikan setelah praktikum yang begitu membosankan. 300 hari berpegangan tangan yang selalu membuat hatinya berdebar (meski harus diawali dengan permisi dan malu-malu). Dan 300 hari mendengarkan cerita-cerita lucu dari seseorang lewat telepon tiap malamnya yang akhirnya menjadi kegiatan favorit yang selalu ia tunggu-tunggu.

 

300 hari tersebut adalah momen terbaik selama ia bersekolah. Atau jika ingin ditulis secara berlebihan mungkin adalah 300 hari terindah dalam hidupnya.

        

         Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata hanya butuh satu orang untuk bisa memberikan perasaan bahagia dan nyaman dalam satu paket. Seolah ada berjuta alasan untuk terus memikirkan orang tersebut setiap menitnya.

        

         Bahkan ketika mengeja nama orang tersebut yang Rita temukan tak lain adalah kata bahagia itu sendiri. Sumpah mati ia begitu menikmati berbagi waktu dengan orang tersebut.  Yang waktu itu adalah pacarnya. Waktu yang kini ia sadari tidak akan pernah kembali lagi.

 

Saat itu perut Rita selalu dipenuhi dengan kepakan kupu-kupu yang menggelitik dan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika mendapati sosok pacarnya menunggunya di kantin atau parkiran motor. Dengan lambaian tangan dan senyuman paling manis yang tidak mungkin dapat ia lupakan.

 

Fakta bahwa ada seseorang yang menginvestasikan waktu untuk dirinya adalah sesuatu yang pada akhirnya membuatnya sadar bahwa ada hal yang lebih menyenangkan dari sekadar membuat daftar to do list.

 

Bersama orang tersebut hidup tidak selalu tentang bagaimana sesuatu terencana. Tapi tentang dengan siapa ia menghabiskan daftar to do list tersebut.

 

Ironisnya, setelah lewat dari 300 hari, Rita kemudian menghitung hari saat terakhir kali ia berbicara dengan orang tersebut yang kini menjadi si mantan itu.

 

550 hari.

 

550 hari yang lalu adalah saat di mana seluruh kebahagiannya terhenti.

 

Rita menyadari bahwa ia kehilangan sesuatu yang bahkan lebih lama perginya dibanding saat ia memilikinya.

 

Dan sialnya, sisa waktu sekolah bersama dengan orang itu hanya tersisa 30 hari lagi.

 

Apakah ini yang disebut dengan pertaruhan waktu? Atau kepala Rita saja yang hanya mengada-ngada karena terlanjur merindukan sosok itu begitu lama?

 

 

         R adalah nama orang itu. Fakta bahwa nama mereka berawalan dengan huruf yang sama merupakan awal dari bagaimana mereka berdua menjadi dekat. Seolah pertemuan ini adalah adegan cute meet yang film-film Hollywood sering tampilkan.

 

         Apakah kamu masih ingat bagaimana kita bertemu?

 

         Adalah pertanyaan pertama yang Rita tulis dalam to do listnya. Sebuah to do list yang ia beri judul “Satu Hari Bersama R”.

 

         Rita berpikir sejenak. Mengingat kembali kenangan beberapa tahun silam ketika ia pertama kali bertemu dengan R.

 

         Sejujurnya Rita selalu bertanya-tanya, apakah momen ini masuk ke dalam kategori kenangan yang romantis atau sebenarnya biasa saja?

 

         Momen ini bermula dari satu adegan bodoh ketika ia baru saja pulang dari perjalanan study tour Yogyakarta. Di waktu yang hampir subuh tersebut, ia langsung buru-buru pulang ke rumah saat berpamitan dengan semua orang di kelasnya. Kepalanya masih belum sinkron, matanya berat sekali untuk terbuka. Ia masih dipenuhi rasa kantuk yang belum tuntas.

 

Yang ia tidak sadari adalah saat ia sampai di depan gerbang rumahnya ia benar-benar melupakan membawa pulang tas dan segala macam oleh-oleh yang sudah ia rapihkan di Mushola sekolah.

 

Entah karena sudah ingin tidur di kasurnya, ia benar-benar hanya membawa dirinya dan dompet di kantongnya saat naik taksi menuju ke rumah.

 

         Dengan mata yang kini sudah tersadar penuh ia segera kembali pergi ke sekolahnya dan berdoa agar seluruh oleh-oleh dan tasnya masih terjaga aman. Karena ada begitu banyak benda pribadi milik dirinya yang ada di dalam tas tersebut. Salah satunya adalah buku hitam besar yang berisi seluruh to do list-nya.

 

         Saat ia sampai di depan gerbang sekolah, sialnya sekolah sudah sepi. Gerbang tertutup rapat. Pemandangan bus-bus besar yang tadi memadati lapangan sekolah sudah tak tersisa.

 

         Kaki Rita lemas. Tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan. Ia harus mengikhlaskan semua barang-barangnya hilang dan siap-siap kena omel kedua orang tuanya.

 

         Sial. Sial. Sial. Rita menghentakkan gerbang sekolah dengan keras.

 

         Tiga kata itu yang terus Rita teriakkan sepanjang jalan. Rita marah dengan dirinya sendiri. Sekali-kalinya dia lupa mengecek to do list nya ada saja hal aneh yang terjadi di hidupnya. Seperti di pagi buta ini. Sejak itu dia berjanji tidak akan pernah melupakan seluruh to do listnya.

 

         Dengan hati gamang Rita menyetop taksi yang melewati sekolahnya. Namun, beberapa detik saat ia hendak masuk ke dalam, tiba-tiba dari belakangnya ada satu suara yang memanggil namanya.

 

         Suara yang tidak begitu asing, tapi juga tidak terlalu akrab di telinganya.

 

         Rita menoleh mencari sosok yang memanggilnya. Satu laki-laki berjaket hitam melambaikan tangan padanya. Ia sedang menenteng satu tas yang Rita kenal.

 

         Tas miliknya. Ternyata laki-laki itu adalah si R. Ia sudah menunggunya dari tadi di dalam mushola sekolah namun Rita tak kunjung datang. Ketika mendengar ada suara ketukan dari gerbang R segera bergegas menghampiri.

 

Mereka berdua menukar sapa.

 

“Untung belum keburu pulang lagi. Kok bisa sih lupa bawa tas sendiri?”

“Hmm, ngantuk. Suka eror kalo subuh-subuh emang.”

 

Laki-laki itu tertawa, renyah sekali.

Manis. Ada lesung pipi muncul di wajahnya. Rita tidak bisa tidak ikut tersenyum melihat pemandangan di depannya. Di jam lima pagi hari itu Rita tidak akan melupakan kenangan ini. Ia agaknya ikhlas untuk menukar tasnya yang hilang dengan satu senyuman yang menyambutnya subuh kala itu.

 

—-

 

 

Apakah kamu masih ingat bagaimana akhirnya kita berpisah?

 

Adalah pertanyaan yang ingin Rita tanyakan kepada R. Namun, pelajaran yang ia dapat setelah berpisah dengan R adalah, tidak ada hal yang penting dalam mempertanyakan sesuatu yang sudah berakhir.

 

“What’s the point? We’re over,” ujar R saat itu ketika Rita menghubunginya suatu hari setelah perpisahan 6 bulan mereka.

 

         Dari situ Rita begitu takut untuk menghubungi R dalam bentuk apa pun.

 

         Pintu hati R sudah tertutup untuk dirinya.

 

         Namun, kali ini berbeda. Karena 30 hari kemudian Rita tidak akan ada di kota yang sama dengan R. Ia akan pergi begitu jauh. Melintasi benua yang entah kapan Rita akan bisa kembali bertemu dengan suara dan wajah R yang masih ia rindukan.

 

         Di hari ulang tahun R, Rita dengan sengaja mengirimkan pesan meminta mereka bertemu untuk terakhir kalinya. Terlalu dramatis memang, tapi setidaknya Rita berusaha untuk mengakhiri ketegangan bertahun-tahun ini dengan baik-baik. Agar ia bisa pergi dengan tenang. Agar ia bisa menuntaskan rindu itu.

 

         R setuju untuk bertemu dengannya. Di malam hari. Di satu café yang dulu pernah menjadi tempat pertama kali mereka pergi berkencan untuk pertama kali.

 

         For the old-time sake. Rita menambahkan emoji senyum di akhir textnya. Yang sayangnya tidak dibalas oleh R.

 

         Setelah dua jam menunggu, Rita hanya ditemani dua gelas kopi yang kosong yang sudah ia minum menunggu R yang tak kunjung datang.

 

         Rita paham. R sudah tidak mau bertemu dengannya lagi. Dalam bentuk apa pun.

 

 

Lalu delapan tahun berlalu, Rita dan R kembali bertemu di suatu pernikaha teman masa SMA mereka. Rita masih sendiri. R sayangnya sudah bersama perempuan lain. Yang begitu cantik yang bahkan membuat Rita ingin segera pulang dari pesta pernikahan itu. Rita pikir setelah bertahun-tahun luka dan sakit itu akan pergi dengan sendirinya.

 

Sayangnya ia masih menempel begitu erat dalam kenangan di kepalanya. R masih menjadi bagian penting dalam hidupnya.

 

Rita menyalakan rokoknya di luar Gedung, menunggu taksi online yang sudah ia pesan dari tadi.

Ada satu suara yang memanggil namanya dari belakang. Satu suara yang begitu ia kenal. Suara yang ia rindukan.

“Apa kabar?” tanya R akhirnya.

Good. Kamu gimana?” balas Rita sungguh-sungguh.

Can’t complaint. Udah mau balik? Kan baru mulai acaranya. Belum foto-foto sama satu angkatan.”

Rita tidak menjawab, kemudian ia mematikan rokoknya. Ia membalas pertanyaan R dengan senyum masam yang hanya berbasa-basi saja. R harusnya tau alasan kenapa ia pulang sekarang.

I have to go. Bye.

“Kenapa kamu selalu seperti ini? Selalu saja pergi di saat semua hal tidak pernah sesuai dengan rencana kamu. Tidak pernah sesuai dengan to-do-list kamu yang begitu berharga itu? Hidup ga akan pernah selalu yang kita mau pada akhirnya.”

Itu adalah kalimat panjang pertama yang Rita dengan dari mulut R terkait dengan hubungan mereka berduka.

“Kenapa kamu tidak datang malam itu?” Rita sudah tidak sanggup untuk menahan amarah di suaranya.

“Ya buat apa? Toh kamu akan pergi juga?”

“But, at least, kita menuntaskan ini semua dengan baik-baik aja. Dan akhirnya aku ga perlu bertanya-tanya selama delapan tahun ini tentang ini semua. I only thinking about you at the exact moment like this. I want to let you go peacefully.”

 

“Memang kamu pikir perpisahan yang baik-baik itu akan memberikan hasil yang berbeda?”

 

Rita tidak dapat memberikan jawaban yang R inginkan.

 

“Kamu selalu berpikir bahwa dengan melepas semua secara baik-baik saja akan membuat luka itu menjadi sedikit sakitnya. Kamu salah! Sangat salah! Malahan dengan kamu berniat membuat perpisahan itu terencana dan penuh dengan senyum hanya membuat aku makin bertanya-tanya apa yang salah dari ini semua? Mengapa baru sekarang kamu berkata bahwa hubungan ini tidak bisa ke mana-mana? Kenapa ga dari kemarin-kemarin saja kamu memberikan kode untuk aku minimal memperbaikinya dan kita kembali menjalani kehidupan kita yang baik-baik saja. Kenapa kamu suka banget menyiksa orang dengan pergi? Sampai sekarang aku ga pernah tau alasan kita putus. And girl, I was a good boyfriend back then.”

 

“There is nothing wrong with you. We just want something different.”

 

Rita menangis saat mengucapkan kalimat itu. Luka lama itu terbuka lagi. R menghampirinya, memberikan pelukan yang saat ini Rita butuhkan.

 

“You know what to do but you didn’t do it.”

 

Rita dan R berada dalam satu Café yang telat mereka datangi delapan tahun lalu. R datang membawa semua yang bertahun-tahun lalu coba ia lupakan. Selama itu ia berusaha untuk menekannya, menyembunyikannya, tapi di malam-malam yang sunyi terkadang Rita masih mengintipnya diam-diam.

Mereka berdua pun kini kembali bertemu dalam ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan yang mempertaruhkan delapan tahun yang riuh dengan sibuknya pekerjaan yang Rita asosiasikan dengan dengan kebahagiaan.

“Apakah bahagiamu masih sama?” tanya R.

Dalam sekejap ternyata semua hal di atas tadi menguap tak bermakna apa-apa dibanding ketika kamu berkomunikasi dengan R secara langsung.

Momen di mana Rita kembali terkoneksi dengannya. Berbagi udara yang sama dengannya. Menggerus rindu yang bertahun-tahun kamu simpan di brangkas terdalam hidupmu.

Malam ini Rita ingin menunjukkan semua padanya. Satu persatu rindu itu pun terkikis dengan malu-malu dan menjelma menjadi kegembiraan.

Kegembiraan yang hadir saat ia kembali melihat lesung pipinya yang terukir manis di senyumnya yang membuat perutmu melilit lemas. Atau tanpa permisi saat dua mata coklatnya menatapmu dengan hangat. Rita mengaku kalah, detail-detail kecil tersebut berhasil mendorongnya ke masa lalu saat SMA dulu. Pada versi Rita yang begitu tergila-gila padanya. Mengais-ngais perhatiannya.

Rita pun mengulang dalam hati bahwa ia merindukan ini semua. Mengobrol dengannya tanpa terhalang apa pun. Dan sedikitnya R dapat merasakan ia memiliki sensasi yang sama. Tidak terucap, namun gerakannya membahasakan semuanya.

Tapi Rita sadar bahwa delapan tahun merubah banyak hal dalam hidup seseorang.

R melihat fisik Rita yang kini membengkak dengan lemak-lemak jenuh dan menganjurkan Rita untuk lebih banyak berolahraga dan berhenti merokok. Dengan tegas ia bilang bahwa ia tidak menyukai bau asap yang keluar dari mulutmu. Ia sedikit kaget melihat Rita dalam format seperti itu. Tapi, Rita dapat membacanya, ia tidak menyukai fakta Rita merokok.

Sepele, tapi Rita tersipu karenanya. Rita pun berjanji untuk menguranginya. Dimulai dari malam ini.

Cerita pun bergulir dari satu kisah ke kisah yang lain. Rita tidak ingin menghentikan apa pun yang sedang terjadi di antara mereka berdua malam itu. Rita ingin melihatnya terus berbicara. Membahas tentang konspirasi bisnis minyak swasta dengan pemerintah, atau saat ia terkejut menyadari bahwa R menonton dan mengikuti dengan khidmat series Game of Thrones yang sama dengan dirinya.

Kemudian cerita remeh temeh itu pun berganti menjadi lebih serius. R membagi rahasianya di antara dinginnya malam dan ekspektasi-ekspketasi Rita yang menyesakkan.

Ia berujar ingin mengulang waktu yang ada. Empat tahun yang lalu. Namun, bukan tentang absennya kehadiran Rita. Melainkan tentang hubungannya dengan orang lain. Kekasihnya yang ia nikahi dan akhirnya berpisah karena kondisi yang tidak dapat ia paksakan. Mereka berbeda keyakinan. Dan alasan itu cukup untuk menjadikan sebuah cinta yang indah tersebut harus bertransformasi menjadi sebuah aib dalam keluarga.

Rita mendengarnya dengan sedih. Lagi-lagi Rita bukan menjadi prioritas dalam hidupnya. Dan sepertinya tidak akan pernah.

Rita tidak mau merusak malam sakral ini, sekuat tenaga ia berusaha mendengar kemalangannya dan menahan kesedihan miliknya.

R kini telah menjadi orang tua. Mendengar fakta itu membuat dirinya semakin berjarak jauh dengan Rita.

Pahit. Dan delapan tahun sudah, hidup Rita masih begini-begini saja.

Lalu pertanyaan itu pun hadir, ia menanyakan kisah cinta Rita.

“Apa kamu tidak berniat untuk menikah?” Ia menatapmu lama, menunggu jawaban Rita

Ada jeda di sana.

Rita pun memulai prolog itu. Sesuatu yang sudah Rita siapkan sejak delapan tahun lalu.

Kamu mengeluarkan satu buku tebal hitam dari dalam tasmu.

Ia tersenyum geli melihat buku hitam do do list tersebut. Ternyata ia masih mengingatnya.

Rita bilang padanya selama bertahun-tahun Rita masih menyimpan lembaran terakhir to do list untuk ia lakukan bersama R.

“Setelah bertahun-tahun kamu masih menyimpan itu semua?” tanyanya takjub.

Rita mengangguk. Dadanya kian sesak.

Akhirnya keberanian itu pun datang. Sekarang atau tidak sama sekali. Pikir Rita.

Bahwa perasaan pada R pun masih sama. Tidak pernah berubah.

 

“Kadang, aku suka mengobrol denganmu di kepalaku. Kamu adalah orang paling penting dalam kisah cintaku. I hope you know that.”

Akhirnya Rita mengatakannya, membahasakan perasaan yang bertahun-tahun mencekiknya, mengerdilkannya, menyesakkannya tiap malamnya.

Sambil bercanda Rita pun bilang R adalah cinta pertamanya. Dan sepertinya jika jatuh cinta lagi, Rita hanya akan bisa jatuh cinta dengan R saja.

R menatapmu dengan perasaan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa itu akan keluar dari mulut Rita malam ini.

“Kamu adalah orang pertama yang ingin aku dengar suaranya. Aku ingin selalu berada dalam to do list mu. Bersama kamu. Tapi kamu selalu membuat jarak yang begitu jauh dan selalu ingin pergi saat kita bersama. You hurt me that bad, girl.”

R menyentuh jemari Rita, mengalirkan rasa kasihan yang mungkin bertahun-tahun juga R simpan untuk Rita.

Di malam tersebut, dari mulutnya, R mengucapkan maaf. Tulus.

Semua khayalan-khayalan ini, alasan mengapa aku masih sendiri, semuanya hanya tentangmu. Dan akan selalu tentangmu.

“Maaf,” ucap Rita sambil menangis. Ia menghampiri R dan memberikan pelukan yang selama ini ia tahan.

“Karena saat itu aku pikir orang seperti kamu yang sesempurna ini tidak akan mau bersama orang seperti aku. Aku memilih untuk fokus dengan study aku. I thought at the time, we just two lonely and stupid people. And all our feelings are just illusion. But, after eight years, I still thinking of you in every second of my life.”

Tolong, jangan pernah pergi lagi. Bisik Rita lirih.

R tidak menjawabnya. Hanya memeluk Rita semakin erat.

Rita tahu akan seperti apa akhir dari semua ini. Rita bisa menebaknya. R akan meninggalkannya. Membuatmu kembali sengsara dengan rindu yang menyesakkan. Juga pesan-pesan dan telepon yang tak akan pernah ia balas.

Rita dapat membayangkan dirinya akan kembali mengakrabi malam-malam yang sepi dengan menguyah makanan sampah mematikan dan rindu yang sekuat tenaga sengaja ia singkirkan.

Mungkin juga Rita akan mulai merokok lagi.

Namun malam ini, Rita ingin melepaskan semua ketakutan itu terbang jauh. Dan hanya menyisakan dirinya dan R yang bertaut pada satu momen di mana perasaan mereka saling bersinapsis dalam frekuensi yang sama.

Dan biarkanlah pelukan tersebut menjadi hadiah dari kesedihan Rita selama ini.

Bersama R, dari dulu hal sekecil apa pun adalah sesuatu yang cukup untuk Rita.

 

Mereka pun berpisah. Kadang tidak ada jawaban adalah jawaban itu sendiri.

 

Rita akhirnya menatap kertas yang ia tulis panjang lebar delapan tahun lalu, ia periksa sekali lagi setiap kata yang ia tulis, tersenyum getir, lalu ia robek kertas tersebut.

 

Terkadang perpisahan adalah satu-satunya cara untuk merawat rasa cinta yang tersisa itu. Tidak semua kebahagiaan harus ia miliki dan ulang terus menerus.

 

Karena sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. 

 

Rita menutup buku hitamnya, mengambil nafas dalam-dalam, dan kembali menjalankan hidupnya yang biasa-biasa saja seperti yang sudah ia rencanakan.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!