Blue Jeans (Dear Jihas)
28.5
0
228

Ego, luka kemudian gagal melupa

No comments found.

프롤로그

(Prolog)

 

Have I told you lately?

That I miss you badly?

Sometimes I wish

That I could still call you mine

Still call you mine

Now all I’ve got is

The stain on my blue jeans

The only way I could

Remember that you were once mine

 

 

Gangga Kusuma – Blue Jeans

 

 

 

 

 

 

“Beda! ini Braga dan aturan disini cinta itu bukan cuman soal rasa, tapi soal tempat dan siapa yang bikin kita sanggup mengulang waktu. Kebanyakan nonton Drakor sih Lo!”

 

– Jihas A. Sananta

 

 

 

Polaroid itu cukup bagiku,

Mengingatkan dirinya yang kukira hampir sampai, nyatanya hanya biru yang tak sengaja berpapasan. 

Dia hangat, tingkahnya pun begitu manis, hanya saja diriku yang tabu ini lupa bahwa dia datang sebagai obat yang sewaktu-waktu bisa saja habis.

Harusnya kopi dan musik dipenghujung malam kota Bandung tidak pernah bekerja sama menjebak kita untuk saling bertemu lagi, begitu bukan?

Dear Jihas, biar kukisahkan pada semua, tentang candu dimana dua yang menjadi satu di jalan Braga dengan jeans berwarna biru.

 

 

하나 – 01

(Pulang)

 

 

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

 

Sudah 3 tahun berlalu, yang pergi pun akhirnya pulang.

Gadis manis bermata bulat seperti kacang almond menatap kesana kemari diluar bandara internasional ibu kota ini.

Tangan kanannya menarik koper yang sedari tadi menemani selama perjalan panjang dari Korea Selatan menuju Indonesia, sekitar kurang lebih 7 jam lamanya. Perjalanan panjang yang dimulai dari Provinsi Gangwon tempat keluarganya menetap sekarang, kemudian menuju Incheon internasional airport di Distrik Jung Korea Selatan dan berakhir di Jakarta.

Kemana dirinya akan pergi sekarang? Jawabannya adalah Bandung, kota kelahirannya.

“Sel”

Yang dipanggil berbalik dengan begitu cepat, dirinya mendapati seorang pria dengan pakaian bergaya vintage berlari kearahnya. Jiselle Haris tersenyum begitu Asa datang menjemputnya.

Asarman Hakim, panggilannya Asa.

“Sa? How are you? Seneng banget ketemu kamu, eh iya Jordan sama Nikie? Mereka nggak jemput aku Sa?”

Hanya satu orang yang menjemputnya disini, padahal masih ada dua lainnya yang menjadi alasan kuat mengapa Jiselle memilih pulang dari Korea.

Asa terdiam sebentar, pandangan matanya beralih menatap hal lain disekitar mereka.

“Sel kamu sehat kan? Mending kita ke mobil sekarang yuk biar cepet nyampe ke Bandung”

Jiselle mengangguk dan mengikuti Asa didepannya, tanpa berlama-lama lagi mobil putih milik Asa segera membawa mereka melaju ke kota Bandung.

Sepanjang jalan kedua sahabat itu bercerita satu sama lain, Baik Asa yang menceritakan kesibukannya berkuliah di salah satu institut seni di Bandung, maupun Jiselle yang mengisahkan indahnya tempat-tempat di Gangwon yang seringkali dia kunjungi dengan ayah juga ibunya.

“Kamu betah disana sel? Di Gangwon?”

“Yaaa betah sih Sa, tapi kan ada kalian bertiga yang harus aku temuin. Kamu, Jordan dan utamanya Nikie. Tahu nggak sih selama aku di Korea cuman kamu yang sering bales chat aku Sa, yang lain kemana?”

Asarman mengatakan kalau Kembarannya alias Jordani Hakim, atau yang akrab dipanggil Jordan itu tengah sibuk kuliah sepertinya, anak itu juga bahkan jarang pulang ke rumah dan memilih tinggal di asrama sekolah bersama teman-teman nya.

“Si Malika satu itu jangan ditanya, aku aja abangnya jarang di respon kalau ngechat dia. Belagu aja anaknya emang”

Jiselle memukul bahu Asa pelan, dari dulu sikapnya tidak pernah berubah, selalu meledek adiknya yang memang memilik warna kulit sedikit lebih gelap dibandingkan Asa yang putih.

Jiselle jadi ingat guyonan sewaktu sekolah, Asa sering menyebarkan hoax kalau Jordan itu anak pungut.

‘si Jordan buluk! Dia tuh anak pungut, buktinya dia item sendiri’

‘sialan lo Sa, gue nggak sudi ya punya abang laknat kaya lo!’

Jiselle terkekeh pelan mengingat kenangan mereka dulu, jika Asa dan Jordan sudah berkelahi dan adu mulut, maka disana tugas Nikie dan dirinya untuk melerai mereka berdua.

“Sel, kamu kayak orang gila aja senyam-senyum sendiri terus langsung bengong kaya gitu?”

“Nggak, cuman inget aja dulu kita suka ledekin Jordan hehe, eh iya Sa kalau Nikie apa kabar?”

Asa langsung terdiam, lagi-lagi dirinya memasang ekspresi seperti ragu menjawab, sedetik kemudian dirinya mengatakan kalau sebenarnya Asa dan Jordan sudah lama lost contact dengan sahabat mereka yang bernama Nikie.

Jiselle kaget, mereka berempat bersahabat sudah lebih dari belasan tahun tapi kenapa bisa sampai tidak tahu kabar satu sama lain.

“Kok bisa sih Sa? Kalian jarang hang out bareng kah? Hey kita berempat masih sahabatan kan Sa?”

“Ya masih lah sel, ya gimana soalnya kita udah jarang ketemu gara-gara kesibukan masing-masing”

“Ck, bisa-bisanya”

Dua jam lebih mereka lewati, akhirnya mobil Asa sudah memasuki kawasan Bandung, karena sedikit haus Asa mengajak Jiselle untuk turun dulu dan membeli minuman di Mini market. Jiselle menawarkan diri untuk masuk kedalam sementara Asa menunggu diluar.

Ada begitu banyak minuman di freezer, tapi dirinya paling ingat apa yang sering Asa minum, kopi.

Asarman Hakim si anak seni, penyuka senja dengan secangkir kopi, begitulah slogannya.

Jiselle mengernyitkan dahi ketika pintu freezer itu sulit dibuka, dengan sekuat tenaga tangannya menarik sampai pintu itu terbuka dan malah membentur kepala seseorang yang hendak ambil minuman juga.

Dugh..

“Aww”

“Eh maaf, aduh maaf ya nggak sengaja”

“Nggak papa”

Orang yang terbentur pintu itu berusaha menahan wajah kesakitannya agar Jiselle tidak terus menerus meminta maaf.

“Sakit ya? Maaf ya sekali lagi” 

“Enggak kok, santai aja..”

Baru saja Jiselle mau mengatakan beberapa kata penyesalan atas kejadian yang dia perbuat, orang itu malah pergi karena dipanggil teman nya yang begitu terburu-buru. Setelah Jiselle perhatikan lagi, teman yang memanggilnya adalah pria berseragam polisi.

“Eh dia polisi? Waduh”

Jiselle yang keluar langsung diceramahi Asa karena lama sekali didalam mini market, perempuan itu bercerita kalau dia baru saja berurusan dengan polisi dan tidak sengaja membentur kepalanya.

“Mampus sel! kena tembak baru tau rasa”

“Apaan sih Sa? nggak sengaja juga. By the way, itu deh kayanya orang yang tadi”

Jiselle menunjuk dua orang pria bertubuh tinggi tegap yang sedang melakukan operasi di jalanan Bandung, yang satunya adalah si pria di mini market tadi. Jiselle memperhatikan pria itu saat mobil Asa melewati keduanya.

Asa yang sadar, langsung menurunkan kaca mobil dengan iseng.

“Eh Sa, Asa ngapain”

Jiselle gelagapan begitu kaca mobil di sampinya dibuka begitu saja oleh Asa, membuat pria itu menatapnya lalu tersenyum dan Jiselle balik tersenyum kikuk saja. Sumpah demi apapun Jiselle malu bukan main.

Asa malah sibuk tertawa dikursi pengemudi, bodo amat dengan omelan sahabatnya dibelakang.

“Turun disini aja Sa”

“Eh jangan ngambek dong sel, lagian kan orang tadi nggak kenal kita”

“Bukan gitu, aku kan pulangnya mau kerumah Emak Sa, selama di Bandung aku disuruh tinggal disana, nggak akan kerumah ayah sama ibu, Jadi turun disini aja okay”

“Yaudah deh”

“Mau mampir dulu nggak?”

“Aku buru-buru sel mau rapat pergelaran seni di kampus. Next time aja ya, salamin aja sama your grandma”

“Anak ISBI mah beda, yaudah…”

Asa menurunkan Jiselle di jalan yang memang dekat ke rumah neneknya di Bandung. Asa bergegas mengeluarkan koper Jiselle dari bagasi dan mereka berdua pun berpamitan satu sama lain.

“Thanks, eh inget ya aku masih marah ini!”

“Eh buset, masih marah aja hahah.. udah sana istirahat dulu gih, see you”

“See you too, salam buat Jordan”

Jiselle tersenyum menatap mobil Asa yang menjauh dari pelupuk mata, rasanya masih seperti mimpi ketika melihat Asa kembali. Mungkin besok dia akan jauh lebih senang saat bertemu Jordan dan si cantik Nikie.

Jiselle tidak sabar.

Tapi sekarang ini langkahnya seperti melayang diantara jalan menuju rumah neneknya. Dia bersumpah tidak ada hal menyenangkan selain sekarang ini.

Satu kata telah mengembalikan yang pergi untuk kembali pada pelukan Kota Bandung.

 

‘Pulang’

 

 

 

 

둘 – 02

(Dimana?)

 

Nikie masih  belum membalas chat.

Terakhir mereka adalah balasan singkat di tanggal 15 November, beberapa minggu yang lalu itupun hanya sekedar jawaban iya untuk pertanyaan Jiselle. Ditanya pun pada Neneknya, Nikie tidak pernah berkunjung kerumah ini saat Jiselle berada di Korea.

Nikie bagai hilang tanpa berkabar, aneh bukan

Padahal dulu mereka hampir 24 jam bersama. Sekolah bareng, main bareng belum lagi kalau sudah pulang kerumah masing-masing mereka tetap stay di WhatsApp untuk ngobrol lewat video call

And now?

 

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…’

 

Jiselle melemparkan handphone nya ke ranjang, dia menatap seisi kamarnya itu dengan wajah yang sulit diartikan, tangannya bergegas untuk menarik jaket putih didalam lemari.

Dirinya tidak bisa diam saja, Nikie harus didatangi

Jiselle menuju rumah Nikie yang jaraknya cukup jauh. Sepanjang jalan dia memikirkan apa yang terjadi, kenapa Nikie tidak mau mengangkat telpon nya bahkan chatnya saja tidak kunjung di balas

Apa Jiselle melakukan kesalahan?

 

“Disini neng?”

“Iya pak, ini uangnya. Makasih ya pak”

 

Jiselle turun dari ojek online. Dia berjalan kedepan rumah besar yang pagarnya tertutup rapat, ini rumah Nikie.

Berulang kali Jiselle menekan bel, memanggil nama sahabatnya tapi tidak ada satupun yang menyaut. Rumah Nikie tampak sepi, padahal dulu Jiselle sering bermain bahkan menginap disini.

Rumah ini selalu ramai seingatnya

Jiselle lumayan lama mondar-mandir didepan rumah Nikie tapi tidak ada tanda-tanda akan ada yang segera membukakan pintu untuk menyambut kehadirannya.

“Cari siapa?”

“Eh? A.. anu, Nikie yang punya rumah ini ada nggak ya?” Sahut ibu tersebut.

“Oh Nikie sekeluarga kan udah lama pindah, temen nya Nikie? Emangnya nggak dikabarin?

Jiselle tercengang, tetangga Nikie mengatakan kalau Nikie dan keluarganya sudah pindah sekitar 2 tahun yang lalu, artinya selama Jiselle menetap di Korea tapi kenapa Nikie tidak pernah bilang?

Saat Jiselle bertanya kemana pindahnya Nikie, tetangganya menjawab kurang tahu. Seketika wajah manis itu langsung berubah menjadi sedih dan bingung.

Tak habis akal, Jiselle segera menghubungi seluruh teman masa sekolah nya untuk menanyakan barangkali ada yang tahu keberadaan Nikie sekarang. Jiselle menghubungi mereka via grup chat sekolah, grup angkatan dan media sosial Instagram yang masih aktif untuk berkomunikasi.

Jawabannya nihil.

Kebanyakan malah merasa aneh karena Jiselle yang merupakan sahabat dekat dari Nikie malah tidak tahu menahu keberadaan sahabatnya sendiri.

Saat di cek lagi postingan Instagram Jiselle di masa lalu pun banyak yang hilang entah kenapa, dia ingat dulu pernah menandai Nikie tapi hilang begitu saja, Instagram Nikie juga tidak bisa dia temukan.

Karena bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Jiselle pergi ke rumah Asa untuk meminta bantuan.

Dari dulu, Asa adalah tempatnya berkeluh kesah. Semoga saja Asa bisa memberinya saran untuk menemukan Nikie.

Di depan rumah Jiselle bertemu kedua orang tua Asa yang terkejut melihatnya setelah lama tidak bertemu, mereka memuji kecantikan wanita yang sudah tumbuh lebih dewasa itu.

Orang tua Asa mengatakan kalau Asa masih dikampus tapi sebentar lagi juga akan pulang, Jiselle disuruh menunggu saja di dalam rumah karena Kedua orang tua Asa tidak bisa menemaninya, mereka harus pergi ke acara kantor tempat ayahnya Asa bekerja.

“Jordan pasti lagi ngampus juga”

Jiselle duduk di sofa ruang tamu dan memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Asa

Dia pikir Jordan tidak ada karena rumah ini begitu sepi, tapi sedetik kemudian pria berkulit tan itu keluar dari kamarnya sambil membawa tas ransel

Jordani Hakim yang awalnya akan segera pergi itu malah terkaget-kaget melihat wajah Jiselle, terlihat dari matanya yang sedikit melotot melihat sosok yang duduk di sofa ruang tamunya.

“Jordaann! hey apa kabar? Aku kangen banget sama kamu”

Jiselle berdiri menghampiri Jordan, menepuk bahu sahabatnya itu dan memperhatikan bahwa si sahabat tumbuh lebih cepat karena tingginya yang begitu menjulang. Bahkan mengalahkan tinggi sang kakak, Asarman.

“Kamu tinggi banget Jo” 

“Lo ngapain di sini sel?” Ucap Jordan agak aneh

“Lho kok kamu bilangnya gitu Jo? Eh iya, kenapa nggak pernah bales chat aku sih? Kamu sama Nikie tuh bener-bener ya”

“……………….” Jordan membisu.

Jordan diam, matanya seperti berpaling kesana kemari, kemanapun asal bisa lari dari pandangan Jiselle.

Ada apa dengannya?

Jiselle yang hendak memegang tangannya pun ditepis oleh Jordan sehingga perempuan itu kaget bukan main.

“Jo kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku? Tapi kenapa?”

“Sel, mendingan Lo pulang dulu!  Asa lagi nggak ada disini”

“Aku kesini bukan cuma buat ketemu Asa, aku juga pengen ketemu kamu” 

“Tapi gue lagi nggak pengen liat Lo” Bentak pria itu.

Ucapan Jordan begitu menusuk perasaan Jiselle.

Jiselle mundur beberapa langkah membuat jarak antara dirinya dan Jordan yang membentengi diri. Kenapa dengan nya? Kenapa nampak semua orang membenci Jiselle sekarang.

Jordan masih diam tak bergeming, matanya sudah perih sedari tadi.

Jordan tahu dia merindukan sahabatnya yang satu ini tapi ada suatu alasan yang masih belum bisa dia terima. Melihat Jiselle semacam mengulang sesuatu dalam ingatannya.

Jordan bersikukuh kalau Jiselle harus pulang

“Lo bisa ketemu Asa dimanapun Lo mau, tapi please jangan dirumah ini atau dimanapun yang bikin gue bisa liat Lo”

“Jordan aku salah apa?” Heran Jiselle.

“Lo nggak salah, gue cuman nggak mau aja”

“Kamu tuh nggak jelas Jo, Nikie juga! Kalian kalau mau buang aku ngomong aja! Nggak usah bersikap aneh kaya gini, aku nggak masalah kok kalau kalian emang nggak nerima aku lagi, It’s fine”

Hati Jordan menyuruhnya untuk menggeleng tapi otaknya yang keras itu sebisa mungkin menyuruhnya diam.

Jordan diam saja melihat Jiselle yang matanya mulai berkaca-kaca.

“Jiselle? Jordan?”

Asa yang baru datang kerumah langsung kaget dengan dua orang yang saling berhadapan itu. Yang satu hampir menangis, dan yang satunya mati-matian menyembunyikan fakta bahwa dirinya ingin menangis.

“Sa, aku pamit ya”

“Sel mau kemana? Sel, tunggu dulu” Teriak Asa.

Jiselle lari keluar dari rumah mereka. Baginya orang-orang yang begitu berharga dikehidupan nya telah lama melupakannya, mungkin dirinya tengah dibuang

“Jordan bangsat!”

“Sa, Lo nggak ngerti rasanya jadi gue” protes sang adik.

“Gue paham bego! tapi nggak seharusnya Lo kaya gitu, Lo nggak tahu dia tertekan apalagi nanti saat dia tahu semuanya”

“Terus kenapa nggak Lo aja yang kasih tau hah?”

“Gue bener-bener nggak ngerti, kemana ilangnya hati Lo itu!”

Asa menatap Jordan dengan begitu marah, lalu melangkah keluar untuk menyusul Jiselle

Jordan terduduk di sofa, dilempar nya gelas yang sedari tadi dia genggam ditangannya

“Gue emang bego, maafin gue..”

Dan disana Jordan mulai terisak, meruntuhkan pertahanan dimana sedari tadi dia mencegah air matanya.

 

 

 

 

********

 

 

 

 

Langkah kaki Jiselle menuntunnya ke sebuah jalanan yang tak jauh dari rumah Asa dan Jordan. Dia hanya tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Jordan katakan, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba sahabatnya itu marah besar.

“Sel”

“Kamu ngapain kesini sih Sa? Sana ah pulang!”

Asa ternyata mengejar Jisell.

“Mau ngelap ingus kamu, jelek ih nangis… Si Malika mah kurang ajar emang, dia lagi stres sama kuliahnya”

“Sialan! nggak ya aku nggak ingusan .. udahlah aku mau pulang, capek banget hari ini. Nikie nggak ada terus Jordan malah marah-marah.. It’s okay, aku mau pulang aja”

“Berat ya sel?” Sedih Asa.

“Iya!”

Jiselle mengelap air matanya dengan sedikit kasar, jujur dia kesal sekali hari ini. Niatnya jauh pulang ke Bandung bukan untuk di perlakukan seperti ini, Jiselle hanya ingin melihat keadaan sahabat-sahabatnya, itu saja.

“Ngapain ikut naik sih kamu mau kemana?”

“Hah? Mau nganterin kamu sampai ke rumah grandma. Nggak boleh ya? Aku laper sih sebenernya, nenek kamu masak kan…”

“Dasar, yaudah hayu” Pasrah Jiselle.

Asa malah ikut naik angkutan umum kerumah neneknya Jiselle.

Setidaknya Jiselle masih punya satu sahabat, Asa yang menjadi alasannya pulang sekarang.

Meskipun pikiran dan hatinya terus bergelut untuk saling menadah tanya, ada apa dengan semua ini?

Dengan marahnya Jordan dan perginya Nikie. Apakah sebelum dirinya berangkat ke Korea ada sesuatu yang terjadi? Tapi kenapa Jiselle tidak mengingat apapun tentang hal itu.

Jiselle saja masih terkejut dengan fakta bahwa tinggalnya dia di Gangwon bukan hal yang direncanakan oleh keluarganya.

Perempuan itu koma, tapi ibu dan ayahnya hanya bilang kalau Jiselle sakit saat itu bukan karena kecelakaan atau apapun, tapi kenapa Jiselle tidak ingat hari dimana dia jatuh koma.

Sepertinya ada yang salah.

Ada alasan yang membuat semuanya jadi serumit ini, dan Jiselle akan mencari letak kesalahannya,

 

‘Dimana?’

 

 

 

 

셋 – 03

(Satu yang menjadi dua)

 

Tidak pernah terbayang sebelumnya, yang dulu kerap menemani, kini hilang bak disembunyikan bumi.

Bagiamana caranya? Menerima satu yang kini menjadi dua.

“Aku kehilangan kalian..”

Jiselle melamun di balkon rumah neneknya. Memandangi setiap sudut langit malam yang sedang hening terdiam, siap mendengarkan keluh kesahnya.

Asa sudah pulang sedari tadi, biasa urusan kampus. Tapi bisa saja bukan urusan kuliahnya yang membuat pria penyuka seni itu terburu-buru pulang, mungkin dia bergegas untuk menceramahi adik beda 5 menitnya itu, si Jordan.

Otak  Jiselle dipenuhi oleh pertanyaan tentang cara untuk bertemu Nikie, dia mengingat-ingat kejadian apa yang dialaminya sebelum koma hari itu, namun tetap saja otaknya tidak memberi petunjuk.

Jiselle kemudian membuka ponselnya, sebisa mungkin dia mencari media sosial apapun yang Nikie punya.

Ada satu yang mungkin tidak Nikie hapus, Weverse. Itu adalah aplikasi online yang menjadi platform artis-artis internasional khususnya artis K-Pop untuk berinteraksi dengan fans di seluruh dunia. Nikie dan Jiselle punya akun di Weverse.

Jiselle membuka aplikasi tersebut yang sudah lama tidak dia gunakan, mengecek akun milik Nikie dan gotcha! Postingan nya masih lengkap tanpa dihapus satu pun. Sayangnya tidak terlalu memberikan Jiselle banyak petunjuk, kebanyakan yang Nikie posting sudah pasti soal idolanya dulu.

Jarinya lincah men-scroll foto-foto yang diunggah Nikie, satu yang menarik perhatiannya adalah foto dirinya dan Nikie yang sedang menikmati dua buah cupcake di sebuah toko. Nikie begitu menyukai kue, makanan manis apa saja akan dilahapnya. Bahkan cita-cita Nikie adalah memiliki toko kue sendiri suatu saat dan Jiselle harus menjadi langganannya.

“Eh toko kue ini, apa sekarang masih buka?”

Toko kue yang sering mereka kunjungi menjadi petunjuk pertama untuk Jiselle, besok perempuan manis itu akan datang kesana, mencoba peruntungan. Bisa saja dirinya bertemu dengan Nikie yang sedang berkunjung kesana atau diberi informasi oleh si pemilik toko.

 

 

*******

 

 

Desember di kota Bandung memang sedikit dingin.

Jalanan bahkan sedikit basah karena hujan ditengah malam yang tak pernah absen untuk meramaikan suasana bulan ini.

Jiselle mengeratkan outer cokelatnya karena dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang. Kalau bukan neneknya yang cerewet, sudah pasti anak ini enggan untuk memakai pakaian berbahan tebal itu.

Lama dirinya tinggal di Korea, membuat Jiselle sedikit kehilangan jati diri sebagai mojang kota Bandung.

Kenapa demikian? Cara berpakaiannya sudah berubah.

Orang-orang bahkan menebak dirinya sebagai turis yang sedang berkunjung ke kota kembang, sedari tadi dirinya di ajak berbicara bahasa Inggris oleh yang melihatnya berjalan di kota Bandung

“where are you going miss?”

“Bawean ‘Sweetheart’ Bakery & Resto di jalan Merdeka pak, saya mah orang Sunda pak, sanes turis”

Jiselle menjelaskan kalau dia itu orang asli Bandung, orang Sunda, bukan turis seperti yang mereka kira.

Orang itu tercengang mendengar ucapan Jiselle, mereka kira Jiselle turis yang kebingungan mencari jalan. Jangan salah, outer cokelat dengan topi baret putih memang membuat wajah cantiknya menjadi aesthetic khas orang luar negeri.

Dengan dibantu orang-orang ramah disekitaran jalan akhirnya Jiselle sampai ditempat tujuannya, namun Jalan Merdeka tidak seramai dulu, mungkin efek dari pandemi.

Dulu Jiselle sering mengunjungi tempat-tempat disana, utamanya istana sejuta umat bagi orang yang senang membaca, Gramedia Merdeka Bandung

Pertama kali Jiselle mengunjungi Gramedia, Jiselle  selalu ingat dimana Nikie dan Asa sangat bersemangat karena ingin membeli buku, tapi si rusuh Jordan malah malas masuk kedalam karena dia tidak suka membaca

“Sel, siomay mayo sel!”

“Nanti aja Jo, tuh Nikie sama Asa ngilang deh jadinya”

“Yaudah chat aja mereka, kita keluar sebentar jajan siomay mayo. Nanti diluar kita beli komik yang diskonan deh”

“Iya, bawel amat sih”

Jiselle selalu mengikuti Jordan membeli jajanan disana dan berakhir Asa yang ngomel-ngomel tidak jelas karena membuat mereka berpencar menjadi dua.

‘Satu yang menjadi dua’

Kalau Jiselle bersama Nikie, maka Asa bersama Jordan.

Kalau Nikie bersama Asa sibuk menelaah sesuatu, maka Jiselle dan Jordan akan mulai  mengacaukan sesuatu. Mereka berempat itu satu, hanya terkadang menjadi dua.

“Sekarang, satu menjadi dua lagi bukan? Kalian bertiga dan aku yang sendiri”

Lirih Jiselle dengan mata sendu menatap bangunan-bangunan disana. Bangunan kokoh yang menyadarkan bahwa kenangan manis sedang singgah menyapanya.

 

Bawean ‘Sweetheart’ Bakery & Resto.

 

Begitu masuk kedalam, aroma kue dan dessert manis akan segera menyambut kalian. Jiselle membulatkan matanya, menikmati setiap inci ruangan besar yang menyajikan macam-macam kue mewah.

“Halo, selamat datang…”

Jiselle melirik seorang perempuan berhidung mancung dengan rambut diikat, tersenyum ramah sembari berjalan kearahnya. Jiselle ingat siapa orang ini, dia adalah teman Nikie. Anak pemilik toko besar ini. Mungkin sekarang usaha toko ini sudah dipegang oleh perempuan cantik itu

“Dewi ya?” Tanya Jiselle.

“Ya, eh tunggu temen nya Nikie betul?”

“Ya, Jiselle”

“Halo Jiselle, How are you? Betah tinggal di Korea?”

“Kamu tahu?”

“Iya, terakhir Nikie kesini dan bilang kalau sahabatnya di Korea, and finally you are here” Jelas Dewi.

Jiselle tersenyum pada Dewi, hatinya lega mendengar Nikie masih mengingatnya bahkan menceritakan sesuatu tentang Jiselle.

Dewi bilang kalau Nikie sudah jarang kesini, tidak sesering dulu.

Bahkan dirinya lost contact dengan pemilik nama lengkap Nikie Pradita itu. Dewi juga tidak terlalu ingat kapan terakhir Nikie berkunjung ke toko miliknya, dirinya juga jarang stay di tempat ini karena sibuk dengan urusannya yang lain.

“Hari ini kebetulan aja sih aku di sini, bentar aku tanya suamiku dulu. Dia yang sering mampir”

Jiselle membulatkan matanya, she is married?

Dewi memanggil seorang pria yang sedang berbicara dengan karyawan mereka, pria itu setinggi dirinya dan memiliki warna rambut yang kontras.

“Honey! Honey hey!! Ck yaaaakkk Danny!”

“Apaaa?”

“Dipanggil nggak nyaut-nyaut, sini!”

Jiselle terkekeh pelan melihat Dewi kesal memanggil Danny suaminya yang tak kunjung mendengar.

Danny menghampiri mereka, dengan ramah berkenalan dengan Jiselle. Dewi segera bertanya apa akhir-akhir ini Nikie berkunjung ke toko kue milik mereka. Danny berpikir sejenak, rasanya hanya sekali itupun tahun lalu.

Jiselle sedikit sedih karena Nikie nyatanya jarang kemari, tapi Dewi dan Danny sudah lebih dari cukup karena membantunya hari ini.

Setelah membeli beberapa kue disana Jiselle pun pergi berpamitan pada pasangan yang baik hati itu.

Dewi bilang dia akan segera menghubungi Jiselle kalau nanti Nikie datang berkunjung. Jiselle berkali-kali mengucapkan terimakasih atas kebaikannya, Danny dan Dewi juga mendoakan supaya mereka cepat bertemu dan keadaan Nikie baik-baik saja.

“See you,  eonnie Korea”

“See you Dewi and  kak Danny” 

Keduanya memandangi Jiselle yang sudah keluar dari toko.

“Mungkin Nikie masih menenangkan diri, ah aku nggak akan pernah lupa hari itu. Uhm.. Danny…”

“Kenapa merajuk begitu sih Dew, I’m here” Danny memegang dagu istrinya.

“don’t leave me alone, aku nggak sekuat Nikie soalnya”

Danny memandang wajah khawatir Dewi, sedetik kemudian dirinya segera memeluk istrinya itu

 

 

******

 

 

Dengan menenteng banyak kue yang baru dibeli, Jiselle berjalan menyusuri jalan merdeka untuk berdiam diri. Otaknya masih mencerna, petunjuk-petunjuk yang membawa Jiselle pada pemikiran seolah Nikie sengaja menghilang dari kehidupannya.

Nikie bukan pindah rumah tanpa alasan, mungkin untuk menghindari Jiselle  atau seseorang.

Tapi apa alasannya.

Dirinya memilih berdiam ditaman Balai Kota Bandung karena tidak punya tujuan lagi.

Angin berhembus kencang menerpa wajahnya yang begitu manis, sesaat dirinya memejamkan mata untuk menikmati dinginnya cuaca yang sama seperti kehidupannya saat ini, seakan memeluk Jiselle  sebentar, dan tanpa disadari menerbangkan topi baret yang bertengger manis dikepala.

Jiselle yang tidak tahu topinya terjatuh segera pergi karena hari sudah mulai sore karena dia harus segera pulang, padahal baru saja seseorang ingin mengembalikan topi baret miliknya.

“Eh topinya.. hei tunggu!” Apa boleh buat? Jiselle sudah berlari tanpa sedikitpun berbalik.

Sekarang Baret Hat berwarna putih itu hanya bisa digenggam oleh seseorang yang bahkan tidak tahu akan bisa mengembalikannya pada Jiselle atau tidak?

 

 

*****

 

 

 

“Eh topi nya mana? Maaakkk, topi baret aku kok hilang” Panik Jiselle.

“Dari tadi nempel dikepalamu, masa iya ilang? Kamu tuh anaknya pelupa dari kamu orok”

Neneknya Jiselle sudah tidak heran dengan sikap pelupa cucunya.

Jiselle sibuk kesana kemari mencari topi baret, emang dia ingat tadi saat ditaman Balai kota angin berhembus kencang, tapi dia tidak tahu kalau topinya terbawa angin juga. Tadi juga langit Bandung mulai mendung, makanya dirinya terburu-buru untuk pulang.

“Mak, gimana dong? Topi kesayangan itu tuh” Rengek Jiselle.

“Udah nanti beli lagi aja, lain kali dijaga kalau barang kesayangan, udah sana cepet mandi! nanti kulitmu gatel lagi. Asarman mau main kesini kan?”

“Iyaa Mak, anak itu palingan numpang makan doang”

“Ya nggak papa toh dia sahabat kamu, udah kayak cucu emak juga. Cepetan tuh airnya nanti keburu dingin. Nggak usah bulak-balik kaya setrikaan”

Tuh kan, Neneknya cerewet bukan main.

 

Benar saja tebakan Jiselle, ketika selesai mandi dan berganti pakaian, tahu-tahu dimeja makan sudah ada  Asarman Hakim dengan jas almamater ISBI miliknya sedang lahap menikmati makan malam buatan neneknya.

“Sa, halo Asa? Woy, kayanya emang paling bener deh kalau aku buka rumah makan Ampera, laris kamu makan”

“Sorry Sel laper, nggak sempet makan soalnya”

“Sibuk sih sibuk Sa, tapi masa iya sampai nggak makan?” Jiselle tak percaya.

“Ya gimana habisnya sebentar lagi bakal ada pergelaran seni sama pameran mahakarya dari kampus, eh nanti dateng ya ke pameran seni nya. Lukisan aku mau dipajang di pameran nanti, di Braga”

 

‘Braga’

 

Bagai kata sihir yang mengusap hati Jiselle ketika mendengarnya. Bukankah itu tempat favoritnya dulu?

Jiselle menghabiskan banyak waktu di Braga, bersama Nikie, Asa dan Jordan. Kenapa Jiselle tidak berpikir mencari Nikie disana?

“Seriusan di Braga nih? Nikie bakal datang nggak ya?

 

Uhuk.. uhuk…

 

Asa langsung tersedak mendengar pertanyaan Jiselle, secepat mungkin dirinya meraih air putih yang Jiselle sodorkan.

“Kalau makan jangan ngobrol toh! Tersedak kan kamu Sarman”

Asa kena omel neneknya Jiselle, Jiselle yang melihatnya tertawa ngakak dan berbisik meledek Asa.

“Seriusan deh Sa, Jordan dateng kan? Nikie juga masa nggak datang?” Ujar Jiselle sekali lagi.

“Si Malika sih aku paksa sel, cuman kalau Nikie kan udah lama kita lost contact, gimana cara ngasih taunya coba?”

“Iya sih, tapi aku berharap sekali ini aja, keajaiban pasti ada kan Sa? Bisa aja aku ketemu Nikie ditempat dulu kita suka ngabisin waktu”

“Kalau ketemunya bukan sama Nikie?” Tanya Asa random.

“Lah sama siapa kalau gitu?”

“Siapa tahu wanita manis dari Korea Selatan ini tiba-tiba ketemu jodoh disana hahahah…”

“Ngawur banget si Sa, nggak jelas! Eh iya tadi pas aku beli kue, banyak yang ngira kalau aku bukan orang Bandung, percaya nggak? Tapi seriusan mereka ngomong pake bahasa Inggris” 

“Terus? Kamu jawabnya gimana?”

“Pake bahasa Sunda hehe”

Asa terkekeh dengan keisengan Jiselle yang tak pernah berubah, setidaknya Asa tidak terlalu khawatir kalau sahabatnya ini akan kehilangan senyuman atas kejadian kemarin.

Tapi jika Asa pikirkan, jawaban dari ucapan Jiselle yang berharap adanya keajaiban Nikie datang ke pameran seni nya, maka jawaban Asa adalah mustahil.

Asa tidak ingin mematahkan semangat Jiselle, jadi dia memilih diam saja.

Bagi Asa Jiselle masih perlu waktu untuk mendapatkan segala jawaban yang tengah dirinya cari. Bukan Asa tidak ingin membantunya tapi Asa tidak mau Jiselle terluka karena mendapat jawaban dari yang bukan semestinya.

Biarlah Jiselle diuji.

Asa percaya dia orang yang begitu tangguh, biar Jiselle selesaikan fase ini terlebih dahulu, dimana dia akan kesulitan mengembalikan sesuatu pada asalnya lagi.

Sesuatu yang sudah terbagi.

 

‘Satu yang menjadi dua’

 

 

 

 

 

넷 – 04

(Dua yang Menjadi Satu)

 

 

But our situation

It stopped our relation

Why did we end it

Don’t want to believe it

 

Lagu milik Gangga Kusuma ini dinyanyikan seorang penyanyi Cafe di jalan Braga.

 

Jiselle yang sedang menikmati Americano miliknya terlihat menikmati suara si penyanyi tersebut, suara halus yang khas,seakan memang lagu itu ditakdirkan untuk si penyanyi.

Entah kebetulan atau sengaja diserasikan, penyanyi itu juga memakai celana jeans berwarna biru seperti judul lagu yang dinyanyikannya.

Jiselle terus menatap wajah pria yang menyanyikan lagu itu diatas panggung kecil di Cafe ini. Tak sedetikpun pandangannya beralih dari wajah oriental dengan mata sipit yang nampak menghayati lagu tersebut

Meskipun pria itu tidak menyadari keberadaannya.

Lagian siapa dirinya? Tidak saling mengenal pun.

Jiselle keluar dari Cafe setelah selesai meminum kopinya, tujuannya bukan untuk nongkrong disini, melainkan untuk mencari Nikie dan menggali kenangan yang selama ini dirinya simpan di Braga.

Suara pintu cafe terdengar jelas ketika dirinya melenggang pergi, saat itulah pria yang menyanyikan lagu blue jeans menyadari keberadaannya.

Meskipun hanya punggungnya yang terlihat menjauh, meninggalkan Cafe.

Karrenweg.

Atau yang sering orang zaman dulu sebut dengan pedatiweg, jalan pedati.

Sekarang orang Bandung akan mengenal jalan ini dengan nama Braga. Sejarah mengatakan kalau nama Braga tercipta atas antusiasme penduduk Bandung pada grup kesenian musik Toneelvereeniging Braga.  Grup musik ini sering tampil di jalan tersebut sehingga banyak orang terbiasa menyebutnya dengan jalan Braga.

Fakta lain, mengatakan bahwa jalan ini memilik artian dalam bahasa Sunda ‘Baraga’ atau berjalan menyusuri sungai karena disini memang ada sungai Cikapundung.

Apa yang Jiselle sukai disini?

Lampu terang dan musik klasik di penghujung malam. Dulu dirinya sering menikmati waktu sembari mengunjungi banyak tempat di sini.

Mulai dari Cafe sampai bioskop yang setiap ada film horor pasti dirinya yang paling antusias untuk datang.

Tebak siapa yang paling enggan menonton? Sudah pasti Jordan jawabannya.

Dulu Asa, Jordan, Jiselle dan Nikie sering menikmati suasana malam dijalan Braga. Bukan sekedar menikmati sajian di Wikie Coffee, tapi juga menyusuri sepanjang tempat yang berjejer bagai tengah di absen.

Tak jarang mereka berdiri untuk menonton pemain biola bermain didekat lukisan yang dijual disana.

Asarman Hakim yang memang penikmat seni, tentunya merasa cocok dengan tempat ini. Musik, lukisan dan bangunan unik bergaya Eropa sangat memanjakan matanya.

Dulu Asa juga pernah mengajak mereka bertiga mengunjungi tempat yang mengutamakan budaya Bandung, khususnya adat Sunda seperti Galeri Wayang Ruhiyat Wooden Puppet Mask di dekat jalan Asia-Afrika.

Jiselle rindu sekali dengan semua itu, sekarang dirinya hanya bisa berjalan sendirian untuk mengulang memori usang. Matanya menatap langit malam yang ramai dengan orang berlalu-lalang. Mereka tampak bahagia ya.

Mereka masih punya kesempatan berbahagia dengan orang terdekat.

“Good Evening Miss”

“Saya orang Bandung kok, bicara pake bahasa Indonesia aja pak”

Juru parkir sebuah toko yang melihat Jiselle segera memberi tahunya kalau tempat yang hendak Jiselle kunjungi sudah lama tutup,  Wikie Coffee sudah lama tidak beroperasi.

Jiselle tertegun, dia baru sadar kalau tempat minum kopi favoritnya sudah tutup. Untung saja tadi dia mengunjungi tempat lain dulu untuk minum Americano. Sebenarnya dia bukan ingin minum kopi lagi, hanya sekedar ingin berkunjung ke tempat yang mengukir beberapa kenangan dikehidupan nya.

“Tutup?”

 

Ekhem….

 

Jiselle menoleh pada suara pria yang berdehem di belakangnya, Jiselle segera berbalik dan memperhatikan wajah si pria. Baik Jiselle, baik pria itu keduanya sama-sama terkejut setelah memandang wajah satu sama lain.

Jiselle kaget karena pria itu adalah penyanyi di Cafe tadi sore, dia yang bersuara khas menyanyikan lagu Blue Jeans milik Gangga.

Pria itu memandangnya dengan ekspresi yang sulit di artikan, Jiselle juga bingung dibuatnya. Apa ada yang salah di wajah perempuan manis itu? Bisa saja karena riasan wajahnya yang sudah luntur dan berantakan.

“Sorry, aku orang Bandung kok…”

“Gue nggak nanya! Ngapain Lo didepan Cafe  yang udah tutup?”

“Eh.. a.. anu.. aku nggak tahu tempat ini tutup”

“Udah sana pulang gih, ngapain cewek keluyuran sendirian di sini. Lo nyari perkara apa gimana?”

“Nyari perkara? Maksud kamu apa ya?  Aku cuman mau ke…” 

“Udah nggak usah banyak alesan!  Pergi dari sini!” Potong pria itu.

“What the? Hey. Emangnya ada yang salah ya? Kenapa marah-marah, ga jelas banget jadi orang”

Jiselle kesal setengah mati, siapa sih orang ini baru bertemu saja sudah bikin jengkel. Jiselle tidak mau berdebat dengan orang aneh seperti pria ini. Perempuan ini memilih untuk pergi, bodo amat dengan si pria aneh.

“Sialan, emang dia yang punya ini jalan? Aku laporin Asa baru tahu rasa tuh orang. Bajingan! Eh kan jadi ngomong kasar, bodo amat deh sekali ini aja”

Jiselle menyesal sempat memiliki kesan pertama yang baik pada pria itu, ternyata saat dia bernyanyi dan berbicara karakternya malah jauh berbeda, dia seperti melihat tipuan. Dengan mood yang sedikit rusak, Jiselle bergegas pulang kerumah neneknya dengan menaiki bis.

Jam menunjukan pukul 20.45 malam.

Saat dirinya masuk kedalam bis, seisi bis sudah penuh dan tidak menyisakan kursi satupun, ada sih satu, tapi masa iya yang duduk disebelahnya adalah pria tadi.

Jiselle mendengus kesal, kenapa Braga sesempit ini mempertemukan dirinya lagi dengan si pria aneh itu. Lihat belum saja Jiselle duduk di sebelahnya, pria itu sudah  melihatnya dengan wajah super jutek.

“Neng kok nggak duduk, tuh ada yang kosong satu”

Ibu paruh baya didekatnya memyuruh Jiselle duduk di kursi yang masih kosong, tapi karena gengsi Jiselle memilih berdiri dan berpegangan saja.

“Nggak Bu, makasih. Saya lagi halangan, takut bocor”

Alibi Jiselle.

Tanpa Jiselle sadari si pria itu menyunggingkan senyum, tanda dia tahu kalau Jiselle sebenernya gengsi saja duduk didekatnya.

Jiselle melamun sepanjang perjalanan, dia masih memikirkan caranya mencari Nikie. Apa iya dia harus menempel poster orang hilang dengan foto Nikie yang dicetak.

Nikie marah tidak ya?

 

Ckiiiiiittttttttt…

 

Bis tiba-tiba ngerem mendadak, membuat semua penumpang oleng dan kaget. Jiselle yang tengah tidak fokus pun terlepas dari pegangannya dan wajahnya hampir mencium lantai bis. Beruntung seseorang dengan cepat berdiri dari kursi dan meraih Jiselle secepat kilat. Pria itu, tangan kirinya memegang pegangan bis dan tangan kanannya menarik tubuh Jiselle kepelukannya.

 

Deg…

 

Jiselle menatap mata sipit dengan pupil seperti boba itu dari jarak yang sangat dekat.

“Duduk aja kenapa sih? Lo gengsi ya?  Yaelah Nggak akan mati ini lagian kalau gengsi juga”

Jiselle berusaha melepas cengkraman pria itu. Tapi sayang tenaganya tidak cukup kuat, belum lagi seisi bis yang mulai ricuh menggoda mereka berdua.

“Pak supir, sering-sering ajalah lewatin Belokan. Ini muda-mudi biar lancar kisah romansa nya”

Ini si ibu kompor juga ya.

Si sipit tersenyum kecil, tapi buru-buru dia mengubah ekspresi ketika Jiselle mendongakan kepala untuk berbicara padanya.

“Lepas, aku mau turun”

“Turun? Emang udah nyampe?”

“Udah”

“Lo itu banyak bohongnya ya, coba bilang ke gue ini jalan apa? Tau nggak Lo? Nggak kan”

“Udah lepas, aku mau turun. Kaki aku pegel”

Jiselle benar-benar merasa pegal, dan sedikit gugup. Mana bisa dia berada dibis itu lama-lama, bahkan aroma parfum pria itu bahkan sudah menempel di bajunya, saking dekatnya mereka berdua.

Pria itu segera berteriak pada supir dan bis berhenti, Jiselle turun dan mulai bernafas lega setelah bisa lolos dari bis yang isinya huru-hara semua. Bisa-bisanya Jiselle mengalami adegan tadi seperti di drama-drama Korea yang di tontonnya.

Tapi bukan nya romantis, malah hampir membunuh dirinya karena pria menyebalkan itu.

Tunggu, siapa yang berjalan di belakang?

“Ck, kamu lagi! Kenapa sih ngikutin terus? Mau kamu apa?”

Pria aneh itu ternyata ikut turun dan berjalan tepat dibelakangnya. Bodo amat dengan wajah manisnya, dia kalau marah ya marah saja. Si pria itu malah watados dan berjalan mendekati Jiselle.

“Kamu kalau macem-macem aku laporin polisi ya” Ancam Jiselle.

Si pria itu tersenyum dan tetap melangkah kearah Jiselle.

“Aku bilang berhenti!”

“Jihas?”

seseorang menghampiri pria itu, ternyata dia bukan ingin mendekati Jiselle tapi memang orang itu berdiri disana, perempuan itu berdiri didekat Jiselle.

“Hai Jihas, eh dia siapa?” Tanya perempuan itu.

Jiselle diam saja karena malu luar biasa, dia menunduk agar tidak ketahuan kalau wajahnya sudah merah padam karena gengsi.

Tanpa menunggu lama, Jiselle berjalan pergi untuk menghindari mereka berdua, meskipun dirinya tidak tahu jalanan apa ini, dia memang orang Bandung tapi tidak semua jalan dia hafal, apalagi di malam hari seperti ini.

“Jihas kamu kenal perempuan tadi?” tanya Yusi.

“Kenal, udah ya thanks bukunya. Gue harus nemenin dia dulu, bye Yusi”

“Eh tapi has, Jihas!”

Yusi, Perempuan itu merasa sedikit kecewa, niatannya menunggu sedari tadi bukan sekedar ingin memberikan buku pada Jihas, tapi Jihas malah pergi begitu saja, Yusi jadi berpikir keras siapa perempuan itu.

Jihas berlari kesana kemari, mencari sosok Jiselle yang hilang begitu cepat, ternyata yang dicari tengah berbicara pada supir angkutan umum yang hendak dia naiki.

Greepp…

Baru saja Jiselle mau naik, tangan Jihas dengan cepat menariknya untuk turun.

Jiselle batal naik angkutan umum itu, ingin rasanya dia membumi-hanguskan orang bernama Jihas ini.

“Pak jangan bohong! dia kan bukan mau kearah sana. Woah mau nipu nih bapaknya”

Terdengar sedikit adu ucap antara Jihas dan si supir. Mobil angkutan umum itu pergi dengan supir yang mengumpat Jihas, segera si pria itu menarik Jiselle untuk berjalan mengikutinya.

“Lo tuh bego banget ya, mau-maunya aja ditipu sama tuh supir angkot!”

“Mana aku tahu, udah deh ngapain kamu disini?”

“Udah untung gue tolongin juga, kalau nggak Lo udah pergi sama orang jahat noh” celetuk Jihas.

“Kamu juga sama kok orang jahat, jangan PD merasa jadi orang baik”

Jihas melongo dengan jawaban Jiselle, bisa-bisanya dia pintar menjawab omelan Jihas. Mata sipitnya melotot dengan kesal lalu dia menyuruh Jiselle mengikutinya, tentu saja Jiselle menolak.

“Ikut Gue, kalau nggak gue buang Lo ke kandang panda”

“Anjir, mana ada panda disini, ngawur kamu ya! Kamu kali panda nya, aku nggak mau ikut titik”

“Otak batu, keras banget” Sindir Jihas.

“Daripada situ nggak punya otak, kita tuh nggak kenal. Bisa nggak sih ga usah gangguin, ganggu orang lain aja sana!” Emosi Jiselle.

“Kalau gue mau nya gangguin lo gimana?”

Jiselle terdiam, Jihas ini emang diluar nalar. Akal sehat Jiselle bahkan tidak sanggup menerjemahkan karakter Jihas yang aneh sekaligus sulit ditebak. Jiselle diam saja, capek rasanya berdebat dengan si siluman Panda.

“Nih pegangin buku gue, awas ya Lo kalau kabur”

Jihas berlari secepat kilat, dan 3 menit kemudian dirinya kembali membawa motor dan dua buah helm. Satu dipakai olehnya dan satu lagi untuk Jiselle.

“Cepet pake, bukan bengong” Pria itu menyodorkan helm yang tak kunjung dibawa oleh Jiselle.

“Sorry mas nggak pesen ojeg” 

Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan melibatkan KTP dan lain-lain Jiselle pun mau menaiki motor itu. Kenapa mau-maunya Jiselle dibonceng pria tak dikenal ini, sudah menyebalkan, jutek pula.

“KTP kamu asli kan? kalau aku kenapa-kenapa dan nggak nyampe rumah siap-siap aja dicari polisi”

“Laporin aja dah”  ucap Jihas.

Mengucap kata Polisi, Jiselle jadi ingat orang yang terpentok pintu lemari pendingin waktu itu. Si Polisi muda, tapi Jiselle harus mengalihkan pikirannya pada orang asing satu ini.

“Pegangan! gue mau ngebut soalnya”

“Nggak usah ngebut-ngebut hey, aku masih mau hidup. Kalau jatuh gimana? Suka nggak mikir jadi orang”

“Kenapa? Mau lama-lama gue boncengin ya?” Goda Jihas.

“Najis, yaudah terserahlah” Jiselle menurut saja, yang penting dirinya cepat sampai kerumah.

Dan benar saja Jihas bukan ngebut abal-abal lagi, dirinya sudah seperti pembalap sekelas Rossi. Lihat saja betapa tegangnya Jiselle dibawa ngebut oleh pria sipit itu.

Sesampainya mereka didepan rumah nenek Jiselle, Perempuan itu nampak sedikit terhuyung hilang keseimbangan.

“Kamu mau nganterin orang cepet-cepet menghadap Tuhan ya?”

Jihas terkekeh mendengarnya, dia memperhatikan sekeliling rumah didepannya dan beralih menatap Jiselle yang mulai melepaskan helmnya

“Ini, thanks”

“Gue nggak di ajak mampir gitu?”

“Nggak ah, kita nggak kenal” Jawab Jiselle to the point.

Jiselle berjalan untuk segera masuk kerumah neneknya, dia berbalik untuk melihat Jihas sekali lagi. Pria itu masih diam dimotornya, menunggu Jiselle masuk kedalam.

“Gue Jihas, Jihas Andrean Sananta. Hafalin baik-baik!”

“Kayanya nggak perlu deh, nggak usah repot-repot toh kita nggak akan ketemu lagi” Skakmat Jiselle.

“Yakin bener Lo? liat aja nanti. Good night Jiselle”

Jihas melajukan motornya meninggalkan Jiselle sendirian didepan rumah, perempuan itu termenung cukup lama, kenapa Jihas tahu namanya padahal sedari tadi dirinya tidak pernah menjelaskan namanya siapa atau apapun yang mengarah kesana.

Jiselle segera merebahkan badan nya di ranjang setelah mandi dengan air hangat. Matanya menatap langit-langit kamar, mengulang kisah sehari tadi dirinya di Braga.

Kenapa bisa dia bertemu Jihas?

Awalnya tidak sengaja, memperhatikan si siluman panda itu di Cafe, tapi kenapa bisa keduanya  malah dipertemukan kembali di dalam bis.

Jangan bilang Tuhan dan jalan Braga tengah bekerja sama, menyiasati cerita untuk mendekatkan mereka. Dimana Jiselle yang sedang kehilangan banyak hal, malah diberi potongan puzzle baru yang mungkin akan segera dia susun.

 

 ‘Dua yang menjadi satu’

 

 

 

다섯 – 05

(Romansa sekelas Drakor)

 

Jiselle yang baru bangun disiang hari segera mendapat omelan dari sang nenek, entah kenapa neneknya cerewet sekali mengatakan kalau Jiselle sembarangan menaruh buku dan kalau tidak kunjung diambil akan neneknya buang.

“Ck, buku apa? Itu buku kan semua aku susun di rak Mak” Jiselle uring-uringan keluar dari kamarnya.

“Ini yang didepan pintu”

Jiselle yang bergegas dengan piyama dan wajah bantalnya, mendadak kaget karena benar saja ada buku didepan pintu seperti yang neneknya bilang.

Setelah diingat kembali, itu kan buku milik Jihas.

“Hah? Kok ada disini sih?”

Jiselle tidak ingat membawa buku itu apalagi menaruhnya di teras depan, lagian semalam sudah dikembalikan pada pemiliknya sebelum Jihas pergi dengan motor.

“Jangan bilang tuh orang sengaja! Ck, aaarrrggggghh”

Jiselle yang berisik langsung dapat jeweran dari neneknya.

“Kenapa kamu hah? Marah sama emak? makanya buku tuh simpen yang rapi jangan digeletakin sembarangan, kalau ilang nanti nyari-nyari kaya topi waktu itu”

“Aw.. aw.. bukan, ish ampun Mak” Rengek Jiselle.

 

 

*****

 

 

Jiselle kembali ke Braga memang untuk mengembalikan buku milik Jihas tapi bukan untuk bertemu lagi dengan pria tampan itu, jadi dia menitipkannya pada barista Cafe tempat Jihas biasa tampil sebagai penyanyi.

Jiselle bergegas cepat, sengaja agar tidak bertemu Jihas.

Kemana Jiselle pergi?

Jawabannya adalah ke Bawean ‘SweetHeart’ Bakery & Resto.

Untuk mengunjungi Dewi lagi, Jiselle mendapat pesan kalau suami Dewi, Danny melihat Nikie yang baru saja pergi dari toko mereka.

Danny ingin mencegahnya untuk pergi tapi sayang yang melayani waktu itu bukan dirinya, melainkan salah satu karyawan mereka. Saat Danny keluar dari ruangannya, Nikie dan seseorang sudah terlanjur pergi dari toko itu.

Bagai mendapatkan harta karun, Jiselle langsung berlari untuk segera pergi ke toko di Jalan Merdeka itu.

Sementara Jihas baru saja datang ke Cafe milik temannya.

“Woy baru dateng Lo? tadi ada cewek yang nitipin buku ini jangan-jangan itu pacar Lo ya Ji?” Tanya salah satu penjaga Cafe.

Jihas tersenyum melihat buku itu, Jiselle benar-benar datang mengembalikannya.

Saat Jihas pikir jiselle masih ada disana, teman nya bilang kalau Jiselle menerima panggilan dan buru-buru pergi membuat Jihas sedikit kecewa, dirinya kan belum bertemu dengan si manis itu hari ini.

Jihas berlari keluar Cafe, berharap langkah Jiselle masih bisa dikejar olehnya, tapi perempuan itu sudah tidak ada dijalanan Braga.

Mata sipit Jihas melirik kesana-kemari tapi nihil.

 

Bruukkkk….

 

Jihas tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang sampai bukunya jatuh, orang itu juga menjatuhkan sesuatu yang segera Jihas ambil untuk dikembalikan.

“Sorry, ini topi baretnya”

Orang itu menerima topi dari Jihas, dan memandangi Jihas begitu lama membuat si sipit bingung sendiri dengan orang ini, tapi akhirnya orang itu mengucapkan terimakasih dan bergegas pergi.

“Jihas Andrean?” Gumam orang tersebut tanpa terdengar oleh Jihas.

 

Jihas manyun sedari tadi, bahkan seisi Cafe merasakan penampilan nya hari ini kurang maksimal. Serasa kurang penghayatan saja dengan lagu yang dia nyanyikan padahal biasanya dia selalu menyanyi dengan begitu baik.

Apa karena terlalu memikirkan Jiselle? Apa perempuan itu berhasil menyita perhatiannya?

Bukan kah seorang Jihas Andrean Sananta itu jutek pada perempuan, lantas ada apa dengan Jiselle sampai bisa membuatnya seperti ini.

“Bisa-bisanya cewek otak batu itu bikin gue yang katanya nggak ada otak ini jadi mikir 24 jam, tobat Lo Jihas!” Cerorocos Jihas pada dirinya sendiri.

“Jihas! Lo ngapain sih tadi, Lo kaya bukan Jihas yang gue kenal aja. Nyanyi apaan sih Lo? Nyanyi buat anak paud?” Ini dia si pemilik Cafe yang tiba-tiba datang dan memukul bahu Jihas.

“Sialan Lo Ajun kampret!”

“Lo mah malu-maluin gue Ji, mana tadi ada si May lagi”

“May siapa? Maemunah kali”

“Si anjir, itu si May gebetan gue selama dikampus. Sini deh gue kenalin”

Ajun pun mengenalkan Jihas pada kekasihnya, May. Perempuan cantik dan tinggi semampai juga rambut hitam yang lurus sebahu. Pinter juga si Ajun cari  pacar, Jihas tahu betul kalau perempuan bernama May itu tipikal gadis ideal seorang Ajun.

“Jun, gue nggak konsen” Jihas mulai curhat.

“Kenapa, bilang gue sini” Ajun menepuk kursi kosong disebelahnya

“Jiselle…”

Ajun terdiam, kaget rasanya mendengar Jihas menyebutkan nama itu lagi setelah lama tidak mendengarnya. Yang Ajun tahu, perempuan bermata kacang almond itu sedang berada di Korea.

“Dia tadi kesini tadi, kemarin juga”  Jelas Jihas.

“Ketemu sama Lo nggak Ji? Gila gue sampai keringetan dengernya”

“Lebay gila! Lo dengerin gue cerita apa ngeliat hantu sih?”

Ajun menggeplak kepala Jihas karena kesal, lah Jihas balas lagi dengan geplakan yang sama. Emang dua orang ini kalau disatukan malah jadi baku hantam. Jihas pun bersiap melanjutkan sesi curhat, namun sayang Ajun yang baru saja ingin mendengar cerita Jihas tiba-tiba harus pergi.

“Jun, ayo nanti ketinggalan filmya” Si cantik May sudah berdiri diambang pintu Cafe.

“Iya May sayang, OTW”

“Lah ini gue gimana? Belum tamat woy” Protes Jihas pada Ajun.

“Nanti lagi ya, gue sama May mau nonton bioskop dulu okray bradaiiii, tos dulu sini mana jidat paripurna nya? nah eaaaa”

Dengan kurang ajarnya Ajun menepuk jidat Jihas, lalu ngacir sebelum pria jutek itu meninju dirinya.

 

 

******

 

 

Di Bawean, Jiselle sedang mendengarkan cerita Danny dan Dewi soal Nikie, mereka juga memperlihatkan rekaman CCTV toko dan benar saja kalau itu adalah sosok yang selama ini Jiselle cari, Nikie benar datang ke toko ini.

 Jiselle terkejut sampai tangannya bergetar, dia begitu merindukan Nikie sahabatnya.

“Sorry Sel, kalau aja aku lebih cepet buat nyamperin Nikie”

“Nggak papa kak Danny, kakak sama Dewi udah banyak bantu aku kok. Makasih ya, aku jadi tahu kalau Nikie ada di Bandung juga”

“Habis ini kamu mau cari kemana lagi sel?”

Jiselle menjawab pertanyaan Dewi, mungkin dia akan menempuh jalan lain seperti menyebar foto Nikie dan bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang di jalan. Jiselle juga akan mulai mencari ke tempat yang kemungkinan sering mereka datangi di masa lalu.

Selepas itu Jiselle pamit pada keduanya untuk pulang, namun dirinya menyempatkan diri melamun didekat toko kue milik Danny dan Dewi. 

Dia masih mencerna apa yang baru saja dilihatnya lewat rekaman CCTV, dimana Nikie masih terlihat sama seperti Nikie yang dulu, tapi kenapa harus memutus kontak dengannya?

Pria bertubuh jangkung besar yang terekam CCTV tengah menemani Nikie juga menjadi pertanyaan besar bagi Jiselle. Jiselle tidak pernah tahu kalau Nikie dekat dengan seseorang atau menjalin hubungan, Jiselle tidak pernah tahu karena selama ini Nikie tidak pernah bercerita.

Apa itu kekasihnya?

Jiselle harus segera lapor pada Asa, seingatnya dulu Asa yang menyukai Nikie, sudah lama dan itu hanya jadi rahasia dirinya dan Asa.

Jiselle berjalan tak tentu arah sekarang, dia berniat pulang saja.

Tapi sekali lagi Bandung mengukir takdir yang sama seperti kemarin, dirinya bertemu lagi dengan Jihas.

“Emang ya kalau jodoh nggak akan kemana, ketemu juga Lo” teriak Jihas dengan sumringah, tidak peka kalau perempuan dihadapannya sudah menghela nafas dengan jengkel.

“Ck, please Bandung kenapa sih” rengek Jiselle.

Jihas segera menghampiri Jiselle dan melirik kue yang ada ditangannya, cake matcha dengan taburan cokelat putih, menu baru di Bawean ‘SweetHeart’ Bakery & Resto.

“Kenapa? Mau?” Tanya Jiselle.

“Iya, capek banget gue seharian ini nyariin Lo, dasar!”

“Lah siapa juga yang nyuruh, nih ambil aja cake nya tapi abisin, awas aja kalau dibuang”

Jihas terkekeh, dirinya mengajak Jiselle untuk duduk di taman Vanda yang lumayan dekat dari tempat mereka.

Jalan-jalan ke taman Vanda sambil bawa Panda juga, nah otak random Jiselle membuat dirinya mati-matian menahan tawa.

“Aaaa”

Jihas menyodorkan kue itu kearah Jiselle, tapi dirinya menolak dengan kepala yang menggeleng pelan.

“Aku nggak laper, kamu aja Ji”

“Aneh ngapain dibeli kalau gitu? Eh iya, thanks ya buku gue udah dibalikin, emang sengaja gue tinggalin sih disana biar bisa ketemu Lo heheh”

“Eh iya buku, Kurang ajar ya kamu! gara-gara kamu aku dijewer nenek ku tau gini nih”

Jiselle memperagakan jeweran neneknya pada Jihas. Sekalian sih untuk menghukum pria menyebalkan itu. Jihas memegangi telinganya yang merah dan menatap Jiselle gemas. 

“Lo balas dendam sama gue sel?”

“Nggak Ji, aku meragain aja heheh, eh iya nenek ku nyubit aku juga nih kaya gini”

“Sel, sel.. aw… Lo gue lempar ke wakanda tahu rasa ya!”

Jiselle dan Jihas berjalan bersama sedari tadi tanpa tujuan yang jelas, lebih tepatnya sih Jihas mengikuti Jiselle kemana saja. Sesekali Jihas menatap wajah cantik perempuan itu, wajah Jiselle memang sedikit seperti orang luar.

Tapi kenapa dia melamun terus?

“Sel, Lo suka nonton film nggak? Temen gue tuh sama pacarnya lagi nonton, ya takutnya Lo mau nonton juga” Jihas berusaha mencairkan suasana.

“Nggak juga sih, sana aja nonton sendirian” Lempeng Jiselle.

“Lo jadi cewek bener-bener ya, lempeng kaya jalan”

Jiselle diam saja dan terus melanjutkan perjalanan nya tanpa memperdulikan Jihas yang ngomel-ngomel dibelakang. Sedetik kemudian wajah Jiselle berubah ceria, dia punya ide.

“Heh kulkas berjalan, es kutub, aspal beton” Panggil Jihas.

“Eh jiiii” Jiselle tiba-tiba berbalik membuat Jihas kaget dan mundur.

“Kenapa sih Lo sel? apaan jangan bikin gue kaget”

“Bantuin aku mau nggak?”

Jihas tersenyum sumringah, akhirnya Jiselle luluh juga.

Dengan semangat 45 Jihas berjalan menyusul perempuan itu dan antusias menanyakan apa yang dirinya bisa lakukan untuk seorang Jiselle.

“Besok temenin aku nyari orang di Braga, tapi kita nyari juga di jalan Merdeka mau nggak?”

“Nyari orang?”

Jihas mendadak diam dan kikuk saat berbicara setelah mendengar Jiselle hendak mencari seseorang. Jiselle menyadari perubahan Jihas, aneh pikirnya.

“Helo Ji? Yang aku cari cewek kok bukan cowok”

“Hah? Ya itu sih terserah, kenapa? Lo ngarep gue cemburu ya? Hahahaha”

Jiselle sebal, ingin sekali dia membenturkan Jihas ke tembok sampai otaknya itu sedikit berfungsi. Jihas itu hobi sekali membuat amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Jiselle pergi dengan cepat, capek sekali meladeni Jihas.

“Sel jangan marah dong, anjir cewek tuh emang ya kesinggung dikit aja marah, baperan!”

“Iya aku emang baperan, mau apa?”

Okay Jihas rasa dirinya sudah keterlaluan, tapi entah kenapa mengerjai Jiselle adalah hobi baru yang hampir sama tingkat kesenangannya dengan hobi Jihas dalam bermusik.

Sama-sama membuat hatinya riang gembira.

Jihas menarik hoodie Jiselle sampai perempuan itu terhuyung kebelakang dan jatuh padanya, tidak ada akhlak memang.

“Sel, sorry jangan marah, tapi bener kok. Gue emang cemburu kalau yang Lo cari itu beneran cowok”

Blush…

Tolong sembunyikan wajah Jiselle sekarang juga agar Jihas tidak melihat pipinya yang merona merah.

Mereka tidak sedang berada di dunia film kan? katakan kalau ini bukan…

 

‘Romansa sekelas Drakor’

 

 

여섯 – 06

(Haidar di mini market)

 

“Besok gue nggak bisa sel, gue ada urusan nih”

“Tuh kan, giliran dibutuhin aja nggak bisa. Tapi kalau aku nggak butuh, kamu malah ngikutin terus, nggak guna!” Celetuk Jiselle, BT karena Jihas tidak bisa memenuhi permintaannya.

“Anjir! mulut Lo itu ya, besoknya lagi ajalah sekarang kan senin, besok selasa, rabu deh rabu gue janji”

Jiselle tampak berpikir, akhirnya dia mengangguk.

Jihas tersenyum senang, sebenarnya dia ingin ada disaat Jiselle membutuhkan nya tapi besok bukanlah hari yang tepat. Jihas harus mengerjakan sesuatu, ada operasi besar yang harus dia tangani.

“Kamu bohong ya Ji? Aku nggak percaya tuh” Perempuan itu menyipitkan mata seperti curiga.

“Seriusan sel, gue Dokter. Ya kemarin gue sengaja aja ambil cuti sambil ngisi lagu di cafe temen gue, emangnya muka gue nggak nyampe gitu jadi muka seorang dokter?”

“Dokter sakit jiwa sih iya”

“Iya kan Lo pasien nya hahah”

Jiselle langsung mencubit lengan Jihas karena kesal, asal-asalan saja si panda itu berbicara.

“Tapi ya gue serius Lo emang sakit sel, makanya Jihas Andrean datang buat jadi obat Lo”

Entah kenapa Jihas memandangnya dengan serius membuat Jiselle sedikit gugup dan berusaha tenang agar pria itu tidak menyadarinya.

“Ehm… kamu bukan obat Ji, racun”

“Anjir, makin ngadi-ngadi nih bocah, nggak tau ah ngambek gue” akting Jihas.

“Eh ngambekan kayak cewek, baperan!”

“Emang gue baperan, mau apa Lo? Mau jadi pacar gue? Hayu!”

Random sekali kelakuan pria berpupil boba itu, Jiselle yang sudah mumet mendengar celotehan Jihas memilih berjalan mendahuluinya. 

Seperti biasa, Jihas dan motornya mengantarkan Jiselle pulang. Sebelum Jihas pergi, pria itu meminta no WhatsApp Jiselle tapi yang diminta malah enggan memberi. 

“Oh jadi gitu ya, liat aja deh nanti”

Jihas menyunggingkan senyuman pada Jiselle sambil mengatakan hal, apa maksudnya?

Dia tidak akan meletakkan buku lagi dirumah Jiselle kan, nanti bisa-bisa perempuan manis itu kena jewer lagi oleh neneknya.

 

 

******

 

 

Esoknya, hari Selasa di bulan Desember.

Jiselle bergegas karena dia ingin memanfaatkan waktunya di Indonesia sebaik mungkin. Mencari Nikie dan membawanya kembali pada persahabatan mereka. Juga mungkin kedepannya Jordan yang masih marah adalah PR baginya.

Semalam ibunya menelpon, Jiselle harus pulang lagi ke Korea karena ayahnya begitu khawatir. Jiselle janji bulan depan dia akan pulang lagi ke Gangwon.

“Sarapan dulu hey”

“Udah Mak”

“Emak bekelin kamu pake kotak nasi”

“Dikata anak TK kali ya, nggak usah Mak.. aku mau pergi sebentar aja, nanti sore si Asa mau main kesini lagi mendingan emak masakin aja si anak kelaperan itu”

“Husss, sembarangan kalau bicara, diajarin siapa kamu?”

“Jihas, eh..” Jiselle keceplosan.

“Siapa?”

“Nggak ah, kepo. Udah aku berangkat dulu”

Jiselle mencium tangan neneknya, kemudian berangkat dengan segenggam harapan dilubuk hatinya.

Jiselle hari ini mau mencetak foto Nikie untuk disebar ke orang-orang di kota Bandung. Harusnya sih dibantu Jihas, tapi si panda bar-bar itu kan sedang ada operasi di rumah sakit, percaya tidak percaya sih orang aneh sepertinya itu seorang dokter.

Setelah selembaran foto Nikie diterimanya, Jiselle meninggalkan tempat foto-copy dan mulai menyebarkan foto itu pada siapa saja yang lewat.

“Kenapa nggak lapor polisi saja neng, kalau memang temennya ilang”

“Nggak Bu, masih bisa dicari sendiri kayanya”

“Saya nggak begitu ingat, tapi perasaan nggak pernah lihat juga”

“Ah begitu ya, nggapapa Bu. Makasih ya Bu”

Sudah 30 menit dirinya mondar-mandir membagikan foto, tapi lagi-lagi hasilnya tidak memuaskan, tidak ada yang melihat Nikie satu pun.

Jiselle mengecek ponselnya juga sama saja tidak ada temannya yang mengetahui keberadaan Nikie.

 

Drrtt….

 

Ponselnya berbunyi dan notif chat WhatsApp itu menampilkan pesan untuknya. 

Jiselle mengernyitkan dahi karena sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di kontaknya. Setelah dibaca diapun tahu.

 

‘Siang Jiselle, jangan kangen gue ya gara-gara sehari doang nggak ketemu’

 

Tanpa dicari tahu pun sudah pasti ini Jihas. Jiselle membuang nafas kesal, dari mana pria itu mendapat no WhatsApp nya? Jihas sudah seperti penguntit saja di kehidupan Jiselle, bodo amat, perempuan manis ini memilih tidak membalas pesan dari Jihas.

Gara-gara itu saja Jiselle jadi ingin mengumpat, dia jadi tidak fokus berjalan dan menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah.

 

Bruukk ….

 

Selembaran foto Nikie berjatuhan di tanah, Jiselle yang kaget segera memungutinya dibantu oleh orang yang tak sengaja dia tabrak. 

“Pak polisi? Aduuuh…”

Betapa kagetnya perempuan manis itu ketika dilihat orang yang baru saja dia tabrak adalah polisi yang pernah bertemu dengannya dihari pertama dia sampai di Bandung. Iya, polisi yang kepalanya terbentur pintu freezer di mini market, gara-gara Jiselle.

Jiselle meminta maaf dan bilang dia tidak mau ditangkap, dia benar-benar tidak sengaja waktu itu. Sekarang juga dia merasa bersalah karena menabraknya. Pria itu tersenyum karena tingkah Jiselle.

“Santai aja, nggak papa kok”

“Maaf ya pak”

“Jangan panggil bapak, kayanya kita seumuran deh, aku Haidar, Haidar Abraham”

“Jiselle Haris”

Mereka saling berkenalan, Jiselle menyambut uluran tangan si polisi tampan itu.

Haidar Abraham, pria tinggi menjulang dengan wajah yang benar-benar tampan. Suaranya yang berat itu bahkan menutupi fakta bahwa dia lebih muda beberapa tahun dari Jiselle.

Jiselle kaget juga, dia masih muda sudah jadi Polisi.

“Eh iya, ini punya kamu”

“Topi baret? Eh kenapa bisa ada di kamu Haidar? Ini nemu dimana, ya ampun aku cari ini dimana-mana”

“Aku juga nyariin kamu” Ungkap Haidar agak ambigu.

“Eh?”

“Iya mau balikin topi itu”

Jiselle memakai topi baret warna putih miliknya itu, wajahnya tidak bisa bohong kalau dia begitu senang barang kesayangannya kembali lagi setelah hilang, bahkan Haidar yang menemaninya berjalan juga merasakan betapa senangnya perempuan ini.

Haidar menatap Jiselle dari samping, menurutnya Jiselle begitu cantik dan cocok memakai topi baret, seperti orang luar negeri.

“Tinggal di luar negeri?”

“Iya, di Korea, tepatnya di provinsi Gangwon”

“Gangwon? Yang ada Coffee Bada nya bukan?” Tebak Haidar.

“Eh seriusan kamu tahu juga? Iya ada! Disana tuh tempatnya bagus, kita bisa minum kopi sambil nikmatin suasana laut dan diem di cabin sembari liat ombak, kamu udah pernah kesana?”

“Belum sel, pernah liatnya juga cuman di film doang”

“Aaah gitu ya”

Jiselle dan Haidar lebih banyak tersenyum satu sama lain, mungkin mereka juga bingung mau membicarakan apa lagi. Mereka baru saja saling mengenal.

Jelas beda dengan Jihas yang ada saja tingkahnya, Haidar ini lebih kalem.

Haidar sedikit penasaran dengan selembaran foto Nikie yang dibawa Jiselle, akhirnya Jiselle menceritakan semuanya. Disana, raut wajah Haidar sedikit berubah tapi pria tinggi itu berusaha meyakinkan Jiselle kalau dia akan segera bertemu dengan sahabatnya.

“Kalau Haidar liat temen aku, tangkap dia ya”

“Lah lucu banget kamu sel, ngapain aku tangkap temen kamu?” Haidar ngakak dengan ucapan Jiselle yang terkesan lucu.

“Maksudnya jagain dulu, nanti aku susul dia, kamu kan polisi pasti sering ketemu banyak orang, siapa tahu kamu ketemu Nikie dijalan”

“Hehe, iya deh. Eh Jiselle kamu mau eskrim nggak? Kita makan eskrim sambil liat sunset di balai kota, mau nggak?”

“Boleh, ayo”

Jiselle senang bertemu Haidar, pria itu tampan dan baik. Baginya seakan mendapat sahabat baru, meskipun tidak akan pernah bisa mengganti posisi Asa, Jordan dan Nikie terutama.

Haidar mengenalkan beberapa jalan pada Jiselle, dan rute cepat di Bandung kalau-kalau dia terjebak macet. Karena dasarnya Haidar adalah polisi, dia juga mengajari Jiselle untuk mematuhi aturan lalu lintas. 

Haidar itu menyenangkan.

“Haidar tunggu, aku nggak bisa nyebrang”

“Eh seriusan, nona manis nggak bisa nyebrang?”

“Iyaaa, jangan di ledek ya..”

“Hahaha, nggak kok. Sini aku ajarin, pertama berdiri dulu pinggir jalan tapi jangan terlalu maju, kalau nyebrang nya di lampu merah sih enak”

“Tinggal tunggu jadi lampu hijau kan, nyebrang di zebra cross sih gampang”

“Ya betul”

Haidar tersenyum setiap mendengar celotehan Jiselle, meskipun hanya hal kecil yang mereka bicarakan.

Haidar tertawa ketika memeragakan cara menyebrang pada Jiselle, melirik ke kanan dan ke kiri lalu dengan refleks menggenggam tangan Jiselle untuk segera menyebrang. 

Degup jantung Haidar berpacu lebih cepat, ditatapnya perempuan yang tengah tersenyum karena dibawanya berlari menyebrang jalan. Demi apapun, Jika Haidar diberi kesempatan untuk memilih, tangan lembut Jiselle lah yang tidak akan pernah dia lepas.

“Hahahaha, hampir aja. Gila rasanya deg-degan tapi seru juga ya, thanks ya Haidar”

“Jangan dulu bilang makasih sel, nih eskrimnya”

Jiselle menerima eskrim dari Haidar dan mereka menikmati sunset di Balai Kota sambil beristirahat dari jalan-jalan kecil yang tak disengaja.

Sesekali Haidar mencuri pandang, menyamakan sunset di langit Bandung dengan perempuan cantik disampingnya. Bagi Haidar keduanya sama saja menakjubkan.

Hanya saja hari berlalu begitu cepat, Jiselle harus segera pulang karena dirinya sudah janji makan bersama neneknya dan Asarman. Kalian tidak lupa kan kalau anak yang selalu kelaparan tiap berkunjung itu mau datang kerumah neneknya.

Haidar menawarkan Jiselle untuk diantar olehnya, tapi Jiselle menggeleng karena tidak ingin merepotkan. Haidar tersenyum dan melambaikan tangan saat punggung Jiselle menjauh dari pandangannya di Balai Kota.

Terhitung mau dua minggu Jiselle menetap di sini, dirinya sudah dipertemukan dengan orang-orang baik, Tuhan itu adil.

Tuhan ambil sebentar orang-orang terdekatnya, lalu Tuhan kenalkan pada orang baru yang memang membuat Jiselle bersyukur bisa tertawa bersama mereka, Haidar adalah teman yang baik menurutnya.

Dan Jihas, ehmm baginya Jihas lebih dari itu.

 

****** 

 

“Dari mana aja woy!”

“Ihhh gimana sih supir ojeg, lama bener” Canda Jiselle.

“Sel, Lo bikin gue nggak konsen tau di rumah sakit, kenapa chat gue nggak dibales hah? Lo malu karena gue bisa tiba-tiba dapet nomor Lo ya?”

“Ji, kamu dapet dari mana? Kamu hacker ya?”

“Bukan, gue dukun” Santai Jihas.

Jiselle dan Jihas mulai adu mulut membahas dari mana Jihas dapat nomor Jiselle, tapi pria itu segera mengganti topik dan balik mengomeli Jiselle karena membuat dirinya  lama menunggu di jalan Merdeka. Jihas memaksa Jiselle untuk tidak pulang sebelum dirinya yang datang menjemput.

“Gimana cari Nikie nya? Sama siapa barusan?”

“Ehmm, temen tapi dia cowok Ji”

“Lah??”

“Eh, kenapa berhenti mendadak sih, sakit tau kepala aku”

Jihas mengerem motornya secara dadakan, membuat helm Jiselle membentur helm milik Jihas.

Jihas menyuruh Jiselle turun, dia bilang dirinya ngambek karena Jiselle pergi dengan pria tapi tidak izin padanya, lah memangnya siapa Jihas? Pria random itu membuat Jiselle kehabisan kata-kata.

“Ya kan kamunya Ji yang nggak bisa nemenin, bodo amat ah aku pulang naik angkot aja, sono pergi”

“Eh malah dia yang pergi, bener-bener ya si otak batu” Heran Jihas.

Alhasil Jiselle tetap di bonceng Jihas, tapi dua orang yang biasanya bertengkar dan ada saja yang mereka ributkan itu sekarang malah hening tidak berbicara satu sama lain. Jiselle yang merasa tidak enak pun mulai menarik baju Jihas.

“Jii..”

“Hmm”

“Ji? Jihas? Woy Jihas Andrean Sananta!”

“Hmm” Masih dengan jawaban yang sama.

“Kenapa sih hmm hmm an aja kaya Nisa Sabyan, jangan ngambek dong Ji, jangan diem aja”

“Tau ah, BT gue” Ketus Jihas.

Jiselle meminta Jihas untuk berhenti dulu didepan penjual minuman di pinggiran jalan, semacam stan minuman boba. Jiselle memesan dua buah minuman, satu rasa brown sugar dan satunya lagi matcha kesukaannya.

Jihas menunggu di motor dengan wajah kusut yang sedari tadi dia pasang, biarlah siluman panda itu merajuk sendiri.

“Nih boba!”

“Nggak mau, nggak suka gue!” tolak si panda.

“Ck, udah dibeliin juga. Terus sukanya apa?”

“Lo!”

Jiselle yang kepalang kesal, langsung tertawa mendengar celetukan Jihas. Laki-laki bar-bar itu lucu kalau marah seperti ini, Jiselle ngakak saja, tidak peduli pandangan aneh dari Jihas yang tertuju pada dirinya.

“Idih ni orang gila kenapa?”

“Ahahah, cepet nih minum bobanya jangan marah gitu ah jelek, tuh liat mata kamu kaya boba ini tau Ji!”

“Ogah, kecuali Lo tusukin dulu sedotannya”

“Dasar manja! punya dua tangan aja nggak berguna”

Masih dengan menertawakan Jihas, Jiselle menusuk kemasan Boba itu dengan sedotan besar yang diberikan si penjual tadi.

Jihas mengambil Boba ditangan Jiselle dan langsung meminumnya sampai sisa setengah, tadi katanya tidak suka.

Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan pulang dengan motor Jihas. Jiselle tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada baju Jihas. 

Apakan dia bilang?Jihas itu lain rasanya.

Meskipun dirinya sudah bertemu pria lain di kota Bandung ini,

 

‘Haidar di mini market’

 

 

 

 

일곱 – 07

(Asarman dan pameran seni)

 

Sesuai janjinya, hari ini Jihas menjemput Jiselle didepan rumah neneknya. 

Keduanya pergi untuk mencari keberadaan Nikie, berbekal foto yang kemarin Jiselle bagikan pada orang-orang di jalan Merdeka. Hari ini Jiselle merasa semangat lagi untuk mencari Nikie.

Selintas Jiselle sedikit teringat saat dirinya bercerita pada Asa yang berkunjung untuk makan malam.

“Bukannya kamu yang suka sama Nikie ya Sa?”

“Hmm… Itu dulu kok”

“Tapi kok aku nggak tau ya Nikie punya pacar”

Wajah Asa mendadak kaget, ditatapnya Jiselle dengan penuh keterkejutan. Asa segera bertanya dimana Jiselle melihat Nikie dan siapa pria yang Jiselle maksud kekasihnya Nikie.

“Rekaman CCTV punya pemilik toko kue”

“Kamu nggak inget sel Nikie punya pacar?”

“Iya, aku nggak inget tuh Sa”

“Huffttt, syukur deh” Asa menyandarkan badan pada kursi.

Jiselle merasa janggal dengan sikap Asa, rasanya dia tahu sesuatu tapi Jiselle tidak. Jiselle berusaha bertanya pada Asa apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan Nikie tapi Asa bilang dia tidak tahu apapun.

“Itu kan persoalan cewek Sel, eh iya besok malem awas ya kalau nggak datang ke pameran”

“Dateng dong, sama temen aku” Jawab Jiselle dengan bangga.

“Temen kamu? Siapa?”

“Jihas”

Suara Jiselle tersalip oleh nada dering ponsel yang begitu kencang, Asa tidak sempat mendengar ucapan Jiselle karena harus segera mengangkat panggilan dari Jordan.

Tumben itu anak mau menelpon kembarannya.

Selang dari mengangkat telpon, Asa berpamitan pulang, itulah alasan Jiselle lebih semangat mencari Nikie, dia yakin ada sesuatu yang dirinya tidak ketahui, dan dia perlu jawabannya dari Nikie.

 

 

******

 

 

“Wididaw… hari Kartini ya mana  pake motif batik segala, Lo mau ke kondangan apa?”

Jihas mulai mengusili perempuan manis itu, Jiselle sengaja memakai baju yang ada sedikit corak batiknya karena Asa yang minta. 

Akhir-akhir ini gaya berpakaian Jiselle membuat orang salah sangka kalau dirinya orang asing dari luar negeri. Meskipun benar Jiselle baru pulang dari Korea tapi darah Indonesia tetap melekat pada dirinya bukan?

Asa ingin Jiselle memakai pakaian itu, dan si aneh Jihas malah mengusilinya.

“Kenapa? Nggak cocok ya? Aku pake ini buat ke pameran seni nanti malem”

“Ah di jalan Braga ya, gue juga mau kesana kok”

“Alesan, kamu kan selalu ngikutin kemanapun aku pergi, iya kan Ji?”

“PD amat hidup Lo! kaya gue kurang kerjaan aja, coba aja Lo lompat ke jurang, nggak akan tuh gue ikut” Celetuk Jihas.

Jiselle manyun, Jihas memang suka asal jeplak kalau berbicara.

“Udaaaahhh, Lo cantik. Insecure gue boncengin nya juga”

“Bohong! demi apa?”

“Demi boba yang kemarin deh sama mamang-mamang yang jualannya, Udah ayo katanya mau nyari Nikie. Cepet naik”

“Jangan ngebut”

“Bodo amat, gue mau ngebut.. pegangan Lo, jangan jaim!”

Jihas menjalankan motornya dengan ngebut, Jiselle sampai sedikit memeluk pinggangnya. Kalau saja Neneknya melihat Jiselle di bonceng seperti itu, pasti Jihas sudah dicium bokong panci alias di geplak kepalanya.

Entah punya nyawa berapa dia mengemudi secepat ini, untung saja tidak ugal-ugalan karena Jihas memang pandai membawa motor.

Jihas merasa senang hari ini, dia akan menghabiskan waktu seharian bersama Jiselle. Perempuan dingin itu harus luluh oleh dirinya, tapi Jihas juga sedikit khawatir oleh sesuatu.

Takut Jiselle suatu saat akan menjauh darinya.

Jihas menghempaskan pikiran buruknya itu, yang terpenting Jiselle ada bersamanya saat sekarang.

Perlahan tangan Jihas meraih tangan Jiselle untuk memeluk pinggangnya lebih erat, jangan sampai perempuan itu jatuh dari motor karena pelukannya yang longgar.

Jihas terkekeh, dia tahu Jiselle kaget, mungkin pipi perempuan itu sudah merah dibuatnya.

“Tangan Lo lembut banget” Puji Jihas agar terkesan romantis.

“Hah apa?”

“Tangan Lo lembut banget Jiselle” Ulang si Panda.

“Hah? Gimana-gimana???” Jiselle tidak bisa mendengar.

“Anjiiirrr, budeg banget sih. Tangan Lo kasar kaya kuli bangunan!”

Jiselle memukul helm Jihas karena kesal, tidak tahu saja dia kalau Jihas jauh lebih dongkol karena telinganya yang sedari tadi tidak sinkron dengan ucapan Jihas. Lagian mana ada kedengaran, suara motor Jihas yang ngebut saja sudah memekakkan telinga.

“Tadaaaa, nyampe kita”

“Uwekkk.. aku mau muntah” Jiselle pusing sekali seperti baru keluar dari wahana di Dufan.

Jihas tertawa melihat Jiselle yang sedikit berantakan, Jihas langsung menarik Jiselle untuk diam didepannya. Mencopot helm dikepala perempuan itu dan merapikan rambutnya.

Jihas mengusap rambut perempuan itu dengan perasaan yang begitu dalam, Jihas menatap kedua bola mata yang menatap tanah itu, Jiselle terlalu  malu dibuatnya.

Jiselle enggan membalas tatapan Jihas.

“Pesek!” Hidung Jiselle dicubit Jihas.

“Nih gantian, rapihin rambut gue”

Karena tinggi Jiselle yang lebih pendek, pria bermata sipit itu menunduk mengarahkan rambutnya kearah Jiselle.

Dengan ragu Jiselle merapikan rambut Jihas. Jiselle tersenyum dengan perasaan yang campur aduk, tapi tidak dapat dipungkiri kalau yang mendominasi hatinya sekarang adalah perasaan gembira luar biasa.

“Sip, thank you sayang”

“Apaan sih Ji, nggak jelas” Astaga Jiselle mulai baper.

 

Jiselle mulai menyerahkan foto Nikie pada Jihas lalu memperagakan caranya bertanya pada orang yang lewat di sekitaran jalan Merdeka. Jihas manggut-manggut saja tanda mengerti, tapi sepertinya Jiselle salah, harusnya dia ingat betapa aneh dan random nya seorang Jihas Andrean.

“Heh kamu Nikie ya”

“Bukan”

“Masa?” selidik Jihas.

“Siapa sih Lo!”  Kesal orang-orang yang diisengi Jihas di jalanan.

Jiselle menepuk jidatnya sendiri, melihat Jihas bertanya pada kerumunan orang malah membuat Jiselle malu begini. Akhirnya Jiselle yang minta maaf pada orang-orang.

“Dek, kamu namanya Nikie ya?”

“Bukan om” Jawab si adik kecil dengan sedikit takut.

“Eh enak aja om, panggil kak Ji! kamu jangan bohong dek, masih kecil jadi tukang bohong. Udah gede mau jadi apa kamu hah? Jangan menye-menye! Kenapa mau nangis?”

Jiselle ngakak juga melihat Jihas, anak umur lima tahun itu malah menangis kencang karena Jihas kekeuh bertanya padanya.

Auto lari mereka berdua saat orang tua si anak datang.

Jihas langsung saja menarik tangan Jiselle untuk pergi dari sana, daripada kena amuk emak-emak ya kan.

“Wuanjir, itu anak main nangis aja”

“Hahah, lagian kamu Ji, masa iya aku sahabatan sama anak kecil. Nikie tuh kurang lebih seumuran sama kita, gimana sih kamu” Jiselle berusaha mengingatkan Jihas.

“Lah gue ngerasa Lo kaya anak TK kok”

“Mulai deh, kapan sih kamu nggak nyebelin?”

“Kenapa? Gue suka gangguin Lo sel, keberatan Lo?” sewot Jihas tapi dengan ekspresi yang lucu.

“Yaiyalah, suka nggak mikir”

Mata kacang almond milik Jiselle memandang kesana kemari dan berhenti di sebuah bangunan besar yang sering didatangi olehnya. Bawean ‘SweetHeart’ Bakery & Resto, tangannya menarik Jihas untuk beristirahat sejenak disana.

 

 

******

 

 

Seni itu tidak pasti, subjektif.

Hanya curahan hati tentang keindahan yang sejati, apa yang bisa kuas goreskan pada sebuah kanvas? Mungkin saja buaian dari sebuah cinta yang membentang tak terbatas.

Asarman Hakim, Asa menatap senja di kota Braga persis dengan lukisannya yang menjadi pusat utama pameran. Lukisan berjudul ‘Orange’ itu diletakan jauh lebih tinggi diantara jejeran lukisan yang lain.

FYI saja kalau kemahiran Asa pada seni membuatnya dipercaya menjadi ketua pelaksana kegiatan ini.

Lukisan, musik, tarian dan kesenian lainnya siap ditampilkan di pameran ini, dengan tujuan menarik minat para pengunjung untuk melestarikan budaya negeri sendiri, khususnya daerah Bandung.

Sesekali Asa melirik jalanan Braga, mengingat ucapan Jiselle kalau Asa pernah menyukai Nikie.

Dulu, jauh sebelum Nikie memilih orang lain, orang yang mungkin saja Jiselle kenal atau bahkan Jiselle sangat mengenalnya. Jujur Asa benar-benar kaget mengingat perkataan Jiselle padanya semalam.

Sekarang, biarlah Asa bergelut dengan pikirannya ditengah pameran seni ini. Dimana orang-orang tidak akan sadar kalau dia juga sedang berusaha mempertahankan posisinya, dalam seni bermain peran.

Asa berbohong? Apa kecurigaan Jiselle benar?

Sudah Asa bilang jika dirinya hanya tidak ingin Jiselle terluka akibat jawaban dari yang bukan semestinya. Jiselle akan baik-baik saja, dia kuat dan Asa yakin perlahan jawaban itu akan menghampiri sahabatnya.

Senja sudah menghilang, berganti petang terjerat malam. Orang-orang semakin ramai berdatangan melihat pameran kesenian dari institut  kesenian Bandung ternama, ISBI.

Penduduk asli maupun wisatawan asing tengah disambut oleh tarian khas adat Sunda, Jaipong. 

Sesuai time line acara yang berjalan dibawah pengawasan Asa, orang-orang akan disuguhkan oleh tarian ikonik yang satu ini. Biarlah mereka merasa dijamu oleh penari cantik yang gerakannya lemah gemulai, teman-teman Asa dari fakultas seni tari.

“Cepetan Ji!”

“Iya, bawel banget sih, ini juga udah cepet. Eh itu ya? Liat sel rame banget yang datang, wih jaipongan tuh”

“Kamu suka?”

“Ya suka-suka aja, yang narinya cantik semua” Jawab Jihas sedikit laknat.

“Dasar buaya!”

“Hah? Eh gue bukan buaya, cemburuan banget sih Lo. Gue mah jujur aja itu mereka cantik, tapi buat gue cuman Jiselle seorang yang paling cantik dan bikin gue nggak bisa sedetik aja buat nggak liat senyumannya” Gombal Jihas tak tahu tempat.

“Udahlah Ji”

“Lo mah gitu sel, selalu kabur dan buang muka”  Jihas menatap perempuan itu.

“Berapa banyak cewek yang kamu gituin Jihas Andrean?”

“Sumpah ya, cuman Lo doang sel. Emangnya muka gue nggak meyakinkan gitu? Lo mau bukti apa?”

“Tau ah!”

“Beuh, cewek kalau salting ya gitu”

Jihas berjalan mengikuti Jiselle yang mulai menerobos kerumunan orang-orang di pameran, sebenarnya Jihas sendiri tidak tahu kalau ini pameran yang diadakan oleh organisasi kampus kesenian di Bandung. 

Mereka berjalan ketengah pameran dan mulai melihat banyak karya yang dibuat oleh tangan-tangan seniman sekelas Leonardo Davinchi, atau Pablo Picasso. Semua yang ditampilkan disini luar biasa menakjubkan.

Sesekali Jiselle dan Jihas memeragakan lukisan yang ada disana dengan wajah kocak mereka.

“Tahan Ji, aku foto dulu”

“Duh cepetan! aib gue ini Sel, vibes gue sebagai cowok kece bisa rusak nanti”

Jiselle sudah keram perut menertawakan tingkah Jihas, apalagi saat mereka mengunjungi stan wayang golek. Jangan ditanya Jihas sudah pasti bertingkah disana. 

“Jiselle ini cobain, aaaaa….” Jihas ingin menyuapi Jiselle makanan daerah yang tengah dicicipinya.

“Ih apaan ini? Makanan khas ya? Ji aku nggak terlalu suka, seriusan”

“Eh iya ya gue lupa”

Jihas buru-buru memberikan Jiselle air putih, tapi sebenarnya Jiselle sedang sibuk mencerna kata-kata Jihas barusan, aneh menurutnya.

‘gue lupa’

Memang kapan Jihas pernah tahu kalau dirinya tidak menyukai makanan itu?

Jam sudah menunjukkan pukul 20.22 malam, dan pengunjung pameran itu semakin bertambah membuat Braga padat oleh lautan manusia pencinta seni dan musik di penghujung malam.

Jiselle tertarik pada musik klasik, dia menarik Jihas untuk menghampiri pemain biola dan mendengarkan musik yang dimainkan, bukan musik daerah melainkan karya Beethoven. Jika kalian tahu, Ludwig Van Beethoven adalah pencipta lagu Fure Elise, lambang sejati sebuah cinta yang tak pernah sampai.

Jiselle teramat mengagumi seniman asal Vienna, Austria itu.

“Lo suka?” Jihas peka dengan raut wajah si manis.

“Suka banget”

“Keliatan, mata Lo berbinar kaya gitu. Sini nari sama gue”

Jiselle gugup ketika Jihas menyodorkan tangan dengan gaya pangeran-pangeran kerajaan yang hendak mengajak sang tuan putri untuk berdansa. Dengan senyuman manis yang mengalahkan gula, Jiselle menerima uluran tangan Jihas dan berdansa dibawah indahnya langit malam Braga.

Mata Jihas tidak bisa lepas dari Jiselle begitupun sebaliknya.

Senyuman mereka cukup mengartikan banyak hal bagi satu sama lain, juga menjadi rasa bahagia bagi orang-orang yang menyaksikan keduanya. 

Jihas dan Jiselle berjalan sambil tersenyum satu sama lain.

“Kenapa Lo liatin gue kaya gitu, gue tau kok gue ganteng”

“Nggak, eh Ji makasih ya”

“Buat apa? Sini tatap mata gue, Lo mah kalau ngomong suka buang muka, nggak berani ya natap mata gue?”

“Iya takut soalnya, heheh nggak deh… Aku mau bilang makasih udah jadi obat yang bikin hari ini jadi lebih baik”

“Obat? Nah kan…”

Jihas tersenyum manis mendengar ucapan Jiselle yang begitu tulus, dirinya tahu kalau perempuan yang seumuran dengannya itu sering kali bersikap cuek, tapi yang Jihas tahu perempuan bernama Jiselle Haris itu hatinya selembut kapas.

“Eh iya, aku mau ngenalin kamu sama sahabat aku Ji, dia yang ngadain pameran seni ini sama organisasi kampusnya”

“Hmm?” Jihas agak terkejut.

“Asa, Asarman Hakim”

 

Deg…

 

Jihas membulatkan mata.

Tingkahnya mendadak berubah seperti kikuk dan berbicara dengan gugup. Jiselle menarik tangan Jihas untuk mencari Asa. Jiselle tidak tahu saja kalau aliran darah pria didekatnya ini terasa lebih kencang dari biasanya.

“Asa?”  Gumam Jihas tidak menduga seperti ini.

Saat berjalan menuju stan lukisan, disanalah Asa berdiri mengagumi setiap lukisan dan pujian atas keberhasilannya mengontrol acara ini.

Jiselle menunjuk Asa agar Jihas melihat sahabatnya itu.

Disisi lain, seseorang juga memperhatikan Jiselle yang sedang menarik lengan Jihas. Orang itu nampak kaget dan merasa tidak percaya.

Jiselle berteriak memanggil Asa, dan yang dipanggil pun mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri. Saat Asa sadar jika suara itu tepat di belakangnya, diapun berbalik, namun Jihas segera melepas genggaman tangan Jiselle, pria itu memandang Jiselle sebentar lalu menggeleng pelan dan detik itu juga Jihas pergi meninggalkan Jiselle tanpa sepatah kata pun.

“Ji? Jihas?” Jiselle kebingungan.

“Jiselle!” Panggil seseorang dengan sedikit berteriak.

“Jordan? Kamu datang kesini juga?”

“Siapa orang yang tadi bareng sama Lo?”

Jiselle merasakan keanehan lagi, pertama Jihas yang langsung pergi seakan enggan bertemu dengan Asa. Sekarang Jordan yang sedang marah padanya tiba-tiba bertanya dengan wajah super khawatir.

“O.. orang yang mana? T.. tadi cuman orang selewat aja, aku minta dia nunjukin dimana Asa” alibi Jiselle.

“Jangan berani deket sama orang asing, cepetan ikut gue!”

Jordan dan Jiselle menghampiri Asa, meskipun perempuan cantik itu sudah tidak jelas perasaan nya dengan semua yang terjadi.

“Eh Jiselle sama Jordan, kalian bareng kesini?”

“Nggak, gue nggak sengaja ketemu dia, eh apaan nih nggak rame banget sih Sa, mending juga gue ikutan party sama anak kampus gue”

“Nggak usah dateng aja padahal Lo Malika bangsat!” Emosi Asa dengan cepat naik ke kepala karena ucapan sang adik.

“Kalau nggak kasian sama Lo sih emang gue nggak bakal dateng, gue takut aja Lo nangis gitu Sa” Songong Jordan.

“Bodo amat, minggir Lo! Eh Sel? Hey kok diem aja?”

Jiselle memang diam sedari tadi, mood-nya menikmati pameran seni sudah hilang tak bersisa, kebahagiaan nya tadi seperti ikut pergi bersama Jihas.

Tapi Jiselle juga mengakui kalau dirinya takut ada sesuatu tentang Jihas yang dirinya tidak tahu.

“Asa, aku mau pamit pulang”

Asa dan Jordan sama-sama saling pandang karena Jiselle yang mendadak tidak bersemangat.

“Lo ngomong macem-macem ya? Bilang sini Sel si Malika ngapain kamu barusan?”

“Anjir, gue lagi”

“Nggak kok Sa, disini dingin banget. Aku pamit pulang ya, bye”

Asa tidak bisa mencegah sahabatnya untuk pulang meskipun Asa sedikit khawatir juga karena tidak seperti biasanya Jiselle begitu. 

Jordan langsung menyusul karena dia juga tidak betah berlama-lama di pameran seni seperti ini, dia mengejar Jiselle dan memakaikan jaket pada sahabatnya itu.

Jordan membawa mobil dan menyuruh Jiselle untuk naik. Didalam mobil, keduanya diam terlarut dengan pikiran masing-masing.

‘apa yang salah Ji? Kamu kenapa?’

Pikir Jiselle sembari memandang kearah luar lewat kaca mobil.

 

******

 

Kemana perginya Jihas?

Yang tanpa sepatah kata apapun meninggalkan seorang perempuan ditengah hiruk-pikuk para penikmat malam.

Disinilah si mata boba, melipat kedua tangannya sambil menatap rel kereta. Kejadiannya terlalu cepat dan Jihas dengan entengnya melepas genggaman tangan perempuan yang bernama lengkap Jiselle Haris itu.

Jihas merutuki sikap bodohnya, juga takdir.

“Ji, balik yok. Rokok gue udah habis nih”

Ajun si pemilik Cafe sekaligus sahabat Jihas terus mengajak Jihas untuk mengakhiri lamunan nya malam ini. Jihas bisa saja masuk angin kalau terus-terusan diam ditengah malam seperti ini.

“Jihas, yuhuuuu… Anjir Lo kemasukan hantu patung Pancoran ya? Diem bae Lo Ji! Serem nih gue, udah tau gue penakut”

“Diem bangsat!” kesal Jihas.

“Yakali gue disuruh diem, laper nih gue. Lo mah ribet, kenapa Lo tinggalin si Jiselle kalau akhirnya malah nyesel sendiri disini”

“Jun, Lo nggak tahu situasinya tadi,  bukan cuman Asa yang ada disana, Jordan ada dibelakang gue asal Lo tahu”

“Si hitam manis itu ya?” Canda Ajun dengan wajah tanpa dosa.

“Heh kupret! Lo ngomongin siapa?”

“Iya si Jordan yang kembarannya Asarman kan? Si item itu”

Jihas mendengus kesal, dia bangkit dan mulai berjalan tapi dengan rusuhnya Ajun menahan Jihas sambil berteriak-teriak membuat Jihas sakit kepala.

Jiii, Anjir Lo jangan bunuh diri Ji! Gue nggak mau diwawancara jadi saksi mata nanti. Bisa berabe gue kalau masuk TV, Jiii istighfar! Inget dosa Lo bangke!”

Jihas menggeplak kepala Ajun, sialan sekali pikirnya.

“Siapa yang mau bunuh diri, gue mau ngopi. Minggir Lo lambe turah!”

Ajun cengengesan saja mendengar ucapan Jihas, dia jadi malu sendiri karena sudah bertingkah rusuh seolah Jihas mau bunuh diri mentang-mentang mereka ada didekat rel kereta api.

Ajun pun menyusul Jihas berjalan kearah Cafe miliknya dan merangkul sahabat dekatnya itu. 

Ajun tahu seberapa berat takdir yang tengah dimainkan Jihas saat ini dan sekarang pria itu sedang ada pada bagian dimana tokoh utama hampir ditemukan.

Bab yang mulai menegangkan pikirnya. 

Hampir saja langit malam Braga mempertemukan mereka, dengan sebuah catatan kecil yang tidak pernah Jihas duga akan datang secepat ini, sebut saja…

 

‘Asarman dan pameran seni’

 

 

 

여덟 – 08

(Skenario)

 

Jiselle tidak bertemu Jihas lagi.

Satu Minggu dari pameran seni di jalan Braga, keduanya tidak pernah bertemu satu sama lain. Tidak ada Jihas dengan motornya atau Jiselle yang berjalan-jalan menuju Bawean, mereka seakan hanyut dalam kesendirian.

Jujur Jiselle tidak pernah lupa akan raut wajah Jihas yang berubah malam itu, pasalnya bukan hanya sekali tapi setiap Jiselle membahas sesuatu, beberapa diantaranya akan memancing Jihas untuk mengatakan hal yang tabu bagi dirinya.

Nama Jiselle, nomor whatsApp, makanan yang Jiselle tidak suka, semua itu seakan Jihas tahu tanpa pernah diceritakan oleh dirinya.

Lalu ada apa dengan Asa, Kenapa Jihas enggan menemui Asa?

Sudahlah biar hari ini dirinya terlelap setelah beberapa hari terkena insomnia. 

Jiselle segera mengambil obat tidur dilemari, meneguknya sebanyak 2 pil lalu membaringkan tubuh dengan nyaman di tempat tidur. Bukan kah tubuhnya perlu dikasihani juga?

Dia pasti kelelahan berkat segala pencarian panjang yang bahkan belum ada hasilnya ini.

 

 

******

 

 

Jiselle terdiam menatap wajah Nikie yang tertawa senang menggerakkan tangannya, pertanda untuk dirinya segera menghampiri Nikie. Disana juga ada Asarman dan Jordan yang tengah tertawa senang.

Entah apa yang mereka bicarakan tanpa dirinya.

‘Jiselle ayooo’

‘cepetan Sel’

Nikie memanggil Jiselle begitupun Asa dan Jordan yang sudah meneriakkan namanya.

Aneh, Jiselle hanya memandangi mereka tanpa sedikitpun bergerak dari tempatnya berdiri, seperti patung.

 

Greph….

 

Sekali berbalik kepalanya menengok kearah tangan yang mencengkram bahunya.

Jiselle tidak bisa melihat jelas wajah orang yang memegang bahunya, wajahnya buram sekali dan Jiselle merasakan sakit kepala luar biasa. Tiba-tiba saja dirinya berada ditengah jalan raya dengan mobil yang melaju cepat namun Jiselle tidak bisa bergerak, diam membiarkan tubuhnya terhantam mobil tersebut.

 

Duaggghhhhh…

 

“Aaaaaaaaaaaaa!!! Hhh..hhh..”

“Sel, ya ampun. Nyebut sel hey kamu kenapa? Aduh panas banget ini badan nya, Emak ambil kompresan dulu ya” Panik emak karena cucunya berteriak kencang.

Jiselle langsung terkena demam.

Air mata mengalir membasahi pipi, kenapa rasa sakit di mimpinya itu menjalar keseluruh tubuh seakan semuanya nyata. Jiselle menahan rintihan itu agar tidak terdengar, menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.

Kepalanya yang sakit semakin berat dan memaksa matanya untuk tertutup rapat.

 

 

*****

 

 

Mata yang terpejam itu perlahan mulai terbuka.

Ditatapnya sekitar dan wajah cemas nenek nya yang pertama kali terlihat, juga Asa yang berdiri di ambang pintu, menghujaninya dengan banyak pertanyaan.

“Sel are you okay?”

“I’m fine Sa, Mak aku nggak papa kok. Demam dikit aja”

“Kamu toh kalau tidur jangan malem-malem, makan tepat waktu, Emak khawatir. Nanti mau bilang apa sama ibu kamu, ayah kamu marah lho kalau tau anaknya sakit” Omel emak mengingat Jiselle sering sekali keluar rumah sampai malam hari.

Nenek Jiselle memegangi tangan cucu perempuan satu-satunya itu. Sorot mata khawatir membuat Jiselle tidak tega dan berusaha meyakinkan semua orang kalau Jiselle baik-baik saja.

“Next time, jangan banyak keluar malem-malem ya Sel. Nggak bagus buat kesehatan kamu” Pepatah Asa.

“Iyaa Sa, tapi aku butuh buat nyari Nikie”

Asa dan neneknya Jiselle saling pandang disana.

“Yaudah nanti aku temenin kalau libur kuliah”

Asa berpamitan pulang karena hari ini dia mau menemani ibunya belanja ke supermarket, Jordan yang biasanya mengantar mendadak tidak bisa, entah kesibukan apa lagi yang dimiliki si pria berkulit sawo matang itu.

Asa yang baru keluar dari rumah neneknya Jiselle langsung menatap Jordan dengan bingung, ada angin apa dirinya datang kemari? Bukannya anak itu sibuk sampai tidak bisa pergi ke supermarket.

“Ngapain Lo kesini Malika?”

“Asa Monyet! Lo mah gitu sama adik sendiri, nggak ada support-support nya. Minggir Lo ah! Gue mau masuk”

“Sahabat Lo lagi sakit, awas aja Lo bertingkah!” Asa mengacungkan tinjunya kearah Jordan.

Jordan menggeser badan kembaran nya itu. Asarman hanya senyum melihat tingkah Jordan, lihat betapa rapihnya dia meskipun gengsi ternyata dia masih peduli pada persahabatan mereka.

“Maaaakkk”

“Waduh siapa iniii? Jordan? Sombong bener kamu baru main kesini, si Asa tiap hari kesini lah ini adiknya jarang banget keliatan”

“Maaf Mak, cucu Mak yang ganteng ini lagi sibuk”

“Gaya kamu Jo, udah makan belum? Emak ambilin makan ya, duh makin tinggi ya kamu ngalahin kakak kamu, makan nya harus banyak ini”

“Hehe, nggak usah Mak. Udah di masakin mamah tadi. Jo mau jenguk Jiselle dulu”

Jiselle duduk diruang tamu begitu tahu ada yang datang menjenguknya.

Didepannya ada Jordan yang terlihat gugup, lama mereka tidak berbicara satu sama lain. Ya, terhitung dari kedatangan Jiselle ke Indonesia, Jordan tidak pernah berbicara pada Jiselle, kecuali malam saat pameran seni di jalan Braga kemarin.

“Tumben Jo? Nggak usah tegang gitu, kaya liat calon mertua aja!” Ledek Jiselle.

Jordan nyengir saja, ternyata Jiselle tidak berubah.

Pria tinggi dengan bahu tegap dan kulit sedikit gelap itu merasa bersalah. Dirinya bisa berubah begitu banyak, tapi bagaimana Jiselle bisa bersikap sama padanya?

Dihadapannya Jiselle begitu persis dengan Jiselle yang dulu bersahabat dengan dirinya. Menghabiskan waktu, bercanda-tawa maupun curhat tentang duka masa remaja.

Jordan egois selama ini, dia menyalahkan keadaan juga membiarkan sahabatnya kesusahan sendiri tanpa dukungan darinya. Jordan boleh marah pada waktu, tapi tidak pada perempuan yang bermata sendu itu.

“Jiselle, gu.. gue minta maaf”

“Kamu minta maaf apaan si Jo? Nggak ada yang salah kok. Aku ngerti kita lagi di fase yang sulit walaupun aku nggak tau apa. Tapi kamu mau kan nungguin aku buat cari jawaban dari semua ini? Mau kan Jo?”

“Sel, maafin gue, gue bakal temenin Lo kok. Gue janji. Gue nggak akan marah lagi, maafin gue yaaaa”

“Eh iya, iya nggak papa. Udah ah nggak usah nangis nanti aku ikutan”

Jordan sudah menangis disana, Jiselle terus menyuruh nya untuk berhenti atau tidak dia akan ikutan menangis juga. Ditepuknya bahu Jordan yang sudah dia rasa seperti adiknya sendiri.

“Udah yaaa, nanti aku dimarahin Asa bikin adiknya nangis” ujar Jiselle.

“Mana ada? yang ada gue digibeng si monyet satu itu. By the way, jangan berhenti jadi sahabat gue ya sel walaupun gue bego kaya gini”

“Iyaa, udah jangan nangis jelek!”

“Ah bodo amat, gue emang udah jelek” celetuk Jordan.

Baik Jordan maupun Jiselle, keduanya merasa lega karena mereka sudah berbaika, terlebih pria berkulit tan itu yang merasa tenang karena dirinya sudah meminta maaf dengan tulus dan mengaku menyesal atas keegoisanya.

Jiselle merasa senang karena Jordan kembali padanya, tapi kenapa Jihas malah hilang dari sisi Jiselle?

Apa itu termasuk adil?

Jihas dimana? Siapapun yang melihatnya tolong sampaikan kalau Jiselle mulai merasa rindu disini.

Seminggu lebih dua hari, yang biasanya menemani malah hilang tanpa mengabari. 

Jiselle sempat mengunjungi Cafe tempat Jihas bertemu dengannya pertama kali, dimana Jihas dengan suara indahnya itu bernyanyi. Memakai jeans biru dan tiba-tiba menjadi rasa bahagia yang baru.

Tapi Jihas tidak ada disana.

Rumah sakit tempatnya bekerja pun sudah Jiselle datangi, namun menurut rekan kerja Jihas yang bernama Yusi, mereka tidak melihat pria bermata sipit itu. Jiselle merasa seorang diri sekarang, tanpa Jihas yang biasa mengusilinya.

“Tahan Sel, jangan sampai nangis. Jihas pasti balik lagi kok. Jangan cengeng” monolog si manis.

Langkahnya yang gontai tak ada semangat sedikitpun, memapah yang kehilangan itu untuk segera masuk ke kamarnya.

Jiselle berbaring sambil menggenggam sebuah foto yang baru saja di cetaknya kemarin. Foto yang dia harap bisa meredakan perasaan anehnya saat ini. Sayangnya selembar foto dirinya dan Jihas di pameran seni ternyata tak cukup membantu.

 

Drrt…

Drrt…

 

Jiselle membuka matanya yang sembab karena menangis sambil tertidur, dengan malas mematikan panggilan di ponsel tanpa melihat siapa yang menelpon. Entah itu siapa, Jiselle hanya sedang tidak ingin dihubungi siapapun.

 

Dua kali..

Tiga kali…

Empat kali…

Berkali-kali…

 

Semakin sering Jiselle menolak panggilan maka ponselnya terus berbunyi tanda orang tersebut memang tak gencar menghubunginya.

Panggilan suara berubah jadi video call, Jiselle segera melihat kearah ponselnya dan nama Panda bar-bar tertera disana. Tubuhnya refleks bangkit dan segera menerima video call dari orang yang dia rindu.

Jihas Andrean, dari mana saja dia?

“Hey, apa kabar? Mata Lo kenapa? Dipipisin kecoa?”

” …….”

Jiselle diam saja menatap wajah Jihas.

“Sel Lo baik-baik aja kan? Woy! Lo marah ya sama gue? Sorry malem itu gue ninggalin Lo ya”

“Bukan cuman malem itu Ji! Satu Minggu kemarin kamu kemana? Hiks… Jahat banget ya kamu, aku salah apa sama kamu Ji?” Jiselle meluapkan emosinya sambil menangis.

“Jangan nangis hey! Iya gue bajingan banget ya Sel ninggalin Lo terus. Gue mau tahu aja Lo kangen sama gue apa nggak? Sorry ya tuan putrinya Jihas yang cantik, jangan nangis dong”

“Aku demam kemarin, kamu nggak ada hiks”

“Seriusan? Besok gue jemput Lo jam 08.00 pagi ya”

“Mau ngapain?”

“Ajakin Lo senam, hehe nggak deh. Gue obatin Lo” Heran masih saja iseng.

“Udah telat, kamu tuh nggak punya perasaan Ji! Ninggalin aja tanpa bilang apa-apa, kenapa sih? Kamu nggak mau ketemu Asa? Kamu kenal dia?”

“Ehmm gue..” Jihas nampak gugup.

“Kenapa?”

“Gue cemburu aja, Gue yakin itu orang lebih deket sama Lo sel. Gue takut nggak kuat aja liat kalian”

“Lebay kamu, udah ah”

“Sel, jangan nangis . Besok aja lah Lo mau ceramahin gue juga monggo silahkan, mau mukulin gue sampe jadi bubuk daging juga boleh lah apa sih yang nggak buat Lo, tapi please jangan nangis, gue sakit liatnya”

“Besok? Jam 07.30”

“Hah? Pagi amat kaya mau sekolah. Iya deh” pasrah Jihas.

“Aku tutup Vidcall nya ya Ji”

“Mau tidur ya?”

“Udah seminggu ini aku nggak bisa tidur nyenyak”

“Hah? Gara-gara gue? Lo itu ya sel, kalau gini mah bukan gue panda nya tapi Lo. Tidur gih nanti vidcallnya gue tutup kalau udah liat Lo tidur”

Jihas memandangi wajah Jiselle yang berusaha memejamkan mata tapi perempuan itu berkali-kali mengubah posisi tidurnya dan bergumam kalau dia sulit untuk tertidur. Jihas merasa kasihan jadinya.

Karena Jihas, dirinya jadi seperti itu.

“Pejamin mata Lo perlahan, dan dengerin gue baik-baik ya” Ucap Jihas lembut.

Jiselle menuruti ucapan Jihas. Matanya ditutup secara perlahan, bayangan wajah Jihas yang tersenyum kearahnya membuat Jiselle lebih tenang, nafas beratnya berangsur-angsur hilang.

 

Your voice were lullabies

I would be listenin’

‘Til I was sleeping

 

Jihas menatap wajah Jiselle yang candu baginya, menyanyikan lirik-lirik lagu Blue Jeans milik Gangga dengan lembut berharap itu akan menjadi obat paling ampuh untuk yang dirindu.

Jihas tidak pernah menginginkan jalan yang seperti ini, dimana untuk beberapa alasan dirinya terpaksa meninggalkan tangan yang ingin selamanya dia genggam. Situasi buruk yang memintanya bersikap seolah semua baik-baik saja.

Kenapa Jihas begitu pintar memainkan peran?

Jihas sedang menyiasati takdir, agar terus berada disisi Jiselle selama dirinya bisa. Seperti lagu yang dinyanyikan nya dengan merdu, tulus dari lubuk hati yang terdalam, Jihas ingin selalu menjadi obat untuk Jiselle.

Meskipun suatu saat Jihas harus menceritakan arti lagu ini pada Jiselle.

“Good night, tuan putri”

Bisik Jihas, tangannya tertahan untuk mengakhiri video call

Sesekali dirinya tertawa kecil melihat Jiselle yang tertidur pulas, manis dan cantik seperti seorang putri yang tengah tertidur karena racun yang tak sengaja diminum olehnya bahkan Jihas berkhayal bahwa dirinya adalah seorang pangeran, menyelamatkan Jiselle kemudian hidup bersama dalam sebuah keabadian.

Tuhan tolong pertimbangkan harapan yang Jihas genggam malam ini, jangan buat dirinya kecewa suatu saat nanti jika takdirnya di buat serumit teka-teki.

Tuhan, tolong atur sebaik-baiknya jalan yang harus Jihas tempuh, hal nyata yang tak pernah bisa diduga,

 

‘Skenario’

 

 

아홉 – 09

(Sepasang sepatu)

 

Asa dan Jordan saling tukar pikiran.

Jordan berpikir kalau lambat laun mereka harus mengatakan sesuatu atau setidaknya memberi sedikit petunjuk untuk Jiselle. Keduanya tidak boleh bungkam begitu saja, pasalnya Jordan yakin kalau hari dimana dirinya mengunjungi pameran seni kampus Asa, Jordan seperti melihat orang yang sudah lama tak dilihat oleh dirinya.

“Dia di Bandung?”  Tanya Asa penuh selidik.

“Gue yakin gue nggak salah liat, dia sama Jiselle Sa” Kekeuh Jordan.

“Terus kita harus ngapain? Itu urusan mereka kan?”

“Tapi Sa, gue yakin Jiselle masih belum inget apa-apa makanya gue kasian Sa, dia nanti gimana kalau harus nerima semua keadaan ini? Takdir kejam banget sih anjir”

Asa terdiam, otaknya pusing juga kalau diberi pertanyaan yang tidak akan sampai hati dia menjawabnya. 

“Tapi gue beneran nggak tau Nikie dimana Jo”

Jordan menghela nafas, dia yang selama ini mencari Nikie setiap pulang dari kampus tak kunjung mendapatkan jejak dimana sahabat mereka berada, dimanapun Nikie, perempuan itu hanya sedang berusaha menyembuhkan luka.

“Entah kapan luka itu bisa sembuh Jo, mungkin aja Nikie nggak akan pernah sembuh, dan Jiselle yang sekarang mulai sembuh nantinya bakal terluka lagi”

“Gue mau ada disamping mereka Sa, mereka berarti buat gue.. Jordan bego! Coba aja hari itu gue nggak telat dateng Sa, semuanya pasti baik-baik aja. Jihaass bangsaaat!” Racau Jordan sambil menarik rambutnya dengan frustasi.

“Bukan salah dia sepenuhnya okay, tenangin emosi Lo itu kalau emang Lo pingin ada disisi Nikie sama Jiselle”

“Sahabat-sahabat kita Sa, karena si bajingan itu semuanya rusak kaya gini, kita berantakan dan kita harus gimana buat balikin semuanya ke semula? Gimana Sa?”

Jordan terlihat kesal dan sedih secara bersamaan.

Asa menggeleng, adiknya masih saja belum mengerti dengan apa yang terjadi. Masih saja termakan salah paham, Jihas tidak sepenuhnya salah.

Asa kembali duduk didepan laptopnya. Tangan yang biasa digunakan melukis pemandangan senja, akhir-akhir ini lebih sering digunakan untuk mencari keberadaan sahabatnya di jejaring sosial.

Tanpa sepengetahuan Jiselle, Asa dan Jordan juga sama-sama mencari Nikie setiap hari tanpa henti, meski hasil akhirnya seringkali mengkhianati.

“Sa, gue mau nemuin Jihas”

“Malika! Gue cekek Lo ya kalau berani-berani buat onar”

“Nggak lah bangke, gue mau ngomong sesuatu aja ke dia”

“Kagak percaya! Anak keras kepala kayak Lo mana ada ngomong pake otak, yang ada ujung-ujungnya pasti pake otot. Udahlah diem aja Lo! Nambah-nambah beban pikiran Abang Lo aja”

“Heleh, wedus!!!”

Jordan kesal pada kembaran nya itu, dia pergi ke kamarnya sendiri karena sudah merasa ngantuk. Obrolan malam ini cukup membuat otaknya pusing.

 

 

*****

 

 

Jiselle sudah berpakaian rapi, dengan rambut yang diikat.

Menambah kesan manis dan lucu pada dirinya, siapapun yang melihat Jiselle pasti akan memberikan komentar yang sama persis. Dari mulai mata bulatnya, pipi chubby dengan tahi lalat kecil sebagai pernak-pernik diwajahnya, pemanis.

Diliriknya jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 07.30 pas dan seharusnya si panda garang sudah sampai dengan motornya.

Panjang umur.

“Cewek, kiiiiw”

“Kenapa sih kayak cowok alay”

Jihas turun dari motornya padahal Jiselle sudah mau naik, mereka jadi saling pandang.

Jiselle mundur saat Jihas yang lebih tinggi darinya terus berjalan maju dengan mata yang menatap dalam kearahnya. Lambat laun senyuman merekah dibibir pria berumur 22 tahun itu. Jihas Andrean tengah menatap tuan putrinya.

 

Greph…

 

“Gue kangen banget sama Lo Sel”

Jiselle membulatkan matanya karena kaget, Jihas tiba-tiba memeluknya. 

Mau dilepaspun susah, bahkan aroma parfum Jihas sudah bercampur dengan parfum yang dipakai Jiselle. Perempuan itu memberanikan diri untuk membalas pelukan Jihas karena jujur diapun rindu pada Jihas, berusaha mencari sandaran ternyaman didada bidangnya.

“Makanya kalau pergi tuh pamitan, udah kaya babi ngepet aja kabur tiba-tiba”

“Lah anjir, kok babi sih? Lo tuh yang babi ngepet, liat pendek gini bikin nyaman buat dipeluk”

“Jiii…”

“Hehehe, jangan ngambek tuan putri. Uuuhhh lama-lama gue telen juga Lo” Jihas greget melihat Jiselle dihadapannya.

Jihas melepaskan pelukannya dan segera memakaikan helm pada Jiselle. Seperti biasa mereka akan menikmati hari dengan motor kesayangan Jihas. Motor yang menjadi saksi bisu dimana yang awalnya bertengkar, lama kelamaan menjadi saling merindukan.

Hari ini rute perjalanan mereka sedikit berbeda, Jiselle agak rindu dengan makanan khas Korea. Tidak perlu heran, 3 tahun menetap disana sudah pasti memberi dampak yang begitu besar bagi kehidupannya, termasuk kebiasaan sehari-hari seperti makan dan cara berpakaian.

Little Seoul Bandung, tepatnya di Jalan Setiabudi. Siapa yang pernah menikmati nuansa Seoul di sana?

Tempatnya tidak begitu besar, tapi cukup nyaman untuk makan berdua. Warna Cafe yang soft dan lagu Korea yang diputar disana pun membuat siapapun lupa kalau mereka sedang ada di kota Bandung.

“Ji! Ngapain ngelamun cepet pesen makanannya”

“Gue agak heran sih Sel ini makanan apaan dah” Jihas bingung sendiri melihat menu yang tersedia.

“Hahaha, aku aja yang pesenin ya, kita makan Jajangmyeon sama paketan ini aja terus minumnya yang ini okay?”

“Ngikut aja lah Gue”

“Arraseo Jihas Oppa” 

“Idih, gue mah bukan Oppa-oppa, abah-abah!”

Setelah makan selesai, Jiselle menikmati lagu Korea kesukaannya sambil sedikit menggerakkan tangan dan kepalanya ala-ala perempuan yang sedang bahagia. Jihas melihatnya dengan gemas, sesekali pria itu tertawa dengan tingkah Jiselle.

“Neol saranghae, parampampam”

“Lagu apaan sih Sel, pusing gue nggak ngerti anjir”

“Gini nih tangan nya bentuk love coba Ji. Nah iya gitu, gerakin gini hahahah kamu mah malah kaya orang kesurupan”

“Sa.. sarang apa barusan?”

“Saranghae! Iihh budeg”

“Saranghae Jiselle, saranghae, sarangheyooo”

Jiselle sampai sakit perut melihat Jihas, pelayan Cafe Little Seoul juga sampai cekikikan melihat tingkah pelanggan yang tidak ada malunya seperti Jihas. 

Jihas senang karena Jiselle tertawa terus didekatnya. Mungkin rasa rindu pada Korea juga sudah terobati sedikit, meskipun Jihas harus bersedia jadi korban, pelenga-pelongo di tempat seperti ini.

Selepas dari cafe Little Seoul, Jihas melajukan motornya menuju cafe milik Ajun. Hari ini dia mau mengisi acara ditempat usaha sahabatnya itu, juga ingin mengenalkan Jiselle pada Ajun dan kebetulan May, pacarnya Ajun akan berkunjung kesana.

Di tengah perjalanan Jihas memberhentikan motornya didepan toko sepatu.

“Mau beli sepatu Ji?”

“Iyaa buat pacar gue”

“Hah? Pacar?” Kaget Jiselle.

“Hooh pacar gue, bantuin gue milih ya”

Jiselle sedang berusaha mencerna kata-kata Jihas, maksudnya pacar itu apa ya? 

Jihas sibuk memilih sepatu dan mendiamkan Jiselle, perempuan itu jadi duduk sendirian di kursi yang tersedia didalam. Jiselle sebenarnya tahu kalau Jihas bisa saja bercanda dengan ucapannya itu.

Pacar?

Tidak mungkin Jihas punya pacar tapi masih berani mengajaknya berpergian.

Tapi kalau iya?

“Jihas!” Jiselle berdiri dan menghampiri Jihas.

“Hmm?”

“Aku mau ngomong deh sama kamu, gini ya Ji, kamu punya pacar dan beliin dia sepatu, lah kurang ajar banget masih berani ngajak aku jalan. Jii aku tuh cewek, kok kamu bego sih!”

“Emang Lo cewek? kok gue baru tau”

“Bajingan!”  Umpat perempuan itu dan langsung pergi meninggalkan Jihas.

“Eeehh mulai deh ngumpat ke gue, ya terus kenapa Sel? kita kan temenan”

Ucapan Jihas benar tapi kok rasanya menusuk ya? Membuat Jiselle tidak terima dengan status pertemanan mereka berdua yang tidak jelas arahnya itu. Jiselle jadi diam saja dan terus berjalan keluar dari toko.

Jihas segera menyusul, meraih tangan Jiselle dan mendudukan perempuan itu di bangku luar. Jihas perlahan mencopot sepatu yang dipakai Jiselle dan memasangkan yang baru dia beli. Persis pangeran yang memasangkan sepatu kaca pada Cinderella.

Jiselle mengerjapkan matanya berkali-kali, sneaker birunya sudah berubah jadi sepatu cantik berwarna cokelat. Coba tanya pada Jiselle bagaimana perasaannya sekarang? Atau kalian mau menebaknya sendiri dari sorot mata yang berbinar dan pipi yang mulai memerah itu.

Jihas yang masih berjongkok dihadapan Jiselle tersenyum sampai kedua matanya menyipit. 

“A.. anu, aku disuruh nyobain aja ini?”

“Buat Lo tuan putri”

“Katanya buat pacar kamu”

“Kan Lo pacar gue, gimana sih”

Jiselle tersenyum, meskipun status itu tidak pernah dinyatakan Jihas secara resmi tapi dirinya begitu menyukai setiap perlakuan Jihas yang begitu manis dan menghangatkan hatinya.

‘kok dia nggak pernah nembak ya’ Pikir Jiselle didalam hati tapi ya sudahlah.

Jihas melajukan kembali motornya, Jiselle masih tersenyum menikmati langit sore dengan perasaan yang seakan sudah banyak terobati.

Jihas itu obat yang paling mujarab, hanya Jihas bukan yang lain.

 

 

*****

 

Pukul 18.36 malam.

Jiselle dan Jihas baru sampai di jalan Braga atau lebih tepatnya di Cafe milik Ajun, si pria lucu itu segera menyambut kedatangan Jihas dan Jiselle, tanpa dikenalkan pun Ajun sudah begitu mengenal Jiselle.

“Jiselle ya? gue tau banyak dari Jihas, kalau si kodok Afrika ini banyak tingkah Lo pukul aja ya Sel”

Jiselle tertawa dengan guyonan Ajun, Jihas sih sudah gatal saja ingin membaku hantam si Ajun rempong ini.

Ajun sangat berterimakasih karena Jiselle mau datang ke Cafe nya yang kebetulan sedang mengadakan launching menu baru, juga ada penampilan lagu yang akan dibawakan Jihas dan teman-teman pemusik lainnya.

“Eh May sayang, sini!” Panggil Ajun.

“Ih Ajun dicariin, kenapa?”

“Itu Jiselle sama Jihas udah dateng, katanya mau kenalan? Sana gih, eh tapi inget jangan bahas apa-apa ya selain yang kita bicarain”

“Iya-iya inget Ajun bawel” Jawab Mau mengacungkan jempol.

“Sip, makasih May sayangnya Ajun”

Perempuan berambut sebahu dengan tubuh tinggi semampai itu menghampiri Jiselle dan dengan ramah dan mengajaknya berkenalan.

Maya, atau yang Ajun sering panggil May, perempuan yang sebenarnya tahu banyak soal yang terjadi sekarang ini.

Bagi May, sahabat Ajun adalah sahabatnya juga. Untuk kebahagiaan Jihas, May akan ikut tutup mulut seperti kekasihnya, Ajun memang tak salah mempercayai seseorang.

“May cantik ya, kak Ajun pinter banget cari pacar” Puji Jiselle.

“Iya, itu gue yang ajarin Sel”

“Bisa nggak sih nggak usah GR. Udah sana Ji! Katanya mau siap-siap tampil, cepetan gih”

“Lo mau gue nyanyiin lagu apa?”

“Ehmm, bebas nih? Lagu apa ya? Lingsir wengi”

“Wah itu mah Lo sama si Ajun gue nyanyiin sampai kalian ngilang dari Cafe ini, kan kalian hantunya” Celoteh Jihas.

“Gue denger ya bangsat!” 

Ternyata Ajun mendengar ucapan Jihas.

Jiselle ingin Jihas menyanyikan lagu yang didengarnya saat pertama kali bertemu Jihas. Lagi dan lagi lagu andalan yang bisa menenangkan Jiselle, lagu sang penyanyi kebanggaan Indonesia, Gangga Kusuma yang berjudul Blue Jeans.

Jiselle duduk disamping May dan Ajun. 

Lihat kedua pasangan itu, menggenggam tangan satu sama lain. Mata Ajun selalu menatap May seolah tidak ingin berpaling, apakah Jihas juga begitu padanya? Jiselle bahkan selalu tak  berani menatap balik mata berpupil boba milik Jihas, terlalu gugup.

Saat Jihas bernyanyi dihadapan pengunjung Cafe pun Jiselle masih tidak berani menatap, Jiselle hanya berani menatap sepasang sepatu baru yang dipakai olehnya, sepatu cokelat pemberian dari Jihas.

“Wuiihh mantep pak Ekoooo, keren parah, mantulity, ajiiiibbb”

Ajun yang paling heboh bertepuk tangan memuji penampilan Jihas, May sudah malu saja dan menyikut kekasihnya untuk diam dan tidak berisik, tapi bukan Ajun namanya kalau tidak begitu.

“Gimana suara gue barusan? Gue nyanyi itu tulus dari lubuk hati gue yang paling dalem sambil  bayangin wajah Lo malem kemarin, pulesnya Lo tidur”

“Bagus banget, kamu cocok nyanyi lagu itu Ji tapi…”

“Tapi?” Heran Jihas.

“Tapi kan itu lagu tentang perpisahan gitu Ji, kaya seseorang belum terbiasa kehilangan pasangannya. Kamu ngalamin itu ya?”

“What? Kok Lo kepikiran kayak gitu?

“Nggak sih, kamu kan sering banget nyanyiin itu dan tiap bawain lagu itu kamu juga pake jeans biru kayak sekarang ini”

Jiselle memperhatikan celana jeans biru milik Jihas yang akan dipakai pria itu jika bernyanyi di cafe ini, khususnya lagu Blue jeans milik Gangga Kusuma. Jiselle berpikir kalau itu adalah pakaian favorit si panda.

“Ehmm, liriknya emang nyeritain gitu sel dan gue juga pernah ngalamin hal yang bikin gue nggak bisa lupa sama lagu ini, udahlah nggak perlu dibahas yang penting kan Lo disini sama gue, gue jadi bahagia lagi”

“Semangat ya Ji, kamu jangan sedih-sedih, kalau bisa bahagia terus gitu soalnya aneh kalau cowok kaya kamu murung atau sedih, kurang pantes”

“Iyaaa, makanya ada Lo disini, Tuhan juga tahu Sel kalau gue butuh siapa”

Jihas mengajak Jiselle menikmati lampu-lampu malam diluar.

Jihas memasangkan jaketnya pada Jiselle, perempuan itu baru saja sembuh dari demamnya membuat Jihas ekstrak melindunginya.

“Jiselle”

“Hmmm??”

“Kalau gue bilang sesuatu Lo mau dengerin gue nggak?”

“Mau aja, kalau nggak didenger juga kan kamu nyerocos terus, aku kan nggak budeg Ji ngomong aja”

“Gue suka sama Lo tapi gue maunya Lo suka juga sama Gue. Maksa pake banget ini mah”

“Haaaaaahhh???? Haha… apaan sih anjir.. hahahaha, Jiiii” Jiselle ngakak, ini ceritanya Jihas nembak atau menagih hutang sih?

“Tuh kan malah ketawa. Gue serius”

“Kamu tuh nggak bisa ya pake cara yang manis gitu, kok malah maksa”

Jihas menatap Jiselle dengan wajah diseram-seramkan, berharap perempuan manis itu akan jera untuk main-main dengan ucapan serius seorang Jihas. Lama kelamaan Jihas jadi gereget sendiri pada Jiselle.

“Hmmm, gimana ya? Jujur aku belum pernah kepikiran hal kaya gini sih Ji. Cinta itu kaya kita ketemu orang yang tepat terus momen-momen manis yang bikin perasaan kita muncul untuk satu sama lain kan?”

“Hmm terus?” Tanya Jihas

“Iya, sama kamu boro-boro ada momen manis, tiap hari aja harus adu mulut dalam segala hal”

“Momen manis kata Lo? Lo pikir ini di Korea?” Jihas mengernyitkan dahinya.

“Beda! ini Braga dan aturan disini cinta itu bukan cuman soal rasa tapi soal tempat dan siapa yang bikin kita sanggup mengulang waktu. Kebanyakan nonton Drakor sih Lo!” Sambung Jihas.

Jihas menarik bahu Jiselle untuk mendekat, Jihas tahu dua bola mata itu akan gugup berhadapan dengan sorot matanya. Apa iya Jiselle masih tidak mau mengaku kalau ini lebih dari sekedar momen dan perasaan yang dikatakannya.

“A.. aku nggak bilang ini di Korea, kok malah bawa-bawa Korea sih Jihas Andrean!”

“Yaaa habisnya Lo tuh ribet! nah kenapa liatnya kebawah mulu? Tatap gue coba kalau Lo nggak punya perasaan ke Gue”

Jiselle kaget dengan ucapan Jihas, pria itu menantangnya. Sesuatu yang memang tidak bisa Jiselle lakukan ketika bersama Jihas, yaitu menatap matanya.

‘dia mau aku mati kayanya’ Pikir Jiselle.

Mata kacang almond itu dipaksakan melihat kearah pria dihadapannya, senada dengan detak jantung yang semakin cepat dan nafasnya yang tercekat. Jiselle seperti hilang akal sehat ketika menatap Jihas di jarak yang begitu dekat.

Keduanya bertatapan satu sama lain, Jihas semakin tahu siapa yang dia cintai saat ini, perempuan istimewa yang kecantikannya tidak bisa digambarkan lagi oleh apapun.

“Gue sayang banget sama Lo” Jihas tersenyum kearah Jiselle.

Satu senyuman itu langsung mematahkan keberanian Jiselle untuk menatap Jihas lebih lama lagi, seperti tombol otomatis yang menyuruh kepalanya untuk menunduk saat itu juga.

Baik Jihas maupun Jiselle keduanya tertawa karena itu. Jihas yang gemas langsung memeluk Jiselle yang fokus menatap ke bawah, habis sudah dirinya diledek Jihas.

“Tuuuhhh nggak kuat kan, liat aja terus ke bawah”

“Nggak kuat, mata aku perih liat siluman panda jalan Braga”

“Sembarangan, gue telen juga Lo lama-lama”

“Lepas Ji, nanti banyak yang liatin, malu”

“Bodo amat, Lo belum ngaku kalau Lo suka juga kan sama gue. Sampai capek ngomongnya, udah berbusa nih mulut gue”

“Hahahah, iyaaa” Jiselle tertawa pelan.

“Apanya yang iya?”

“Iyaaa yang tadi itu iya”

“Iya apanya, harus jelas dong! Kaya bocah SD aja ngomongnya nggak jelas, apa coba bilang yang bener Jiselle”

Jiselle menarik nafas sejenak mengangkat kepala dan mengatakan kalau dia juga menyukai Jihas yang aneh dan bar-bar itu. Jihas senang mendengarnya, dia mengusak rambut Jiselle seperti memperlakukan bocah SD.

“Jangan liat kebawah lagi ya, mata gue kan disini”

“Soalnya dibawah ada ini, cantik banget” Cicit Jiselle. 

Jihas ikut melirik kebawah, kearah sesuatu yang Jiselle maksud, ternyata benda cantik itu,

 

‘Sepasang Sepatu’

 

 

열 – 10

(Hari Penuh Kesedihan)

 

Jiselle baru tahu kalau jatuh cinta itu seindah ini rupanya.

Dia pikir akan bertemu seseorang dengan cara yang romantis, namun nyatanya jalan yang mempertemukan dirinya dan yang terkasih adalah sebuah guyonan dan pertengkaran.

Bandung terlalu ramah padanya, mengenalkan seorang laki-laki yang mungkin hanya bisa ditemui sekali dalam seumur hidup.

“Jihas Andrean Sananta”

Setiap mendengar suaranya, menatap matanya, berada di dekatnya seperti bukan pertama kali Jiselle mengenal pria itu. Seakan sudah lama bersama, Jiselle merasa nyaman berada didekat  Jihas.

Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? 

Hari ini Jiselle tidak pergi kemanapun.

Sibuk memasak dengan sang nenek di dapur karena ingin membuat makanan untuk Jihas, pria itu tengah sibuk di rumah sakit tempatnya bekerja. Malam nanti Jiselle berniat mengantarkan makan malam untuk Jihas di rumah sakit.

“Kalau masak fokus, kok ini senyam-senyum begitu, gosong nanti” Nasihat Emak.

“Eh iya Mak, heheh”

“Masak buat siapa toh? Tumben-tumbennya kamu mau nemenin emak didapur biasanya juga diem aja di kamar main handphone”

“Yaaa kan aku udah gede harus, mulai belajar biar bisa bantu ibu sama Emak kalau masak ya kan?”

“Modus kamu”

“Eeeeyyy, keren banget bahasanya. Kebanyakan gaul sama si Asa ya??”

Neneknya terus memandangi wajah Jiselle yang hari ini cerah dan selalu tersenyum, senang rasanya setelah sekian lama tidak melihat senyum yang begitu bahagia itu diwajah cucunya.

“Siapa pacar kamu toh?”

“Hah? Eh apa? Nggaakkk”

“Cerita sama Emak, siapa namanya?”

“Ehmmm, a..anu.. namanya.. Jihas”

Jiselle tersenyum menyebut nama Jihas pada sang nenek, namun ekspresi wajah neneknya berubah ketika mendengar nama itu, buru-buru neneknya tersenyum lagi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca neneknya berbicara pada Jiselle.

“Masukin brokoli itu, bagus buat kesehatan”

“Oh gitu ya? Jihas suka nggak ya Mak?”

“Pasti suka, masukin yang banyak”

Neneknya terkejut mendengar nama Jihas terucap kembali dibibir Jiselle setelah sekian lama. Jihas Andrean Sananta, pasti adalah orang yang sama. Pria tampan yang menyimpan kenangan sekaligus luka, tahukah Jiselle tentang fakta itu? Bahwa neneknya sudah lama mengenal Jihas.

Jiselle menyelesaikan tugasnya dengan baik, makanan untuk Jihas sudah rapi dalam kotak makan yang disimpan didalam totebag berwarna merah. 

Perempuan pemilik nama Jiselle Haris itu segera berlari ke kamarnya untuk mengecek ponsel tapi tidak ada satupun notifikasi seperti yang diharapkannya. Mungkin Jihas sedang sibuk memeriksa pasien-pasien nya.

“Nikie, aku mau cerita sama kamu… Aku ketemu Jihas ditengah perjalanan aku nyari kamu, kamu mau kan kembali Nik? Aku kangen banget sama kamu”

Jiselle menyempatkan diri menatap nanar foto Nikie yang tergeletak di meja rias.

Jika Jihas sudah tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Jiselle akan meminta pria tampan itu untuk menemaninya mencari Nikie lagi. Sejauh ini belum ada informasi dari siapapun yang pernah Jiselle tanyai soal Nikie.

Dewi dan Danny pemilik toko kue Bawean’SweetHeart’ Bakery & Resto, mereka berdua adalah tim cepat dalam mengabari Jiselle jika ada info mengenai Nikie.

May dan Ajun sahabat Jihas, mereka sudah Jiselle ceritakan soal ini. 

Asa dan Jordan tidak perlu diragukan lagi, keduanya bahkan lebih bekerja keras untuk mencari keberadaan Nikie, meskipun sampai hari ini belum ada perkembangan informasi dimana Nikie berada.

Siapa lagi ya?

Jiselle rasanya pernah menitipkan pesan mengenai Nikie pada seseorang, Jiselle menyuruh orang itu untuk menahan Nikie jika bertemu suatu saat nanti, tapi Jiselle lupa pada siapa dia berpesan.

“Haidar!”

Jiselle baru ingat si jangkung yang lebih muda darinya itu. Benar juga, Haidar belum memberi informasi lagi selepas pertemuan di Jalan Merdeka kala itu, ya memang sulit karena mereka tidak punya kontak satu sama lain.

Apa harus Jiselle mencari Haidar ke kantor polisi di Bandung?

Tapi rasanya terlalu aneh jika dirinya tiba-tiba mendatangi Polisi itu tanpa ada janji bertemu terlebih dahulu. Mereka kan tidak saling kenal juga, maka dari itu Jiselle meminta Asa dan Jordan menemaninya ke kantor Polisi.

“Kantor Polisi?!” Kaget si kembar keluarga Hakim.

“Iya, kenapa?”

“Sel, ya ampun ngapain sih?  Gue tau si Asa tuh copet tapi tega bener mau Lo aduin ke polisi Sel, dia Abang gue satu-satunya Sel, kasian”

“Jordan! aku nggak bercanda ya”

“Heheheh, heh copet ngomong dong, diem mulu” Jordan menyikut lengan Asa disebelahnya.

“Apa Lo teroris?”

“Bangsat!” 

Sudahlah Jiselle lelah melihat dua orang ini, Jiselle berniat mengajak mereka makanya Jiselle undang ke rumah neneknya dan dua orang itu malah adu mulut, akhir-akhirnya sih numpang makan siang.

Asa dan Jordan tetap menolak ajakan Jiselle, mau tidak mau perempuan itu mengurungkan niat untuk bertemu Haidar.

Waktu terasa lama sekali berlalu, Jiselle merasa bosan karena hari ini dia tidak pergi kemanapun. Dia ingin sekali menghubungi Jihas lewat video call, tapi gengsi juga pikirnya nanti Jihas akan meledeknya.

‘baru segitu aja udah kangen, kasian deh Lo’

Terbayang jelas ucapan dan ekspresi wajah Jihas jika Jiselle benar-benar menghubunginya. Karena tidak ada kegiatan Jiselle memilih mencorat-coret buku kecil, buku yang dibelikan ibu karena tahu anak semata wayangnya itu suka menulis dan menggambar sesuatu.

Dulu Jiselle suka, sekarang dia sudah kehilangan banyak inspirasi, seperti hilangnya Nikie disampingnya.

Lama-lama dirinya BT sendiri, mengintai Asa dan Jordan yang masih betah main game diruang tengah. Sudah lupa diri saja mereka berdua itu.

Neneknya juga sedang pergi keluar sebentar.

“Saaa, Jooo”

“Hmmmm” Jawab keduanya berbarengan, tanpa mengalihkan perhatian mereka dari layar ponsel.

“Bagus ya, kompak bener nih anak kembar. Mau ngingetin aja ini rumah nenek aku, bukan basecamp mabar kalian”

“Oohh gitu ya?”

“Iyaaaa, udahan dong main game nya” Rengek Jiselle merasa diabaikan.

“Dia kurang perhatian Jo. Liat tuh liat mau gangguin kita, apa sih Sel? Sini gabung aja main game” Asa menahan tawa.

“Kalau ada Nikie pasti aku dibelain”

“Mulai deh bawa-bawa Nikie”

“Kalian nggak lupa kan sama Nikie? Keterlaluan banget kalau lupa”

Asa mematikan Ponselnya, juga merebut ponsel milik Jordan untuk disimpan dimeja. Pembahasan mulai mengarah pada hal serius, mereka harus memperhatikan satu sama lain. Ini tentang persahabatan mereka.

Asa menjelaskan dengan halus kalau mereka berdua tidak ada yang pernah lupa soal Nikie, bahkan sedetikpun selagi Nikie belum ditemukan keberadaannya maka Asa dan Jordan akan terus berusaha mencari Nikie.

Jiselle tidak perlu merasa khawatir.

“Tapi aku udah hampir satu bulan di Bandung, nggak ada hasil apa-apa Sa, bulan depan aku mau balik ke Korea”

“Seriusan? Sel gue pikir Lo mau terus disini. Ngapain sih balik ke Korea? Udah stay aja disini bareng kita” Jordan protes.

Jiselle menggeleng dan mengatakan kalau itu semua keputusan ayah dan ibunya, lagian yang Jiselle cari pun tidak kunjung ketemu.

Nikie tidak mau menemuinya bukan?

“Kalau seandainya kita ketemu Nikie, Lo bakal tetep di sini?”  Tanya Jordan

“Iya, aku punya alesan jadinya”

“Apapun jawaban Nikie nantinya?”

Jiselle mengernyitkan dahi pada pertanyaan Jordan. Dia mencium ada kejanggalan dari pertanyaan yang terucap dari bibir si jangkung itu.

“Jordan kok kamu bilang kayak gitu? bentar, ini perasaan aku atau kalian berdua emang tau sesuatu, kalian sembunyiin apa dari aku? Sa, jawab Sa! Jordan nggak akan jawab aku, masa kamu juga?”

Jordan membuang muka kearah lain, entah dirinya diambang keraguan. Bibirnya ingin sekali berterus terang tapi hatinya mengatakan untuk tetap diam. Ingat yang Asa bilang sebelumnya, jika mereka yang menjawab maka Jiselle akan semakin terluka.

“Asa? Aku capek ya, udah paling bener aku balik lagi ke Korea. Percuma disini, semuanya udah beda. Kalian semua berubah”

“Sel bisa nggak berhenti buat curigain kita?” Final Asa dan itu berhasil membuat Jiselle diam.

“Kita sahabatan udah belasan tahun dan kamu masih aja ragu sama apa yang aku dan Jordan lakuin. Kita berusaha kok, kita juga cari Nikie, dan kalau kamu nuduh aku sama Jordan nutupin sesuatu, selamat tuduhan kamu benar”

“Asaaa goblok!” Maki sang adik.

Jordan kaget sendiri atas ucapan Asa, kenapa malah dirinya sendiri yang melanggar perjanjian.

“Tapi jangan harap kalau kita bakal ngucapin sesuatu, jawaban yang emang bukan hak kita, sorry Sel kita nggak segoblok itu buat hancurin sahabat kita sendiri” Asarman pergi, baru kali ini dia terlihat kesal.

Mungkin Jiselle sudah keterlaluan, setiap bertemu Asa selalu dia yang mengeluh dan mengadu pada laki-laki baik itu. Asarman pun di posisi yang sama bukan? Sama-sama kehilangan Nikie.

Kalut mencari seseorang yang biasa hidup bersama mereka, kini kabarnya tak terdengar sedikitpun.

Apalagi Nikie pernah jadi perempuan yang berhasil mencuri hati seorang Asarman Hakim. Jiselle sadar, harusnya dia bisa jadi tempat berkeluh-kesah untuk Asa juga, bukan terus menerus dirinya yang menjadi beban pikiran Asa.

“Sel, jangan dipikirin ya, itu tadi si Asa kalah main game sama gue. Udahlah si monyet emang lempeng kaya gitu kan, keep your Chin up okay?”

“Nggakpapa Jo aku yang salah, nanti bilangin ya sama Asa, aku minta maaf” lirih Jiselle dengan suara yang sedikit bergetar.

“Seeelll”

“Apa? Udah nggak usah lebay, aku nggak papa kok. Maaf ya udah ngerepotin kalian terus. Aku janji bakal lebih kuat lagi, aku bakal cari Nikie sampai ketemu. Apa yang kalian tahu tentang semua ini kalian simpen aja baik-baik”

Jiselle menarik senyuman untuk menahan air matanya.

“Aku percaya sama kalian berdua”

 

 

*****

 

 

Jordan pulang kerumah dan mendapati Asa yang sedang rebahan dikamarnya, hampir saja pria berkulit tan itu kena serangan jantung saking kaget Asa ada dikasurnya.

“Tumben Lo”

“Kenapa? Nggak boleh?”

“Eh monyet dengerin gue ya! Gue nggak paham sama konsep Lo, Lo  yang nyuruh gue nggak ngomongin apapun ke Jiselle tapi mulut Lo sendiri yang hampir bongkar semuanya, bego banget sih gue punya Abang! Sok keren aja Asarman si pelukis dan berjiwa seni blablabla tapi otak nggak dipake” Amarah Jordan sudah naik sampai ubun-ubun.

“Ngapain bawa-bawa seni bangsat! otak Lo aja yang nggak nyampe sama ide gue” Jawab Asa dengan kalem.

“Maksud Lo?”

“Gue sengaja bilang kayak gitu buat mancing ingatan nya Jiselle”

Jordan mendadak diam menjadi patung, memang sih kalau dibandingkan dengan dirinya yang suka asal bertindak tanpa berpikir, Asa adalah pemikir yang handal sebelum bertindak. Jordan mengakui itu.

“Jiselle bakal terus curiga ke kita, dan kalau kita kasih tau dia dengan keadaan kayak gitu ya dia nggak akan terima, dia bakal hancur Jo! Lo paham kan?”

“Beda ceritanya kalau dia tahu semua dari ingatan dia sendiri, itu maksud gue” sambung Asarman.

Jordan mengangguk paham, berarti Asa tidak benar-benar marah tadi. Hanya berusahalah memancing ingatan Jiselle saja. 

“Iya ya Sa, gue malah lupa kalau Jiselle hilang ingatan”

Apa? Jiselle hilang ingatan?

 

 

*****

 

 

Jihas membuka Jas putihnya dan menyimpannya di meja ruang kerja.

Hari ini dia baru selesai membantu operasi seorang dokter spesialis bedah. Sebenarnya bukan tugas Jihas, namun tidak ada salahnya kan membantu sesama rekan kerja.

Diliriknya jam yang sudah berlalu begitu cepat, baguslah dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu Jiselle nanti malam.

Tok.. tok..tok..

Seorang perempuan tinggi dan berkulit putih masuk kedalam ruang kerja Jihas. Dia adalah teman Jihas sekaligus perawat juga di rumah sakit ini, kalian ingat kan perempuan yang memberikan buku dihari pertama Jihas bertemu Jiselle? Ya dialah perawat itu.

“Eh Lo yus? Ada apa”

Yusi masuk sambil tersenyum manis kearah Jihas.

“Makan bareng yuk Ji, akhir-akhir ini Lo keliatan sibuk aja gitu dan jarang keliatan di rumah sakit, kali aja Lo mau berbagi cerita sama gue sambil makan malem bareng mau nggak?”

“Makan malem? Duh sorry nih gue udah ada janji. Lo ajak aja temen-temen yang lain aja Yus”

Yusi menatap Jihas sendu, pria itu lagi-lagi menolaknya.

“Ji, bisa nggak sih Lo nggak bersikap dingin ke gue?” Ucap Yusi dengan rasa kecewanya.

“Hah? Maksud Lo yus? Emang sikap gue kayak gini kok, perasaan dari orok gue kaya gini”

“Semua cewek yang deketin Lo, Lo acuhin! Termasuk gue Jihas, emangnya gue kurang apa? Kasih tau gue Jihas gimana caranya dapetin hati Lo itu”

Jihas bungkam sekaligus kaget dengan teman kerjanya yang satu ini, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba berkata seperti itu.

Jika boleh jujur, Jihas bahkan tidak terlalu sering berinteraksi dengan Yusi selain masalah pekerjaan. Yusi bukanlah satu-satunya yang memiliki perasaan pada dokter tampan itu, tapi hanya perempuan ini yang berani mengatakannya langsung, bahkan membentak Jihas.

“Jawab Jihas! Jangan diem aja”

“Ya gue….”

“Nggak bisa!” Suara diambang pintu mengagetkan keduanya.

Seorang perempuan ber-hoodie cokelat dengan Bucket Hat yang bertengger cantik dikepalanya tiba-tiba bersuara di ambang pintu ruang kerja Jihas, dengan anggun dirinya berjalan menghampiri Yusi.

“Jihas tuh sukanya sama yang otak batu, bukan sama cewek kegeeran yang mudah keliru. Sorry to say ya, tapi kakak cantik boleh keluar, pintunya sebelah sana kalau lupa” 

 

Jdeeer!

 

Jihas melihat sisi lain dari seorang Jiselle, lagi-lagi dirinya dibuat gemas dengan tingkah si manis terkasih nya itu. Lihat saja bagaimana lucunya Jiselle mengusir Yusi secara halus dan estetik, anak itu benar-benar.

“Hahahaha, aduh perut gue” Jihas menunduk dibawah meja sambil memegang perutnya.

“Ji! Kamu gimana sih kenapa malah diem aja? Oh kamu mau nerima dia ya? Dasar buaya!!!”

“Eh Sel, aduh ini perut gue jangan dicubit anjir”

Jihas langsung memeluknya saja, salah sendiri tidak bisa diam dan menuduh Jihas yang tidak-tidak, mana ada Jihas kepikiran menyukai perempuan selain dirinya ini.

“Gue seneng liat Lo barusan, kali-kali Lo yang lindungin gue bisa kali ya?”

“Ya bisa sih tergantung situasi, lagian serem banget sih cewek tadi pake marah-marah segala sama kamu Ji. Aku seneng juga sih marahin kamu, tapi kalau orang lain yang gitu aku nggak terima”

“Emm masa? Uuuh lucunya otak batu kesayangan gue”

“Iihh… dasar si nggak ada otak, lepas ah bau asem juga”

Jihas tercengang dan langsung melepaskan pelukannya, mencium bau badan nya sendiri dan sadar kalau Jiselle hanya mengerjainya.

“Lo cemburu nggak barusan?”

“Nggak tuh”

“Seriusan? Ngaku dong Sel, gengsian amat jadi cewek. Bilang kalau Lo cemburu nanti gue kasih hadiah deh”

“Asli? Seriusan nih? Apa hadiahnya Ji?”

“Ya bilang dulu aja, sini”

Jihas menarik Jiselle untuk duduk dikursi miliknya sementara pria itu berjongkok dihadapan Jiselle.

“Kamu capek ya Ji?”

“Lumayan, tapi kan udah ada Lo jadi gue nggak capek lagi”

Jiselle mengusap rambut Jihas dengan lembut. 

“Cepetan bilang!!”

“Iyaaa iya, Jihas aku tuh cemburu kalau ada yang suka sama kamu, terus kalau kamu notice cewek lain lebih dari aku, itu juga aku bakal cemburu pake banget. Apa ya? Aku bakal nangis dan ngadu sama nenek aku biar kamu digebukin pake panci hahahah”

“Yang serius dong Jiselle, nggak jadi ah hadiahnya”

“Huh dasar baperan, ini juga serius Ji”

“Ulang coba”

“Berbusa nih mulut, yaudah Jihas ganteng aku cemburu pake banget, aku sayang kamu okay? Nah sekarang mana hadiahnya?”

Jiselle mengulurkan kedua tangannya seperti anak kecil yang meminta sesuatu. Jihas pun berdiri dan mengecup kening perempuan manis itu, cukup lama sampai Jiselle kaget dibuatnya.

“I love you Jiselle” bisik Jihas.

Jiselle sedari tadi tersenyum manis. Dirinya dan Jihas sudah duduk dimeja kecil yang ada diluar mini market, Jihas baru saja membeli kopi untuk dirinya dan minuman rasa Matcha untuk Jiselle. 

“Nih cepet makan, aku yang masak”

“Widiihhh mantap betul, eh brokoli? Lo inget gue suka brokoli sel?”

Jihas melahap brokoli, sayuran kesukaannya.

“Hah? Emangnya kamu pernah cerita sama aku Ji? Nggak pernah tuh, ini sih nenek aku yang nyuruh masukin brokoli yang banyak”

“Nenek kamu?”

“Iyaaa, dia tahu kalau aku punya pacar hehe. Aku sebutin aja nama kamu Ji, nggak papa kan?”

Jihas terkejut, dia berusaha bersikap tenang didepan Jiselle. Ditatapnya brokoli itu, ternyata nenek Jiselle masih mengingatnya.

Jihas melahap makanan itu dengan mata yang berkaca-kaca, semakin dia mengingat semuanya semakin perih juga perasaanya. 

“Jihas? Eh kenapa nangis sih? Nggak enak ya masakan aku? udah jangan dimakan nanti kamu sakit perut”

“Nggak kok, gue cuman..”

“Jiiii, jangan nangis, nanti aku ikut nangis juga”

“Sel, gue udah lama nggak makan masakan orang lain jadi gue gini, terharu”

“Nggak ah kamu bohong Ji! Sini aku lap dulu, jangan nangis dong, malu udah gede juga”

Jiselle mengelap air mata Jihas dengan tisu, panik sekali dia melihat Jihas yang biasanya bar-bar malah menangis begitu. Jiselle pikir masakan nya yang tidak enak dan membuat Jihas tersiksa.

“Ayo makan lagi yang banyak nanti aku masakin kamu yang lain”

“Udah brokoli aja, gue suka”

“Baru tahu panda makan brokoli”

Jihas terkekeh dengan mata sembab, Jiselle masih saja bisa mengusili dirinya yang menangis itu.

Malam ini keduanya berjalan kaki menikmati bintang dan bulan yang menatap mereka dari kejauhan diatas sana. Jiselle sedari tadi menatap wajah Jihas yang nampak kelelahan, mata sipit itu menatap lurus ke depan seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Jihas”

“Hmm… kenapa? Lo kedinginan ya?”

“Nggak, anu.. ehmm… Kamu baik-baik aja kan?” Jiselle nampak ragu.

“Haha, gue baik-baik aja Sel. Selama bareng Lo gue akan lebih dari sekedar baik-baik aja”

Jiselle terdiam menatap bahu yang berjalan dihadapannya, dia membuang nafas dengan lelah dan mulai mengatakan sesuatu.

“Tadi siang aku berantem sama Asa”

Jihas menghentikan langkah begitu mendengar ucapan Jiselle, Jihas segera berdiri tepat berhadapan dengan Jiselle untuk menanyakan maksud dari Jiselle yang bertengkar dengan Asarman.

“Dan dari ucapan Asa aku sadar, kalau nggak seharusnya aku jadi beban kalian para laki-laki. kalian itu kuat, tapi kalian juga butuh sandaran buat mengadu apapun yang kalian rasain. Aku mau kamu lakuin itu ke aku Ji, sini ngadu sama aku, apapun”

Jihas menatap perempuan itu dengan dalam, dadanya mulai berdenyut nyeri sampai kedua bola matanya berkaca-kaca, pria itu menundukan kepalanya dibahu Jiselle yang lebih pendek darinya, rasanya tenang sekali dan kesedihan itu menghilang.

Jiselle merasa Jihas memang tengah butuh tempat untuk bersandar, semacam ada luka di diri Jihas yang bisa Jiselle lihat meskipun entah apa penyebabnya.

Pertama kali bertemu Jihas, celana jeans biru dan lagu itu.

Apakah masa lalu Jihas yang membuatnya seperti ini?

“Jeans biru yang kamu pake”

“Hmm? Celana ini? Gue suka aja..”

“Kayanya lebih dari itu Ji soalnya kamu sering nyanyiin lagu blue jeans juga kan? Nggak mau cerita gitu ada kisah apa didalamnya?”

Jihas menatap kedua mata Jiselle dan tersenyum simpul. 

“Blue jeans, lirik lagunya punya kenangan tersendiri buat gue Sel. Gue hampir kehilangan seseorang, dan mungkin di masa depan gue bisa aja kehilangan orang itu lagi”

“Siapa orang itu Ji?”

“Itu privasi buat gue Sel, masa lalu yang paling nggak bisa gue ungkit saat ini, itu nyiksa gue tanpa pernah ngasih gue waktu, sorry gue nggak bisa cerita lebih banyak lagi, maafin gue ya”

Jiselle mengangguk paham, meskipun Jihas sudah bersamanya tetap saja dia perlu menghargai privasi dan batasan yang Jihas bangun untuk kebaikan dirinya sendiri.

Entah ada apa dengan hari ini.

Pertengkaran Jiselle dengan Asa tadi siang, mata berkaca-kaca milik neneknya sewaktu memasak tadi dan sekarang Jihas yang sedang bersedih.

Jiselle paham jika kita tidak mungkin merasa bahagia setiap hari, sesekali kita juga harus menerima rasa sedih sebagai tolak ukur agar kita tidak lupa diri saat berbahagia. Jiselle sudah dewasa, sudah mulai menerima segala sesuatunya.

Hari ini hari Rabu ya?

 

‘hari penuh kesedihan’

 

 

열한 – 11

( Tolong )

 

Pertengkaran kecil antara dirinya dan Asarman waktu itu membuat Jiselle sedikit canggung ketika berpapasan dengan pria kelahiran bulan Agustus tersebut. 

Jiselle sedikit kaget dan langsung memandang kearah lain ketika bertemu Asa didepan pintu rumahnya, Sementara si pencinta seni itu keheranan karena Jiselle terlihat buru-buru mau pergi, padahal hari masih pagi.

“Mau kemana?”

“Ehm, keluar sebentar Sa, lah kamu sendiri mau ngapain kesini pagi-pagi?”

“Emak mau pergi ke rumah bibi kamu kan?”

Jiselle ber-oh ria mengingat neneknya memang mau menjenguk bibi Jiselle yang baru saja melahirkan anak kedua.

Oh begitu rupanya, Asarman mendadak jadi penjaga rumah sewaan. Palingan anak itu akan bermain game dan ngemil bersama Jordan yang katanya akan datang agak siang. Jiselle mengangguk dan berpamitan pada Asa untuk segera berangkat.

“Sel, soal yang kemarin…”

“Hmm, kemarin yang mana? Oh yang kamu ngabisin cookies punya aku ya? Bayar ya Sa! Aku nggak terima”

Jiselle langsung mengalihkan pembicaraan membuat Asarman tertawa kecil, sahabatnya ini memang suka begitu. Syukurlah kalau dia sudah melupakan amarah Asa yang kemarin meskipun itu hanya pancingan agar dirinya mengingat sesuatu.

Asarman menutup pintu ketika pemilik rumahnya sudah pergi dari pandangan mata.

Jiselle sedikit berlari untuk sampai di jalan yang tak jauh dari rumahnya. Sepagi ini? Siapa lagi kalau bukan Jihas Andrean yang membuatnya ketar-ketir mandi pagi, berdandan dan akhirnya berlari menghampiri pria panda itu.

Jihas terus menelponnya berkali-kali dan bilang ingin mengatakan sesuatu pada Jiselle.

Saat Jiselle sampai, Jihas dengan pose anehnya sedang memegang bunga didekat motor juga helm yang sudah tidak betul posisinya menambah kesan lucu sekaligus ngakak ketika dilihat.

“Nah muncul juga nih orang” Ujar Jihas tanpa bergerak.

“Ya ampun Ji pose apaan sih itu? Benerin dong helmnya kamu udah kaya orang gila aja” Jiselle ngakak.

“Sel gue udah 1 jam ya kaya gini, heran deh sama cewek lama bener dandannya

Jiselle masih tertawa menanggapi Omelan Jihas, tidak ada seramnya sama sekali malahan lucu.

Jihas sedikit manyun dan menyuruh Jiselle memakai helm karena mereka harus segera pergi ketempat tujuan, tunggu! Bukannya Jihas ingin mengatakan sesuatu?

“Kamu neror aku dari pagi lho, disuruh bilang ditelpon nggak mau, coba bilang sini aku mau denger sepenting apa sampai kamu bikin aku rusuh, aku mau dengerin apa yang mau kamu ucapin Jihas Andrean”

“Nggak jadi!” Singkat Jihas.

“What the? Kamu beneran bikin aku kesel ya kalau nggak jadi ngomong”

Jihas menyalakan mesin motornya dengan lempeng, Jiselle ingin sekali mencubit pria itu tapi pandangannya teralihkan pada Bucket bunga yang dipegang Jihas. 

“Ehm, By the way bunganya mau terus dipegang kah? Nggak mau dikasihin gitu Ji?” Kode si manis.

“Jangan GR! Siapa bilang ini buat Lo, ini mah buat ngasih makan kambing!”

Ok fine!

Tolong beri Jiselle stok kesabaran.

Jihas tersenyum kecil, baiklah sudah cukup mengerjai perempuan terkasihnya itu. Jihas meraih tangan Jiselle dan memberikan bunga itu untuknya.

“Gue mau bilang kalau hari ini Lo cantik banget, pacar gue cantik no debat”

Jiselle mengerjapkan matanya dengan lucu.

“I..itu aja Ji?”

“Hooh, kenapa? Kurang panjang? Sorry aja sel gue mah bukan pejabat, Lo kalau mau dengerin pidato panjang lebar datangnya ke ustadz, biar sekalian diceramahin sama di ruqyah”

“Yakali, thanks ya bunganya nggak jadi dikasihin ke kambing”

“Si kambing nggak usah dibawa-bawa juga! gue bercanda doang, lagian tadinya sih gue PD mau ngasihin bunga itu tapi pas liat Lo gue jadi insecure, tahu nggak? Bunga yang gue pikir paling bagus ternyata kalah cantik sama orang didepan gue”

Jiselle sudah mau pingsan ditempat, pipinya merona merah mendengar ucapan Jihas. Apalagi pria itu menatapnya sambil tersenyum.

Mungkin lain kali orang-orang harus belajar cara menerbangkan hati dari seorang Jihas. 

Bukan kali pertama Jihas menggombal tapi Jiselle masih saja merasakan debaran yang kuat ketika laki-laki itu bertingkah pada dirinya.

Motor melaju menuju jalan yang tidak biasanya mereka lewati, sepanjang jalan hanya ada pohon Pinus dikanan dan dikiri mereka, sepi juga. Jiselle terdiam karena Jihas juga tidak mengoceh apapun, tidak seperti biasanya. Kemana si panda bar-bar akan membawanya? Jihas tidak punya niatan jahat kan pada Jiselle?

“Ehm Ji? Kok kita nggak nyampe-nyampe ya?”

“Hmm… Bentar lagi kok”

“Tapi kita mau kemana? Perasaan ini bukan jalan yang biasa kita lewatin, k.. kamu nggak akan bawa aku kabur kan?”

Kabur? Jihas terkekeh mendengar kata itu, kalau boleh Jihas juga ingin mengikuti ego nya untuk membawa perempuan yang amat dicinta itu untuk kabur, jika takdir tidak memberinya kesempatan kelak.

Apa boleh Jihas senekad ini?

“Sel boleh nggak?” Tanyanya rancu.

“Hah? Boleh apa?”

“Buat milikin Lo selamanya?”

“Haha, nggak tau tanya aja sama Tuhan di izinin apa nggak”

Jihas melajukan motornya sedikit lebih kencang, kalau dipikir-pikir jalan yang jarang dilaluinya ini memang lebih sepi dari terakhir dirinya datang kesini, Jihas ngeri juga rupanya.

“Sel, gue mau bawa Lo kabur ke penghulu”

“Anjir, Ji! Turunin nggak! Gila ya kamu”

“Hahaha, diem deh nanti jatuh. Lo dari tadi nggak mau diem gue lempar juga ya ke semak-semak”

“Emang ya Jihas aku tuh punya firasat nggak enak sewaktu diajakin kamu kesini, hutan semua lagi! Eh? Jangan-jangan kamu mau numbalin aku ya? Ngaku kamu! Aku tahu kok kamu ikut pesugihan”

Jihas tertohok mendengar dirinya dituduh ikut pesugihan.

Tidak paham dengan Jiselle yang semakin hari semakin random pemikirannya. Lama-lama sikap bar-bar Jihas menempel kuat pada perempuan itu. 

Mungkin akibat mereka bertemu setiap hari.

Sepanjang perjalanan itu mereka habiskan dengan debat, dimana Jiselle yang jengkel terus digoda oleh Jihas yang senang sekali mengerjainya.

Akhirnya Jihas dan Jiselle sampai ditujuan, Villa.

Bangunan besar berwarna putih itu adalah Villa milik keluarga Jihas, jika kalian berpikir didalamnya ada banyak orang yang sedang berkumpul jawabannya adalah salah. Keluarga Jihas sedang pergi ke luar kota, menyisakan dirinya seorang diri yang tidak mau ikut karena ingin liburan bersama Jiselle.

Definisi dari bawa kabur yang sesungguhnya.

Jiselle bahkan langsung merengek minta diantarkan pulang kerumah neneknya lagi saat Jihas mengatakan kalau dia mau membawa Jiselle menginap.

“Sel, please lah didalem juga ada May sama Ajun kok” Rayu Jihas karena Jiselle terus minta pulang.

“Ji, aku belum izin sama sekali ya, aku ragu juga bakal dapet izin”

“Sekali aja, besok malem gue anterin lagi Lo pulang. Sel, gue pengen banget ngelewatin malam pergantian tahun bareng Lo, emang Lo tega liat gue jadi obat nyamuk diantara nyamuk cikungunya kaya si Ajun”

“Mulai deh ngeledek orang, duh kayanya nenek aku..”

“Gue yang izin sama nenek Lo” Potong Jihas antusias.

Jiselle yang awalnya ragu perlahan menyerahkan Handphone miliknya agar Jihas bisa meminta izin pada sang nenek. Jihas sedikit berani untuk berkomunikasi dengan wanita paruh baya itu.

Wanita yang begitu baik, dan tahu kalau Jihas benar-benar tulus mencintai cucunya.

 

Drrrtt…

 

Panggilan tersambung namun tidak kunjung diangkat padahal Jihas sendiri sudah deg-degan, sudah lama dia tidak berbicara dengan sosok tersebut dan sekarang momen itu akan didapatnya lagi.

“Halo? Jiselle?”

 

Deg

 

Jihas menahan suara, nafasnya tercekat begitu telpon diangkat seseorang diseberang sana. 

Jiselle menatapnya heran, kenapa pria itu tidak kunjung berbicara dan malah diam mematung ditempat, bahkan raut wajah Jihas juga berubah seperti panik. Siapa yang mengangkat telepon?

“Halo, oh Asa? Emak mana? Aah belum pulang ya? yaudah mau titip pesen kalau aku hari ini nginep dirumah temenku ya. Hah? Ehm cewek kok jangan khawatir,nih mau ngomong sama orangnya?”

Jiselle dan Jihas mendadak kaget, beruntung May dan Ajun keluar tepat waktu. Kekasih Ajun itu segera mengambil alih handphone untuk meyakinkan Asarman.

Mendengar suara May, Asa pun mengizinkan Jiselle untuk menginap.

Mereka berempat langsung kegirangan, akhirnya malam tahun baru ini akan mereka lewati dengan suasana berbeda, yaitu pesta kecil di Villa milik Jihas. Ajun bahkan sudah belanja sedari tadi, membeli makanan dan segala kebutuhan mereka selama menginap di Villa. Epiknya lagi pria itu harus membawa koper milik Jihas, belum lagi ransel dan barang bawaan lain.

“Bagus ye Lu, udah bikin gue jadi babu” omel Ajun.

“Sorry Jun, haha. Tahu sendiri kan ini tuan putri harus gue jemput dulu”

Ajun yang melirik arah pandangan Jihas langsung mengubah raut wajah kesalnya jadi seramah pelayan-pelayan resto, dia menyapa Jiselle yang berdiri didekat May membuat Jihas ingin meninju wajahnya.

“Eh ada Jiselle, seru banget ya bisa gabung, fix sih ini bakal jadi malam tahun baruan yang super rame” Ajun basa-basi.

“Lebay Lo badak albino!”  Ledek Jihas.

“Sirik Mulu Lo kutil Anoa!” balas Ajun.

Baku hantam adalah jalan ninja mereka.

May dan Jiselle lebih memilih merapikan barang dilantai dua karena kamar mereka disana, Jiselle yang tidak prepare apapun ternyata sudah disiapkan segala keperluan nya oleh Jihas, memang idaman si panda satu itu.

“Didalemnya ada baju buat Lo, May sih yang beliin karena dia sama-sama cewek, yakali gue haha nanti yang ada gue beliin boxer”

“Suka nggak ada otak ya kamu tapi thanks ya, sorry ngerepotin”

“Nggak ada kata ngerepotin kok buat cantiknya Jihas yang satu ini, kan gue juga yang bawa Lo kabur sel”

Jihas meninggalkan Jiselle dilantai dua untuk kembali ke bawah, jangan sampai Ajun marah karena tidak dibantu memasangkan alat untuk barbeque-an malam nanti. Ini pastinya jadi malam pergantian tahun yang paling menyenangkan bagi Jihas, karena Jiselle bersamanya lagi kali ini.

Desember yang penuh warna ini harus berganti menjadi Januari yang kedepannya penuh dengan teka-teki.

Rasa kehilangan juga pertemuan dengan Jihas di jalan Braga merupakan catatan kecil yang diabadikan oleh bulan seribu cerita ini.

Jiselle menatap Jihas sekilas sebelum kembang api mewarnai langit malam mereka dengan bunyi yang begitu keras. Sesekali Ajun dan May ikut menjerit karena kaget.

“Happy new year, everyone! Gue harap tahun ini bisa nikahin May dengan mahar berlian sekalian sama pertambangannya! Please Tuhan gue mau jadi sultan!” teriak Ajun membuat yang lain ngakak.

“Apaan sih Ajun? Bikin malu aja. Tapi tolong kabulin ya Tuhan please” Pinta May sambil menghampiri Ajun yang menatap langit bertabur kembang api.

Malam itu mereka membuat harapan-harapan kecil sambil menadah langit, menatap indahnya bintang, mengucap syukur akan kebahagiaan mereka hari ini.

“Make a wish? Apa harapan Lo sel?” Tanya Jihas serius. 

Mau tidak mau sorot mata kacang almond itu harus beralih pada mata boba milik Jihas, Jiselle menatap pria itu dalam.

“Bahagia dunia akhirat Ji” 

“Yaelah Sel, jawab yang romantis kek”

Jiselle terkekeh pelan.

Matanya menatap bintang sekali lagi, menarik nafas pelan dan melirik kearah Jihas untuk mengatakan apa yang baru saja dia harapkan pada semesta.

“Jihas…”

 

Chup

 

Mata itu membulat seketika, begitu satu kecupan manis mendarat dipipinya yang chubby. Jiselle menatap Jihas kaget, pria itu baru saja menciumnya, Jihas tersenyum sampai kedua matanya menyipit.

“Happy new year Jiselle, gue harap Lo selalu bahagia dan terus ada disamping gue. I Love you, never end”

Itulah harapan seorang Jihas, kebahagiaan Jiselle dan keinginannya agar Jiselle bisa terus berada disisinya.

Jika harus jujur Jiselle juga baru saja mengatakan hal yang sama persis pada langit malam, tentang harapannya untuk bisa bahagia bersama orang-orang terdekat, utamanya Jihas Andrean yang tak pernah luput dari keinginan nya.

“Thanks Ji, I Love you too”

Malam itu mereka habiskan dengan menikmati kembang api, bertukar cerita dan menyantap makanan yang mereka buat sendiri, Barbeque adalah poin utama di malam pergantian tahun.

Jam menunjukan pukul 03.15 dini hari.

May memilih pergi ke kamar karena tidak kuat dengan rasa kantuk yang sudah menyerangnya, Ajun sang kekasih malah sudah tepar duluan karena kekenyangan. 

“Ajun sayang… Woy! Tau ah, bye aku mau bobo cantik” Ucap May meninggalkan Ajun.

“Jun, hey bangun Lo mau jadi santapan nyamuk apa? Pindah gih!”

“Berisik banget sih anjir, gendong gue Jihas!”

“Najis! Nggak ngotak ya Lo, gue disuruh ngangkat badak segede gini, tobat gue”

Jihas berjalan masuk kedalam Villa menyusul Jiselle yang sudah berjalan beberapa langkah didepannya, bodo amat dengan Ajun yang berteriak-teriak dibelakang, Ajun sepertinya sudah tidak sanggup dengan kekenyangan ini.

“Sel?”

“Hmm?”

Jihas mengernyitkan dahi, Jiselle berjalan tapi matanya sudah terpejam. Sedikit ngakak juga saat melihat perempuan itu mati-matian membuka mata tapi malah tertutup lagi karena rasa kantuk.

“Ngantuk ya Bu haji?”

“Nggak”

Lain dikata lain lagi yang terjadi, baru saja naik satu tangga Jiselle sudah salah langkah dan hampir saja jatuh.

“Eit, eh untung nggak jatuh! Udah sini”

Jihas mengalungkan tangan Jiselle kelehernya dan segera menggendong perempuan itu, ya memang cukup berat apalagi Jihas harus mengantarnya ke kamar dilantai dua, sungguh perjuangan sekelas tukang kuli.

“Sel, jangan dulu tidur”

“Hmm..”

“Haha, lucu banget anjir gue kaya gendong bayi panda yang gede itu awokwokwok”

Kalau saja perempuan yang digendongnya sadar mungkin Jihas sudah habis dibaku hantam karena tiada hentinya berceloteh.

Sesampainya dikamar, Jihas membaringkan tubuh itu diranjang, menyelimuti dengan perlahan agar tidak mengusik yang sudah lelap tertidur. Sesekali mata Jihas menatap wajah Jiselle yang begitu menghipnotis. 

“Lo nggak berubah ya, persis kaya dulu”

Jihas berbisik pelan sambil mengusap rambut Jiselle, menatap setiap inci kecantikan yang terpancar dari air wajah yang begitu tenang. Hati Jihas terkadang berdenyut nyeri, karena dirinya takut kehilangan lagi.

Cukup lama dirinya berdiam dikamar, menjaga Jiselle agar dia bisa memastikan yang terkasih benar-benar lelap dalam tidurnya.

Mata boba itu melirik kearah jam portabel, sudah 45 menit berlalu rupanya, Jihas harus segera kembali ke bawah karena Ajun mungkin masih belum pindah ke dalam. Jangan sampai si sahabat sejiwa itu jatuh sakit dihari liburan mereka.

Baru saja dirinya berdiri, tiba-tiba mulut Jiselle seperti bergumam. Tidurnya terusik sesuatu yang Jihas tidak tahu apa penyebabnya, Jiselle mengerutkan kening dengan nafas yang tidak beraturan.

“Sel? Jiselle Lo kenapa?”

Jihas kembali lagi menghampiri Jiselle, tangannya begitu dingin ketika Jihas genggam. Jiselle tetap tidak membuka mata tapi gumaman nya semakin kencang dan diselingi Isak tangis meskipun pelan. Jihas mengusap pelan tangan itu, menyuruh yang sedang bermimpi untuk segera bangun, berusaha menyadarkan kalau sosoknya ada disana dan Jiselle harus membuka matanya saat itu juga.

“Haaaaaa, Ji.. Jihas?”

“Sel, are you okay? Lo kenapa?” Jihas panik.

Jiselle lebih panik lagi, dia tidak bisa mengatakan apapun dan hanya memeluk Jihas yang ada didekatnya.

“Lo kenapa hmm? Sini bilang ke gue, mimpi buruk ya?”

Yang ditanya masih saja diam, menyembunyikan wajah didalam sebuah pelukan. Jihas terus mengusap punggung Jiselle, dirinya sendiri bahkan kaget karena Jiselle bangun sekaligus dengan mata yang ketakutan.

“Tidur lagi ya, udah malem nanti Lo jadi panda beneran, barusan paling mimpi  doang, jangan takut okay?”

Jiselle menatap Jihas lalu menunduk.

“Apa perlu gue temenin Lo tidur? Wah keenakan dong gue hehe”

Jiselle menyikut pinggang Jihas, membuat pria itu terkekeh dan kembali menyelimuti Jiselle. Meskipun Jihas tidak tahu pacarnya bermimpi apa sampai seperti tadi, setidaknya melihat Jiselle tertidur pulas kembali sudah membuatnya tenang.

Sekarang Jihas benar-benar keluar dari kamar Jiselle, berjalan menuruni tangga dengan rusuh karena teringat Ajun. 

Tapi dipikir-pikir bisa saja ya tadi itu Jiselle mimpi hantu, saking seramnya dia sampai ketakutan dan enggan bercerita pada Jihas. Itulah yang terlintas di kepala Jihas, pria itu sedikit ngeri juga.

“Kalau ini Villa ada hantunya gimana? eh gila aja! Nyebut Lo jihaaaasss” racau Jihas seorang diri.

“Eh si Ajun mana? Jun? Eh mana tuh anak?” Niat hati menyusul Ajun, tapi anak itu malah hilang.

Tadi Ajun tertidur ditaman tempat mereka menikmati malam pergantian tahun, tahunya bangku disana sudah kosong dengan bekas pemanggang yang berantakan meskipun apinya sudah dipadamkan.

“Hhhh, udahlah gue ngantuk”

Baru saja Jihas membalikan badan, wajah putih pucat pasi langsung muncul tepat dihadapannya.

Jantungnya seakan lompat, Jihas ingin berteriak pun sudah tidak kuasa, alhasil pria itu terhentak mundur kebelakang dengan alas kaki yang menyandung kakinya sendiri.

 

Dugh…

 

Pantatnya sudah mendarat mencium tanah dan rumput.

“Awokwokwok, apaan dah! Jihas Andrean Sananta, penakut banget Lo!”

Ternyata itu Ajun sedang maskeran, saking lamanya Jihas berada dikamar Jiselle, Ajun sampai keburu untuk cuci muka dan melakukan perawatan wajah. Untung saja Jihas tidak jantungan.

“Liat muka Lo Ji! Hahahah, kalau Jiselle sampai liat bakal abis Lo dibully”

Ajun tidak peduli dengan maskernya yang mulai retak-retak, dia tertawa ngakak melihat Jihas yang seperti bocah ketakutan, sementara Jihas sendiri sepertinya dongkol karena wajahnya langsung ditekuk.

“Putus sudah tali pertemanan kita!” Sahut Jihas.

“Woy Ji! Anjir ngambek,  duh gue nggak bisa nahan ketawa ini gimana hahahah… Ji! Jihas! Hayu bobo bareng kalau Lo emang takut, ngaku aja deh jangan gengsian”

“Diem Lo bangsat!”

Tunggu! Ajun sepertinya melihat sesuatu.

“Eh Ji? Ji! Apaan dah itu? Li..liat”

“Apaan sih Jun, jangan bikin gue parno!”

Ajun yang awalnya hahah-hihih tidak jelas mendadak diam dan gemetaran, tanpa basa-basi dirinya langsung lari kearah Jihas dan menyuruh pria itu melirik kearah tangga lantai dua.

 

Deg…

 

Putih-putih!

“Anjirrrr, Ajun! Cabut Jun!” Jihas kabur duluan.

“Mamaaaa!”

Jihas dan Ajun ngacir kekamar mereka saking ketakutan, mereka jadi tidur berdua dikamar Jihas.

Mereka tidak tahu saja kalau ditangga itu adalah May yang sengaja menakuti mereka karena berisik sedari tadi, heran dengan dua sahabat yang rempong itu, May kan jadi geregetan sendiri.

 

 

******

 

 

Keesokan harinya.

Jihas dan Ajun saling manyun satu sama lain karena tahu kalau May yang mengerjai mereka, perempuan jangkung itu mengaku dengan polosnya karena kesal pada mereka berdua.

“Tau ah gue ngambek, May sayang gue ngambek!”

“Sorry to say ya mas Ajun, aku nggak peduli! Makanya mulut tuh dikunci bentar aja, pusing nih aku dengerin nya”

May lempeng saja, perempuan itu sibuk merapikan tasnya dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Hari ini terakhir mereka ada di villa karena nanti malam mereka sudah harus pulang ke Bandung.

“Jihas, Lo sama Jiselle nggak papa kan kita tinggal? Gue mau quality time dulu ama si Kunti”

“Sindir teroooos, sampai mampus!”

“Kamu sih yang duluan yang!”

“Kok aku sih Jun? Kamu tuh mulutnya nggak bisa di rem”

“Mulut di rem gimana ceritanya sih May sayang?  Kecuali kalau kamu yang rem-in mah nggakpapa ehehehehe, sumpah demi alek kagak ngapa-ngapa”

“Dasar  piktor! Pikiran kotor” May menyumpal mulut Ajun dengan plastik yang tidak jauh dari tangannya.

Sudahlah Jihas lelah dengan percekcokan Ajun dan May, dia jadi sedikit sadar diri mungkin dirinya dan Jiselle juga seperti ini kalau sedang beradu argumen.

“Nggak papa kan Ji?”

“Gue mah emang maunya gitu sarjun! Ditinggalin berdua sama Jiselle, kalian nya aja yang nggak peka, kagak pergi-pergi gimana sih!”

Eh iya Jiselle?

Ngomong-ngomong kemana perempuan itu? Kenapa belum turun kebawah juga? May bilang tidak mendengar suara Jiselle juga, mungkin masih tidur saking malam nya mereka baru kembali kedalam Villa.

Jihas bergegas naik kelantai dua setelah Ajun dan May berpamitan untuk pergi kepasar tradisional sebelum pulang, mau beli oleh-oleh katanya.

 

Tok..tok..tok..

 

Jihas mengetuk pintu kamar, terdengar suara lirih yang menyuruhnya masuk.

Jiselle masih terdiam diranjangnya dengan mata lelah, sepertinya perempuan itu tidak tidur nyenyak semalam. 

“Kok belum mandi? Lo kenapa hmm? Sakit?”

“Nggak, aku nggak kenapa-kenapa”

“Semalem mimpi apa coba cerita sama gue?”

Haruskah? Apa harus Jiselle berkata jujur kalau mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya. Mimpi yang sama saat Jihas meninggalkannya di pameran yang Asarman adakan di jalan Braga.

Jiselle memimpikannya sekali lagi. Mimpi yang membuatnya terserang demam kala itu.

Dimana Nikie, Asa dan Jordan tertawa bersama seseorang yang tidak bisa dilihat dengan jelas wajahnya. Mereka terlihat bahagia sementara Jiselle berdiri seorang diri, namun kali ini yang berbeda adalah Jihas muncul dimimpinya.

Pria itu berdiri didekat Jiselle, namun saat Jiselle ingin meraih Jihas lagi-lagi scene dimana mobil berada tepat dibelakang tubuhnya itu muncul, Jiselle melihat dirinya sendiri dihantam sampai terpental jauh dijalan raya.

Itulah mimpi buruknya.

“Ji, aku mimpi Nikie”

Jihas terdiam, senyumannya seidikit memudar.

“Mimpinya kayak gimana?”

Jiselle menatap Jihas ragu-ragu, padahal pria itu sudah mengangguk memberi kode agar Jiselle tidak perlu takut memberitahunya, tapi Jiselle memilih diam dan menggelengkan kepala.

Jihas menghela nafas, dia pergi untuk mengambil sesuatu dan tak lama kemudian kembali ke kamar Jiselle.

“Ini buat Lo. Gue mau Lo yang milikin ini”

Jiselle menatap jeans biru yang terbungkus rapi oleh plastik bermotif, sepertinya itu adalah celana baru yang belum pernah dipakai. Jiselle sedikit kebingungan dengan apa yang Jihas berikan, sedikit rancu.

“Jeans biru ini berharga buat gue, saksi perjalanan hidup seorang Jihas Andrean dan gue mau Lo jagain ini, suatu saat kalau Lo kecewa akan sesuatu entah itu pencarian Nikie atau apapun itu, Jeans ini yang bakal jadi obatnya”

“Emang bisa?” Ragu Jiselle.

“Percaya sama gue”

Jiselle tidak langsung mengambilnya, apa ucapan Jihas bisa dipercaya?

Jeans itu hanyalah benda mati, bahkan tidak bisa mengatakan ada apa dengan masa lalu Jihas kalaupun Jiselle mati-matian bertanya. Betul bukan? Namun Jiselle percaya, itu adalah pemberian yang berarti dari Jihas kekasihnya. Biarlah Jiselle peluk Jeans biru yang menjadi hadiahnya di tahun baru.

Ah benar juga, Desember sudah berganti menjadi Januari.

Jiselle menikmati hari terakhir liburannya dengan berjalan menikmati langit pagi bersama Jihas, mereka berjalan menyusuri sungai panjang yang berada tepat dibawah jalan raya.

 

*****

 

Tanpa Jiselle tahu, seseorang baru saja datang kerumah neneknya dan bertemu dengan Asarman yang sedang menjaga rumah.

Orang itu mengatakan kalau dirinya adalah teman Jiselle, Asa sendiri sedikit terkejut karena ternyata beberapa bulan Jiselle kembali ke Bandung, dirinya sudah punya teman yang bahkan Asa tidak kenal.

“Jiselle nggak ada dirumah, lagi liburan sama temennya” Jawab Asa apa adanya.

Tapi si penikmat seni itu sedikit heran melihat wajah kaget orang itu ketika dirinya mengatakan kemana Jiselle pergi. Kalau tidak salah Asa mendengar orang itu mengatakan sesuatu dengan pelan.

“Nggak beres!” 

 

 

*****

 

 

Panggilan Asarman tidak ada satupun yang mengusik Jiselle, handphone nya bahkan ketinggalan di Villa. Perempuan itu sedang tersenyum karena guyonan Jihas yang menceritakan kejadian semalam dimana dirinya kena prank sebanyak dua kali, Jiselle geleng-geleng kepala dibuatnya.

“Eh bentar, Lo capek nggak?”

Jihas mengelap keringat didahi Jiselle dengan lengan bajunya, merapikan rambut perempuan itu dengan penuh perhatian. Cuaca memang semakin panas karena matahari semakin naik tepat diatas kepala.

“Tunggu bentar ya gue beli minum dulu, Lo diem disini okay jangan kemana-mana! gue nggak akan lama”

Jiselle mengangguk, dirinya diam dipinggir jalan tepat dibawah pohon rindang agar tidak kepanasan. Sementara Jihas buru-buru masuk ke minimarket untuk membeli minuman dingin.

Mata kacang almond itu sibuk memandangi sekitar, melihat orang yang berlalu Lalang, sampai satu suara yang begitu familiar ditelinganya muncul, membuat Jiselle diam terpaku ditempat.

Didepan matanya baru saja ada dua orang yang lewat, pria tinggi besar yang sedang tertawa dengan seorang perempuan yang terus melontarkan lelucon. Mereka nampak bahagia.

Jiselle tidak salah dengar kan?

Dia terus memaksa untuk tersadar dari lamunan, memerintahkan kakinya bergerak mengejar seseorang yang berjalan menjauh darinya. Jiselle tidak mungkin keliru, dia hafal bahkan hanya dari postur belakang orang tersebut. Tangannya terasa kebas dan sulit digerakkan, digapailah pundak perempuan yang sedari tadi mencuri atensinya. 

“Nikie?”

 

Deg…

 

Kedua mata yang bertemu satu sama lain seakan terkena aliran listrik yang membuat keduanya sama-sama terkejut dan diam membisu.

Perempuan yang dipanggil Nikie itu bertubuh mungil, sorot matanya yang dulu ceria kini terlihat sayu, namun cantik luar biasa seperti yang Jiselle duga. Ini Nikie! Nikie sahabatnya.

“Nik, akhirnya aku nemuin kamu, Thanks Tuhan. Nikie kamu baik-baik aja kan? Kamu kemana aja selama ini?”

 Jiselle girang sekali sampai matanya berkaca-kaca, digenggamnya tangan Nikie agar sang sahabat tahu betapa rindunya Jiselle selama ini.

Tapi kenapa Nikie memandang nya seperti itu? Mana senyuman dan pelukan rindu untuk Jiselle?

Nikie diam saja, dia saling pandang dengan pria bongsor disebelahnya. Pria itu juga nampak terkejut, terlihat dari begitu kikuknya dia menghadapi situasi dimana Nikie dan Jiselle tidak sengaja bertemu.

“Ayo pergi wan!” Nikie buru-buru menarik pria itu untuk pergi.

“Nik, why?”

“Aku nggak bisa! Please Juwan”

Tangan Jiselle dihempas begitu saja, membuat perempuan itu menatap Nikie seolah tak percaya. 

Nikie bergegas pergi sambil menarik pria yang dipanggilnya Juwan itu, padahal Juwan terlihat enggan untuk pergi karena tahu Nikie ingin meninggalkan seseorang. Juwan sesekali berbalik kebelakang melihat Jiselle yang terus mengejar dan berusaha memanggil Nikie.

“Nikie, kenapa kamu kaya gini? Kasih tau aku Nik, aku salah apa?”

Nikie dan Juwan sudah masuk ke mobil mereka, sempat berdebat kecil karena Juwan mengatakan apa yang dilakukan Nikie ini salah, tapi Nikie bersikukuh tidak mau menemui orang yang terus mengetuk kaca mobilnya ini.

Mobil pun melaju dengan Nikie yang memalingkan wajah ketika harus melihat wajah Jiselle kembali, dia belum siap, lukanya masih belum sembuh.

Rasa sakit dan tidak mengerti itu menyuruh Jiselle untuk mengejar Nikie apapun yang terjadi.

Jihas yang baru saja keluar dari mini market dan mendapati Jiselle mengejar sebuah mobil ketengah jalan raya pun kaget setengah mati.

Kakinya lemas melihat Jiselle yang tidak sadar ada mobil putih berkecepatan tinggi melaju dari arah kiri jalan, mobil itu akan menghantam dirinya.

‘Jangan lagi!’

 

Bruuuugh…

 

Beruntung Jihas dengan sekuat tenaga berlari, menarik Jiselle kepelukannya dan menjatuhkan diri kepinggir jalan sebelum mobil itu menabrak mereka berdua. Sikut tangan Jiselle membentur aspal dengan keras, sementara Jihas terguling kepembatas jembatan.

 

Greph…

 

Antara sadar dan tidak sadar Jiselle refleks menggenggam tangan Jihas, pria itu akan jatuh kebawah sungai.

“Jihas! Ji, pegang tangan aku Ji!”

“Jiselle!” Erang Jihas.

Orang-orang disekitar kaget dan berlarian untuk menolong mereka berdua, tapi apa boleh buat tangan Jiselle sudah tidak sanggup menahan tubuh Jihas.

“Ji, please tahan! Aw..” Jiselle merasa tangannya sakit.

Melihatnya kesakitan, Jihas langsung melepas genggaman itu meskipun dirinya harus terjun bebas kesungai dibawah sana.

“Jihaaaaaaassss!” Jerit Jiselle, dunianya seakan berhenti.

Didepan matanya sendiri Jihas jatuh dan tenggelam di sungai yang arusnya begitu deras. Dadanya terasa dipukul dengan keras sampai sakit yang tidak bisa dijelaskan lagi, Jiselle terduduk lemas dipembatas jembatan. Meronta-ronta meminta semua orang menyelamatkan yang terkasih.

Seseorang yang baru saja datang begitu kaget melihat kondisi Jiselle yang meraung-raung seperti orang tidak waras. Apalagi saat dirinya tahu Jihas sudah terjatuh kebawah sana.

“Minggir pak, saya mau loncat!” 

“Mas hati-hati arusnya deras!”

“Tunggu tim SAR aja mas, bahaya! Gusti kenapa mesti ada yang jatuh seperti ini, kasian”

“Kelamaan Pak, Bu, saya minta pelampung aja”

Warga segera memberi si pria itu pelampung, dirinya berancang-ancang untuk turun kebawah meskipun nyawa taruhannya. Tanpa banyak berpikir pria itu lompat menerjang arus sungai dan berusaha menyelamatkan Jihas.

Jiselle tak habis pikir kenapa dirinya bisa berbuat kecerobohan yang pada akhirnya membahayakan nyawa Jihas. Kenapa dia bersikukuh memaksakan diri mengejar Nikie jika Jihas yang harus jadi korbannya.

Nikie baru saja meninggalkannya, kenapa Tuhan tega merenggut Jihas dari genggamannya juga?

Sekarang dirinya hanya bisa berdoa agar Jihas bisa diselamatkan. Jihas itu dunianya, obat yang mungkin hanya satu dalam seumur hidup.

Bolehkah Jiselle memaksa kali ini? 

Tuhan tolong kembalikan Jihas dalam keadaan baik-baik saja pada Jiselle, tolong selamatkan yang sedang berjuang dibawah sana agar bisa pulang ke pelukannya.

Sekali saja Tuhan, sekali saja,

 

‘Tolong’

 

 

 

열두 – 12

(Dear Jiselle, by Haidar)

 

Haidar Malik Abraham.

Pria jangkung yang berhasil menarik Jihas ketepian sungai meskipun dengan susah payah, Haidar menatap langit sambil menarik sebanyak-banyaknya oksigen kedalam diafragma. 

Beruntung tim SAR sudah datang dan segera memberi pertolongan pertama pada Jihas yang tidak sadarkan diri, Jihas segera ditandu kedalam mobil ambulans untuk ditangani dirumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, Jiselle masih terus menangis sesenggukan mendengar kabar Jihas tidak kunjung sadarkan diri.

May dan Ajun juga sedih mendengarnya, mereka tidak menyangka kalau sahabat-sahabatnya akan mengalami kecelakaan tak terduga seperti ini.

“Jiselle, kamu baik-baik aja? It’s okay, Jihas pasti bangun kok”

Jiselle memeluk May, dia tidak bisa berpura-pura kuat jika ini tentang Jihas yang hampir pergi dari sisinya. Ajun sudah menarik rambutnya dengan frustasi, dia benci melihat Jihas terus-menerus terluka karena menawar takdir.

Apa Tuhan setidak adil itu pada sahabatnya? 

Kenapa selalu Jihas yang tersiksa, batin Ajun.

Haidar yang sudah mengganti pakaian karena basah kuyup segera menghampiri orang-orang didepan ruang rawat Jihas. 

Ajun dan May menatapnya dengan heran karena tidak mengenal pria itu sama sekali, bertemu pun rasanya tidak pernah.

“Kalian kalau mau istirahat boleh kok, biar gue yang gantian nungguin Jihas” Tawar Haidar.

“Bro, Lo siapa? Eh, Lo yang nolongin Jihas ya? Thanks, gue nggak tau harus bilang makasih yang kayak gimana buat keberanian Lo terjun ke sungai dan nyelamatin sahabat gue satu-satunya. Gue nggak tau kalau nggak ada Lo bakal kaya gimana”

Ajun menyalami tangan pria itu sambil membungkuk tanda berterima kasih atas aksi heroik yang Haidar lakukan.

“Santai aja, emang kewajiban gue buat lakuin semua itu kok”

Ajun dan May pamit untuk membereskan barang mereka di Villa, setelah selesai keduanya berjanji akan kembali secepat mungkin ke rumah sakit untuk menjaga Jihas dan tentunya menemani Jiselle yang masih syok.

Haidar mengiyakan permintaan mereka untuk mengabari jika ada sesuatu yang terjadi.

Beberapa jam berlalu namun Jihas masih belum bangun dari pingsannya.

Jiselle terus berdiri didepan pintu karena belum diperbolehkan masuk oleh dokter, perempuan itu menatap Jihas yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. 

Haidar jadi tidak tega, berulang kali dirinya menawarkan Jiselle untuk beristirahat, sekedar minum atau mengobati luka ditangannya, namun lagi-lagi perempuan itu menolak.

“Jiselle ikut sebentar yuk, tangan kamu harus di obatin”

“Thanks Haidar, aku nggakpapa kok. Aku mau disini aja, Jihas belum bangun-bangun, aku mau nungguin dia”

Haidar mengangguk, sekeras apapun dia mencoba sudah pasti Jiselle pasti kekeuh dengan pilihannya.

Satu hal, Haidar bukanlah Jihas.

Dokter yang menangani Jihas masih berkutat didalam, mengecek keadaan pria itu. Beberapa saat kemudian dokter tersebut keluar dengan wajah yang menyiratkan sesuatu. 

“Pasien sudah sadar, silahkan menjenguk secara bergantian”

Jiselle langsung melesat kedalam ruangan.

Jihas sudah sadar, matanya terbuka dan dirinya tersenyum ketika melihat mata sembab seseorang dihadapannya.

“Gue udah di surga ya? Kok ada bidadari?”

“Ji? Hiks, maafin aku gara-gara aku kamu jadi kayak gini. Maaf ya Ji, maafin aku” Jiselle mulai terisak.

“Udah jangan cengeng! gue fine kok selama Lo ada disamping gue dan baik-baik aja! Udah bagus gue yang jatuh, coba kalau Lo yang ketabrak, bisa gila gue kalau Lo yang kenapa-kenapa”

“Tapi kamu tadi nggak bangun-bangun, hiks. Takut banget kamu pergi ninggalin aku Jihas”

“Gue ngantuk sel, malem kan udah gadang. Udah Sssttt, cantiknya Jihas jangan nangis mulu, jelek nanti!” Hibur Jihas.

Jiselle memandangi Jihas yang terbaring, matanya sesekali meloloskan air bening yang tidak bisa dia sembunyikan, Jihas tersenyum kearahnya.

“Jangan nangis lagi ya, gue sakit liatnya”

“Tapi aku hampir kehilangan kamu Ji, pasti badan kamu sakit semua ya? Kepala kamu? Gi.. gimana? Ada yang sakit?”

“Nggak kok, cuman pusing dikit aja barusan abis latihan jadi lumba-lumba nyelem di sungai”

“Masih aja bercanda!” Gemas Jiselle.

“Hahah, tapi Lo ketawa juga kan tuh liat, lucu banget”

“Aku ketawa karena liat panda nekad mau jadi lumba-lumba, kasian banget kan pandanya jadi hanyut kebawa air” Jiselle ikutan bercanda.

“Sorry bukan panda bar-bar kalau nggak nekad hehe, kalau ngeledek ya ngeledek aja nggak usah sambil diterusin nangisnya Jiselle!”

“Iya nggak, ini nggak nangis lagi kok”

“By the way, sekedar info aja ya sel, sebenernya tadi  tuh gue udah berusaha jadi kodok Afrika sih biar bisa renang disungai, tapi apalah daya hahah”

Hanya Jihas yang bisa membuat Jiselle tertawa kembali, pria itu masih saja bisa bercanda dengan kondisi seperti ini. Jihas memeluk Jiselle tapi tiba-tiba Jiselle meringis kesakitan membuat Jihas bingung dan melepaskan pelukan mereka.

“Aa..aw!”

“Jiselle! Tangan Lo luka? Kenapa nggak di obatin sih?”

“I..iya, nanti aja Ji”

“Nanti-nanti, bandel banget sih ini otak batu”

Jihas mengubah posisi dari yang semula rebahan menjadi duduk bersender, diraihnya P3K yang kebetulan ada dimeja sebelah ranjangnya. Jangan bilang kalian lupa kalau Jihas adalah seorang dokter juga, dengan telaten dirinya membersihkan dan mengobati luka di tangan Jiselle.

Jiselle menahan sakit ketika alkohol menyentuh luka disikutnya, tapi Jihas terus mengomeli Jiselle karena tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri.

“Nah, selesai. Gue nggak mau ya Lo nggak prioritasin diri Lo sendiri apalagi demi gue. Please Sel, jangan bikin khawatir”

“Aku fine kok, selama kamu baik-baik aja Ji”

“Bentar, kok kaya omongan gue sih! Heh, Sini Lo gue telen juga lama-lama!”

Jihas menarik Jiselle kepelukannya dengan gemas, bisa-bisanya perempuan itu copy-paste ucapan yang tadi dia katakan. Jiselle terkekeh saja dengan keisengan yang sengaja dibuatnya untuk menghindari omelan Jihas.

Mereka tidak tahu saja kalau seseorang diluar sana merasa tidak baik-baik saja.

Haidar yang meminta dokter menyimpan P3K di meja sebelah ranjang Jihas, dirinya tahu Jiselle hanya akan menuruti perkataan orang yang begitu dicintainya, bukan Haidar.

Melihat canda tawa yang begitu lepas, seketika mengurungkan niatan pria jangkung itu untuk masuk menengok Jihas.

Haidar memilih pergi sejenak untuk mencari udara segar.

“Untung aja nggak terlambat”

Haidar banyak mengucapkan kalimat itu dalam seharian ini, membayangkan kalau saja Asarman tidak memberi tahu kemana perginya Jiselle di malam tahun baru itu, mungkin Haidar akan terlambat.

Bukankah Haidar adalah sebuah kebetulan? 

Atau mungkin sosoknya berperan sebagai rencana dibalik takdir yang sudah ditentukan, entahlah.

 

 

*******

 

 

Jiselle yang berjalan keluar dari ruangan Jihas untuk mencari Haidar sedikit bingung karena pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu tiba-tiba menghilang, padahal Jihas ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkan dirinya.

“Haidar? Eh kemana dia?”

Mata Jiselle yang mencari Haidar malah menangkap dua orang yang berdiri dari kejauhan.

Nikie dan Juwan.

Mereka datang setelah mendengar kabar Jihas masuk rumah sakit mereka pun datang, tapi ketika beradu tatapan dengan Jiselle, keberanian Nikie kembali hilang. Luka itu muncul lagi seakan menyiksa lubuk hatinya.

“A.. aku, aku nggak bisa!” Nikie melepaskan genggaman Juwan dan bersiap pergi.

“Nikie stop! You’re here, bukan buat pergi begitu aja”

“Juwan hati aku masih sakit, aku nggak sanggup dan aku nggak sekuat itu!”

“Tapi sampai kapan Nik?” Tanya Junghwan dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.

Jiselle mengejar Nikie yang pergi meninggalkan mereka, Juwan masih berdiri disana.

“Sorry Sel, Nikie masih belum bisa ketemu kamu, a..aku minta maaf buat kecelakaan ini”

Jiselle menggeleng, dia bilang ini kecelakaan dan Nikie bukanlah penyebabnya. Jiselle saja yang terlalu egois memaksakan diri mencari Nikie yang sudah enggan bertemu dengannya tapi dia tidak punya pilihan, Nikie itu penting baginya.

Jiselle harus tahu apa yang membuat Nikie semarah itu sampai pergi dari kehidupannya.

“Bantu aku, bantu aku buat ketemu Nikie. Kak Juwan please”

Juwan menunduk, bukannya tidak mau tapi kondisi itu yang membuat dirinya memaklumi kalau Nikie memenangkan egonya untuk melindungi hati yang sudah hancur karena luka di masa lalu.

Juwan tidak bisa berbuat apapun.

Jiselle berlari menyusul Nikie dilorong rumah sakit, melihat Juwan yang hanya diam tanpa jawaban membuat Jiselle tidak bisa bergantung pada kekasih Nikie tersebut.  Akalnya hilang entah kemana, nafasnya juga tersengal-sengal kala yang dikejar itu hilang tanpa jejak dari pandangannya.

Nikie pergi lagi.

 

Greph…

 

Tangan Jiselle diraih seseorang. 

“Haidar? Please lepas dulu, aku harus nyari…”

“Jangan kejar dia sel!” Potong Haidar cepat.

Ucapannya yang tiba-tiba itu membuat Jiselle memandang nya dengan curiga, kenapa Haidar seperti mengetahui sesuatu?

“Why? Kenapa aku nggak boleh ngejar dia? Haidar kamu nggak nyembunyiin sesuatu kan?”

“Sel, mending kamu balik lagi ke ruangannya Jihas, percaya sama aku ini tuh nggak akan bener”

“Yang nggak bener tuh kamu!” Marah Jiselle.

Nada bicara perempuan itu tiba-tiba meninggi, matanya berkaca-kaca tapi dia marah sekali pada Haidar, pria sebaik polisi muda itu malah ambil bagian untuk menutupi sesuatu dari Jiselle.

Jiselle lelah, teka-teki ini terlalu rumit baginya.

“Kamu bisa tahu aku ada dimana, kamu bisa muncul pas  Jihas jatuh ke sungai. Tunggu, Haidar kamu itu siapa sebenernya?”

Haidar terdiam, lidahnya kelu untuk menjawab ucapan Jiselle.

Haidar tahu dia marah, tapi Haidar lebih peka akan rasa lelah dan putus asa yang dirasakan Jiselle saat ini. Selama itu dirinya berusaha, tapi yang diberikan oleh orang-orang hanyalah sekedar tanya tanpa tahu apa jawabnya.

“Jawab Haidar! Jangan diem aja! Kamu, CK! Aku kecewa, aku bakal kecewa kalau sampai kamu sama aja kaya orang lain, nyembunyiin sesuatu dari aku”

Jiselle pergi dari sana, menuju ruangan Jihas kembali karena mengejar Nikie pun percuma.

Haidar masih diam tak bergeming, dirinya jadi ikut ambil bagian dalam seni peran ini. Kisah rumit yang dia sayangkan terjadi didunia yang kecil ini. 

 

 

 

******

 

 

 

“Lo jahat pake banget! Lo perempuan paling egois yang pernah gue kenal”

Ajun marah bukan main, ditatapnya perempuan itu dengan emosi.

“Kalian nggak akan ngerti apa yang aku rasain, kalian nggak pernah ada di posisi aku!”

May berusaha menahan tangan Ajun, menenangkan amarah kekasihnya ketika tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang lari keluar dari rumah sakit.

“Gue tahu perasaan Lo Nikie! Mungkin setiap Lo liat wajah Jiselle luka itu bakal kegores lagi. Mungkin Lo juga mati-matian buat sembuh dari segala keterpurukan, gue paham! Tapi please, emangnya Lo nggak capek terus-terusan lari dari kenyataan ini? Lo nggak mau peduliin temen-temen Lo yang udah nyari kesana kesini, Jiselle yang hidupnya tersiksa apalagi saat dia tahu semuanya nanti? Lo nggak mikir kesana?”

Nikie terdiam, dia tahu dirinya egois.

“Jangan lupa Jihas yang sepanjang hidupnya cuman dibebani sama rasa bersalah, hanya karena kejadian yang bukan sepenuhnya salah dia!” Sambung Ajun.

“Jun, udah yuk. Kita masuk aja” 

May sudah berusaha membujuk Ajun, namun pria itu hanya ingin Nikie mempertimbangkan segala hal.

Tentang Jiselle yang hampir putus asa, tentang Asarman dan Jordan yang sibuk me-manage waktu antara mencari dirinya dan menjaga persahabatan mereka yang sedang tidak baik-baik saja, juga Jihas yang bersusah payah mempertahankan perannya dalam segala sandiwara yang memuakkan ini.

Sampai berapa lama? Berapa lama lagi untuk Nikie?

“Gue bakal tunggu Lo buat balik ke Jiselle, gue tunggu Lo Nikie!” Final Ajun.

 

 

 

*****

 

 

 

Suasana didalam ruang rawat Jihas benar-benar hening, semacam ada ketegangan antara satu sama lain.

Ajun yang masih emosi, May bahkan tidak seceria biasanya  juga Jiselle dan Haidar yang mulai canggung. Jihas jadi heran sendiri, ada apa dengan orang-orang ini sebenarnya?

“Sepi bener ini kehidupan, woy! gua belum meninggal!” Celetuk Jihas membuyarkan lamunan semua orang.

“Suka sembarangan kalau ngomong, otak Lo geser banget sih anjir” Ceramah Ajun sambil menyikut Jihas.

“Ya abisnya pada diem gitu kenapa Lo semua nggak suka kalau gue mau pulang? Gila ya! Tuh si May juga tumben-tumbenan diem, May Lo kenapa? Kebelet pipis?”

May manyun pada Ajun, menyuruh kekasihnya itu untuk melakban mulut Jihas.

Jiselle menyuruh Jihas untuk diam, pria itu butuh istirahat lebih banyak agar cepat pulih dan sakit dikepalanya hilang. Mereka juga harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Jiselle memapah Jihas karena kekasihnya itu tidak mau memakai kursi roda, dia cukup kuat untuk berjalan ke mobil yang sudah terparkir diluar.

Didepan mereka Ajun dan May sibuk membawa barang-barang milik Jihas. Ajun sih sudah ngomel tidak jelas karena lagi-lagi Jihas menjadikannya asisten rumah tangga, spesialis barang bawaan bapak negara.

“Haidar, Lo mau pulang barengan sama kita?” Tawar Jihas.

Haidar menggeleng, dia harus menemui temannya sebelum pulang lagi ke Bandung. Jihas menepuk bahu pria itu dengan santai.

“Gue berhutang budi sama Lo, nyawa bahkan. Bilang aja kalau Lo mau sesuatu, gue bakal kasih sebagai gantinya, Lo mau apa?” Tanya Jihas.

“Jiselle” Jawab Haidar mantap.

Semua menatap Haidar dengan terkejut, terutama Jiselle yang langsung memandang pria itu dengan tatapan heran bahkan May dan Ajun pun terdiam saling tukar pandangan.

“Jiselle sama gue temenan, jadi udah seharusnya gue nolong seseorang yang berharga banget buat temen gue. It’s okay, nggak usah merasa berhutang budi, santai aja”

Sambung Haidar membuat semua orang lega, hampir saja ucapannya yang rancu itu mengagetkan orang-orang disekitarnya.

Jihas tersenyum ramah, meskipun dia merasa ada hal lain dibalik ucapan Haidar ini. 

Keempat orang itu langsung masuk kedalam mobil, bersiap untuk pulang ke Bandung.

“Haidar aku duluan” Pamit Jiselle dengan canggung.

“Take Care Jiselle”

Haidar tersenyum pada Jiselle yang masuk kedalam mobil, bertingkah seolah tidak pernah terjadi apapun.

Jiselle yang marah tidak akan pernah ada diingatan Haidar, yang ada hanyalah perempuan yang berjalan memegangi tangannya di jalan Merdeka, juga menemaninya menikmati senja dibalai Kota.

 

 

 

 

******

 

 

 

 

Aku pikir tidak semudah itu untuk jatuh cinta pada seseorang.

Aku hanya mengenalnya lewat kata dalam cerita, tahunya dia sudah menjelma jadi tawa yang kepada Tuhan ingin kuminta.

Aku melihatnya mencintai orang lain, biarlah aku jadi pelindung dari kejauhan saja kalau begitu ceritanya.

Aku akan selalu ada meski dirinya lah yang sebenarnya tidak akan pernah tiba, membiarkan hati ini mencinta seorang diri.

Aku bukan Jihas yang sempurna, bukan Jihas yang istimewa untuk bisa memilikinya, sudah jelas bukan.

Aku hanyalah Haidar Abraham, yang mengaguminya sebatas senja yang terlanjur dijemput malam.

 

 

Bagai pujangga, tulisan itu kembali dibacanya sambil tersenyum simpul.

Haidar sudah siap dengan resiko ini dari jauh-jauh hari.

Sekarang biarlah Haidar menikmati cahaya jingga menerpa wajahnya yang tampan, agar dia bisa merampungkan tulisan dengan judul yang begitu menyita waktunya akhir-akhir ini,

 

 

‘Dear Jiselle’

 

 

 

열세 – 13

( Sekali Lagi )

 

Seorang Pria dengan Jas putih yang melekat rapih ditubuhnya itu tengah berjalan dilorong rumah sakit.

tak henti menampilkan senyuman bagai mentari yang menebarkan energi positif bagi setiap orang yang berpapasan dengannya.

‘Dr. Jihas A. Sananta’

Tutur bahasanya yang lembut juga sikapnya yang ceria seolah tidak ada apa-apa dengan kehidupannya yang di uji tiada henti, ya Jihas memang dikenal sebagai primadona di rumah sakit ini, membuat siapapun senang bergaul dengannya. 

Tiba-tiba seorang perempuan tampak terkejut ketika berpapasan dengan Jihas, bahkan langkahnya sengaja diputar balik untuk menghindari pria itu, Jihas yang menyadarinya  langsung memanggil si perempuan.

“Yusi?”

“Eh Lo Ji, apa kabar? Liburan Mulu” Jawab Yusi terlihat canggung.

“Hehe iya gue kan mau juga tahun baruan kaya orang-orang, Lo liat gue kaya liat hantu aja Yus, kenapa?” Tanya Jihas to the point.

Dia masih bisa bertanya kenapa?

Batin Yusi.

Si perawat cantik hanya bisa menatap pria yang dicintainya sepihak, mengingat kejadian dimana Yusi mengungkapkan perasaan namun keberadaan Jiselle cukup menamparnya dengan kenyataan.

Kenyataan bahwa Jihas sudah memiliki cinta yang sempurna dan tentu itu bukanlah dirinya.

“Ji, gue duluan ya, banyak pasien hari ini bye”

“Oh, okay bye Yusi”

Jihas cukup peka sebenarnya, hanya saja dia tidak enak kalau ada orang yang merasa canggung pada dirinya. Sebisa mungkin Jihas akan mencairkan suasana meskipun soal rasa itu tidak akan mudah bagi perempuan.

Namun dirinya bisa apa?

Hati tidak bisa dipaksakan, Yusi hanya teman baginya dan tidak bisa menjadi lebih.

Jihas menatap ruang kerjanya.

Bayangan Jiselle mengatakan rasa cemburunya kala itu tiba-tiba terlintas dikepalanya, hati Jihas menghangat kembali. Si pemenang hatinya itu selalu punya cara untuk membuat Jihas terus memikirkan nya.

Hari ini memang cukup banyak pasien berdatangan.

Dengan telaten Jihas memeriksa, tidak sedetikpun dia membuka handphone atau melakukan hal diluar pekerjaan, pria itu fokus agar bisa menemui pasien terakhir yang sudah memiliki janji temu dengannya.

“Masuk” Ucap Jihas pada pasien terakhir.

“Sore pak Dokter, eh by the way dapet email gue dari mana?”

“Heheh ada deh, silahkan duduk. Lo mau periksa apa? Apa aja gue gratisin kok nanti tinggal urus ke bagian administrasi”

“Gue nggak sakit apa-apa kok” Terus terang si pria.

“Kali aja masalah hati” 

 

Deg…

 

Haidar Abraham terkejut ketika Jihas mengatakan sesuatu yang sepertinya mengarah pada seseorang.

“Jiselle” sambung Jihas.

Haidar terdiam seribu bahasa, dia tidak bisa mengelak ucapan Jihas tapi tidak mungkin mengakuinya saat itu juga.

Ditatapnya Jihas, pria itu bahkan masih tersenyum ramah pada Haidar yang jelas-jelas menyimpan rasa pada kekasihnya.

“Jihas sorry, gue nggak…”

“Haidar Abraham, gue mau minta bantuan Lo sekali lagi, gue janji habis ini udah selesai” potong Jihas.

Haidar mengerutkan keningnya, dia tidak pernah kepikiran Jihas akan mengatakan apa. Polisi itu datang begitu saja ketika Jihas mengirim pesan lewat email pribadinya, mengatakan kalau mereka perlu bertemu karena Jihas ingin menyampaikan sesuatu.

“Lo mau gue bantu apa Jihas?”

“Gue mau Lo bantu gue ….”

Akhirnya pembicaraan panjang itu terjadi juga.

Jihas yang serius mengatakan sesuatu juga Haidar yang membulatkan matanya nampak terkejut dengan apa yang dikatakan pria dihadapannya.

Sore itu sang Dokter dan Polisi muda tengah mencari jalan akhir untuk segala kisah ini.

Mengatur titik temu.

 

 

******

 

Sepulang dari liburan malam tahun baru Jiselle jadi lebih pendiam.

Seharian dirinya berbaring di tempat tidur, Menatap bingkisan blue jeans yang diberikan Jihas untuknya kemarin pagi.

Putus asa sudah, pencariannya berakhir.

Jiselle sudah bertemu dengan Nikie tapi diluar dugaannya Nikie malah pergi begitu saja seolah Jiselle adalah orang asing baginya. Kemana Nikie yang menyayanginya dulu? Kemana Nikie yang lembut itu? 

Kenapa tangannya harus ditepis, begitu juga persahabatan mereka yang mulai tersingkir. 

Jiselle memutuskan untuk berhenti, dirinya hampir saja kehilangan Jihas dan itu tidak akan membuat dirinya mencoba mencari sosok Nikie lagi. Dirinya tidak akan sanggup melihat Jihas terluka, bagaimana bisa Jiselle menambah beban pada kekasihnya itu padahal untuk mengetahui masa lalu Jihas pun masih menjadi PR baginya.

Jihas itu sok kuat!

Mungkin pria itu pikir Jiselle tidak menyadari setiap raut khawatir yang dia sembunyikan, dibalik senyuman nya ada gelagat tak tenang yang selalu Jiselle lihat.

Jihas, what’s wrong with you?

Jiselle memeluk blue jeans pemberian Jihas, memang benar rasa tenang langsung menyelimuti hatinya.

Namun sayang jeans biru itu bahkan tidak akan menjawab, kalaupun Jiselle berusaha menanyakan apa yang terjadi di kehidupan Jihas.

Siapa yang akan hilang dari sisi Jihas sampai pria itu merasa tak tenang? Siapa masa lalunya itu?

Jiselle memejamkan matanya karena sakit kepala, otaknya hanya berisi pertanyaan yang saling menyerang satu sama lain, dan pada akhirnya membuat overthinking dalam segala hal.

Jiselle merasa lelah.

 

 

******

 

 

Jam dinding menunjukan pukul 18.00 petang.

Jordan dan neneknya Jiselle sedari tadi mengetuk pintu kamar Jiselle namun perempuan itu enggan keluar, bahkan untuk sekedar makan dan minum, Jordan mulai kewalahan dengan mood sahabatnya yang mudah hilang.

“Princes cepet keluar! Lo mah bukannya ngasih gue oleh-oleh abis liburan malah asik rebahan. Sini keluar deh Sel, gue mau tahu liburan tahun baru Lo kayak gimana?”

“Berisik Jo!”

“Yaelah, Mak Jordan capek ah”

Jordan menyerah, dia memilih rebahan di sofa karena Jiselle malah mengomelinya, mengatakan kalau Jordan yang teriak-teriak didepan pintu kamar itu berisik dan mengganggu. Neneknya hanya tertawa kecil saja karena sudah hafal dengan tabiat sang cucu.

“Udah biarin Jo nanti juga keluar sendiri. Eh Sarman? Kapan dia kesini? Ini puding cokelat pesenan kalian udah jadi lho, cepet dimakan ya, ambil piring kecil gih”

“Asyiaaap” 

Jordan melesat secepat kilat untuk melahap puding yang diidamkannya dari kemarin. Kakak beda 5 menitnya entah dimana, mungkin saja kekampusnya sebentar sebelum datang kesini.

Pria berkulit tan itu asyik memainkan handphone untuk mengirim chat pada Asarman. Memberi tahu kalau sahabat mereka sedang mengurung diri dikamar, bahkan Chat Asarman juga tak kunjung dibalas katanya.

 

 

Didepan rumah neneknya Jiselle, seseorang baru saja turun dari motornya seraya melepaskan helm

Langkahnya begitu ragu untuk masuk kedalam rumah.

Tanpa disadari,  Asarman yang baru saja datang, sekarang tepat berdiri dibelakangnya. Mata Asa membulat sempurna, ternyata yang dikatakan Jordan waktu itu adalah benar, dia berada di Bandung.

“Jihas Andrean?” Yang dipanggil sontak berbalik.

Baik Asarman maupun Jihas, keduanya saling pandang dengan terkejut. Terlebih Jihas yang langsung menunduk saat Asa perlahan berjalan kearahnya.

“Lo Jihas? Lo ternyata ada di Bandung juga? Jangan bilang Lo masih berhubungan sama Jiselle” Kaget Asarman.

“Gu, gue minta maaf Sa, tapi gue harus ketemu Jiselle sekarang”

“Nggak usah minta maaf sama gue, kapan Lo mau minta maaf sama Jiselle?”

“Secepatnya setelah semua ini selesai”

“Gue pegang omongan Lo, Jihas dia tuh sahabat gue, kenapa Lo mesti masuk lagi ke kehidupannya sih? Lo mau tanggung jawab kalau dia nanti kenapa-kenapa? Gue tahu ya kemarin dia pergi sama Lo pas malam tahun baru, sekeras apapun dia nyembunyiin itu dari gue” Ceramah Asa, sedikit gemas karena Jihas muncul disaat yang tidak tepat menurutnya.

“I..iya emang dia pergi sama gue Sa”

Asa menggeleng pelan, dia tidak mengerti kenapa Jihas memperumit keadaan yang sudah acak-acakan sedari awal, pria itu paham Jihas tidak salah sepenuhnya atas insiden di masa lalu, tapi tetap saja!

“Gue harus ketemu Jiselle Sa! dia nggak bales chat gue satupun”

Asarman menunjuk pintu dengan dagunya, mengatakan silahkan saja Jihas masuk karena bukan hak Asarman untuk melarang orang lain. Good luck  saja, karena Jordan ada didalam.

Entah bagaimana reaksi yang lain akan kedatangan mereka berdua, mereka pun melangkah masuk.

“Nah ini dia si monyet, Sa Lo bareng siapa? Eh?”

Mata Jordan melotot mendapati seseorang yang datang bersama kembarannya. Seakan tersambar petir di siang bolong, setelah bertahun-tahun lamanya Jordan tidak melihat wajah itu, wajah yang terus mengingatkannya pada rasa bersalah.

“Jihas Bangsat! Berani-beraninya Lo nunjukin muka didepan gue sama Asarman, minggir Sa! biar gue kasih dia pelajaran”

Jordan membanting sendoknya dan melesat cepat kearah Jihas, beruntung Asa segera menghalangi karena hafal dengan sikap tempramental sang adik. 

“Diem dulu Malika! Jangan sampai Jiselle denger”

“Gue nggak peduli Sa, Lo ketemu si bajingan ini dimana?”

“Jordan gue..” ucapan Jihas dipotong saat itu juga.

“Jangan sebut nama gue! Lo harusnya punya rasa malu setelah semua hal yang Lo perbuat dan bikin kehidupan kita ancur kaya gini. Manusia jahat! Nggak punya perasaan, Lo masih punya muka muncul didepan kita? Gue tanya Lo masih punya muka nggak?”

“Ck, Jordan bangke diem deh Lo”

Asarman gemas sendiri karena mulut adiknya ini tidak ada rem, terus saja memaki Jihas dengan segenap rasa kesal yang membludak dari hatinya, Asarman hanya khawatir Jiselle mendengarnya dari dalam kamar sana.

Neneknya Jiselle menghampiri mereka sembari mengusap punggung Jordan agar pria itu tidak emosi, perlahan Jordan menurut dan duduk dengan tangan yang masih terkepal.

“Jordan, Emak.. Jihas minta maaf” Lirih Jihas dengan suara bergetar.

Neneknya Jiselle menatap Jihas dengan sedih, dihampirinya pria yang dia sayangi layaknya cucu sendiri.

Emak tidak pernah menyalahkan Jihas atas semua kejadian yang terjadi, itu takdir.

“Kamu nggak salah nak, Jihas nggak salah. Kamu sehat toh? Selama ini kamu dimana? Emak khawatir tapi syukur kalau Jihas baik-baik aja”

Jihas menatap wanita paruh baya itu dengan perasaan haru, ternyata rasa sayangnya masih tetap ada dan tak pernah berubah untuk dirinya. 

Neneknya bilang untuk mereka menyelesaikan semua ini dengan tenang, dengan kepala dingin bukannya dengan kekerasan. Semua sudah terlanjur, jadi tidak perlu dibayar dengan saling berkelahi sampai babak belur.

“Lo denger tuh Malika!”

“Diem Lo monyet”  kesal Jordan pada Asarman.

Jordan masih tidak terima.

Jihas mengetuk pintu kamar Jiselle setelah mendapat izin dari neneknya. Perempuan itu memang sedari tadi tidak keluar dari kamar, setelah mendengar suara Jihas yang memanggil namanya barulah Jiselle beranjak keluar.

Mata perempuan itu nampak lelah, tapi terkejut juga karena Jihas masuk ke rumah neneknya.

“Ji? Kamu ngapain?” Dipandanginya Jihas juga tiga orang lainnya disana.

Jordan terlihat badmood dan membuang muka kearah lain. Ada atmosfer lain rasanya, mungkin kedatangan Jihas membuat semua orang terkejut.

“Lo nggak bales chat gue sel bahkan handphone Lo mati bikin gue parno. Kenapa? Gue pernah bilang kan untuk nggak bikin gue khawatir”

“Ji, haha kamu ini kenapa sih? Aku fine. Aku lagi tiduran aja di dalem, cuman..”

“Cuman?” Tanya Jihas.

“Kalau kamu minta aku untuk cari Nikie sekali lagi, stop! Aku nggak mau” Jiselle menggeleng.

Asarman dan Jordan sudah menatap kearah mereka berdua, terkejut mendengar Jihas yang mengajak Jiselle untuk mencari Nikie, belum lagi fakta baru kalau kemarin Jiselle sudah bertemu dengan Nikie.

“Jiselle?” Asa minta penjelasan.

“Sa, Jo.. aku udah ketemu Nikie”

Jordan terhenyak ditempat, dia pikir Jiselle tidak akan secepat itu bertemu dengan sahabat mereka Nikie. 

“Dengan liat Nikie bahagia sama orang lain, liat dia baik-baik aja itu udah cukup buat aku. Kenapa aku harus maksain diri kalau dengan nyari dia malah bikin Nikie nya terluka, aku udah tahu jawabannya Ji! Dia bahagia tapi tanpa aku”

“Nggak sel, nggak ada yang bahagia kalau jauh dari orang-orang yang berharga buat dia” Bantah Jihas karena tidak ingin Jiselle menyerah mencari sahabatnya.

“Terus kenapa dia lari? Kamu pikir aja kenapa dia segitunya sembunyi dari aku, ya karena udah jelas Nikie benci sama aku Ji, dan kalian berdua juga stop cari Nikie kalau mau sahabat kalian bahagia” Asa dan Jordan diam saja, bingung harus berbuat apa.

Jihas bersikukuh Jiselle harus percaya pada ucapannya. Perdebatan itu pun terjadi, Jiselle terlihat begitu marah karena dirasa Jihas tidak mengerti perasaannya.

“Aku hampir kehilangan kamu! Aku nggak bisa! “ Bentak Jiselle.

“Percaya sama gue Sel, Nikie itu pengen pulang ke kalian tapi dia nggak bisa makanya harus Lo jemput biar dia punya kekuatan buat balik ke sisi kalian”

Ucapan Jihas membuat Jordan berpikir, lama kelamaan amarah itu menghilang dan berganti dengan sedikit rasa kagum pada orang yang dibencinya itu, Jihas memang bijaksana. 

Jordan kini paham kenapa Jiselle tetap memilih Jihas dikehidupan nya, Jihas itu lain.

Jiselle memejamkan mata, sulit sekali untuk mengiyakan ucapan Jihas.

Bayangan dimana nyawa Jihas yang menjadi taruhannya adalah trauma besar yang baru saja Jiselle alami. Bagaimana jika Jihas akan benar-benar pergi saat Jiselle memutuskan untuk mencari Nikie sekali lagi?

“Lo sayang sama gue kan sel?”

Jihas memegangi pundak perempuan itu, berusaha meyakinkan yang tengah tenggelam dalam keraguan dan rasa takut akan kehilangan, Jiselle begitu gundah dihadapannya.

Jiselle enggan menjawab, tentu saja tanpa dipertanyakan pun jawabannya sudah pasti Jiselle menyayangi Jihas lebih dari apapun.

“Gue kasih kesempatan Lo buat percaya sama dia Sel, nggak ada salahnya buat mencoba kan? Toh kita semua manusia yang cuman bisa berusaha” Akhirnya Jordan buka suara.

Asarman nyengir kuda saat mendengar adiknya mengucapkan kalimat bijak meskipun wajah Jordan masih flat dan terlihat kesal, dia berusaha untuk mempercayai Jihas rupanya, membantu meyakinkan Jiselle untuk sekali lagi mencari Nikie.

“Apaan Lo nyengir bangsat!” 

“Sensi amat sih Lo Jo, Sel come on!” Sahut Asarman.

Jihas tersenyum lembut membuat Jiselle merasa tenang dan berusaha meyakinkan diri untuk mencoba seperti yang mereka bilang. Baiklah, sekali lagi saja dan semuanya selesai.

“Tapi janji ya habis ini nggak akan ada rahasia lagi, nggak akan ada teka-teki lagi, a.. aku capek Ji, hiks cape banget nggak bohong”

Jihas langsung memeluk Jiselle yang menangis itu, tentu saja semua ini membuat hati perempuan itu begitu rapuh. Jiselle sudah hebat karena bertahan sejauh ini.

Jihas dan Jiselle sudah menaiki motor yang melaju cukup kencang.

Dibelakang mereka mobil yang berisikan Asarman dan Jordan mengikuti.

Hari ini keempat orang itu akan berusaha menemukan sahabat mereka, mencari jawaban yang sesungguhnya agar hidup ini terlepas dari teka-teki yang memusingkan kepala.

Apapun jawabannya, Nikie harus pulang bersama mereka karena si cantik yang hilang itu adalah bagian dari hidup mereka.

 

 

 

******

 

 

 

Jihas fokus menatap jalan didepan.

Mata bobanya terasa perih dan mulai berair ketika melihat tangan Jiselle memeluknya dengan erat, kepalanya pun sudah bersender pada punggung Jihas seakan tidak ingin kehilangan pria itu.

Jihas merasa sakit, dirinya takut kehilangan, segala sesuatu bisa saja terjadi saat mereka bertemu dengan Nikie nanti.

Jihas sudah meronta pada Tuhan, meminta agar waktu bisa diulang namun kedengarannya mustahil. Jihas bahkan meminta keadilan pada sang takdir, kenapa harus dia yang menanggung salah yang bukan murni atas perbuatannya. 

Pria itu ingin marah tapi entah pada siapa.

Tapi sekali saja, bolehkah Tuhan berbaik hati membiarkan Jiselle untuk tetap bersamanya?

Bukankah ini kali kedua? Bisakah untuk kali ketiga, keempat dan seterusnya Jiselle jatuh kepelukan Jihas?

 

‘Sekali lagi’

 

 

 

 

열네 – 14

(Blue Jeans)

 

 

The stain on my blue jeans

The only way I could

Remember that you were once mine

 

– Gangga Kusuma

 

 

Jiselle mendadak teringat pemberian dari Jihas yang selalu membuatnya merasa tenang, Blue Jeans itu tertinggal.

Entah kenapa dirinya gugup dan merasa tidak nyaman selama perjalanan ini, firasat semacam membisikan luka dalam dadanya, Jiselle ragu.

Sekarang Motor Jihas sudah berhenti dan mereka berdiri dilapangan luas yang dipenuhi ilalang.

Entah dimana ini namun Jihas hanya melirik kekanan dan kekiri seperti mencari seseorang. Asa dan Jordan yang baru turun dari mobil juga nampak bingung, untuk apa Jihas membawa mereka kehamparan ilalang? Secara logika tidak mungkin Nikie ada disini.

“Ji?” Jiselle memanggil pelan.

“Sorry Sel, harusnya dia udah ada disini, Gue udah nyuruh orang buat bawa dia…”

 

Bughhhh

 

Pukulan itu mendarat diwajah Jihas sampai dirinya tersungkur ketanah, Jiselle seketika menjerit saat melihat Jordan memukul kekasihnya.

“Jihas! Jo kamu kok tega banget sih, kamu jahat ya! Jihas salah apa sih sama kamu?”

“Sorry Sel, gue nggak bisa nahan diri lagi, cuman buat nutupin kelakuan bejad si Jihas! Dia tuh cuman pura-pura sel!” Jordan murka.

“Jordan tutup mulut Lo!” Marah Asa.

“Kenapa? Lo belain dia Sa? Sadar Lo! Dia sengaja bawa kita kesini maksudnya apa coba Lo pikir pake otak Lo itu, dia seneng liat kita ketar-ketir kayak gini”

“Malika Lo kalau nggak bisa kontrol emosi mending diem didalem mobil aja, jangan memperkeruh suasana”

Jordan mengepalkan tangannya. Emosi sudah naik sampai ubun-ubun dan tidak bisa dia tahan lagi.

Jihas diam saja dan menyeka sudut bibirnya yang lebam dan mulai berdarah, dia tidak marah sedikitpun pada Jordan hanya saja dia kecewa karena Nikie ternyata tidak ada disana sesuai rencana nya.

“Sel, kita pulang!” Jordan menarik Jiselle.

Disana Jihas langsung berdiri dan menghempas tangan Jordan dari kekasihnya, auto ngamuk Jordan dan menatap tajam Jihas.

“Jangan kasar sama pacar gue! gue diem aja saat Lo pukul gue tapi beda cerita kalau Lo bawa Jiselle pake emosi kaya gini!” Bentak Jihas.

Jordan tersenyum remeh mendengar Jihas berani memanggil Jiselle sebagai pacarnya. Lama-lama geram juga dia pada orang yang membuat kesalahan fatal di masa lalu mereka.

“Sel, Lo percaya sama pacar Lo ini? Cih! asal Lo tau aja dia yang udah rusak persahabatan kita semua, dia yang udah bikin…”

“Malika diem! balik ke mobil sebelum gue yang hajar mulut kompor Lo itu”

Bentakan Asarman mengejutkan semua orang, termasuk Jordan yang baru pertama kali melihat Asa semarah itu. Jordan membuang nafas kesal dan pergi dari hadapan mereka semua.

Jiselle terdiam, apa yang sebenarnya dikatakan Jordan. Ada hubungan apa Jihas dengan persahabatan mereka? Siapakah Jihas kalau begitu? Bukankah mereka pertama kali bertemu?

“Jihas gue butuh penjelasan, karena gue ngebentak si Malika bukan berarti gue belain Lo” Asarman menatap Jihas.

“Gue udah minta seseorang buat yakinin Nikie tapi kayanya itu nggak berhasil Sa, sorry gue jadi kayak mempermainkan kalian, maafin gue sel”

“Kamu udah berusaha Ji, sekarang kita pulang ya” Hibur Jiselle sambil merangkul tangan Jihas.

Jihas benar-benar kecewa, kenapa Haidar bisa gagal meyakinkan Nikie untuk menemui mereka ditempat ini, apa iya hati Nikie sudah separah itu sampai lukanya tidak pernah sembuh, hanya untuk menemui teman-temannya saja pun dia tidak sanggup.

Mereka kembali berkendara di jalanan, terdiam satu sama lain terutama Asarman dan Jordan keduanya enggan untuk sekedar menatap satu sama lain.

Tiba-tiba motor Jihas membelok tidak sesuai dengan arah jalan pulang. Jordan langsung heboh dan berteriak pada Asarman yang menyetir.

“Sa, liat Sa! Itu dia mau kemana?”

“Eh? Gu.. gue nggak tau”

“Cepet ikutin Sa, sialan! Dia mau bawa kabur Jiselle apa?”

“Jangan negatif thinking dulu kenapa sih Jo”

“Dia bonceng sahabat gue bangke, gimana gue nggak panik. Cepetan deh nggak usah kayak keong gitu nyetirnya”

“Ini juga udah cepet keles”

“Udah sini gue aja lah yang nyetir!”

“Nggak keburu, udah diem aja gue jadi nggak fokus nyetir dengerin bacotan Lo Mulu. Lama-lama gue lempar juga ya Lo!”

Mobil Asarman secepat kilat mengejar Jihas dan Jiselle didepan mereka, motor itu berhenti disebuah gang kecil yang mengharuskan mereka berjalan kaki untuk masuk kedalam. Sebenarnya ada akses untuk kendaraan tapi mereka memilih datang perlahan.

Disana sudah ada pria yang bersandar pada tembok pembatas gang, melipat dadanya dengan santai begitu dihampiri oleh orang-orang yang nampak kebingungan.

Itu Haidar, seperti yang dikatakan Jihas nampaknya pria ini memang sedang bekerja sama dengan kekasihnya Jiselle itu untuk mencari keberadaan Nikie.

Asarman dan Jordan yang menyusul hanya bisa terheran-heran melihat keberadaan Haidar yang tidak mereka kenal. Asarman hanya ingat si jangkung itu adalah orang yang mencari Jiselle di malam tahun baru.

“Lo temen nya Jiselle?” Tanya Asarman.

“Bukan, sejujurnya gue nggak sekenal itu sama Jiselle” jawab Haidar terus terang.

“Ooh, Lo sobatnya si Jihas? Geng nya kan Lo?” Tebak Jordan.

Jihas dan Haidar saling pandang atas pertanyaan Jordan, tapi lagi-lagi Haidar menggeleng dan mengatakan dirinya bahkan baru beberapa hari mengenal Jihas. 

“Gue sahabatnya Juwan”

Okay Jordan dan Asa semakin bingung saja dibuatnya, Juwan siapa lagi?

Semakin hari semakin ramai saja absensi dalam kisah yang rumit ini, penuh dengan nama-nama baru yang tidak mereka ketahui ternyata ambil andil dalam semua ini.

“Langsung ke intinya aja deh, kasian si Malika udah pusing mikirin ini siapa itu siapa”

Jordan langsung meringis, kenapa Asa mengekspos panggilan ‘Malika’ itu didepan orang baru seperti Haidar, bisa turun derajat dia.

“Juwan adalah orang yang nyuruh gue buat mantau kalian, tentu aja buat mastiin kalian baik-baik aja apa nggak, Juwan itu suaminya Nikie”

“Apa?!” Kaget Jordan, Asarman dan Jiselle.

Bagaimana bisa mereka tidak tahu kalau Nikie sudah menikah.

“Gue tahu kehidupan Jiselle di Korea, dia pulang ke Bandung, kesehariannya Asa sama Jordan pun gue pantau buat lapor ke Juwan, dan yang bikin gue kaget, finally gue ketemu juga sama Jihas”

Semua orang terdiam mendengar ucapan Haidar dengan bingung.

“Jangan bilang kamu tau kalau Nikie sama kak Juwan pergi ketempat yang sama, makanya kamu nyusulin aku sama Jihas pas tahun baru?”

“Untungnya Asa ngasih tau sebelum semuanya terlambat” Haidar menjawab dengan kalem karena memang begitu faktanya.

“Dari sana gue mulai tahu kalian, dan sekarang gue disini atas permintaan Jihas. Kita udah ngobrol kemarin, kita berdua mau jalanin cara terakhir buat mempertemukan kalian sama Nikie”

“Tapi itu gagal kan?” Pasrah Jihas.

“Nggak sama sekali bro, lo tenang aja malam ini kalian bakal ketemu Nikie, so siap-siap”

Haidar tersenyum penuh keyakinan, si tampan itu sudah bersepakat dengan Juwan kalau Nikie harus mengakhiri persembunyiannya. Karena Nikie perlu bahagia tanpa lari dari kenyataan, itulah pemikiran Juwan.

“Bro, thanks. Gue nggak tahu harus kayak gimana buat bales semuanya”

Jihas terus berterima kasih sambil tersenyum pada Haidar, si polisi muda itu mengangguk. Dia tahu niatan Jihas itu benar-benar baik, mempertemukan mereka semua meski dia yang akan menanggung beban pada akhirnya.

“Selangkah lagi ya sel, Lo bakal dapet jawabannya” Jihas mengusap pucuk kepala kekasihnya.

“Makasih banyak Ji. Aku sayang banget sama kamu”

Jihas tersenyum meskipun sudut bibirnya masih terasa nyeri, Jiselle terus menggenggam tangan Jihas tanpa ada niatan untuk dilepas.

Haidar berjalan paling depan diikuti Jihas dan Jiselle ditengah, Asarman dan Jordan juga berjalan di paling akhir barisan. 

Jantung mereka berdegup kencang, entah apa yang akan terjadi malam ini, tidak bisa mereka bayangkan ekspresi Nikie begitu tahu suaminya bekerja sama dengan mereka tanpa sepengetahuan Nikie sendiri.

Jiselle takut mendapat penolakan lagi, matanya menatap Jihas tepat disampingnya, pria itu terus menatap lurus meski didalam hatinya sedang gundah akan segala gelisah.

Jiselle beralih menatap Asa dan Jordan dibelakang, Jordan mengangguk padanya tanda mereka harus siap dengan pertemuan ini apapun hasilnya. Asa juga menepuk bahu Jiselle untuk kokoh dan terus berjalan pada tujuannya selama ini.

Tenang saja, mereka ada untuk satu sama lain.

“Ini rumah Nikie”

Haidar menunjuk rumah bercat biru pastel, rumah yang begitu besar dan terlihat begitu rapi karena terawat dengan baik.

Jiselle ingin mundur dan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Nikie saking trauma nya dengan kecelakaan Jihas kemarin, namun Jihas menggeleng kearahnya. Mereka perlahan memasuki gerbang sementara Jihas mundur meninggalkan mereka.

“Sa, gue titip Jiselle, mungkin abis ini dia bakal benci banget sama gue. Pegangin dia ya kalau kenyataan terlalu pahit buat dia denger nanti, jagain dia kalau sewaktu-waktu dia nggak sanggup denger penjelasan Nikie, gue nggak akan ikut masuk kedalem”

“Kenapa?”

“Lukanya Nikie itu gue, bukan kalian” Jihas tersadar.

“Lo tenang aja, gue bakal jagain Jiselle didalem” Sahut Asa lalu Jihas berjalan pergi dari pandangan mereka.

Jiselle yang sudah tidak mau diam dan terus bertanya kemana perginya sang kekasih langsung dibawa Asarman dan Jordan untuk masuk kedalam. Pintunya nampak terbuka, mungkin sengaja Juwan bukakan untuk mereka.

Pertama masuk, Juwan lah yang muncul tepat didepan mereka tapi itu cukup menjadi jump scare yang membuat hati mereka bergemuruh tak karuan, Juwan menatap mereka satu persatu dan tersenyum simpul.

“Siapa yang datang Wan?” Itu jelas suara Nikie.

Perempuan cantik yang memakai dress ungu itu tidak bisa melihat siapa yang ada di ambang pintu karena terhalang oleh badan tegap sang suami. Perlahan Juwan menepi, membiarkan Nikie melihat siapa yang telah datang.

Nikie kaget, dia mundur beberapa langkah dengan wajah syok.

Juwan segera menahan Nikie, sudah cukup baginya melihat Nikie terus lari tanpa berhenti hanya karena masa lalu yang tidak bisa dipungkiri.

“Wan kenapa? Kamu jahat Wan! Kamu jahat!”

“Aku suami kamu Nik, nggak ada secuil pun niat buat jahatin kamu. Please berhenti Nik, aku pengen kamu bahagia”

Nikie menghempaskan tangan Juwan, menatap pria itu dengan tatapan tak percaya, kenapa Juwan tega menjebaknya seperti ini?

Nikie benar-benar serius, dia tidak berbohong saat mengatakan tidak sanggup bertemu dengan sahabat-sahabatnya terutama Jiselle.

“Sampai kapan kamu mau kaya gini?”

“A.. aku, aku udah hancur Wan, Kenapa kamu paksain semua ini? Semuanya udah nggak bisa diperbaiki, hiks… Semuanya udah dirampas!”

“Nikie please, akhirin semuanya! Demi kamu, demi aku juga” 

Asarman dan Jordan menatap dari kejauhan, menyaksikan Nikie yang lama tak mereka temui tengah berdebat dengan sosok yang tahunya sudah menjadi pasangan hidup yang Nikie pilih.

Nikie menatap kearah lain, enggan rasanya melihat wajah Juwan ataupun orang lain didalam ruangan itu.

Jiselle memberanikan diri untuk meraih tangan Nikie, dia takut tapi ucapan Jihas selalu mengingatkan nya akan Nikie yang harus dia jemput. Nikie adalah kehidupannya juga, sahabat yang paling dia sayang di dunia ini.

“Nik, Juwan nggak salah, aku yang maksain diri buat nyari kamu. Aku perlu tahu kenapa kamu lari dari kita semua, aku perlu tahu letak kesalahan aku dimana. Udah ya, jangan lukain diri kamu sendiri kalaupun harus biar aku aja Nik, aku yang salah, aku yang harus nanggung semua ini bukannya orang baik seperti kamu”

Diluar dugaan, tangan Jiselle sama sekali tidak ditepis oleh Nikie.

Perlahan wajah Nikie menatap Jiselle dan runtuh sudah tangisan itu. Memang benar, melihat Jiselle adalah goresan paling serius pada lukanya yang tak pernah mengering. Wajah Jiselle semacam putaran kenang yang sekuat tenaga Nikie lupakan namun akhirnya tidak bisa.

“Aku nggak pernah benci sama kamu Sel, mana mungkin! Cuman ada kesalahan yang kamu perbuat dan itu nggak akan bisa aku maafin sampai kapanpun” Nikie mulai berbicara. Suaranya tercekat, berat untuk mengatakan semuanya.

“Maaf Nik, aku nggak tahu maksudnya. Aku nggak inget apapun”

“Wajar kamu nggak inget karena hari itu kamu kecelakaan pas ngejar aku, kamu hilang ingatan dan dibawa ke Korea sama orang tua kamu, disana aku mutusin buat pergi sejauh mungkin dari semua yang udah terjadi”

“A.. aku? Hilang ingatan?” Jiselle menatap Asarman dan Jordan, berusaha mencari pembenaran. 

Yang ditatap hanya diam, mereka terlalu kalut dalam situasi ini.

“Ibu sama ayah cuman bilang aku sakit, makanya jatuh koma, terus kenapa kamu lari sih Nik? Kenapa kamu ninggalin aku sampai aku kecelakaan?” Jiselle sedikit terpancing emosi, kenapa Nikie tega pada dirinya.

Nikie menarik nafas pelan, dadanya terasa nyeri.

Inilah bagian tersulitnya, yang selama ini dia pendam. Menceritakannya kembali, bukankah itu sama saja dengan mengungkit hal yang sudah terjadi, semacam bermain dengan memori.

“Andai hari itu kamu nggak pergi sama Jihas, semuanya nggak akan kaya gini”

 

Deg…

 

Lagi dan lagi nama Jihas terseret dalam ucapan orang.

Apalagi kali ini Nikie menyalahkan dirinya dan Jihas atas segala yang telah terjadi, sefatal apa? Dan kenapa Jihas terus menerus terlibat.

Nikie berjalan kekamarnya untuk mencari sesuatu didalam map yang tersimpan rapi dilemarinya. Sesuatu yang tak kan pernah dia buang, tak lama dirinya kembali dan menyerahkan selembar foto kearah Jiselle.

Jiselle terdiam tak mengerti, dia tidak ingat siapa orang didalam foto itu tapi dadanya berdenyut sakit melihat senyuman yang begitu familiar baginya.

“Jaevan Haris” Ucap Nikie kembali terisak.

Jordan dan Asarman juga sudah berkaca-kaca dibelakang sana, luka itu kembali pada diri mereka begitu satu nama terucap dari bibir Nikie.

Sesuai janjinya pada Jihas, Asarman sudah memegangi bahu Jiselle yang rapuh itu.

Ini luka mereka semua.

 

 

*****

 

 

Asarman, Jordan dan Jiselle pulang dengan mobil.

Jiselle menangis keras didalam sana setelah mendengar semuanya dari Nikie, Nikie memarahinya tanpa henti tadi.

Menceritakan setiap salah yang Jiselle perbuat tanpa tahu akan seperti ini jadinya, Nikie menyalahkan Jiselle atas cinta yang direnggut dari sisinya, hanya karena Jiselle yang keras kepala dan tetap memilih Jihas.

Kebahagiaan Nikie sudah hilang, yang pergi itu tidak akan pernah kembali.

Jiselle ingat semuanya sekarang.

Asarman menangis dalam diam, air mata bercucuran membuatnya tidak konsentrasi saat menyetir, dihapusnya dengan kasar dan berusaha menahan semua ini.

Jordan juga sudah menutup wajahnya dengan sebelah tangan, dia tidak bisa sekuat kakaknya. Jordan sesakit ini, sama dengan Jiselle yang meraung-raung akan tangisannya di kursi belakang.

Malam itu terlalu pedih bagi mereka, juga bagi Nikie.

Sesampainya mereka dirumah Neneknya Jiselle, si perempuan bermata kacang almond itu segera berlari kekamarnya tanpa mengindahkan panggilan sang nenek. 

Jiselle segera mencari jeans biru yang Jihas berikan.

Karena dia ingat kalau Jihas mengatakan sesuatu, jeans itu adalah obat jika jawaban yang dirinya dapat dari Nikie menyisakan rasa kecewa.

Dirobek lah plastik pembungkusnya dan Jiselle mulai merogoh saku celana itu, dapat!

Ini yang dimaksud Jihas rupanya.

Disaku celana itu isinya selembar polaroid yang sedikit rusak, mengabadikan senyuman Jiselle dan kakaknya, Jaevan Haris.

Pecah sudah tangisnya, kenapa bisa Jiselle lupa ingatan dan melupakan semua tentang Jae, Jiselle menggeleng kencang sampai kepalanya sakit, berusaha mengelak kalau ini semua hanya mimpi buruknya.

“Nggak! Ini nggak mungkin… Kak Jae hiks”

Blue jeans ini milik Jaevan, bukan milik Jihas.

Celana favorit yang kerap kali dipakai kakaknya kalau dia merasa dunia sedang tidak baik kepadanya.

Dihari dimana Jaevan meninggal dunia, celana ini lah yang dipakainya, tempat menyimpan selembar polaroid yang baru Jaevan cetak karena rasa rindu pada adiknya.

Benar kata Nikie, andai saja hari itu Jiselle tidak pergi dengan Jihas mungkin dia akan mencegah kemarahan geng nya Jihas untuk mengeroyok Jaevan. Wajar kakaknya marah saat Jiselle tidak membalas chat atau mengangkat telpon darinya, wajar Jaevan khawatir lalu menyusulnya ke jalan Braga dan memarahi Jihas saat itu juga.

Jiselle ingat semuanya!

Jihas adalah musuh kakaknya, sekaligus cinta pertamanya di masa sekolah. Meskipun jalannya harus dengan Jiselle bertengkar dengan Jaevan, Jiselle tetap memilih Jihas sebagai pria yang dia cintai.

Jaevan tak kunjung menerima Jihas, mengatakan kalau musuhnya itu hanya akan menyakiti Jiselle karena membenci dirinya namun Jihas tidak seperti itu bagi Jiselle.

Tapi kejadian naas tetap saja tidak bisa mereka hindari, mobil Jaevan saat itu juga dihadang oleh geng dari sekolah lain yang merupakan anak buah Jihas, tak terima ketua mereka dicaci maki orang lain maka mereka habisi Jaevan saat itu juga.

Nikie yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, seberapa kejamnya anak buah Jihas menyeret Jaevan dari dalam mobil dan memukulinya.

Jaevan dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, semenjak itulah luka besar menganga lebar lalu menyakiti semua orang yang ditinggalkannya.

Jiselle menangis, dia menyesal.

Kalau saja dirinya bisa mengulangi waktu, menarik semua ucapannya pada Jaevan saat terakhir kali, pulang bersama sang kakak pada sore itu, mungkin Jaevan masih berada disisinya sekarang.

“Sel dia itu brandal, suka tawuran. Kakak nggak suka ya kamu deket sama dia, dia cuman bakal nyakitin kamu karena tahu kamu adiknya kakak” Ucapan Jaevan yang membuat Jiselle marah padanya.

“Stop judge orang dengan penilaian kakak! bukan karena kakak baik, kak Jae bisa seenaknya nilai orang! Jihas nggak kaya gitu. Aku benci banget sama kak Jae, benci sama sikap arogan kakak, jangan pernah mencoba buat ngekang aku!”

“Jiselle pulang sekarang juga!” Perintah Jae.

Itulah yang terakhir kali dikatakan Jiselle pada kakaknya, sebelum Jiselle lebih memilih pergi bersama Jihas.

Jiselle menutup telinganya, seakan enggan dihampiri ucapan yang terngiang-ngiang dikepala. Bisakah semua itu pergi memberi ruang untuknya?

Tolong katakan pada Jaevan yang sudah pergi kalau Jiselle menyesali semuanya, bahwa dirinya sudah menerima hukuman yang tidak setimpal dengan apa yang dialami sang kakak sampai meregang nyawa.

Jiselle tidak menggubris ketukan pintu dari luar kamarnya, meskipun itu adalah neneknya, Asarman maupun Jordan. Bahkan Jihas sekalipun, Jiselle tidak mau bertemu dengan siapapun sekarang.

Biarkan dirinya tenang sendirian, merutuki langkah yang seenaknya dia buat tanpa memikirkan orang lain.

Jiselle memejamkan mata dengan sesenggukan, tangannya terus memeluk erat peninggalan di akhir hayat milik sang kakak.

 

‘Blue Jeans’

 

 

열다섯 – 15

(Akhir kisah di Malam Braga)

 

 

Seminggu lebih Jiselle memutus kontak dengan siapapun.

Dia butuh waktu sendiri untuk menerima semua ini. Mau tidak mau dirinya harus berlapang dada atas apa yang menimpanya dan Jaevan di masa lalu, jawaban yang selama ini dia cari tanpa henti.

Yang sudah terjadi tidak akan bisa diganti begitupun yang telah berlalu hanya akan menjadi tangisan yang teramat pilu.

Jiselle merapikan kamar Jae,menata setiap barang yang menjadi masterpiece penuh kenangan untuk dirinya dan keluarga yang ditinggalkan.

Jiselle mengabari ayah dan ibunya di Korea sana bahwa dirinya sudah pulih, memperlihatkan bunga yang siap dia taburkan dimakam sang kakak bersama neneknya.

“Kapan kamu balik ke Korea?”

“Secepatnya yah” jawab Jiselle.

Perjalanannya cukup sampai disini, dia akan melupakan seisi Bandung dan kehidupannya yang malang. Dia harus hidup dengan kisah yang baru maka rasa bersalahnya akan perlahan terhapus. 

“Sudah ikhlas?”

“Uhm, Sedikit Mak”

“Kakak kamu bahagia banget pas tahu kamu bakal lahir kedunia ini makanya dia yang paling sering nangis pas gendong kamu yang masih bayi. Jaevan itu anak baik, dia nggak akan marah sama kamu hanya karena satu kesalahan. Sekarang belajar ikhlas ya, biar kakak kamu nya tenang disana” Jiselle kembali menangis mendengar pepatah neneknya.

Dia ingat kalau Jaevan begitu dekat dengannya sedari kecil, susah senang mereka lalui bersama. 

 

Pikirannya mengawang jauh…

 

“Siapa yang ngompol di kasur?”

“Ehm, J..jae yah”

Jaevan kena jewer ayahnya karena mengaku pipis dikasur padahal itu ulah adiknya, Jiselle ingat Jae malah tersenyum dan menyuruhnya mengganti celana cepat-cepat sebelum ketahuan.

“Woy adik gue jangan diganggu!!”

“Kak Jae jangan kesini”

“Sel, awas sel sini sembunyi dibelakang kakak”

Jaevan selalu melindungi Jiselle dari anak-anak yang mengganggu Jiselle, meski bajunya basah kuyup disiram dan lutut yang terluka karena didorong, apapun Jae lakukan asal Jiselle baik-baik saja.

“Jae hayuuuk!!”

“Hmm? Ah nggak dulu deh bro”

“Kenapa? Lo kan pengen banget nonton pertandingan bola ini, buruan Jae!” Ujar teman sekolahnya.

“Adik gue menang lomba, gue mau rayain bareng dia” Jawab jae dengan senyuman khasnya.

“Yaelah hati Hello Kitty banget sih Lo Jae!”

Jaevan sering menolak ajakan temannya bahkan untuk pertandingan bola yang begitu dia suka. Jaevan memilih datang kekelas Jiselle dan mengajaknya pulang.

Dirumah keduanya melakukan perayaan kecil.

“Ayah sama ibu nggak pulang ya kak?”

“Nggak, It’s okay kan ada kakak disini, yuk kamu mau makan apa? Kita pesen dan kita makan bareng. Oh atau mau makan diluar? kakak punya tabungan nih!”

“Ayo makan diluar” Ajak Jiselle antusias.

Momen menyenangkan itu terlintas dibenak Jiselle, dia ingat kalau hari itu dia mengerjai kakaknya. Jiselle bukannya mengajak Jaevan makan diluar malah membawa sang kakak ke stadiun bola Si Jalak Harupat untuk menonton pertandingan tim kebanggaan kakaknya.

“Sel?” Heran Jae.

“Aku punya uang dari hadiah lomba, kakak kan suka banget nonton bola jadi yaudah…”

Jiselle hari itu menemani Jaevan menonton bola, pria itu begitu senang karena setiap gol yang dicetak maka dirinya akan memeluk Jiselle sebagai rasa bahagia. 

Jiselle rindu sekali pada kakaknya.

Sebanyak apapun kenangan manis yang diputar untuk mengingat Jaevan, nyatanya rindu dan rasa kehilangan tidak akan pernah bisa terbayarkan. 

 

 

******

 

 

Jihas diam bersama Ajun di Cafe milik pemuda itu.

Sudah sepekan Ajun memperhatikan Jihas yang nampak kehilangan semangat hidup, jujur Ajun benci mendapati Jihas yang seperti ini lagi. Ini kedua kalinya,persis dulu seperti saat Jiselle mengalami kecelakaan hebat yang memisahkan mereka berdua.

“Jihas!”

“Hmm?”

“Ngomong apa kek Lo, gue perih mata nih liat Lo ngelamun aja dari tadi” cerocos Ajun.

“Jiselle, dia pasti benci banget sama gue Jun” ini yang sedari tadi menjadi beban pikiran Jihas.

“Lo udah sepakat buat nerima resiko ini Ji! Setidaknya Lo tahu kalau Jiselle masih tetep milih Lo bahkan saat dia hilang ingatan, kalian tuh udah berjodoh dua kali!”

“Tapi gue bakal kehilangan dia lagi, bukan jodoh namanya”

“Gue yakin Jiselle tuh pinter dan baik kayak kakaknya, dia pasti paham sama apa yang terjadi makanya stop buat nyalahin diri Lo sendiri, Lo nggak salah! Si bajingan-bajingan itu aja yang main nyerang tanpa persetujuan Lo”

Ajun terbawa suasana, marah juga saat mengingat anak buah Jihas alias geng nya main hakim sendiri tanpa sepengetahuan Jihas dan dirinya.

Jihas menundukan kepala pada lipatan tangannya dimeja Cafe, bahunya sedikit bergetar, dirinya menangis.

“Jihas jangan bikin gue mewek deh” sedih Ajun.

“Gue baru aja mau yakinin bang Jae buat percaya sama gue tapi guenya aja yang goblok! Harusnya gue nggak bawa Jiselle pergi” Sesal Jihas dalam tangisnya.

“Lo waktu itu emosi karena direndahin bang Jae, wajar Ji, gini deh sekarang gue tanya Lo mau nyerah apa terus berjuang sama perjuangan Lo yang udah sejauh ini?”

“Gu.. gue mau mundur Jun”

Ajun menggebrak meja dan langsung berdiri, mendengar kata mundur dari seorang Jihas Andrean membuatnya naik pitam. Bisa-bisanya dia memilih menyerah, lalu Jiselle nantinya bagaimana?

“Mundur pala Lo kutil Anoa! anjir Jihas gue gibeng juga dah Lo! Heh apa Lo liat-liat Sukirman? kerja aja sono jangan kepo” Sewot Ajun pada bawahannya yang memang suka ingin tahu urusan dirinya.

Ajun mengatakan kalau sahabatnya harus terus memperjuangkan cinta yang memang sedari awal membuatnya menyerahkan segala hal dalam hidup. 

Asal Jihas tahu Tuhan tidak akan tutup mata dengan usahanya.

“Gue harus ngehargain Bang Jae, dia nggak setuju gue sama Jiselle dan gue harus terima itu” Final Jihas.

 

 

 

******

 

 

 

Asarman semakin hari semakin sibuk dengan dunianya. Kuliah yang harus segera dia selesaikan bukan semata-mata untuk segera menyandang gelar sarjana, namun untuk membantunya sedikit melupa.

Asarman harus memulai hidup yang baru karena tugas nya dalam bermain seni peran sudah usai, Jiselle sudah tahu semuanya.

Jordan pun sama begitu, sesekali dia menjenguk Nikie dan Juwan di kediaman mereka untuk memberi dukungan pada sahabatnya.

Seringnya Jordan menemui Jiselle dan neneknya untuk menyemangati mereka. Jordan berusaha membujuk Jiselle untuk tetap tinggal di Bandung, setidaknya si kulit tan itu tenang jika sahabat-sahabatnya ada didekatnya.

“Aku mau balik ke Korea Jo, salamin ke Asa ya kalau nanti nggak sempet ketemu. Aku pasti kerumah kamu dulu buat pamitan ke om sama tante, cuman takutnya Asa masih sibuk dikampus”

“Sel? Apa nggak ada gitu yang bikin Lo bertahan di Bandung?” Jordani Hakim berusaha merayu.

“Menurut kamu apa yang pantas aku pertahanin?”

“Si Emak misalnya, wah Lo mau jadi cucu durhaka ya?”

Jiselle terkekeh pelan, dia masih bimbang sebenarnya tapi dia takut tidak sanggup menjalani kehidupan ditempat yang menyimpan banyak kenangan pahit untuknya.

“Jihas?”

Jiselle menatap Jordan, pria itu tumben-tumbennya menyebut nama Jihas, bukannya Jordani Hakim sangat membenci Jihas?

“Gu.. gue emang marah sama dia tapi coba Lo tanya dari sisi dia kejadiannya kaya gimana. Ehmm, ya Lo nggak bisa gitu buat nyalahin dia sepenuhnya, Lo sendiri kan yang bilang buat nggak asal nge-judge orang”

“Kamu siapa? Asarman atau Jordan nih, tumben ucapannya bijak betul haha” Ngakak Jiselle.

“Sel, gue serius ya. Ya gue cuman…”

Jordan memang gelagapan sendiri, disatu sisi dia marah pada Jihas dan disisi lain dia kagum pada pria itu atas jerih payahnya yang bisa mempertemukan mereka dengan Nikie juga ketulusannya pada Jiselle.

Intinya Jordan ingin semua orang hidup dengan lembaran baru, yang sudah biarlah berlalu toh mereka hanya manusia biasa, kesalahan itu wajar, tapi kita harus bisa saling menerima. Kalau kita ingin meminta suatu keajaiban yang lebih baik dari Tuhan, apa salahnya memulai dengan menerima suatu kekurangan terlebih dahulu?

Ternyata kejadian ini sudah banyak mendewasakan seorang Jordani Hakim.

Jiselle tersenyum kecil, perempuan manis itu masih belum memiliki pilihan, namun ucapan Jordan membuatnya berpikir dua kali.

Jiselle mulai memberanikan diri membuka pesan yang masuk ke WhatsApp-nya. Dia membalas pesan itu satu persatu mulai dari Asarman yang belum punya waktu untuk bertemu sepekan ini, May yang menanyakan kabar, Haidar juga begitu. 

Jiselle bilang dirinya baik-baik saja dibandingkan sebelumnya.

Satu pesan chat juga muncul dari Dewi, kalian ingat kan pemilik Bawean’SweetHeart’Bakery di jalan Merdeka? 

Dewi mengatakan kalau Nikie mengunjungi nya kemarin malam, membeli banyak kue untuk menghibur dirinya yang sedang bersedih dan ingin memulai hidup dengan lembaran yang baru. Jiselle senang membacanya, itu artinya Nikie merasa lebih baik setelah pertemuan mereka yang terakhir.

Dewi memberikan support untuk Jiselle, kalau perempuan itu harus bangkit dari keterpurukan meskipun kisahnya tak semanis kue dan dessert yang ada di toko itu.

Jiselle ingin datang sekali lagi kesana sebelum pulang ke Korea.

Baju hitam yang elegan itu dipadu dengan rok span sebetis berbahan jeans, mempercantik orang yang memakainya.

Jiselle melihat dirinya dicermin, nampak manis seperti biasanya.

Sepatu cokelat dari Jihas menjadi pilihannya untuk dipadu padan dengan tas cokelat yang dia bawa. Ini kunjungan terakhir Jiselle untuk tempat-tempat yang selama ini menjadi saksi perjuangannya mencari sebuah jawaban.

 

 

 

******

 

 

 

Bawean’SweetHeart’Bakery.

Dewi dan Danny menyambut Jiselle dengan senyuman lebar yang mereka tunjukan begitu melihat Jiselle masuk kedalam toko mereka.

“Halo eonnie Korea, how are you?” Sambutan ceria ala Dewi.

“I’am fine, kak Dewi sama kak Danny gimana kabarnya?”

“Kita baik, oh iya FYI nih karena kamu tamu spesial jadi kita buat hidangan spesial juga. Ini makanan beratnya kita pesen dari resto Jepang ada sashimi dan Kobe beef , enak pokoknya”

“Makasih banyak kak Dew, duh jadi ngerepotin ya” Jiselle merasa sungkan.

“Santai aja Jiselle, ini hadiah perpisahan dari kita kan katanya kamu mau balik ke Korea ya?”

Jiselle mengangguk, mengiyakan pertanyaan Danny padanya.

“Kenapa nggak di Bandung aja? Yah nggak bisa jalan-jalan bareng dong hehe, yaudah deh next time aja ya Jiselle. Eh…eh dilanjut dong, ini ada dessert nya juga. Nikie bilang kamu suka banget sama yang matcha-matcha gitu kan ya” Jiselle menatap Dewi dengan senyuman.

Bandung menyimpan beribu-ribu orang baik yang rasanya sulit untuk dia tinggalkan, Jiselle senang sekali bisa bertemu Dewi dan Danny.

Mereka banyak membantu Jiselle selama ini, mengabari secepat mungkin saat mereka mengetahui kabar dari Nikie. Jiselle tidak tahu harus membalas kebaikan mereka dengan apa, yang bisa dilakukannya adalah mendoakan kebahagiaan untuk pasangan itu, berharap rumah tangga Dewi dan Danny selalu diberkahi.

Kini matanya menatap toko Bawean yang diterpa cahaya matahari, Jiselle berbalik menatap jalan merdeka. 

Didalam hati dirinya mengucapkan terimakasih pada Haidar yang sering membantunya. Menyeberangi jalan, menikmati senja di balai Kota, mengembalikan topi baretnya dan yang paling Jiselle syukuri adalah Haidar menyelamatkan Jihas untuknya. Jiselle harap orang sebaik Haidar akan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya juga.

Jiselle melanjutkan perjalanan ke Cafe milik Ajun.

Pria itu kaget dan langsung berlari menghampiri Jiselle yang baru saja melambaikan tangan di ambang pintu.

“Jiselle?”

“Hai kak, eh kak May ada disini juga nggak ya?”

“Dia lagi dijalan mau kesini sih Sel, ayo duduk jangan berdiri terus nanti pingsan hehe”

Ajun merasa senang Jiselle terlihat ceria, tidak ada kesedihan di raut wajahnya seperti bayangan Ajun. Perempuan itu memang kuat, mungkin dirinya sudah sembuh jauh lebih cepat karena hatinya sudah lapang menerima kenyataan.

Sayangnya Jihas sudah pulang.

Coba saja kalau Jihas diam sedikit lebih lama di cafe ini.

“Aku mau pamit kak”

“Pamit? Ke.. kemana? Sel, jangan nge-prank deh. Se..serius?” Ajun gelagapan saking terkejutnya.

“Aku mau balik ke Korea kak makanya aku mau pamitan sama kak Ajun, sama kak May juga karena kalian udah jadi orang penting buat hidup aku. Makasih ya buat selama ini”

Ajun terdiam, lemas sudah dirinya mendengar Jiselle yang mau pergi ke Korea dan Jihas yang baru saja menyatakan kalau dirinya akan mundur. Apa mereka benar-benar menyerah pada cinta ini? 

Ajun berusaha menghubungi Jihas tapi ponsel pria itu malah tidak aktif, May yang baru saja datang pun sudah membujuk Jiselle untuk duduk lebih lama sambil menikmati kopi atau semacamnya.

Mereka ingin Jiselle bertemu dengan Jihas.

“Aku harus pulang kak May, aku mau beres-beres barang soalnya. See you”

“Y.. yakin nggak mau ngopi dulu Sel? Yaudah deh, see you. Take care ya Jiselle sayang” May dan Jiselle saling berpelukan.

“Aarrgggh kamu sih bukan nya bikin alesan apa kek, pintu Cafenya macet atau gimana gitu biar Jiselle nya diem disini!” Gemas Mau saat Jiselle sudah keluar dari Cafe kekasihnya.

“May Sayang, kamu pikir Jiselle bocil apa? Lagian si Jihas kenapa sih nggak aktif”

“Terus ini gimana dong yang?”

“Ya gimana lagi” Ajun menghela nafas.

“Ajun sayaaang gimana dong? Aku mau nangis nih kalau Jiselle keburu pergi”

“Yaudah nangis aja, aku temenin! Huweeeee” Pasrah Ajun.

 

Ajun dan May terduduk lesu saja saat Jiselle menjauh dari pandangan mereka, sepertinya rencana mereka gagal. Apa boleh buat? Jihas dan Jiselle tidak ditakdirkan bertemu hari ini.

 

Siapa bilang?

Jiselle yang tengah berjalan menikmati lampu-lampu malam dijalanan Braga itu diam terpaku. Lampu satu persatu menyala mulai dari yang paling dekat dengannya sampai keujung sana.

Matanya yang menatap lampu paling akhir harus teralihkan pada sosok pria yang berdiri disana, menatap dirinya.

Jihas Andrean Sananta.

Pria itu memakai celana jeans yang senada dengan rok span milik Jiselle, juga kaos hitam yang seakan-akan sengaja mereka serasikan agar Bandung tahu dijalan Braga ini sedang ada dua orang yang saling merindu.

Jihas menatap Jiselle dari kejauhan tapi dirinya berbalik arah karena mungkin saja Jiselle tidak ingin bertemu lagi dengannya.

Jangan menjadi luka! Jihas Andrean jangan menjadi luka! pikirnya.

Jihas berjalan lurus tapi dia mendengar suara sepatu dan sedetik kemudian seseorang memeluknya dari belakang. 

“Ketangkep juga siluman panda jalan Braga!” Ujar Jiselle.

Jihas tersenyum lega, Jiselle masih mencintainya.

“Apa kabar tuan putri?” Jihas berbalik dan memeluk Jiselle jauh lebih erat.

“Lumayan, ya lumayan meningkat pas liat kamu”

“Huh belajar gombal dari siapa? Si Asarman ya?”

“Sembarangan! dari Emak hehe nggak deng becanda. Jihas, aku mau ngomong sesuatu boleh kan?”

Jihas mengusap rambut Jiselle, kemudian mengangguk pada perempuan itu. 

“Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kita pernah ketemu sebelumnya? Kenapa kamu bikin aku jatuh cinta untuk yang kedua kali?”

“Gue perlu bukti Sel kalau gue emang pantes dapetin Lo meskipun gue bukan cowok yang baik”

“Kamu bikin aku capek Ji, pantesan aja aku nunggu kamu nembak malah nggak ditembak-tembak juga”

“Eh iya? Sel kita kan emang udah pacaran haha” tawa Jihas merasa lucu.

” Mana aku tau, aku kan nggak inget, terus soal kak Jae apa kamu benci sama dia?”

“Hah? Ngawur! Orang sebaik bang Jae siapa yang mau benci sih Sel, kita emang pernah salah paham sampai adu jotos tapi nggak ada sedikitpun gue benci sama kakak Lo, gu.. gue, gue kagum sama dia, makanya gue jadiin dia rival gue karena gue mau tunjukin kalau Jihas yang bobrok ini bisa dapetin hati dia. Bikin dia percaya kalau gue bisa jagain adiknya”

Jiselle mengangguk paham dengan jawaban Jihas, Jiselle tahu pria itu menjawab dengan sangat-sangat tulus. 

“Satu hal lagi, aku mau pamit sama kamu Ji”

Jihas menatap Jiselle kaget, pamit?

Jiselle menjelaskan kalau dirinya akan kembali ke Korea, tinggal bersama ayah dan ibu nya disana. Hidup sebagai Jiselle sekaligus kakaknya Jae untuk kedua orang tua mereka, Jiselle tidak ingin menjadi beban siapa-siapa lagi.

“Bandung udah baik banget ngasih aku masterpiece kaya kamu dan harus aku akuin kalau aku sayang banget sama kamu Ji”

“Jiselle? K.. kapan Lo ke Korea?”

“Secepatnya”

“T..tapi temen-temen Lo?”

“Mereka bakalan baik-baik aja tanpa aku kok, nggak usah khawatir”

Lalu bagaimana dengan Jihas, benarkah pria itu harus mundur?

“Apa Lo nggak bisa stay di Bandung?”

“Semua orang pertanyaan nya sama ya, actually nggak ada alasan buat aku lama-lama disini. Kecuali kalau kamu mau bantu cariin aku alasan kenapa aku harus tetep stay di Bandung”

Jiselle memberikan kode mutlak pada Jihas, dia hanya ingin tahu tanggapan pria itu, bukannya mengatakan sesuatu Jihas malah menarik tangan Jiselle untuk berjalan bersamanya, kembali memasuki jalan Braga.

“Mau kemana kita Ji?”

“Baju kita udah Couple-an Sel, ayo kita pamer sama seisi Bandung”

“Haha nggak penting banget, lagian siapa yang mau liatin kita sih Ji”

“Ada, tukang foto hehe”

Jiselle dan Jihas menikmati malam mereka di Braga. Berdansa diantara musik-musik yang mengalun indah dengan permainan biola. Banyak yang merekam mereka karena dinilai serasi dengan pakaian hitam dan jeans biru.

Mereka cocok menurut orang-orang.

Kopi Starbucks menemani jalan santai mereka sambil melihat-lihat hasil jepretan dari photobox disana. Jiselle dan Jihas terus menertawakan baju mereka yang tidak disangka-sangka akan sama, padahal keduanya tidak pernah janjian.

“Aku lagi nginget kak Jae aja, makanya pake rok yang bahannya Jeans, kamu?”

“Sama, gue juga lagi inget Bang Jae”

“Samaan terus, nggak kreatif!”

“Beda tau, bedanya kalau gue sambil inget Lo juga” Gombal si panda.

Jiselle berjalan mendahului Jihas, dia hanya tidak ingin ketahuan tersenyum oleh orang yang selalu berhasil membuatnya tersipu malu.

Jihas memanggilnya untuk berbalik, saat Jiselle menatap pria itu satu uluran tangan mengarah kepadanya.

“Take care Jiselle, gue harap Lo hidup bahagia di Korea sana”

Maksud Jihas apa?

Kalian mendengar sesuatu yang retak? 

Iya, hati Jiselle seketika itu juga patah dan rasanya sakit. Jihas dengan tenangnya mengucapkan kata perpisahan dan tidak membuat alasan untuk Jiselle bisa terus dengannya seperti yang Jiselle harap. Pria itu resmi mengatakan mundur dari hubungan mereka.

Berakhir sudah.

“Jihas? K..kamu? Harusnya kamu minta aku buat terus disisi kamu Ji!” Marah Jiselle dengan tatapan kecewa pada sang kekasih.

“Gue nggak bisa Sel, gue mau hargain bang Jae karena selama ini dia nggak pernah setuju kita pacaran”

“Kamu tega ya Ji!”

“Sel, gue sayang banget sama Lo lebih dari apapun, harusnya Lo benci ke gue biar gue gampang buat mundur dari Lo, selama ini gue salah karena terus maksain takdir biar kita selalu bareng-bareng, sampai gue sadar kalau gue udah rusak Lo, bikin bang Jae pergi, bikin Nikie marah, dan bikin hidup Lo susah”

“Nggak! Nggak gitu …”

“Gue nggak sanggup liat cewek yang gue sayang terus-terusan kaya gini”

“Jihas, please..”

“Kita akhiri aja sampai disini ya Sel”

Jihas menitikkan air mata disela perkataanya, memang berat tapi dia harus melakukan semua itu. Demi Kebahagiaan Jiselle, Jihas akan mundur tanpa diminta.

Jiselle menahan Jihas yang akan pergi, dengan cepat tangannya mengambil sesuatu dalam tas. Dari jeans biru yang Jihas berikan, jeans milik Jaevan lebih tepatnya, ternyata bukan hanya polaroid yang Jiselle temukan.

Ada sepucuk surat yang sudah ringsek.

“Ini surat yang terakhir kak Jae buat sebelum pergi, kamu baca Ji! Dia udah akuin kamu layak jadi penjaga adiknya tapi kenapa kamu malah mundur hah?”

Jihas membaca isi surat itu.

Isinya adalah tulisan tangan Jaevan tentang rasa marahnya pada Jihas yang masih keras kepala mendekati Jiselle, Jaevan juga mengatakan kalau dirinya kesal pada Jihas yang selalu tahu apa yang dirasakan oleh Jaevan.

Tentang dirinya yang lelah selalu dianggap baik dan lemah oleh banyak orang hanya karena hatinya yang lembut, tapi berbeda dengan Jihas, anak itu selalu mencari gara-gara dengan Jaevan.

Sengaja memancing Jaevan untuk berkelahi dengannya agar dunia tahu, Jaevan itu kuat bahkan lebih dari Jihas itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

Gue marah karena Jihas selalu tahu apa yang orang lain nggak tau tentang gue, anak itu emang harus dikasih pelajaran!

Gue sih pengenya Jiselle dapetin orang yang bener aja sekalian jangan si Jihas tapi kalau emang dia pilihnya Jihas sih nggakpapa lah, gue terima.

Gue tahu kok si curut itu baik dan mungkin kedepannya cuma Jihas yang bisa lindungin Jiselle sama seperti gue yang lindungin itu si anak bontot satu.

Tuhan, atur sebaik-baiknya aja ya, tapi please jangan kasih tau siapa-siapa kalau Jae curhat kaya gini, okay?

 

 

 

 

Jihas terkekeh dengan bagian akhir surat itu.

Matanya masih menangis tapi senyuman itu seakan dia layangkan pada sosok Jaevan, andai Jae ada dihadapannya sekarang.

“Bang Jae kenapa sih Lo selalu berhasil bikin gue sedih kaya gini?”

Jihas menyerahkan surat itu kembali pada Jiselle sembari tersenyum diantara hujan yang mulai turun membasahi langit malam kota Bandung.

Jihas tetap pada pendiriannya.

Jihas mundur dan berjalan menjauh dari Jiselle, membiarkan perempuan yang selama ini diperjuangkan olehnya menangis seorang diri diantara hujan dan lautan kenangan yang mereka hampir lewati.

“Ji? Jihaaaaaas! Jangan tinggalin aku Ji!”

Ternyata keduanya tak berjodoh, mungkin itu lebih tepat.

Sesempurna apapun mereka, sebesar apapun cinta mereka, se-serasi apapun keduanya tetap tidak akan bisa bersatu kalau takdir menolak hal itu.

“Jihas! Kalau emang kita berjodoh, kita bakal ketemu lagi disini suatu saat nanti”

Teriak Jiselle yang begitu jelas terdengar ditelinga Jihas, sementara si pria semakin kencang berlari dan meninggalkan yang menangis itu diantara hujan yang sepi.

Musik sudah lama sunyi tapi rasa dihati baru saja mati.

“Kamu bilang ini Braga Ji, hiks… Tentang tempat dan siapa yang bisa bikin kita ngulangin waktu tapi nyatanya malah kamu yang pergi, Jihas hiks…”

Jiselle tidak sanggup lagi berbicara, sosok Jihas sudah kabur dari pandangan nya.

Akhir cerita yang tak pernah diduga akan sesakit ini meski dirinya sudah rela memilih, ikhlas untuk bertahan dengan sosok yang mengingatkan pada luka, yang sampai kapanpun akan berbekas.

Dia Jihas, yang merajut temu dalam sebuah pilu, menyiasati takdir agar cinta demikian terus bergulir namun kenyataan nya harus selesai sampai disini.

Cukup Jiselle dan dirinya yang tahu seberapa sakit berjuang kemudian saling meninggalkan.

 

Inilah catatan akhir dari keduanya,

 

‘Akhir kisah di malam Braga’

 

 

 

 

열여섯 – 16

(Sisa Rasa)

 

Nikie Pradita, perempuan yang kini sedang membuka lembaran baru demi cintanya.

Dibakarnya selembar foto yang selama ini disimpan guna mengobati rasa kehilangan. Izinkan Nikie melepas Jaevan untuk yang terakhir kalinya, membiarkan serpihan abu itu terbawa angin  dari atas bukit Gantole.

Karena Nikie tahu yang telah pergi tidak akan pernah kembali.

Jaevan Haris, tiada hentinya Nikie mengirim doa untuk sang pemenang hati, pria baik itu akan terus hidup didalam hati Nikie meski mereka tak lagi bersama, Nikie harus move on dan menjalani hidup.

Dirinya sudah memiliki Juwan sekarang, pria tampan yang menerima segala luka dan kekurangannya. Juwan benar, Nikie harus berubah demi keluarga mereka, Nikie dan Juwan menikah bukan sebagai pelarian dari masa lalu yang tak sanggup dirinya hadapi.

Dia mencintai Juwan, penyelamatnya.

 

3 Tahun yang lalu…

 

Nikie pulang dengan cepat, dia lupa mengunci pintu rumah. 

Perempuan itu berlari sekencang mungkin kearah halte bis namun tidak ada siapapun disana, dia tebak pasti bis terakhir sudah pergi, Nikie terlambat.

“Aduh gimana, CK!”

Nikie harus pasrah kalau nanti dimarahi orang tuanya karena ceroboh tidak mengunci pintu,  alamat kena jewer dan ceramah dadakan.

Setengah jam Nikie menunggu bis maupun angkutan umum lainnya tapi tidak ada satupun yang lewat.

Asarman dan Jordan sudah pulang dari tadi, mereka ada dikelas yang berbeda dengan Nikie. Jiselle juga sudah pulang dengan anak sekolah lain yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya, tapi Nikie lupa namanya.

“Oh my God, Tuhan please tolongin sekali ini aja please aku nggak mau dijewer…”

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan Nikie, dia yang tengah gelisah mendadak parno takutnya yang keluar dari mobil itu adalah orang jahat yang akan menculiknya di jalanan sepi ini.

“Temennya Jiselle kan? Jiselle udah pulang belum?”

Eh itu kakak tingkat nya, Jaevan Haris.

Nikie menghampiri Jaevan dan mengatakan kalau Jiselle dijemput anak sekolah lain, Nikie lihat raut wajah si tampan itu langsung berubah seperti kesal dan pasrah sekaligus.

“Yaudah deh, duluan ya” Santai Jae melengos pergi.

“Eh, kak Jae…” Nikie segera menyetop si kakak kelas.

“Hmm? Eh kamu nungguin apa disini? Di jemput?”

Nikie yang hendak ditinggal mendadak lega karena Jaevan bertanya padanya, Nikie langsung saja to the point kalau dirinya ketinggalan bis dan kesusahan mencari kendaraan. 

Jaevan terkekeh mendengarnya lalu mempersilahkan Nikie naik ke mobil.

Sepanjang perjalanan Nikie memperhatikan wajah yang sedang fokus menyetir disebelahnya. Dadanya berdegup kencang saat Jaevan meliriknya seakan tahu Nikie sedari tadi memperhatikan dirinya.

Nikie langsung mengalihkan pandangan keluar, melihat jalan sambil menahan senyumannya.

“Duduk dulu kak, bentar ya”

Nikie secepat kilat berlari ke pintu begitu mereka sampai kerumahnya. Kocaknya Jaevan menyadari kalau Nikie malah mengunci pintu rumahnya.

“Kenapa di kunci? Kan udah pulang?”

Nikie langsung menepuk jidat, saking parno dia jadi linglung sendiri dan merasa malu pada Jaevan yang sudah tertawa dikursi luar rumahnya.

“A.. a.. iya yah, hehe. Kak Jae mau minum apa? A..aku bawain”

“Ehmm, es jeruk jangan manis jangan asem pake es batu 3 biji terus gelasnya harus Bening” ucap Jae cepat.

“Gi..gimana? Hah?” Nikie auto kicep ditempat.

“Hahahah, nggak becanda doang kok, air putih aja”

Jaevan menatap punggung adik kelasnya itu yang perlahan masuk kedalam, entah kenapa melihat tingkah Nikie membuatnya sedikit terhibur dan lupa dengan kekhawatiran pada sang adik yang pulang bersama musuhnya dari sekolah lain.

Nikie lucu pikirnya.

Saat Nikie kembali dengan segelas air putih untuk Jaevan, pria itu sedang berdiri dan menunduk pada orang tua Nikie yang terlihat menginterogasinya. Jaevan memandang Nikie seperti minta bantuan.

“Nikie kamu bawa pacar kerumah?”

Nikie kaget sampai air itu tumpah ke bajunya. Secepat mungkin dia mengatakan tidak, ayah Nikie sudah memandangi Jaevan dengan intens, pria itu hanya senyum canggung karena kaget juga.

“Kamu siapanya Nikie toh?”

“S..saya.. temennya Nikie om, salam kenal saya Jaevan Haris. Kakaknya Jiselle, om, Tante”

“Oohh kakaknya Jiselle, aman kalau begitu. Udah masuk yuk didalem ngobrolnya, sebentar lagi juga malem, kamu makan malem bareng kita ya” Raut wajah ayahnya langsung berubah.

Jaevan mengangguk, menerima tawaran dari mamanya Nikie. Begitu mendengar kalau Jaevan adalah kakaknya Jiselle kedua orang tua Nikie jadi lega dan tidak khawatir kalau Nikie berteman dengan pria ini, bahkan obrolan Jaevan sangat nyambung dengan ayahnya Nikie, kesukaan mereka banyak yang sama rupanya.

Hari yang terus berganti, meyakinkan Nikie untuk memantapkan hati.

Dia menerima cinta Jaevan yang menyatakan perasaan tepat dihari ulang tahunnya, tidak ada satu alasan pun yang mengharuskan Nikie menolak seseorang yang begitu sempurna seperti Jaevan.

Pria itu menghiasi harinya, menjadi cinta pertama yang begitu istimewa.

“Nikie, kamu tahu Asarman suka sama kamu?”

“Hah, Iya gitu? Kak Jae jangan suka guyon gitu deh nanti Asa marah lho kalau denger”

“Seriusan ini, aku tau pas nggak sengaja lewat kamarnya Jiselle, mereka lagi curhat di balkon gitu dan aku denger semuanya” Rumpi Jae.

“Nggak deh kak, aku pikir Asa suka sama Jiselle mereka sedeket itu, nggak mungkin Asa suka sama aku, kakak ngetes aku ya?” Curiga Nikie.

“Mulai deh soudzon nya, asli ini tuh dan kakak pengen kamu respect sama Asarman ya, kamu cukup hargain dia, dia nggak akan mau bicara terus terang sama kita dan milih diem aja karena ngehargain aku. Kak Jae minta kamu jadi sahabat yang baik buat dia ya, yang care”

Lagi-lagi Nikie bangga dengan hati lembut milik Jaevan Haris. Dia ternyata perempuan yang paling beruntung karena memiliki kekasih yang hatinya tulus dan selalu menghargai orang lain.

Persahabatan Nikie, Asarman, Jordan dan Jiselle selalu berjalan mulus, dan bertambah sempurna saat Jaevan masuk bergabung dengan mereka, tidak ada canggung-canggungnya bahkan diantara Jaevan dan Asarman meskipun keduanya mencintai satu perempuan yang sama.

Malam tahun baru terakhir mereka, Nikie dan Jaevan bermalam di puncak bersama teman-teman yang lain terkecuali Jiselle yang tidak ikut.

Nikie melihat kecemasan di wajah Jaevan, pria itu menatap malam bertabur bintang diluar Villa.

Melihat jeans biru yang dipakai sang kekasih, Nikie tahu kalau Jaevan sedang merasa dunia tidak baik kepadanya.

“Kak Jae?”

“Nikie kenapa keluar? nanti kamu kedinginan”

“Soalnya kakak ngelamun terus diluar, eh iya aku udah telpon Jiselle dia juga lagi malam tahun baruan kak” Ucap Nikie.

“Hah? Serius? Sama siapa dimana?”

“Sama Jihas kak”

Jaevan langsung merogoh ponselnya dan dengan kesal mencari kontak Jiselle untuk menyuruhnya pulang dimanapun dia berada. Tangan Nikie memegang lengan Jaevan untuk menghentikan kekasihnya itu, Jae menatapnya bingung.

“Jiselle sama Jihas rayain tahun baru sama Emak katanya kalian agak jarang ya jenguk Emak? Jihas yang ajak Jiselle kesana” Ucapan Nikie itu membuat Jae tertegun. 

Pria itu akhirnya mengurungkan niat, memilih diam menikmati langit malam dengan Nikie yang bersandar di bahunya. Mereka menceritakan banyak hal, apapun yang bisa mereka bagi berdua.

Jaevan memandang genggaman tangannya dan tangan Nikie, seberapa lama dirinya bisa bersama dengan Nikie?

Menjaga adiknya pun dia tidak bisa, apa Nikie bisa bertahan dengan dirinya?

Nikie, cintanya itu adalah hal yang paling Jaevan syukuri pada Tuhan, pada malam dirinya berbisik untuk mempercayakan Nikie padanya, meski pada akhirnya kepercayaan itu bukan milik Jaevan selamanya, waktu menjemput Jae dari pelukan Nikie.

 

 

 

 

Masih jelas teringat, 

Pelukanmu yang hangat

Seakan semua tak mungkin menghilang

Kini hanya kenangan

Yang telah kau tinggalkan

Tak tersisa lagi waktu bersama

 

Sisa Rasa – Mahalini

 

 

 

 

Selesai sudah titik kenang yang Nikie ulang, matanya terpejam dengan tangisan yang begitu pedih. Dadanya begitu sesak mengingat setiap detail kehadiran Jaevan yang bagai warna yang menghiasi hari-harinya. 

Hati yang sakit itu berusaha mengampuni luka yang berdenyut setiap mengingat bagaimana Jaevan pergi dari sisinya.

Jaevan yang baik, yang tulus dan tak ragu menyayangi siapapun itu harus meregang nyawa hanya karena merindu pada adiknya.

Meninggalkan Nikie tanpa sepatah kata, pergi tanpa menyisakan obat yang bisa Nikie gunakan untuk menjalani kehidupan selanjutnya, tapi Tuhan tidak tidur bukan?

Juwan hadir dalam sakitnya.

 

“Nikie maafin aku Nik, hiks …”

“Pergi Sel! Aku nggak mau liat muka kamu lagi, puas kan kamu liat Jae pergi! Dasar nggak punya hati”

Nikie marah pada Jiselle sampai tidak mau melihat sahabatnya itu, Nikie menyalahkan Jiselle atas meninggalnya Jaevan.

Nikie ingat kata-kata Jiselle yang kurang ajar pada kakaknya di jalan Braga sebelum perempuan itu memilih pergi dengan Jihas.

Nikie tak habis pikir Jiselle bisa sejahat itu, meninggalkan kakaknya, sekarang apa pantas perempuan itu menangis saat Jaevan balik meninggalkannya? Seperti yang sudah dia perbuat.

Tidak ada maaf untuk Jiselle, sampai kapanpun.

Nikie berlari dari Jiselle yang berusaha menahannya. Nikie muak, dia tidak ingin mendengar apapun lagi, semua ucapan itu hanya sebatas penguat yang sia-sia tanpa bisa mengembalikan Jaevan padanya.

“Nikiiieeee”

Teriakan Jiselle itu terdengar sebelum suara rem mobil dan benturan kencang yang membuat Nikie lemas seketika. Sahabatnya dihantam mobil sampai terpental jauh, tubuh mungil Nikie bergetar hebat melihat jalan yang bersimbah darah.

Jiselle terbaring di jalan dengan mata yang setengah terbuka, mulut penuh darah itu terus bergumam menyebut namanya dengan pelan. Nikie berlari kearah Jiselle dan menangis hebat.

Nikie trauma hebat, dia mengalami depresi. Dia hanya menatap jalanan dan Jiselle dipangkuannya yang ditandu oleh petugas ambulan, Nikie tidak bisa berpikir jernih.

Dia menyumpahi dirinya atas segala kejadian ini, Tuhan terlalu gencar mengujinya dengan kesedihan yang datang tanpa jeda terus menyiksa, Nikie bersumpah akan pergi meninggalkan semua luka ini.

Luka yang tak sanggup dia hadapi.

Tiba-tiba sebuah tangan membantunya berdiri dan memapah Nikie kepinggir jalan raya, Nikie yang syok berat itu diberi minum dan ditenangkan.

Disanalah pertama kalinya Nikie mengenal Juwan.

Juwan yang memapahnya menuju kenyataan, dengan hati seluas samudera pria itu menemani Nikie agar perlahan pulih.

“Bawa aku pergi Wan”

Ucap Nikie meminta Juwan membawanya pergi dari kehidupannya sekarang, Nikie ingin memiliki hidup yang baru, sembunyi dari semua orang yang hanya mengingatkannya pada sosok Jaevan.

“Kamu udah rawat aku sejauh ini, aku mau tinggal sama kamu Wan, tolong bawa aku pergi sejauh mungkin dan ajarin aku menjalani hidup yang tersisa” mohon Nikie.

Juwan mantap menikahi Nikie, dia pikir harus melindungi perempuan yang tak sengaja ditemuinya itu, mungkin sudah jodohnya.

Sekarang pria itu bisa bernafas lega, kenangan Nikie akan Jaevan akan segera usai. Nikie sudah berdamai dengan keadaan dan siap pulang kepelukannya.

Nikie menatap Juwan dibelakang nya.

“Selamat memulai kehidupan baru Juwan, aku sayang sama kamu”

Juwan meraih Nikie kepelukannya, menepuk punggung yang sudah tegar menjalani ujian itu dan mengatakan kalau Juwan akan selalu ada untuknya, menerima segala hal yang Nikie bagi dengannya.

Seperti Kisah Nikie kali ini, berpindah hati bukan berarti sepenuhnya melupa, namun jalan yang berliku ini sudah berhasil dilewati.

Mengajarkan Nikie banyak hal sampai dirinya tidak sadar menjadi lebih kuat dan bertemu dengan banyak orang hebat, orang-orang yang menyayanginya.

Tuhan maafkan Nikie yang selama ini egois dan terus berlari, menolak segala takdir yang telah Engkau berikan.

Kini cintanya sempurna, dengan segala maaf dan ikhlas dirinya berlapang dada, Nikie bersyukur Tuhan telah menyampaikan seberapa pentingnya arti cinta.

Seperti yang dikatakan Mahalini diakhir lagunya,

“Kadang Semesta menitipkan yang terbaik bukan untuk selamanya tapi belajar untuk menghargai apa itu cinta”

Selamat mendengarkan lagu kesukaan Nikie,

 

 

 

‘Sisa Rasa’

 

 

 

 

열일곱 – 17

(Coffee Bada)

 

Senin, 17 Januari di Bandung.

Semua orang berkumpul, saling tersenyum dan menggenggam tangan satu sama lain. Rasanya baru kemarin mereka beranjak dewasa tahunya mereka sudah tumbuh lebih banyak dengan ribuan kisah dan cerita.

Keempat orang itu saling bercerita akan rasa rindu satu sama lain, akan perpisahan mereka dihari kemarin.

Jiselle tersenyum dan ditatapnya tiga orang yang sedang berkumpul bersamanya diruang tamu, Asarman Hakim, Jordani Hakim dan Nikie Pradita. 

Persahabatan mereka utuh kembali, saling meminta maaf dan juga memaafkan, saling berterus terang tentang rasa kehilangan, utamanya Nikie pada Jiselle, perempuan itu memeluk Jiselle dan mengatakan rasa bersalahnya karena menghukum Jiselle dengan kepergian.

“It’s okay, semuanya udah lewat kan? Kita udah bareng-bareng lagi, sekarang kita hidup dengan kebahagiaan kita, persahabatan ini jangan putus sampai kita menua sekali pun” sahut Asarman, yang lain mengangguk setuju.

“Sel…”

Nikie menatap Jiselle serius, menggengam kedua tangan sahabatnya dan menarik nafas dengan tenang, Nikie akan mengatakan ini sebelum sahabatnya itu pergi ke Korea.

“Please stay di Bandung, kita bertiga pengen ketemu kamu tiap hari”

“Sorry Nik, next time aku bakal pulang tapi sekarang aku harus pergi”

Nikie mengangguk lemah, itu sudah keputusan Jiselle meskipun dirinya meminta berulang kali, Jiselle pasti punya alasan untuk bersikukuh pergi dari Bandung.

Walaupun Jordan sudah mengeluarkan jurus andalan nya untuk membujuk Jiselle, alias merengek.

“Sel, seenggaknya kamu harus stay buat ngelanjutin impian kamu, ini soal cinta, kisah kamu sama Jihas?” Pancing Nikie.

“Aku ikhlas kalau kamu tetep sama Jihas, setelah kejadian kemarin aku tahu kalau dia cowok baik, cowok yang emang pantes bersanding sama sahabat aku yang paling berharga ini. Aku mau kamu sama Jihas terusin hubungan kalian”

Nikie merasa lega telah mengatakan hal yang selama ini dia simpan karena ke egoisannya, karena sekarang dirinya tahu kalau bahagia itu bukan tentang Nikie seorang, namun tentang kebahagiaan sahabatnya juga.

“Aku sama Jihas udah berakhir Nik”

“Hah?” Ketiga sahabatnya kaget bukan main.

“Sel serius? Nggak mungkin Jihas ninggalin kamu begitu aja kan?”

“Dia mau hargain kak Jae karena dulu dia nggak nurut sama ucapan kak Jae buat jauhin aku, jadi ya…”

Jiselle menggantungkan ucapannya, menundukan kepala dari pandangan heran orang-orang dihadapannya.

“Sel, kalian udah berjuang sejauh ini” protes Jordan.

“Ayo Sel, kita temuin Jihas, biar aku yang ngomong sama dia, kenapa sih itu anak main mundur begitu aja, nggak inget apa perjuangannya udah kayak gimana!” Kesal Asarman.

Jiselle menggeleng dan berusaha tersenyum dihadapan mereka bertiga.

“Hari ini kita berdua nggak berjodoh, sesempurna apapun cinta yang kita punya kalau jalannya udah kayak gini, kita nggak bisa berbuat apa-apa, aku fine kok, Jihas butuh waktu”

Nikie, Asa dan Jordan sedih mendengarnya karena ereka tahu Jiselle terluka saat mengatakan itu, dirinya hanya berusaha terlihat baik-baik saja padahal hatinya sudah tidak utuh, ikut pergi bersama cinta Jihas yang berlari kian jauh.

‘Aku akan tunggu kamu Jihas’ lirih Jiselle didalam hati.

 

 

 

******

 

 

 

Dari Bandung menuju Jakarta.

Seakan berusaha menghapus cerita cinta, hati yang terluka itu harus berpura-pura agar tak ada yang khawatir tentangnya.

Jihas saja bisa bermain seni peran untuk menjaga hati, Jiselle pun harus bisa.

Jiselle berdiri di Bandara, bersiap untuk keberangkatan nya menuju Korea Selatan. Hari ini yang telah lama pulang akan pergi lagi, usai sudah kisahnya di Bandung kemarin.

“See you Jiselle, gue bakal kangen banget sama Lo”

Jordan memeluk sahabatnya itu, dia yang cengeng sudah tidak sanggup lagi menahan tangis membuat yang lain memandangnya terharu juga.

Asarman dan Nikie juga ditarik untuk bergabung dalam pelukan mereka.

“Dah, kalian baik-baik aja disini ya. Vidcall jangan lupa, woy Sarman jangan suka ngartis mentang-mentang udah mau wisuda!” Jiselle menepuk bahu asa dengan sedikit kencang, iseng saja.

“Iya bawel, tega bener nggak nemenin aku wisuda” Asa mencebikkan bibirnya.

“Kan ada Jordan sama Nikie, ada kak Juwan juga, bye kak Juwan”

Jiselle melambaikan tangan pada Juwan yang ikut mengantar mereka berempat ke Bandara.

Juwan tersenyum dan mengatakan semoga perjalanan Jiselle lancar sampai ke Korea sana,lalu ada satu orang lagi yang tersenyum kearah Jiselle, Haidar ada disana melambaikan tangan pada Jiselle yang tersenyum juga kearahnya.

Perempuan itu berjalan pergi meski berat rasanya, berulang kali kepalanya menengok kebelakang menatap sahabatnya yang seakan tak rela dirinya pergi. Jiselle akan rindu mereka, juga kota Bandung yang banyak memberinya cinta.

Bolehkah Jiselle berharap?

Jihas datang sekarang dan menahan tangannya, mengatakan kalau dirinya harus tetap berada didekat pria itu.

Jihas kamu dimana?

Jiselle menangis sepanjang langkahnya, menatap orang-orang disekitar namun tidak ada Jihas seperti khayalannya.

Hatinya sakit.

 

Greph…

 

tangan Jiselle ditarik oleh seseorang dari belakang, seketika itu juga hatinya berdebar kencang, Tuhan secepat itu mengabulkan doanya. Jiselle segera memeluk orang itu dan menangis sesenggukan, menumpah-ruahkan segala kerinduannya.

“Jihas hiks…” Isakan pilu Jiselle yang sudah tidak dapat dibendung.

Tapi orang yang dipanggil itu diam saja.

“Sorry Sel, gue bukan…”

Jiselle mendongakkan kepala, ternyata yang dipeluknya bukanlah Jihas melainkan Haidar, pria itu yang mengejarnya kedalam. 

Betapa kagetnya Jiselle sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Ha.. Haidar? Sorry, aku pikir kamu.. maaf ya” Buru-buru Jiselle melepaskan pelukannya dan menatap ke arah lain.bb

“Nggakpapa Sel santai aja, aku kesini mau bilang sesuatu sebelum kamu berangkat, please dengerin aku Sel”

Haidar menatap perempuan itu, sedikit ragu setelah melihat air mata di pipinya, namun Haidar tidak punya banyak waktu, belum tentu nanti dia bisa mengatakan yang selama ini dirinya simpan rapat-rapat didalam hati.

“Aku suka sama kamu, bu.. bukan suka tapi sayang, semenjak pertemuan kita yang pertama kali di mini market dan setelah itu aku jatuh cinta sedalam-dalamnya waktu kita bersama nikmatin senja”

Jiselle tercekat, dia kaget dengan pengakuan Haidar, Jiselle tidak pernah menyangka kalau polisi muda itu menyimpan rasa untuknya.

“Aku tahu mustahil untuk gantiin Jihas dihati kamu dan aku juga sedih atas hubungan kalian yang berakhir, aku sedih karena itu bakal jadi luka buat orang yang aku sayang tapi izinin aku buat jagain kamu sel, kasih  aku kesempatan” Lirih Haidar.

Jiselle tersenyum tipis pada Haidar tapi air matanya malah turun kembali.

“Thanks Haidar, aku nggak ngerti kenapa ada cowok sebaik kamu. Kamu itu tulus, ganteng dan kuat, kamu bisa ngelindungin siapapun yang kamu mau karena kamu itu beda, aku harap kamu bisa nemuin cewek yang lebih baik dari aku, please jangan aku orangnya”

“Tapi kenapa Sel? Apa aku kurang?” Sedih Haidar.

“Kamu mau ngarepin apa dari hati yang udah patah ini? Padahal kamu tahu hati ini nggak bisa utuh dan balik mencintai kamu”

 

Deg…

 

Ucapan Jiselle bagaikan tamparan keras dihati Haidar. Perempuan itu tidak ingin mencintai siapapun lagi setelah hatinya hancur, tidak ingin membalas cinta Haidar yang demikian sempurna dengan cintanya yang habis tak tersisa.

Tidak akan adil untuk Haidar!

Bukan cinta namanya kalau hanya setengah, itulah prinsip. Haidar pantas mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari Jiselle.

“Sorry, aku pamit ya, bye Haidar”

Jiselle berbalik pergi meninggalkan Haidar yang hanya bisa menatapnya tanpa sepatah katapun.

 

Haidar kembali patah hati, mungkin dirinya terlalu berani berniat mengambil hati seseorang yang cintanya baru saja lari dari kata menepi. Haidar tidak seberuntung Jihas yang masih saja dicintai meskipun lenyap dalam sepi dan sunyi.

Jiselle duduk di kursi pesawatnya, bersiap pergi sambil meratapi apa-apa saja yang sudah terjadi.

Pengakuan Cinta Haidar yang membuatnya terkejut juga ketidakhadiran seseorang yang menyesakkan hatinya, Jiselle terlalu berharap.

Dia harus menerima kenyataan bahwa yang terkasih tidak muncul juga. Jihas tidak datang, bahkan lost contact dengan Jiselle.

Sejauh itu dirinya pergi dan Jiselle harus terima.

Hitungan mundur mulai terdengar, pesawat akan segera lepas landas.

 

 

 

******

 

 

Cinta itu pelik namun hidup masih harus terus berlanjut. 

Beberapa bulan sudah berlalu, Jiselle sudah kembali ke Gangwon, hidup bahagia dengan kedua orang tuanya.

Perempuan itu kini menekuni hobinya menulis, apapun entah itu artikel, puisi maupun novel bertema persahabatan untuk mengenang sahabat yang jauh darinya. Dirinya tidak berani menulis sesuatu yang berbau cinta, lukanya saja masih belum sembuh sempurna.

Setiap hari dia habiskan untuk melupa, tapi bayang-bayang Jihas terus muncul dipikiran Jiselle, kadang saking rindunya perempuan itu akan seharian menangis sambil memandangi foto mereka yang tengah menari di pameran seni jalan Braga.

Berulang kali Jiselle berusaha mencari secuil kabar dari Jihas, menghubungi siapapun yang mungkin saja melihatnya namun tidak ada hasil, Jihas tidak pernah terdengar lagi di seantero kota Bandung.

Dirumah sakit tempat Jihas bekerja pun memberi informasi yang sama ketika Jiselle mengirimkan email pada pihak rumah sakit, Dokter Jihas A. Sananta sudah lama mengundurkan diri.

Ajun dan May pun tidak tahu dimana pria itu berada, kemana dirinya pergi semua itu seakan jadi rahasia sekarang.

“Orang tuanya ada diluar kota, tapi Jihas katanya nggak tinggal sama mereka” Sepenggal info dari Asarman.

Kira-kira kemana perginya Jihas?

 

Musim salju di Gangwon, Korea Selatan.

Jiselle berjalan-jalan seorang diri dengan mantel tebalnya, dia ingin mencari suasana yang bisa membawanya melupakan Jihas sejenak.

Dulu saat hilang ingatan, Jiselle begitu senang mengetahui dirinya sudah berada di Korea, tapi kini Indonesia ataupun Korea tidak ada bedanya jika perasaann sama saja beku karena kehilangan rasa cinta, hatinya dingin seperti bongkahan salju yang mulai menutupi jalan.

Jiselle melirik sebuah toko dipinggiran jalan, toko makanan yang tidak terlalu besar namun lucunya ada patung didepan toko itu.

Patung panda, lagi-lagi Jihas muncul di pikirannya.

Jiselle menggelengkan kepalanya pelan, dia berjalan lebih jauh lagi dan menemukan jalan raya dengan banyak orang berlalu lalang meskipun rasa dingin menusuk sampai ke tulang-tulang.

“One ice cream please” Cicit Jiselle mengejutkan pelayan toko.

Ada ya orang makan es krim di cuaca dingin seperti ini? sayangnya Jiselle hanya bisa mendapatkan greentea ice cup bukan nya eskrim dengan Cone seperti yang dibayangkan, es krimnya habis karena stok di toko ini hanya di buat sedikit.

“I think hot coffee better than ice cream, is really cold for enjoy the ice with snow in your hair” 

Sahut si pelayan yang ramah itu sambil tersenyum, dia memuji kekuatan Jiselle pada rasa dingin. Jiselle hanya terkekeh dan menolak dengan sopan tawaran kopi itu, dia hanya ingin minum yang dingin-dingin.

Beberapa menit kemudian dirinya keluar sambil menggenggam minuman itu ditangan, langkahnya terhenti karena orang-orang didepan juga berhenti, ternyata ada pemain biola yang sedang memainkan satu lagu untuk membuat konten ala-ala pemusik milenial.

Mata kacang almond itu menatap takjub cara si pemusik memainkan biolanya, hanya saja lagu selanjutnya yang dimainkan tiba-tiba mendebarkan hati.

‘Blue Jeans’

Jiselle tahu betul instrumen lagu itu meski hanya beberapa detik dimainkan, dirinya juga tahu betul kalau lagu milik Gangga Kusuma, penyanyi asal Indonesia itu begitu indah dan terkenal sampai dirinya di Korea pun masih bisa mendengar orang-orang memainkan lagu ini.

Jiselle tahu tapi tidak dengan orang-orang, bahwa lagu itu menyimpan rasa lain pada ceritanya, Jiselle berusaha menjernihkan pikiran namun tak semudah itu rupanya.

Jiselle sedih tapi tidak bisa seenaknya menyuruh pemusik itu untuk berhenti, dia mundur beberapa langkah dan mengalihkan pandang pada minumannya.

‘Boba, seperti mata Jihas’

Bahkan Dia baru sadar ada boba di minumannya, lagi-lagi dunia bersikap tidak adil padanya meskipun hanya hal kecil.

Katanya Jiselle harus melupakan Jihas, tapi kenapa semua hal selalu menariknya untuk mengenang cinta pertama yang telah usai itu?

“Kenapa harus aku Ji? Dari sekian banyak orang kenapa aku yang harus kamu tinggalin?”

Jiselle memasukan minuman itu ke tempat sampah, berjalan dengan memutar arah. Melenyapkan segala musik yang perlahan menghilang dari indra pendengaranya, Jiselle masih terluka.

Sesekali Jiselle berpikir apa Jihas meninggalkannya karena seseorang? 

Jika suatu saat Jiselle menemukan fakta bahwa Jihas bahagia dengan orang lain karena tidak bisa bersama dengan dirinya, dia bisa apa?

Mungkin kemarin sampai saat ini cinta pria itu masih miliknya, tapi satu tahun kedepan atau bahkan tahun-tahun selanjutnya, siapakah Jiselle bagi Jihas?

“Please move on Jiselle kalau Jihas nggak kunjung ngehubungin kamu, inget kamu berhak bahagia karena kalian pisah bukan karena kesalahan” ujar Nikie.

“Aku lagi usaha” Jiselle hanya tersenyum diantara video call-nya dengan Nikie.

“Akan ada satu waktu Sel, dimana kita nantinya harus memilih antara terus nungguin yang kita mau atau belajar menerima yang baru. Apapun pilihan kamu, aku pasti dukung tapi please janji untuk terus bahagia”

“Aku janji Nik, jangan khawatir. Bahagia aku sekarang tentang keluarga, ayah sama ibu, Emak dan kalian juga”

“Aaa terharu, sayang banget sama Jiselle dan aku harap kehidupan ini akan seindah harapan kamu Sel”

“Thanks Nikie, aku harap juga gitu, by the way aku juga ngarep bisa gendong dede bayi yang imut dan kiyeowo, ekhem! Kapan nih?”

“Kapan apanya sih Sel hahaha, mulai deh kamu godain ke arah sana”

“Haha… masa aku tanya sama Kak Juwan sih Nikie, yaudah deh nanti kabarin aja kalau aku udah mau jadi aunty”

“Siap deh kapten Jiselle, sehat-sehat ya di sana kamu and jangan lupa buat cepet pulang ke Bandung, I miss you”

Jiselle menutup video call dari Nikie dengan penuh tawa, sedikit demi sedikit hatinya menghangat.

Jiselle beralih mem-video call Asa dan Jordan yang kebetulan sedang banyak waktu senggang.

“Wadidaw Song Hyekyo, Sa! Asarman buruan nih ada artis Korea” 

Biasa si Jordan heboh sendiri saat panggilan berlangsung, Jiselle sudah manyun saja disebut artis Korea.

Asarman langsung datang keruang tengah dan bergabung dengan adiknya, mereka mengobrol banyak hal sampai berjam-jam entah itu bercanda atau membicarakan hal yang lebih serius, tapi akhirnya pasti selalu sama yaitu Menasihati Jiselle, Asarman dan Jordan tidak ada bedanya dengan Nikie, sama-sama khawatir dengan keadaan Jiselle.

“Janji sama gue buat move on ya Sel, apa Lo mau gue jadi pacar Lo?” 

“Apa sih Sa bercanda nya nggak lucu! Hahaha, kamu sendiri udah move on belum?”

“Dari siapa maksudnya? Kecilin heh suaranya nanti si Jordan denger”

Jordan kebetulan sedang pergi mengambil makanan di kulkas, dan dengan iseng Jiselle mengungkit soal Asa yang pernah menyukai Nikie.

“Iya aku tanya kamu udah move on kan Sa?

“Yakali Sel gue masih punya rasa, istri orang woy!” Sewot Asa meski wajahnya sama saja lempeng seperti biasa.

“Hahahah, iya deh percaya, nanti aja ya kalau aku nggak laku kita pacaran gimana?”

“Gue aduin Emak Lo ya Sel” cengir Asa.

“Weh apanih bestie? Ngobrol kok nggak ngajakin gue” Jordan yang baru datang langsung kepo.

“Ini Jo, si Jiselle sama gue mau pacaran, Lo setuju nggak?” Santai Asa seolah tanpa beban.

“Apa?! Lo berdua bunuh aja gue sekalian, punya Abang kaya Lo aja udah bikin bengek, ini ditambah punya kakak ipar yang sama gilanya kaya Jiselle. Tamat sudah riwayat Jordani Hakim yang ganteng ini”

Jiselle dan Asarman ngakak menertawakan ekspresi naas Jordan.

“Lo berdua nggak cocok!”  Lanjut Jordan.

“Apaan sih Lo kaya yang ngerti pacaran aja, bocah tengil juga!” 

“Enak aja Lo monyet!”

“Eh udah ah jangan pada berantem, Jo aku sama Asa bercanda doang jangan baperan dong” Ujar Jiselle yang lelah dengan pertengkaran adik-kakak mirip Tom & Jerry ini.

“Iya gimana sih Lo Malika! BTW si Malika udah punya cemewew Sel” A mulai mengeluarkan jurus ember bocornya.

“Hah? Serius? Spill dong! Siapa sih Sa?”

“Sa, anjir!” 

Jordan buru-buru membekap mulut Asa tapi mulut berbisa milik kakaknya sudah duluan berteriak menyebutkan nama kekasih Jordan.

“Sonia! Namanya Sonia Sel, cepet kepoin Instagram nya!”

“Siap Sa, OTW hahaha”

“Tau ah kalian berdua! Gue ngambek!” Manyun Jordan.

“Bodo amat!” Kompak Asa dan Jiselle.

Jiselle mengakhiri video call, dirinya baru ingat belum memesan apapun di Cafe ini sedari tadi padahal dua jam lamanya dia mengobrol via WhatsApp dengan Asa dan Jordan.

Secangkir Dalgona Coffee yang masih panas menemaninya menatap salju ditempat yang begitu tak biasa ini.

Jika biasanya kalian akan meminum kopi di sebuah ruangan indoor dengan musik-musik dari sebuah band yang sengaja dimainkan untuk menemani suasana, disini berbeda.

Ada satu tempat di Korea tepatnya di Provinsi Gangwon, dimana kita akan menikmati kopi didalam sebuah Cabin yang view-nya langsung menyorot kesebuah lautan dengan ombak yang begitu tenang.

Meski dingin menyapa, Jiselle memandang deburan ombak itu dengan terpana.

Dulu sekali, pertama dirinya pulang ke Bandung seseorang pernah bertanya tentang tempat ini padanya.

Haidar Malik Abraham pernah menanyakan Cafe ini pada Jiselle dipertemuan mereka yang kedua dijalan Merdeka, namun Jiselle hanya memikirkan Jihas yang diharap suatu saat menemani dirinya menikmati kopi di sini.

 

*****

 

Secangkir Dalgona Coffee dan satunya lagi Americano dengan sedikit gula, lalu genggaman tangan hangat yang akan menepis rasa dingin dari salju yang berlomba-lomba turun.

Jihas merangkulnya, memberi sandaran paling nyaman.

Mata mereka menatap ombak dengan suara khas yang alami tanpa sedikitpun musik didalam cabin, mengingat segala jalan dalam pertemuan keduanya yang begitu unik namun juga rumit.

“Dingin ya Sel?”

“I.. iya Ji”

Jihas memegang kedua tangan lembut milik Jiselle, menggosokkan kedua tangannya untuk memberi rasa hangat, meniup pelan agar hawa dingin itu tidak menyentuh lagi sang kekasih.

Tangan Jiselle dimasukan kedalam saku mantel Jihas, sementara tangan pria itu menangkup kedua pipi yang mulai memerah, dingin sekalipun rasanya malah hangat ketika Jihas ada didekatnya.

“Idung Lo merah banget kaya badut haha”

“Eh iya? Jangan suka ngatain aku deh, hidung kamu juga sama aja tau”

“Iya gitu idung gue merah? Nggak ah” bantah Jihas.

“Merah tau, kalau aku cubit kaya gini yaaaa”

“A..aw Jiselle hey.. sakit anjir!”

Jiselle dengan jahilnya mencubit hidung mancung itu membuat Jihas kesal dan langsung menangkap kedua tangan nakal itu, mengunci pergerakannya dan langsung memeluk perempuan yang teramat dicintainya itu agar diam tak bergerak.

“Gue sayang banget sama si otak batu satu ini”

“Aku juga, sayang banget sama kamu Ji” Balas Jiselle dengan tulus.

“Kalau gitu mau kan nikah sama gue? Bangun keluarga kecil kayak yang orang-orang bahagia lakuin?”

Jiselle menatap sepasang mata boba milik Jihas, dirinya mengangguk kecil sambil tersenyum lucu karena malu menjawab ajakan Jihas.

Jihas tersenyum senang sampai matanya hanya segaris, hal yang paling Jiselle sukai dari wajah Jihas yang tampan paripurna, matanya.

Si tampan itu kini beralih pada kopi Americano-nya, rasanya sedikit pahit namun tidak masalah, karena yang manis mutlak sudah ada tepat disampingnya.

 

******

 

 

Brusshhhhhh…

 

Deburan ombak menghantam khayal yang sedang Jiselle nikmati didalam Cabin, menariknya secara paksa untuk menghapus Jihas yang sedang duduk bersamanya menikmati kopi dan indahnya laut.

Pupus sudah angan tentang cinta.

Jihas perlahan menghilang bersama Americano ditangannya, Jiselle merasa tak ikhlas ketika genggaman tangan Jihas mulai kabur dari penglihatanya.

Ini kenyataan!

Karena yang baru saja terjadi hanyalah impian akan seseorang yang sampai detik ini masih belum sanggup dilupa, Cintanya masih mengikuti sampai sejauh ini.

Dilangit Korea, dimana musik romantis bukan penghantar khayalnya yang begitu manis, namun ombak dan bisikan salju yang membelai rindu hati yang sedang menangis.

Jihas, mari minum bersama, disuatu tempat paling istimewa dengan dirimu yang masih saja menjadi peran utamanya.

 

‘Coffee Bada’

 

 

열여덟 – 18

(Dear Jihas, by Jiselle)

 

Tahun baru kali ini dirinya sudah sedikit membaik.

Berdamai dengan hati dan keadaan, namun sekali lagi cintanya akan dia jemput. Jiselle akan mempertanyakan janji akhir yang selama setahun dirinya tunggu.

Perempuan itu sudah meminta izin pada ayah dan ibunya di Gangwon untuk pulang ke Indonesia, namun kali ini kedua orang tuanya juga ikut menemani kepulangan anaknya itu.

“Kangen masakan Emak, kangen Asa, Jordan sama Nikie juga” 

Benar adanya, namun yang lebih tepatnya lagi adalah fakta bahwa Jiselle ingin menagih janji di jalan Braga. Perempuan manis itu ingin meyakinkan diri, bisakah cintanya tetap bertahan di langit kota Bandung?

Akankah Jihas dan dirinya berjodoh sekali lagi?

Jiselle menggenggam selembaran polaroid yang menampilkan kenangan manis dirinya dan Jihas, senyuman pria itu masih tak tergantikan.

Dimanapun Jiselle berada, tidur ataupun bangun, tersenyum ataupun menangis, hanya Jihas seorang yang hidup di relung hatinya.

Januari di Braga, tidak banyak yang berubah.

Jiselle sudah menemui teman-temannya, bahkan Ajun dan May telah melangsungkan pertunangan 2 bulan yang lalu, sayangnya Jiselle baru bisa menemui keduanya hari ini dengan sedikit hadiah sebagai ucapan selamat dan turut bahagia atas hubungan mereka yang semakin serius.

Ajun tidak sedikitpun mengungkit nama Jihas karena tahu perempuan yang ditinggal itu masih belum sepenuhnya sembuh dari kehilangan.

“Minggu lalu si Asarman kesini tau Sel, ya kita collab gitu antara cafe gue sama karya-karya nya si Asarman yang dipajang di ruang sebelah”

“Oh iya kak Ajun? Aku denger juga lumayan banyak turis ya kemarin-kemarin?”

“Bener, gempor gue ngurusinnya juga”

“Si Asa bantuin kakak kan?”

“Iya bantuin, kalau adiknya si Jordan nggak ada akhlak malah ngerecokin doang” Cerocos Ajun.

“Eh, si Jordan emang suka kayak gitu kak haha”

 

Jiselle melirik jam tangan,  buru-buru dirinya pamit pada Ajun dan May untuk segera pergi dari Cafe itu. Keduanya melambaikan tangan begitu Jiselle berjalan diambang pintu, mungkin saja mereka mengira Jiselle akan pulang kerumahnya.

Jiselle pergi ke jalan yang lampunya mulai menyala satu persatu, tempat dimana Jihas meninggalkannya dulu.

Sebenarnya ada sedikit sakit ketika menatap tempat dihadapannya, karena memori usang kembali terngiang-ngiang. Jiselle mengakui semuanya kalau dirinya hancur begitu orang yang dicintai nya memilih untuk mundur.

Sekarang perempuan itu disini.

Menagih janji, menunggu kedatangan Jihas jika memang keduanya ditakdirkan untuk berjodoh.

Dari sekian banyak insan manusia, hanya Jihas yang membuatnya setia menadah tanya. Jiselle tidak pernah menginginkan siapa-siapa, terkecuali cintanya yang harus segera dikembalikan oleh semesta.

“Tuhan kasih aku kesempatan, balikin Jihas dan tolong buat dia datang kesini” Jiselle memejamkan matanya.

 

Satu jam berlalu…

 

Dua jam berlalu…

 

Menurut kalian Jihas datang atau tidak?

 

Malam telah datang tapi Jiselle masih berdiri menatap jalanan itu dengan rasa putus asa, lampu-lampu didekatnya sudah mulai padam satu persatu, berurutan seperti saat mereka menyala.

Kemanapun pandangan nya mencari, sosok itu tetap tidak dirinya temukan.

Jihas Andrean Sananta, satu tahun berlalu namun dirinya masih saja menjadi misteri yang tidak bisa pergi dari hati namun juga enggan untuk kembali menemani.

Jihas, Jiselle menunggumu.

“Kamu jahat Ji! kenapa kamu nggak muncul juga? Aku disini Jihas, Please, aku udah ada disini”

Jiselle menarik nafas dengan berat, matanya sudah terasa perih menahan tangis. 

“Jiselle?”

Akhirnya seseorang memanggil nama itu sampai Jiselle refleks berbalik.

 

 

 

Polaroid itu cukup bagiku,

Mengingatkan dirinya yang kukira hampir sampai, nyatanya hanya biru yang tak sengaja berpapasan.

Dia hangat, tingkahnya pun begitu manis, hanya saja diriku yang tabu ini lupa bahwa dia datang sebagai obat yang sewaktu-waktu bisa saja habis.

Harusnya kopi dan musik di penghujung malam kota Bandung tidak pernah bekerja sama menjebak kita untuk saling bertemu lagi, begitu bukan?

Dear Jihas,

Biar kukisahkan pada semua tentang candu dimana dua yang menjadi satu di jalan Braga dengan jeans berwarna biru.

Dimana kamu yang selama ini kutunggu, ternyata memang ditakdirkan untuk tidak pernah lagi saling bertemu.

Jihas yang paling kusayangi, cinta ini nyaris kugenggam dengan kamu didalamnya tapi sayang takdir berjodoh bukanlah milik kita berdua.

Selamat tinggal Jihas Andrean Sananta. 

Dimanapun kamu berada, aku ingin dunia tahu bahwa bertemu denganmu adalah ketidaksengajaan yang paling sempurna.

 

 

 

 

Dengan berat hati kita semua tahu jawabannya.

Jiselle dan Jihas tidak bisa bersama, seseorang yang baru saja memanggil nama Jiselle adalah orang lain bukan Jihas seperti yang kita duga.

“Jihas bilang untuk nemuin kamu suatu saat di tempat ini”

Jiselle menatap lawan bicaranya dengan mata yang sudah sembab.

“sebelum pergi dia bilang kalau aku  harus janji bantuin dia, gantiin Jihas jagain kamu karena Jihas nggak akan pernah sampai”

Memang sakit tapi dirinya harus terima.

Pasti ada skenario yang lebih baik, Tuhan sedang merangkainya agar Jiselle lebih bahagia kalaupun nantinya dia harus menjalani kehidupan dengan orang lain, meski harus melupakan Jihas.

“Jihas pergi kemana?”

“Dia nggak bilang mau kemana Sel, maafin aku karena gagal ngeyakinin dia buat balik ke kamu, sorry”

“Kamu nggak salah, aku..”

Jiselle menunduk tidak kuat melanjutkan ucapannya, tangan pria itu segera memegang pundaknya karena tahu perempuan itu masih rapuh seperti sebelumnya.

“Kamu boleh nangis tapi setelah ini aku temenin kamu buat sembuh ya?”

 

Greph…

 

Jiselle memeluk pria itu, menumpah ruahkan perasaan yang selama ini ditahan nya dibalik senyuman kecil. Ini terlalu berat baginya dan kali ini Jiselle tidak bisa berpura-pura kuat seperti biasa, dia ingin menunjukan sisi lemahnya.

Tidak apa-apa kan?

Pria itu bukan sekali dua kali melihat dirinya menangis, mungkin dirinya jugalah yang selalu ada saat Jiselle membutuhkan, meski perempuan itu tidak cukup peka.

“Thanks Haidar”

Usai sudah Jiselle menagih janji, jawabannya adalah dia harus ikhlas menerima, kemudian kembali belajar mencinta.

Jihas bukan takdirnya meski masih menjadi pemenang dalam segala rasa.

Jiselle tahu cintanya tidak akan seutuh dulu, jadi biarkan hati itu beristirahat dari segala jurnal perjalanan yang kurang lebih 3 tahun dirinya tempuh.

Canda dan tawa, duka maupun luka…

Semuanya sudah pernah dia rasa, kisah ini dia persembahkan pada dunia agar yang lain bisa belajar akan arti sebuah pertemuan dan akan makna sebuah perpisahan.

Bertemu dan jatuh cinta meski pada akhirnya tidak saling memiliki, namun apa yang tersisa? 

Segala cinta dan pengorbanan yang selama ini telah mengubah kita menjadi lebih baik.

Terimakasih Jihas Andrean Sananta.

kisah kita akan tetap diabadikan semesta, meski hanya dalam goresan tinta yang demikian sederhana,

 

‘Dear Jihas’

 

 

 

 

 

Tamat

 

 

 

에필로그

(Epilog)

 

Sepasang kaki tak sengaja menabrak tumpukan kardus didekat rak sepatu, kardus usang yang sudah berdebu, kenapa tidak kunjung di buang?

Sekarang isinya malah berceceran dilantai.

Dirinya  tertegun karena selembar undangan pernikahan.

‘Jiselle Haris & Haidar Malik Abraham’

Dirobeknya undangan itu dengan cepat.

“Ayah? Ayah baru pulang?” Suara anak kecil mengalihkan atensinya.

“Uuhh Superman nya ayah kenapa belum bobo? Ayah berisik ya?”

“Huum” 

Jihas Andrean segera menggendong anaknya yang baru berusia 4 tahun itu untuk kembali ke kamar.

“Ji?”

Jihas sedikit terkejut saat seseorang yang seharusnya sedang terlelap malah berdiri diambang pintu kamar anak mereka, tangannya memegang sobekan kertas yang Jihas lempar sembarangan tadi.

“Ini kenapa masih kamu simpen?”

“Undangan pernikahan Jiselle Sama Haidar?” Jihas malah bergumam pelan.

“Kamu udah move on kan?” Tanya sang istri penuh selidik.

Yang ditanya malah menatap kosong ke arah jendela kamar sembari mengingat kenangan hidupnya yang nyaris pahit.

“Gue mana ada move on dan lupain seorang Jiselle, nggak ada caranya buat gue lakuin itu” 

Perempuan itu berjalan kehadapan Jihas, menatap mata pria itu dengan rasa heran dan bingung karena ucapan si pria.

“Yang nyuruh kamu move on dari aku siapa sih siluman panda! Ini mah soal move on dari undangan itu, aku kan nggak jadi nikah sama Haidar tapi masih aja disimpen itu undangannya, heran deh terus kamu dari mana sih jam segini baru pulang?”

“Sssttt, berisik Sel nanti Dodo bangun denger suara Lo, sini deh ikut gue! Kita bercinta”

“What! Heh Ji…” Pekik Jiselle, matanya sudah melotot saja.

“Bercerita maksud gue, yaelah ini mulut keserempet”

“Awas aja ya kalau macem-macem aku teriak nih”

“Yaelah teriak aja Sel sono paling Dodo nangis denger suara mamahnya, udah sini dulu deh gue mau cerita”

 

 

Ya kita tidak pernah tau persimpangan yang sempat Jiselle pilih dan jalur yang selanjutnya Jihas tempuh, tapi diakhir cerita biarkan kita merasa lega karena keduanya masih ditakdirkan bersama.

Berjodoh. 

Sekarang siapa yang sedang berjuang dalam cinta?

Tidak apa-apa semua akan berjalan sesuai skenario, sesekali beristirahat lah dengan secangkir kopi dikota Bandung, menikmati pemandangan Paris Van Java dengan sedikit taburan romansa.

Mendengar musik malam dengan celana jeans biru, dan ketika lampu paling akhir menyala, disana terlihat jelas  bayangan Jihas dan Jiselle yang tengah berdansa.

 

“See you” from another Jihas in Braga.

 

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!