Palembang, 2022

Sejak puasa kemarin, Naomi memutuskan untuk menetap di rumah neneknya, Nenek Suria di Palembang dan belum kembali lagi ke rumahnya di Bekasi. Sebenarnya, hal itu bukanlah masalah besar baginya, apalagi dirinya masih berstatus pengangguran sejak lulus kuliah beberapa bulan lalu.

Nenek Suria adalah ibu kandung dari ayah Naomi. Setiap tahunnya, Naomi selalu menghabiskan minggu ketiga puasa sampai selesai lebaran di rumah sang nenek. Di sana, Naomi tidak sendirian, melainkan ada beberapa sepupunya, Arni, Putri dan Rifky.

Setelah bangun tidur, Naomi langsung keluar menuju teras rumah untuk bermain sepeda statis. Ya, sudah beberapa hari ini, Naomi rajin olahraga untuk menurunkan berat badannya. Maklum, dia sering menonton acara musik K-Pop yang sering menampilkan wanita muda cantik dengan tubuh ideal, sehingga Naomi termotivasi untuk merubah gaya hidupnya. Keinginan ini bukan semata-mata karena girlband idolanya, melainkan sang ibu yang ingin Naomi lebih menjaga pola makan, terutama mengurangi konsumsi makanan berlemak yang merupakan makanan favoritnya.

“Cie! Olahraga nih, yee!” celetuk Ayuk Hani, asisten rumah tangga Nenek Suria, dengan nada bicara menggoda dan tersipu.

Naomi menoleh ke belakang, lalu mendapati Ayuk Hani sedang menutup pintu pagar rumah. Namun, Naomi heran mengapa wanita berusia 35 tahun itu baru datang jam segini. Biasanya, di pagi buta saat matahari belum terbit, Ayuk Hani sudah menyapu ruang TV.

“Iya, dong. Biar sehat!” balas Naomi santai.

“Asik!” balas Ayuk Hani tanpa memudarkan senyuman di wajahnya.

“Tumben jam segini baru dateng?” Naomi terus mengayuh sepedanya sampai setetes keringat membasahi pelipisnya.

Ayuk tadi ke puskesmas dulu, Kak. Nganter Amel ke dokter,” jawab Ayuk Hani.

“Ngapo Amel?” Naomi mengerutkan dahinya.

Ayuk Hani meletakkan sandalnya di rak samping pintu masuk rumah, lalu menjawab, “Badannya panas, Kak. Semalaman gak bisa tidur karena menggigil.”

“Ya Allah, kasian nian, Yuk,” ucap Naomi iba.

“Itulah makanya, Kak. Ayuk tuh cemas nian,” keluh Ayuk Hani yang sekarang sudah berdiri di depan pintu masuk, lalu melanjutkan ucapannya, “Yasudah, Kak. Ayuk masuk dulu, ye. Nak beberes.”

“Lajulah, Yuk!”

Hampir satu jam lebih Naomi menghabiskan waktunya dengan sepeda statis tersebut. Seluruh tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat. Meski hasilnya pegal-pegal sampai ujung kaki, Naomi cukup puas seolah-olah kalori di dalam tubuhnya sudah terbakar habis. Setelah itu, Naomi turun dari sepeda dengan nafas yang cukup tersengal.

“Sudah kak olahraganya?” tanya Ayuk Hani sambil menyapu ruang TV.

“Sudah!” Naomi berkacak pinggang.

“Mandilah, Kak. Sudah ‘tu makan,” tutur Ayuk Hani.

“Ok!” Naomi mengacungkan jempol, lalu masuk ke dalam kamarnya.

Naomi baru saja selesai mandi dan langsung mengenakan pakaiannya. Sekarang, tubuhnya terasa segar kembali dan pegal-pegal yang tadi menghantam perlahan berkurang. Naomi langsung duduk di tepi ranjang, lalu mengambil ponsel yang diletakkan di bawah bantal. Tiba-tiba, notifikasi e-mail dari sebuah perusahaan tempatnya melamar dua minggu lalu muncul di layar ponselnya. Dengan semangat Naomi langsung membukanya dengan wajah berseri-seri­ dan perasaan harap-harap cemas. Rasa tidak ingin gagal lagi. Akhirnya dia mulai membaca isi pesan tersebut dari atas dengan teliti. Namun, raut wajahnya berubah begitu saja saat membaca kalimat berikutnya.

Ya, Naomi gagal lagi mendapatkan pekerjaan impiannya.

Naomi memejamkan kedua matanya sambil mendengus panjang seperti orang kelelahan. Benar, dia lelah karena usahanya selama ini seperti sia-sia. Namun, jika Tuhan belum berkehendak, tidak ada yang bisa merubahnya. Mungkin untuk saat ini, Tuhan sedang mengajarkan Naomi untuk lebih bersabar.

Ya, bersabar. Setidaknya untuk beberapa lama lagi.

Naomi membuka kedua matanya kembali, lalu meletakkan ponselnya di sampingnya. Dia menundukkan kepalanya sambil memijat pangkal hidungnya. E-mail perusahaan tadi bahkan berhasil membuat rasa lapar yang ditahannya sejak bangun tidur hilang begitu saja.

. . .

Untuk melepas penatnya, Naomi jalan-jalan naik MRT hanya sekedar mengelilingi kota Palembang. Saat membeli tiket tadi, Naomi pun asal pilih saja stasiun mana yang ingin dituju. Namun, setidaknya dia sedikit terhibur.

Sejak naik dari stasiun Polrestabes tadi, Naomi belum bangkit dari tempat duduknya. Dia duduk menghadap ke belakang sambil melihat pemandangan kota Palembang melalui kaca jendela, ditemani lagu Hindia yang diputar di ponselnya. Lirik lagu yang didengarnya sangat menggambarkan suasana hatinya siang itu.

“Stasiun berikutnya, Asrama Haji,” pengeras suara informasi tersebut lumayan mengagetkan Naomi. Dia tidak menyangka bahwa dia sudah tiba ditujuannya. Akhirnya, Naomi keluar dari MRT tanpa melepaskan wireless earphone-nya.

Tiba-tiba notifikasi muncul di layar ponselnya. Ada pesan WhatsUp dari sepupunya, Arni. Sebetulnya, Naomi ingin sekali mengajak Arni jalan-jalan, tetapi gadis itu memilih untuk diam di rumah sambil nonton drama Korea.

Arni:

Uni. Dimano?

(Kak. Dimana?)

Naomi menghembuskan nafasnya sambil memejamkan kedua matanya. Dia tahu bahwa ini semua disuruh oleh Nenek Suria. Setahu Naomi, Arni bukanlah orang yang begitu peduli hal-hal seperti ini. Contoh, keberadaannya sekarang, apalagi sebelum pergi tadi, Naomi sudah mengatakannya pada Arni.

Naomi:

Masih di Asrama Haji.

Nak nitip sesuatu ‘dak? (Mau nitip sesuatu, gak?)

Arni:

Belike ShaTime. (Beliin Shatime)

Milk tea. Gulo samo esnyo less be. (Teh susu. Gula sama esnya kurang aja)

Naomi:

Oke.

Naomi kembali jalan menuju anak tangga. Dia meninggalkan peron tersebut menuju peron yang berlawanan. Ya, memang tidak berniat untuk menghabiskan waktu di sana. Toh, tujuannya hanya untuk jalan-jalan agar tidak bosan.

. . .

“Gak lolos lagi?” tanya Nani melalui video call. Nani adalah sepupu dari pihak ibunya yang paling dekat dengan Naomi. Diantara banyak sepupu, Naomi paling percaya dengan Nani.

Naomi menggelengkan kepalanya dengan wajah tidak bersemangat sambil memegang ponsel yang mengarah ke wajahnya.

“Pusing gue, Ni. Lamar sana sini, gak ada yang lolos,” keluh Nani. “Padahal, gue rajin banget liat tips interview di Utube sama TickTock. CV telaten gue rapihin. Tapi, tetep aja gagal.”

“Yang sabar, Mi. Jangan patah semangat. Gue yakin, suatu hari lo bakal dapet kerjaan yang cocok, apalagi lo pinter. Cuma, belum rezeki aja,” ucapan Nani cukup membuat Naomi lebih tenang.

“Mungkin, ya,” ucap Naomi singkat.

“Gue heran, kenapa gue hidup diantara orang-orang yang semuanya gampang. Cari kerja gampang, dapet IPK tinggi gampang, ngerjain skripsi gampang. Perasaan, cuma gue doang yang rada susah,” ungkap Naomi. “Liat noh, si Arni. Udah keterima kerja aja di Jogja. Langsung PNS lagi. Cuma beda tesnya doang.”

Nani menghela nafas panjang. Perkataan Naomi cukup membuatnya paham posisi Naomi saat ini. Dia tahu betul bahwa hampir semua keluarga dari pihak ayah Naomi memiliki kepintaran yang luar biasa. Bagi mereka, masuk PTN unggulan adalah hal yang mudah.

“Nggak gitulah, Mi. Gue yakin setiap orang punya jalannya masing-masing. Mungkin, perusahaan tempat lo lamar kemaren bukan yang terbaik buat lo,” tutur Nani. “Menurut gua, lo lebih cocok jadi freelancer. Bakat lo banyak.”

Naomi terkekeh, lalu berkata, “Sa ae, lo.” (Bisa aja, kamu).

Naomi dan Nani terus berbicara melalui video call sampai larut malam. Keduanya begitu menikmati pembicaraan ini, apalagi mereka sudah lama tidak berjumpa secara langsung karena kesibukan masing-masing.

. . .

Ibunyo PNS. Tapi, anaknya payah cari gawe. Makmano, sih?”, tanya Nenek Anita, adik kandung Nenek Suria. (Ibunya PNS. Tapi, anaknya susah cari kerja. Gimana, sih?).

Ucapan Nenek Anita cukup membuat Naomi kesal dan ciut. Menurutnya, kalau belum rezeki, bagaimana? Jujur saja, rasanya Naomi ingin masuk kamar dan menghindari para tamu. Tentu saja merasa tersindir.

“Ya kalau belum rezeki, gimana?” ucap Naomi dengan nada bicara ketus. Kali ini, Naomi masa bodo dengan tata krama berbicara pada orang tua. Toh, tidak ada yang mengerti perasaan dia.

“Cak mano, sih, kau nih? Malu-maluke be,” celetuk Nenek Anita. (Gimana sih, kamu ini? Malu-maluin aja).

Semua yang ada di ruangan itu kelu mendengar ucapan Nenek Anita pada Naomi, terutama sepersepupuan seperti Arni, Putri, dan Rifky. Mereka tidak membayangkan bagaimana perasaan Naomi.

Nenek Suria menepuk pelan bahu Nenek Anita, lalu berkata, “Anita! Sudahlah kau, nih! Dak usah banyak betanyo! Diem be!” (Anita! Sudahlah kamu ini! Gak usah banyak tanya. Diem aja!).

Naomi hanya menundukkan kepalanya. Diam-diam dia menekuk jari kakinya untuk melampiaskan kekesalan walaupun sang nenek membelanya.

Nenek Anita berhasil dibuat ciut oleh perkataan Nenek Suria. Wanita berusia lanjut itu tidak bisa berkata-kata lagi, sementara semua orang di ruangan itu cengengesan melihat ekspresi wajahnya yang menahan malu, termasuk Naomi.

Sukurin lo!

. . .

 

Komentar

No comments found.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!