Selama jam pelajaran tambahan berlangsung, Aldo sama sekali tidak fokus pada Pak Bik, guru Akuntansi, yang sibuk menerangkan di depan kelas. Aldo menopang dagunya dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya yang lain, digunakan untuk mengutak-atik pulpen.

Aldo nyaris mengerang histeris karena frustrasi, jika Hayden tidak buru-buru mencegahnya.

“Sssttt …!!! Tenangkan dirimu, Do! Jangan sampai kamu menarik perhatian Pak Bik! Akan sangat gawat jika kamu sampai berurusan dengan guru killer itu.” Hayden berbisik menasihati teman sebangkunya itu.

Waktu dirasakan Aldo berputar terlalu lama. Ia sudah tidak sabar menginginkan kegiatan tambahan pelajaran lekas berakhir. Ia pun bahkan bernyali untuk hengkang meninggalkan kelas pada saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Namun, ia tak bisa seenaknya berulah karena siang menjelang sore itu adalah sesi pelajarannya Pak Bik.

Secara Pak Bik adalah guru killer yang paling ditakuti oleh siswa siswi sekolah tersebut. Beliau memang terkenal akan kegalakan, ketegasan dan juga penuh kedisiplinan. Bahkan siswa setingkat geng Aldo acapkali berada dalam pengawasan sang guru.

Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu oleh Aldo tiba juga. Bel sekolah tanda berakhirnya jam pelajaran tambahan berbunyi kencang dan nyaring. Begitu Pak Bik telah pergi meninggalkan ruang kelas itu, Aldo juga hendak melakukan hal serupa.

Ia menyambar kasar tas punggungnya yang kemudian digendongnya di salah satu bahu. Ia berjalan dengan derap langkah lebar, membuat siswa maupun siswi lain mundur pelan-pelan untuk memberinya jalan ketika saling berpapasan. Makrus dan Hayden menempel tak jauh di belakang Aldo.

“Kamu mana bisa berpikir jernih jika tegang seperti itu? Berpikirlah dengan santai, Do!” pinta Hayden, setibanya mereka di lorong laboratorium biologi hendak menuju ke halaman parkir sekolah.

“Bagaimana kamu bisa memintaku untuk berpikir santai, Eden? Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Tidak pernah aku sangka harus menghadapi situasi serumit begini,” timpal Aldo tegas.

“Kalau aku jadi Aldo, aku pun pasti melakukan hal yang sama. Tingkat kerumitan masalah ini  bahkan melebihi pelajaran MIPA. Itu hanya opiniku saja, sih.” Makrus angkat bicara.

“Aku sependapat denganmu, Makrus. Persoalan MIPA bisa diselesaikan dengan cara gambling. Kalau pun keliru, tidak akan muncul dampak yang serius. Paling hanya hasil nilai kita yang jeblok atau bagus. 

Beda ceritanya dengan persoalan yang satu ini. Kita tidak bisa buru-buru untuk menuntaskannya. Apabila kita tetap bersikeras memecahkannya dengan cara gambling, yang ada justru kita nanti salah langkah. Hasil terburuknya kita bisa jadi salah menuduh orang. Ah …, entah apa yang aku katakan ini. Terlalu banyak omong,” ucap Aldo panjang lebar.

“Terlalu banyak teori, membuatku makin mual saja,” timpal Hayden.

“Lebih cepat beraksi … lebih baik, ‘kan? Sebelum kita melakukannya, alangkah bagus kalau kita melipir sejenak ke kafe langganan. Bagaimana? Apa kalian setuju?” lanjut Hayden menanyai pendapat Aldo dan Makrus.

“Bukan ide yang buruk, Eden,” balas Makrus yang menyetujui apa yang diusulkan Hayden.

“Aldo. Kamu sendiri bagaimana?” tanya Hayden.

“Tentu saja aku ikut,” jawab Aldo.

Sesuatu tidak terduga tiba-tiba menimpa Aldo. Punggungnya tidak sengaja ditabrak seseorang, hingga membuat seseorang itu mengerang kesakitan.

“Aww …!”

Geng Aldo berbalik bersamaan untuk melihat siapa yang telah berani menabrakkan diri ke punggung Aldo. Ternyata seorang siswi yaitu Mutiara, teman sebangku Isti.

Mutiara memijat pelan jidatnya, meski ia ditatap dingin oleh Aldo, Makrus dan Hayden. Mutiara yang menyadari akan hal itu, seketika terkejut dan buru-buru melontarkan permintaan maaf. Namun, ia tidak bisa melakukannya langsung karena Makrus angkat bicara terlebih dulu dengan sangat ketus.

“Matamu itu ditaruh di mana, sih? Badan Aldo sebesar ini, masa kamu tidak kelihatan?”

“Aku kelihatan, kok. Aku memang yang salah, tapi aku tidak sengaja melakukannya. Aku berjalan terlalu cepat sampai-sampai tidak bisa mengerem kedua kakiku sendiri. Maaf. Aku sungguh minta maaf.” Mutiara berkata merendah.

Aldo memandangi siswi di hadapannya itu dengan wajah garang. Ingin sekali ia membalas perbuatan Mutiara, tapi diurungkannya. Ia tidak ingin terpancing oleh emosi yang bisa membuat posisi geng-nya menjadi tersudutkan.

“Kalian memaafkan aku, ‘kan?” Mutiara bertanya dengan memberanikan diri memandangi Aldo, Makrus dan Hayden secara bergantian.

“MUTIIII …!”

Seorang siswi berseru lantang memanggil nama Mutiara ketika ia sedang menanti balasan jawaban dari geng Aldo. Siswi itu berlari ke arah Mutiara dengan menunjukkan wajah cemas dan ketakutan.

“Mut, apa yang kamu lakukan di sini bersama mereka? Kamu disakiti oleh mereka? Seharusnya kamu menghindari dan jangan cari gara-gara dengan mereka jika tidak ingin saling berurusan seperti ini,” cerocos siswi itu panjang lebar tanpa memedulikan keberadaan geng Aldo.

Tanpa melontarkan sepatah kata pun, geng Aldo kembali berbalik dan melangkahkan kedua kaki mereka, meninggalkan Mutiara dan siswi itu. Di waktu bersamaan, Mutiara bersuara lantang menjawab pertanyaan siswi di dekatnya yang bernama Fi’atun.

“Aku baik-baik saja, Atun. Kamu jangan cemas begitu. Aku tidak dijahati sama mereka, kok.”

“Serius?” Fi’atun bertanya balik sambil memasang wajah tidak percaya.

“Iya, serius. Aku memang melakukan sedikit kesalahan, tapi aku sudah memberi tahu mereka kalau aku tidak sengaja. Mungkin saja bisa jadi begini. Secara aku, ‘kan, menyandang status siswi paling teladan selama dua tahun berturut-turut, makanya mereka segan untuk menjahati aku.”

Mutiara menjawab pertanyaan Fi’atun dengan sangat percaya diri sambil sesekali melihat sekilas ke arah punggung Aldo.

“Mana mungkin ada yang seperti itu,” tandas Fi’atun.

“Buktinya kamu bisa lihat sendiri, nih,” balas Mutiara yang tak ingin dieyel perkataannya.

Walau sudah berada agak jauh dari kedua siswi itu, Hayden masih bisa mendengar jelas percakapan mereka. Hayden lantas bergumam seorang diri sebagai bentuk respon.

“Ck! Apa yang mereka berdua ucapkan, berhasil membuat perutku mual. Isi di dalam perut ini siap aku muntahkan, jika tidak segera diganjal oleh es americano.”

Sementara Aldo dan Makrus hanya diam seribu bahasa. Mereka bertiga semakin bergerak mendekati halaman parkir sekolah.

Meski hari sudah menginjak sore, geng Aldo tetap memilih untuk melipir sebentar ke kafe langganan mereka sepulang sekolah. Mereka memilih untuk duduk di bangku pojokan kafe tersebut. Makanan serta minuman yang dipesan oleh mereka bertiga pun, telah tersaji di meja.

Hayden melakukan apa yang dikatakannya tadi sewaktu di sekolah. Ia menyedot es americano miliknya dengan sangat cepat.

“Ah, segarnya. Kini perutku aman terkendali,” celetuk Hayden kemudian.

“Astaga. Kamu seperti orang yang tidak pernah minum selama beberapa hari, Eden. Sungguh mengenaskan,” tukas Makrus dengan mulut kasarnya itu.

“Biar saja.”

Hayden yang sudah kebal dengan ucapan savage Makrus, membalasnya dengan santai. Ia pun lekas beralih memandangi Aldo yang masih tetap fokus berpikir keras. Hayden mengembuskan napas pelan. Ia sungguh prihatin kepada sang pentolan geng yang sedang berusaha memecahkan masalah seorang diri.

“Makanlah selagi masih hangat!” perintah Hayden.

Aldo mendongak lalu memandangi Hayden balik. Hayden kembali melanjutkan ucapannya.

“Atau bila kamu tidak berselera makan, minumlah saja dulu! Kamu mana bisa berpikir jika perutmu dibiarkan kosong begitu, Do?”

“Benar apa yang dikatakan Eden.” Makrus angkat bicara, ikut membantu Hayden meyakinkan Aldo.

“Kamu makanlah dulu, Do! Selagi kamu makan, aku ingin memberi tahu kalian sesuatu. Aku pikir apa yang akan aku katakan ini, cukup ada gunanya nanti,” lanjut Makrus.

“Baiklah. Aku akan makan. Lebih baik kamu cepat katakan apa yang ingin kamu beritahukan! Aku tidak sabar ingin mendengarnya,” ujar Aldo yang pada akhirnya menurut juga.

“Sewaktu di sekolahan tadi, tepatnya pada saat jam istirahat pertama berlangsung, aku diam-diam menguping percakapan antara si Ketua OSIS dengan sepasang kakak beradik itu di ruang ekskul klub jurnalistik.

Stefanus Adi meminta mereka untuk menjadi narasumber agar bisa mengulik cerita tentang kita, geng terkenal yang acapkali melakukan perisakan. Kalian tahu apa jawaban sepasang kakak beradik itu? Mereka menolak permintaan si Adi. Mereka berdalih tidak ingin berurusan dengan kita.

Tak lama setelah itu, terjadilah insiden dia diguyur air entah dari mana. Mereka mengira bahwa kitalah pelakunya, padahal bukan. Dari situ, pikiranku menjadi bercabang ke mana-mana. Aku bahkan sempat menduga jika semua yang telah terjadi tadi, hanyalah akal-akalan yang mengatasnamakan geng kita.

Mungkin saja si Adi sendiri pelaku insiden itu. Kalau aku tidak salah ingat, aku tadi dengar jika Adi sudah terobsesi kepada kita sejak dari lama. Untuk mendapatkan bahan tentang kita agar bisa dijadikan sebuah artikel, dia merancang insiden itu.

Namun, itu kalau dugaanku benar. Bagaimana jika meleset keliru? Itu artinya ada pelaku lain, entah siapa itu, yang patut diwaspadai. Cukup sekian sekelumit informasi yang bisa aku bagikan kepada kalian. Kerongkonganku rasanya kering sekali karena terlalu panjang lebar bicaranya.”

“Kasihan sekali. Kamu minumlah dulu, Makrus!” celetuk Hayden sambil mendekatkan gelas minuman milik Makrus.

Selagi Makrus sibuk meminum minuman dingin miliknya, Hayden buka suara kembali. Kali itu, ia berkata sambil menyandarkan punggungnya di bangku kursi yang diduduki.

“Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang kurang kerjaan seperti itu? Apa yang harus kita lakukan untuk menguak semua ini sekaligus membuktikan bahwa kita tidak bersalah sama sekali? Huft!”

“Tidak ada cara yang tidak mungkin dilakukan untuk menuntaskan masalah ini. Siapa pun ia yang sudah berani memakai nama geng kita untuk melancarkan aksinya sendiri, tidak akan aku biarkan lolos begitu saja. Aku pasti menemukannya. Lihat saja nanti!” gumam Aldo geram.

Komentar

No comments found.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!