“Hei … Pernahkah kalian berpikir bahwa umat manusia bisa saja punah?”

“Punah? Kan sekarang manusia sudah berkuasa, segala hal bisa dicegah dengan teknologi.”

“Itu hanya pertanyaan. Mungkin saja hal itu bisa terjadi kan?”

“Kurasa itu tidak mungkin. Lihat sekarang ada berbagai macam teknologi yang mendukung untuk perlindungan. Ada bunker dan juga teknologi lainnya. Jadi kenapa harus takut?”

“Sombong sekali kamu!”

“Apa salahnya?”

“Jangan bertanya yang aneh-aneh!” Satu suara lainnya bergabung dalam percakapan keduanya.

“Kenapa?”

“Memangnya kenapa kamu bertanya itu?”

“Kalian pernah mendengar rumor tentang organisasi itu kan?”

“Maksudmu organisasi yang berbicara tentang akhir zaman untuk manusia itu?”

“Ya kamu benar.”

“Itu hanya omong kosong belaka.”

“Ya … Bahkan pemerintah pun menganggap mereka itu aneh.”

“Tapi bagaimana kalau itu benar. Kalian sadarkan semua yang mereka paparkan mulai terjadi?”

“Belum ada bukti yang jelas.”

Perdebatan mereka terhenti oleh keributan yang terdengar dari luar kafe tempat mereka berdiam. Mereka memandang orang-orang yang heboh menunjuk ke arah langit. Segera mereka keluar dan ikut bergabung dengan lautan manusia lainnya.

“Lihatkan! Kurasa yang di katakan organisasi itu benar.”

“Jangan terlalu yakin.”

“Kita lihat dulu kebenarannya.”

Hari itu … Tahun-tahun dimana manusia menjadi puncak dari dunia telah usai. Semua teknologi dan kemajuan yang di buat manusia punah dalam sekejap. Dunia kini sudah tidak aman. Pada akhirnya manusia harus mencari cara untuk bertahan hidup dari serangan para monster yang muncul tiba-tiba.

“Hei! Awan apa itu?”

“Cantik ya ….”

“Cantik apanya? Terlihat mengerikan.”

“Sebaiknya kita berlindung dul-

Duarrrr

“Awasss!”

“Menghindar! Ada ledakan!”

Ledakan besar di langit saat itu menyilaukan mata semua orang. Dalam ketakutan dan keraguan mereka semua menatap kembali langit yang bercahaya dan mendapati objek aneh yang turun.

“Benda apa itu?

“Kurasa itu Hujan?”

“Tapi kenapa hujan sebesar itu?”

“Tidak ada air yang turun juga.”

Sistem pemerintahan berganti, kepemimpinan berganti dan segalanya menjadi kacau.

“Dimana polisi?!”

“Apa yang para aparat itu lakukan saat ini?”

“Mama … Apa itu?”

Hari itu langit yang biru berubah menjadi merah, tanah-tanah dipenuhi dengan cairan merah dan tak terhitung lagi jeritan dan tangisan menggema memenuhi langit.

“Arggghhh ….”

“Tolong! Tolong!”

“Anakku! Anakku hilang!”

“Selamatkan diri anda dahulu!”

“Keluargaku masih di sana … Aku tidak bisa meninggalkan mereka ….”

“Larii!”

“Tinggalkan saja dia!”

“Kyaaa ….”

“Monster! Ada monster!”

Grrrrrrrr

Grrrrrrrrr

Mereka berlari kesana kemari. Menghindar dari serangan makhluk yang datang tiba-tiba dan merenggut kehidupan mereka dengan paksa. Terus berlari meski harus mengabaikan beberapa orang yang butuh bantuan. Menyaksikan di depan mata bagaimana satu demi satu umat manusia hilang meninggalkan jeritan kepiluan.

“Cepat nak! Jangan melihat kebelakang!”

“Aku takut ….”

“Tidak ada waktu untuk takut! Jika ingin hidup cepatlah berlari!”

Satu hentakan besar dari seekor monster membuat pijakan mereka semua goyang membuat tanah itu retak dan akhirnya mereka jatuh ke dalam sebuah lubang besar.

“Mamaa ….” Gadis kecil itu hanya bisa berteriak ketakutan saat seekor monster hitam panjang itu berada tepat di matanya. Wajah kecilnya berlinang air mata dan amat pucat bahkan orang-orang di sekitarnya memilih menjauh menyelamatkan diri mereka.

“Gadis itu-

“Biarkan saja … Selamatkan dirimu dulu!”

Saat itulah sebuah pedang datang menghabisi monster itu membuat darah hitam terciprat kesegala arah.

“Kamu baik-baik saja?”         

“Tidak apa-apa kami akan membantumu.”

Dan saat itulah mereka muncul. Orang-orang berani yang melawan para monster. Mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan untuk saling membantu. Mereka yang bahu membahu berjuang bersama. Dan mereka yang marah karena tanah kelahiran mereka terjajah.

“Anda siapa?” Gadis kecil itu bertanya di sela ketakutan yang masih ada. Pemuda di depannya dengan pedang yang berlumuran darah hitam menoleh dan menatap gadis itu dengan tersenyum sambil menunjuk tulisan kecil yang ada di jubahnya.

“Terimakasih The Guards …” seru sang gadis riang dan berlari menuju sang ibu yang memeluknya dengan linangan air mata.

Merekalah the guards. Organisasi kecil yang terbentuk sejak mereka menyadari ada yang tidak beres tentang dunia tempat mereka tinggal. Orang-orang yang berdedikasi tinggi untuk keselamatan orang lain.

“Amankan di bagian sana! Cepat!”

“Selamatkan yang bisa di selamatkan!” seruan lainnya terdengar memenuhi lautan jeritan manusia.

“Cepat gadis kecil! Lari!”

“Serang kepala monster itu!”

Dan tepat saat mereka menyadari serangan para monster. Jiwa keberanian mereka mendadak muncul, meski ketakutan tetap terbayang dalam benak mereka.

“Kita harus menyelamatkan mereka!”

“Dengan pedang kecil itu mustahil kita bisa menghabisi semua monster!”

“Selamatkan yang bisa diselamatkan. Jangan sampai penyelamatan yang lain sia-sia.”

Orang-orang yang berani terus menyisir bangunan-bangunan yang runtuh. Tak terhitung lagi sepatu dan pakaian yang mereka kenakan penuh dengan darah dan bau amis. Pemandangan yang terlalu mengerikan untuk dunia yang kehilangan kedamaian.

“Apa kita harus masuk ke dalam bangunan?”

“Jika masih ada kehidupan ya silahkan.”

“Caranya? Jika terlalu ribut para monster itu bisa datang,” jawab suara lainnya dengan kapak besar ditangannya.

“Apa senjata itu berhasil?”

“Ya … Ini bisa membunuh monster yang besar dan menebas mereka sampai habis.

“Terlalu bar-bar.”

“Mau bagaimana lagi? Tidak ada lagi rasa kemanusiaan yang harus di perlihatkan bukan?”

“Para monster itu tidak bisa mati dengan mudah. Karena itu kita harus menghabisinya sampai keping terkecil.”

“Ya … Itu benar.”

Larut dalam percakapan hingga mereka tak menyadari mereka telah memasuki separuh bangunan yang runtuh.

“Ada bau amis.”

“Siaga dengan senjata masing-masing!”

“Lebih baik kita keluar!”

“Kembali saja ke markas!”

Tanah yang mereka pijak kembali bergetar dan geraman monster terdengar dekat dengan mereka. Dalam ketakutan dan keraguan senjata mereka tetap terhunus ke depan. Memotong segala hal yang mengganggu jalan mereka.

“Menghindar!”

“Serang ekornya!”

“Jangan lengah!”

“Mengagumkan ….” Suara berat dan monoton menggema di sekitar mereka. Suasana yang sunyi dengan limpahan darah merah terpampang nyata di hadapan mereka.          

“Siapa?! Keluar!”

“_Hebat … Ternyata masih mampu melawan_ …”

“Siapa itu?”

“_Pembalasan akan segera datang_.”

Tepat saat suara itu menghilang semua monster menghilang begitu saja di hadapan mereka. Diselimuti oleh kabut merah yang mengurangi jarak pandang mereka.

“Mereka hilang?”

“Sial!”

Hari itu adalah awal menuju era baru. Manusia tidak lagi berada di tingkat atas. Mereka harus bertahan dan terus bertahan dari para predator yang datang kapan saja.

Semua mulai berubah dan mekanisme pertahanan hidup mulai dibentuk. Dan the guards menjadi pelopor besar dalam perubahan yang ada. Mereka yang awalnya tidak di dengarkan kini menjadi pusat dari segala kehidupan. Pengetahuan mereka yang awalnya di anggap remeh kini di jadikan sumber dalam bertahan hidup.

“Damai ya ….”

“Semoga hidup damai ini bisa bertahan selamanya.”

“Ya … Kuharap juga begitu.”

Harapan itu kembali terucap namun siapa yang bisa menjamin bahwa laut yang tenang tidak ada predator di dalamnya.

 

⚜⚜⚜

 

Komentar

No comments found.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!