Kastil Raja Archon

 

“Das veteri uch, Kalga?”

(Bagaimana keadaan Kalga)

 

Suara berbisik yang diucapkan Raja Archon dengan intonasi berat terdengar mencekam di keheningan. Suaranya menggema di setiap sudut kastil menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.

 

“Alior bach sanchor, Kinghem.”

(Terkendali dengan aman, Tuanku)

 

Laki-laki berjubah hitam yang berdiri di ruangan yang dipenuhi cahaya temaram menjawab dengan lantang. Tubuhnya dibungkukan dengan kepala tertunduk tak berani menatap sang Raja yang dikenal kejam. Di tangan kanannya membawa Gada,  senjata mematikan sejenis tongkat pemukul dengan bola di ujungnya. Panjangnya kisaran tiga kaki, terbuat dari kayu, sementara bola di ujungnya berbahan besi dan bergerigi.

 

Gada adalah senjata yang dibawa pasukan Bugrum. Ada banyak pasukan terampil yang dipunyai Sagona. Mereka terbagi menjadi empat pasukan. Alecta (pasukan pedang), Kyurkum (pasukan panah), Noacta (pasukan nuklir) dan Dakhan (pasukan tempur dengan pesawat canggih)

 

“Daminos … Du consrachhh!”

(Terkutuk … Kau berbohong!)

 

Lelaki berambut putih  terjingkat mendengar kemarahan sang Raja yang suaranya menggelegar bak petir yang berkilat. Jubah hitamnya langsung koyak tersangkut benda tajam di dekat pilar kastil. Dalam keadaan menunduk dia berusaha meyakinkan, bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.

 

Mendengar pengakuan lelaki itu, kemarahan Raja Archon bukannya mereda malah bertambah bringas. Dia menyeret tubuh lelaki itu dengan kasar, lalu menunjukkan gambaran pengkhianatannya melalui bola kristal. Takada yang bisa menghindar dari kebohongan. Semua yang disembunyikan akan ditampakkan dengan gamblang oleh bola kristal berpijar.

 

Seketika lelaki berjubah hitam tak bisa berkutik. Lidahnya kelu, tubuhnya bergetar hebat. Semua rahasianya terbongkar, dia telah memberikan buku berisi peta Sagona kepada seorang pemuda di lembah hitam.

 

Aaarrrghhhh (Mengerang kesakitan)

 

Tubuh laki-laki itu dilempar ke atas, lalu ditarik maju ke depan dengan kasar. Diputar-putar, kemudian dihempaskan dengan keras ke bawah.

 

Brukk

 

Laki-laki itu terpelanting membentur dinding kastil. Bunyi patahan tulangnya terdengar keras. Krakkkk

 

“Du opsidis bruchaaa!”

(Kau harus menerima hukuman)

 

Sepasang tangan panjang yang tertutup jubah hitam meremas tubuh lelaki itu dengan kuat hingga matanya melotot, rahangnya terbuka lebar. Tak ada yang bisa menghentikan amarah Raja. Lelaki itu mendapat serangan bertubi-tubi hingga tubuhnya lemas tak berdaya.

 

“Minemat, Kinghem.”

(Ampun, Tuanku.)

 

Terbata-bata laki-laki itu merangkak dan bersujud. Wajahnya bercucuran air mata memohon pengampunan. Entah berapa luka yang dideritanya. Tubuhnya dipaksa bergerak maju mendekat ke arah Raja. Dia masih berharap ada keajaiban untuknya di sisa waktu yang dimiliki.

 

Aaarrrghhhh.

 

“Redicia du Iventus!”

(Mati kau pengkhianat)

 

Tak ada yang tersisa dari tubuh lelaki itu. Raganya hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu dan menghilang dalam sekejap. Sebuah buku bersampul biru bertuliskan simbol piktogram tergeletak begitu saja di dekat pilar kastil.

****

Ellen tercenggang melihat bunker berisi penuh peralatan canggih. Di dalamnya ada radar pendeteksi sinyal musuh pemantau keamanan wilayah Kalga. Semuanya dioperasikan dengan baik oleh petugas yang dipilih. Robot penerjemah bahasa dan perbaikan jaringan luka juga ada. Mereka menyebutnya D-388 dan T-267.

 

“Apa kau percaya dengan master Lee?” tanya Ellen penuh selidik. Gadis itu mulai mengendus ada sesuatu yang tidak beres dengan profesor Lee.

 

“Aku yakin dia berada di pihak Kalga, Ell,” ucap Ray sembari memperhatikan gerak-gerik Lee yang sedari tadi mondar-mandir memberikan perintah kepada anak buahnya.

 

Lelaki tua itu sangat lincah mengarahkan semua petugas yang berjaga di bagiannya masing-masing. Tak seperti yang biasa dilihat Ray di bunker tempat dia tinggal. Berjalannya tidak membungkuk, tapi tegap. Ini sangat mencurigakan bagi Ellen. Master Lee seperti dua yang berbeda.

 

“Semoga apa yang kau kira, Master Lee orang baik itu benar, Ray.’

 

Ellen meragukan Lee. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya yang belum mendapatkan jawaban. Dia berusaha untuk menanyakan kepada Lee. Namun, peneliti itu tak pernah menjawab. Dia berusaha menghindar dengan membuat alasan untuk mengalihkan pembicaraan.

 

Menurut Ellen, Lee bukanlah teman dekat ayahnya. Keduanya kerap bersitegang perihal riset pengembangan nuklir. Berkali-kali Ellen melihat pertengkaran ayahnya saat di Farmoug. Lee orang yang keras kepala, tak mau dikalahkan.

 

Saat Farmoug dihancurkan pasukan Sagona dan semua ilmuwan dibunuh dengan cara menggenaskan. Hanya Lee yang selamat dan tidak terluka sedikit pun. Ini sangat aneh. Lelaki tua itu tiba-tiba muncul dan memberitahukan keberadaan bunker di Kalga untuk tempat berlindung yang aman dari teror pasukan Sagona. Sejak itu, penduduk Kalga bersimpati dan menaruh harap pada Lee. Mereka menyematkan nama master karena mengganggap Lee sebagai pahlawan yang berjasa.

 

Sikap Lee banyak berubah sejak peristiwa penyerangan Kalga. Dia tak lagi ambisius, meledak-ledak emosinya. Bahkan Ellen dan Ray sudah menganggapnya sebagai pengganti orang tua mereka. Gaya bicaranya yang santun dan meneduhkan semakin menambah wibawanya. Apalagi semua kebutuhan nutrisi, makanan dan minuman penduduk Kalga dikelola dengan baik oleh Lee.

 

Namun, sejak Ellen mengetahui rahasia yang disembunyikan Lee. Gadis itu mulai menaruh curiga dan mengingat-ingat lagi apa saja yang pernah dilakukannya. Barangkali ada yang tindakan aneh yang terlewat dari pandangannya. Jika sampai Lee adalah dalang dari semua ini, Ellen tidak tinggal diam. Gadis itu akan membunuh profesor itu dengan tragis dengan menembakkan virus mematikan di tubuh Lee.

 

“Ikut aku, Ray! Kita selidiki diam-diam siapa master Lee.”

 

Ellen nekat masuk ke ruangan kerja Lee. Di ruangan ini ada banyak tumpukan buku daripada di ruangan kerja Lee yang ada di bunker. Foto-foto Lee sewaktu muda dipajang dengan rapi di dinding. Berikut piala dan kalung medali. Ada foto Prof. Harry dan rekan peneliti lainnya yang dulu sama-sama bertugas di Farmoug. Ellen menitikkan air mata kala menatap foto sang ayah. Tak mudah kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Apalagi di usia Ellen yang masih belia. Banyak hal yang harus dia terima dan terpaksa tumbuh mandiri dan dewasa. Limpahan kasih sayang tak lagi dia dapatkan.

 

“Kita berpencar. Jika ada sesuatu yang mencurigakan beritahu aku.”

 

Ray mengangguk. Keduanya sibuk menggeledah isi ruangan Lee. Di lemari, laci-laci meja dan tumpukan buku tebal yang diletakkan acak menjadi sasaran pencarian. Berkas-berkas berisi kumpulan formula riset yang ditulis dengan huruf yang tak jelas diteliti Ellen satu per satu dengan hati-hati.

 

“Kau menemukan sesuatu, Ray?”

 

“Belum.”

 

Keduanya kembali sibuk mencari informasi. Hampir tiga puluh menit mereka berada di sana belum satu pun yang ditemukan. Tiba-tiba, terdengar suara pintu dibuka. Keduanya terkejut, mereka langsung bersembunyi.

 

“Bagaimana, sudah dikirim semua barang ke Sagona?”

 

“Sesuai perintah, semua beres.”

 

“Hahaha … Kau memang andalanku, Hugo. Tak pernah mengecewakanku. Kau pantas mendapatkannya.” Lee memberikan sekantong penuh koin emas.

 

“Ini rahasia kita. Tak boleh ada orang yang tahu.” Lee menepuk pundak Hugo. Lalu mereka berdua pergi ke luar.

 

Ellen yang mendengar pembicaraan mereka sangat terkejut, apa yang selama ini ditakutkannya terjadi. Lee dan Hugo adalah mata-mata Sagona.

 

Terkutuk, kau Lee. Lihat saja, aku akan menghabisimu.

 

Ellen terduduk lemas, gadis itu diam seribu bahasa saat Ray menghampirinya. Dunianya rasanya runtuh. Orang yang dikenal sangat dekat, tidak bisa lagi dipercaya.

 

“Semuanya masih belum jelas, Ell. Bisa jadi ini hanya kesalahpahaman saja.”

 

“Salah paham katamu? Buka matamu, Ray. Apa yang kita dengar tadi sangat jelas. Dia menyebut nama Sagona. Aku tahu master Lee sangat baik kepadamu, tapi jangan pernah kau lupakan kematian orangtuamu yang tragis.”

 

Ellen melepaskan genggaman tangan Ray dengan jengkel. Gadis itu geram jelas-jelas bukti ada didepannya, tapi Ray tidak mau mengakui.

 

“Jangan sentuh aku!” sergah Ellen sarkas.

 

“Okey, maafkan aku. Bukan tak percaya. Ini semua masih teka-teki. Jika master Lee adalah dalang dari hancurnya Kalga. Mengapa dia harus susah payah mengembangkan penelitian yang dilakukan ayahmu?”

 

“Pikiranmu sudah dipengaruhi dia, Ray.” Gadis itu marah besar terlihat jelas dari raut wajahnya.

 

“Aku butuh waktu untuk membuktikan semuanya.”

 

“Persetan denganmu. Aku sudah salah memilihmu menjadi teman.” Gadis itu melesat pergi entah ke mana.

 

“Tunggu, Ell.”

 

Gadis itu pergi membawa luka. Hatinya berkecamuk. Kesal bercampur sedih. Satu-satunya teman yang paling dipercaya meragukannya. Dia tak mau berhenti meski Ray mengejarnya.

 

“Aku akan jelaskan semuanya.”

 

Semua sia-sia. Sekeras apa pun Ray berteriak, Ellen tetap menjauh. Ada penyesalan dalam dirinya yang begitu besar sudah membuat gadis yang dicintainya terluka. Pemuda itu tertunduk lesu merutuki sikapnya yang buruk.

 

“Raymond ….” Suara halus dan lembut yang terdengar dari arah belakang membuat Ray  menoleh.

 

“S-siapa kamu?” Ray tercenggang melihat sosok asing yang berjalan mendekat ke arahnya. Gadis ramping dengan mata upturned tersenyum manis kepadanya. Bibirnya merah merekah sangat menggoda. Sejenak Ray terpaku menatapnya.

 

“Kau melupakanku?”

 

Ray heran. Dia merasa tidak pernah mengenal sosok asing yang didepannya, tapi gadis itu terus mendekat dan menunjukkan pesonanya. Membuat Ray berusaha menghindarinya.

 

“Kau salah orang,” sahutnya dingin.

 

“Tidak mungkin aku salah orang. Aku sudah lama mengagumimu.”

 

“Katakan siapa kamu? Jangan main teka-teki denganku,” bentak Ray sengit.

 

“Aku Sharoon.”

 

“Sharoon?” Ray tertegun menatap gadis itu. “Mana mungkin. Kau berbohong.”

 

Ray takpercaya perempuan yang berdiri di depannya adalah Sharoon yang gemuk itu. Penampilannya yang sekarang sangat cantik. Rambut coklat tembaganya yang tergerai sebahu membuatnya terlihat anggun. Ray sampai memperhatikan penampilan gadis itu dari atas ke bawah, tak satu pun cela yang ditemukannya. Sempurna.

 

Dulu sewaktu sekolah, Sharoon adalah gadis paling gemuk yang terkenal membawa banyak makanan di tasnya. Paling sering dibully  dan dibenci Ray, karena gadis itu selalu membututi ke mana pun dia pergi.

 

“Inilah sekarang aku, Ray,” dengus Sharoon dengan tatapan menggoda. “Tulisan namamu masih tersemat di pergelangan tanganku.”

 

Ray tak tahu harus berbuat buat apa saat bertemu fans garis kerasnya. Setelah bertahun-tahun terlisah, gadis itu masih memujanya.

 

“Master Lee mengundangku,” sahut Sharoon dengan senyum semringainya.

 

“Master Lee?”

 

“Iyaa. Kau penasaran mengapa aku di sini?” Ray mengangguk.

 

Dia berusaha mengorek keterangan penting yang disembunyikan Lee. Sengaja Ray tak menghardik atau mengusir Sharoon seperti dulu. Dia hanya tersenyum karena ada kepentingan yang akan dijalankan Ray.

 

“Ikut aku!” Sharoon menarik tangan Ray. Dia memilih tempat yang aman untuk mengatakan sesuatu yang penting. Hingga akhirnya keduanya masuk ke dalam salah satu ruangan.

 

“Kalau master Lee tak menyebutkan namamu. Aku tak mungkin mau bergabung dengan organisasi Black Treem.”

 

“Black Treem?”

 

Ray tercenggang dengan pengakuan Sharoon. Master Lee tak pernah membicarakan organisasi baru dengannya. Lelaki itu penuh misteri. Diam-diam bergerak dan menyusun strategi baru.

 

“Kau kenapa?” Sharoon menghentikan ceritanya saat melihat raut muka cemas pada Ray.

 

“Beritahu aku tentang Black Treem?”

 

Ray menggenggam jemari tangan gadis itu dengan erat untuk meyakinkannya. Sharoon yang mendapat perlakuan istimewa jadi salah tingkah.  Dia takpercaya bisa sedekat ini dengan lelaki yang lama dipujanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

 

“Kau mau tahu?” Ray mengangguk pelan.

 

“Mendekatlah padaku,” bisik Sharoon dengan suara menggoda.

Ray tak punya pilihan selain merapatkan tubuhnya di dekat Sharoon untuk mengetahui lebih dalam tentang Black Treem. Gadis itu terus membuat gerakan sensasional yang menampakkan tubuh seksinya membuat Ray berkali-kali menelan ludah.

 

“Cepat katakan atau aku akan pergi!” hardik Ray kasar.  Bagaimanapun dia lelaki normal yang bisa tergoda.

 

Sharoon  lalu menceritakan perihal master Lee yang membuat organisasi rahasia untuk menyerang Sagona. Ada empat orang yang akan berangkat melalui jalur darat. Mereka bertugas menjadi mata-mata di wilayah Sagona dan mengirim informasi yang didapat melalui telepati. Kemudian jalur udara, ada pasukan khusus yang ditugaskan. Mereka berangkat menggunakan pesawat tempur yang canggih. Jalur laut ada pasukan terampil yang dipersiapkan melaju dengan kapal besar dan terakhir pasukan amphibi mereka diberi akses menggunakan senjata nuklir. Ray makin penasaran mendengar kelanjutan cerita master Lee.

 

“Pesawat canggih, kapal dan senjata?”

 

“Iya, Ray. Semua sudah dipersiapkan di bunker khusus.”

 

Mengapa master Lee merahasiakan dariku dan Ellen?

 

“Ini akan jadi perang besar yang akan menentukan  dunia baru. Aku rela mati asal bersamamu.” Sharoon  langsung memeluk erat Ray. Lalu dengan cepat gadis itu mendaratkan kecupan di pipinya.

 

Ellen terpaku melihat Ray yang diam saja saat dia tak sengaja masuk ke dalam ruangan. Lagi-lagi hatinya dipatahkan untuk kedua kali dengan lelaki yang sudah dipercayainya. Gadis muda itu menyesal sudah mencari Ray dan berniat minta maaf.

Komentar

No comments found.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!