Antartika
4.5
0
36

Ruang yang dulu sehangat mentari, kini sedingin Antartika.

No comments found.

Suara merdu jangkrik mengisi kekosongan ruang diantara kita.

Ruang yang dulu penuh kehangatan

Kini, bagaikan gunung es di Antartika.

 

“Minumlah, kopimu sebentar lagi dingin.”

Kopi hitam telah ku sajikan untukmu.

Tidak spesial.

Hanya saja aku tahu, itu kopi kesukaanmu.

 

Tanpa meminumnya.

Akhirnya mulutmu terbuka.

Memberikan sebuah rantaian kata.

Yang mungkin sudah lama kamu susun menjadi sebuah kalimat.

 

Kalimat-kalimat itu berubah wujud menjadi sebuah pertanyaan,

yang setiap detik mengganggu isi pikiranmu. 

Pertanyaan yang muncul,

akibat dari sebuah penyesalan.

 

Kamu menghela napas begitu dalam.

Membebaskan segala beban di benakmu. 

“Kamu tak terlihat seperti masih mencintaiku. Sikapmu kini berbeda. Dingin. Melebihi Antartika.”

 

Aku mendekatinya.

Melihat kedua bola mata yang indah, bak cahaya senja.

Mata kami saling bertemu.

Seolah meluapkan semua isi hati.

Hanya dengan tatapan.

“Apakah aku harus memperlihatkan cinta yang jelas-jelas tak pernah hilang sedikitpun ini, kepada lelaki yang tak pernah melihatku?

Kamu tak perlu tahu itu. Jelas. Sangat jelas.

Aku masih mencintaimu. Namun, bukan aku yang ada di hatimu.”

 

Aku membisu.

Lalu pergi meninggalkanmu,

dan secangkir kopi hitam yang dingin. 

Seperti Antartika.

 

~Alur Ceria~

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!