Cerita Anak Kos
4.3
0
34

Cerita sudut pandang pribadi sebagai anak kos-kosan dalam keseharian kesederhanaan di Ibu Kota.

No comments found.

CERITA ANAK KOS

 

Jam dinding berteriak mengalahkan merdunya suara knalpot racing meradang

Dijalan itu, di hutan pergedungan rimbun, di bilangan Kebun Kacang

Persimpangan nasi uduk dan warung klontong tempat langganan sebatang tembakau.

Tembok putih kecoklatan penuh hiasan

Teman setia hari dan malam.

3/4 juta tinggal sebulan, cukup dalam menggali kantung

Demi 22 derajat celcius di dalam

Standar kenikmatan bagi segelintir orang beruntung

Seperti roti tawar duduk sejuk di dalam Cirkle-K seberang gang

 

3 x 4 sama dengan 120 x 200

Kamar mandi dalam tambah 500

Hasil akhir listrik token beli pribadi.

Rumus bukan sembarang rumus, hemat adalah kata kunci

Awas jangan terjerumus, 1 bulan terlambat bayar angkat kaki.

 

Bulan sudah menua hampir berganti musim baru

Suara samar namun terdengar.

Kedipan cahaya panggil merayu, warna merah terang berbinar

Merdu berpola, seirama, bersaut dan berlomba. 

Ya, Itu!

Napas-napas terakhir, tegangan hidup, simbol kemiskinan dari perkastaan penghuni kos yang terdengar bagai perdebatan politik dewan terhormat

Yang dilaknat kala malam

Berisik!

Mengganggu nyenyak si borjuis kamar nomor tiga belas.

Pagi pun singgah

Pagi yang terik

berteman asap

Ku nanti sosok itu hadir, sembari berteriak “PAKET”

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!