Sebuah Teknologi

Published by Hlw on

Siapa yang tidak mengenal gadis kecil berusia 11 tahun yang sedang berdiri di samping Presiden itu dan disaksikan oleh ribuan pasang mata setiap kali gadis itu menampakkan dirinya pada publik? Gadis yang menjadi kebanggaan negara dengan IQ tinggi yang melebihi IQ para ilmuan jenius di negara itu sendiri. Padahal negara ini adalah negara yang menempati peringkat pertama dalam bidang pendidikan.

Kecerdasan otaknya bahkan sudah dibuktikan secara ilmiah. Setiap soal yang diberikan kepadanya mampu dia jawab, tidak peduli jika itu adalah soal untuk tingkat perguruan tinggi atau bahkan olimpiade tingkat internasional. Banyak yang kurang percaya, tetapi itulah kenyataannya. Hanya saja, dia bukan seseorang yang terbuka dan juga malah terkesan bodo amat terhadap orang lain.

Namanya Farika Arana. Dia lebih suka dipanggil dengan nama Farika dan panggilan itu ternyata hanya bertahan sampai satu bulan setelah dia bertemu Presiden di Istana. Aku masih ingat saat berita itu mulai menggemparkan publik. Bukan hanya negaraku, tetapi hampir seluruh dunia. Bahwa Farika mengalami kanker otak. Memang, di abad sekarang aku hidup, teknologi sangat berkembang pesat 6x lipat daripada abad ke-21. Para Dokter sudah mampu mengobati penyakit gadis ini, hanya saja kanker itu merebutnya lebih dahulu sebelum dokter mengangkatnya. Hanya kisaran tiga detik. Mengenaskan, bukan?
Tetapi seiring waktu, orang-orang mulai melupakan keberadaannya. Namun Farika tidak benar-benar tiada. Tubuh tanpa nyawa itu sedang berada dihadapanku, di dalam tabung dengan cairan berwarna merah yang kami sebut ‘The Fluid of immortality’. Sebuah proyek besar-besaran telah di rencanakan oleh 16 perusahaan untuk menghidupkan kembali gadis itu atau setidaknya mampu untuk meng-kloning gadis itu.

“Hei? Mau minum kopi?” tawarku pada Dian yang terlihat sibuk mencatat dengan tatapan yang tidak pernah beralih pada anak itu.

Dian menoleh ke arahku, tampak berpikir lalu menggeleng pelan. “Aku sudah minum tadi.” Dia lalu kembali pada pekerjaannya, membuatku ikut memperhatikan tubuh Farika. Selain pintar, dia juga sangat cantik. Tidak terbayang apabila dirinya besar nanti. Pasti sudah jadi incaran para pria.

“Rapat akan di mulai. Ayo pergi, kawan!.” Ajakan itu mengalihkan pandanganku. Dengan malasnya aku pergi ke rapat yang pasti ujung-ujungnya berakhir tanpa keputusan final. Bahkan kalau aku hitung, ini adalah pertemuan ke-59 sejak kami merencanakan hal itu.

Seperti biasa, menit-menit terakhir rapat selalu saja begini. Aku bisa menebak bahwa tidak akan lagi ada keputusan malam ini. Tetapi seorang pria gemuk menghancurkan tebakanku, dia dengan ide briliannya telah menciptakan konsep itu, konsep yang selalu gagal kami temukan. Aku akui, pria itu adalah seseorang yang begitu jenius, aku tidak bisa berhenti dibuat takjub oleh pemikiran saat dia menunjukkan presentasinya di hadapan seluruh ilmuan dari 16 perusahaan. Dengan lihainya dia menyampaikan argumen secara detail, seperti telah menyiapkan itu selama bertahun-tahun.

Dua tahun sejak pria jenius itu berdiri di hadapan kami, alat itu berhasil di buat. Lumayan cepat mengingat teknologi sudah sangat membantu. Untuk kesekian kalinya aku menatap alat itu. Alat yang berukuran 2 kali lipat tinggi manusia normal dengan selang-selang mengelilingi tabung itu. Rasanya tidak sabar melihat alat itu bekerja, juga tidak sabar untuk memperingati setiap tanggal ini setiap tahunnya sebagai ulang tahun Farika. Aku bahkan begitu yakin bahwa ulang tahun gadis itu akan di rayakan oleh negara, atau setidaknya oleh 16 perusahaan.

“Pindahkan Farika!” perintah sang pria jenius itu. Dia yang mengambil alih perintah sedangkan para pemimpin perusahaan hanya menjadi pengawas.

“Kita tidak menggunakan kelinci percobaan terlebih dahulu?” tanyaku ragu.

“Jika kita menggunakannya, maka zat-zat yang ada di dalamnya akan berkurang. Bayangkan saja saat klonnya baru selesai 60% dan zatnya habis?” ucapnya.

“Ini percobaan pertama. Apa tidak ada zat tambahan?”

“Ah, kau ini tidak menyimak penjelasanku 2 tahun yang lalu, bukan?” kesalnya.

“Jadi tinggal mem.”

“Far, sudah. Kau boleh meninggalkan ruangan.” Seseorang yang aku agung-agungkan dengan sebutan pemimpin itu memotong pembicaraanku. Pemimpin mana yang tidak mau mendengarkan rekan timnya.

“Tetapi, Pak. Bagaimana de.”

“Diam atau keluar!” perintah. Astaga, untuk saat ini dan pertama kalinya, aku membenci pemimpinku sendiri. Walau begitu, aku malah memilih melawan egoku, aku penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Tentu saja orang lain juga pasti penasaran pada percobaan ini.

Setelah tubuh Farika di pindahkan, pria jenius berlagak bodoh itu menekan tombol-tombolnya. Tangan-tangannya terlihat begitu lihai menari di atas tombol dan berakhir dengan dia menekan tombol merah dengan sangat antusias.

“Secepat itu?” Pemimpinku dan pemimpin perusahaan lain bertepuk tangan dengan senyum merekah saat melihat tampilan di layar mesin yang menunjukkan angka 80%, 10 menit setelah gadis itu dipindahkan. Aku mengamati kloning gadis itu, benar-benar mirip fisik dengannya.

Suara hiruk-piruk ruangan ini yang tadinya memuji alat itu kini berganti menjadi teriakan yang memekik telinga. Apa yang terjadi? Di sekitarku tiba-tiba menjadi sangat gelap. Apa ada bagian yang aku lewatkan?. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. Astaga, alat itu meledak saat hanya tinggal bagian jari-jari kaki kloning gadis itu. Dan aku mulai merasakan tubuhku terpental jauh ke belakang, menghantam tubuh orang lain dengan sangat keras.

Aku terbangun di rumah sakit, penglihatanku tiba-tiba saja terarah pada kalender yang tepat berada di hadapanku. Kalender yang selalu di robek setiap pergantian hari. Entah siapa yang melakukannya. Namun, jelas di penglihatanku bahwa sekarang adalah tanggal yang sama lima tahun setelah kejadian besar yang tidak pernah aku pikirkan akan terjadi.

Aku berjalan tertatih-tatih, bertanya pada seseorang untuk memastikan tanggal ini. Memang benar adanya bahwa aku terbaring di rumah sakit tepat lima tahun lamanya. Aku lantas menatap kota yang masih setengah hancur itu dari jendela rumah sakit ini. Pembangunan kota masih berjalan tetapi kerusakan parah itu menciptakan banyak kerugian.

Sepuluh hari seusai aku sadar di rumah sakit. Aku pergi ke perpustakaan yang juga masih dalam tahap pembangunan. Entah apa yang aku cari dari melihat nama-nama para korban yang tewas dari ledakan itu. Aku melihat nama pemimpinku, pemimpin yang aku kira adalah seorang yang bijaksana. Namun aku membenci pemimpinku itu, bahkan semakin menggebu saat melihat keluar jendela.

“Farika yang malang.” Aku menghela nafas kasar sembari meletakkan kembali buku itu pada tempatnya.

Aku berjalan keluar dari perpustakaan. Yah memang, sejarah telah mencatat tanggal dan hari ini, bukan sebagai keberhasilan alat itu, tetapi sebagai peristiwa ledakan yang hampir memakan 3000 korban jiwa. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku masih selamat mengingat aku berada di ruangan alat itu berada. Sangat dekat dengan sumber ledakan.

“Kau masih hidup?” Aku menoleh saat seseorang memegang pundakku. Rupanya dia seseorang yang entah orang jenius berlagak bodoh atau malah sebaliknya. Aku menghela nafas kasar lalu mendaratkan tinju yang mewakili perasaan banyak orang di wajah pria itu.

“Hei, tidak akan ada yang menyangka bahwa itu terjadi. Semua di luar kendaliku. Walaupun kita menggunakan kelinci percobaan, kalau alat itu mau meledak tetap saja sama, bukan?” ucapnya dengan memegang pipi kirinya.

Perdebatan-perdebatan masih terus berlanjut sampai akhirnya aku mengalah. Aku sadar bahwa perdebatan ini hanya kesia-siaan, mengingat itu semua sudah terjadi. Ini hanya akan menjadi pelajaran besar bagiku dan mungkin beberapa orang untuk berpikir matang-matang sebelum mengambil tindakan besar.


Avatar

Hlw

Tess

Subscribe
Notify of
guest
1 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat Semua Komentar
orangerdev team
Admin
orangerdev team
11 months ago

tes

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!